Aku mungkin telah melupakan sebuah memori...

Aku mungkin telah membunuh banyak mimpi...

Hari ini tanggal sepuluh bulan delapan...

Namun mengapa netraku tertahan pada hari ketujuh belas?

Di sebuah perkantoran besar di pusat keramaian kota Tokyo, Jepang...

enter.

.

enter.

.

backspace.

.

Tik! Tik! Tik! Tik! Tik! Tik!

.

backspace.

.

Tik! Tik! Tik! Tik! Tik! Tik! Tik!

Tik! Tik! Tik! Tik! Tik! Tik!

.

Tik! Tik! Tik! Tik-

.

enter.

.

Date of today: ...

1...

"Wait a second..."

Kesepuluh jemarinya menggantung di atas keyboard laptop, dengan teledornya 'dia' melupakan tentang sesuatu yang begitu sepele untuk dilakukan: membubuhkan tanggal.

Jemarinya yang mengetik cepat di atas keyboard laptop berhenti, dan berpindah posisi menjadi saling bertaut jemarinya ketika si pemilik mengingat sesuatu: tentang tanggal berapa hari ini, dan apa yang akan terjadi di hari-hari yang selanjutnya.


10 AGUSTUS 2017


Memasuki tanggal belasan pada bulan kedelapan tahun dua ribu tujuh belas ini, seperti ada yang cukup... Familiar.

Hari ini tanggal sepuluh Agustus, besok sebelas, dan lusa dua belas Agustus. Begitu, terus-menerus 'dia' menatap berulang pada tanggal-tanggal yang disebutnya sebagai tanggal belasan.

Antara tanggal sepuluh hingga sembilan belas, pikiran dan tatapan pemuda itu terpasung pada hari ke tujuh belas.

Laptop yang masih menyala dia tatap sedalam samudera batin manusia, namun pikirannya berpindah fokus kepada sesuatu yang menggelitik memori...

'Aku menyerah...

Dia putuskan untuk berselancar sesaat di mesin pencari. Laptop di depannya beralih tugas selama beberapa menit —atau malah bisa saja beberapa jam— ke depan.

Sekitar empat puluh lima menit kemudian, 'dia' menyadari sesuatu, pemuda Jepang itu mengingat kembali semua memori yang sebelumnya telah 'karam' dalam lautan diri...

"Itu sudah tujuh puluh dua tahun yang lalu, rentang waktu yang sangat panjang. Untukku, dan dia yang ada di khatulistiwa sana."

...~oOo~...


HETALIA - AXIS POWERS (c) HIMARUYA HIDEKAZU.

APH INDONESIA (c) INDONESIAN KARA.

chapter II:

(-)TANPA AKHIR.

Jika memori menyakitkan dimana kamu pernah disakiti dan disiksa, hingga harga dirimu sebagai manusia nyaris saja ditelanjangi...

Maukah kamu mengingat kembali, dan memaafkan 'mereka' yang telah melakukannya padamu?

Ketahuilah, sekecil apapun lara yang kamu pendam jauh di dalam perasaan, maka kamu akan mempertanggungjawabkannya di dalam alam bawah sadarmu sendiri.

Two, not one. Everyone has a counterpart.

-Indonesia; 29 Juli 2017-


*~...oOo...~*

Pemuda dan pemudi berseragam putih berbaris rapi di lapangan istana negara yang luas areanya. Barisan mereka terlihat seperti para tentara, perfecto dan menunjukkan kuat kesan professional.

Teriknya matahari ternyata tidak bisa mematahkan semangat mereka untuk tetap berlatih, malahan, sebagian besar dari mereka justru menjadikan panas matahari yang ngenthang-ngenthang panasnya sebagai cambuk dan pemompa semangat.

"Kepada. Inspektur Upacara... Hormat- Senjataaaaaaaaaaaaa... GRAK!"

Grak! Grak! Grak!

Paskibraka terpilih telah terlatih dengan sedemikian ahlinya oleh para jajaran tentara Indonesia, mungkin saja.

...

*oOo*

DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

INDONESIA

*OoO*

...

