LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

Selesai dengan teh hangat yang ia buat, Baekhyun meletakkannya dimeja depan sofa. Tepat dimana pria berkulit pucat itu duduk. "Jadi, kenapa kau mendadak datang tanpa pemberitahuan?" nadanya terdengar dingin tersirat kesal pula didalamnya.

Sehun mendengus kecil "Apa maksudmu tanpa pemberitahuan? Aku bahkan sudah memberi kabar sejak dua bulan lalu." Ini adalah pertemuan perdana mereka setelah terpisah bertahun-tahun lamanya. Namun pria itu terlihat begitu santai seperti tak terjadi apapun. Tak ada canggung, gugup, atau sejenisnya.

"Tetap saja, kau tidak memberitahuku kalau itu adalah hari ini. Kalau aku tahu kau datang pasti aku akan menyiapkan penyambutan" Baekhyun memprotes, suaranya sedikit bergetar saking kesalnya. Wajahnya juga terlihat merengut lucu.

"Sudahlah, ini bukan masalah. Daripada itu apa kau tidak merindukan ku?" Sehun merentangkan tangannya, menawarkan si mungil masuk dalam pelukannya sekali lagi.

Baekhyun tak bergeming, masih setia menatap lekat pria itu. Kini matanya mulai berkaca-kaca, tanpa kata ia perlahan mendekat untuk selanjutnya menerjang si pria albino. Tak bisa lagi menahan untuk melepas rindu yang telah terkumpul begitu banyaknya.

"Kenapa kau jadi cengeng?" Sehun masih memeluknya dengan erat. Mengusak punggung itu agar menghentikan tangisnya. "Dan, sepertinya kau berhenti tumbuh saat pindah ke London. Lihatlah, sekarang kau jauh lebih pendek dariku"

Baekhyun melepaskan pelukannya sepihak. Menatap Sehun dengan pandangan tak terima "Ya! Jangan menghinaku" wajahnya memerah, pipinya basah karena air mata. Sehun terkekeh melihat bagaimana rupa yang lebih mungil.

Namun beberapa detik berselang senyuman diwajah tampannya perlahan sirna, tergantikan dengan ekspresi dingin yang serius . Sehun beralih mengusap airmata Baekhyun dengan ibu jarinya. "Kau hidup dengan baik kan?" Matanya menyorotkan sebuah sendu, dan setitik kekhawatiran.

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Kemudian ikut mengusap kasar sisa air mata dengan punggung tangannya. "Bagaimana kabarnya?"

"Mereka baik"

Chanyeol mengernyit mendapati pria albino yang membukakannya pintu. Niat hati ingin mengajak baekhyun sarapan bersama, sekalian mengembalikan baju yang ia kenakan kemarin lusa. Tapi yang ia dapati malah pria berwajah datar ini.

"Ada apa?" terdengar begitu hambar tanpa nada keramahan. Begitupula dengan wajah bangun tidurnya.

Baekhyun juga memiliki ekspresi yang sama tapi demi Tuhan pria ini entah mengapa terlihat jauh lebih menyebalkan dimata chanyeol.

Sebenarnya siapa dia? Kenapa masih ada disini? Apa hubungannya dengan Brian? Batinnya bertanya-tanya.

"aku mencari Brian" jawab chanyeol sinis, kentara sekali kalau ia tak menyukainya.

"Brian?" sehun menjeda, terlihat berpikir sejenak "ah, maksudmu Baekhyun?"

Baekhyun? Chanyeol mengulang didalam hati.

"Dia sedang mandi, ada perlu apa?" Sehun kembali bertanya masih dengan raut yang sama. Namun belum sempat yang lebih tinggi menjawab, buru-buru seseorang menginterupsi dari dalam "siapa yang datang?" dapat chanyeol tangkap itu adalah suara pria manis kesukaanya.

"Entahlah, seorang pria bertelinga aneh" Pria berkulit pucat itu menanggapi, maniknya memindai penampilan chanyeol dari atas sampai bawah. Mendengar itu perempatan siku imajiner muncul di kening si telinga peri. Ia semakin kesal, dan sekarang muncul hasrat menggebu ingin memukul pria berwajah triplek itu. Tapi ia urungkan saat sosok manis Baekhyun muncul dengan rambut setengah basah dan handuk di lehernya. "Richard?"

"Hai," sapanya balik, wajah kesalnya seketika tergantikan dengan senyum cerah berseri.

"Kau mengenalnya?" Baekhyun mengangguk singkat, tanpa mengalihkan perhatian kearah si penanya.

"Kau cepat mandi sana!"

Sehun yang merasa diperintah merengut, "Ini masih terlalu pagi untuk mandi" sedikit merengek kemudian menyandarkan kepalanya dibahu pria yang lebih kecil.

