LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

Chanyeol memasuki apartemen yang akan ia tempati. Tidak terlalu besar tapi cukup terawat dan nyaman. Terdapat dua kamar sama besar yang saling bersebelahan, ruang menonton tv, dapur, ruang makan, serta sebuah kamar mandi. Perabotan dapurnya cukup lengkap, chanyeol bisa menggunakannya jika ingin. Tapi sayangnya tidak ada apapun untuk saat ini. Semuanya terlihat bagus, hanya saja sedikit berdebu. Seperti yang baekhyun katakan.

Chanyeol memilih satu kamar untuk ia tempati. Meletakkan gitar kesayangannya di ujung ruangan. Selanjutnya mengambil tas untuk mengeluarkan satu-satunya baju yang masih bersih dari sana. Chanyeol hanya punya 3 baju ganti termasuk yang ia pakai, itu saja baru ia beli ketika di London.

Setelah siap dengan baju ganti, ia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sudah seharian ini ia tidak menyentuh air samasekali. Tubuhnya terasa lengket, tidak nyaman. Sebelum benar-benar menginjakkan kakinya ke kamar mandi tiba-tiba ia berhenti. sebentar, chanyeol jadi kepikiran sesuatu. Ia mengendusi sebagian anggota tubuhnya, mengecek sebau apa aromanya. Setelah itu menghela nafas lega sambil sedikit menganggukan kepalanya. Chanyeol bersyukur karena tubuh atletisnya tidak sebau yang dipikirkan. 'Semoga Brian tidak mencium bau apa-apa saat aku menggendongnya tadi' monolognya dalam hati.

Matahari sudah terbit berjam-jam lalu. Tapi seseorang masih bergelung nyaman dengan selimutnya. Suara bel pintu sedari tadi terus berteriak minta agar pintu segera dibuka. Mulai terusik. Chanyeol, sosok dibalik selimut itu menggeliat, meregangkan tubuhnya kemudian membuka mata. Menengok kearah jam diatas meja. Terdengar suara decakan keras keluar dari belah bibirnya. Bagus sudah jam satu siang. Padahal rencananya dia akan mencari kerja hari ini. Tapi jam segini ia malah baru bangun, dasar payah. Chanyeol beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu. Berjalan dengan sedikit sempoyongan.

CKLEK

Disana berdiri pria pendek dengan sebuah piring ditangannya.

"kau baru bangun?" tanya pria itu, chanyeol hanya menganggukan kepala. Nyawanya masih belum terkumpul dengan sempurna.

"Masuklah" ucap chanyeol sambil membukakan pintu lebih lebar.

"tidak perlu, aku hanya mau memberikan ini" ucap baekhyun, sang pelaku yang telah mengganggu tidur nyenyak chanyeol.

"letakkan saja didapur, aku mau mencuci muka" suaranya semakin mengecil diakhir kalimat. Bersamaan dengan sosoknya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi. Meninggalkan baekhyun yang masih berdiri didepan pintu.

Tak ada pilihan lain selain masuk kedalam sana. Baekhyun meletakkan piring berisi spaghetti itu di meja makan. Setelahnya ia melihat-lihat keadaan apartemen yang chanyeol tempati. Cukup lama ia tidak berkunjung kemari. Terakhir kali sepertinya saat Alice mengundangnya makan malam. Kurang lebih 1 bulan lalu, sebelum wanita itu pergi mengunjungi putrinya.

Chanyeol muncul dengan wajah yang lebih segar. "apa yang kau bawa?" tanyanya.

"spaghetti" jawab baekhyun sambil menolehkan kepalanya kearah chanyeol.

"kau memasaknya sendiri?" yang lebih tinggi sambil mendudukkan diri dikursi depan baekhyun.

"tidak, itu dari temanku. Dia membawa terlalu banyak jadi aku memberikan sebagian untukmu" Temannya datang pagi tadi. Mendengar Baekhyun sakit mereka berkunjung dengan membawakan makanan serta obat.

"temanmu baik sekali " ucapnya sambil mulai mencicipi makanan yang baekhyun bawa. "bagaimana kakimu?" tanya chanyeol disela-sela mengunyah makanannya.

"lebih baik"

"bagus, jangan lupa mengompresnya dan jangan lupakan obatmu" lanjutnya

Suasana menjadi sedikit hening.

Hanya ada suara dentingan garpu, yang beradu dengan piring. Chanyeol sibuk dengan acara makannya. Melupakan sosok yang sedari tadi tengah memperhatikannya.

"kau bisa tinggal disini" baekhyun membuka pembicaraan.

"benarkah?" matanya berbinar, dengan cepat mengalihkan perhatian dari piring spaghettinya. Chanyeol senang mendengar penuturan pria didepannya.

"iya, alice bilang dia akan menyewakan apartemennya"

"alice?" chanyeol bertanya-tanya siapa itu alice.

"pemilik apartemen ini."

