LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

" Tidakkah bajumu terlalu formal?" chanyeol mengangkat kedua alisnya kemudian melihat bagaimana caranya berpakaian. Tapi ia merasa biasa saja. "kurasa tidak"

"tapi menurutku ini tidak cocok dengan konsep yang telah aku buat"

"lalu aku harus bagaimana?"

"aku ingin menyampaikan sebuah kebebasan dalam lukisanku" baekhyun terlihat berfikir sejenak kemudian melanjutkan "bagaimana jika aku melukismu telanjang?"

Chanyeol seketika membelalakkan matanya, terkejut bukan main "APA??"

Baekhyun tersentak, chanyeol baru saja meneriakinya tepat didepan wajah.

"TIDAK, aku tidak mau" ucapnya sambil memeluk erat tubuhnya sendiri.

Mendapati reaksi berlebihan chanyeol, baekhyun terkekeh, "hehehe, aku hanya bercanda" ucapnya dengan santai.

Chanyeol masih shock dan tidak dapat berkata-kata asal kalian tahu.

Setelah berhasil menghentikan kekehannya baekhyun menjelaskan "sebenarnya aku sudah menyiapkan baju untukmu" ia berjalan menuju sebuah laci meja di sudut ruangan. Mengambil sebuah paper bag berlogokan salah satu brand pakaian ternama.

"pakai ini" baekhyun menyerahkan paper bag berisi satu setel pakaian itu pada chanyeol "kau bisa ganti baju di kamar mandi"

Chanyeol menghela nafas lega, bersyukur karena baekhyun tidak serius dengan ucapannya. Ia mengambil paper bag itu kemudian pergi ke kamar mandi. Selagi chanyeol berganti baju, baekhyun menyiapkan sebuah kursi untuk diletakkan ditengah ruangan. Menatanya sedemikian rupa agar sesuai seperti yang ia inginkan.

Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka. Baekhyun secara otomatis mengalihkan atensinya.

"Wah terlihat bagus, benar-benar sesuai dengan yang ku harapkan" chanyeol kembali dengan sebuah hoodie hitam dan celana jeans senada yang robek di kedua bagian lututnya.

Terkesan lebih sederhana dan santai daripada baju yang ia kenakan tadi. Baekhyun serius ingin menonjolkan sebuah aura muda dan bebas dari modelnya.

"oke mari kita mulai. Kau bisa duduk disini" ucap baekhyun sambil menepuk kursi disebelahnya. Chanyeol menurut, perlahan ia mulai mendudukan diri disana.

"sandarkan tubuhmu, selanjutnya angkat dan tekuk satu kakimu. Kau bisa merilekskannya dan biarkan kakimu menempel pada sandaran samping kursi"

"seperti ini?" tanya chanyeol,

"Iya. Nah bagus, dan letakkan gitarmu secara vertikal. Kau bisa menempatkan kedua tanganmu. Kemudian sandarkan pegangan dipundak seolah-olah sedang memeluknya" Bibir tipis itu sedari tadi sibuk memberikan instruksi pada chanyeol.

"tidak, jangan mendekapnya terlalu erat. Hanya letakkan kedua tanganmu, jangan benar-benar memeluknya." Chanyeol merenggangkan dekapannya pada gitar kesayangan, menuruti apa yang baekhyun perintahkan.

"Bagus, pertahankan posisimu. Selama aku melukismu nanti arahkan wajahmu padaku dan usahakan jangan banyak bergerak" setelah mengatakan itu baekhyun kembali ke tempatnya, duduk dihadapan sebuah kanvas berukuran 1 x 1,5 meter.

Belum genap 5 menit duduk, baekhyun kembali bangkit menghampiri chanyeol.

"aku rasa rambutmu harus sedikit berantakan agar terlihat lebih natural" ia mendekat menuju pria tinggi itu. Meletakkan jari-jari lentiknya dirambut pria yang lebih tinggi. Mengusaknya perlahan, dan hati-hati.

Bisa melihat baekhyun dari jarak sedekat ini adalah pertama kalinya bagi chanyeol. Ia tak melewatkan untuk memandang bagaimana bulu dimata pria itu bergerak saat berkedip. Ia bahkan menghirup dalam-dalam aroma khas strawberry yang menguar manis.

Jantungnya kembali bergemuruh. Selalu seperti ini saat ia berada dekat dengan pria yang tengah sibuk menata rambutnya.

