LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
Cast akan bertambah seiring bertambahnya chapter
..
.
Byun Baekhyun atau dikenal juga dengan Brian adalah seorang malang yang diusir oleh ayahnya sendiri setelah mengaku jika dirinya gay 10 tahun lalu. Ayahnya benar-benar marah, dan berakhir menendangnya pergi keluar negri. Semenjak kejadian itu hidupnya berubah begitu juga dengan kepribadiannya.
Sedangkan Chanyeol adalah pemuda berjiwa bebas yang enggan dikekang, ia benci hidup dalam sebuah aturan yang rumit. Berakhir memutuskan kabur dari rumah, dengan ditemani gitar kesayangannya bethoven.
*
"Sial sekali! Kenapa aku tidak membawa lebih banyak uang!" Chanyeol mengumpat, ia kesal setengah mati. Semua rekeningnya dibekukan oleh ayahnya. Uang didompetnya hanya tersisa 500.000 won. Dan kini ia sedang berada di negri orang ngomong-ngomong.
"Apa yang harus kulakukan? argh! sungguh sialan sekali pak tua itu!" dia tidak bisa berhenti mengumpat, semua sumpah serapahnya sedari tadi mengalun dengan indah dari bibirnya.
Sudah hampir satu jam chanyeol duduk diam merenungi nasibnya. Dan perut sialannya kini ikut menambah beban penderitaan. Ia kesal, bingung setengah mati. Sudah pasti ia tidak akan bertahan hanya dengan uang 500 ribunya.
Berpikir..
Berpikir..
Berpikir...
Oke, chanyeol punya ide. Yang dimilikinya sekarang hanya bethoven, tentu saja dia akan bergantung padanya. Ia akan mengamen, setidaknya uangnya bisa ia gunakan untuk membeli makanan hari ini.
Sebenarnya chanyeol tidak tahu cara mengamen yang baik dan benar. Haruskah ia berteriak dulu agar menarik perhatian orang-orang? Atau langsung saja ia menyanyi?
"HELP! HELP ME PLEASE!!"
teriakan chanyeol sontak membuat semua orang memusatkan perhatian padanya. Tak terkecuali pria manis dengan hoodie dan rambut silvernya. Pria itu menoleh, melihat chanyeol yang menjadi pusat perhatian ditengah keramaian.
"Help me! I need some money"
Ia mengernyit, menatap chanyeol dengan aneh. Demi apapun chanyeol benar-benar terlihat idiot sekarang. Ia sedang berdiri kaku sambil mengangkat gitarnya tinggi-tinggi dan sedikit meringis karna malu. Tapi tak bertahan lama orang-orang kini kembali pada urusannya masing-masing, mengabaikan atensi pria kelebihan kalsium itu. Menganggap seolah tak terjadi apapun, begitu pula dengan pria berambut silver.
Sudah kepalang tanggung jika chanyeol tidak melanjutkan misinya. Ia sudah mempermalukan dirinya sendiri, jadi dia tidak mungkin berhenti skarang. Ia mulai memetik gitarnya, memainkan instrumen kesayangan dengan sepenuh hati. Menyanyikan lagu favoritnya.
'So they say that time'
Baekhyun si pria berambut silver itu hendak beranjak dari sana, tapi suara chanyeol menghentikan langkahnya.
'Takes away the pain'
Entah mengapa otaknya tiba berhenti bekerja.
'But I'm still the same, ah'
Dan sekarang otaknya malah memerintahkan kakinya untuk menghampiri pria asing itu.
'And they say that I, will find another you'
'That can't be true, ah'
Lagu ini, baekhyun tahu lagu ini.
'Why didn't I realize
Why did I tell lies
Yeah, I wish that I could do it again, oh
Turnin' back the time, back when you were mine (all mine)'
Seketika membawa ingatannya pada masa itu. Ia terhanyut dengan alunan lagu yang chanyeol hadirkan. Hingga tanpa sadar kini ia berdiri tepat didepan chanyeol. Menatapnya, untuk kemudian tenggelam dengan melodi yang dibawakan.
