Selamat membaca.
Chapter 2: Tenryuubito
Keesokan hari di pagi harinya, Morrigan terlihat masih menancabkan jangkarnya di dermaga Havana. Udara berangsur menghangat bersamaan dengan matahari yang makin meninggi. Di captain's cabin, Sasuke terlihat baru bangun dari tidur lelapnya. Ia melihat ke sisi lain dan tak menemukan Naruto di kasurnya. Setelah meregangkan tubuh sebentar, ia pergi keluar untuk menghirup udara segar.
Di dek kapal, Naruto terlihat menikmati suasana pagi ini dengan sebatang cerutu di mulutnya. Ia menghisap cerutu itu dengan nikmat sambil sesekali menyeruput sebotol rum. Kegiatan sakral itu terhenti sebentar saat matanya menangkap sosok Sasuke yang baru saja keluar dari captain's cabin.
"Ohayou," sapa Naruto sambil menyodorkan botol rum pada Sasuke. Pria berambut raven itu membalas sapaan Naruto kemudian menolak rum tersebut. "Aku bukan peminum," katanya singkat kemudian pergi ke dek bawah untuk membersihkan diri.
Naruto hanya mengangkat bahu dan melanjutkan kegiatan sakralnya hingga cerutu itu habis bersamaan dengan Sasuke yang sudah selesai ini mereka berdua hanya memakai kaos lengan panjang berwarna putih yang memiliki kerah berenda dan bawahannya adalah celana melempar putung cerutu itu ke laut dan meneguk habis rum yang tersisa.
"Kau sudah sarapan?" tanya Naruto yang melihat Sasuke sudah berada di sampingnya. Saat ini mereka sedang berdiri di pinggiran kapal sambil memandang dermaga yang mulai sibuk.
"Belum," jawab Sasuke.
"Kau bisa memasak?" Naruto bertanya lagi.
"Tidak."
"Hmm, kau tidak bisa diandalkan." Naruto bergumam dengan nada yang kecil.
Sasuke melirik lawan bicaranya. "Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa. Ayok ke dapur, aku akan membuatkan sarapan. Yah meski aku hanya bisa membuat makanan sederhana." Mereka lalu pergi ke dapur.
Morrigan memiliki dapur yang cukup lengkap. Dapur ini berukuran sederhana, tidak besar juga tidak kecil. Di sini terdapat meja yang hanya muat untuk enam orang saja. Naruto menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sedangkan Sasuke duduk tenang di salah satu kursi meja makan. Asap yang dihasilkan dari memasak terlihat keluar melalui lubang-lubang berukuran sedang di permukaan dinding. Itu adalah sistem pembuangan asap.
Tak lama kemudian Naruto membawa dua piring yang sudah berisikan nasi goreng dengan toping seafood di dalamnya. Mereka berdua kemudian sarapan dengan tenang. Setelah selesai, Sasuke yang bertugas membersihkan piring dan peralatan memasak.
Tidak ada kegiatan hari ini membuat dua orang pria itu cukup kebosanan. Semenjak pagi hingga menjelang siang mereka hanya duduk di tepi kapal sambil memancing beberapa ikan untuk makan malam. Sasuke yang sudah bosan memutuskan untuk pergi ke pusat kota sambil mencari informasi lebih lanjut tentang Tenryuubito yang akan berlabuh di sini. Sementara Naruto kembali ke ruangannya dan terlihat mengerjakan sesuatu.
Saat ini, Naruto sedang menulis laporan persediaan logistik dan keuangan kapal. Ia juga memiliki jurnal sendiri yang ditulisnya setiap hari. Mirip diary. Di meja Naruto memang terdapat alat tulis yang lengkap serta tumpukan buku. Itu adalah buku manual tentang lautan dan navigasi.
Sejujurnya Naruto kurang mahir dalam hal navigasi kapal, ia hanya menguasai dasarnya saja seperti arah mata angin. Jika ia ingin pergi ke Grand Line Naruto harus menguasai ilmu navigasi atau mencari navigator yang handal. Sepertinya lebih mudah mencari navigator, pikirnya.
Naruto memeriksa laporannya. Pasokan logistik yang bisa bertahan sampai satu bulan ke depan, persenjataan yang bisa bertahan setidaknya selama tiga pertempuran laut, dan uang senilai 1 juta berry.
"Yosh!" ucap Naruto yang selesai menulis laporan hariannya.
