LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
'BRAK'
Sehun menggebrak meja keras-keras membuat kedua orang didepannya sontak berjengit.
"Berani sekali kau menyentuhnya sembarangan!". Ia menunjuk chanyeol tepat diwajah, matanya berkilat-kilat.
Suara itu spontan menarik pengunjung lain penasaran, satu persatu mulai melirik kearah mereka. Baekhyun meringis, ia tidak suka menjadi pusat perhatian begini. "Sehun, apa yang kau lakukan?" Baekhyun berbisik, menatapnya takut-takut mencoba menenangkan.
"Kenapa?" Suara husky itu menginterupsi, ikut tersulut emosi "Brian saja tidak keberatan, benar kan?" Chanyeol menoleh, membingkai wajah rupawan milik pria disampingnya. Tatapannya menuntut sebuah setuju dari yang lebih mungil. "Eh?" sedang baekhyun bingung harus bereaksi bagaimana.
"Memangnya kau siapa?!" Chanyeol meninggikan suara, maniknya kembali menyorot pemuda berambut kelam itu. Kekesalannya pada Sehun sudah diambang batas, telah terkumpul sejak pertemuan pertamanya. Sebentar lagi pria itu benar-benar akan meledak.
Sehun bangkit dari duduknya kasar begitupula dengan Chanyeol. Firasat Baekhyun mulai tidak enak, jadi ia ikut berdiri. Raut Sehun sudah sedingin es di kutub utara sedangkan chanyeol tubuhnya seolah memancarkan api panas membara.
Merasa keadaan semakin kacau, dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, baekhyun buru-buru menggapai lengan Sehun. Menariknya keluar dengan tergesa, memisahkannya dari Chanyeol.
Dua manusia berbeda tinggi itu masih berdebat. "Kenapa berlebihan sekali?" baekhyun menggerutu, melangkahkan kakinya sedikit dihentak. Lengannya masih bertautan dengan pria tampan disampingnya.
"Berlebihan? Dia yang dengan kurang ajar menyentuh wajahmu" Sehun menatapnya tak terima.
Baekhyun menghela nafas sesaat "Dia hanya membersihkan krim yang menempel diwajahku"
"Dan kau tidak masalah dengan itu?" Sehun memberhentikan langkahnya, menarik lengannya dari yang lebih mungil "Seingatku kau paling benci orang asing sembarangan menyentuhmu!" baekhyun menggaruk lehernya, sedikit ragu "Dia bukan orang asing"
"Kalian sedekat itu?" Sehun menyentuh kedua pundaknya, mencari manik si surai silver untuk ditatap penasaran "Jadi kau begitu dekat dengannya sampai merasa tidak keberatan?"
Baekhyun berpaling, menghindari tatapan yang dilayangkan untuknya.
"Tidak- bukan begitu, maksudku- ayolah dia hanya membersihkan krim tidak lebih. Jangan dibesar-besarkan" melepaskan diri, pria itu kembali melangkahkan kakinya.
"Tidak ini lebih dari itu, kurasa dia menyukaimu" Kalimat itu otomatis menarik langkah baekhyun undur, ia berbalik untuk menatap sehun jengah.
"Tidak semua orang memiliki orientasi seksual sepertiku, Sehun" Baekhyun menatapnya tajam, nadanya dingin menusuk.
"Tapi aku yakin pria itu menyukaimu hyung" Sehun masih bersikeras.
"Cukup, dia hanya mengelap krim tidak lebih. Aku tak ingin membahas ini lebih lanjut" Baekhyun melanjutkan langkahnya meninggalkan adiknya yang masih terpaku dibelakang sana.
..
Situasi sudah kembali tenang. Baekhyun telah pergi bersama Sehun beberapa menit lalu, meninggalkan chanyeol ditemani sepi seorang diri.
"Kau menyukai pria mungil tadi?" Kai menghampirinya, menarik kursi untuk ia duduki. Pria itu menawarkan untuk chanyeol membagi cerita.
Chanyeol meliriknya sekilas, wajahnya nampak sedikit kacau. "Tentu"
Kai menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian bergumam rendah "Jadi kau seorang gay?"
Chanyeol menyahut cepat "Gay?"
Kai mengangkat satu alisnya, rautnya nampak kebingungan "Dia seorang pria dan kau bilang kau menyukainya kan? Berarti kau gay, bukan begitu?" pria itu melanjutkan sambil menumpukan dagu ditangannya.