Chanyeol sedikit heran dengan pria manis yang tiba-tiba berjalan kearahnya. Jalanan London memang ramai, tapi tak banyak orang yang tertarik dengan musiknya. Bisa dihitung dengan jari orang yang mengapresiasi musiknya.
Pria itu berdiri sekitar dua meter didepan chanyeol, menatapnya sedikit sendu sambil sesekali memejamkan mata. Terlihat menikmati lagu yang ia bawakan.
Chanyeol menyelesaikan satu lagu, dan beralih pada lagu lain yang menurutnya lebih semangat, agar orang bisa lebih tertarik. Begitulah pemikirannya.
Namun bersamaan dengan itu pria manis dihadapannya pergi. Tak lupa ia meletakkan uang pecahan 50 poundsterling dikotak yang telah chanyeol siapkan. Tunggu, chanyeol tidak salah lihat kan? Chanyeol membelalakan matanya 'kenapa dia memberiku banyak sekali?' kalau tiap orang memberinya segini banyak Chanyeol tak perlu repot-repot mencari kerja untuk bisa hidup disini.
Chanyeol selesai membawakan lima lagu, ia rasa uang yang terkumpul sudah cukup untuk hari ini. Sekarang pria itu pergi mencari tempat untuk perutnya yang sudah meraung-raung minta diisi. Berjalan seorang diri menyusuri jalanan London yang cukup padat di akhir pekan.
Tatapannya terpaku pada sebuah papan yang terletak didepan sebuah kedai kecil yang terlihat cukup ramai. Sebenarnya dia paling malas makan ditempat ramai, tapi karena sebuah tulisan "Free coffee for any purchase" tanpa pikir panjang chanyeol segera memasukinya.
Seperti dugaanya kedai ini benar-benar ramai, bahkan hampir tidak ada tempat duduk yang kosong.
.
.
.
Baekhyun sedang menyesap coklat panas saat mejanya diketuk tiba-tiba. Spontan ia meletakkan cangkir coklatnya di meja. Untuk kemudian membawa arah pandangnya menuju si pelaku pengetukan. Disan berdiri seorang pria jangkung dengan gitar dipunggungnya.
"M-maaf mengganggumu, jika tidak keberatan bolehkah aku bergabung?" Baekhyun hanya diam, dan memandangi chanyeol dengan wajah datar andalannya. Sebenarnya dia masih mengingat-ingat 'bukankah dia pria yang tadi?' Merasa tak ada tanggapan chanyeol melanjutkan kalimatnya "tidak ada kursi lain, hanya ini yang kosong." baekhyun melihat sekeliling, hari ini kedai benar-benar ramai. Tanpa kata, baekhyun menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.
Sudah sekitar 15 menit chanyeol duduk dihadapan baekhyun, dan tidak ada pembicaraan apapun antara keduanya. Baekhyun sibuk menghabiskan makanannya, dan chanyeol sibuk mengamati wajah manis dihadapannya.
"ekhm" Chanyeol berdeham, mencoba menarik atensi pria mungil didepannya. Tapi sekali lagi baekhyun tak menggubris. chanyeol mencoba membuka pembicaraan, "terimakasih untuk yang tadi" Baekhyun mengalihkan pandangan, menatapnya dengan wajah bingung.
"uang" oke, baekhyun paham sekarang
"hmm" dia hanya membalasnya dengan gumaman kecil. Kemudian kembali sibuk dengan kue-kue yang ada didepannya.
"kenapa kau memberiku banyak sekali?"
"karna aku menyukai lagunya" jawabnya sambil memasukkan potongan kue kedalam mulutnya.
"benarkah? Itu lagu kesukaan ku ngomong-ngomong" chanyeol senang mendengar bahwa pria dihadapannya ini juga memiliki selera musik yang sama dengannya. "kau menyukai musik-musik jepang? Apa kau seorang penggemar juga?" tanya chanyeol semangat.
"tidak" jawab baekhyun singkat
"lalu darimana kau bisa mengetahui lagu itu?" chanyeol penasaran, apalagi ini menyangkut band favoritnya. "bagaimana kau bisa menyukainya?"
"hanya.." hening sesaat, sebelum baekhyun melanjutkan kalimatnya "karena seseorang?"
"aah, jadi begitu."
