Warning : Mature Content,cerita absurd
.
.
.
.
Flashback
Hari menjelang petang, Ino duduk tenang di dalam kamarnya sembari menyisir rambut boneka barbie di tangannya. Seorang wanita dewsa di sampingnya, sibuk merapikan mainan gadis kecil itu yang berserakan.
Sesekali wanita itu menyunggingkan senyumnya melihat Ino yang begitu lucu dengan mimik seriusnya.
Suasana damai itu sedikit terusik ketika seorang pria pirang masuk ke dalam ruangan. Pria itu tersenyum hangat, betapa nyaman atmosfer di rumah kecilnya ini.
"Tsunade, apa Ino merepotimu hari ini?" Wanita pirang itu menggeleng. Melontarkan senyum menawannya.
"Tidak sama sekali. Ino-chan anak penurut Inoichi-san. Kau sungguh ayah yang hebat." Usapan lembut Tsunade di lengannya seakan mengurangi rasa lelahnya setelah bekerja.
Inoichi adalah seorang ayah tunggal dengan seorang putri kecil. Istrinya meninggal ketika Ino masih sangat kecil. Membuatnya harus berusaha ekstra membagi waktu untuk putri kecilnya dan bekerja memenuhi kebutuhan hidup.
Inoichi adalah karyawan biasa di sebuah perusahaan jasa terkenal, Hashirama Office.
Sampai ia mengenal Tsunade, cucu dari pemilik perusahaannya bekerja. Tsunade begitu menyayangi putrinya, dan Ino pun juga merasa cocok dengan Tsunade.
Hubungan Inoichi dan Tsunade sudah sangat serius, namun permasalahan klasik kehidupan percintaan si kaya dan si miskin.
Hubungan mereka ditentang oleh keluarga besar Senjuu. Mereka telah memilih seorang Uchiha sebagai calon suami Tsunade. Alhasil, Tsunade dan Inoichi menjalani hubungan mereka secara diam-diam. Bahkan Tsunade dengan berani melarikan diri dari rumahnya, meninggalkan semua yang dimilikinya hanya untuk bersama dengan Inoichi.
Pada awalnya, kehidupan mereka berjalan sesuai rencana, damai tak ada gangguan. Inoichi juga telah menemukan pekerjaan baru setelah mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya.
Namun nampaknya Tuhan tak membiarkan mereka hidup dengan hati yang tenang. Mereka terus saja diteror dan dikejar oleh orang-orang yang diperintahkan Hashirama. Hal itu tentu memaksa Inoichi harus berpindah-pindah tempat guna melindungi Tsunade dan Ino yang masih kecil.
Sampai suatu ketika Tsunade meninggalkan Inoichi dan Ino yang tengah terlelap. Tsunade dengan sukarela akan melepaskan Inoichi dan menikahi Madara, dengan syarat kakeknya harus berhenti mengusik Inoichi dan putrinya.
Namun, Hashirama tak memenuhi janjinya. Ia akan terus mengejar Inoichi, jika perlu ia akan melenyapkan Inoichi selamanya. Tsunade merasa begitu dicurangi oleh keluarganya sendiri.
Ia sungguh berharap Inoichi dapat pergi sejauh mungkin dan tak dapat mereka temukan.
Sampai pada akhirnya, Inoichi membawa Ino ke Konoha. Inoichi selalu tak tenang, ia selalu merasa diikuti oleh seseorang. Ia benar-benar mengkhawatirkan Ino. Jangan sampai orang-orang itu menyakiti Ino, itulah yang selalu terngiang di kepalanya.
Hingga ia teringat dengan teman baiknya di Konoha, Minato. Ya, dia akan menitipkan Ino pada sahabatnya itu. Agar orang-orang itu menjauhi Ino.
"Sayang, bolehkah ayah memintamu menunggu di bangku taman itu?" Inoichi menunjuk sebuah bangku panjang di dekat mereka, dimana nampak seorang anak laki-laki duduk sendirian di sana.
"Ayah mau kemana?" Gadis kecil itu memastikan.
"Ayah hanya ingin membeli beberapa kebutuhan kita di toko sebelah sana. Ayah juga akan membelikanmu es krim, jadi kau cukup menunggu ayah saja ya?" Ino hanya mengangguk patuh dan menuju ke tempat yang tadi ayahnya sebutkan.