Di tempat Sasuke, saat ini ia sedang berdiri di puncak bangunan tertinggi sambil menghadap ke dermaga utara. Informasi tentang kehadiran Tenryuubito tidak akurat, jadi ia akan mengawasi dermaga utara hingga Tenryuubito itu sampai.
Ada beberapa hal yang menarik perhatiannya selama mengawasi dermaga ini. Pertama, aktivitas angkatan laut terlihat semakin intens di sekitar dermaga, seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Kedua, orang-orang politik mulai memenuhi dermaga ini. Sasuke bukan orang yang bodoh, ia bisa menebak jika jadwal kedatangan Tenryuubito adalah sekarang. Dengan Rinnegannya yang membuat jangkauan pandangannya semakin luas, samar-samar Sasuke melihat beberapa siluet kapal di ujung lautan sana.
"Aku harus segera melaporkan hal ini pada Naruto." Laki-laki itu kemudian pergi menuju kapal Morrigan dengan melompat dari atap rumah ke rumah lainnya.
Tak perlu waktu lama baginya untuk sampai ke dermaga selatan–karena memang pulau ini tak terlalu besar. Sasuke lalu mencari keberadaan Naruto di captain's cabin dan melihat kaptennya itu sedang membereskan beberapa buku.
"Kau sudah kembali," ucap Naruto.
"Ada informasi penting. Tenryuubito akan datang tidak lama lagi. Angkatan laut juga sudah bersiap menyambut kedatangannya," ucap Sasuke.
Naruto menyipitkan mata serius. "Kalau begitu ayo kita ke sana."
Dermaga utara saat ini menjadi sorotan hampir semua penghuni pulau. Bagaimana tidak, informasi kedatangan Tenryuubito saja sudah membuat seisi pulau heboh dan sekarang melihat betapa besar dan megahnya kapal milik bangsawan dunia itu membuat siapa saja tertegun.
Naruto dan Sasuke mengawasi dari gang sempit sambil memakai jubah bertudung. Tenryuubito itu mulai menampakkan dirinya di dek kapal dengan dikawal oleh dua orang yang memakai setelah jas putih dan topeng. Mereka berdua yang melihat itu sama-sama memincingkan mata.
Hanya satu kata yang terlintas di pikiran. Chiper Pol.
"Rupanya misi kita akan semakin sulit, Sasuke." Naruto berkata dengan suara pelan.
Sasuke mengangguk. "Tapi itu tidak akan mengubah rencana kita."
"Kau benar."
Tenryuubito itu mulai turun dari kapalnya. Di belakangnya sudah berjejer rombongan manusia–sebagian besar wanita–dengan borgol melingkar di leher.
"Sebagian besar budak yang dibawa oleh si bangsat itu adalah perempuan. Apa kau yakin akan merekrut mereka?" tanya Sasuke.
Naruto mendecih pelan. "Tidak ada pilihan lain bukan?"
Rencana harus berjalan sesuai rencana, itu yang Naruto pikirkan. Memang dirinya telah menyadari akan ada kemungkinan seperti ini. Namun, jika ia merubah rencana di situasi seperti ini akan tidak efektif.
Kedua remaja itu mengamati seorang lelaki berpakaian beda dari yang lainnya, menunggagi punggung manusia selayaknya menunggangi kuda. Di sekitarnya sudah ada pejabat kota ini yang mengawal. Sedangkan Chiper Pol mengekor di belakang.
Naruto menghitung jumlah budak yang keluar bersama rombongan Tenryuubito. Total ada 20 yang 12 orangnya merupakan perempuan. Ia sedikit terkejut dan emosinya naik saat melihat satu anak gadis yang masih kecil di dalam rombongan itu.
Naruto melirik Sasuke. "Apa kekuatan matamu bisa melihat ke dalam kapal itu?"
Sasuke menggeleng pelan. "Tidak bisa."
Kejadian itu berlangsung cukup lama dan sunyi. Tidak ada yang berani berbicara saat seorang Tenryuubito melintas, atau kau akan mati. Barulah saat rombongan Tenryuubito hilang di tikungan kegiatan pelabuhan ini kembali seperti semula. Ada juga yang menggosip tentang kejadian tadi. Sementara Naruto dan Sasuke pergi ke pinggiran kota untuk membicarakan rencana lebih lanjut.