Hening lagi, chanyeol benar-benar tidak suka suasana hening begini. Jadi ia mencoba membuka obrolan baru .
"kau berasal darimana? Melihat dari wajahmu kurasa kau bukan warga lokal" tanya chanyeol.
"Korea" jawabnya.
"Kebetulan sekali, aku juga dari korea, kau dari daerah mana? Aku berasal dari Seoul" baekhyun hanya diam, enggan menanggapi.
"kau sudah lama tinggal disini?"
"kau tinggal dimana?"
"apa kau pindah kesini dengan keluargamu? Atau kau hidup sendiri?" baekhyun masih bergeming. Ia memasukkan potongan terakhir strawberry shortcake kedalam mulutnya.
"kurasa kau lebih muda dariku, berapa usiamu?"
"kau terlalu banyak bicara" baekhyun mulai jengah dengan berbagai macam pertanyaan yang chanyeol lontarkan. Lagipula dia hanya orang asing, kenapa ingin tahu sekali. Benar-benar menyebalkan.
"m-maaf," apa pertanyaanya berlebihan? chanyeol jadi merasa tidak enak. Sepertinya dia terlalu lancang dan banyak bicara.
Chanyeol menggaruk lehernya yang tidak gatal, merasa canggung sekarang "ngomong-ngomong, siapa namamu?"
Baekhyun hanya diam, menatapnya malas. "ayolah, aku hanya ingin berteman. Lagipula kita sama-sama dari Korea, dan aku bukan pria jahat" chanyeol membuat wajahnya semelas mungkin.
" Brian" baekhyun sengaja menyebutkan nama Inggrisnya, tidak mau mengambil resiko membuat identitas aslinya terbongkar.
"Namaku chanyeol, tapi karna kita sedang berada di London kau bisa memanggilku Richard" chanyeol mengulurkan tangannya menawarkan sebuah jabat tangan sebagai tanda pertemanan.
Baekhyun mengabaikannya, beralih mengambil tasnya kemudian beranjak pergi dari sana. Meninggalkan chanyeol seorang diri dengan tangan yang menggantung kaku diatas meja.
"wah! Apa-apaan? Dia mengabaikan ku?" chanyeol sakit hati, tidak habis pikir. Bukankah ia sudah bersikap baik dengan menawarkan pertemanan? Lalu apa salahnya dengan berjabat tangan? Dan ada apa dengan tanggapan pria itu?
"untung ini di London, kalau di Korea sudah pasti aku akan mengumpatinya habis-habisan. Aku juga tak akan sudi mengajak berkenalan pria sombong macam itu!" sejujurnya chanyeol memiliki rencana terselubung. Iya, dia sengaja bergabung bersama baekhyun. Melihatnya duduk sendirian dengan wajah asianya membuat chanyeol ingin memintai tolong untuk mencarikannya tempat tinggal. Atau setidaknya untuk menanyakan daerah-daerah sekitar sini. Bukankah orang asia terkenal ramah? Tapi lihatlah, pria tadi benar-benar dingin dan sombong, sangat jauh berbeda dengan wajahnya yang polos. Chanyeol menyesal.
Ini adalah hari ketiga chanyeol berada di London. Uangnya sudah benar-benar menipis, ia tidak bisa menyewa tempat lagi untuk bermalam hari ini. Dia benar-benar terlihat seperti gelandangan sungguh. Sekarang sudah jam 9 malam, dan seingatnya terakhir ia makan jam 10 pagi tadi.
Chanyeol berjalan menuju supermarket dekat taman kota. Sekalian bila tak juga menemukan tempat bermalam ia berencana tidur dibangku taman untuk hari ini. Chanyeol membeli beberapa potong roti dan juga air mineral. Saat hendak membayar makanannya ia menangkap siluet seseorang yang tidak asing menurutnya.
Dan, bagus. Itu adalah pria sombong menyebalkan tempo hari. "Ck" tanpa sadar chanyeol berdecak cukup keras, ia masih kesal dengan kejadian tiga hari lalu ngomong-ngomong. Pria dihadapannya menoleh, melihat sekilas kearahnya kemudian membuang muka. "kenapa juga harus bertemu dengannya disini, membuat mood ku semakin jelek saja" ia menggumam rendah. Tapi masih cukup didengar oleh Baekhyun yang hanya berdiri tiga langkah dihadapannya. "dunia ini benar-benar sempit" Baekhyun merotasikan bola matanya kemudian berbalik menghadap chanyeol. "aku bisa mendengarmu, tuan richard"
"oh, jadi kau masih mengingat namaku?" Tanya pria tinggi itu sarkas.
