.
Ini bukan kali pertama aku terisak hanya karena cemas sendiri memikirkan situasi 'if I meet my soulmate'. Tiba-tiba perasaan sarat kerinduan yang asing itu menelusup dan menyesaki dada. Rasa yang setidaknya ingin segera aku miliki sendiri—secara nyata, dengan seluruh kewarasanku yang biasanya. Perasaan yang membuatku ingin memeluk seseorang erat-erat, menciuminya, dan seterusnya—seseorang yang tidak pernah aku temui. Atau setidaknya, belum.
Sinting, bukan?
Tapi, seperti yang sudah ku katakan, ini bukan yang pertama kali.
.
Sisi Lain Gaara
By Nao Kamiya
Naruto—Masashi Kishimoto's
Warning: Alternate Universe, OOC's overdose.
.
Flipped masih menjadi film yang akan aku ulang ketika perasaan gundah itu hinggap di tengah-tengah malam atau siang dan menyita fokusku seenaknya. Setidaknya film romcom itu dapat menghangatkan hati, dan diam-diam aku berharap cerita cinta di usia bau kencur itu akan mendorong otakku untuk mematenkan konklusi bahwa di dunia ini, masih ada sisi kehidupan yang manis dan menyenangkan untuk dapat dirasakan—atau solusi lain dari; kisah percintaan manis di masa-masa sekolah yang mungkin telah aku lewatkan tanpa pernah menyadarinya, atau, memang benar-benar tidak pernah terjadi padaku dulu.
Yah, entah aku ini orang yang apatis, entah terlampau lihai membuat persona keras. Sepanjang ingatanku, orang-orang setuju dengan penilaian sarkastis ini:
'Gaara? Manusia nir ekspresi itu, huh?'
Kesimpulannya, menurut semua orang, wanita bukanlah sesuatu yang esensial di dalam hidupku. Atau bahkan tidak pernah sedikit pun menyapu benak.
Ya, ya, itu kata mereka. Aku juga tidak pernah menolak pendapat macam itu tentang diriku.
Lain dengan Flipped yang membawa efek pengharapan, jika aku lebih ingin menuntaskan gundah itu dengan tangis menyayat dan pilu sebagai pungkasan—aku akan memutar ulang Me Before You.
Mataku kembali menerawang ke layar televisi yang sudah sepenuhnya gelap setelah Flipped habis, memutar kembali sisa-sisa adegan yang sudah sangat ku hafal. Apa yang tidak pernah benar-benar menyita perhatianku adalah bagian dimana Chet Duncan menceramahi Bryce sesuatu yang mengetuk kepalaku.
People had their own color,
it can be white, silver, grey,
but sometimes, there's certain people you see differently
Because she had color of rainbow.
—yang, dalam perspektifku yang sangat cupu menyoal romansa— sebagai seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidup. Ya, benar yang itu, soulmate.
Aku merutuk dengan suara rendah, menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi dan mata. Kali ini butuh 10 menit untukku berkubang dengan isakan sendiri. Ya, hanya dengan memikirkan tentang konsep 'soulmate' ini.
Hidungku masih berasa pengar, kepalaku masih tersisa pening. Jika aku nekad pergi tidur sekarang, sepertinya besok aku akan benar-benar menderita radang tenggorokan.
Untuk menenangkan diri entah lebih kepada menyibukkan diri untuk mengeliminasi kegalauan yang bertumpuk, aku beranjak menuju dapur. Sisi ruangan yang sering aku jamah selain ruang tengah dalam apartemen studio yang kutinggali selama 2 semester kuliah di kota ini. Mulai memotong kentang, wortel dan beberapa bahan dari kulkas, menjadikannya sepiring kare yang kelewat asin.
Sembari mengunyah, pikiranku kembali melompat di suatu percakapan yang agaknya cukup relevan untuk tema gundahku malam ini.
"Jadi, kenapa dengan Sakura?"
Naruto, teman kepala pirang jabrik dan juga satu departemen denganku itu bertanya di suatu sore usai kelas. Mata birunya menatapku lekat, ada kilat jenaka yang samar disana. Aku benci mengatakannya, tapi Naruto adalah salah satu dari tiga orang yang tahu sisi rapuhku—sisi lainku yang melankolis.
Sakura adalah asisten dosen sekaligus kakak tingkat yang setahun lebih tua dariku dan Naruto. Aku sempat mengencaninya dua kali setelah Naruto mendesakku untuk bergerak setelah tahu aku sedikit menaruh minat dengan perempuan bersurai merah muda yang kelewat ramah kepada semua orang itu.
Dia cantik, mata zamrud-nya indah, dan tidak pernah sekalipun aku meragukan kecerdasannya—sisi yang aku suka.
Aku balas menatap Naruto untuk beberapa saat sebelum membuang muka. Menghela napas pelan-pelan.
