LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Chanyeol memasuki apartemennya dengan jantung yang masih berdebar hebat. Merutuki aksi gilanya di apartemen sebelah. Baekhyun bahkan baru setuju untuk lebih terbuka padanya. Dan, Park Chanyeol dengan otak udang itu malah hampir menciumnya hari ini.
Bagaimana jika baekhyun kembali menarik diri setelahnya? 'Dasar Park Chanyeol idiot!' makinya dalam hati sambil memukul kepalanya beberapa kali.
Pria itu meletakkan seluruh bawaannya di sofa. Kemudian beralih menyentuh dada kirinya "Berhentilah berdebar dengan cepat!" monolognya.
Sehari telah berlalu, tapi bayangan itu masih setia menghantui chanyeol. Ia bahkan hampir tidak tidur semalaman. Kantung mata besar kini menghiasi paras rupawannya.
Sedang ditempat lain si manis tengah sibuk mempersiapkan pameran. Hari ini adalah jadwal pengumpulan sekaligus penilaian karyanya. Sudah sejak pagi buta pria itu bersiap. Membawa kanvas besarnya bersama alat-alat lain yang entah apa menuju aula utama fakultas seni.
Sesampainya di aula, banyak mahasiswa lain yang sedang mempersiapkan pameran. Ia juga bisa melihat wendy dan krystal sedang berdiri diujung ruangan.
"Selamat pagi" sapa baekhyun menghampiri keduanya.
"Oh, Brian kau datang" balas wendy
"Hai" jawab krystal singkat, sepertinya moodnya sedang buruk.
"Bagaimana lukisanmu?" Baekhyun membuka pembicaraan.
"Aku melakukan yang terbaik" wendy menjawab antusias. Sedang Krystal bertambah merengut dibuatnya. Baekhyun melihat kearah wendy, wendy yang paham akan tatapan itu hanya mengendikkan bahunya.
"Hey! What's up guys." Vernon menginterupsi. Ini cukup mencengangkan karena pria itu sudah datang di jam ini. Baekhyun dan wendy membalasnya dengan kata Hai dan senyum singkat.
"ada apa ini, oh ada apa dengan wajahmu putri es?"
"Diam kau! Jangan memperburuk suasana hatiku!"
"Ada apa? Ada masalah? " tanya baekhyun mulai penasaran sekaligus khawatir.
"aku kesal!" jawab krystal sambil meremat kedua tangannya.
"kenapa?"
"Kau tau si idiot mark itu? aku memintanya mengerjakan lukisan potret ku. Dan, kau tahu dengan bodohnya dia malah melukis wajahku!" vernon yang mendengar itu hampir meledakkan tawa. Tapi urung saat melihat tatapan membunuh krystal kearahnya.
"Lalu bagaimana caranya aku mengumpulkan tugas ini sekarang?" ia mengangkat lukisannya, wajahnya memerah karena kesal.
"kau katakan saja jika kau sangat terpesona pada dirimu sendiri" jawab vernon asal.
"Dan si Charlotte itu akan menyuruhku melukis ulang atau nilaiku berakhir dengan D atau E"
"Atau katakan saja yang ada di lukisanmu adalah saudara kembar?" wendy memberi saran, sambil menyematkan senyum kikuk diakhir kalimat.
"tidak adakah saran yang lebih baik?" tanya si Jung sambil menatap baekhyun dengan wajah melasnya.
Baekhyun yang mengerti maksud tatapan itu sedikit meringis "Maaf aku tidak memiliki ide untuk yang satu ini. Jadi berharap saja agar Mrs. Charlotte mau berbaik hati" ucap baekhyun dengan wajah prihatin, memberikan tepukan ringan dipundak sang gadis.
"PAMERAN AKAN DIMULAI 1 JAM LAGI. KITA TIDAK MEMILIKI BANYAK WAKTU. DIMOHON AGAR SEGERA BERSIAP" mendengar pengumuman itu lekas semuanya kembali menuju meja display masing-masing. Begitupula dengan baekhyun, wendy, dan vernon. Sedangkan Krystal hanya bisa mengerang frustasi ditempatnya.