"kau bisa pergi dari sini jika tak suka melihatku"
"ini tempat umum jadi siapa kau bisa mengusirku?"
"benar, ini adalah tempat umum jadi siapapun bisa berada disini. Begitu pula denganku." Setelah mengucapkan kalimat itu baekhyun berbalik untuk membayar belanjaanya kemudian pergi dari sana.
Setelah pertengkaran kecilnya kini Chanyeol sedang duduk didepan supermarket sambil memakan rotinya. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat pria menyebalkan tadi yang sedang berdiri dipinggir jalan. Sepertinya dia sedang menunggu bus? Atau taxi? Sedari tadi chanyeol memperhatikannya, kalau dihitung hampir setengah jam pria itu berdiri disana.
Sudah jam 10 malam, dan bus yang baekhyun tunggu tak kunjung tiba. Padahal biasanya bus akan datang tepat pukul 21.30, tapi sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda akan menampakkan diri. Pria manis itu mulai lelah, ia menengadahkan kepalanya memejamkan mata sejenak. Lehernya terasa kaku, tubuhnya rasanya benar-benar pegal. Beberapa hari ini ia benar-benar sibuk dengan urusan kampusnya. Apalagi minggu depan adalah jadwal ujian tengah semester. Baekhyun ingin cepat pulang dan segera merebahkan diri dikasur kesayangannya.
Dengan membayangkan kasurnya saja sudah membuatnya tidak sabar untuk segera pulang. Tapi sayang sekali bus yang ditunggunya tak kunjung tiba.
"AWAS!" Baekhyun terkejut, tangannya tiba-tiba ditarik dengan kasar. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, ia jatuh terduduk dengan belanjaannya yang berserakan kemana-mana. Ia masih mematung tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
"YA! KAU TIDAK PUNYA MATA?!" Baekhyun sontak menengadahkan kepalanya setelah mendengar teriakan seseorang, ia melihat kearah dimana pria itu berdiri. "KALAU TIDAK BISA BERKENDARA JANGAN BERKELIARAN DIJALAN! DASAR BAJINGAN SIALAN!!" Baekhyun melihat kearah mana pria itu berteriak. Dan disana ia bisa melihat sebuah mobil yang melaju dengan kencang dan sedikit ugal-ugalan. Sepertinya pengemudinya sedang mabuk.
Chanyeol kembali memusatkan perhatian pada pria manis yang sedang terduduk di tepi jalan itu. "kau baik?" Baekhyun mengangguk, kemudian beranjak memunguti barang belanjaanya yang terserak dijalanan. Ia masih terkejut sebenarnya.
Chanyeol ikut membantu memunguti belanjaanya. Setelah itu mengulurkan tangannya untuk mebantu baekhyun berdiri. Kali ini tangannya bersambut, chanyeol tersenyum tipis melihatnya.
Baekhyun sedikit meringis saat berdiri,
"kakimu terkilir?" chanyeol hendak menyentuh pergelangan kaki baekhyun, sebelum yang lebih pendek mencegahnya "aku baik-baik saja"
"Terimakasih," baekhyun mencicit lirih.
"bukan masalah."
"kalau begitu aku pergi, sekali lagi terimakasih"
" Kau pulang naik apa?" chanyeol bertanya, ia tahu sebenarnya baekhyun sedang menunggu bus.
"sebenarnya aku menunggu bus, tapi kurasa takkan datang hari ini" jawab baekhyun sembari melihat kearah jam tangannya. "sepertinya aku akan jalan kaki"
"tapi kakimu?" chanyeol khawatir apalagi malam sudah cukup larut dan jalanan sudah mulai sepi.
"aku bisa mengatasinya".
