Selamat membaca.


Chapter 3: First Sail

Ini adalah malam menjelang pagi di kapal Morrigan. Setelah berhasil kabur dari Havana tanpa diketahui, Morrigan saat ini sedang menurunkan jangkarnya di tengah lautan. Para kru yang semuanya baru terbebas dari perbudakan diberikan istirahat oleh Naruto. Sementara yang menjaga di luar adalah Sasuke.

Naruto sendiri sedang memikirkan pembagian tugas dan rencana selanjutnya. Ia duduk di meja kerjanya dengan sebotol wine menemani malamnya. Naruto hampir lupa hal yang paling penting dalam sebuah kapal, yaitu dokter. Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu sampai Sasuke bertanya.

Beruntung, salah satu krunya merupakan perawat asal Sabaody sebelum ia bertemu Tenryuubito yang mengambilnya untuk dijadikan budak. Namanya adalah Akagi Ritsuko. Ia menulis dalam jurnalnya daftar petinggi atau eksekutif bajak lautnya.

Sasuke sebagai wakil kapten.

Jeanne sebagai navigator.

Stella sebagai koki.

Ritsuko sebagai dokter.

Dengan kru yang sebenarnya kurang dari cukup membuatnya harus hati-hati dalam membagi tugas. Sasuke menyarankan agar menambah kru kapal saat tiba di pulau selanjutnya tapi ia sudah tak tertarik lagi. Biarlah awak kapal Morrigan hanya mereka saja.

Kru yang belum diberikan tugas berjumlah 11 orang. Setidaknya harus ada 4 orang yang menangani layar di satu tiang. Morrigan memiliki dua tiang layar utama itu berarti setidaknya 8 orang harus mengendalikan layar sesuai intruksi navigator.

Tersisa 3 orang lagi. Normalnya ia akan menugaskan mereka sebagai penembak meriam, tetapi tiga orang saja tak cukup. Hasil akhirnya Naruto tetap menugaskan mereka sebagai penembak meriam hanya saat terjadi pertempuran laut. Jika sedang tak bertempur mereka bertugas membantu kru lain.

Jadwal jaga malam, piket membersihkan Morrigan, dan lain-lain telah ia susun. Dengan begini tugas pertamanya sebagai kapten telah selesai. Tak lama kemudian Sasuke masuk ke dalam.

"Kau belum tidur?" tanya Sasuke.

"Aku baru saja menyelesaikan jadwal dan tugas untuk kru lain. Hoammz," jawab Naruto diakhiri dengan menguap.

Sasuke tak melanjutkan pembicarannya, ia menuju kasurnya yang berada di sebelah kiri dan merebahkan diri. Hari ini adalah hari yang berat dan melelahkan. Begitu juga dengan Naruto, setelah membereskan buku-bukunya ia memutuskan untuk tidur meski matahari terbit kurang dari dua jam lagi.

Waktu terus berjalan hingga tak terasa siang hari, Morrigan masih berada di posisinya semula. Naruto, Sasuke, Jeanne, Stella, dan Ritsuko sedang mengadakan rapat di captain's cabin setelah makan siang. Tadi pagi Sasuke sudah menyampaikan tugas masing-masing orang sesuai yang Naruto tulis.

Hanabi sudah berada di posisinya dan sedang mengamati keadaan sekitar. Yang lainnya sedang belajar dan membiasakan diri dengan kapal setelah diberi ilmu oleh Jeanne. Terutama cara menjalankan kapal layar.

Mereka berlima tengah berdiri mengitari meja persegi yang di atasnya terdapat peta besar. Itu adalah peta keseluruhan South Blue, benua yang saat ini mereka arungi.

"Seperti yang kujelaskan tadi, kita memiliki uang setidaknya 200 juta Berry. Aku berencana membelanjakan uang itu kebutuhan kita. Terutama kalian." Naruto menunjuk Stella, Ritsuko, dan Jeanne.

