Postcard

Lluvia Pluviophile

Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Warning:

Segala macam kekurangan ada disini, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan

.

.

KaruMana foevah!

.

I've warned you, 'kay?

Enjoy the story

\(^o^)/

.

.

.

"Terimakasihku untukmu, dari seribu kilometer jarak kita terpisah"

(…)


Karma menerimanya pagi ini, paket barang berbungkus kertas payung dari tanah kelahirannya. Bibirnya menarik senyum simpul, sudah pasti dia tahu siapakah nona yang bertanggung jawab atas paket ini.

Ia melangkahkan kaki jenjangnya menjauh dari pintu depan sebelum mendudukkan dirinya pada sofa hangat di ruang televisi. Menyandarkan punggungnya tanpa menolehkan atensi pada salju-salju putih yang mengetuk pintu kaca apartemenya. Fokusnya tertuju pada bingkisan itu, sebuah kotak kardus kecil yang belum ia buka sampulnya.

Lama sekali ia terdiam. Menerka-nerka kejutan apa yang gadis mungil itu hadiahkan kepadanya. Dari beratnya mungkin ini sesuatu seperti keramik? Tapi dari suaranya seperti bungkusan permen coklat yang biasa ia dapatkan pada saat Haloween.

Karma menyerah dan mulai merobeki ujung kertas payung itu hati-hati.

'Terimakasihku untukmu, untuk sekian tahun yang telah kita jalani.' Sebait kata itu menyambutnya pada selembar kartus pos yang pertamakali ia temukan dalam paket itu.


Sampaikan harapanmu kepada langit, semoga Tuhan menjawab setiap doamu itu. Selamat Natal.

-Dari seribu kilometer jarak kita terpisah-


Karma tak bisa untuk tidak tersenyum, doa tulus gadis itu seolah-olah terucap langsung darinya. Segera saja ia hubungi nomor yang terlanjur ia hafal diluar kepala, tanpa berfikir panjang. Menanti dering telfon itu berganti suara manis yang ia rindukan.

"Moshi-moshi Karma-kun," jantung Karma menghangat seketika.

"Ada apa?" lanjutnya dengan suara yang mempu menenangkan iblis merah semacam Karma.

"Yakin ucapannya Cuma itu aja?."ucapnya yang disambut suara tawa dari ujung telepon.

"Yakin lah,"

"Ah, beneran?"

"Iya, benar kok."

"Yaudah aku ngambek kalo gitu," Ujar Karma berlagak kecewa sementara Manami mendengus geli.

"Yaudah ngambek aja kalau gitu,"

"Manami jahaat." Oh tidak Karma mulai kubuat out of character lagi.

"Memang."

"Tapi aku kok tetep suka ya?" Tak ada sahutan yang karma dapatkan selain sepotong tawa yang gadis itu lagukan kepadanya. Pasti Manami makin cantik kalau tertawa begini, apalagi saat ia melamarnya nanti. Entah apa yang membuat lelaki itu bisa seyakin ini.

Ia melihat toples kaca kecil dalam genggamamnnya. Mirip seperti toples selai strawberry yang biasa ia beli di mini market dekat apartemennya.

"Kau membuatnya sendiri?" tanyanya, ornament timbul di permukaan kaca itu begitu menarik dimata Karma.

"Hiasan itu? Iya … aku iseng ingin mencoba DIY di suatu situs, u-uhm jelekkah?" jawab gadisnya takut-takut. Karma berusaha menjeda kalimatnya selama mungkin

"Terlihat amatir, jelek sekali. Hey, tidak ada strawberry berwarna merah jambu apalagi ungu." sengitnya kemudian.

"Be-begitu?" suaranya terdengar seperti akan menangis. "Ka-kalau begitu Karma-kun bisa membuang-"

"Tapi aku suka." lagi, ia sergap Manami dengan gombalan recehnya.

"Nami, pemberian apapun … seremeh suplemen bungkusan yang dikemas botol bekas berhias-" ia sedikit mendengus geli melihat isi dalam botol kaca itu "-jika itu tulus, siapa yang tega untuk menolaknya."

"Jadi kenapa harus suplemen dan vitamin hm? Apa filosofinya kali ini?" ucap lelaki itu lembut.

"Uhm, sebenarnya aku bingung mau ngasih kado apa tahun ini …" Karma dengan sabar mendengarkan suara lucu gadisnya. Ahh, gadis yang sudah tiga tahun ini tidak dia jumpai karena jarak yang membentang diantara mereka.

"… tapi karena Karma terus-terusan mengeluh kecapaian, mungkin suplemen larut itu cukuplah untuk sedikit meringankannya."

"Kau juga membuatnya sendiri?" selidiknya.

"Huum, Takebayashi-kun ikut membantuku."

"Yakin, ini aman buatku?"

"A-aku yakin kok,"

"Aku bukan kelinci percobaannya kan?"

"M-mou mana mungkin aku tega melakukan itu …" ucap manami semakin mengecil "-kubilang kan lebih baik Karma-kun makan buah." sambungnya tiba-tiba.

"Aku nggak suka buah." Kukuh lelaki itu, menggembungkan pipinya.

"Tapi Karma-kun …"

"Aku sukanya kamu." tegasnya lagi. Dan lagi-lagi gadis itu memerah diujung telepon.

"M-mou Karma-kun … "

Karma tertawa, pun juga gadis bernama Manami itu. Meski jarak mencegah mereka untuk berjumpa, hati tidak bisa untuk dipaksa menyerah. Untuk mereka, begini saja cukup. Mereka yakin suatu saat pasti ada waktu untuk saling bertemu, dan akhirnya bersatu.

.

.

.

"Arigatou … Manami,"

Selembar kartu pos itu tergeletak diatas meja. Gedung kayu yang tertutup guguran bunga sakura terpotret dengan apik di dalamnya. Di sanalah tempat pertama kali takdir mengikat simpul diantara mereka. Semoga ketulusan mereka untuk saling menggapai dan merengkuh hati masing-masing dapat berakhir bersama.

=o=)~ Owari ~(=o=


Hahah Karma receh banget ya disini -,-

Well hanya drabble kecil hasil melipir dari dunia nyata, semoga ada yang suka ahaha

P.S enakan lagi kalo bacanya sambil denger lagunya Aqua Timez_Ehagaki no Haru ahahaha

Karmanami Banzai