Langit berwarna biru cerah, suara burung camar terdengar cukup sering, semilir angin laut menerpa kulit, suara dari gelombang air entah bagaimana menengangkan hati. Di sinilah Naruto dan Sasuke berada, sebuah gua dekat pantai.
Mereka duduk di sebatang pohon dengan posisi berhadapan. Di tengahnya ada bekas kayu bakar. Sasuke memakan tomat yang tadi sempat dibeli di pasar, sedangkan Naruto sudah menghidupkan cerutunya lagi.
Hembusan asap tebal keluar dari mulut Naruto. Ia memulai pembicaraan. "Total budak yang dibawa oleh Tenryuubito setidaknya 20 orang. Itu belum pasti karena bisa saja di dalam kapal masih ada. Aku telah mengawasi kediaman gubernur Torres selama satu minggu. Penjagaannya tidak terlalu ketat. Yang menjadi masalah adalah Chiper Pol."
Sasuke mengangguk. Mulutnya masih terus mengunyah makanan kesukaannya. "Kau memiliki kemampuan untuk mengecilkan tubuh 'kan? Tidak terlalu sulit bagimu menyelinap ke sana. Tapi, membawa keluar 20 orang sangatlah susah. Pertarungan tak bisa dihindari."
Naruto menghisap cerutunya. "Benar sekali. Lalu aku juga bertaruh bahwa kapal yang dipakai Tenryuubito memiliki banyak harta di dalamnya. Ini adalah kesempatan langka untuk menjamin logistik kita. Setidaknya untuk beberapa bulan kedepan."
"Jadi kita harus membuat dua tim ya?" Sasuke berkata dengan tenang.
"Lebih ke kita harus berpencar." Naruto menimpali.
Setelah keadaan cukup hening, Sasuke mengungkapkan rencananya. "Biar aku saja yang menyelamatkan budak. Kau kuras segala harta di kapal Tenryuubito."
"Kau yakin? Kekuatanmu tidak memiliki support untuk menyusup secara diam-diam."
Sasuke mengangguk. "Aku memiliki kemampuan portal teleportasi. Memindahkan dua puluh orang cukup mudah untukku. Dan juga aku tahu cara menghancurkan kalung budak mereka. Pertarungan pasti akan terjadi tapi, aku akan membereskan semuanya."
Remaja pirang itu sedikit terkejut mengetahui bahwa Sasuke dapat menghancurkan rantai leher yang selalu dikenakan budak agar mereka tidak kabur. Naruto berpikir sebentar kemudian setuju dengan rencana Sasuke. "Kau benar. Kekuatanku memang yang paling cocok untuk menguras harta. Terlebih kemampuan mengecilkan benda milikku."
"Kapan kita akan menjalankan rencananya?" Sasuke bertanya.
"Malam ini. Tidak ada alasan untuk menundanya lebih lama."
"Kudengar jika seseorang menyakiti Tenryuubito makan seorang laksamana akan datang untuk memburu. Apa itu benar?"
Naruto mengangguk kemudian menghisap cerutunya. "Itu benar. Tapi semua laksamana angkatan laut berada di Grand Line, mustahil untuk sampai ke sini dalam satu hari. Tenang saja, laksamana bukan ancaman, setidaknya untuk saat ini."
Hati Sasuke sedikit tenang saat mendengar hal itu. Ia tidak bodoh untuk meremehkan kekuatan laksamana angkatan laut yang sudah sangat berpengalaman dalam segala bentuk pertarungan. Matanya menatap lautan luas di sampingnya, cepat atau lambat ia juga akan pergi menuju lautan luas dengan teman-teman barunya. Ini adalah awal yang bagus, pikirnya dalam hati.
Dalam keheningan itu Naruto masih menikmati cerutu di tangannya. Mengembuskan asap putih yang keluar dari mulut dengan perasaan nikmat. Setelah beberapa saat melakukan ritual kesehariannya barulah cerutu itu disimpan lagi.
Sasuke melihat Naruto berdiri. "Aku akan melihat-lihat dermaga. Berkumpulah lagi di Morrigan sebelum matahari terbenam. Kita akan menjalankan misi ini saat tengah malam." Setelah perkataannya Naruto meninggalkan Sasuke sendirian.
Tak lama setelahnya, Sasuke juga ikut pergi dari sana menuju kediaman Gubernur Torres untuk mengobservasi lebih lanjut.
