[Merah dan Putih.

Hanya dua warna sepele, namun, mungkin jua kaubisa menemukan banyak arti di dalamnya.]

'Bukanlah sekadar warna, bukanlah sekadar makna...'

"Aku tidak memiliki waktu istirahat, sepertinya." Cangkir yang tadi sudah berada di depan bibir, Kirana jauhkan lagi. Menatap lawan bicara, Kartika masih menyeka keringat dengan selembar saputangan putih.

"Jangan memaksakan dirimu. Pedulikanlah ragamu seperti kepedulianmu pada Indonesia. Kamu jugalah Indonesia..." Kirana meneguk setengah isi cangkir yang kembali dia tempelkan ke bibirnya.

Kartika mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"

Cangkir di tangannya Kirana letakkan. Kirana berbicara lagi. "Kamu perlu banyak istirahat untuk negara ini lima hari lagi, Kar. Pedulikan kesehatanmu dan kondisimu."

Kartika tertegun. "Bagaimana kamu bisa merasakan lelahku, sementara aku sendiri telah telanjur untuk tidak lagi peduli dengan diriku sendiri?" Kartika tidak beropini lagi, toh prinsipnya: Sakit diobati, mati yang tinggal dikubur. Jadi kalau dia (sebagai personifikasi) sakit dan kemudian mati, toh siapa yang peduli?

"Karena kamu adalah aku..." Kirana membuang muka ke arah lain, membelakangi Kartika. Alisnya bertautan.

Jujur saja, ya, Kirana seorang merasa sedikit kesal dengan jawaban counterpart-nya. Kirana mulai merogoh saku rok putih selututnya untuk mengeluarkan sesuatu.

"... Juga karena kita adalah Indonesia."

Pelan-pelan, gadis beriris merah darah yang sangat gelap di depan Kirana membelalak kaget begitu mengetahui benda macam apa yang dikeluarkan Kirana, tanpa bisa Kartika sendiri tutup-tutupi lagi, Kirana menunjukkan kalung berliontin namanya:

"Ka... Rasya? Bagaimana..."

"Namamu yang dulu, bukan? Sebelum kamu mengganti namamu menjadi yang sekarang ini: Kartika."

Bungkamnya Kartika tepat saat pertanyaan itu dilontarkan memberikan celah bagi Kirana untuk berkata (dan 'mengikat' Kartika pada satu pertanyaan berbeda kalimat, namun tetap memiliki 'nada' sama) lagi.

"Menyamarkan nama dengan bumbu alasan menghilangkan nama universal-mu, Kara, hm?"

Kartika bungkam, dua pertanyaan Kirana membuka kembali bunga kenangan lamanya yang telah terhapus sebagian di dalam dalamnya renung pikiran Kartika.

Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu.

Namun yang pasti, kita adalah Indonesia...

Kartika tidak menemukan Kirana, Andra, dan Andhika dalam rentang waktu selama dua puluh empat jam ini. Benar-benar tidak, sepertinya mereka bertiga sudah pergi sebelum Kartika terjaga dari tidurnya semalam.

'Aneh...'

Padahal terakhir kali Kartika bertemu dengan mereka bertiga, adalah pada istirahat lima belas menit dalam latihan bersama para paskibraka terkarantina kemarin sore.

Mau dihubungi lewat telepon, ponsel ketiganya tidak aktif.

'Ck! Lebih baik aku lembur mengerjakan tugasku saja!' batinnya kesal seraya masuk ke ruang kerjanya.

Namun sayangnya, seribu sembilan ratus empat puluh lima sayang, laptop serta setumpuk berkas lainnya tersapu 'bersih' dari atas meja kerja Kartika, tempat dimana personifikasi 'pemain kedua' dari Republik Indonesia itu berkutat dan mengutati tugas-tugasnya.

Dengan kata lain, tugas-tugas yang diberikan pak presiden kepadanya untuk dikerjakan (dan dikumpulkan tempo hari) telah 'dicuri' oleh seseorang- atau lebih dari satu orang.

"Djantjoek!"

Sepertinya Kirana benar-benar serius untuk menyuruhnya melakukan sebuah hal sepele yang sebenarnya memerlukan waktu yang tidak sedikit: beristirahat.


Indonesia adalah semua; putera-puterinya, di atas tanah merdeka Nusantara indah, yang mencintai negeri ini dengan kasih tulus hati tanpa rasa ingin menginvasi dan menguasai atas landasan egoisme dalam diri.


Pada senja hari, selesai latihan bersama para paskibraka Indonesia, dan sebelum memasuki jam makan malam, Kartika membongkar lagi gudangnya. Mengobrak-abrik, memilah, menyortir, sembari meneliti.

Sapu dan kemonceng pun juga turut ikut. Masker wajah pula tidak lupa menutupi area hidung dan mulut, yang konon katanya di dalam dunia kedokteran dan medis sering disebut sebagai 'segitiga maut'.

Debu dan jelaga yang menempel di seluruh ruang gudang beterbangan, tepat ketika Kartika memasuki ruangan.

Kartika berkacak pinggang, bukan maknanya sombong. Apalagi juga 'songong'.

'Dimana terakhir kali aku menyimpannya?'

Setumpuk perkakas di pojok ruangan selanjutnya dia telusuri.

Itu memang sudah lama sekali, namun apa sebegitu teledornya Kartika hingga lupa dimana dia meletakkan jahitan lamanya?

Itu sudah berlalu, dan telah terhalangi oleh 'lensa-lensa waktu' selama tujuh puluh dua tahun...

.

-oOo-

Lagi, sebuah peristiwa yang membekas di masa lalu...

Pun juga akan melebur seiring berjalannya waktu.

-OoO-

.

"Siapkan tiket penerbangan ke kota Jakarta untuk tanggal 14 Agustus nanti. Pastikan pesawatnya mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta tepat dua jam sebelum pukul dua belas malam waktu Indonesia bagian barat."

Suruhan di depan'nya' terkejut.

"Tapi... Tuan, mengapa ada memesan tiket untuk ke Indone-"

Dan sebilah katana dengan sisi tajamnya mengarah ke leher si suruhan.

"Berhenti untuk mengetahui apa yang akan aku lakukan di Indonesia nanti."

Suruhan'nya' mengangguk takut, bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya...


to be continued...

.