Satu jam berlalu, pameran sebentar lagi dibuka. Rencananya pameran akan dibuka dalam 2 sesi. Sesi pertama hanya untuk para dosen pengajar dibidang seni, beberapa seniman handal, dan para tamu undangan. Sedangkan sesi berikutnya akan dibuka secara umum selama 3 hari kedepan.
Empat sekawan itu kembali berkumpul di meja display Krystal. Beruntung keempatnya diberi meja pameran yang berdekatan.
"Aku akan menghadapi ini, Dan kalau wanita itu marah--" baekhyun, wendy, dan vernon merasa iba, wajah Gadis itu terlihat benar-benar sedih sekarang.
"Maka aku akan membuat perhitungan pada si tolol menyebalkan Mark! Aku akan mendatanginya dan menendang selangkangannya!" Semua iba itu sirna seketika. Nyatanya gadis itu tidak merasa seburuk yang mereka pikirkan.
" Dengan begitu masa depannya akan suram " Krystal tertawa setan setelahnya dan ketiga orang itu menghela nafas.
"Sia-sia semua rasa simpati yang telah aku berikan" Vernon mendengus
Krystal memicingkan matanya "kau memiliki rasa simpati?" tanyanya sarkas.
"Oke maafkan aku, karena aku sibuk dengan rasa kesalku aku jadi tidak sempat melihat lukisan kalian yang selalu kunantikan." Dalam hitungan detik sekarang moodnya tiba-tiba membaik. Gadis itu memang sedikit aneh.
Krystal mengamati satu persatu karya temannya. Ia memang tidak suka melukis, tapi dia sangat menyukai lukisan. Dia adalah salah satu pengamat yang baik. Ia mulai mengamati dari milik vernon yang berada paling kanan. Ketiga temannya ikut mengekor kemana gadis itu pergi.
"wah, apa ini? kau ingin mencoba menggambarkan jiwa tua yang kesepian? Sorot matanya terlihat begitu sedih dan memprihatinkan" krystal, sedikit mengejek.
"itu nenekku ngomong-ngomong " vernon menjawab
"ups, Benarkah? Maaf aku tidak tahu" ujarnya, sambil membungkuk didepan lukisan merasa bersalah. Sedangkan Vernon hanya mendengus kesal.
Lukisan hitam putih, dengan objek wanita renta yang tengah duduk sendirian. Terlihat begitu sendu menatap keluar jendela.
Puas dengan lukisan Vernon, mereka kini beralih pada lukisan wendy. Disana terpampang gambaran seorang gadis kecil bergaun putih, dengan boneka beruang ditangan. Terlihat begitu cantik dan polos. Beberapa menit mengamati akhirnya mereka beranjak menuju lukisan terakhir, lukisan Baekhyun.
"Waah siapa ini? Tampan sekali" Krystal pertama kali bersuara. Mengagumi paras rupawan yang terpapar begitu indahnya.
"Dimana kau menemukan pangeran ini?" Wendy menimpali, menatap lukisan baekhyun dengan mata berbinar.
"Dia tetanggaku" Menatap wajah itu, membuat bayangan kemarin kembali menginvasi otaknya. Menghadirkan lagi perasaan dan debar di jantungnya. Baekhyun menggelengkan kepala, mengenyahkan bayang si pria bermata bulat dari otak.
"Tetanggamu? Kenapa aku tak pernah melihatnya?" Wendy menolehkan kepalanya dengan wajah heran. Karena seingatnya tetangga baekhyun tidak ada yang seperti ini.
"Tetangga baru, dia baru pindah sebulan lalu-" belum sampai menyelesaikan kalimat, Krystal menyela "Kau harus mengenalkannya padaku!"
Wendy sontak memukul kepala sahabatnya "Berhentilah menggoda pria-pria tampan!" Krystal menatap wendy kesal sambil mengusap kepalanya. Sedangkan baekhyun hanya tersenyum kecil menanggapi.
Ini sudah 5 hari sejak kejadian hampir berciumannya terjadi. Dan baekhyun seperti ditelan bumi. Chanyeol tak pernah lagi bertemu dengannya. Pria itu juga tak lagi berkunjung ke cafe.
Apakah dia benar-benar marah? Haruskah aku menemuinya dan meminta maaf?
