Seeker: We All Gonna Die (But Not Today)
All disclaimer to its rightfull owner.
Naruto x DxD
Adventures
Warning: Typo, AU, OC, OOC, ETC
Dari apa yang pernah Naruto baca dulu sekali. Semua hal klise dimulai dengan bandara. Lebih tepatnya area kedatangan. Suara pesawat yang baru turun, hiruk pikuk orang yang baru turun darinya, dan mereka yang menunggu dengan segenap hati.
Naruto menggerutu, rambut kuningnya terbasahi keringat akibat panas matahari. Konoha tidak pernah baik hati perihal panasnya, tidak berbeda jauh dengan Suna. Beruntung Konoha masih terberkati dengan pepohan yang tebal disana-sini. Tapi itu saja tidak cukup untuk menutupi panas matahari, terlebih dengan udara laut mereka yang kering dan asin.
" sial—" Ucapan Naruto terpotong kedatangan mobil. Pintunya terbuka menunjukkan pria berambut cokelat dengan senyum lebar kepada Naruto. " Oi. Masuklah. Maaf telat, aku ketiduran" Katanya tidak memperdulikan jawaban atau gerutuan dari Naruto.
" Maafkan aku. Oh ya AC-nya rusak jadi bila boleh, demi Tuhan Naruto! berhenti memutar-mutar panel AC" Dia berteriak, membuang wajah kearah luar. Tidak lagi memperdulikan gerutuan Naruto yang makin terdengar. Tetapi dia kembali berbalik kearah Naruto, tersenyum "Selamat datang kembali di Konoha"
Ah Konoha. Tempat kelahiran yang Naruto pikir tidak akan lagi dia injaki. Tidak setelah apa yang terjadi.
Mobil melaju kencang pada pinggiran tebing sekeluar mereka dari areal bandara. Tidak ada waktu yang dibuang oleh temannya untuk berlama-lama disana. Tebing berbatasan dengan laut, warna biru dengan garis-garis putih kilauan cahaya terlihat dikeseluruhannya memantulkan warna langit. Di bawah terdengar suara ombak yang melayu pelan seperti kursi malas, bersama dengan itu, suara desis angin mengenai wajah Naruto.
Naruto menutup matanya, dan untuk sesaat dia merasa tenang. Ketenangan yang telah lama tidak datang kepadanya.
" Jadi—" Ketenangan yang lalu berlalu ketika temannya kembali bersuara. "Aku dengar dari Sasuke. Mengumpulkan anggota lama huh."
" Ya. Dengan apa yang terjadi sekarang, kurasa sebaiknya kita aktif kembali. Kau bisakan, Kiba?"
Kiba diam agak lama. pandangannya terfokus kearah jalan yang berbelok mengikuti alur tebing. " Entahlah. Aku tidak tahu masih bisa seperti dulu atau tidak. Aku sudah tua, kita sudah tua."
" Kita masih dua puluh empat. Aku tidak mengerti maksud dari kata tua yang muncul dari mulutmu."
Kiba mengangkat kedua bahunya. " Maksudku. Entahlah. Aku sudah lama tidak berhadapan dengan 'mereka'. Aku sudah lama tidak berubah."
Ada jeda diantara mereka. Pada pemikiran masing-masing yang perlahan membawa mereka pada masa dulu. Pada saat mereka masih kelas tiga akademi Konoha, saat mereka pertama kali membunuh. Pada saat mereka pertama kali diperkenalkan pada dunia pemburuan di Konoha.
Semuanya masih terasa segar di ingatan. Masih begitu nyata. Rasa terbakar yang dirasakan Naruto, perasaan penuh amarah yang mencuat pada Kiba. Perburuan pertama yang begitu berantakan; darah berhamburan diseluruh taman kota, pohon yang terbakar, bekas cakaran pada tanah, Kiba yang terluka, Sasuke yang duduk gemetar berusaha membakar rokoknya—untuk mereka, semuanya masih terasa kemarin dan kini, tiba-tiba saja sudah enam tahun terlewat.
" Aku yakin kau akan baik-baik saja. Kau adalah anjing—"
" Serigala"
"Ya. Serigala. Serigala terbaik yang aku tahu."
Percakapan keduanya kembali berhenti. Konoha di depan mata, kota yang telah lama Naruto hindari kini ada dihadapannya. Gedung-gedung baru menyembunyikan kemiskinan di bayang mereka, rumah-rumah berwarna pastel dengan atap merah darah mereka, taman besar di tengah kota, balai kota bergaya eropa yang terlihat berbeda diantara yang lain—semuanya terasa asing.