"Selesaikan tugas ini segera. Jika bisa, jangan sampai pak presiden menagihnya hingga tiga kali. Jangan lupakan profesionalitas sebagai generasi emas Indonesia, ya?"

Karyawan di depannya mengangguk mantap. "Mengerti!"

"Bagus." Kartika menarik sejauh satu sentimeter kedua ujung bibirnya. Itu senyuman. "Sekarang, kembalilah ke ruanganmu. Beritahukan kepada yang lainnya. Jika ada masalah atau kesulitan, jangan segan untuk menghubungiku, Kirana, Rangga, atau Andika."

Pemuda tinggi sebagai bawahan kantornya mengangguk lagi. "Saya permisi."

"Silakan..."

Pintu ruangannya kembali ditutup, Kartika kembali menekuri tugas-tugas kenegaraan yang diterimanya dari pak presiden minggu lalu. Cukup (mungkin akan lebih tepat untuk disebut sebagai sangat) banyak, sehingga Kartika hanya memiliki kurang dari enam puluh jam waktu untuk beristirahat selama satu pekan.

Seperti orang yang kurang tidur, menghitamnya kantung mata terlihat begitu jelas. Mata yang memerah... Sedikit?

Oh. Mungkin karena terlalu lama begadang dalam dua kali tiga puluh sekian hari mengerjakan dan menyempurnakan (ditambah dengan meralat) tugas-tugas kenegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Yang pasti, Kartika perlu istirahat yang cukup untuk 'sesuatu' dalam lima hari lagi...

... Meskipun gadis itu telah terpecah-belah ingatan masa lalunya.

.

Dan selanjutnya, setelah beberapa menit berlalu, nada dering dari ponsel berlayar sentuh Kartika mengoyak keheningan penuh pemikiran Kartika.

.

Step it up, step it up!

Da sijagiya...

Ttemporeul olyeosseo.

Apjilleo, gal-

"Personifikasi pemain kedua Republik Indonesia disini."

...

...

...

...

...

"Jadwalnya dimajukan?"


[Merah dan Putih.

Hanya dua warna sepele, namun, mungkin jua kaubisa menemukan banyak arti di dalamnya.]


"Aku tidak memiliki waktu istirahat, sepertinya." Cangkir yang tadi sudah berada di depan bibir, Kirana jauhkan lagi. Menatap lawan bicara, Kartika masih menyeka keringat dengan selembar saputangan putih.

"Jangan memaksakan dirimu. Pedulikanlah ragamu seperti kepedulianmu pada Indonesia. Kamu jugalah Indonesia..." Kirana meneguk setengah isi cangkir yang kembali dia tempelkan ke bibirnya.

Kartika mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"

Cangkir di tangannya Kirana letakkan. Kirana berbicara lagi. "Kamu perlu banyak istirahat untuk negara ini lima hari lagi, Kar. Pedulikan kesehatanmu dan kondisimu."

Kartika tertegun. "Bagaimana kamu bisa merasakan lelahku, sementara aku sendiri telah telanjur untuk tidak lagi peduli dengan diriku sendiri?"

"Karena kamu adalah aku..." Kirana membuang muka ke arah lain, membelakangi Kartika. Alisnya bertautan.

Jujur saja, ya, Kirana seorang merasa sedikit kesal dengan jawaban counterpart-nya. Kirana mulai merogoh saku rok putih selututnya untuk mengeluarkan sesuatu.

"... Juga karena kita adalah Indonesia."

Pelan-pelan, gadis beriris merah darah yang sangat gelap di depan Kirana membelalak kaget begitu mengetahui benda macam apa yang dikeluarkan Kirana, tanpa bisa Kartika sendiri tutup-tutupi lagi, Kirana menunjukkan kalung berliontin namanya:

"Ka... Rasya? Bagaimana..."

"Namamu yang dulu, bukan? Sebelum kamu mengganti namamu menjadi yang sekarang ini: Kartika."

