LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

Kaki pendek itu menapak ragu dengan jantung yang berdegup kencang. Rambut silver miliknya telah berubah menjadi hitam legam. Genggaman pada pegangan koper semakin mengerat. Semua orang yang tengah berlalu lalang diantaranya nampak begitu asing.

"Hyung!" seruan itu mengalihkan perhatiannya, ia reflek menolehkan kepala. Tak seberapa jauh sosok Sehun tengah berdiri sambil tersenyum lebar. Pria itu dengan tergesa melangkah kearahnya kemudian menyerangnya dengan sebuah pelukan. "Bagaimana perjalananmu?"

Perdana setelah sepuluh tahun Byun Baekhyun kembali menapakkan kaki di tanah kelahiran. Perasaannya begitu campur aduk, senang, gugup, takut, khawatir semuanya bercampur jadi satu.

"Lumayan melelahkan" Koper miliknya telah berpindah tangan, sehun datang bersama beberapa pria berjas hitam yang Baekhyun yakini sebagai suruhan ayahnya. Kehidupan sangkar emasnya telah kembali.

Mobil mewah itu memasuki pelataran mansion besar keluarga Byun. Jemarinya saling bertaut dipangkuan, terasa begitu dingin. Jantungnya juga berdebar, berdebar cepat sebagai respon atas kegugupannya.

"Sehun aku takut" baekhyun mencicit lirih.

Sehun menoleh, beralih menatap tangan kakaknya yang terjalin dengan wajahnya yang sedikit pucat. Ia mengerti jika kakaknya itu sedang dilanda gugup, kejadian sepuluh tahun lalu sedikit banyak pasti masih membekas dibenaknya.

"Tidak perlu takut, semua akan baik-baik saja." Meski kalimat sehun sedikit membuatnya tenang tapi khawatirnya masih jauh lebih besar.

Pintu mobilnya telah dibuka dari luar, dengan belasan pria berjas hitam yang bersiap menyambutnya. Baekhyun mengambil nafas dalam sebelum benar-benar melangkahkan kakinya keluar mobil.

"Selamat datang kembali tuan muda" salah seorang pria berjas hitam itu menyapanya. Suaranya terdengar familiar, tapi wajahnya sedikit berbeda dengan orang yang baekhyun ingat terakhir kali. "Paman Shim?"

"Ya tuan, ini saya. Senang melihat anda lagi setelah waktu yang lama" ujar pria itu ramah.

"Aku juga" balas Baekhyun sambil tersenyum manis menanggapi.

Sehun berdiri disampingnya, pria itu melangkah santai, begitu tenang, berbanding terbalik dengan dirinya. Di kanan dan kiri para pengawal dan maid berjajar rapi sambil menunduk dalam, sedikit canggung. Baekhyun sudah lama tidak diperlakukan seperti ini.

Begitu memasuki mansion sebuah pelukan hangat menyapa. Sosok yang begitu ia rindukan, Ibunya berdiri anggun dengan dress hitam yang membuatnya nampak begitu elegan. "Baekhyunee, Bagaimana kabarmu sayang?" wanita itu tanpa ragu langsung memeluknya.

Baekhyun sempat membeku untuk beberapa saat, ini sedikit mengejutkan. Sama sekali berbeda dengan apa yang ia bayangkan. Ibunya, tak ada yang berubah dari ibunya wanita itu berlaku seperti tak pernah terjadi apapun. Baekhyun diperlakukan layaknya seorang putra yang telah lama pergi untuk menuntut ilmu dinegri sebrang. Bukan seorang yang kembali pulang setelah diasingkan.

"Ibu senang kau tumbuh dengan baik, ibu sangat merindukanmu" perlahan tangan yang dihiasi jari lentik itu terulur membalas pelukan sang ibu "A-aku juga merindukan ibu"

"Kau tidak merindukan ayah?" suara itu secara otomatis melepas pelukan Baekhyun pada ibunya.Entah sejak kapan ayahnya sudah berdiri disana.