Mungkin, enam tahun adalah waktu yang lama.
Kiba berbelok, menjauh dari keramaian melewati kedai ramen juga bar bergaya Jepang kesukaan Naruto. " Ichiraku tidak berubah, huh" Dia mengangguk pada ucapan Naruto.
" Paman Teuchi akan senang melihatmu" katanya melirik kearah Naruto. " Kita akan berkumpul disana kan?"
Naruto mengangguk. " Seperti dulu." Dan entah kenapa ada perasaan aneh yang menjalar pada dada Naruto, perasaan lega yang tercampur sedih. Perhatiannya lalu tertuju pada sekolah yang tidak pernah dia lihat.
" Itu—Kuoh. Tidak ada berita bagus yang berasal dari sana. Minggu kemarin mereka baru keserupan masal setelah kelas pemanggilan iblis mereka gagal. Hah. Para penyihir disana tidak ada yang benar."
Naruto terkekeh mengingat sekolah mereka sendiri juga pernah menghadapi kasus yang sama saat mereka masih murid. Penyihir baru yang congkak, berlagak besar dan berusaha memanggil sesuatu yang bukan kelas mereka. Tentu saja kegagalan datang dengan senang hati, bersama mereka—iblis kelas atas mengikuti.
" Isinya anak-anak orang kaya. Gremory, Sitri, dan beberapa lainnya. Tahu kasus Konoha terbakar dan donasi dari Gremory? Menurutku itu omong kosong. Aku yakin mereka yang bakar." Naruto mengangkat alis penasaran mendengar penjelasan(gerutuan) Kiba. Dia, Naruto memang pernah mendengar tentang setengah kota Konoha terbakar beberapa tahun kemarin, tapi hanya itu. Yang membuat dia penasaran adalah nama-nama yang baru saja Kiba beritahukan. Nama-nama yang tidak familiar di telinga Naruto.
"—Dan kita sampai." Kata Kiba menyadari Naruto. Mereka berhenti pada sebelah toko buku yang tutup. Di atas pintu terdapat plakat dengan nama ' Toko buku Namikaze'.
Kiba membantu Naruto menuruni barangnya; satu buah kopor berwarna orange. Dia mengelap peluh, seolah-olah kopor Naruto adalah sesuatu yang berat. "Hey, aku ingin membantumu membersihkan tempat ini, tapi ibu sudah menelpon" Dia mengayun-ngayun HP kearah Naruto, perhatiannya lalu teralih penuh saat ponselnya berbunyi. " Ya. Tidak. Aku baru menurunkan Naruto, salam untuknya? Baik. Ah, Hana meniti—"
Suara Kiba menghilang ketika Naruto memasuki toko buku. Bila tua bisa berwujud dan berbunyi, mungkin toko ini akan melakukannya. Debu berterbangan, di atas meja, rak buku, pada lantai—dimana-mana. Mata Naruto menyisiri seluruh ruangan, hatinya terasa sakit, terasa sempit.
Kemudian matanya terpaku pada foto di atas meja. Foto beranggotakan empat orang dengan senyum pada masing-masing wajah; Ayah, ibu, dia, dan Menma. Rahang Naruto mengencang melihatnya, mengutuk ingatan yang datang bersama foto. Ingatan yang membawa rasa sakit, amarah, kesedihan, dan terlebih lagi—penyesalan.
Untuk Naruto ruangan ini—toko ini, adalah memori yang membeku.
Naruto menarik napas, menenangkan dirinya. Dia akan berada lama disini, dan bisa jadi menetap untuk selamanya. Merasa emosional setiap kali melangkah atau melihat apapun yang ada di ruangan tidak akan membantunya sama sekali.
Kiba mengetuk pintu, masuk, dan melambai-lambaikan tangan di depan hidungnya. " Kau butuh sekedar menyapu. Apapun itu, aku tidak bisa membantumu." Dia tertawa, tapi kemudian berhenti saat melihat pandangan Naruto masih pada foto di meja. Kiba menggigit giginya, sesaat hanyut pada masa kelam, tapi kemudian tersenyum lebar dan menepuk pundak Naruto kuat. " Hey. Bila kau mau, aku punya kamar kosong di rumah. Aku yakin ibu tidak akan keberatan bila kau menginap."
