Warning : Cerita absurd, mature-content, dibawah umur jangan masuk!

.

.

.

.

Hari demi hari. Dua bulan kemudian.

Hubungan Ino dan Obito semakin dekat. Obito kini secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya kepada wanita pirang itu. Teman-teman Ino pun banyak yang memberikan dukungan. Mereka tahu bahwa Ino memiliki masa lalu kurang baik dengan laki-laki, namun Obito dirasa sosok yang tepat untuk Ino. Umur Ino kini sudah 26 tahun, umur dimana setidaknya ia sudah memiliki kekasih yang patut untuk dipertimbangkan menjadi masa depannya.

Ino bukanlah wanita yang kaya dari lahir. Masa kecilnya jauh dari pengalaman dan kenangan indah.

Perasaan Ino terhadap Obito sendiri ia tak tahu. Jika ditanya tentang kenyamanan, tentu Obito adalah laki-laki yang selalu ada untuknya. Obito tampan, kerabat Uchiha, dan Ino menyukai pria tampan yang kaya. Ino hanya bersikap realistis.

Ino sudah lagi tak bertemu dengan Sasuke, mungkin sesekali ketika tak sengaja mereka berpapasan di pintu masuk gedung ataupun ketika di food court.

Tentu saja Ino masih menganggumi Sasuke. Seperti seorang penggemar kepada artis favoritnya. Ino hanya dapat melontarkan kalimat sapaan basa-basi formal kepada atasannya itu. Dan seperti biasa, Sasuke tak pernah menggubrisnya. Namun bagi Ino hal tersebut malah menjadi sisi cool Sasuke di matanya.

Partner kerja adalah satu-satunya status yang jelas antara Ino dan Obito. Namun sebenarnya mereka dekat lebih dari itu. Bahkan mereka sudah memanggil dengan nama depan mereka.

Langit malam begitu hitam pekat, ribuan bintang yang menghiasinya menjadikan pemandangan itu semakin menakjubkan.

Dan di sinilah Ino, duduk berhadapan dengan Obito. Meja di depan mereka terhias beberapa bunga hidup yang masih menguarkan wanginya. Beberapa lilin berdiri tersusun tepat di tengah meja itu.Makanan yang dihidangkan masih tersisa sebagian. Sesekali kedua manusia itu bercakap dan dilanjut dengan tawa ringan.

Seorang manusia yang mengawasi tingkah laku sepasang insan itu, nampak mensesap kasar wine mahalnya. Dirinya pun mempertanyakan hal bodoh apa yang saat ini tengah ia kerjakan. Jika saja bukan karena Obito mungkin ia lebih memilih untuk menemani ibunya berbelanja.

Selama ini Obito selalu menceritakan segala hal mengenai Ino. Obito tak jarang selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Ino, karena Sasuke pun sempat menjadi atasan Ino selama 2 tahun.

Tentu saja hatinya sedang tidak baik-baik saja. Setiap saat ia harus menahan rasa cemburu dan amarahnya ketika saudaranya itu tengah dengan sumringah bercerita mengenai wanita yang ia sukai.

Sasuke mendapat nilai sempurna kali ini. Kesabarannya dalam menahan cemburu dan juga rasa kesalnyaberujung membuat dirinya harus menemani Obito melakukan dinner romantis dengan Ino.

Tentu saja posisi Sasuke saat ini jauh dari meja Ino dan Obito, dan si pirang pun tak tahu bila Sasuke datang untuk mengawasinya.

Tak lama, seorang wanita berambut merah datang mengampiri meja Ino dan Obito. Sasuke pun tak mengenal siapa dia. Sasuke menahan diri untuk tak menghampirinya dan tetap pada posisinya. Wanita itu nampak marah. Dan menyiram wine ke arah Ino. Sontak saja para pengunjung memperhatikan adegan riuh itu. Ino yang nampak syok lantas mengambil tas selempangnya dan belari keluar restoran. Obito berusaha untuk mengejarnya, namun pergerakannya ditahan oleh Sasuke.

"Biarkan aku saja Obito. Kau selesaikan dulu masalahmu dengannya." Ucap Sasuke serius. Obito hanya mengangguk patuh.