" Ah, jadi pemiliknya bernama Alice. Kalau boleh tahu berapa biaya sewanya?" chanyeol sedikit harap-harap cemas. Takut jika biaya sewanya mahal, ia mana punya uang.

" aku lupa menanyakan soal itu. Kau bisa tinggal dan membayarnya nanti. Alice bilang akan menyewakannya karna ia tak akan kembali dalam waktu dekat." baekhyun munuturkan

"memangnya dia dimana?" inilah chanyeol dengan segala jiwa keingin tahuannya

"Swiss, rumah putrinya"

"oh jadi begitu. Baiklah, kabari aku secepatnya jika sudah diputuskan" baekhyun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

Chanyeol beralih untuk membersihkan apartemen setelah baekhyun pergi. Mulai dari menyedot debu, mengepel, menyikat kamar mandi, merapikan dapur dan terakhir mencuci baju untuk kemudian dijemur. Sejujurnya ini pertama kali chanyeol melakukan semua pekerjaan ini. Dirumahnya dulu ia mana pernah. Lagipula untuk apa repot-repot, sudah ada belasan maid yang akan melakukannya.

Chanyeol adalah putra semata wayang pemilik Leon Group. Sang pewaris utama di keluarga Park. Kekayaannya tak perlu dipertanyakan lagi. Orangtuanya memiliki puluhan Hotel bintang lima yang tersebar disetiap penjuru Korea, China, dan Jepang. Ibunya juga seorang pemilik sekaligus pendiri restoran Italia yang sangat terkenal di Korea. Memiliki cabang diberbagai daerah di negaranya. Sedangkan sang kakak adalah seorang designer muda, bergerak di bidang fashion. Baru saja meluncurkan sebuah brand yang kini tengah hangat diperbincangkan. Chanyeol adalah seorang penggila musik, dia benar-benar jatuh cinta dengannya. Mimpinya adalah menjadi musisi sekaligus komposer terkenal. Yang bisa menciptakan berbagai lagu hebat. Dia telah menyusun rencana hidupnya bahkan sejak sekolah dasar. Berusaha semaksimal mungkin agar bisa mewujudkanya.

Tapi semua hanya tinggal angan. Posisinya sebagai pewaris utama, putra tunggal Park Sung Jin membuatnya harus membuang jauh-jauh semua mimpinya. Ia telah diajarkan tentang bisnis dan perusahaan sejak usianya menginjak 13 tahun. Hidupnya benar-benar telah terprogram. Ia bahkan tak memiliki cukup waktu untuk sekedar bersenang-senang dengan kesukaannya. Orang tuanya menolak mentah-mentah keinginannya menjadi seorang pemusik. Chanyeol selalu memberontak, ia tidak mau mewarisi bisnis ayahnya. Dia benci hidup diatur-atur. Tapi ibunya selalu berhasil membujuknya, Chanyeol benar-benar lemah jika ibunya sudah menangis. Dan berakhir menerima apapun perintah sang ayah.

Tapi kesabarannya memiliki batas, puncak kemarahannya tiba setelah mendengar kabar bahwa ia akan dijodohkan. Chanyeol marah besar, ia sudah berada diambang kesabaran. Ia tidak bisa lagi hidup sebagai robot untuk ayahnya. Ia benar-benar tak akan menerima perjodohan itu. Ini menyangkut kehidupannya dimasa depan. Dengan siapa kelak ia akan menghabiskan sisa hidup. Hanya dirinya yang berhak menentukan pasangan hidupnya, bukan orang lain. Karena alasan itulah chanyeol membulatkan tekatnya untuk pergi dari rumah.

Sudah dua minggu sejak chanyeol tinggal diapartemen. Kini pria itu sedang berdiri didepan lift, dia baru saja pulang kerja. Chanyeol berhasil mendapatkan pekerjaan, Ia bekerja disebuah cafe. Melayani para pembeli sambil merangkap sebagai penyanyi diakhir minggu. Bayarannya lumayan, bisa ia tabung untuk membayar biaya sewa apartemen.

Perhatiannya teralih pada siluet seseorang yang tengah berjalan kearahnya dengan sekotak kardus besar ditangan. Kardus itu menutupi wajah dan sebagian besar tubuhnya. Hanya melihat dari perawakan chanyeol tahu siapa sosok dibaliknya. Dia adalah pria mungil yang tinggal disebelah apartemennya.

"hai. Selamat malam " Chanyeol meyapa.

"selamat malam" balas baekhyun, sambil berusaha mendongakkan wajahnya melihat siapa yang tengah menyapa. Karna sedari tadi pandangannya terhalang kardus yang ia bawa.

"kau butuh bantuan? " chanyeol menawarkan, kotak yang baekhyun bawa terlihat berat dan si mungil nampak kesulitan.

"tidak trimakasih" seperti yang chanyeol duga, baekhyun menolak. Sebenarnya chanyeol tidak mengerti mengapa baekhyun selalu menolak bantuannya.

