Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

The Love

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

The Love by Authors03

Please ... dont like, dont read ... thanks.

.

.

One piw piw

Aku … tidak pernah berhenti mengidamkan cinta karena aku merasa tidak ada hal yang lebih indah dari hal itu, tapi seorang lelaki yang telah menjalin hubungan denganku selama tiga tahun lamanya baru saja melayangkan tamparan sangat keras tepat di pipiku. Di depan teman-teman, dalam restoran ruang VIP di mana kami berkumpul untuk acara reuni.

Rasa sakit yang menjalar sampai ke dalam hati membuat aku membisu sampai tidak sanggup bergerak. Wajah tertunduk, tidak berani mata menatap. Selain harus menahan rasa sakit, aku pun malu diperlakukan seperti ini di depan mereka semua. Ini adalah pertemuan resmi kami setelah beberapa tahun, tapi mereka semua harus mematung, menjadikan kami tontonan.

Tidak semua karena salah seorang lelaki bersurai perak dari sana baru saja bangkit dengan mengebrek meja. Dia berdiri di depanku layaknya perisai dan kemudian melayangkan tinjuan keras di pipi lelaki yang akan segera menjadi mantan pacar.

Pacarku bernama Gaara, tinjuan luar biasa kuat itu dengan mudah menjatuhkannya ke lantai keramik putih.

"Kau kira apa yang kau lakukan, brengsek!" Dia memekik dan meraih kerah kemeja Gaara. Bukannya aku tidak ingin memisahkan sebelum pertengkaran melebar, tapi Gaara pantas mendapatkan itu dan aku terlalu malu untuk mau mengangkat wajah.

Aku menyentuh pipi yang serasa panas dan berlari meninggalkan ruangan, melewati pintu kaca.

"Hinata!" Aku dengar seseorang memanggil namaku, tapi aku abaikan. Aku tidak ada nyali untuk menatap mereka semua.

Aku ingin pulang. Berlari menggunakan heel 5cm menyusuri tangga, sial malah terpleset. Beruntung aku tidak jatuh menggelindingi tangga yang masih tersisa setengah, tapi tasku terjatuh. Menggelinding menyebabkan tutupnya terbuka dan semua isi berjejeran keluar.

"Sial …," umpatku. Aku bergegas bangkit untuk turun, memunggut apa saja yang jatuh berserak di mana-mana.

Ponselku menjadi yang paling jauh meleset, di ujung tangga. Aku bergegas menunduk untuk memunggut, tapi sepatu hitam menginjak benda pipih itu. Aku tidak bisa mengambilnya, terpaksa mendongak untuk menatap sang empu.

Ini adalah kesialan kedua, karena lelaki bersurai kuning itu adalah salah satu yang aku hindari.

"Kau kabur?" Dia meyunggingkan senyuman yang terlihat sangat menyebalkan, aku tidak paham mengapa dia berkata begitu. Aku memang kabur, tapi dia tidak ada di dalam ruangan untuk tahu apa yang terjadi.

"Apa maksudmu?" tanyaku tanpa mempertemukan kontak mata. Aku sibuk menarik ponsel yang masih diinjak. Aku mendorong agar dia mau mengangkat kaki dan aku berhasil.

Uzumaki Naruto, namanya. Kami adalah musuh bebuyutan selama masa sekolah, dari sekolah dasar sampai tamat. Tidak akan aku jelaskan betapa aku membenci mahkluk pemilik mata biru indah itu.

"Aku mendengarnya." Dia berkata dengan telunjuk yang mengetuk AirPods yang melekat di lubang telinga.

Sebelumnya, lelaki itu keluar dari ruangan dengan berkata akan ke toilet. Sepertinya dia dengan sengaja meniggalkan ponsel di atas meja karena tidak mau melewatkan pembicaraan yang berlangsung.

Dia pasti merasa bahagia karena malah mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar gossip. Aku terlalu sibuk melamun, disadarkan oleh dia yang bergerak mendekat. Kontak mata tanpa sengaja bertemu dan aku tidak mampu memalingkan wajah. Dia tampan …, sangat tampan dan hal itu tidak pernah berubah dari awal pertemuan kami di sekolah dasar.

Lelaki itu sangat tinggi sampai aku harus mendongak agar kontak mata tetap terjaga. Dia melepas salah satu AirPods di telinga dan memasangkannya ke telingaku. Sentuhannya … tubuhku bagai terkena sentruman listrik.

Entah apa yang coba dia tunjukkan, tapi aku mendengar pertengkaran yang masih berlangsung. Suara kursi bergeser dan tabrakan. Apakah mereka masih beradu kekuatan? Aku ingin tahu, tapi di satu sisi juga tidak ingin.

Aku mendorong Naruto dan berlari pergi meninggalkan restoran.

Itu adalah pertemuan pertama kami setelah tiga tahun lulus dan hari ini adalah pertemuan ke lima kalinya dalam dua tahun. Tahun lalu, aku pasti sudah menikah jika saja pacarku tidak tiba-tiba hilang kendali dan menamparku tanpa alasan yang jelas.