"Cepatlah, atau kita akan terlambat" Baekhyun menoleh, nadanya lembut membujuk. Sangat berbeda dengan intonasi sebelumnya.

"Baiklah" pria berambut legam itu menyerah. Kembali menegakkan tubuhnya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Setelah sebelumnya mencuri sebuah kecupan singkat di pipi yang lebih mungil. "Yah!" teriak Baekhyun memprotes.

Chanyeol yang melihat itu melotot, terkejut dengan apa yang barusan ditangkap mata bulatnya. Sebersit rasa tak terima hinggap di benaknya. Ia jadi semakin penasaran dengan sosok pria berkulit pucat itu. Dilihat dari interaksi keduanya mereka terlihat begitu dekat, seperti memiliki hubungan khusus.

Baekhyun kembali memusatkan perhatian pada chanyeol yang setia berdiri diambang pintu. Menatapnya sungkan sambil mengusap pipinya dengan canggung "Maaf," nadanya mengalun ragu, merasa tidak enak juga telah mengabaikan pria itu. "Masuklah," serunya sambil membuka pintu lebih lebar.

"Tidak perlu, aku hanya ingin mengembalikan ini" chanyeol menyodorkan sebuah paper bag berisi baju yang ia kenakan tempo lalu.

"Oh itu- kau bisa mengambilnya, aku memang sengaja membelinya untuk mu. Lagipula akan terlalu besar jika aku yang memakainya" Baekhyun yang melihat apa yang chanyeol sodorkan langsung paham tanpa melihat apa isi didalamnya.

"Benarkah?" tutur chanyeol memastikan.

Baekhyun menganggukan kepalanya dengan sematan senyum dibibir. Sepertinya canggung yang sempat menghantuinya beberapa hari lalu benar telah hilang.

"Kalau begitu terimakasih. Em.." Chanyeol menggaruk kepalanya. Hendak menyampaikan sesuatu, nadanya terdengar tidak yakin.

"Em.. Itu"

Baekhyun setia menunggu apa yang hendak pria itu sampaikan, wajahnya nampak penasaran.

Chanyeol menghela nafas "kalau begitu nikmati waktumu. Aku pamit" memutuskan menelan kembali ajakan yang hendak ia lontarkan. Ia pamit dengan senyum diakhir kalimat. Air mukanya terlihat baik-baik saja. Tapi percayalah chanyeol sedang menyembunyikan sesuatu dibaliknya.

Chanyeol tidak kembali ke apartemen. Pria itu melanjutkan rencana sarapan paginya di kedai tacos, tempat dimana ia akan mengajak baekhyun sebelumnya. Ia berjalan gontai, ia seperti kehilangan semangat hidup. Baru semalam pikirannya bebas dan sekarang muncul sesuatu lain yang mengganggunya. Chanyeol tak tau pasti apa, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal dihatinya.

Hari ini chanyeol kembali bekerja, ia mendapat shift siang. Dan moodnya masih belum membaik, Ia terus menekuk wajahnya. Tak ada senyum tampan yang biasa menghiasi, bahkan ia tak membalas para pelanggan yang melempar senyum sapa padanya.

"Hei! Ada apa denganmu?" seorang pria berkulit tan menyenggol lengannya. "Beberapa hari ini wajahmu terus murung dan begitu kusut, ada masalah?" ia melirik chanyeol penasaran, tangannya masih setia menuangkan minuman yang barusan ia buat.

"Entahlah seseorang terus berputar dikepalaku" Kai, pria tan itu mengangkat satu alisnya. Tidak begitu paham dengan yang chanyeol katakan.

"Masalah cinta?" Kai menebak.

"Bukan" jawab chanyeol singkat, sedangkan pria yang mendengarnya hanya mengkritingkan alis "Lalu apa?"

"Permisi" Disana berdiri seorang gadis dengan rambut panjangnya, sepertinya seorang pelanggan yang hendak memesan. Karena Chanyeol yang seharusnya menjaga meja kasir jadi dengan terpaksa pria itu menghampiri.

"Selamat datang, silahkan mau pesan apa?" Wajahnya nampak masam tak ada senyum ramah seperti biasanya.

Wanita itu melihat menu sambil mengetukkan jari lentiknya di dagu "Aku mau pesan Iced Lemon tea, dan juga- Tunggu, sepertinya wajahmu tidak asing" Gadis itu menghentikan pesanannya setelah mengalihkan pandangan. Teringat sesuatu, ia kemudian mengamati Chanyeol dengan seksama.

Chanyeol yang ditatap sedemikian rupa merasa bingung, kalau boleh jujur ia sama sekali tak mengenal sosok itu.

