1941
Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan
Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang.
Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Tambelang tidak menghendaki melawan beberapa kecamatan sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara.
Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang.
Pelancaran serangan besar-besaran, prajurit tempur Jepang seolah-olah tidak pernah takut untuk mati.
~*oOo*~
Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu, Japan.
I gain no material profits by writing this fic.
#31DaysChallenge - Day 5.
*...0o0...*
Turbulensi ketika masa penerbangan tadi benar-benar sangat mendidihkan perutnya, dia berkeringat dingin.
Kantong keresek yang dia bawa ternyata berguna, menampung makanan yang tempo jam mengisi saluran pencernaan pemuda itu, yang kembali keluar tanpa izin dan persetujuan dari empunya perut.
Astaga.
Dua jam tiga puluh menit yang hampir separuhnya mengerikan, pada hari ketiga belas bulan kedelapan tahun ini, lebih spesifiknya lagi adalah hari ini.
Setelah tiga puluh menit dia habiskan untuk 'memancurkan' cairan agak kental dan lumayan encer, pemuda itu beranjak, berdiri dari sana, menuju ke kamar mandi umum.
Dia harus membasuh mulut dan tangannya, dahulu, 'kan?
Dia mendengus. Kepalanya malah ikut-ikutan pusing, tanpa sebab yang pasti.
"Ergh," kesalnya pelan, nyaris diredam oleh sepoian angin ringan yang bersemilir lumayan jahil, menggelitiki tengkuk, di bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Kerahkan pasukan yang terkuat lapis kedua di antara para serdadu. Invasi dan rebut wilayah utara Hindia Belanda dengan segera! Kita kuasai negara itu secepatnya!"
Jemari telunjuk itu telah teracung tegas ke udara, sebuah titah telah diperintahkan dengan segala amarah tanpa takut.
Tidak ada lagi yang bisa membantah, suruhan dan bawahannya membungkuk hormat.
Kirana sama sekali tidak pertanya apapun ketika Kartika melesat dari lapangan pelatihan menuju ke ruang kerjanya. Yang Kirana lihat, wanita yang berusia hampir dua puluh tahunan itu dengan cepat membereskan segala macam benda yang ada di meja kerja.
Buku, map, laptop beserta charger-nya, pena, pensil, penggaris besi lima puluh sentimeter, dan yang lain.
Seolah dan memang benar, Kartika memastikan hanya ada vas bunga dan name tag miliknya yang berada di atas meja. Lainnya? Dimasukkan ke dalam laci dan almari, bisa dipastikan juga rapi.
Andika dan Andra juga, malah bekerja sama, bahu-membahu membereskan ruang kerja masing-masing. Malahan, sempat membantu pak tukang kebun demi merawat tanamannya.
Entahlah mengapa, Kirana seperti orang linglung. Bolak-balik melewati koridor yang dilalui banyak orang, menengoki setiap jendela berkaca bening, termasuk melangkah tanpa arah yang pasti.
Namun sesaat kemudian, kepalanya pening. Semua terganda, semua menjadi kurang jelas.
Sedetik, tubuh itu terbanting keras di atas keramik dingin.
"KIRANA!"
-o0o-
Kala itu, Kirana bingung. Banyak orang asing berkulit kuning dan bermata sipit lalu lalang melawan arah jalannya. Sebagian besar di antara mereka tidak acuh, mengabaikan Kirana yang sekitar tahun 1942 masih berusia tujuh tahun.
Tidak ada yang dia kenal. Tidak ada yang dia ketahui. Tidak ada orang berkulit cokelat lain selain Kirana.
"Oh. Konnichiwa."
Dan pemuda itu datang, pemuda berseragam hitam legam, seolah mengetahui siapa Kirana.Kirana mengernyit, tidak tahu akan apapun tentang sosok di depannya ini.
Siapa?
"Indoneshia-tan?"
Setitik keraguan menyelinap dalam batin kecil Kirana. Gadis cilik itu menggigit bibir. Seanggukan kecillah yang ia beri demi menjawab pertanyaan dari sosok di depannya.
Dari iris matanya cokelat, apakah dia saudaranya, yang tidak pernah Kirana kenal sebelumnya?
FINISHED CHAPTER VII.
Siapa bilang ini selesai tanggal 17 Agustus 2017? Saya jadwalkan fanfiksi ini selesai lima tahun, mijn vriend! Pan-ca-ta-un!