"Nah, sekarang kau terlihat sempurna" baekhyun memberi tepukan terakhir. Menghadiahi seringai manis sebelum beranjak kembali menuju kanvasnya.

Terhitung sudah satu jam baekhyun mengerjakan lukisannya, dan selama itu pula keheningan menemani mereka berdua. Bukannya chanyeol jadi pendiam sekarang, tapi ia hanya takut mengganggu konsentrasi pria dihadapannya jika ia mengajaknya mengobrol. Baekhyun nampak begitu fokus memvisualisasikan apa yang ditangkap oleh kedua maniknya.

"kau bosan?" baekhyun memecah keheningan.

"tidak,"

Chanyeol adalah tipe orang yang mudah bosan sebenarnya. Tapi anehnya dia sama sekali tidak merasakan itu sekarang. Ia terlalu fokus menikmati keindahan paras baekhyun didepan sana.

"Maafkan aku jika ini sedikit merepotkan untukmu" mendengar itu chanyeol dengan cepat menyahut. "Tidak sama sekali, aku menikmatinya tenang saja" .

Baekhyun menanggapinya dengan anggukan samar. Kemudian melanjutkan "aku bahkan belum menyelesaikan setengahnya, jika kau merasa pegal kau bisa mengatakan padaku. Jadi kita bisa mengambil waktu istirahat sebentar."

"oke aku mengerti"

Mereka berdua masih melanjutkan kegiatan. Sesekali mereka berbincang, tapi lebih banyak chanyeol yang bercerita. Diawali dengan pembicaraan ringan seputar kesukaannya tentang musik, Siapa penyanyi favoritnya, band kesukaanya, dan alat musik kesayangannya. Pria bertelinga yoda itu bahkan tanpa sungkan menceritakan bagaimana ia bisa berakhir di London. Membicarakan tentang kedua orang tuanya, kakaknya, dan juga rencana pertunangannya. Baekhyun mendengarkan celotehan pria itu dengan seksama, menanggapi seadanya sambil tetap fokus dengan kuas ditangannya.

"aku rasa kita butuh istirahat" ujar baekhyun sambil meletakkan palette dan kuasnya. Kemudian bangkit untuk melepas apron ditubuhnya.

Chanyeol yang mendengar itu merasa senang tentu saja. Demi tuhan tubuhnya benar-benar terasa kaku. Ia bergerak perlahan untuk bangkit dari kursi, kakinya kebas. Ia meletakkan gitarnya, kemudian meregangkan tubuh. "Aah lega sekali"

"sebentar lagi jam makan siang, kau mau makan apa?" baekhyun bertanya.

Chanyeol terlihat berpikir sejenak, tapi pria itu berakhir dengan mengatakan "terserah kau saja"

"bagaimana dengan sekotak pizza?" tawar sang pria bersurai silver .

"Pizza? Itu tidak sehat. Tapi boleh juga" baekhyun menatapnya datar. Sedangkan chanyeol hanya memberikan cengiran bodoh.

Baekhyun tengah duduk di sofa sambil mengamati benda pipih yang menayangkan acara kesukaanya. Sedangkan Chanyeol, pria itu sedang berada dikamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara bell pintu yang ditekan dari arah depan, bersamaan dengan sosok chanyeol yang keluar dari bilik kamar mandi.

"biar aku saja" chanyeol segera berjalan kearah pintu apartmen baekhyun. Pesanan mereka telah tiba, tp chanyeol sedikit bingung. Kenapa ada banyak sekali pizza? Bukankah baekhyun bilang ia akan memesan satu? Chanyeol menenteng kotak-kotak pizza itu masuk, tanpa bertanya lebih lanjut pada si kurir.

"Brian, kau memesan 4?"

Baekhyun yang merasa dipanggil mengalihkan atensinya "oh itu, aku tadi lupa menanyakan varian apa yang kau suka jadi aku berinisiatif untuk memesan beberapa varian yang ada. Tapi mereka bilang hanya tersisa 4 varian, jadi aku memesan semuanya" jelasnya. Chanyeol hanya bisa menganga, tak habis pikir dengan apa yang barusan tetangganya lakukan.

"bukankah ini terlalu banyak?" tanya chanyeol yang lebih seperti pernyataan. Ia meletakkan keempat kotak pizza itu dimeja depan tv.