Chanyeol berdecak, "Maksudku bukan suka yang seperti itu, aku menyukainya sebagai-- seorang teman, teman baik?" nadanya terdengar ragu diakhir "Ya, seperti itu"
"Kau yakin hanya sebagai teman? Tapi kenapa tingkahmu berlebihan sekali?" Pria tan itu mengetukkan jarinya dimeja, berpikir sejenak "Bagaimana ya menjelaskannya, kau terlihat begitu marah. Kentara sekali tidak menyukai kedekatannya bersama pria tadi. Dan juga tatapanmu, kau mentapnya dengan cara yang berbeda"
Chanyeol bergeming, perkataan kai secara tidak langsung menamparnya telak. Ia memang buruk dalam pengendalian diri. Tidak bisa menahan emosi barang sebentar. Tapi sikapnya tadi memang terlalu berlebihan untuk ukuran seorang teman. Pria itu kembali mempertanyakan perasaan anehnya. Kenapa ia jadi benci sekali saat 'temannya' dekat dengan orang lain.
"Tidak masalah menjadi gay, cinta bukanlah sebuah kejahatan"
..
Chanyeol merebahkan dirinya terlentang, kakinya yang panjang menjuntai disamping ranjang. Tatapannya mengawang pada langit-langit kamar. Pikirannya terbang melayang-layang. Percakapannya bersama kai siang tadi terus terngiang.
Ia jadi bingung sendiri dengan perasaannya. Apa benar dia seorang gay? Selama 24 tahun hidup ia memang tak pernah menjalin hubungan khusus dengan seseorang. Tidak, bukannya dia tidak laku atau sejenisnya, pria itu hanya malas dengan semua wanita yang terlalu cari perhatian. Dimata chanyeol mereka semua sama saja. Tidak ada yang benar-benar menarik, membosankan. Tapi menjadi gay? Ayolah ia tak pernah memikirkannya sama sekali. Dan, seingatnya terakhir kali ia masih menyukai Sandara Park sebagai member Girlgroup Favoritnya.
Bukankah menyukai baekhyun berarti dia menyimpang? Tapi Chanyeol yakin dia tidak. Lalu kenapa ia begitu kesal melihat kedekatan tetangganya dengan si wajah triplek. Kenapa jantungnya selalu berdebar cepat saat sosok mungil dengan surai perak itu tertangkap maniknya. Kenapa hatinya berdesir ketika melihat matanya menyipit saat tersenyum. Kenapa disaat pria itu tiba-tiba menghilang ia tak henti memikirkannya.
"Argh!" Chanyeol berteriak. Mengacak rambutnya frustasi, kepalanya serasa mau pecah. Ia tak kunjung mendapat titik terang, dan berbagai pertanyaan abstrak tak henti muncul diotaknya.
Chanyeol bangkit, duduk bersila ditengah ranjang. Mengambil gitar kesayangan untuk kemudian menatpnya lekat. "Toben a, apa yang terjadi padaku? Benarkah aku ini gay? Apa aku benar-benar menyukainya lebih dari seorang teman? Kalau iya berarti aku tidak normal? Apa yang harus kulakukan?" Chanyeol berkeluh kesah. Menumpahkan segala kebingungannya, pria itu memeluk gitar kesayangannya dengan erat. Terlihat agak aneh memang, tapi ia selalu melakukan ini saat sesuatu mengusiknya.
..
"Ada yang ingin kau bicarakan? " Chanyeol menggeleng singkat dan Kai kembali menghela nafas lelah. Ia mulai tidak nyaman, sedari tadi rekannya itu terus memandanginya.
Menit-menit berlalu, chanyeol masih pada tempatnya, duduk termenung. Sesekali irisnya mencuri pandang pada pria tan yang tengah sibuk menyiapkan minuman. Kai mulai jengah, "Katakan saja apa yang ingin kau katakan, jangan membuatku risih!" pria itu membuang nafas kasar "Dan lagi, kenapa dari tadi kau diam saja? Cepat antarkan pesanan ini! Kau mau makan gaji buta?" ujarnya sedikit berteriak.
Chanyeol yang mendapat omelan itu mencibir. Dengan malas pria itu bangkit, mengambil nampan berisi pesanaan pelanggan untuk diantarkan.
Pria dengan telinga peri itu kembali setelah selesai mengantar pesanan, mendudukan diri lagi ditempat yang sama seperti sebelumnya.
"Ada apa denganmu sebenarnya?" kai kembali bersuara, sikap orang didepannya ini terus mengusiknya. Chanyeol nampak menimang, kemudian menarik nafas dalam "Begini, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan"
"Apa?"