Inoichi lantas menghubungi Naruto untuk segera menjemput anaknya itu. Ia mengawasi Ino sampai Naruto benar-benar datang.
Tak berapa lama, sebuah mobil mendekat ke tempat Ino berada. Apakah itu Naruto? Bukan. Melainkan seorang Uchiha. Fugaku Uchiha. Ya, dia cukup tahu seluk beluk keluarga Uchiha berkat calon suami Tsunade juga merupakan seorang Uchiha, yaitu Madara.
Madara sendiri merupakan kakak dari Fugaku, yang saat ini ada di depannya.
Inoichi benar-benar akan menyumpahi Minato kalau saja ia tak cepat datang. Ino kecil terlihat bingung, sendirian duduk di tempat itu.
Benar saja, Minato akhirnya datang. Inoichi menghela napas lega. Akhirnya.
Sesuai dugaannya, Ino tak ingin ikut dengan Minato. Ia bersikukuh menunggu ayahnya datang. Inoichi tak kuasa membendung tangisnya. Ini semua benar-benar salahnya. Jika saja ia tak mengenal Tsunade, keadaan tak akan menjadi rumit ini.
Dengan terpaksa, Minato menggendong Ino yang masih terus memberontak ke dalam mobilnya. Ya, Ino sudah berada di tangan yang aman sekarang.
Saat ini, biarlah ia yang menanggung semuanya. Inoichi bersedia.
Inoichi bergegas pergi, menuju entah kemana, agar mata-mata Hashirama semakin menjauh dari Ino.
Sedikit uang yang tersisa, ia gunakan untuk menyewa tempat tinggal. Setidaknya sampai keadaan lebih baik, atau sampai ia ditangkap.
Orang-orang Hashirama nampaknya tak ingin berlama-lama, mereka menerobos masuk ke dalam tempat singgah Inoichi dan membawanya pergi tanpa perlawanan. Inoichi menyerahkan diri. Biar saja ia menderita asal Ino dan Tsunade tak merasakan demikian.
Inoichi diseret, dimasukkan ke dalam suatu ruangan bawah tanah. Tangannya diikat dengan rantai besi yang sudah tersedia di sana.
Kemeja putih Inoichi penuh dengan noda darah yang masih mengalir dari ujung bibirnya. Matanya bengkak, badannya penuh lebam. Ia tersenyum menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ya, ini yang memang seharusnya ia dapatkan. Inoichi tak dapat membayangkan jika mereka menyakiti Ino atau bagaimana reaksi histeris Ino melihat keadaannya.
Jika mati sekarang, Inoichi rela. Ia bisa mengawasi Ino dan Tsunade dari atas sana.
Brakk… pintu ruangan itu di banting keras. Meninggalkan Inoichi dalam kegelapan dan sesaknya atmosfer dalam ruang kecil itu.
Flashback end
Semenjak saat itu, Ino tak pernah tahu bagaimana kabar ayahnya sekarang. Memori terakhir yang ia ingat adalah ketika ayahnya berbohong kepadanya, dan meninggalkannya sendirian.
Beruntung, Minato dan Kushina serta Naruto sangat menerima dan menyayanginya. Ia bersyukur dapat menjadi bagian keluarga Uzumaki.
Sampai pada akhirnya Ino telah menyelesaikan studinya dan bisa hidup mandiri.
Ino mengerjapkan matanya, terganggu akan sinar matahari yang menelusup melewati sela-sela gordyn.
Hampir saja ia berteriak, ketika melihat wajah Sasuke tepat di depan wajahnya. Namun seketika ia tersipu, mengingat kegiatan mereka sebelumnya.
Posisi mereka berhadapan, dengan Sasuke yang masih terlelap. Ino memberanikan diri membelai lembut wajah tampan Sasuke. Kemudian pergerakannya turun mengusap bibir tebal pria itu. Lantas turun kembali, menuju dadanya yang bidang berotot. Bagaimana bisa Tuhan memberikan segala kesempurnaan ini kepada laki-laki di hadapannya ini?
"Kenapa Ino? Mengagumiku?" Sasuke bergumam dengan mata yang masih tertutup. Sontak Ino menarik tangannya. Ino mengubah posisinya, memunggungi Sasuke.
Sasuke beringsut, memeluk Ino erat dari belakang. Dapat Ino rasakan napas hangat Sasuke menggelitik lehernya.
Setelah apa yang mereka lakukan, mungkinkah tak ada yang akan berubah dari mereka berdua?