"Kalian tidak memiliki baju lain selain yang terakhir kalian pakai." Memang benar. Selain Naruto dan Sasuke semua kru kapal tidak memiliki pakaian lain. Satu-satunya yang mereka miliki adalah yang mereka kenakan. Itu juga pakaian untuk budak–pakaian dansa untuk menghibur pria dengan memamerkan bagian-bagian krusial tubuh wanita.

"Kita juga tidak boleh lupa dengan persenjataan." Sasuke menimpali. "Setidaknya masing-masing dari kita harus memegang senjata. Baik pistol maupun pedang."

Stella mengangguk. "Kita juga harus menyuplai ulang bahan makanan, meski di gudang masih banyak."

"Jangan lupa dengan persediaan medis. Itu sangat penting," ucap Ritsuko.

"Jadi semua setuju bahwa di pulau selajutnya kita akan berbelanja segala kebutuhan. Aku memiliki rencana untuk mendesain ulang Morrigan. Menambahkan beberapa furniture dan juga membuat ruang khusus pengobatan di lantai satu."

Lantai satu dek kapal merupakan tempat gudang dan dapur. Ia rencannya akan mengambil sedikit ruang di gudang untuk dijadikan tempat medis. Meski nantinya akan sempit, tetapi jika ditata dengan rapi akan terlihat tidak sempit. Morrigan bukanlah kapal yang besar, masalah ruang menjadi cukup serius.

Jeanne menatap Naruto. "Jika Kapten ingin mendesain ulang kapal ini berarti butuh waktu cukup lama."

Naruto menyetujui. "Itu sebabnya aku sudah membuat agenda para kru saat kita di pulau selanjutnya. Mereka tidak mempunyai latar belakang pelayaran atau pertempuran. Aku ingin mereka setidaknya berlatih menggunakan senjata dan berlayar. Ini sangat penting jika kita ingin bertahan hidup di ganasnya lautan Grand Land."

"Siapa yang akan mengajari mereka?" tanya Sasuke.

Naruto menunjuk Sasuke dan Jeanne. "Kalian berdua akan mengajari mereka semua cara bertahan hidup. Sementara aku mengurus Morrigan. Ah hampir lupa, untuk lantai dua dimana kamar mandi dan kamar tidur berada, aku juga berencana merombaknya."

Sasuke menatap Naruto dengan heran. "Bukannya tidak ada masalah dengan kamar tidur?"

"Memang tidak ada masalah, tapi aku ingin setiap kru menganggap Morrigan adalah rumah mereka." Naruto menunjuk desain kapal bagian lambung depan. "Ini harusnya menjadi tempat tidur pria. Di sini hanya ada beberapa ranjang, sisanya tempat tidur gantung. Aku ingin menggantinya semuanya dengan kasur agar mereka nyaman saat istirahat. Juga mendekor ruangan ini. Jari telunjuk Naruto bergeser ke lambung bagian tengah. "Di sini terdapat kamar mandi dan tempat menyaring air laut, tak perlu ada perubahan."

Kemudian ia sampai pada lambung bagian belakang. "Ini adalah kamar untuk wanita, desain ruangannya juga telah disesuaikan. Kebetulan aku menyimpan tiga kasur beserta lemari dan perabotan lainnya. Ini akan menjadi kamar Jeanne, Stella, dan Ritsuko sebagai eksekutif bajak laut ini."

Sasuke hanya bisa mengangguk. "Ini kapalmu, lakukan sesukamu."

Naruto tersenyum. "Kalau begitu kita sudah setuju."

"Lalu tujuan kita selanjutnya ke mana?"

Naruto menunjuk sebuah pulau yang cukup besar. "Ke sini, di pulau ini terdapat kota bernama Kingston. Kota besar yang memiliki segalanya. Morrigan memiliki kecepatan jauh di atas kapal layar lain, jika berangkat sekarang maka kita akan sampai pada malam hari."

Jeanne melihat peda dengan seksama. "Normalnya jarak segini akan memerlukan satu hari penuh. Tapi dengan kecepatan Morrigan tidak mungkin mustahil kita akan sampai saat malam hari. Itu juga jika tidak ada kendala di tengah perjalanan."