Setelah berkutat dengan pemikiran yang sama selama hari-hari terakhir. Disinilah Chanyeol sekarang. Berdiri didepan pintu apartmen sang tetangga sebelah. Ia berniat mengundangnya makan malam sekalian meminta maaf.
Ia memencet bel beberapa kali, tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Baru jam 8 kurang. Apa mungkin Brian sudah tidur? Apa dia sedang keluar? Atau dia sengaja tidak membukakan pintu untukku?
Chanyeol sudah sedikit ini untuk kembali memasuki apartemennya sebelum siluet pria muncul dari ujung lorong. Mencoba memastikan, chanyeol memanggilnya.
"Brian? "
"Oh, hai?" baekhyun berusaha terlihat biasa saja, walaupun ia sempat menegang, sesaat melihat pria itu.
"Kau baru pulang?"
"Iya"
"Kau sudah makan?"
Baekhyun mengernyitkan alisnya "Belum"
"Bagus." ucapnya semangat "Hm, begini. Sebenarnya aku ingin mengundangmu makan malam bersama hari ini."
"Kenapa tiba-tiba?" merasa aneh, kenapa tetangga raksasanya itu tiba-tiba mengundangnya makan malam? Dipertemuan pertama setelah insiden lalu.
"Ada yang ingin aku bicarakan" baekhyun sempat berfikir pria itu akan membicarakan kejadian tempo lalu. Tapi melihat wajah chanyeol yang terlihat serius, sepertinya dia mau membicarakan hal lain. Tak ingin menspekulasikan apapun, Baekhyun memutuskan mengiyakan ajakan itu. Lagipula ia juga belum makan.
"Tapi aku harus membersihkan diri dulu"
"Tentu, aku akan menunggu. Kau bisa datang ke apartemenku jika sudah selesai"
Chanyeol sibuk merapikan bagaimana tampilan meja makan. Menyusun segala olahan yang telah ia buat sebaik mungkin. Merasa cukup kini ia malah berjalan mondar mandir. Ia gugup, sungguh. Bahkan saat bertemu baekhyun tadi ia mati-matian bersikap senormal mungkin. Entahlah bertemu baekhyun benar-benar terasa menegangkan sekarang.
Bel apartemennya berbunyi, menandakan bahwa pria mungil itu telah selesai. Chanyeol menarik nafas dalam menghembuskannya dengan perlahan. Melakukan itu beberapa kali untuk mempersiapkan diri.
Tenang Park Chanyeol kau hanya akan meminta maaf bukan mengajaknya berkencan.
Pintu apartmen terbuka. Chanyeol mempersilahkan baekhyun masuk. Dan, kini mereka berdua tengah duduk berhadapan dimeja makan.
"Kau yang memasak semua ini?"
Chanyeol sedikit tersentak mendengar suara baekhyun.
"A-apa? Ah, iya aku memasaknya sendiri" Baekhyun melihatnya dengan tatapan heran, sedari tadi pria itu hanya diam. Dan terlihat tidak fokus.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak- Kau lapar kan, ayo silahkan cicipi masakanku." Baekhyun sekali lagi mengernyit, Ini terasa aneh.
"Aku tidak yakin bagaimana rasanya, tapi kurasa ini masih layak untuk dimakan" Chanyeol mengambil piring baekhyun, menyendokkan nasi dan beberapa lauk di piringnya. Kemudian meletakkannya kembali ditempat semula.
"Selamat makan" ucap chanyeol. Baekhyun menatap piringnya, kemudian mengarahkan maniknya pada pria didepannya.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
Mengedikkan bahu, yang lebih mungil memilih untuk memulai menyantap makanannya.
Chanyeol memutuskan menunggu sampai pria manis itu selesai makan. Ia tak ingin si mungil kesal karena mengajaknya bicara sekarang.
Baekhyun telah selesai sejak beberapa waktu lalu. Dan kini sedang memperhatikan Chanyeol yang tengah mengaduk makanannya hingga tak berbentuk.
"Richard?" tidak ada tanggapan
"Richard?!" baekhyun meninggikan suaranya.
Chanyeol tersentak "Ya?"
"Ada apa denganmu?"