"A-ayah"

"Bagaimana kabarmu? " ujar ayahnya sembari mengusap kepalanya sayang.

"Aku baik ayah" Dengan ragu Baekhyun menjawab dan segera disambut senyuman oleh pria yang ia warisi marganya.

"Pasti perjalananmu melelahkan bukan? Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Ayo kita makan bersama setelah itu kau bisa istirahat" sang ibu berjalan lebih dulu menuju ruang makan, diikuti dengan ayahnya dan Baekhyun mengekor dibelakang. Sehun yang sedari tadi diam disampingnya menyenggol pelan lengan sang kakak "Apa kubilang? Semua baik-baik saja bukan?"

Baekhyun tak menjawab ia hanya menghela nafas lega sebagai respon, sejauh ini semuanya baik. Baekhyun senang sekali keluarga hangatnya telah kembali. Ayah, ibu, Sehun semuanya, orang tersayangnya kembali seperti sedia kala.

Hampir satu minggu sudah Baekhyun kembali kerumah. Semua masih terlihat baik, tak ada yang berlaku canggung, tak ada perlakuan asing. Dan tak satupun yang membahas kejadian 10 tahun lalu, tak juga menyinggung tentang kepergiannya ke London selama beberapa tahun terakhir. Mereka semua seoalah melupakan dan menganggap kejadian itu tak pernah terjadi sebelumnya.

Hari ini rumah Nampak sepi tak ada siapapun kecuali dirinya dan beberapa maid. Ayahnya hampir setiap hari memang sibuk, ibunya pergi untuk menghadiri acara amal, sedangkan Sehun pria itu sedang sibuk di rumah sakit mengurusi pasien-pasiennya. Tinggalah Baekhyun dirumah seorang diri.

"Tuan muda anda menginginkan sesuatu?" suara lembut itu menyapa begitu kaki pendek Baekhyun menapak lantai dapur.

"Tidak. Hanya saja aku sedang mencari paman Han"

"Anda ingin pergi ke suatu tempat?" pelayan itu kembali melempar pertanyaan.

"Ya, aku ingin jalan-jalan sebentar."

"Baiklah saya akan memanggilkan tuan Han, anda bisa menunggu didepan"

Sementara itu ditempat lain Chanyeol sedang bersimpuh dihadapan ibunya. Memohon belas kasihan pada orang yang telah melahirkannya. "Ibu Maafkan aku, aku mengaku salah jangan menghukumku dengan cara seperti ini"

Baru kemarin Chanyeol sampai, pria itu memutuskan pulang saat tahu jika Baekhyun telah kembali ke Korea. Sebenarnya ia berencana pulang sehari setelah sang pujaan hati, sayangnya keadaan tak mengizinkan. Yah tau sendiri, kondisinya cukup memprihatinkan di London, Chanyeol tak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pesawat apalagi setelah acara kencannya dengan Baekhyun. Jadilah pria itu menghubungi lagi kedua orangtua dan kakaknya. Awalnya mereka semua tak ada yang merespon panggilan darinya, tapi beruntung kakak perempuannya yang baik hati itu akhirnya luluh dan mau mengirimi uang untuk ia bisa kembali.

"Maaf, tapi kau ini siapa?"

Chanyeol hampir menangis mendengarnya, mana mungkin ibunya melupakan ia sebagai putra semata wayang.

"Ibu aku Chanyeol putramu, mana mungkin kau melupakan wajah tampanku ini"

"Asal kau tahu aku sudah tak memiliki putra lagi sejak dua bulan lalu" Ujar si wanita yang masih nampak begitu cantik meski usianya tak lagi muda.

"Astaga ibu! Kau tidak boleh mengatakan hal semacam itu. Aku masih putramu" tanpa aba-aba Chanyeol merangkak memeluk kaki ibunya. Penampilannya benar-benar seperti gelandangan, dengan gitarnya yang setia berada dipunggung. Sejak kepulangannya Chanyeol bahkan tak diizinkan masuk ke rumah.

"Lepaskan tanganmu!" Chanyeol menggeleng cepat.