Tak terasa waktu terus bergulir dan kini matahari sudah terbenam, singasana langit digantikan oleh bulan. Naruto yang berada di captain's cabin terlihat sedang menulis sesuatu lagi di bukunya. Ia berhenti menulis beberapa saat kemudian dan meletakan buku itu di rak dekat kasurnya.
Naruto keluar dari ruangannya. Tidak ada siapa-siapa di dek kapal. Sasuke sejak siang sudah pergi ke kediaman Gubernur Torres untuk mengamati, sekaligus menjalankan rencananya malam ini.
Naruto sedikit mempersiapkan rencana kabur dari dermaga dengan cara melonggarkan beberapa tali layar. Hal ini dilakukannya agar menghemat waktu. Setelah selesai barulah ia pergi menuju dermaga utara. Bersiap menjarah kapal Tenryuubito.
Di kediaman Gubernur Torres, Sasuke melakukan aksinya dengan sangat hati-hati. Saat ini ia sedang bersembunyi di atap sambil mengawasi dua orang yang sedang berbincang. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Tenryuubito dan Torres.
Penjagaan di sini sangat ketat sejak Tenryuubito datang, mustahil untuk melancarkan rencananya tanpa diketahui oleh siapa pun. Pada waktu yang tepat, ia akan melakukan rencana barbar yang menarik banyak perhatian musuh.
Sasuke saat ini menggeram marah dan memandang benci pada Tenryuubito itu saat satu per satu budak wanita masuk ke ruangan dan mulai membuka pakaian mereka kemudian menari untuk menghibur dua bajingan tersebut.
Dalam hatinya ia ingin sekali membunuh laki-laki yang memakai pakaian seperti astronot itu tapi Naruto memperingatinya agar jangan membunuh Tenryuubito, setidaknya jangan sekarang.
"Sial." Hanya umpatan yang menjadi pelampiasannya.
Sasuke melihat satu per satu budak. Ia ingat wajah mereka semua. Saat ini semua budak wanita yang dibawa oleh Tenryuubito berada di satu ruangan. Mempermudah aksinya untuk menyelamatkan mereka. Sisanya tinggal budak pria yang ia tahu dikunci di ruang bawah tanah.
Tinggal menunggu waktu yang tepat baru ia akan melancarkan rencananya.
Kembali pada Naruto, tidak butuh waktu lama baginya mencapai dermaga utara. Seperti yang dirinya prediksi, angkatan laut menjaga ketat kapal Tenryuubito. Hampir semua sisi dijaga oleh mereka, sulit untuk naik ke kapal tanpa terlihat. Beruntungnya kemampuan buah iblis Naruto dapat mengatasi hal ini.
Naruto mengecilkan tubuhnya sampai tak bisa dilihat oleh mata. Seperti air mengalir, rencana Naruto berjalan sangat mulus. Mulai dari naik ke kapal, memeriksa setiap ruangan hingga menemukan target incarannya.
"Ini yang aku cari selama ini," gumam Naruto sambil tersenyum kemudian mengembalikan ukuran tubuhnya seperti semula.
Ada tiga peti harta di depannya. Semua peti tersebut terkunci tapi bukanlah sebuah masalah baginya. Naruto sudah ahli dalam membobol kunci, bahkan ia tidak keberatan jika dijuluki master lockpick. Tiga peti itu berisis emas yang berbentuk koin.
Naruto mengambil satu koin emas dan menerawangnya. Dulu sebelum dirinya memutuskan untuk menjadi bajak laut pekerjaannya adalah mencuri. Entah itu dari pemerintah atau dari organisasi kriminal. Maka dari itu Naruto bisa memperkirakan kualitas emas dan harga jualnya.
Ia memperkirakan tiga peti itu setara dengan 200.000.000 Berry. Sungguh beruntung dirinya kali ini. Tanpa membuang waktu lama ia segera mengecilkan peti-peti tersebut kemudian melarikan diri menuju Morrigan tanpa ketahuan. Easy.
Disaat yang bersamaan Sasuke masih berdiam di posisinya semula. Beberapa menit kemudian sebuah kesempatan hadir saat Tenryuubito dan Torres keluar ruangan meninggalkan budak mereka di dalam.
Budak-budak itu berhenti menari kemudian memakai pakaian mereka lagi. Sasuke tanpa membuang waktu lebih lama segera turun dan hal itu membuat mereka tersentak kaget. Sebelum ada yang berteriak, Sasuke lebih dulu memberi isarat agar tidak bersuara.