Naruto tersenyum mendengarnya, tapi menggeleng menolak. " Tidak, tapi terima kasih."
Keduanya diam, dan perlahan rasa canggung mulai menggantung di udara. Tawa Kiba tiba-tiba juga tidak membantu, dia menggaruk kepala belakangnya. " A-ah. Aku harus segera balik. Kak Hana menyuruhku membeli sesuatu"
Dia mundur perlahan hingga keluar. Tapi kemudian wajahnya kembali muncul dari ujung pintu. " Ibu menitipkan salam tadi. Dan Naruto, selamat datang kembali!"
Naruto mengangguk dan sebelum dia bisa berkata apa-apa, Kiba telah menghilang. Dia tersenyum melihat tingkah temannya. Dia rasa Konoha tidak banyak berubah.
Chapter 1
Sirzech bergerak dalam bayangan, diam dan cepat. Rembulan menutupi dirinya, begitu juga bayang-bayang bangunan. Dirinya berlalu dengan keterburuan semenjak mendengar berita anggotanya ada yang mati. Mati, tentu saja bukan sesuatu yang baru pada lini kerja mereka. Tapi kali ini meresahkan dirinya karena anggotanya yang mati berada tidak jauh dari wilayah lawannya. Satu hal yang tidak dia inginkan saat ini adalah perang yang kembali terjadi setelah dua tahun kemarin berhenti.
Dia berhenti pada rumah yang dikerumuni orang berjubah hitam. Mereka mengangguk melihatnya, memberikan jalan untuk sang kapten.
Ada perasaan tidak enak disekitar. Rumah berwarna putih tampak normal dari luar. Di depan pintu berdiri dua anggotanya mempersilahkan masuk, yang satu membuang muka saat ketika matanya mengarah kedalam.
" Apa-apaan ini" Adalah kata-katanya yang berhasil keluar. Rumah berbau hangus, berbau terbakar, pahit mengisi udara. Dan disana tergeletak mayat hitam yang tubuhnya mengeras seperti arang, menyala seperti bara api.
Tapi apa yang membuat Sirzech marah bukan itu, tapi apa yang tengah dipeluk sang mayat. Tubuh bayi dan sang ibu dengan kondisi yang sama. Dia tahu mereka—ayah mereka adalah anggota dari keluarga kejahatan Gremory, beberapa bulan lalu bayi itu masih memegang tangan Sirzech saat dibawa oleh sang ayah pada ulang tahun Rias.
Dan kini, kini tersisakan menjadi sesuatu yang bahkan tidak pantas disebut sebagai mayat.
Darahnya mendidih, siapapun yang melakukan ini akan dia temukan, dan orang itu kan dia buat untuk memohon mati. Sirzech memanggil salah satu anak buahnya, membisikkan sesuatu dan segera berlalu pergi.
Malam ini, seseorang akan membayar semua ini.
Naruto tertawa. Pemantik perak antiknya berbunyi saat dia tutup. Dilihatnya Kiba tertidur pada muntahan sendiri dan itu kembali membuat dia tertawa sebelum memindahkan posisi Kiba. Di depannya Sasuke melamun, diam seperti biasanya meratapi malam. Kontur wajahnya seperti merindukan bulan, seperti ingin memanjatkan puisi syahdu.
Ketiganya—keduanya melanjutkan percakapan mereka yang tadi terhenti karena gebukan pada meja. Dan seperti dahulu, lebih seperti Naruto berbicara pada diri sendiri karena Sasuke yang hanya mengangguk dalam diam dan sesekali terdengar bunyi 'hn' dan 'hm'.
Tapi kemudian, sesuatu yang mengejutkan Naruto terjadi. Sasuke, berkata dan kali ini panjang, " Jadi. Kau ingin kita kembali. Memburu makhluk supernatural kembali seperti saat—itu?"
Naruto terhenyak, terdiam beberapa detik, dan lalu mengangguk dengan cepat. " Ya".
" Supernatural. Sepertiku" Jari Sasuke menunjuk kearah Kiba, " sepertinya", dan lalu menunjuk kearah Naruto, " Sepertimu?"
Naruto kembali mengangguk. Kali ini dengan senyum lebar. " Ya. Persis seperti dulu".
" Seperti saat kita hampir mati?"