"Ah, Maaf." ujar chanyeol sambil menggaruk lehernya. "Bagaimana makanannya?"
"Enak" jawab si pria manis singkat.
"Syukurlah jika kau suka"
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Menarik nafas panjang ia mulai bersuara. "Em, aku ingin meminta maaf- untuk kejadian tempo lalu" baekhyun yang mendengarnya sedikit terkejut. Tidak menyangka jika pria yoda itu benar-benar akan membahas ini. Ia pikir Chanyeol telah melupakannya.
"Maaf, saat itu aku juga tidak mengerti apa yang aku lakukan. Melihat wajahmu yang begitu dekat, manik bening berbinar serta bibir tipis merah muda yang begitu meng-" chanyeol menghentikan kalimatnya.
Bodoh! Apa yang barusaja kau katakan? Chanyeol menampar bibirnya sendiri merutuki mulutnya yang tidak bisa diajak kerja sama. Sedangkan Baekhyun, wajahnya telah memerah sempurna sampai telinga.
"M-maksudku, sepertinya aku terbawa suasana saat itu. Dan tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Untuk itu aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Maaf jika terkesan lancang dan kurang ajar" Chanyeol menundukkan kepala dalam, melewatkan wajah kepiting rebus lelaki dihadapannya. Setelah perkataan bodohnya tadi ia jadi tidak yakin kalau baekhyun mau memaafkannya sekarang.
Hening sesaat,
Baekhyun berdeham, mengenyahkan rasa gugup yang melingkupi "Ah itu, aku sudah melupakannya dan menganggapnya tak pernah terjadi." Bohong, tentu saja. Mana mungkin pria mungil itu melupakannya. Dalam 25 tahun hidup, itu adalah pertama kali wajahnya berada sedekat itu dengan orang lain. Hidung bersentuhan hampir berciuman, mana mungkin semudah itu melupakan. Baekhyun hanya membual agar suasana tidak semakin canggung.
"Syukurlah kalau begitu" jawaban pria itu membuat chanyeol lega namun terbesit rasa kecewa juga didalamnya.
"Lalu kemana kau selama 5 hari terakhir?" entah ini hanya perasaannya atau memang pertanyaan chanyeol terdengar sinis kali ini ?
"Aku sibuk dengan pameranku.
Oh iya, bukankah aku punya hutang padamu?" si manis mengalihkan pembicaraan.
"Hutang apa?" tanya chanyeol bingung.
"Aku berjanji mentraktirmu makan. Ingat?"
"Ah, lukisan?" Baekhyun menganggukan kepalanya.
"Daripada makan, bagaimana jika aku menginginkan hal lain?"
"Hal lain? apa?"
"Aku belum memikirkannya sekarang. Aku akan memberi tahumu saat aku menginginkannya"
"Baiklah, Kau bisa meminta apapun selama aku mampu memberikannya dan bukan permintaan aneh tentunya" Chanyeol tersenyum puas mendengar itu. Anggap saja ini seperti voucher hadiah yang bisa ia gunakan sekali seumur hidup, jadi ia harus menggunakannya baik-baik.
Si mungil pamit pulang, dan chanyeol dengan baik hati mengantarkan sampai kedepan.
Mereka berdua keluar dari apartmen chanyeol. Dan, pandangan keduanya secara otomatis teralihkan pada sosok jangkung yang tengah berdiri didepan apertemen si mata sabit.
Baekhyun memicingkan matanya, mencoba melihat lebih jelas. Pakaian serba hitam, kacamata, serta sebuah tas menggantung dipundaknya. Kulit putihnya begitu kontras dengan pakaian yang dikenakan. Pria itu terlihat sibuk berkutat dengan ponsel ditangan.
Cukup lama mengamati, wajahnya terlihat familiar "S-Sehun?" Baekhyun memanggilnya.
Pemuda itu mengangkat wajah. Ekspresi yang sebelumnya dingin berubah berseri. Tanpa pikir panjang pemuda itu segera menghambur membawa si rambut silver dalam pelukan eratnya. Mengabaikan atensi pria bertelinga peri yang berdiri disamping si mungil.
"Aku merindukanmu"
...
..
.
TBC