"Aku di sini untuk membebaskan kalian," ucap Sasuke dengan wajah datar.
Salah satu budak menimpali. "T-tapi, selama kalung ini berada di leher kami tidak akan bisa kabur."
"Ya. Kalung ini akan otomatis meledak jika kami terlalu jauh dari Austin-sama." Budak yang lain menimpali.
"Jadi nama Tenryuubito itu adalah Austin," ucap Sasuke dalam hatinya. "Aku bisa melepaskan kalung-kalung kalian." Tanpa menunggu jawaban mereka, Sasuke mendekati salah satu budak kemudian menyentuh kalungnya. Rinnegan telah aktif, sedetik kemudian kalung itu berubah menjadi batu kecil.
Mereka semua kaget karena perkataan pria di depannya terbukti benar. Tak lama kemudian mereka mendengar suara ledakan dari utara. Suaranya tak teralu besar menandakan ledakan itu jauh dari lokasi mereka.
"Aku sudah memindahkan kalung itu ke dermaga utara tapi suaranya masih tetap terdengar sampai ke sini. Bajingan Tenryuubito itu benar-benar brengsek." Sasuke menggeram dalam hati.
"Waktu kita tidak banyak. Semuanya mendekatlah!" Satu per satu Sasuke melepaskan kalung mereka. Tak lama kemudian ia mendengar suara langkah kaki dari berbagai arah pintu. apakah penyusupannya sudah diketahui? Ia jelas mengetahui dari suara langkah kaki tersebut bahwa banyak tentara sedang menuju ke arahnya.
"Waktu kita tidak banyak." Dengan Rinnegannya ia membuka portal berwarna biru kehitaman. "Cepat masuk ke portal ini agar kalian bisa kabur! Ingat, portal ini akan membawa kalian ke sebuah kapal. Temanku sudah menunggu di sana!"
Tanpa sempat mengucapkan terima kasih, mereka mengagguk kemudian masuk ke dalam portal. Sasuke lah satu-satunya orang yang berada di ruangan ini. Ia menengok ke belakang, tepatnya ke pintu yang tak jauh dari tempatnya. Di balik sana dirinya merasakan aura kuat. Pemilik aura ini pastilah Chiper Pol yang ia lihat saat di dermaga utara.
Saat ini Sasuke bimbang memilih antara kabur atau melanjutkan rencananya. Masih ada lima budak yang terkurung di ruang bawah tanah. Jika ia memaksa untuk melanjutkan rencananya maka pertarungan hebat tak bisa dihindari. Lebih dari itu jati dirinya akan terekspos. Namun, jika ia memilih untuk kabur maka jati dirinya tidak akan diketahui.
Tangan Sasuke terkepal erat, kemudian melemas. Ia berjalan memasuki portal teleportasinya. "Maafkan aku, Naruto. Maafkan aku budak yang lainnya."
Naruto yang sudah bersiap di dek kapal menunggu kedatangan Sasuke sambil menghisap cerutunya. Ia tersenyum tipis saat portal teleportasi tiba-tiba muncul di tengah kapal dan mengeluarkan beberapa orang. Sasuke adalah orang yang terakhir muncul bersamaan dengan hilangnya portal itu.
Naruto menaikkan sebelah alisnya. Ada yang kurang. "Kurasa rencanamu tidak berjalan lancar, Sasuke?"
"Maaf. Aku hanya dapat menyelamatkan mereka. Situasinya di luar rencana."
Naruto mengangguk mengerti. Ia kemudian berdiri di atas pembatas sisi kapal. Naruto menghisap cerutunya lalu menghembuskannya secara perlahan. "Aku tahu kalian masih bingung dengan situasi sekarang. Akan aku jelaskan secara singkat."
Mereka semua mendengarkan.
"Kami adalah bajak laut yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah dunia dan menghapuskan sistem budak. Kami sedang mencari anggota bajak laut, itu sebabnya kalian kami selamatkan. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi anggotaku." Naruto memandang semua mata mereka.
"Tapi, aku tidak memaksa kalian. Jika kalian tidak ingin maka aku bisa menurunkan kalian di pulau selanjutnya. Atau kalian bisa membantuku meraih impian bajak laut ini."