"Apa menurutmu begitu?" sahut baekhyun dengan sebuah pertanyaan lain.

"tentu saja. " jawab chanyeol cepat, sedikit menekankan suaranya.

Tak terlalu memusingkan ucapan chanyeol pria manis itu beranjak untuk mengambil beberapa botol cola di kulkas, sekalian mencuci tangannya di dapur. Sedangkan Chanyeol mengekori dibelakangnya.

Mereka berdua kembali duduk di sofa depan televisi, membuka satu kotak pizza secara acak untuk segera di santap. Beberapa menit dalam keheningan, chanyeol tidak tahan untuk tidak membuka sebuah obrolan.

"jadi kau tinggal sendiri?" baekhyun menolehkan kepalanya, kemudian mengangguk.

"sudah berapa lama kau tinggal disini?" tanya chanyeol lagi

"10 tahun, kurang lebih"

"Wah, sudah lama ternyata. Kau kuliah dimana?"

"UCL"

"Kampus yang bagus, aku dengar jurusanmu adalah yang terbaik disana, lebih baik daripada di Oxford. Lalu Dimana orang tuamu?" mendengar pertanyaan itu seketika membuat baekhyun kaku. Wajahnya yang memang datar kini menjadi muram. Menyadari perubahan pada pria bermata sabit membuat chanyeol jadi sangsi.

Apa aku baru saja menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya?

"Apa kau-" belum sempat menyelesaikan pertanyaan lain baekhyun menyela "Jangan berbicara saat makan" pria itu menghentikan chanyeol untuk menanyakan pertanyaan lain. Dan sejujurnya ia memang tidak suka jika seseorang mengajaknya bicara saat sedang makan begini.

"M-maaf" entah mengapa ini seperti de javu, mengingatkan chanyeol pada awal pertemuan mereka. Tapi tak bertahan lama ucapan baekhyun membuat chanyeol tersenyum kecil.

"kau seperti ibuku, dia juga selalu mengomeliku karena aku terus berbicara saat makan." chanyeol menjeda "Bagaimana ini, aku jadi merindukannya" Mendengar itu sebuah kalimat secara otomatis meluncur dari belah tipis si lelaki manis "Kalau begitu pulanglah, dia pasti juga merindukanmu."

Chanyeol hanya membalasnya tersenyum. Setelah itu mereka berdua kembali melanjutkan makannya dengan tenang.

Tapi sepertinya mulut chanyeol memang tidak bisa diam. 10 menit berselang pria itu kembali membuka suara.

"Maaf jika aku lancang dan terkesan ingin terlalu banyak tahu. Kau adalah orang yang sangat tertutup, sebenarnya aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Karena kau adalah satu-satunya orang yang kukenal sekaligus temanku disini" Penuturan itu membuat baekhyun jadi merasa sedikit tidak enak.

Chanyeol hanya bermaksud mengakrabkan diri dengannya. Tapi mau bagaimana lagi ia memang pribadi yang cuek dan terlalu menutup diri dengan orang baru. Walau tanpa chanyeol sadari sebenarnya perlahan ia telah berusaha untuk lebih terbuka padanya. Entah mengapa ia mulai mempercayai pria tinggi itu.

"Jangan memendam sendirian apapun masalahmu, kau bisa membaginya denganku." Entahlah chanyeol hanya merasa jika baekhyun menyembunyikan sesuatu dibalik sifat tertutupnya.

"hmm hmm" baekhyun menjawabnya dengan gumaman, menganggukan kepalanya beberapa kali. Rambut silvernya ikut bergerak-gerak, sedangkan mulutnya penuh dengan makanan. Terlihat begitu menggemaskan untuk diamati.

Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya baekhyun bangkit. Chanyeol yang tepat berada disampingnya reflek menarik tangannya. "kau mau kemana?"

Baekhyun menatapnya bingung merasa aneh dengan tingkah dan pertanyaan yang dilontarkan pria kelebihan kalsium itu. "tentu saja mencuci tanganku"

"lalu siapa yang akan menghabiskan semua ini?" tanya Chanyeol sambil menunjuk pizza-pizza diatas meja dengan dagunya. Mereka berdua hanya berhasil menghabiskan sekitar satu kotak setengah pizza.