"Baiklah, tunggu apa lagi, perintahkan kru untuk bersiap. Stella, kau bisa kembali ke dapur. Ritsuko, kau bisa menemani Stella atau membantu kru lainnya menyiapkan layar.

"Aku akan membantu Stella saja," jawab Ritsuko.

Mereka keluar dari ruangan Naruto dan menjalankan tugas masing-masing. Naruto berada di balik kemudi, di sebelah kanannya berdiri Sasuke yang bertugas memerintah pada kru sesuai arahan Naruto. Di sebelah kiri berdiri Jeanne dengan map di tangannya.

Jangkar telah diangkat, layar sudah dikembangkan. Morrigan mulai bergerak dengan kecepatan penuhnya.

Di belahan dunia lain terdapat tempat suci bernama Mariejoa. Ini adalah wilayah kediaman Tenryuubito dan juga pusat dari pemerintahan dunia. Di salah satu ruangan megah yang berada di gedung tertinggi, kegaduhan sedang terjadi saat salah satu prajurit angkatan laut melaporkan kejadian malam hari kemarin di Havana. Ini adalah ruang tempat berkumpulnya para Gorosei.

Prajurit itu menyampaikan laporannya sambil menunduk hormat. Mulai dari dermaga utara yang diserang oleh orang misterius, hilangnya budak dari Saint Austin, peri harta yang berada di kapal Tenryuubito lenyap tanpa jejak.

"Sampai saat ini kami tidak bisa menemukan petunjuk mengenai dalang dibalik kekacauan Havana." Prajurit itu menyudahi laporannya dengan menelan ludah kasar.

Para Gorosei terlihat diam bergeming. Salah satu orang yang memakai kacamata dan berkepala botak menyipitkan mata. "Kemungkinan besar orang yang berada di balik kekacauan ini adalah profesional."

"Menyerang bagaikan petir, menghilang bagaikan kabut. Seakan-akan mereka sudah merencanakan ini dengan sangat matang." Yang memiliki kumis lebat berwarna putih juga menimpali.

"Jika angkatan laut tidak memperlihatkan kemajuan kami akan menyerahkan masalah ini pada chipper pol. Lagi pula korbannya adalah salah satu bangsawan dunia, kita tidak bisa tinggal diam."

"Kau yang di sana! Beritahu Sengoku jika dalam seminggu tidak memperlihatkan kemajuan maka kasus ini akan ditangani oleh chipper pol."

"Dimengerti!"

Setelah memberi hormat, prajurit tersebut buru-buru keluar ruangan dan mengambil napas lega.


Naruto melihat ke ujung lautan di mana matahari sebentar lagi akan terbenam. Sudah beberapa jam Morrigan berlayar dan sejauh ini tidak ada rintangan apa pun, ia juga tidak berpapasan dengan kapal lain. Naruto menjalankan kapalnya sesuai arahan sang navigator Jeanne.

Di dapur, Stella dan Ritsuko terlihat sedang menyiapkan makan malam, hampir rampung sebenarnya, tinggal menyiapkan makanan penutup berupa potongan apel untuk semua kru. Mereka sedang mengupas dan memotong apel menjadi beberapa bagian.

Stella dan Ritsuko memiliki waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Topik yang mereka bahas seputar hal umum tapi tak sering juga membahas dunia wanita. Namun, mereka masih ragu untuk membicarakan hal yang lebih pribadi.

Oleh sebab itu, saat topik pembicaraan habis seperti saat ini mereka pun diam tak bersuara. Hingga Ritsuko memutuskan untuk bertanya pada Stella. "Aku penasaran alasanmu memilih tinggal di kapal ini, saat Naruto-senchou memberi pilihan pada kita kau setuju untuk bergabung dengannya tanpa memberi alasan."