Kali ini, aku terduduk sendirian di pinggir kolam. Pesta ulang tahun salah satu teman kaya kami, dia mengadakan acara di halaman belakang rumah. Dihias simpel, tapi elegan. Berbagai cemilan dan minuman mengisi pinggiran kolam yang lain.

Sangat ramai di sini, ada yang sibuk berbicara dan berenang. Ada pula yang sibuk menikmati cemilan dan aku hanya menonton dengan memainkan kaki di dalam air. Aku tampak kesepian, tapi percayalah aku bahagia menyaksikan begitu banyak senyuman di tempat ini.

Seseorang menghampiri dan duduk bersamaku, reflek aku menoleh.

"Toneri," panggilku lengkap dengan senyuman. Dia adalah pria yang bertengkar dengan Gaara hanya untuk membelaku. Aku merasa hubungan kami cukup baik semenjak hari itu.

"Aku masih marah setiap kali aku mengingat hari itu." Aku terkejut tanpa sempat mengeluarkan sepatah kata karena telapak tangan yang begitu dingin menyentuh pipiku, aku juga tidak pernah melupakan hari menyakitkan itu.

Aku dan Toneri … tidak memiliki hubungan apa pun, tapi dia sepertinya menaruh rasa. Aku tidak tahu, hanya aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat segala sesuatu yang tertulis jelas di dua bola mata putihnya.

"Hinata." Dia memanggilku, menyadarkan aku dari lamuan. Entah apa yang mau dia katakan dengan ekpresi seserius itu, tanpa sadar aku malah menyentuh tangannya yang masih memegang pipiku.

Aku sama sekali tidak punya tebakan soal mengapa dia tersenyum, tapi segala sesuatu tidak berjalan begitu lancar. Toneri terpental, langsung jatuh ke dalam kolam yang dipenuhi oleh air.

Mataku terbelalak, bergegas menoleh untuk menatap sang pelaku yang masih memamerkan jejang kaki yang ditutup oleh celana panjang. Lelaki itu menampilkan smirk sebelum mengambil duduk di sampingku, tempat Toneri barusan.

Dia mengulurkan tangan dan aku reflek menatap. Dia berkata, "Kau belum mengembalikan AirPods-ku."

Sial, aku telah menghilangkan benda itu dua menit setelah keluar dari restoran dan dia tidak pernah berhenti meminta sedari dua tahun lalu. Aku sudah mengungkap bahwa aku menghilangkannya, tapi dia tidak mau tahu. Aku menawarkan ganti, dia juga menolak. Dia menginginkan benda itu apa pun alasannya dan itu adalah alasan mengapa kami tidak berhenti cekcok selama dua tahun terakhir.

Aku tidak punya dalih untuk dikeluarkan lagi, jadi memutuskan untuk berdiri dan kabur pastinya. Dia menarik tanganku sebelum aku sempat mengangkat bokong.

"Bagaimana cara kau bisa menggantiku?" Dia berkata sangat ambigu. Beruntung aku tidak harus menjawab karena Toneri yang merasa terganggu mencipratkan air padanya, sukses menyita perhatian.

"Naruto, apa kau menyukai Hinata?" Pertanyaan tiba-tiba itu menyentak aku bukan main. Maksudku, mengapa dia tiba-tiba bertanya begitu?

Naruto tidak menjawab, jadi Toneri melanjutkan, "Jika tidak, berhenti menganggunya karena aku menyukai dia!" Toneri sangat tegas berkata, raut wajahnya pun tidak bisa diragukan.

Namun, Naruto dengan santai menanggapi, "Hinata akan menjadi pacarku."

Apa yang bisa lebih mengejutkan selain ungkapan Toneri yang sudah aku tahu? Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Naruto akan mengatakan hal seperti itu, maksudku apa diam-diam dia menyukaiku? Sungguh? Sejak kapan dan bagaimana bisa, aku terpaku memikirkan semua itu, menuntut jawaban dari otak yang jelas saja tidak tahu menahu.

"Hinata." Mereka berdua kompak menatapku setelah sedari tadi saling beradu tatapan. Mataku hanya dua dan tidaklah juling, membuat aku harus terus menoleh agar bisa menatap mereka secara bergantian.

Naruto mengulurkan tangannya ke arahku. Dia bertanya, "Kau menyukaiku-" Dia menatap Toneri sebelum melanjutkan, "-atau dia?"

TO BE CONTINUE

"Aku …" Serangan ini terlalu tiba-tiba menyebabkan kepalaku serasa pusing. Aku tahu Toneri menyukaiku dan aku merasa nyaman dengan segala sikap baiknya, tapi hati ini tidak berdetak untuknya.

"Aku …" Aku sama sekali tidak menyangka soal Naruto. Tapi hanya karena sikap mendadaknya, hati ini malah bergetar aneh. Namun, aku meragukan dia karena seperti kataku, kami adalah musuh bebuyutan yang tidak pernah berhenti saling membenci sepanjang masa sekolah kami.

"Aku … tidak tahu."

.

.

.

Ehe gantung gak? Siapa yang akan Hinata pilih? Guys, karena ffn yang satunya tidak update—hari ini hari libur—uhuk, jadi author persembahkan one shot. Semoga bisa mengisi waktu luang, tinggalkan sedikit komentar karena itu sangat menyemangati. Bye bye