"Aku membelikannya untukmu. Tentu saja kau yang harus menghabiskannya." Chanyeol sudah akan protes sebelum yang lebih mungil menambahkan "Kau bisa membawanya pulang"

Sekarang sudah pukul satu, mereka memutuskan untuk menyudahi acara istirahat dan makan siang. Beranjak kembali menuju kegiatan yang sempat tertunda. Kembali memposisikan diri ditempat masing-masing.

"aku menyelesaikan hampir 65% Selanjutnya adalah bagian terpenting, aku akan melukis bagian wajah."

"Hmm.. untuk itu tolong pertahankan ekspresimu. Aku menginginkan sebuah ekspresi dingin dan serius" Baekhyun menjelaskan, secara tidak langsung chanyeol segera membuat wajahnya terlihat seperti apa yang pria itu katakan.

"Tolong untuk terus menatap mataku saat aku melukismu nanti" baekhyun menambahkan sebelum benar-benar memulai kegiatannya.

Kali ini chanyeol sama sekali tidak bisa mengoceh. Ia terlalu fokus mempertahankan raut wajahnya, takut-takut jika ekspresinya berubah. Tak lupa juga terus menatap manik coklat didepan sana. Entah sudah berapa menit atau mungkin jam terlewati. Keadaan benar-benar hening, hanya ada suara detik jam dan deru nafas mereka. Masing-masing terlihat begitu serius dan konsentrasi.

"Kau bilang ingin lebih mengenalku bukan?" Akhirnya yang lebih mungil membuka suara. Chanyeol sudah hampir menjawabnya dengan antusias sebelum secepat kilat mengembalikan mimik wajahnya seperti semula.

"Aku akan membagi beberapa hal denganmu." baekhyun menarik nafas dalam sebelum. Ia sudah meyakinkan diri untuk menceritakan tentang kehidupannya. Membuka kembali trauma masa lalu. Memikirkannya dengan matang dan mempertimbangkan beberapa hal.

Ia memulai "Orang tuaku tinggal di Korea, Seoul. dan aku sudah 10 tahun tinggal disini sendiri. Mereka berdua sangat menyayangiku dan memanjakanku. Keduanya bahkan tak pernah memarahiku saat aku berbuat nakal atau usil. Mereka selalu menuruti apapun yang aku inginkan, aku benar-benar hidup dengan baik." baekhyun tersenyum kecil

"Tapi itu dulu, sebelum aku membuat sebuah kesalahan besar. Kesalahan fatal yang menjadi alasan tubuhku dihajar habis-habisan dan membuatku diusir dari rumah. Sebenarnya tidak benar-benar diusir. Karena mereka tetap membiayai hidupku. Mereka masih terus mengirimiku uang setiap bulannya. Ini lebih seperti... diasingkan." baekhyun tersenyum kecut mengingat ia masih hidup dibawah gelimang harta ayahnya. Chanyeol mendengarkannya, meresapi tiap kata yang keluar dari bibir yang lebih tipis.

"Hari itu ayahku sangat marah. ia memukul, menendang bahkan menginjak. Seluruh tubuhku tak ada yang luput dari hantamannya. Rasanya benar-benar sakit. Saking sakitnya saat itu aku hanya berharap agar kematian segera datang menjemput."

Baekhyun melanjutkan "Aku tidak bisa mengingat apapun setelahnya. Aku terbangun di rumah sakit, tanganku terpasang sebuah infus."

"Aku sendirian. "

"Mereka tak pernah muncul bahkan sampai aku dinyatakan sembuh. Sejak itu aku tak pernah lagi menginjakkan kaki dirumah. Mereka berdua mengirimku ke London ." Baekhyun menghela nafas panjang. Sedangkan Chanyeol bergeming, masih tidak menyangka jika masalah yang pria itu hadapi jauh lebih besar dari yang ia kira.

" Mereka tak pernah menghubungiku, aku juga tak diberi akses untuk mengontak keduanya" Dapat chanyeol lihat bagaimana sorot mata itu bergetar, ia tahu bahwa baekhyun menyimpan banyak kesedihan disana.

"Kau orang pertama yang tahu tentang ini" Baekhyun memaksakan sebuah senyum simpul diakhir kalimat.

Bahkan wendy tak tahu tentang masalahnya. Ini memang agak keterlaluan, mengingat gadis itu telah bersama dengannya sejak awal kepindahan ke London.