Dengan terburu, Sasuke menyusul Ino. Ia khawatir akan kehilangan jejak gadis itu. Dan benar saja Ino sudah menghilang. Langit yang tadinya cerah tanpa awan pun mendadak abu-abu dan hujan deras. Membuat Sasuke semakin mengkhawatirkan gadis itu.

Sasuke bergegas masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan restoran dan perlahan menyusuri jalan. Dan benar saja, tak lama ia menemukan Ino tengah berjalan lunglai di bawah derasnya hujan. Tanpa berpikir panjang, Sasuke menghentikan mobilnya tepat di samping Ino. Gadis itu nampak tak peduli.

Sasuke dengan segera menghampiri Ino, membuat mereka basah kuyup. Sasuke menarik lengan Ino, membuat gadis itu menghadapnya. Ekspresi Ino datar, Sasuke pun tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Sasuke mendekap Ino erat. Bermaksud menenangkannya sesaat. Tubuh gadis itu lunglai, merosot perlahan kalau saja Sasuke dengan tidak sigap menangkapnya. Ino pingsan dalam dekapannya.

Tanpa berlama-lama, Sasuke membawa Ino masuk ke dalam mobil mewah itu. Menjalankan kendaraan hitam itu melaju dengan cepat.

Ino dibawa Sasuke ke tempat praktek dokter keluarganya. Berdalih bahwa ia tak sengaja bertemu dan stafnya yang sudah pingsan di bawah guyuran air hujan.

Sembari menunggu dokter memeriksa, jemarinya dengan lincah mengetik beberapa kata di handphonenya dan tak lama handphone itupun berdering. Panggilan dari Obito.

'Maaf Sasuke akupun tak tahu hal ini akan terjadi. Hubunganku dengan Karin sungguh sudah berakhir sejak aku akan pindah ke Konoha. Hanya saja gadis itu tidak terima dan terlalu posesif.' Jelas Obito di seberang telepon.

"Ya Obito. Aku memahaminya. Saat ini Ino sudah berada di tempat yang aman. Kau tak perlu khawatir."

'Baiklah Sasuke. Aku percaya padamu. Tolong antarkan Ino pulang dengan selamat.' Mohon Obito.

"Pasti." Sesaat setelah Sasuke menutup teleponnya, dokter Tsunade keluar ruangan menemui Sasuke.

"Sasuke-san, Yamanaka baik-baik saja. Hanya syok sedikit dan juga demam. Pakaiannya sudah kuganti dengan baju ganti klinikku. Kau bisa mengantarnya pulang. Dan juga..." Tsunade melihat secara menyeluruh tamplian Sasuke yang juga basah kuyup.

"Ah Baik dokter. Saya mengerti. Terima kasih untuk bantuan anda." Tsunade mengangguk kemudian pergi meninggalkan Sasuke. Tanpa berlama-lama, pria itu lantas memasuki ruangan.

Ino sudah sadar. Pipinya sedikit merah karena demam. Gadis itu melirik Sasuke yang berjalan menghampirinya.

'Apa ini? ' Ino lantas mengingat kejadian tadi, ketika dirinya dipermalukan di depan umum dan kemudian pingsan di pelukan Sasuke. Seketika Ino ingin menghilang saja.

"Yamanaka." Sasuke memanggilnya lirih ketika Ino menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Sasuke membuka tangan Ino perlahan. Mata mereka lantas beradu pandang.

"Ini semua tak seperti yang kau pikirkan. Perempuan itu bukanlah kekasih Obito. Mereka..." Belum selesai Sasuke menjelaskan, Ino memotong.

"Saya tidak peduli, Uchiha-san. Saya dan Obito-san hanyalah partner kerja biasa. Dan kami memang seharusnya tidak lebih dari itu. Saya tahu posisi saya." Jawaban Ino membuat hatinya sakit. Apa sebenarnya memang Ino sudah berharap dengan Obito sebelum ada kejadian ini?

Pandangan Ino kemudian tertuju pada baju Sasuke yang masih basah kuyup.

"Baju anda..." Tanpa sadar Ino menyentuh dada Sasuke bermaksud mengingatkan bahwa Sasuke masih dalam keadaan basah saat ini. Sadar akan posisi tangannya, Ino dengan segera menariknya.