"Kubilang lepaskan!" tangannya semakin mengerat.

"cepat lepaskan Chanyeol!"

"Tidak sebelum ibu mengizinkanku masuk ke rumah" wanita yang hampir berkepala lima itu membuang nafas kasar sambil memijit pelipisnya.

"Baiklah kau kuizinkan masuk. Tapi jika sekali lagi kabur dari rumah akan kupastikan namamu benar-benar hilang dari kartu keluarga" tanpa menunggu lama Chanyeol segera bangkit dan memeluk ibunya erat.

"Terimakasih ibu aku mencintaimu"

"Yah! Jangan memelukku" Kegiatan Chanyeol seketika terhenti, pria itu dengan dramasitis melepaskan rengkuhannya.

"I-ibu?" Chanyeol tak percaya sang ibu menolak pelukan darinya.

"Kau bau! Cepat bersihkan dirimu!" mendengar kalimat itu senyumnya kembali terbit. Chanyeol sekali lagi memluk ibunya erat, dan memberikan kecupan didahi sebelum akhirnya kabur masuk kedalam rumah.

...

"Oh, si pembuat onar sudah pulang rupanya" Makan malam yang tadinya tentram itu seketika berubah akan kehadiran sosok pria baya dengan balutan jas ditubuhnya.

Chanyeol yang merasa tersindir segera mengalihkan pandangan.

"Untuk apa kau kembali? Kehabisan uang?" Chanyeol masih bergeming, tak ingin tersulut emosi karena perkataan ayahnya. Pria baya itu mendengus "Apa kubilang? Kau tidak akan bisa hidup tanpa uang dariku Chanyeol. Kau hanya bisa hidup dibawah kakiku"

Chanyeol membanting kasar alat makan ditangannya. Napsu makannya hilang. Pria jangkung dengan telinga yang sedikit lebar itu bangkit dari kursi pergi meninggalkan meja makan sebelum amarahnya benar-benar meledak.

"Mau kemana kau?" Chanyeol tak menghiraukan teriakan ayahnya. Terus melangkah menuju tangga kearah kamar. "Dimana sopan santunmu Park Chanyeol?! Ibumu tak pernah mengajarkannya?" kalimat itu sukses menghentikan langkah kakinya. Dengan kesal Chanyeol berbalik menghadap pria yang darahnya juga ikut mengaliri tubuh miliknya.

"Jangan pernah membawa-bawa Ibu! Dan asal kau tahu alasan aku pulang bukan karena kehabisan uang dan tak bisa hidup dari uangmu! Aku kembali karena seseorang" dengan itu Chanyeol segera menaiki tangga dan segera memasuki kamarnya dengan sebuah bantingan keras dipintunya.

Seperginya Chanyeol suasana jadi hening kembali. Tersisa ayah dan ibunya. "Berhentilah bersikap keras padanya, Chanyeol akan semakin memberontak"

Park Sungjin, ayah Chanyeol itu menghela nafas lelah. Perlahan mendudukan diri di kursi meja makan samping istrinya "Dengan cara apalagi aku harus menghadapi anak itu?"

"Cobalah bersikap lembut seperti dulu, dan kurasa kata-katamu tadi memang sedikit berlebihan" ujar si wanita sembari menggenggam tangan sang suami.

...

Pria bertelinga peri itu sibuk bergerak kesana kemari terlihat begitu gelisah. Bukan, ini bukan soal ayahnya ia sama sekali tak ambil pusing tentang perdebatannya dengan sang ayah. Sudah terlalu biasa. Pria itu sedang memikirkan hal lain. Ia sibuk memikirkan Baekhyunnya. Haruskah ia menghubungi pria itu dan mengatakan jika ia juga berada di Korea? Kemudian ia akan mengajaknya bertemu.

Chanyeol dengan gusar memutar tubuhnya berpindah miring menghadap ke kiri.

Tapi memberinya surprise akan terdengar lebih seru. Lalu bagaimana cara Chanyeol menemukannya? Bahkan ia tak tahu dimana pria manisnya tinggal.