Entah mengapa kalimat Chanyeol sedikit banyak mempengaruhinya. Ia memutuskan mempercayai apa yang pria itu katakan. Menceritakan apa yang menjadi beban hidupnya. Dan, sesak itu perlahan menghilang.

"Memangnya kesalahan apa yang kau lakukan?" akhirnya chanyeol membuka suara, terlalu penasaran. Sebesar apa kekacauan yang diperbuat pria manis itu, hingga berakhir seperti ini.

Baekhyun terdiam.

"mungkin lain kali akan kuberi tahu" chanyeol menganggukan kepalanya, tak ingin memaksa yang lebih mungil untuk memberi tahunya lebih jauh lagi.

Tepat pukul 15.00 baekhyun mengakhiri kegiatan melukisnya. Ia rasa sudah cukup untuk hari ini, lagipula ia juga telah menyelesaikan seluruh gambaran besarnya.

"Kita akhiri sampai disini." ujar baekhyun.

Chanyeol sudah akan bangkit dari kursi sebelum baekhyun bersuara.

"Tunggu, aku akan memotretmu terlebih dulu. Aku masih harus menyelesaikan detailnya. Membutuhkan 20% lagi untuk membuatnya sempurna. Kau tidak keberatan kan?"

"Oh tentu, kalau perlu aku bisa datang lagi besok"

"Tidak-tidak, aku rasa sebuah foto sudah lebih dari cukup." baekhyun menolak, ia tidak mau merepotkan chanyeol lebih dari ini.

"baiklah" mendengar itu, baekhyun mengambil ponselnya. Menentukan angle yang tepat kemudian memotretnya.

Chanyeol bangkit untuk meregangkan tubuhnya. Sedikit memutar-mutar kepala. Menoleh ke kiri, ke kanan, atas dan bawah. Lehernya terasa kaku.

"Boleh aku melihat lukisannya?"

"tentu" setelah mendapat persetujuan, chanyeol lekas berjalan menuju kanvas besar itu.

"Woahh ini benar-benar masterpiece, kau melukisku dengan sangat baik. Sangat indah. Sepertinya kau memang berbakat" baekhyun tersenyum mendengar penuturan chanyeol, ikut senang karena pria itu menyukai hasilnya.

"Aku rasa lukisanmu sudah selevel dengan milik Vincent van gogh dan juga siapa pria itu? Yang melukis monalisa.." chanyeol terlihat berpikir, mencoba mengingat-ingat. Baekhyun sudah akan menjawab tapi chanyeol kembali menginterupsi.

"Oh aku ingat namanya Leon-Leonardo diCarprio. Lukisanmu setara dengan lukisannya" Chanyeol tersenyum bangga. Ia jadi merasa kagum sendiri karena tahu beberapa nama pelukis terkenal dunia.

Baekhyun tak bisa menahan tawanya. Kenapa jadi Leonardo DiCarprio? Mereka sedang membicarakan pelukis, bukan pemeran utama dalam film Titanic

"De Vinci. Leonardo de Vinci." baekhyun membenarkan. Sambil masih terkekeh kecil.

"Ah, salah ya" chanyeol menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia merasa malu.

"Tapi ngomong-ngomong apakah aku memang setampan ini? Wajahku benar-benar bagus, karena itu lukisanya jadi terlihat sempurna" chanyeol melontarkan candaannya. Tak berharap baekhyun menanggapi. ia hanya berniat mengenyahkan rasa malunya.

Baekhyun mengendikkan bahunya "yah, aku tidak bisa membantah untuk yang satu itu" menjawab pertanyaan si telinga peri dengan santai.

Puas memandangi lukisan, Chanyeol menolehkan wajahnya. Dari jarak ini ia bisa melihat sebuah noda cat dibawah pelipis baekhyun. Ia sudah mengangkat tangan untuk mengusapnya, tapi urung "Brian, ada cat diwajahmu"

Baekhyun menolehkan kepalanya kesamping, kearah dimana chanyeol berdiri. "Benarkah? Dimana?" tanyanya sambil mengusap wajahnya acak, dan itu sama sekali tak membantu. Yang ada semakin parah karena sisa cat yang menempel ditangannya kini ikut mengotori parasnya.