"Maaf." Ino bergumam lirih.

"Sebaiknya segera kuantar kau pulang Ino. Kata dokter kau sudah boleh pulang. Lebih baik kau memakai kursi roda ini dulu sampai ke mobilku karena aku takut kau akan limbung." Sasuke mendekatkan kursi roda yang ada di sebelah Ino. Dengan perlahan Sasuke membantu Ino duduk di kursi roda itu dan mengantarkan Ino pulang.

Sesampainya di apartemen Ino, Sasuke langsung merebahkan Ino di kamarnya. Ino pulang dalam keadaan demam, sebelum meminum obat dari Tsunade, Ino harus memakan sesuatu dulu.

Sasuke mencari bahan-bahan yang ia perlukan di dapur Ino. Lantas menyalakan kompor dan membuat bubur agar Ino dapat meminum obatnya.

Sasuke menuju kamar Ino kembali, tak lupa menempelkan plester demam yang tadi sudah diberikan oleh dokter pribadinya.

"Yamanaka.. bangun sebentar. Makan ini dulu kemudian minum obatmu." Ino membuka matanya sedikit. Atasannya kini masih di tempatnya dan merawatnya sekarang. Ino merasa sangat-sangat tidak enak merepotkan Sasuke sejauh ini.

"Saya bisa memakannya dan meminum obat saya sendiri, Uchiha-san. Anda boleh segera pulang." Ino perlahan bangkit dari posisinya.

"Tak apa. Aku bertanggungjawab untuk merawatmu." Tanpa ekspresi Sasuke hendak menyuapi Ino. Namun tangan Ino seketika menghentikan tangan Sasuke.

"Tapi anda masih basah, Uchiha-san. Saya takut anda akan sakit." Sasuke meletakkan mangkuk buburnya di meja nakas di samping Ino. Kemudian pria itu menarik lepas kemeja yang ia kenakan. Pipi Ino semakin merona melihat pemandangan itu.

'Apa aku mimpi sekarang? Apa ini? Apakah benar yang ku lihat saat ini? Uchiha Sasuke bertelanjang dada di hadapanku? Oh lihat dada bidang dan perut berototnya itu.. oh Tuhan tak bisakah aku menyentuhnya?' Ino sibuk berkutat dengan pikirannya.

"Ehem.. maaf Ino, karena ku rasa kau tak memiliki baju yang pas untukku jadi mungkin seperti ini lebih baik." Sasuke berdeham untuk meredam atmosfer canggung.

"Ah iya, Uchiha-san. Kurasa.."

Ino menghabiskan makanannya, dan meminum obat yang diresepkan Tsunade. Gadis itu lantas terlelap dengan cepat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Sasuke menarik kursi di dekat ranjang gadis itu. Memperhatikan paras Ino yang disinari lampu meja nakas di sampingnya. Ya, bayangan Ino kecil masih terlintas di pikirannya. Ino tak banyak berubah, hanya saja menjadi lebih cantik. Blush. Wajah Sasuke memerah seketika.

Dengan canggung Sasuke menyingkirkan anak rambut Ino yang menghalanginya untuk menikmati keindahan paras Ino. Tangannya seketika mengecek apakah suhu tubuh Ino sudah turun. Dahinya tak lagi panas, lehernya... tunggu... pandangan Sasuke terfokus pada leher jenjang Ino yang sedikit berkeringat. Ah, kenapa terlihat sensual sekali? Bibirnya yang sedikit terbuka, membuatnya gila!

" Yamanaka Ino! Sial! Kenapa aku menjadi lemah seperti ini!" Rutuk Sasuke.

Ino sedikit menggerakkan kepalanya, makanya terbuka perlahan. Sasuke segera membuang pandangannya, berpura-pura tak memperhatikan Ino sebelumnya.

Ino kemudian bangkit, duduk bersandar pada kepala ranjangnya.

"Anda masih di sini, Uchiha-san?" Ino mengecek suhu di dahi dan lehernya, nampaknya ia sudah sembuh. Ino menarik lepas plester pereda demam di dahinya.

"Ah Ya, Yamanaka. Aku hanya memastikan ada orang jika kau memerlukan sesuatu. Lagi pula besok hari libur, jadi aku tak masalah." Sasuke kikuk.