Gadis itu menjentikkan jarinya "Ah aku ingat! Kau si pangeran tampan" ujarnya menggebu. Sedang Chanyeol semakin mengernyitkan dahinya.

"Kenalkan aku Krystal" ia mengulurkan tangannya meminta sebuah jabat tangan. Chanyeol bergeming, masih bingung dan penasaran dengan sosok didepannya. "Kau tetangganya Brian kan? Aku temannya"

Oke, Chanyeol mengerti sekarang. Jadi gadis ini adalah teman Baekhyun, dan entah bagaimana dia mengenalinya. "Oh jadi kau teman Brian, aku Richard" ia menyambut jabat tangan si gadis. "Senang bertemu denganmu"

"Wah kau benar-benar setampan yang ada di lukisan. Tidak, sepertinya kau lebih tampan" Krystal menatapnya penuh binar. Tangannya masih setia bertautan dengan si jangkung. Sedangkan Chanyeol hanya tersenyum kaku menanggapi.

Setelah perkenalan singkatnya bersama Krystal dan sedikit obrolan, gadis itu kini pergi. Ia terlihat terburu-buru namun masih sempat meninggalkan nomer ponselnya untuk Chanyeol. Sebenarnya Chanyeol tidak mengerti kenapa wanita itu memberi kontaknya. Tapi tanpa ambil pusing Chanyeol tetap menerimanya.

Pria itu hendak kembali ke belakang saat lonceng Cafenya berdenting nyaring. Melihat siapa yang datang seketika membuat semangat chanyeol bangkit kembali.

"Brian kau datang!" Chanyeol menyambutnya antusias saat pria cantik itu menghampirinya. Ini kunjungan pertamanya setelah satu minggu menghilang "Mau pesan apa?"

Baekhyun tersenyum ramah, tanpa buang waktu langsung memesan "Strawberry shortcake, Lemon cake, Latte, dan jus strawberry" ujarnya penuh semangat.

Chanyeol mencatat pesanan dengan cepat. Merasa ada yang ganjil pria itu mengecek kembali apa yang ia catat "Tanpa ice Americano?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, bibirnya mengerucut "Tidak, aku sedang tidak ingin minuman yang pahit"

Apa ini? Kenapa begitu menggemaskan? Kemana perginya Brian yang cuek dan berwajah datar? Batin chanyeol berteriak.

"Baiklah, silahkan tunggu pesananmu" Baekhyun kembali ketempat duduknya setelah membayar. Chanyeol mengawasinya, ikut tersenyum tertular aura bahagia si lelaki manis. Namun senyum itu pudar seiring maniknya menangkap sosok albino tengah duduk di meja dekat jendela. Entah sejak kapan pria itu ada disana.

Chanyeol kembali ketempat dimana ia berdiri sebelumnya. Moodnya jadi jelek lagi. Kai yang menyadari kedatangan pria itu kembali mengernyitkan alisnya bingung. Chanyeol nampak antusias beberapa menit lalu. Dan, sekarang wajahnya kembali muram. Menggelengkan kepala pria tan itu memutuskan melanjutkan kegiatannya. Masa bodoh dengan rekan jangkungnya yang tengah dirundung kesal.

Beberapa menit berlalu dan chanyeol masih bungkam. Wajahnya semakin tertekuk, matanya tak henti menyorot dua manusia yang sedang asik berbincang di meja ujung. Kai yang mulai jengah ikut memperhatikan kearah mana pandangan temannya tertuju. "Kau, bisa melubangi kepala orang dengan tatapan itu!"

Chanyeol masih membisu tapi pandangannya kini beralih, masih dengan sorot yang sama. Kai berjengit takut mendapati tatapan membunuh itu mengarah padanya. Otaknya seakan memerintahkan sesuatu. Ia mengabaikan apa yang Kai katakan. Kemudian pergi tanpa sepatah katapun terlontar dari bibir plumnya.

Ia berjalan dengan langkah lebar, menuju meja dimana tetangganya duduk. Melangkahkan kakinya mantap dengan berbekal sebuah lap dan cairan pembersih ditangan. Pria itu mulai mengelap meja-meja disekitar jendela kaca. Semakin lama semakin mendekat menuju meja dimana si pria mungil berada. Menajamkan telinga perinya untuk mencuri dengar apa saja yang tengah pria cantik itu bincangkan.

Kini langkahnya berada tepat disamping meja Baekhyun. Ia mulai menyemprotkan cairan pembersih banyak-banyak kearah jendela. Saking banyaknya hingga tanpa sengaja mengenai kepala pria yang duduk didekatnya, Sehun.