"kau yakin? aku bisa mengantarmu jika kau mau" chanyeol menawarkan diri. "tidak terimakasih, aku akan pulang sendiri" baekhyun menolaknya dengan sopan. Selanjutnya beranjak pergi dengan langkah yang sedikit terseok.
Sebenarnya chanyeol ingin masa bodoh, tapi otaknya tak pernah sejalan dengan hatinya. Dan disinilah chanyeol sekarang, mengikuti si pemilik rambut silver diam-diam dari belakang.
Apa ini? setelah menjadi gelandangan kini ia juga menjadi penguntit?
Baekhyun sedari tadi sadar jika ada yang mengikutinya. Dia rasa ini adalah pertama kalinya ia dibuntuti seseorang semenjak tinggal di London. Ia sedikit mempercepat langkahnya, beberapa komplek lagi ia akan sampai. Tapi ia penasaran siapa bajingan yang menguntitnya. Jadi ia memutuskan untuk berbelok dan bersembunyi didekat gang. Tak berapa lama muncul seorang pria dengan hoodie hitam dan topi hitam. Tanpa pikir panjang baekhyun langsung mendorong dan melayangkan pukulan. Tak lupa mengeluarkan jurus hapkido adalannya. Pria asing itu berhasil ia lumpuhkan.
"Argh.. lepas l-lepas! Aku t-tidak b-bbisa b-bernafas" tunggu, ia tidak asing dengan gitar yang teronggok disamping kakinya.
"A-aku bukan o-orang j-jahat, t-tolong l-le-lepaskan" Oh, suara ini baekhyun pernah mendengarnya. Bukankah itu suara pria tadi? Baekhyun sontak melepaskan tangannya dari leher chanyeol. Chanyeol yang berhasil lolos segera mengambil nafas dengan rakus, hampir saja ia mati sia-sia.
"Kau?!" baekhyun sedikit berteriak, sambil memandang chanyeol yang masih tebatuk-batuk, dan berusaha mengatur nafasnya. "kau menguntitku!?"
Chanyeol mengangkat kepalanya membawa pandangannya kearah pria yang hampir membunuhnya "kau hampir membunuhku!"
"salah siapa menguntitku!"
"aku tidak menguntitmu!"
"lalu apa yang kau lakukan disini?" baekhyun masih bertanya-tanya apa yang dilakukan pria kelebihan kalsium ini kalau bukan menguntinya.
"aku? A-aku hanya lewat" alasan macam apa itu? Sungguh chanyeol tidak menemukan alasan yang lebih bagus selain itu.
Baekhyun menatapnya curiga. Chanyeol yangyang ditatap mengalihkan pandangannya"jangan menatapku seperti itu"
"kau berbohong!"
"TIDAK"
"tentu saja, mana ada penjahat yang mau mengaku"
"aku bukan penjahat!" baekhyun hanya memutar bola matanya malas
"terserah"
"baiklah, aku memang mengikutimu. Itu karna aku khwatir melihat kau berjalan dengan sedikit pincang. Hanya itu, tidak ada maksud lain" baekhyun menatapnya menyelidik, masih tidak percaya.
"aku berkata jujur"
Baekhyun masih bergeming
"aku berani bersumpah"
" Aku baik-baik saja, kau bisa pergi sekarang" ia berusaha mempercayai alasan yang chanyeol berikan dan mencoba sedikit mengapresiasi kebaikan pria dihadapannya. Meskipun tetap saja menurutnya itu terlalu berlebihan.
Chanyeol beralih mengambil gitar kesayangannya yang teronggok dijalan. "oke aku akan pergi, tapi sebelum itu tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu?" baekhyun mengernyitkan dahinya, mengatakan apa?
"Apa? Kurasa tidak ada" kalau soal yang tadi bukankah baekhyun sudah mengucapkan terimakasih?
"wah daebak!" chanyeol masih tidak habis pikir dengan pria dihadapannya. Dia hampir membunuhnya dan sekarang tidak ingin meminta maaf? Bahkan menanyakan keadaannya saja tidak.
"baiklah aku pergi" Chanyeol kesal, setelah mengucapkan itu ia benar-benar pergi dari sana.