Entahlah, Ino juga tak mengerti.
Ino menoleh, Sasuke masih memejamkan matanya. Dengan berani, Ino membalikkan badannya, membalas pelukan Sasuke.
Pelukan Sasuke sangat hangat dan nyaman. Sasuke membuka matanya, mengusap sayang kepala Ino. Dikecupnya dahi Ino. Ia sekarang yakin dengan perasaannya kepada wanita ini. Ia tak ingin kehilangan Ino. Sasuke akan terus memperjuangkannya.
Ino menyelami mata berwarna kelam itu. Menyusuri gelapnya netra yang menyiratkan pesona mematikan seorang Uchiha.
Uchiha? Ia sontak teringat dengan Obito. Ya, sejak kemarin ia tak mengirim kabar kepada Obito sama sekali.
Ino sadar, sepenuhnya bukanlah salah Obito. Pria itu juga tak mengharapkan semuanya menjadi serumit ini.
Dan Ino juga menyadari bahwa perasaannya terhadap Obito hanyalah murni rasa nyaman terhadap sahabat dan partner kerja.
Sebentar, Ino sungguh berdusta bila mengatakan ia tak mengharapkan apapun dari Sasuke. Sebelumnya, ia mungkin tak berharap lebih, namun setelah apa yang terjadi, bisakah Ino sedikit saja menarik napas lega?
Kecupan Sasuke di bibirnya membuatnya tersadar.
Netra mereka saling bertatapan. Menyelami keindahan masing-masing.
"Ino… Bolehkah?" Tanpa penjelasan pun, Ino paham dengan apa yang diminta oleh pria itu. Apalagi sesuatu di bawah sana telah menyentuh perutnya sedari tadi.
Ino tak merespon, ia menjawab melalui kecupan singkat pada bibir si pria.
Mendapat lampu hijau, tanpa berlama-lama Sasuke balas melumat bibir penuh Ino dengan semangat.
Tubuh mereka semakin memanas seiring dengan semakin intensnya ciuman yang mereka lakukan. Lidah mereka saling bergulat, tak ingin kalah pada lawan masing-masing.
"Uh…" Ino meleguh ketika tangan Sasuke memelintir pelan puncak dadanya yang sudah mengeras. Desahan Ino membuat Sasuke semakin bersemangat. Ia tahu jika saat ini ia melakukan penetrasi akan cukup melukai Ino. Namun, Sasuke juga merasa tak akan lama menahannya.
Sasuke lantas bergerak turun ke bawah. Membuka kaki Ino lebar, cairan Ino nampak mulai memenuhi bagian itu. Sasuke benar-benar tak sabar sekarang. Dilahapnya bagian intim Ino yang mulai basah.
"Ah…. Ah… ah…" Perut Ino seakan diaduk-aduk. Lidah Sasuke semakin liar memasuki liang kewanitaannya. Menjelajahi setiap inci pusat kenikmatan wanitanya, yang sebentar lagi akan ia jejali dengan penis besarnya.
Stop. Sudah. Sasuke sudah tak dapat menahannya lebih lama lagi. Dengan terburu ia mendorong masuk penisnya yang sudah sangat tegang dan keras ke dalam Ino yang semakin basah.
"Uh… Ino…" Sasuke meleguh. Dinding kewanitaan Ino seakan mencengkramnya dengan erat. Sensasi dari kedua organ yang saling bergesekan itu membuat mereka melayang.
Gerakan Sasuke semakin liar dan liar. Ino benar-benar kewalahan. Entah ini hanyalah perasaan Ino saja atau memang benar adanya, Sasuke terlihat seratus kali lebih seksi saat pagi. Apalagi pada sudut pandang Ino saat ini. Ah… Ino semakin gatal dan panas.
"F-faster… ah…." Ino butuh Sasuke untuk bergerak lebih cepat. Merusak tubuhnya, menyiksanya dengan semua kenikmatan ini. Ino benar-benar bisa gila sekarang:
Sasuke pun mengikuti apa yang dikatakan wanita di bawahnya. Menubrukkan tubuhnya dengan beringas, hingga Ino semakin liar mendesahkan nama sang kekasih.
"Sasuke ah…" Mendengar namanya disebutkan oleh Ino dalam desahannya, membuat Sasuke semakin bersemangat sekaligus senang. Suara derit ranjang tempat mereka bercumbu semakin jelas adanya, seiring dengan desahan kedua manusia yang sebentar lagi juga akan mencapai puncaknya.