"Aku memiliki perasaan aneh untuk seseorang" Chanyeol memulai
"Aneh bagaimana?"
"Seperti jantungku selalu berdebar cepat saat bersamanya, aku merasa gelisah saat tidak melihatnya, dan juga senyumnya, aku sangat suka melihat senyumannya"
"Bukankah jelas berarti kau menyukainya? Ah tidak, kurasa kau jatuh cinta padanya" Kai menyahut mantap.
"Tapi, dia seorang pria. Dan, aku yakin kalau orientasi seksualku masih straight"
"Kutebak pasti pria yang kemarin kan?" Pria tan itu menyeringai "Sudah kuduga, kau jelas jatuh cinta padanya."
"Tapi aku bukan gay" Suara husky itu mencoba mengelak.
"Tapi kau jatuh cinta padanya!" Chanyeol terdiam tak bisa lagi menyangkal apa yang barusan Kai nyatakan.
"Kau pernah berhubungan dengan wanita sebelumnya?"
Pria itu menggeleng "Tidak, tapi aku pernah sangat tertarik dengan seseorang" 'Sandara Park' dalam hati Chanyeol melanjutkan.
"Lalu bagaimana dengan pria?"
"Tentu saja tidak, memikirkannya saja tidak"
"Apa kau merasa jijik dengan pasangan sesama jenis?"
Pria jangkung itu mengedikkan bahu singkat "biasa saja"
"Kalau begitu kemungkinan besar kau seorang biseksual"
"biseksual?" Chanyeol menatapnya penuh minat.
"Hm-em" Sedikit menundukkan kepalanya kai berbisik "Kau menyukai pria dan wanita"
Chanyeol mendesah frustasi, menyandarkan punggungnya pada kursi dengan kasar. "Jadi intinya aku tidak normal?"
"No no- bukan tidak normal kau hanya berbeda. Lagipula kau ada di Inggris, hubungan semacam itu legal disini"
..
Chanyeol berjalan gontai disepanjang koridor menuju apartemennya. Ia baru pulang kerja, entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa begitu kelelahan. Beberapa langkah lagi ia sampai, tapi belum sempat mencapai pintu sosok tetangga sebelahnya keluar.
Baekhyun berjengit mendapati Chanyeol disana. "Oh, Kau baru pulang?" pria itu bertanya, sekedar basa basi.
"Ya," Chanyeol tersenyum padanya.
Tak lama kemudian sosok lain keluar dari apartemen Baekhyun dan itu sukses memusnahkan lengkung bibir sekaligus lesung dipipi chanyeol.
Pria berkulit pucat itu menatapnya tanpa minat "Kau lagi?" Baekhyun reflek menyikukan lengannya pada Sehun, dan responnya? Pria itu hanya merotasikan bola mata malas.
Melihat bagaimana keduanya berpakaian Chanyeol yakin mereka berdua akan pergi ke suatu tempat "Kalian mau pergi kemana?"
"Bukan urusanmu" Sehun menjawab sinis, dan itu membuatnya mendapat sebuah pelototan dari yang lebih mungil.
"Kami akan pergi belanja, sudah tidak ada apapun didalam kulkas" Baekhyun menjawabnya sungkan, merasa tidak enak dengan kelakuan adiknya.
Pria berwajah datar itu dengan sengaja merangkul pundak yang lebih tua "Kami mau belanja, dan setelah itu pergi jalan-jalan. Kenapa?" ia menatap Chanyeol remeh, suara Sehun mengalun begitu menyebalkan di telinga perinya. Pria tinggi itu mengeratkan rahang. Berusaha sebaik mungkin agar tidak tersulut emosi meski tatapan Sehun tengah mengoloknya.
Dengan senyum kaku lima jari ia kembali bersuara "Kalian mau belanja? Kalau begitu aku ikut, kebetulan persediaan makananku juga habis" tanpa menunggu persetujuan kedua orang didepannya Chanyeol dengan cepat masuk ke apartemennya "Tunggu sebentar aku akan meletakkan gitarku dulu"
Sepeninggal Chanyeol Sehun mendengus, "Lihatlah pria itu, tidakkah terlalu jelas jika dia sedang berusaha mendekati mu hyung? Dan kentara sekali tidak menyukaiku karena cemburu."