"Dia sudah terikat dengan seseorang, Naruto." Tersenyum getir, aku menambahkan dengan nada yang gagal kubuat ringan. "Tidak, aku tidak bisa melanjutkan itu dengannya."
"Ouch!" Naruto memberiku tatapan seolah tersakiti, tatapan simpatinya membuatku ingin memukulnya. "Terikat bagaimana, sih? Tunangan?—Sakura sudah bertunangan dengan seseorang ini?"
"Yeah…" Jawabku sekenanya.
Sakura barangkali menjadi salah dua pengalamanku dicundangi cinta. Lagipula, cinta itu apa? Seharusnya aku tetaplah diriku yang lekat dengan nir implementasi ekspresi dan nir perasaan yang membuat geli manusia-manusia stoic.
Ya, barangkali memang Sakura adalah bagian dari patah hati yang urung aku akui pada semester pertama kuliahku dulu.
Kemudian sosok temanku satu lagi yang berambut legam, pada malam yang lain, memandangku dengan tatapan terganggu. Ekspresi muak yang terpeta samar-samar membuatku merasa sedang mencapai titik memalukan dari personaku yang kutunjukkan kepada semua orang.
"Jangan menatapku seperti itu, Sasuke." Aku menghela napas lainnya, memijit pangkal hidungku. Saat itu aku menginap di tempatnya setelah secara impulsif memencet bel apartemennya di pukul 2. Pagi buta.
Sasuke menyorongkan segelas air padaku, "Kau ini memang lain." Kepalanya menggeleng-geleng sarkastis. "Jadi sudah dua kali ini kau ditipu perempuan, eh?"
Kata-katanya merujuk pada Haruno Sakura yang memberiku harapan palsu dan satu gadis bersurai coklat yang beberapa jam sebelum itu tidur di ranjangnya dengan pria lain di depan mataku—Tenten.
Yang terakhir itu benar-benar kacau. Dia memang bukan kekasihku—atau setidaknya belum. Aku tidak akan hancur dan justru akan memukul lalu menyumpahi perempuan yang kutemukan bermuka pias itu jika saja aku tidak pernah tidur dengannya dua bulan terakhir selama kita dekat.
"Diamlah…" dengusku.
Aku menghargai mereka sebagai perempuan, yang pantas untuk dijaga dengan kehati-hatian dan kelembutan. Aku menghargai mereka sebagai manusia, yang memiliki moral cukup untuk tidak berniat menggores hati manusia lain.
Yang satu pemberi harapan palsu. Yang satunya lagi penggila seks.
Aku tidak bisa merasa lebih buruk lagi. Perempuan benar-benar brengsek.
Kuminum air dalam gelas itu beberapa teguk sampai tandas. Tiap tegukannya terasa menyakitkan. Aku bertekad untuk benar-benar mengenyahkan rasa cinta dan menyingkirkan perempuan dalam hidupku—saat itu.
Aku menekuri piring penuh jejak kare yang ada di hadapanku untuk beberapa lama, sebelum membuang napas kasar, menatap ke arah satu-satunya jendela yang ada dalam kubikel pribadiku ini. Menatap bulan yang menggantung rendah disana.
Yeah, untuk apa aku membuang 10 menit air mata untuk kembali berharap pada jodoh?
Barangkali aku memang hanya lelaki malang yang tidak pernah mujur soal urusan cinta sampai di umurku yang ke-delapan belas.
Gaara hanyalah manusia malang, benar, kan?
Tapi… aku tidak bisa menepis 10 menit tangis itu, tentu saja.
Malam ini berbeda.
Ada rasa rindu asing yang benar-benar ingin kutemui di realita. Rindu yang ingin aku lepas lewat dekapan erat dan ciuman lekat kepada seseorang-ku. Yang, sebagai seseorang dengan warna pelangi, seperti kata Chet Duncan kepada Bryce.
Aku… sangat ingin bertemu dengan nya.
Entah sekarang sedang berada di belahan bumi mana dan sedang melakukan apa dirinya. Ataukah dia adalah seseorang yang detik ini berada dalam suatu hubungan, yang berjalan baik, atau sedang diselingkuhi dan patah hati? Ataukah dia adalah seseorang yang sama sepertiku, cengeng akan cinta dan memohon agar segera dipertemukan dengan pelabuhan terakhirnya kepada Kami-sama?
Satu seringai samar terpatri. Aku mengerti, aku mengerti. Menggalau adalah hobiku yang akan selalu kusimpan rapat-rapat dari dunia luar. Tetapi menunggu seharusnya lebih mudah untukku yang sudah cukup lelah untuk kembali terlibat dengan cinta.
Aku menggeleng sekali lagi sebagai upaya terakhir untuk menyudahi ritual emosional ini dan merangkak ke kasur yang nyaman.