" Pfft. Itu dulu. Aku sudah kuat, kau sudah kuat, dan aku yakin Kiba—Kiba adalah Kiba, dia pasti kuat. Dia dan darah terkutuknya."
Sasuke memegang kepalanya. Mengambil sebatang rokok dan sebelum dia bisa membakarnya rokok tersebut terbakar, dia memutar matanya. Tahu akan kemampuan Naruto. " Kau dan kemampuanmu. Aku yakin satu-satunya yang berkembang darimu beberapa tahun ini adalah ego milikmu".
Naruto tertawa, menepuk-nepuk pundak Sasuke " Dan kau makin mahir berbicara!"
Pria berambut kuning itu mengeluarkan surat yang segera dia berikan kepada Sasuke. Simbol negara membuat kedua alisnya terangkat penasaran. Dia membaca dengan pelan dan detil, membiarkan Naruto kembali bermain-main dengan pemantik miliknya.
" Tunggu. Aku kira peraturan ini belum disetujui oleh pemerintah." Ucapan Sasuke dihadiahi seringai dari Naruto.
" Kita, dan beberapa orang lainnya adalah penguji coba. Disetujui tidaknya peraturan ini adalah dari keberhasilan kita."
" Melegalkan pemburu adalah satu dari sekian banyak hal bodoh. Tentunya kau tahu ini".
" Tentu saja. Kita akan diawasi ketat—setidaknya begitu kata surat, walaupun aku yakin tidak seperti itu. Mereka akan lebih—santai? Bagaimanapun juga. Pemerintah sudah lelah dengan pemburu illegal dan supernatural yang berada di luar kendali mereka".
" Menjadi legal setelah bertahun-tahun diburu?" Sasuke kembali diam. Gelas berisikan alkohol dia putar dengan pelan, dan dengan sekali tegukan dia menghabiskan semuanya. " Kenapa tidak".
Naruto tersenyum dan bergegas kearah luar. Dia berhenti tepat di depan pintu dan berujar, " Bangunkan Kiba. Kita akan berburu malam ini".
Mata Sasuke merah darah, berpijar pada malam yang gelap. Sebuah tanda bahwa dia adalah keturunan langsung dari klan vampir yang ada di Konoha, salah satu klan terbesar yang pernah ada. Setidaknya terbesar, sebelum Danzo dan grupnya membantai mereka membabi buta ditengah malam.
Dia menarik napas, menyelaraskannya dengan mana yang ada disekitar. Melirik kearah Kiba yang sempoyongan, bersandar pada pohon dan sesekali menutup matanya lama.
Naruto tidak jauh dengannya, perhatiannya terfokus pada rumah di depan. Tangannya bermain-main dengan pemantik, sesuatu yang menjadi kebiasaannya semenjak mendapati kekuatan. Karena tidak seperti kedua temannya, dia tidak memiliki talenta mengontrol mana untuk menjadikannya suatu kekuatan.
Mana sendiri adalah kekuatan yang unik, ada semenjak dahulu. Berakar pada bumi seperti pohon, itu kenapa ada jalur-jalur mana yang lebih kuat dari normalnya. Akademi-akademi yang ada bahkan dibangun mengikutinya, orang kaya bahkan ada yang rela membayar ratusan milyar hanya untuk mendirikan rumah pada jalur-jalur tersebut.
Pada normalnya, orang dua jenis orang yang mengontrol mana; mereka yang menyimpannya pada badan mereka dan mereka yang mengontrol mana disekitar mereka. Naruto berada diantara keduanya, dia memiliki jumlah mana yang besar pada dirinya, tapi karena itu dia kesulitan mengontrolnya—hampir tidak bisa malah, tapi dengan bantuan seperti pemantik apinya. Dia bisa mengendalikan mana hingga tahap tertentu.
Seorang pria keluar dari rumah. Berdiri para beranda dan membakar rokok, badannya bersandar pada salah satu kolum dengan santai. Naruto melihat kearah Sasuke dan temannya mengangguki, apa yang Sasuke lihat dengan mata terkutuknya lebih baik dari mata Naruto. Pria yang tengah merokok adalah target mereka.
" seorang vampir yang baru kabur setelah membunuh dari Suna—"gumam Kiba diantara kesadarannya yang mulai menghilang. Pisau ditangan dia pegang, dan dia mengutuk dirinya membawa pisau dapur melawan vampir. " dasar bodoh".