Stella tersenyum, tangannya masih memotong apel. "Saat aku diperdagangkan di human shop, aku bertemu dengan lelaki." Ada sedikit jeda dalam ucapannya. "Laki-laki itu memiliki mimpi untuk menjadi bintang. Ia menyanyikan sebuah lagu dengan indahnya dan berjanji bahwa ia akan membeliku dan membebaskanku. Tapi, sayangnya aku lebih dulu dibeli oleh Tenryuubito."

Ritsuko diam mendengarkan.

"Aku ingat wajahnya yang tidak rela aku dibawa sambil berlinang air mata. Itu saat terakhir kali aku melihatnya. Tidak lama kemudian aku mendengar kabar bahwa dia juga menjadi budak Tenryuubito."

Ritsuko menatap Stella. "Apa alasanmu tinggal di kapal ini adalah untuk membebaskan lelaki itu?"

Stella mengangguk. "Jika dulu dia berusaha membebaskanku maka sekarang giliranku yang berusaha membebaskan dia. Kalau Ritsuko-san sendiri bagaimana?"

"Seperti yang aku bilang kemarin, aku tidak memiliki tempat tinggal lagi. Menjadi bagian kru bajak laut ini adalah pilihan terbaik," jawab Ritsuko.

"Begitu …." Stella tidak bertanya lagi.

Saat jam makan malam tiba, yang pertama makan adalah Naruto dan para eksekutifnya. Dapur ini tidak muat jika semua krunya makan secara bersamaan. Oleh sebab itu dibagi menjadi tiga shift. Bagian pertama tentu saja mereka yang memiliki posisi penting di bajak laut ini. Dan juga harus ada orang yang menjalankan kapal saat kru yang lain sedang makan.

Morrigan sampai di dermaga barat kota Kingston pada tengah malam. Setelah memarkirkan kapalnya Naruto dan kru lain memutuskan untuk tidur. Ini adalah pengalaman berlayar pertama mereka jadi cukup menguras tenaga. Jam malam juga masih diberlakukan karena mereka belum tahu apakah dermaga ini aman atau tidak.

Naruto menjadi orang yang terakhir kali mandi. Karena ruangan pria dan wanita memiliki kamar mandi sendiri–meski tidak luas–dan hanya ada satu kamar mandi umum yang juga sering dipakai oleh Naruto dan Sasuke. Semua itu terletak di dek lantai dua. Captain's cabin tidak memiliki kamar mandi.

Remaja pirang itu saat ini hanya memakai kaos putih polos dan celana panjang. Ia menguap lebar setelah duduk di sisi kasurnya. "Tadi itu adalah pengalaman berlayar yang menyenangkan."

Sasuke yang sedang tiduran sambil membaca buku hanya merespon seperlunya. "Hn. Kita beruntung tidak ada kapal bajak laut lain atau badai besar. Cuaca dan anginnya juga bagus."

"Kau sudah membaca Koran hari ini?" tanya Naruto.

Sasuke mengangguk.

"Apa ada berita tentang kita?"

"Tidak ada. Sepertinya mereka belum mengetahui bahwa kita dalangnya. Ini berita bagus."

"Ya, sangat bagus."

Bagi mereka yang masih 'belajar' menjadi bajak laut sungguhan tentu saja sangat senang jika aksi keduanya tidak ketahuan. Akan repot jadinya jika mereka diburu oleh angkatan laut sedangkan kru Morrigan belum sepenuhnya mengerti pelayaran. Kemungkinan terburuknya mereka bisa tertangkap sebelum menggapai impian.

"Sasuke, cek kru kapal saat pagi dan suruh mereka berkumpul di geladak kapal. Ada beberapa kata yang ingin kusampaikan."

"Hn." Itulah jawaban andalan Sasuke.

Mereka berdua lalu terlelap dalam tidur nyenyak.

Sementara itu di kamar tidur wanita yang memiliki tiga kasur dengan ukuran untuk satu orang dan tiga lemari–meski tak besar–ruangan ini memiliki perabotan yang lengkap untuk kebutuhan wanita seperti meja rias contohnya. Ketiga kasur itu masing-masing ditempati oleh Stella, Jeanne, dan Ritsuko. Jeanne berada di tengah, Stella di kiri dan Ritsuko di kanan.

