Pembayangan dalam benakku terpelancang, oh, barangkali sebab rantaian kejadian itu.

Aku masih mengingatnya, oh, iya. Ketika itu, kaudatang dengan senyum, namun pula bersama sepasukan berairmukakan tegas. Wajahnya selaik orang marah. Seolah ribuan angkara murka di Bumi mempernaunginya.

Dua sosok yang seiras, namun seragam yang mereka kenakanlah yang berbeda, turun dari kapal, satunya lagi turun dari helikopter. Bersamaan. Di bawah pemayungan mentari senja pencipta cakrawala.

Terjadi sedikit konversasi, si seragam putih lebih banyak bicara (dan si seragam legam lebih banyak mendengarkan) demi menjelaskan beberapa hal, sesekali dia melirik ke arah lain (si seragam hitam mengangguk, lantas pergi dengan langkah tergesa).

Kirana menelengkan kepala tanda ia kurang mengerti. Sebenarnya mereka ini siapa? Kirana sama sekali tidak mengenal mereka. Juga kapal-kapal besar dan helikopter di udara itu, apakah maksudnya? Mengapa mereka melewati batas luar territorial negara?

"Aku akan kembali lagi ke sini, tetapi nanti."

Kirana tersentak. Mereka... Mereka bisa berbicara dalam bahasa negaranya?

Si seragam putih mengangguk. Lantas, keduanya berjalan ke dua arah yang berlawanan.

Kirana hampir mengejar mereka, jika saja suatu panggilan keras tidak membangunkannya dari mim...

*o0o*

"KIRANA!"

Eh, mim...

Ia refleks bangkit duduk. Mengerjap beberapa kali, mengembalikan pandangannya yang mengabur.

... pi?

'Yang barusan tadi itu cuma mimpi, kah?' Tetapi mimpi barusan terasa amat nyata, nyata. Nyaris tanpa setitik pun tanda mimpi.

"Hei, Indirasyah Kirana. Mbak Kunti siap merasukimu jika kamu terus-terusan melamun!" Kirana menoleh. Andra? "An... Dra?"

"Ya, ini aku, Andra. Salah satu dari empat personifikasi Indonesia. Salah satu dari dua personifikasi pemain pertama Republik Indonesia. Sosok yang dulunya pernah menyandang nama julukan sebagai seorang Nusantara. Aku terbentuk setelah zaman kebangkitan nasional pada tanggal dua puluh bulan Mei tahun... ah, betapa pikunnya aku sekarang, demi mengingat tahun berapa.

"Apa itu kurang jelas? Hah?"

"Ya- ya, ya. Sangat jelas. Andra, sangat-sangat-sangat jelas." Kirana mencoba berdiri, dibantu Andra. Tunggu, bagaimana bisa dia tidur di lorong 'rumah besar'?

Yah, setidaknya, Andra tidak menanyakannya...

"Dan mengapa kamu tiduran di sini, hah?"

Skak!

"Aku juga nggak tahu, tahu-tahu ... Tergeletak di sini."

"Jangan bilang kalau kau dihantui kenangan masa lalumu yang agaknya kelam itu, hei, kautengah memikirkan dan mengingat zaman penjajahan dulu, karena ini mendekati tanggal tujuh belas Agustus, kan, Kirana?"

MAT!

"Bagaimana kamu bisa menebak..."

"Karena aku adalah kamu, dan kita adalah Indonesia." Andra berkata mantap.

"Sudah, tidak ada waktu untuk melamun, Kirana. Sepuluh personifikasi negara akan datang malam ini, menginap di Indonesia. Tentunya, sebagai tuan rumah yang baik, kamu tidak ingin, bukan, menelantarkan tamu-tamumu?"

SKAKMAT!

"Oh, o- oke ..."

—finished chapter—

Masih ingat saya, kan?

Nah, para pembaca, sudikah Anda semua memberikan saya prompt yang berkaitan dengan nasionalisme Indonesia di PM dan facebook?