Dengan satu jentikan pada pemantik api Naruto, sebuah kubah dari mana tercipta. Sosok itu menyadarinya, panik dan berusaha untuk kabur. Tapi sia-sia saat menyadari kubah telah tercipta dengan sempurna, tidak ada yang bisa keluar dan tidak ada yang bisa masuk hingga pembuatnya dibunuh.
Mata vampir tersebut meliar kemana-mana, mencari Naruto. Dia berteriak, meraum dengan mata merah darah yang hampir seperti Sasuke.
Sasuke yang pertama keluar, di tangannya memegang pedangnya Kusanagi. Diikuti oleh Kiba yang keluar menggaruk kepala. Kedua teman saling bertatapan dan Kiba mengeluarkan tawa canggung saat mata Sasuke melirik pisau yang dia pegang.
"Kalian—" Ucapan sang vampir terpotong saat tubuhnya terlempar akibat ledakan.
Sasuke menerjang dengan cepat, meninggalkan jejak merah. Suara besi terdengar bertubrukan, mata merah saling lihat, Kusanagi bersanding dengan kuku sang vampir yang kini memanjang dan berwarna hitam.
" Aku akan membunuh kalian. Kau. Dia. Dan pengguna mana sialan itu!" Dia mendorong Sasuke, melemparnya hingga kembali berada dekat Kiba.
Kiba melihat Sasuke, " Jangan bilang kau belum makan" Sasuke mengangguk, " Kau bodoh".
Gantian sang vampir menerjang Kiba, yang dengan refleks cepat Kiba hadang menggunakan pisaunya. Mendapati benturan yang kuat pisau Kiba patah, terhempas kemana-mana bersama pemiliknya yang lalu mendarat tidak jauh dari tanah.
Sasuke mendengus. " Bodoh".
Kusanagi terayun. Memutar pada udara dan menuju sang vampir dengan kecepatan tinggi. Mana menyala biru, membungkusi bawah sepatu Sasuke. Membuatnya lebih cepat. Matanya membaca gerakan lawan, kekuatan bawaan dari darah vampir Uchiha miliknya.
Untuk vampir sekelas Sasuke ini adalah pertarungan mudah, tapi, oh betapa salahnya dia hanya mengisi perut dengan alkohol. Gerakannya lebih lambat dari biasanya, perutnya bergetar, dan tubuhnya terasa kosong.
Kiba datang menghujam dari sebelah. Memukul lawannya telak pada pipi, dan mundur menghindar sebelum terkena tebasan kuku lawannya.
Vampir buruan mereka mendecih, wajahnya mulai menunjukkan kelelahan. Gerakannya membabi liar, dengan setiap ayunan yang bisa membunuh manusia biasa. Sayangnya, lawan yang dia hadapi bukan manusia biasa.
" aku—" dagunya terkena pukulan Kiba dan dia terlempar akibat dari tendangan Sasuke. Dia meringis saat bangun, menyapu darah yang keluar dari hidung. " aku akan membunuh—" ucapannya kembali terpotong saat lagi-lagi wajahnya meledak.
" Aku akan membunuh kalian!"
Suaranya mendorong Kiba dan Sasuke. Keduanya saling pandang dan mengangguk paham. Bukan pertama kalinya mereka memburu vampir seperti ini. Mereka kembali menerjang.
Sang vampir berubah merah. Uratnya membesar, matanya berubah hitam, dan dia merasakan kekuatan luar biasa. Tubuhnya bergetar akibat kekuatan dari darahnya, kekuatan untuk menjadi prajurit terkuat.
Serangan keduanya ditepis, Kusanagi terlempar jauh, dan Kiba terlempar dengan satu pukulan telak yang tidak bisa dia lihat arah datangnya. Sasuke menendang udara saat lawannya menghilang dan kembali muncul disamping, memukulnya di perut.
Alkohol keluar dari mulut Sasuke dan itu mendatangkan tawa Kiba. Temannya kembali menerjang. Pukulan Kiba mengenai pada pipi, tapi tidak berefek apa-apa pada lawannya. Dan saat dia dipukul, dia kembali terlempar.
" Apa kau tidak kelelahan terlempar?" Naruto muncul dari bayang pohon. Tangannya memegang pemantik, dan tangan satunya mengeluarkan darah yang menetes pada tanah.
Kiba menggerutu bangun dan kembali terlempar saat Sasuke mendarat padanya.