Setelah mandi mereka masih memakai pakaian budak karena itu satu-satunya pakaian yang ada. Meski pakaian itu sudah dilumuri dengan keringat tapi mereka tak mempermasalahkan. Berharap saja di Kingston mereka bisa membeli pakaian baru.

"Bagaimana situasi di atas tadi siang, Jeanne-san?" tanya Stella.

"Aman terkendali. Aku cukup dibuat kagum saat Morrigan bisa bergerak dan bermanuver dengan cepat. Baru kali ini aku menaiki kapal yang kecepatannya jauh di atas rata-rata." Ia menjawab dengan senyum tipis.

"Kau bilang kalau kau adalah mantan bajak laut. Apa sebelumnya Jeanne berupakan kapten?" kali ini Ritsuko yang bertanya.

Gadis yang terlihat seumuran dengan Naruto itu mengangguk. "Ya. Dulu aku memiliki bajak laut sendiri sampai para pemburu budak menangkapku dan menjualnya ke Tenryuubito."

Stella memperlihatkan rasa khawatir. "Bagaimana dengan nasib anggotamu?"

Jeanne terdiam sebentar. Kenangan pahit berputar di dalam otaknya. "Sebagian besar mereka bernasib sama sepertiku, yang lainnya terbunuh karena berusaha kabur."

"Aku minta maaf." Stella terlihat menyesal.

"Tak perlu, itu adalah kenangan lama. Sekarang aku memiliki rekan baru, yaitu kalian." Jeanne tersenyum.

Mereka tenggelam dalam mimpi tak lama kemudian.


Seperti yang dikatakan Naruto kemarin, Sasuke mengumpulkan semua kru kapal pada pagi hari setelah sarapan. Namun, semenjak ia bangun tidur Naruto sudah tak terlihat. Bahkan saat sarapan pun batang hidung remaja pirang itu tak kunjung muncul.

Saat ini mereka sedang berkumpul di tengah geladak kapal. Sasuke berkata bahwa Naruto tidak terlihat sama sekali dari ia bangun tidur. Hal ini jelas membuat mereka sedikit khawatir dan berpikiran negatif. Apa kapten mereka diculik oleh seseorang?

Namun, kekhawatiran mereka hilang setelah melihat Naruto menaiki kapal sambil membawa dua koper berukuran besar yang jika dilihat sepertinya cukup berat.

"Kau ke mana saja?" tanya Sasuke.

Naruto menurunkan kedua koper itu. "Maaf pergi tanpa bilang dahulu, aku baru saja pulang dari bank. Ingat koin emas yang kita jarah dari Tenryuubito? Aku menukarkannya dengan uang kertas," jawab Naruto kemudian membuka kedua koper itu yang berisi gepokan uang. Semua mata menatap uang tersebut dengan berbinar.

"Kapten membuat kami khawatir," kata Jeanne.

"Maafkan aku."

Naruto berdiri di hadapan mereka, Sasuke berada di sebelahnya. Ia menyalakan cerutunya terlebih dahulu kemudian menghisapnya dengan tenang. "Sebagai orang yang pernah menjadi budak Tenryuubito, aku yakin kalian memiliki tanda di punggung masing-masing."

Setelah perkataan Naruto, semua kru yang isinya wanita menegang. Kenangan pahit saat menjadi budak berputar cepat di otak mereka. Ada yang menutup mulut, memalingkan wajah dan menunduk. Dari ekspresi mereka Naruto dan Sasuke sudah menduga jika penderitaan yang mereka alami melebihi pemikiran dua remaja itu.

"Tanda yang mereka berikan selamanya tidak akan bisa dihapus." Naruto menjeda kalimatnya. "Tapi bisa ditimpa dengan tanda yang lain. Aku memiliki beberapa koneksi di kota ini, jika kalian ingin aku bisa memberikan tanda baru yang akan menimpa tanda lama kalian. Anggap aja ini adalah tanda bajak laut kita. Tentu saja aku dan Sasuke akan melakuannya juga," kata Naruto kemudian melirik pria emo itu.