Haruskah Chanyeol mulai untuk mencari tahu identitasnya? Sepertinya tidak sulit karena ia yakin sekali keluarga Baekhyun adalah keluarga terpandang.

...

Baekhyun tengah fokus dengan buku bacaan ditangannya, pria itu bahkan tak ambil peduli dengan beberapa pasang mata yang tengah menatapnya. Ya, kehadirannya sedikit mencolok. Lebih tepatnya karena kehadiran dua bodyguard yang setia mengikuti kemanapun Baekhyun pergi. Dia berada di sebuah Cafe, sekedar mencari udara segar, merasa bosan dirumah. Lagipula ia hanya sendiri, orang tuanya begitu sibuk begitu juga dengan Sehun.

Sebenarnya Baekhyun merasa risih harus diikuti kemana-mana tapi mau bagaimana lagi ini perintah sang ayah. Entah mengapa pria itu masih begitu overprotektif padanya, padahal ia sudah berusia 25 tahun.

Pria bermata sabit itu mengalihkan atensi ketika salah satu bodyguardnya meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Ia menganggukkan kepala singkat sebagai persetujuan.

Baekhyun bangkit hendak pergi memesan minuman lagi, tapi bodyguardnya yang tersisa segera menghampiri.

"Anda sudah selesai tuan muda?" pria itu menggeleng.

"Belum, aku hanya ingin memesan minum lagi."

"Saya bisa memanggilkan pelayan untuk kemari"

Dengan cepat Baekhyun menyahut "Tidak-tidak, aku akan pergi memesan langsung"

"Kalau begitu biar saya yang pesankan, anda tunggu disini saja. Apa yang anda inginkan?" si manis Byun menghela nafas lelah, bodyguardnya yang satu ini sedikit berlebihan. Mungkin karena pria itu masih baru, Baekhyun sudah sering menolak. Tapi bodyguard nya itu selalu memohon agar membiarkan dia yang melakukan, katanya takut dipecat.

Baekhyun kembali pada tempat sebelumnya, setelah menyampaikan apa saja yang ia inginkan. Pria itu memusatkan lagi perhatian pada buku ditangan.

TAK

"Terimakasih" ujarnya begitu mendengar bunyi gelas yang bergesekan dengan meja. Pria itu bahkan tak ingin repot melihat siapa karena sudah pasti itu bodyguardnya. Buku ditangannya terlalu menarik untuk ia abaikan barang sebentar.

"Ternyata sangat mudah mencarimu" begitu telinganya mendengar suara berat itu secara otomatis ia segera mengangkat kepala, mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca. Dan matanya membulat sempurna ketika mendapati sosok Chanyeol duduk dihadapannya.

"Park Chanyeol?!"

Pria bertelinga peri itu tersenyum lebar melihat reaksi terkejut yang lebih mungil.

"Hai! Kita bertemu lagi. Bagaimana acara menghindarmu?"

"Darimana kau tahu aku disini?" Baekhyun sedikit memekik tapi suaranya masih begitu pelan agar tak menarik perhatian orang lain. Si manis bahkan tak menghiraukan apa yang Chanyeol katakan.

"Itu hal yang mudah, tidak sulit menemukan belahan jiwaku. Kau tahu aku hanya mengikuti instingku dan lihat aku berhasil, mereka seperti memiliki ikatan tersendiri. Jadi kau takkan bisa lari dariku..."

"Byun Baekhyun"

Baekhyun hampir tersedak ludahnya sendiri saking merasa terkejut atas panggilan Chanyeol padanya "D-darimana kau tahu?"

Pria jangkung itu terkekeh "Identitas mu begitu mudah dicari, semuanya ada disini" ujar Chanyeol sambil menggoyangkan ponsel ditangannya.

"Aku saja yang bodoh baru tahu siapa dirimu"

...

..

.

TBC

Makasih buat yang masih setia baca cerita abal-abalku ini dan menyempatkan meninggalkan jejak

Have a nice day!