"tentu saja" tanpa persetujuan, chanyeol langsung mengambil alih kardus yang ada ditangan baekhyun.

Baekhyun menghela nafas, pria disampingnya ini tidak pernah mau mendengarkan. Selalu melakukan apapun yang ia inginkan. Baekhyun tidak suka jika seseorang terlalu banyak membantunya. Itu membuatnya merasa memiliki hutang budi yang harus dibayar suatu saat nanti.

Baekhyun membuka pintu apartmennya, mempersilahkan chanyeol masuk dan duduk. Chanyeol meletakkan kardus yang ia bawa diatas meja depan televisi. Ia duduk di sofa sambil mengamati apartemen milik sang tetangga. Ini pertama kalinya chanyeol berkunjung. Apartemen ini tak jauh berbeda dengan miliknya, terlihat bersih dan rapi. Hanya saja banyak lukisan yang menghiasi, tergantung dengan apik disetiap tembok ruangan.

"aku hanya punya ini" baekhyun datang dengan dua kaleng minuman ditangannya. Memberikan satu untuk chanyeol.

"terimakasih" Chanyeol mengalihkan pandangannya dari lukisan-lukisan yang tengah ia amati. "Kau suka mengoleksi lukisan?"

"tidak juga" jawab baekhyun santai

"lalu semua ini?" tanya chanyeol sembari menunjuk dimana lukisan-lukisan itu terpajang.

"karyaku" singkatnya

"kau seorang pelukis? Wah hebat sekali" chanyeol takjub, sekali lagi membawa arah pandangnya untuk mengamati lukisan-lukisan di dinding.

"aku seorang mahasiswa seni, sebagian besar lukisan ini dari tugas kuliah" baekhyun menjelaskan, sambil membuka kaleng minuman ditangannya.

"Ah, jadi kau masih kuliah?" tanya chanyeol sambil menatap dimana pria mungil itu tengah menyesap minumannya.

"Aku sedang menyelesaikan S2 ku" jawaban pria itu sembari mengelap sisa air diatas bibir tipis sewarna cherrynya.

Tunggu dia sedang menyelesaikan S2? Lalu berapa usianya?

"berapa umurmu?" tanya chanyeol lagi

"25" jawab baekhyun singkat. Chanyeol melebarkan matanya, sungguh dia kira pria disampingnya ini masih berumur 20 tahun. Tidak menyangka jika dirinya bahkan lebih muda dari pria cantik ini.

"ada apa dengan matamu? " baekhyun mengernyit menatap heran, sedikit merasa takut juga sebenarnya. Mata chanyeol itu lebar dan sekarang dia malah memelototinya.

"Aku kira kau masih 20 tahun?! Kau pasti berbohong kan? Mana mungkin dengan wajah seperti ini kau berusia 25?? Bahkan aku terlihat lebih tua darimu" chanyeol tercengang, dia tidak percaya. Wajah baekhyun itu terlalu imut, sungguh. mana mungkin dia lebih tua darinya.

"Memangnya berapa usiamu?" kini baekhyun balik bertanya.

"Aku 24, tapi lihatlah wajahku terlihat jauh lebih tua darimu. Aku tidak terima ini. Kenapa Tuhan tidak adil? " chanyeol mengungkapkan rasa tidak terimanya, sekarang dia sedang merengek jika wajahnya terlihat tua. Baekhyun yang ada disampingnya merasa jika chanyeol sangat kekanakan, ini masalah sepele kenapa dia merengek seperti itu?

"kau kekanakan Richard" timpal baekhyun sambil tersenyum.

Chanyeol yang sedari tadi sibuk merengek langsung memusatkan seluruh atensinya pada baekhyun. Sejauh ini chanyeol hanya melihat wajah tanpa ekspresinya. Ini pertama kali ia melihat pria itu tersenyum. Matanya menyipit seperti bulan sabit. Chanyeol tak bisa mengalihkan tatapanya, senyuman itu terlalu indah untuk dia lewatkan. Benar-benar cantik. Chanyeol melihatnya sampai akhir, sampai wajah itu kembali berekspresi datar seperti biasanya.

Baekhyun yang ditatap sedemikian rupa merasa tidak nyaman. Dia mengusap-usap wajahnya. "apa ada yang salah?"

Tidak ada jawaban

Baekhyun bingung, kemudian kembali mengusap wajahnya takut-takut ada sesuatu disana.

"Cantik"

Baekhyun lekas menghentikan pergerakan tangannya, dia mematung. Otaknya berusaha mencerna kata yang barusan ia dengar.

"Kau terlihat lebih cantik saat tersenyum"

..

.

.

TBC

Terimakasih banyak untuk yang sudah menyempatkan membaca cerita ini. Dan special thank's juga untuk byunmanyu. Terimakasih sudah memberikan komentar dan dukungannya, kamu juga Fighting!!!

Dan terimakasih juga untuk pembaca lain yang sudah favorite dan follow cerita ini.

See you in next chapter