Setelah chanyeol pergi, baekhyun mengambil plastik belanjaanya yang ia timggalkan disamping tiang listrik. Kemudian melanjutkan perjalanannya. Tapi sepertinya kakinya tidak baik-baik saja sekarang. Terlihat semakin parah, benar-benar terasa sakit bahkan hampir tidak bisa digerakkan. Ini pasti karena ia menggunakan kemampuan bela dirinya tadi. Baekhyun sedikit menyesal telah menghajar chanyeol, karenanya kakinya jadi tambah parah. Dia berusaha sekuat tenaga agar bisa tetap berjalan, apartemennya sudah dekat. Sedikit lagi baekhyun pasti bisa menahannya.
Sebenarnya Chanyeol ingin kembali ke taman kota, tapi sialnya otak pintarnya itu tidak bisa mengingat jalan mana yang harus ia ambil. "Dasar bodoh! Kenapa aku melupakan jalannya?" Chanyeol tersesat sekarang, dia sudah mengitari kawasan ini 3 kali. Ia hanya berputar-berputar dijalan yang sama. Ia sudah lelah dan muak karna tak kunjung menemukan jalan. Akhirnya Ia menyerah, memutuskan kembali ke tempat dimana terakhir kali berpisah dengan baekhyun. Siapa tahu pria itu bisa membantunya.
Beberapa meter dari tempat tadi, chanyeol bisa melihat seorang pria yang menenteng plastik, sedang berjalan dengan terseok-seok. Dilihat dari cara jalannya sepertinya kakinya bertambah parah. Chanyeol menyusulnya, menyamakan langkahnya agar bisa berjalan tepat disamping pria itu.
Baekhyun menolehkan kepalanya pada pria jangkung yang sedang berjalan disampingnya. "Kau lagi? Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengikutiku?"
"aku tidak mengikutimu" chanyeol berdalih
"lalu?"
"aku hanya tidak memiliki tempat tujuan, dan aku lupa jalan menuju taman kota"
"kau tidak punya tempat tinggal?"
Chanyeol sedikit meringis "iya"
"jadi kau seorang gelandangan?"
Apa pria disampingnya ini baru saja mengatainya gelandangan? Berani sekali! Sungguh chanyeol masih kesal karena masalah tadi. Dan, sekarang pria pendek ini membuatnya semakin kesal.
Oke, chanyeol memang tidak punya uang sekarang, tapi ia bersumpah kalau rekeningnya telah kembali bahkan ia bisa membeli sebuah apartemen mewah saat ini juga.
"aku bukan gelandangan" chanyeol berusaha menahan emosinya.
"kalau begitu apa? pengemis?"
"kau benar-benar!" chanyeol sudah hampir meledak jika saja ia tak ingat kalau masih membutuhkan bantuan pria disampingnya.
"baiklah, terserah kau mau menyebutku apa. Yang jelas aku butuh tempat tinggal sekarang. Aku kabur dari rumah, ayahku membekukan semua rekeningku jadi aku tak punya apa-apa sekarang. Hanya tersisa ini" ia mengeluarkan dua lembar uang pecahan 100.000 won, hanya ini uang yang ia punya.
"Kau menggunakan won di London?"
"aku belum sempat menukarnya, terakhir kali aku hanya menukarkan 300.000 won dan uang itu sudah habis sekarang." Baekhyun sedikit kasihan padanya. Lagipula ini hampir tengah malam, pasti akan sangat sulit mencari penginapan.
"kau bisa ikut denganku " anggap saja ini sebagai balas budi baekhyun.
"apa kau tidak keberatan? Aku jadi merasa tidak enak" sebenarnya chanyeol hanya basa-basi.
"anggap saja kita impas"
"terimakasih" Akhirnya hari ini chanyeol bisa bernafas lega karena tidak jadi bermalam di bangku taman.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Sebenarnya chanyeol tak tega melihat baekhyun, sedari tadi ia meringis menahan sakit pada kakinya. Ia sudah mencoba membantu, menawarkan diri untuk membawakan belanjaanya bahkan menggendongnya. Namun selalu penolakan yang ia dapat. Tapi bukan chanyeol namanya kalau ia menyerah begitu saja. Otak pintarnya kini sudah bisa berfungsi lagi dengan baik, jadi ide-ide brilian mulai bermunculan. Kalau baekhyun keras kepala maka chanyeol lebih dari itu.