Sasuke memberikan tatapan seakan berkata 'kau tidak pernah bilang terlebih dahulu padaku'. Naruto hanya tersenyum minta maaf.

Naruto menatap krunya lagi. "Bagaimana? Kita akan membuat tanda kepala serigala di punggung masing-masing."

Tak perlu waktu lama, mereka mengangguk setuju. Tentu saja tanda budak di punggung mereka akan menjadi aib tersebar. Kesempatan ini tidak akan mereka lewatkan, setidaknya mereka bisa menutupi jati diri masing-masing.

"Bagus." Naruto kemudian mengambil beberapa gepok uang yang satu gepoknya berjumlah 5 juta Berry. "Kalian akan menerima sejumlah uang saat kita sampai di pulau. Uang ini bisa kalian gunakan untuk membeli barang yang kalian suka. Karena ini pulau pertama kita dan kalian juga tidak memiliki apa pun, aku akan memberikan masing-masing 5 juta berry. Gunakan untuk membeli beberapa setel pakaian, senjata yang kalian sukai, atau aksesoris lainnya."

"Ingat, aku ingin bajak laut ini tampil modis dan tak ingin terlihat seperti bajak laut miskin! Jadi, belilah pakaian yang cantik dan bagus."

Setelah perkataannya, Naruto dibantu oleh Sasuke membagikan uang itu kepada seluruh kru. Sasuke dan Naruto juga mendapatkan bagiannya masing-masing. Simpanan uang Morrigan saat ini berjumlah 115 juta Berry.

"Hari ini kalian akan berbelanja sepuasnya. Jika sudah kita akan berkumpul saat sore hari. Tapi, bukan di sini. Kita akan bertemu di penginapan bernama PeakyBlinder yang berada di timur kota. Tanyakan saja pada penduduk lokal kalau kalian tidak tahu. Jika sudah mengerti kalian boleh bubar."

Para wanita pergi bergerombol untuk melihat-lihat pemandangan kota sambil mencari apa yang mereka inginkan. Sementara Naruto dan Sasuke masuk ke captain's cabin untuk berdiskusi.

"Hal yang pertama kita akan lakukan adalah memesan senjata." Naruto membuka pembicaraan.

"Kau memiliki koneksi dunia bawah di kota ini?" tanya Sasuke.

Naruto mengangguk kemudian menghisap cerutunya. "Dulu aku bekerja untuk keluarga mafia yang menguasai dunia bawah kota ini. Aku mengetahui setiap sendi kejahatan di sini dan cara agar tidak terlacak oleh angkatan laut."

"Hn."

"Menurutmu senjata apa saja yang harus dimiliki para kru?"

Sasuke berpikir sebentar. "Pistol dan rifle saja sudah cukup. Untuk senjata jarak dekatnya biarlah mereka membeli sendiri sesuai keinginan mereka."

"Senjata yang sangat normal dimiliki oleh bajak laut," komen Naruto tapi ia menyetujui usulan wakil kaptennya. "Itu berarti kita harus membeli masing-masing 17 buah serta persediaan peluru."

"Bagaimana dengan harganya?" tanya Sasuke.

"Untuk jumlah segini cukup murah, tidak akan menguras persediaan uang Morrigan."

"Kapan kita akan membelinya?"

"Sekarang. Sesudah ini aku akan pergi ke perusahaan pembuat kapal untuk merenovasi Morrigan."

Bersambung


AN: Untuk sarannya di review kemarin terima kasih. Dan juga masih ada yang menyarankan nama-nama laki-laki. Ingat, budak yang diselamatkan oleh Sasuke semuanya wanita. Dan saya tidak akan menambah orang baru lagi. Saran masih diterima karena saya baru memasukkan beberapa nama.

Akagi Ritsuko dari anime Neon Genesis Evangelion.

[05/06/2022]