.
.
.
.
.
Beberapa purnama kemudian…
Pada suatu siang yang terik di awal Agustus, seorang pemuda berambut merah berbaring di atas rerumputan di suatu areal luas dekat dengan lapangan parkir. Letak lapangan parkir itu berada di sebelah gedung kampus yang masih dipenuhi orang-orang yang hilir-mudik mengurusi aktivitasnya masing-masing. Sebuah buku terbuka dengan telungkup menutupi parasnya yang hampir selalu minim ekspresi.
Tidur nyamannya yang dibelai angin sepoi itu tidak akan terusik jika saja pemuda surai merah lainnya tidak menginterupsi. Sosok itu berlarian melintasi bukit depan lapangan parkir sebelum mencapai sisi si puncak merah yang sedang berbaring.
"Gaara!"
Yang diteriaki tidak menyahut, tetapi menurunkan buku yang beberapa detik lalu bertengger di wajahnya. Sepasang mata jade-nya membuka, mengerjap sekilas sebelum menemukan seraut wajah-seperti-bocah membungkuk, menatapnya dari atas.
Gaara menggeram. "Sasori… sialan."
Pemuda yang bernama Sasori itu terkekeh, menarik salah satu lengan Gaara yang agaknya tidak berniat untuk beranjak dari posisi berbaringnya, memaksa pemuda nir ekspresi itu duduk—yang dibalas Gaara dengan sebuah tendangan ke kaki Sasori.
"Hei, jangan kasar-kasar begitu, Panda!" cela Sasori main-main.
Belum sempat Gaara membuka mulutnya untuk mengutuk teman satu departemennya yang memang agak kurang ajar itu dengan beberapa kalimat sadis, seorang gadis bersurai gelap indigo di balik bahu Sasori yang berlari mendekat mencuri fokusnya.
"Se-senpai!! Ugh, a-astaga ke-kenapa tiba-tiba berlari, sih?" protes gadis itu terengah sehabis mengejar Sasori. Ia langsung salah tingkah begitu netra sewarna lavender-nya menangkap sosok kakak tingkat lain yang memasang tampang tak bersahabat disana.
Sasori terkekeh kepada gadis itu, "Sorry, Hyuuga. Melihatnya bersantai-santai jadi ingin menjahilinya sebentar."
Gaara memberinya tatapan membunuh. Tatapan yang tentu saja diabaikan cowok bermata hazel itu karena sejurus kemudian Sasori menarik mereka berdua ke dalam perkenalan yang canggung.
"Oh, hey—omong-omong, kenalkan, ini Sabaku Gaara, satu angkatan denganku." Cowok itu berkata seraya menoleh pada adik tingkatnya. "Dan Gaara, ini Hyuuga Hinata. Dia mahasiswi angkatan tahun ini yang aku bimbing selama masa orientasi."
Sasori melebarkan senyumnya saat gadis bersurai gelap panjang sepunggung itu mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Gaara dengan sedikit getar salah tingkah. "Sa-salam kenal, Sabaku- san."
Gaara menatap gadis Hyuuga itu untuk beberapa saat sebelum tangannya balas terulur kepada gadis yang nampaknya memang pemalu itu.
Jade-nya berusaha mengamati lebih dalam, rambut indigo lebat yang lurus dengan poni yang menutupi seluruh dahi—sedikit menyembunyikan sepasang bola mata beriris lavender yang besar, wajah bersih dan bulat, lengkap dengan pipi yang sedikit berona kemerahan. Hyuuga Hinata dalam ingatan pertamanya tentu tidak akan langsung terlupa oleh benak Gaara.
"Hn. Panggil aku Gaara saja."
Meskipun dengan nada statis, pemuda itu menyelipkan seringai tipis di bibirnya.
Sekilas jade Gaara menangkap hazel Sasori tengah memandangnya penuh arti.
"Here, I bring you a rainbow." Bisik Sasori yang hanya dapat didengar Gaara.
…
/owari/
Disclaimer:
Flipped: Rob Reiner – Warner Bros. Pictures
Me Before You: Thea Sharrock – Warner Bros. Pictures
--
Hehe, ketikan ini lolos gitu aja. Dan gak ada maksud apa-apa selain jadi samsak kekosongan hati di siang bolong yang mendadak muncul. Kuharap ini bisa menghibur buat kalian yang baca. Btw, maaf banget bikin Gaara jadi super OOC di fic ini :') tapi jujur aja, ada bagian diriku yang percaya Gaara itu karakter yang sebenarnya punya sisi sensitif yang mendalam (atau entah memang akunya aja yang pada dasarnya suka showing off Gaara yang lemah dan tida berdaya dibalik ke-stoic-annya mwehehe -digampar-)
.
Oh ya, selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan. Masih semangat, kan? Haha.