Ino merona. Atasan yang sebelumnya sama sekali tidak ramah terhadapnya, dan bisa dibilang minim interaksi dengannya, saat ini menungguinya ketik sedang sakit. Ah dan juga jangan lupa dengan keadaannya yng saat ini bertelanjang dada itu. Ino merasa tidak ingin bangun apabila saat ini ia sedang bermimpi.

"Saya sudah merasa baikan, Uchiha-san. Tak apa jika anda pulang sekarang. Ah, apa anda sedikit gerah?" Dapat dilihat oleh Ino, jika Sasuke sedikit berkeringat.

"Oh ya, Ino. Ahaha.. karena aku tidak menghidupkan AC kamarmu jadi ya... a-aku sedikit kepanasan." Jawab canggung Sasuke.

Ino meraih remote control AC yang ada di meja di sebelahnya, menghidupkan AC kamar itu agar suhu kamar menjadi lebih baik.

Ino menarik beberapa lembar tissue dan mencoba me-lap keringat di pelipis Sasuke. Pandangan mereka beradu. Seketika Ino tersadar, dan menarik tangannya, namun Sasuke menahan tangan Ino.

"Ino... tak bisakah aku tetap disini?" Pinta Sasuke dengan tanpa sadar menyebut nama kecil Ino.

"Y-ya? M-maksud an.." belum sempat Ino menyelesaikan kalimatnya, Sasuke mengecup singkat bibir Ino. Kecupan singkat namun manis. Ino terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja atasannya ini lakukan.

Tersadar, Sasuke melepaskan Ino. Merutuki kebodohannya barusan. Bagaimana bisa ia kelepasan? Ia harus menerima konsekuensi jika Ino tidak terima dengan perbuatannya barusan dan melaporkannya kepada atasan Uchiha.

"M-maafkan aku Yamanaka. Kau boleh menamparku atau memukulku sekarang. Tapi kumohon jangan berbicara apapun terhadap media, atas perbuatan kurang ajarku padamu. Aku hanya..." belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Ino balas mengecup bibir Sasuke singkat. Sasuke juga dibuat terkejut atas tindakan kilat Ino. Pipi gadis itu semakin merona.

"Sekarang kita impas kan Uchiha-san?" Ucap Ino lirih.

Sasuke masih mencerna apa yang barusan terjadi. Ino balas menciumnya? Apa Ino juga memiliki rasa terhadapnya?

Tangan Sasuke lantas bergerak naik, menyisipkan anak rambut Ino ke belakang telinga gadis itu. Sampai, tangannya menarik perlahan tengkuk Ino, mendekatkan wajah Ino dengan wajahnya. Kedua manusia itu sudah melewati batas yang telah mereka buat sendiri.

'Kumohon... biarkan kali ini saja.' Pinta Ino dalam hati.

Lumatan-lumatan bibir Sasuke semakin terasa nyata. Ino sedang tidak bermimpi. Sasuke yang selama ini hanya ia kagumi dan menjadi pengisi setiap mimpinya, saat ini berada tepat di hadapannya dan sedang memagut bibirnya.

Sasuke melepaskan pagutan intensnya, membiarkan Ino untuk sekedar mengisi oksigen di paru-parunya. Ekspresi Ino yang sedikit terengah dengan bibir yang sudah sedikit bengkak akibat perbuatannya itu, entah mengapa membuat Sasuke panas.

Sasuke menarik tangan Ino, mengangkat tubuh ringan gadis itu untuk duduk di atas pangkuannya. Sekarang tubuh mereka benar-benar dekat tanpa jarak. Sasuke mencoba mencium kembali gadis yang saat ini tengah duduk berhadapan di atas pangkuannya kini.

Ciuman mereka benar-benar intens. Tentu saja, keduanya bukanlah orang awam pada hal ini.

Pagutan mereka semaki liar, lidah mereka saling bergulat. Mengeksplorasi rongga mulut masing-masing. Semakin intens kegiatan mereka, entah mengapa mereka semakin merasa ingin lebih dalam menjelajahi diri pasangan mereka. Ino mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke, sedangkan tangan Sasuke memeluk Ino semakin mendekat.