"Kau membuatnya semakin buruk" tidak tahan lagi, chanyeol segera mengangkat tangannya. Mengusap pelipis hingga bagian bawah mata, menghapus dimana noda-noda itu berada. Baekhyun reflek mengangkat wajahnya sambil memejamkan sipitnya.

Chanyeol mengusapnya perlahan, wajah baekhyun begitu lembut dan halus seperti bayi.

Sebenarnya sudah tidak ada sisa cat disana, tapi chanyeol masih betah menangkup wajah itu. Mengagumi bagaimana indahnya paras rupawan seorang byun baekhyun. Chanyeol tak pernah menyangka berkesempatan untuk membelai lembut kulit seputih susu itu menggunakan ibu jarinya. Mengamati bagaimana mata sabit yang tengah terpejam. Memandangi bagaimana bibir tipis berwarna pink itu sedikit terbuka.

Mulai merasa ada yang janggal baekhyun perlahan membuka kedua kelopak matanya. Ia tersentak saat mendapati wajah chanyeol yang berada begitu dekat dengan miliknya.

Dua pasang manik itu saling bertatapan, saling terkunci satu sama lain. Entah mengapa baekhyun tak ingin mengalihkan pandangan. Sedang chanyeol tanpa sadar mulai mendekatkan wajahnya. Perlahan-lahan mengikis jarak yang ada.

Hal ini Membuat kinerja Jantung yang lebih mungil jadi tidak normal. Organ itu bertalu-talu dengan kerasnya.

Mereka masih sama-sama terjebak dalam binar kilatan netra masing-masing. Hingga Chanyeol perlahan menutup matanya, entah apa yang dipikirkan pria itu. Jarak keduanya semakin terkikis. Sampai dua hidung bangir itu bersentuhan.

Baekhyun yang pertama sadar. Mengantisipasi apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Ia dengan cepat menundukkan wajahnya. Tepat sebelum belah bibir itu saling bertemu. Memutus sepihak tautan yang hampir terjadi. Tangan chanyeol terlepas dari wajahnya.

Gerakan tiba-tiba itu menyentak chanyeol. Mengembalikannya pada akal sehat. Jantungnya berdebar dengan cepat.

Suasana menjadi canggung. Chanyeol masih tidak habis pikir dengan apa yang barusan ia lakukan. Ia berdeham, berusaha menetralkan kembali keadaan. Sekarang ia jadi bingung harus bagaimana. Pria kelebihan kalsium itu benar-benar salah tingkah.

Baekhyun terdiam kaku, masih dalam mode terkejut. Matanya terpaku pada lantai, menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat. Ia sedang berusaha mengendalikan kerja jantungnya. Didalam sana organ itu sedang berdetak begitu keras. Saking kerasnya ia takut kalau chanyeol sampai mendengar.

"B-brian? " panggil chanyeol terbata.

Baekhyun semakin menundukkan kepalanya dalam. Kedua tangannya terkepal, merasa gugup. Tak berani menatap atau sekedar menyahuti chanyeol.

"K-karena ini sudah selesai. J-jadi apakah a-aku- hmm aku.."

Bodoh! Bicara yang jelas Park Chanyeol. Kenapa jadi gagap begini?

Chanyeol jadi bingung sendiri dengan kalimat apa yang ingin ia katakan.

"M-maksudku karena ini sudah selesai, kalau begitu akupamitpulang. A-aku harus bekerja sebentar lagi"

Bohong.

Nyatanya ia masih memiliki waktu luang hingga 5 jam kedepan. Chanyeol hanya tidak tahu harus melakukan apa untuk mencairkan suasana. Jadi ia memutuskan untuk kabur ke apartemennya.

Baekhyun hanya mengangguk, enggan menatap wajah pria berhoodie hitam disampingnya. Ia masih merasa malu ngomong-ngomong .

Menangkap jawaban pria manis itu, tanpa basa-basi chanyeol segera mengambil barangnya. Tak lupa juga dengan sisa pizza diatas meja. Kemudian secepat kilat melesat dari sana. Chanyeol merasa layaknya bajingan pengecut. Seorang pengecut yang pergi begitu saja setelah hampir menodai bibir orang lain.

Tapi masa bodoh, ia akan menyelesaikannya nanti. Yang terpenting sekarang ia harus menetralkan kinerja jantungnya dulu. Rasa-rasanya organ itu akan meledak sebentar lagi.

...

..

.

TBC