Pria itu mulai terusik, tidak nyaman. Dan, Chanyeol tak menghentikan aksinya menyemprot dan menggosok jendela kaca hingga mengeluarkan suara decit yang memekakkan telinga. Sesekali tubuhnya juga menyenggol dan menggeser kursi dimana sehun duduk. Membuat pria itu benar-benar kesal sekarang.

Sehun menggertakkan giginya, menggeram menahan amarah "Maaf, tapi tak bisakah kau membersihkannya nanti?" nadanya tajam, Ia menoleh kearah dimana chanyeol berdiri.

Chanyeol ikut menolehkan wajahnya "Tapi ini adalah tugasku, jendelanya sudah sangat berdebu" ia menanggapi dengan sopan dan raut tanpa dosa.

Sehun yang melihat wajah itu mengangkat alisnya merasa tidak asing. "Kau pria yang kemarin kan?"

Chanyeol pura-pura terkejut. "Oh kita bertemu sebelumnya" Perhatiannya beralih pada Baekhyun antusias, seakan baru pertama melihatnya "Oh kau datang bersama Brian?" pura-pura tidak tahu dan nada bicaranya terdengar begitu dibuat-buat. Tanpa aba-aba pria kelebihan kalsium itu ikut bergabung mendudukan dirinya disamping Baekhyun.

Baekhyun hanya diam mengamati keduanya. Terlalu bingung dengan situasi yang sedang ia hadapi. Sehun terlihat menahan amarah dan Chanyeol hanya tersenyum lebar disampingnya. Manik Sehun sekarang mengarah padanya menuntut sebuah jawaban.

Baekhyun berdeham, "Ah kalian belum berkenalan. Sehun perkenalkan dia adala-"

"Perkenalkan namaku Park Chanyeol, atau kau bisa memanggilku Richard" Chanyeol dengan cepat memotong, memberikan tatapan angkuh "Kau dari Korea kan? Pasti kau tau Leon Group, Aku adalah putra Park Sungjin pewaris utamanya" Entah apa maksudnya ia memperkenalkan diri dengan begitu sombong. Memamerkan siapa dirinya dan keluarganya.

Sehun bersedekap, ia bisa merasakan aura ketidak sukaan dan sebuah undangan untuk berperang. Menyeringai tipis "Aku Sehun" balasnya singkat. "Kau bilang kau Putra Park Sungjin benar? Lalu apa yang kau lakukan disini dengan baju pelayanmu itu?"

Chanyeol membeku, Ia tak mengantisipasi pertanyaan mendadak yang dilontarkan. Lidahnya tiba-tiba kelu tak bisa mengatakan apapun, dan lagi sehun mentapnya remeh. "Jangan mengada-ada"

"Ada sesuatu hal yang terjadi" Akhirnya si telinga peri bersuara. "Dan aku takkan memberi tahumu apa itu. Terserah mau percaya atau tidak"

Chanyeol masih duduk disana, mengamati bagaimana interaksi keduanya. Beruntung cafenya sedang sepi, jadi takkan ada yang memarahinya karena menghilang dari balik meja kasir.

Mereka berdua terlihat asik sendiri, mengabaikan sosok chanyeol yang masih duduk disana. Sehun terlihat beberapa kali menyuapkan kue lemonnya pada si mungil. Dan Baekhyun selalu berakhir menelan apa yang pria itu sodorkan. Sebenarnya mulut chanyeol gatal ingin bertanya apa hubungan keduanya, tapi ia memutuskan untuk pura-pura tidak peduli.

Dadanya terasa begitu panas, otaknya mendidih. Rasanya ia seperti berada dalam kobaran api sekarang. Ia tidak suka baekhyun mengabaikannya. Dan lagi ia muak dengan perlakuan sehun pada Briannya. Kini pria itu tengah mengambil sebuah tisu, sepertinya untuk membersihkan krim yang menempel di mulut pria disampingnya.

Chanyeol tak bisa membiarkan ini terjadi. Atas dasar perintah otak cemerlangnya pria itu dengan cepat menangkup wajah Baekhyun. Mendahului mengelap sisa krim dengan ibu jarinya. Tanpa rasa jijik kemudian menjilat krim ditangannya. Baekhyun yang mendapat serangan tiba-tiba sontak membulatkan mata terkejut. Sedangkan Sehun diam mematung dengan wajah kagetnya. Tangannya menggantung kaku memegang tisu. Dan, sekarang mereka dilingkupi sebuah hening canggung. Chanyeol berdeham, mencoba menetralkan suasana "Maaf, aku hanya penasaran dengan rasanya" pria itu beralasan, perlahan melepaskan tangkupannya dari pipi tembam yang lebih mungil. Baekhyun segera menundukkan wajahnya menyembunyikan rona merahnya sampai telinga.

...

..

.

TBC