Dapat Ino rasakan, sesuatu yang menggangu tengah menyentuh bagian kewanitaannya. Tentu Ino paham betul apa itu. Sebagaimana Sasuke, saat ini kewanitaan Ino juga terasa sangat lembab. Ciuman intens mereka sudah cukup untuk sekedar merangsang keduanya.

"Ahh... Uhm..." Ino tak bisa menahan desahannya di sela-sela ciumannya kini. Sesuatu yang menonjol itu kian mengeras dan membesar, semakin intens menyentuh bagian sensitifnya. Sasuke melepas ciumannya, pandangan mereka bertemu. Sungguh wajah Ino sangatlah sensual di matanya. Benar-benar sangat seksi dan ereksinya kini benar-benar sangat mengganggu.

"Ino... aku..." Mendengar Sasuke memanggil nama kecilnya membuat Ino semakin bersemangat.

Ino bangkit dari posisinya, menarik tangan Sasuke menggiringnya berdiri dan mendorongnya jatuh ke atas ranjang yang tadi ia tempati.

Sasuke pasrah dengan apa yang akan diperbuat gadis ini kemudian. Dengan sedikit agresif Ino membuka belt yang dikenakan Sasuke dan membuka kancing celananya!

Apakah Sasuke bermimpi sekarang? Ino yang selama ini pendiam di hadapannya, kini menjadi erm... sedikit nakal di matanya.

"Aahh... hmm." Seketika Sasuke menutup mulutnya, meredam erangan akibat perbuatan Ino sekarang.

Ino tengah mengulum perlahan penisnya yang sudah sangat tegang. Kehangatan mulut Ino membuat Sasuke tak tahan untuk tak meleguh. Apakah Ino sudah terbiasa melakukan ini?

"Aah... Ino..." Dapat Ino rasakan penis Sasuke semakin membesar, menampilkan urat-uratnya yang kokoh di sekitar batang kemaluannya.

Penis Sasuke sangat keras dan besar. Bahkan Ino hanya mampu memasukkan sedikit saja ke dalam mulutnya. Entah apa yang akan terjadi pada tubuhnya jika penis itu memasukinya. Membayangkannya saja sudah membuat bagian bawahnya berdenyut nyeri.

Sasuke tak bisa seperti ini, ia kemudian membalikkan posisi menjadi Ino yang saat ini ada dalam kungkungannya.

Pandangannya beradu dengan manik sebiru lautan itu, membuatnya seakan tenggelam disana.

Sasuke memagut mesra kembali bibir Ino. Tangannya kini tak tinggal diam.

Ia membuka satu persatu baju pasien yang dikenakan Ino. Tentu saja Sasuke bukanlah orang yang sabar dalam situasi seperti ini, namun ia masih bisa berpikir logis untuk menjaga baju itu tetap utuh ketika harus dikembalikan.

Selesai dengan kancing-kancing sialan itu, Sasuke membuang asal baju itu.

Dapat dilihat oleh Sasuke, payudara Ino seakan tumpah mengenakan bra yang sedikit kekecilan entah milik siapa.

Tanpa berbasa-basi Sasuke melepas pengait bra yang menjadi belenggunya itu. Dan alhasil, pria itu disuguhi pemandangan yang luar biasa menggairahkan. Kulit putih bersih Ino dengan payudara besar dan bulat.

Tak sabar, Sasuke meremas-remas gemas benda itu. Membuat gadis di bawahnya tak tahan merasakan geleyar-geleyar nikmat pada tubuhnya.

"Uhh... Uchiha-san... ah.." Desahan Ino semakin menjadi ketika Sasuke mengulum puncak payudara Ino. Tangan kiri Sasuke menjelajah ke tubuh bagian bawah Ino, yang hanya berlapislkan celana panjang. Dapat Sasuke rasakan, Ino benar-benar sangat basah. Tangannya dengan terampil menggoda bibir vagina Ino yang sudah terasa sangat lembab.

"Ah... uh... ehm." Ino tak tahan akan sensasi itu. Dapat ia rasakan cairan tubuhnya kian mengalir keluar melewati bagian kewanitaannya itu. Ia tak tahan dengan permainan jari Sasuke di bagian bawahnya. Ino membekap mulutnya sendiri, berusaha meredam desahan-desahannya yang terus ia lantunkan.

