LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
"Siapa kau?!"
Chanyeol bergeming, ia terlalu bingung akan kedatangan sosok asing dengan pakaian serba hitam. Pria itu tiba-tiba datang dan dengan sigap berdiri disamping kursi Baekhyun. Tangannya terentang, matanya memicing tajam menatap Chanyeol seolah dirinya adalah sebuah ancaman.
"Dia tidak berbahaya" ucap Baekhyun yang seketika mendapat tolehan dari bodyguardnya. "Tuan muda mengenalnya?"
Ah, Chanyeol mengerti sekarang
"Ya, dia adalah temanku" seketika si bodyguard yang biasa dipanggil Minho itu menarik tangan dan menundukkan kepala untuk meminta maaf atas perlakuannya yang kurang sopan. Pria itu kembali memundurkan tubuh beberapa langkah kebelakang memberi jarak untuk privasi tuannya.
"Tuan muda huh?" Chanyeol bersedekap sambil menyandarkan punggung pada kursi, menatap Baekhyun dengan senyum tipis di bibirnya.
Pria manis dengan mata sabit itu balas menatap tidak suka pada Chanyeol setelah ujarannya yang sarat akan sindiran, "Diam!"
Chanyeol terkekeh, ia bisa menangkap kalau kalau Baekhyun kesal dan sedang menahan malu karena menjadi pusat perhatian sekarang.
"Apa yang kau lakukan disini? Yang lebih mungil melemparkan tanya.
"Menemuimu tentu saja" Chanyeol menjawab enteng, menegakkan tubuhnya kembali untuk menyesap minuman yang tadi ia bawa.
Yang bersurai hitam mendengus "Kenapa menemuiku?"
"Memangnya tidak boleh?" Pria dengan tinggi diatas rata-rata itu menyahuti dengan pertanyaan lain tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuknya.
"Kau menyebalkan"
"Maaf mengganggu" suara berat seorang pria menginterupsi percakapannya.
"Ini minuman yang anda pesan tuan muda" Baekhyun mendongak dan menganggukan kepala samar "Terimakasih" dan setelahnya Pria yang tak lain adalah bodyguardnya itu kembali undur ketempat dimana rekannya yang lain berdiri.
"Kau diikuti dengan dua orang itu?" Si tinggi dengan balutan hoodie hitam serta coat panjang ditubuhnya itu bertanya. Matanya masih memaku pada dua sosok berjas hitam yang berdiri beberapa langkah dibelakang Baekhyun.
"Ehm, ya"
"Astaga, aku tak membayangkan jika aku berada diposisimu. Pasti sangat risih dan tidak nyaman harus dikuti kemana-mana"
"Awalnya memang begitu, tapi lama-lama akan terbiasa. Aku hanya perlu membiasakan diri seperti dulu" jawabnya sambil tangan mulai fokus pada minuman dimeja. Mengaduk beberapa kali sebelum akhirnya menyesap cairan berwarna merah muda itu.
Beberapa saat suasana jadi agak hening, Chanyeol terlihat sibuk dengan ponsel. Dan, Baekhyun berinisiatif membuka kembali bukunya.
"Baek?" setelah menit berlalu yang lebih tinggi menyuarakan panggilan. Meletakkan ponsel kembali disaku, memusatkan seluruh atensi pada Baekhyun.
"Hmm?" pria dengan paras rupawan itu menyahut tanpa mengalihkan mata dari baris-baris kata yang terlanjur menyita perhatiannya.
"Mau pergi kesuatu tempat?"
Baekhyun mendongakan kepala "Kemana?"
"Tempat yang takkan membuatmu bosan tentunya" Ajakan Chanyeol menarik minat, kalau boleh jujur Baekhyun memang mulai bosan dengan buku dan pemandangan cafe yang beberapa hari terakhir rutin ia kunjungi.
Mata sabitnya sedikit melirik kearah belakang, tempat dimana dua orang suruhan ayahnya berdiri. Pergi bersama Chanyeol takkan menimbulkan masalah bukan?
"Kemana? aku tak ingin menjadi pusat perhatian karena harus membawa mereka berdua"
"Tempat yang menyenangkan, dan dua orang itu takkan jadi masalah untuk kau mengajaknya" tanpa basa-basi lagi si jangkung menarik lengan kurus Baekhyun agar segera bangkit dari kursinya. Pergerakan itu tak luput dari pandangan dua pria dibelakang sana. Dengan sigap mereka mendekat pada sang tuan muda.
Baekhyun melepaskan tangannya kasar begitu dua bodyguardnya tepat berada disamping "Aku akan pergi ke suatu tempat dengannya"
"Tuan muda tapi-" belum sempat kalimat itu tuntas Baekhyun lebih dulu menyela "Kalian ikut saja, tak perlu khawatir aku yang akan meminta ijin pada Ayah" dengan itu mulut yang sebelumnya ingin menyuarakan protes segera terkatup rapat.