Tiba-tiba chanyeol berlutut didepan baekhyun.
"apa yang kau lakukan?" baekhyun bertanya-tanya apa yang tengah dilakukan pria dihadapannya ini.
"naiklah, aku tahu kakimu pasti sakit" chanyeol masih berlutut, sambil membenarkan letak gitar kesayangan didadanya
"tidak perlu" baekhyun menolak untuk yang kesekian kalinya, pria ini benar-benar mau menggendongnya?
"aku memaksa, ini sudah malam."
"aku bisa jalan sendiri" chanyeol mendengus mendengar penuturan baekhyun, ia benar-benar keras kepala.
" sedari tadi kita bahkan belum keluar dari jalan ini"
Baekhyun terdiam, memang benar bahwa sedari tadi mereka berjalan sangat lambat. Lebih tepatnya dia yang berjalan lambat dan chanyeol hanya menyesuaikan langkahnya.
"cepat naik, ini sudah malam tidak akan ada yang melihat" Chanyeol berusaha meyakinkan lagi
Baekhyun masih menimang-menimang, haruskah ia naik? Tapi ia malu. Tidak, lebih tepatnya gengsi. Tapi jika tidak, mungkin besok pagi mereka baru sampai di apartmennya.
"Kalau kau tidak mau naik dengan sukarela, aku akan menggendongmu dengan paksa!" Chanyeol mulai geram.
Sepertinya kali ini baekhyun harus memilih untuk membuang egonya. Dengan perlahan ia melangkah maju, sedikit merendahkan tubuhnya kemudian mengalungkan tangannya ke leher chanyeol. Chanyeol mengambil belanjaan baekhyun, menentengnya sedang tangan satunya menahan tubuh pria dibelakangnya agar tidak terjatuh.
Jujur baekhyun merasa gugup, entah karena alasan apa. Tapi yang jelas ia gugup sekarang.
"apa apartemenmu masih jauh?" chanyeol bertanya
"tidak, kau hanya perlu berjalan 100 meter lagi" chanyeol mengangguk sambil melanjutkan langkahnya.
Mereka berdua sudah sampai di apartemen baekhyun. Dan kini sedang menunggu lift
"lantai berapa?" Tanya chanyeol.
"4" jawab baekhyun. "kau bisa menurunkanku sekarang, bukankah aku berat?" baekhyun merasa tak enak, ia sedikit sungkan karena banyak merepotkan pria itu hari ini.
"tanggung, sekalian saja. lagipula kau tidak berat, begini-begini aku rutin pergi ke gym jadi menggendongmu tidak ada apa-apanya" chanyeol memang memiliki tubuh yang atletis, dan itu semua berkat kerja kerasnya selama ini. Baekhyun hanya bisa pasrah mendengar penuturan chanyeol.
Baekhyun menyuruh chanyeol menunggu didepan pintu apartmennya, sedangkan dirinya masuk kedalam. Setelah 5 menit, baekhyun kembali dengan membawa sebuah kunci ditangannya. Kemudian memberikannya pada chanyeol. "Ini, kau bisa menginap di apartmen sebelah. Aku sudah meminta ijin pada pemiliknya" chanyeol menerima kunci yang baekhyun berikan.
"kau juga bisa menggunakan kamar mandinya, di dalam ada 2 kamar kau bebas memilih mau tidur dimana" chanyeol hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mendengar penuturan yang diberikan.
"satu lagi," chanyeol yang sudah hendak beranjak dari sana, mengurungkan langkahnya.
"mungkin didalam sedikit berdebu, karna sudah lama tidak ditempati" baekhyun melanjutkan penuturannya.
"tidak masalah aku bisa membersihkannya" baekhyun menganggukkan kepalanya. setelah itu mereka masuk kedalam pintu apartemen masing-masing.
...
..
.
TBC
.
..
...
Ini karya pertama ku, jadi maaf kalau banyak kekurangan. Mohon maaf kalo banyak typo dan penulisan yang kurang enak dibaca. Aku baru belajar nulis, jadi maklumin ya .
Buat yang mau kasih kritik dan saran juga boleh banget.