Baekhyun menyingkirkan lengan Sehun dari pundaknya, irisnya menatap nyalang "Sebenarnya ada apa denganmu? Dan, sudah berapa kali kubilang jika tidak-" Cepat-cepat Sehun merengkuh leher kakaknya. Menarik kepala Baekhyun menuju dadanya. Meredam segala suara beserta rentetan kalimat yang hendak keluar dari bibir tipisnya "Iya-iya aku mengerti, berhentilah mengomel"
Chanyeol melihat dua manusia berbeda tinggi itu sedang dalam posisi yang sedikit ambigu, dengan canggung ia berdeham. Baekhyun yang mendengarnya sontak melepaskan diri dari jeratan lengan Sehun. Mendorong dadanya kasar, kemudian segera merapikan rambut miliknya yang berantakan. "K-kau sudah siap?" Tanyanya merasa malu. "Ya"
Mereka bertiga berada di supermarket sekarang, mendorong troli yang sudah penuh dengan berbagai macam bahan makanan. Bersyukur tidak ada keributan yang terjadi kali ini.
"Aku akan segera kembali" Baekhyun pergi, ada sesuatu yang lupa ia beli katanya. Meninggalkan Chanyeol dan Sehun mengantri dengan troli masing-masing. Sebenarnya Chanyeol mau ikut, ia tidak suka ditinggal berdua dengan si wajah triplek. Tapi Baekhyun melarangnya jadi disinilah ia sekarang.
Beberapa menit dalam hening akhirnya Chanyeol melayangkan sebuah pertanyaan, sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan Brian?"
Sehun yang merasa diajak bicara meliriknya,
Pria itu menyeringai tipis 'sepertinya bermain-main dengan pria ini akan menyenangkan'
"Aku kekasihnya, sebentar lagi kami akan bertunangan"
Chanyeol terkejut, pria itu membulatkan kedua bola matanya. Tak menyangka jawaban itu yang akan ia dengar."K-kalian akan b-bertunangan?" ujar sedikit terbata. Sehun mati-matian menahan tawa saat melihat bagaimana perubahan ekspresi pria didepannya. "Iya, dalam waktu dekat"
"Kalau begitu Brian seorang g-gay?"
"Tentu" Sehun menjawab tanpa beban, disaat baekhyun menyembunyikan orientasi seksualnya rapat-rapat.
Air muka Chanyeol kembali berubah, raut terkejutnya tergantikan dengan senyum tipis. Entah mengapa ia malah merasa senang. Kalau begini tidak masalah menjadi tidak normal jika orang yang kau sukai juga menyimpang. Dan, masalah pria itu akan bertunangan Chanyeol sama sekali tidak peduli. Selama belum ada janji suci yang terucap diatas altar maka Chanyeol masih punya kesempatan. Begitulah pikirnya.
"Kenapa kau tersenyum?" Sehun menukikkan alisnya curiga.
"Tidak" Chanyeol dengan cepat menetralkan kembali rautnya.
Firasat Sehun mulai tidak enak. Niat hati ia ingin secara halus mengusir Chanyeol agar tidak dekat-dekat dengan kakaknya. Tapi- entahlah.
Jalanan kota London di malam hari nampak berkali lipat lebih indah. Bangunan klasik gedung yang kusam itu kini dihiasi lampu-lampu yang menyala cantik. Sedikit genangan air pasca hujan menambah kerlip dengan pantulan sinar-sinar dari lampu jalan.
Mereka bertiga telah menyelesaikan acara belanjanya, mereka juga menyempatkan makan malam bersama disebuah restoran. Dan, sekarang beranjak menuju stasiun kereta bawah tanah untuk segera pulang.
Tiba-tiba telpon Sehun berdering nyaring, sang pemilik segera mengecek siapa gerangan yang menghubunginya.
"Halo"
Terdengar balasan samar dari sebrang sana.
"Iya, Ayah" kata terakhir itu sontak menarik baekhyun untuk menatap kearahnya. Maniknya menyorot penuh tanya, sedikit khawatir, dan sebersit rindu juga turut hadir. Dua iris itu saling bertukar pandang, seakan sedang berkomunikasi melalui telepati.
Hening beberapa saat, sampai
"Aku mengerti"
Sehun menjauhkan ponselnya untuk sekedar berbisik pada kakaknya. "Aku harus pergi sebentar, kau duluan saja nanti aku menyusul"
Pandangannya beralih pada pria tinggi disamping Baekhyun "Aku titip dia, jangan macam-macam!" peringatnya, kemudian pergi setelah menyerahkan kantong belanjaannya pada yang lebih mungil. Baekhyun menatap kepergian adiknya dengan perasaan khawatir, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk. Mengingat pria itu datang menemuinya tanpa sepengetahuan ayahnya.