Bungkamnya Kartika tepat saat pertanyaan itu dilontarkan memberikan celah bagi Kirana untuk berkata (dan 'mengikat' Kartika pada satu pertanyaan berbeda kalimat, namun tetap memiliki 'nada' sama) lagi.

"Menyamarkan nama dengan bumbu alasan menghilangkan nama universal-mu, Kara, hm?"

Kartika bungkam, dua pertanyaan Kirana membuka kembali bunga kenangan lamanya yang telah terhapus sebagian di dalam dalamnya renung pikiran Kartika.

.

...

Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu.

Namun yang pasti, kita adalah Indonesia...

...

.

Kartika tidak menemukan Kirana, Rangga, dan Andhika dalam rentang waktu selama dua puluh empat jam ini.

'Aneh...'

Padahal terakhir kali Kartika bertemu dengan mereka bertiga, adalah pada istirahat lima belas menit dalam latihan bersama para paskibraka terkarantina kemarin sore.

Mau dihubungi lewat telepon, ketiganya tidak aktif.

'Ck! Lebih baik aku lembur mengerjakan tugasku saja!' batinnya kesal seraya masuk ke ruang kerjanya.

Dan laptop serta setumpuk berkas lainnya tersapu 'bersih' dari atas mejanya.

Dengan kata lain, tugas-tugas yang diberikan pak presiden kepadanya untuk dikerjakan telah 'dicuri' oleh seseorang.

"Djantjoek!"

Sepertinya Kirana benar-benar serius untuk menyuruhnya melakukan sebuah hal sepele yang sebenarnya memerlukan waktu yang tidak sedikit: beristirahat.


Indonesia adalah semua, yang mencintai negeri ini dengan kasih tulus hati tanpa rasa ingin menginvasi dan menguasai.


Pada senja hari, selesai latihan bersama para paskibraka Indonesia, dan sebelum memasuki jam makan malam, Kartika membongkar lagi gudangnya. Mengobrak-abrik, memilah, menyortir, sembari meneliti.

Sapu dan kemoncengpun juga turut ikut. Masker wajah pula tidak lupa menutupi area hidung dan mulut, yang konon katanya di dalam dunia kedokteran dan medis sering disebut sebagai 'segitiga maut'.

Debu dan jelaga yang menempel di seluruh ruang gudang beterbangan, tepat ketika Kartika memasuki ruangan.

Kartika berkacak pinggang, bukan maknanya sombong. Apalagi juga 'songong'.

'Dimana terakhir kali aku menyimpannya?''

Setumpuk perkakas selanjutnya dia telusuri.

Itu memang sudah lama sekali, namun apa sebegitu teledornya Kartika hingga lupa dimana dia meletakkan jahitan lamanya?

Itu sudah berlalu dan terhalangi 'lensa-lensa' selama tujuh puluh tua tahun...

.

-oOo-

Lagi, sebuah peristiwa yang membekas di masa lalu...

Pun juga akan melebur seiring berjalannya waktu.

-OoO-

.

"Siapkan tiket penerbangan ke kota Jakarta untuk tanggal 14 Agustus nanti. Pastikan pesawatnya mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta tepat dua jam sebelum pukul dua belas malam waktu Indonesia bagian barat."

Suruhan di depan'nya' terkejut.

"Tapi... Tuan, mengapa ada memesan tiket untuk ke Indone-"

Dan sebilah katana dengan sisi tajamnya mengarah ke leher si suruhan.

"Berhenti untuk mengetahui apa yang akan aku lakukan di Indonesia nanti."

Suruhan'nya' mengangguk takut.

to be continued...


chapter III: KEMBALINYA RENJANA.


yg ingin tahu: Ini, untuk chapter keduanya sudah saya publikasikan (dengan isi yang ala kadarnya). Sebenarnya, summary fanfiksi ini hanya saya tulis secara asal dan kilat saja, tapi terima kasih banyak telah mengatakan kalau summary berbahasa Inggris di depan itu bagus.

A/N: Dipublikasikan secara cepat karena sesuatu yang mendesak, dan keburu diganggu oleh adik sepupu. Thank's for read, and have a nice day!

Salam Indonesia~

—INDONESIAN KARA.