Satu orang mengacungkan tangannya. Ia adalah budak termuda dan diperkirakan usianya baru 12 tahun. "Aku akan bergabung. Aku mempunyai kakak yang menjadi budak di Mariejoa." Gadis kecil itu berkata dengan tekat bulat.
"Tekad yang bagus. Siapa namamu?"
"Hyuuga Hanabi. Aku ingin menyelamatkan kakaku Hinata-neechan!"
Naruto mengangguk kemudian melihat semua budak yang tersisa. "Kalau kalian?"
Mereka semua setuju untuk bergabung dengan berbagai macam alasan seperti sudah tidak punya keluarga atau tempat tinggal.
"Aku berterima kasih kepada kalian semua. Namaku Uzumaki D. Naruto, kapten kapal Morrigan. Orang yang telah membebaskan kalian adalah Uchiha Sasuke, wakil kapten. Sebelum kita kabur, bagi yang merasa memiliki skill yang aku sebutkan mohon ke depan. Yang mengerti navigator, yang bisa memasak, dan yang memakan buah iblis."
Tiga orang berjalan ke depan menghadap Naruto, salah satunya Hanabi.
"Hanabi, apa yang kau punya?"
"Aku memakan buah iblis bernama Byakugan no Mi."
Naruto menyunggingkan senyum tertarik. "Buah iblis tipe Exousia, kalau tidak salah kemampuanmu dapat melihat tembus pandang dan jarak jauh. Berapa maskimal jarak pandangan matamu?"
"10 km."
"Jarak yang sangat jauh. Hanabi, aku beri tugas kau untuk mengawasi daerah sekitar saat kita sedang berlayar. Kau akan bekerja sebagai pengintai di crow's nest," ucap Naruto sambil menunjuk ke atas.
Selanjutnya adalah seorang wanita yang memiliki rambut berwarna pirang panjang. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Jeanne D. Arc. Wanita itu berkata bahwa dulu ia adalah bajak laut, meski tak terkenal tetapi ia menguasai ilmu navigator.
Terakhir, orang yang memiliki rambut sama seperti Jeanne memperkenalkan diri sebagai Stella. Ia ahli memasak karena sebelum dirinya dijual ke human shop dia bekerja di restoran sebagai koki.
"Baiklah, Jeanne akan bertugas sebagai navigator kapal ini. Stella akan bertugas sebagai koki. Apa kau tidak keberatan menyiapkan makanan untuk 17 orang sendirian?"
Stella menggeleng. "Aku tidak keberatan."
"Kalau begitu kita siap untuk berlayar!"
Meski Naruto berkata seperti itu, nyatanya sebagian besar dari mereka tidak tahu ilmu berlayar kecuali Jeanne. Oleh sebab itu dengan waktu yang cukup lama Jeanne mengajari dan memerintahkan mereka cara melepaskan layar. Beruntung aksi Naruto dan Sasuke tidak diketahui–wajah mereka tidak teridentifikasi–maka tak perlu terburu-buru untuk berlayar.
Semua layar Morrigan yang berwarna merah dengan dekorasi putih di atasnya terbentang. Jangkar sudah dinaikkan, perlahan Morrigan mulai meninggalkan dermaga menuju lautan luas. Bendera hitam bajak laut berlambang kepala serigala dengan mata berbentuk Rinnegan dan Sukuna berkibar.
Dari sini petualangan akan dimulai.
Bersambung
AN: Total anggota bajak laut adalah 17 orang (termasuk Naruto dan Sasuke). Untuk anggota lainnya akan mendapatkan peran penting. Tapi saya masih mencari karakter yang cocok, barang kali kalian ada saran. Mungkin Erza bisa masuk, atau siapa lagi.
Nama kapal: Morrigan
Kapten: Uzumaki D. Naruto
Wakil kapten: Uchiha Sasuke
Navigator: Jeanne D. Arc
Koki: Stella
Anggota:
1. Hyuuga Hanabi (Crow's nest)
2. ?
3. ?
4. ?
5. ?
6. ?
7. ?
8. ?
9. ?
10. ?
11. ?
12. ?
13. ?
Silahkan yang ada rekomendasi karakter boleh tauh di review. Untuk penampilan kapal Morrigan sudah saya share di grup WA Fanfiction Indonesia. Atau kalau kalian mau melihatnya di youtube detailnya ada di AN akhir chapter 1.
[27/05/2022]