" Kau! Kau penyihir sialan. Aku akan—" Wajahnya kembali meledak. " Kau sialan!"
Serangan vampir itu berhenti beberapa senti dari wajah Naruto. Senyum pria berambut kuning itu merekah saat melihat tubuh sang vampir kaku mematung. Mata hitam itu melihat liar dengan mulut yang berbusa.
Dari tanah muncul rantai hitam yang mengikatnya dan dari belakang Sasuke menusuknya dengan Kusanagi. Ada tarikan napas kasar yang terdengar, suara kelelahan, dan cacian Kiba.
" Atas kekuatan yang diberikan kepadaku. Kau dihukum, mati" Naruto menutup pemantiknya dan sang vampir mulai terbakar dengan cepat. Sesaat setelah asap menghilang diantara mereka, yang tersisa dari vampir barusan hanyalah abu.
Kiba terjatuh, duduk pada tanah dengan napas yang tersenggal-senggal. " Kau tahu—mungkin—mungkin lain kali—keluar lebih cepat" paru-parunya terasa terbakar, membuatnya kesulitan untuk berbicara.
Naruto tertawa. " Oh ayolah. Kau tahu pahlawan selalu datang terlambat kan?"
Kiba menggerutu, kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Pandangannya beralih dari Naruto yang duduk melamun kearah luar ke Sasuke yang duduk di pojok ruangan membaca buku dengan syahdu. Perhatiannya lalu kepada Akamaru, anjingnya yang sengaja dia bawa hari ini.
Toko buku jauh lebih rapi dari beberapa hari yang lalu. Jauh lebih rapi dan bersih. Lemari-lemari berisi buku dan benda-benda aneh kini tanpa debu, peta Konoha yang tertempel pada samping lemari juga tampak berkilau.
" Cukup. Aku bosan. Tidak seperti kutu buku, aku tidak suka membaca. Kau ingin titip sesuatu?" Sasuke tidak menggubris, dan perhatian Kiba ke Naruto yang kini tampak berpikir.
" Belikan aku ramen".
Kiba mendengus pergi, " Dasar penggila ramen".
" Aku yakin toko—" Suara bel dari pintu "—tutup" Gadis itu berdiri mematung. Tangannya tergapai pada pintu, dan perhatiannya pada Naruto. Keduanya bertatapan lama, sama-sama mematung. Hingga akhirnya tersadar saat Sasuke terbatuk akibat gula batu yang dia telan tersendat pada tenggorokan.
Raut wajah gadis itu berubah menjadi senyum, " Naruto"
" Ino"
Keduanya kembali terdiam. Lebih lama.
Ingatan dahulu kembali datang. senyum dibawah sinar matahari, berlari pada pantai, sepeda, musim panas. Naruto tersenyum menjulurkan tangan terlebih dahulu.
Jabat tangannya disambut tamparan dari Ino. Senyumnya berubah raut sedih secepat roller coaster. Sasuke terbatuk, tidak lama menghilang ke ruang sebelah. Meninggalkan keduanya, dan suara tamparan yang masih terngiang.
" Enam tahun. Enam tahun kau pergi tanpa kabar. Menghilang begitu saja, meninggalk—"
Kiba datang, "—Naruto. aku lupa—sial. Maaf. Lanjutkan obrolan kalian. Akamaru, ayo anak pintar. Ada ramen yang harus dibeli".
TBC
A/N: Aku yakin ada banyak typo, tapi mau bagaimana lagi. Cerita ini datang ditengah lagi menulis chapter 2 yang kandas di 2K kurasa. Terlebih setelah membaca karya kak CoffeeCulture yang seru, tapi hanya ada dua chapter saja T_T. Idenya sama, datang dari Sepertimu, akupun sama, supernatural dan kriminal, tapi ditambahi bumbu-bumbu tidak penting yang aku yakin akan membuat ku kesulitan menulis chapter depannya.
Akan ada pair tentu saja. Apalah cerita petualangan tanpa ada pair, begitu juga untuk cerita yang satunya lagi. Yang sebentar lagi akan selesai, mungkin. Bila cerita yang ini atau yang kedepan dirasa berantakan, hanya ada satu pihak yang bisa disalahkan-Pihak kampus yang memberi UAS!
Tapi bagaimanapun juga, seperti kata kak Iga Massardi disalah satu konsernya; daripada saya mulai melantur-
Terima kasih telah membaca. Bila ada pertanyaan, silahkan.