"Ah... Uchiha-san." Dapat Ino rasakan, satu jari Sasuke telah memasukinya. Hal itu menambah sensasi gatal pada bagian itu. Rasanya benar-benar tak nyaman, dan juga nikmat. Gerakan jari Sasuke terhenti, membuat Ino sedikit kecewa. Namun pria itu kemudian menarik lepas celana panjang Ino. Membuatnya sama telanjangnya dengan pria itu. Ino sedikit malu ketika Sasuke membuka kakinya lebar-lebar. Pria itu lantas tak segera membuat pergerakan, diam mengamati pemandangan yang saat ini ada dihadapannya.

Dengan canggung, Ino menutupi bagiannya itu dengan tangan. Namun buru-buru, dicegah oleh Sasuke.

"Jangan... Jangan sembunyikan dirimu." Setelah Sasuke berucap demikian, ia menurunkan wajahnya. Mempertemukan bibirnya dengan bibir bagian bawah gadis itu. Mengecupnya, dan memasukkan lidahnya menyapu bagian bawah gadis itu. Sungguh sensasi ini seakan membuat Ino gila. Bibir tebal pria itu masih dengan setia mengecup bagian bawah Ino.

"Ah... Uchiha-san... a-aku..." Ino tak dapat lagi menahan gelombang gairahnya yang meledak-ledak. Cairannya keluar tanpa penghalang. Tak menunggu lama, Sasuke mempermainkan klitoris Ino yang benar-benar telah membengkak.

Sasuke bangkit dari posisinya. Memperhatikan kondisi Ino saat ini. Rambut pirang panjangnya nampak berantakan, matanya sayu penuh akan hasrat. Bibir gadis itu merah bengkak. Dadanya penuh dengan kissmark yang juga merupakan hasil karyanya. Ah, Sasuke sudah tak tahan lagi, tak berlama-lama Sasuke mendorong masuk penisnya yang sudah sangat tegang ke dalam Ino.

"Akh!!" Sontak saja Ino menjerit. Sensasi nikmat bercampur dengan rasa sedikit nyeri akibat size laki-laki itu.

Sasuke menciumi kening, pipi, hidung dan memagut mesra bibir Ino. Mencoba mengalihkan rasa sakitnya.

Semua bagian Sasuke telah masuk sepenuhnya. Membuat Ino mengerang lega. Namun hal tersebut tak berlangsung lama. Sasuke lantas menggerakkan kemaluannya maju mundur. Membuat Ino merasakan sensasi nikmat dan nyeri itu lagi. Namun engah mengapa gerakan kasar Sasuke membuatnya semakin basah.

"Ahh... ah.. ah... Uchiha-san... ah." Ino tak henti-hentinya mendesahkan nama pria itu. Membuat Sasuke kian bersemangat.

"Ino... hmm.." Sasuke terus bergerak memaju mundurkan tubuhnya.

Suara-suara eksotis kedua tubuh yang saling beradu itu memenuhi ruangan. Sejuknya udara ruangan itu nampaknya tak dapat dirasakan oleh kedua insan yang saat ini masih sama-sama merengkuh kenikmatan bersama. Tubuh mereka beradu satu sama lain. Peluh semakin membanjiri tubuh keduanya.

Entah kapan logika mereka akan kembali. Kedua tubuh itu seakan-akan telah menahan sesuatu untuk waktu yang tidak singkat. Mereka saling melepaskan kerinduan yang tidak mereka sadari sebelumnya.

Entah seperti apa hal yang harus mereka hadapi selanjutnya. Hal baik kah? Atau sebaliknya?

TO BE CONTINUE. . .

Haiii... makasih kepada pembaca yang telah sudi mampir.

Untuk pair masih rahasia ya! Hihi.

Fic ini benar ada bumbu-bumbu sadnya dikit, sementara masih mengembangkan ide itu. Jadi stay tune pemirsah!

Aku sekali nulis terus post, maafkan untuk kesalahan pengetikan ataupun kadang ada kata yang tidak nyambung di kalimatnya ya! Huhu

Hope you enjoy!