Tarikan pada kantong belanja dikedua tangannya sontak menarik Baekhyun kembali dari keterdiaman.
"Ayo" ujar Chanyeol dengan kantong yang telah berpindah tangan padanya.
Baekhyun menyusul langkah pria tinggi itu "Aku bisa membawanya sendiri" Mencoba mengambil alih dua kresek belanjaannya dari Chanyeol.
"Aku saja, lagipula belanjaanku tidak banyak." pria itu menolak, menjauhkan plastik-plastik belanjaan dari jangkauan si mungil.
"Setidaknya biarkan aku membawa satu"
"Kalau begitu kau bisa membawa yang ini" Chanyeol menyerahkan salah satu kantong belanjaan miliknya, yang paling kecil tentu saja. Pria manis itu sudah ingin protes tapi suara bass chanyeol lebih dulu menyapa "Tidak ada penolakan" dan Baekhyun hanya bisa mendesah pasrah.
Beruntung kereta bawah tanah yang mereka naiki tidak ramai penumpang. Jadi kedua orang itu bisa duduk santai tanpa perlu berdiri sambil berdesak-desakan.
Baekhyun tengah tenggelam memperhatikan manusia yang ada didepannya. Seorang pria berumur yang sedang sibuk mengobrol dengan istri dan anaknya, mengingatkan ia pada ayah dan ibunya.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" Chanyeol menyadari apa yang sedari tadi pria itu perhatikan. Ia juga merasa baekhyun jauh lebih pendiam sejak kepergian Sehun.
"Ya?" Baekhyun menyaut cepat "Ah tidak"
Chanyeol melirik kearah mana baekhyun melihat sebelumnya. "Kau merindukan keluargamu?"
Pria bersurai perak itu tersenyum getir "Tentu, setiap hari aku merindukan mereka" ia mengalihkan maniknya untuk bersitatap dengan chanyeol "Kau tidak rindu keluargamu?"
"Sedikit"
"Seharusnya kau bersyukur memiliki orang tua yang menyayangimu." Baekhyun memberikan tatapan irinya
"Aku bersyukur memilikinya setiap hari"
"Tapi kau kabur dari rumah"
"Benar juga"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan tetangganya itu.
"Kapan kau akan berdamai dengan mereka dan kembali pulang kerumah?"
"Aku tidak tahu, tidak ada sesuatu yang membuatku ingin kembali"
"Kau akan menetap disini selamanya?"
Chanyeol menyelami sepasang mata indah itu "Jika itu bersamamu maka aku tidak keberatan"
Baekhyun terkekeh, "Kenapa begitu?"
Chanyeol membalasnya dengan senyuman sedang maniknya masih terpaku pada iris bening miliknya. Didalam hati pria itu melanjutkan 'Karena aku menyukaimu'
"Aku jadi penasaran bagaimana rupa orang yang akan ditunangkan denganmu sampai kau terang-terangan menolaknya hingga melarikan diri dari rumah"
"Aku juga tidak tahu, aku pergi tepat dihari pertemuan saat akan diadakannya makan malam keluarga"
"Jadi kau belum bertemu dengannya?" Tanya si mungil penasaran.
"Ya"
"Bagaimana jika gadis itu adalah tipemu?"
"Ku rasa bukan"
"Bagaimana jika ya?"
"Tidak mungkin"
"Kenapa yakin sekali?"
'Karena tipeku ada disini ' Ingin sekali bibirnya mengucapkan itu, tapi ia berakhir dengan mengatakan "Entahlah, hanya yakin saja"
Chanyeol benar-benar kelelahan, perjalanan dengan kereta memakan waktu cukup lama karena mereka harus berhenti di beberapa stasiun dulu. Ia tidak bisa menahan tubuh dan kepalanya agar tetap tegak. Pria itu perlahan bersandar di bahu sempit pria disebelahnya.
Baekhyun yang merasakan pundaknya memberat spontan menolehkan kepala.
Ia melihat bagaimana mata pria disampingnya terpejam. Nafasnya teratur dengan sedikit dengkuran halus. Chanyeol ketiduran, begitulah pikirnya. Tangan Baekhyun reflek terangkat mengelus surai coklat dipundaknya "Kau pasti lelah sekali" ucapnya lirih.
Tanpa pria itu sadari tubuh disampingnya menegang karena perlakuannya. Jantung Chanyeol rasanya sudah jatuh keperut. Organ itu berdentum dengan begitu kerasnya, hatinya kembali berdesir. Rasa hangat itu melingkupi seluruh tubuhnya.
...
..
.
TBC