"Ja-jangan…" Telat. Ino telat memperingati Sasuke. Sperma Sasuke telah mengalir ke dalam rahimnya. Sasuke malah dengan sengaja menekan penisnya lebih dalam, memastikan seluruh bibitnya memasuki Ino. Ya, Sasuke sengaja melakukannya. Sasuke menginginkan anak. Untuk mengikat Ino padanya. Dan berharap tak akan ada orang lain yang merebut Inonya.
Dengan nyata, Ino dapat merasakan hangat cairan Sasuke di dalamnya. Sasuke benar-benar melepaskan hasratnya di dalam Ino. Celakanya, Ino dalam keadaan subur sekarang ini. Dan Sasuke sudah mengeluarkannya juga semalam di dalam Ino.
Wanita itu tak ingin hamil, setidaknya untuk sekarang ini. Ia belum siap. Masih banyak hal yang harus ia lakukan.
Sasuke menarik lepas kemaluannya dari dalam Ino. Sedikit sperma Sasuke mengalir keluar.
"Uchiha-san. B-bagaimana jika aku hamil?" Ino benar-benar belum siap untuk mengandung.
"Jangan khawatir Ino. Aku pasti akan bertanggungjawab. Lagipula nanti kau akan bertemu dengan keluarga besar Uchiha." Sasuke mengusap peluh Ino, sekaligus membuatnya tenang.
"Bertamu dengan keluarga besar Uchiha? Untuk apa?" Otak Ino benar-benar seakan berhenti bekerja.
"Untuk apa lagi? Untuk memperkenalkanmu sebagai kekasihku." Ino speechlese, tak mampu merespon perkataan Sasuke. Yang benar saja? Secepat ini? Apa Sasuke sedang mempermainkannya saat ini?
"T-tapi…."
"Sssst… tidak ada sanggahan. Mulai hari ini kau kekasihku dan hari ini pula kita akan menemui keluarga besar Uchiha. Mengerti Ino?" ino hanya diam tak mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang selain menuruti perkataan Sasuke.
"Baik. Tak ada pertanyaan, maka waktunya kita membersihkan diri. Bagaimana jika…." Kerlingan nakal Sasuke cukup membuat Ino paham maksud pria itu.
Tanpa penolakan, Sasuke menggendong tubuh Ino menuju kamar mandi untuk membersihkan diri atau malah menambah aktivitas yang lain.
Selesai memakai bajunya, Sasuke mengecek handphonenya. Dan benar saja, terdapat banyak sekali notif pesan dan telepon tak terjawab dari obito.
'Kita bertemu malam nanti.' Sasuke mengirimkan pesan singkat itu kepada Obito.
Ino yang sudah siap dengan dres ungu selututnya, menghampiri Sasuke.
"Kau sudah siap Ino? Mari kita berangkat?" Sasuke menggandeng tangan Ino, namun Ino tak bergerak dari posisinya.
"Apa perlu kita membeli baju baru Uchiha-san? Saya memiliki banyak baju pantas, apa perlu saya tunjukan kepada anda?" Sasuke menarik tangan Ino. Mengisyaratkan dengan matanya bahwa saat ini ia tak ingin dibantah.
"Aku hanya ingin pertemuan pertamamu dengan keluargaku menjadi memori Ino. Maka aku harus mempersiapkan segalanya khusus untukmu." Sasuke menjelaskan. Ino hanya terdiam, entah mungkin karena Sasuke adalah petinggi Uchiha Corp dan sifat bossynya sudah menjadi kebiasaan atau memang karena darah Uchiha yang ada pada tubuh pria itu.
To Be Continue. . .
Holaa. Chpter 3 UP!
Semoga masih berkenan melanjutkan membacanya ya...
Kuusahakan up lebih cepat supaya bisa menambah fanfic Ino terutama yang rate M muwehehehhe
Kupastikan selalu membaca reviewdari readers! Karena feedback yang aku dapat dari sini hanyalah support dari kalian semua wahai para readers! Thank U so much much more... luv
Hope you enjoy!
*edit Makasih reader buat koreksi perihal typo Inoichi jd Itachi wkwkw typonya kejauhan buk duh gomen...
Efek abis up story sebelah jadi masih kebayang-bayang nih mina-san. Hihi
