Indonesia, tanah airku
tanah tumpah darahku...
Di sanalah, aku berdiri
jadi pandu ibuku...
•••
Para anggota paskibraka nasional menghormat, bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dikerek naik, menuju pucukan tiang setinggi tujuh belas meter.
Hanya pada stanza pertama saja, Indonesia Raya dilagukan selama ini, mengiringi pengibaran salah satu pusaka negara.
•
Indonesia, kebangsaanku
bangsa dan tanah airku...
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu~
•
Perpaduan suara sopran, tenor, bass.
Anggota koor secara unisono (maknanya? Menyanyikan lagu dengan satu suara, tentu saja) menyanyikan stanza pertama untuk latihan pengibaran bendera hari ini.
Bangku-bangku yang kosong, terbelai oleh tangan-tangan angin senja.
•
Hiduplah tanahku
hiduplah negeriku
bangsaku, rakyatku...
Semuanya!
•
Kirana juga menghormat, ada suatu dorongan yang menyesakkan rongga dadanya.
Dorongan untuk mengeluarkan isakan sebanyak-banyaknya. Dorongan untuk meluapkan segala macam perasaan yang pernah dirasakan olehnya.
•
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk
INDONESIA RAYA!
•
Dirigent...
... seorang pria, mengayunkan tangannya, memimpin di depan para anggota koor unisono dan pemain simfoni pengiring lagu kebangsaan.
Mulutnya membuka lebar dan menutup semi rapat, ikut nyanyi bersama para koor. Menentukan tempo; cepat, lambat, atau pun sedang.
Dia pria yang berwibawa.
Sepoi angin membelai surai hitamnya, membelai rumput, menggelitiki lengan atas juga tengkuk. Lamat-lamat menyisiri bangku-bangku yang hari ini 'tidak bertuan'.
•
Indonesia Raya,
merdeka, MERDEKA!
Tanahku, negeriku,
yang kucinta.
.
Indonesia Raya,
merdeka, MERDEKA!
Hiduplah...
INDONESIA RAYA!
•
Kartika ada juga di sana, tegap, bak laksana pemimpin perang.
Namun tiba-tiba, iris merah darahnya memburam, sekitar objek fokus dari matanya terlihat gelap...
•
Jadwal penerbangan untuk pesawat yang akan ditumpanginya adalah tiga jam lagi dari sekarang.
Segala sesuatunya telah dia persiapkan sejak dini hari menjelang pagi, bahkan disempat-sempatkan untuk tidur siang kemarin.
Menciptakan waktu luang sendiri, untuk mengejar kesibukan nanti.
Jika firasatnya benar, pasti seluruh personifikasi dari bangsa yang pernah menjajah negara dengan sejuta satu panggung keindahan alam itu akan datang.
Itu baru firasatnya, yang kemungkinan juga benar.
Ia menghela nafas, menyeka keringat yang menitik-nitikki dahinya. Handuk di gantungan ia sambar, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
•••
I'm black,
... I'm not white.
I'm your nightmare,
... and you're my princess.
•••
finished chapter VI:
RENTANG.
a/n: masih ada yang ingat dengan saya dan fanfiksi ini? Saya baru selesai hiatus dan pindah platform (?) sementara ke wattpad, soalnya.