Begitu sampai di parkiran kedua bodyguard Baekhyun tak mengizinkannya untuk berkendara berdua dengan Chanyeol. Si telinga peri benar-benar tak habis pikir dengan bagaimana overprotektifnya para pengawal itu pada sang majikan.
"Baiklah kalau begitu kau yang bawa mobilku" Tanpa tau diri Chanyeol menarik salah satu tangan pria berjas dengan tubuh yang sedikit lebih pendek darinya, menyerahkan sebuah kunci mobil pada telapak tangan itu.
"Aku ikut denganmu" ujarnya beralih pada pria yang lain sambil melenggang begitu saja. Tangannya tanpa dosa menarik jari lentik sang pujaan hati. Membawanya melewati pria dengan tinggi yang hampir sama dengannya. Dua orang yang berprofesi sebagai pengawal pribadi Byun Baekhyun itu hanya bisa tercengang. Tuan mereka bahkan tak pernah berlaku seperti ini.
Begitu mobil yang di tumpangi memasuki pelataran sebuah mansion besar, Baekhyun mengernyit. "Dimana ini?"
"Rumahku" Jawaban Chanyeol sontak membuat matanya melotot "Untuk apa kau mengajakku kerumahmu?" Baekhyun sedikit memekik, sungguh ia tak pernah mengira Chanyeol membawanya ke rumahnya.
"Aku harus mengenalkanmu pada ibuku" jawab Chanyeol enteng
"Untuk apa?"
Chanyeol mendekatkan wajah, membisikan sebuah kalimat tepat ditelinga yang lebih mungil "Kau calon menantu keluarga ini, tentu saja harus"
"YAH! KAU GILA?!" tak menunggu detik berganti suara lantang itu memekik meneriaki Chanyeol. Membuat Lucas, bodyguardnya yang berada dibalik kemudi sontak mengalihkan perhatian pada bangku belakang melalui kaca spion "Ada masalah tuan muda?"
"T-tidak" Dengan kikuk Baekhyun menjawab, ia seharusnya tak berteriak atau mengatakan kata kasar macam itu. Tapi masa bodoh ia terlalu kesal, bahkan matanya masih setia memicing kearah Chanyeol. Sorotnya seakan menyuarakan sebuah pesan kematian.
...
Sayangnya Baekhyun tak bisa lagi mengelak. Tangannya ditarik dalam sebuah genggaman erat. Dengan ragu kaki-kaki pendeknya melangkah memasuki mansion besar keluarga Park. Kedua bodyguardnya tak diizinkan masuk, mereka hanya boleh berjaga diluar mansion berdampingan dengan beberapa pengawal dari keluarga Park. Rumah Chanyeol tak berbeda jauh dengan miliknya, begitu besar, luas, dan mewah.
Saat menapaki ruang tengah, Baekhyun dapat menangkap sosok wanita tengah duduk santai sambil menikmati tayangan yang ada di layar kaca. "Ibu"
Sebuah panggilan berhasil membuatnya menoleh "Kau pulang?"
Sosok wanita baya dengan beberapa fitur wajah yang mirip dengan Chanyeol.
"Eoh, siapa ini?" wanita yang tak lain adalah ibu Chanyeol itu segera bangkit saat mendapati sosok lain bersama dengan putranya.
"Ibu kenalkan"
Baekhyun reflek membungkukkan tubuhnya sopan "Selamat siang, saya Byun Baekhyun teman Chanyeol"
"Teman Chanyeol? Sejak kapan Chanyeol memiliki teman manis seperti ini?" Wanita itu mengangkat alisnya, sedikit meragu jika putranya memiliki teman yang sangat berbeda dengan yang biasa anak itu bawa kerumah. Baekhyun begitu manis, begitu sopan, dan terlihat dari keluarga baik-baik. Berbanding terbalik dengan teman Chanyeol yang biasa berpenampilan urakan dan tak punya sopan santun.
"Ah, kami baru bertemu di London" Baekhyun menjawab sedikit sungkan, merasa malu juga disebut manis.
"Kau berasal dari London?"
"Ibu aku secara kebetulan bertemu Baekhyun di London, ia sudah tinggal lama disana. Dia adalah pria yang kuceritakan padamu, dia yang membantuku mendapatkan tempat tinggal."
"Oh, jadi kau orangnya? Terimakasih banyak Baekhyun, maafkan anak nakal ini jika merepotkan mu" Perempuan yang masih nampak begitu cantik itu mengusak lembut surai kelam Baekhyun.
Baekhyun tersenyum segan menanggapi "Bukan masalah nyonya, sebelumnya dia juga sempat menolongku"
"Jangan memanggilku nyonya. Aku tidak suka, terdengar terlalu kaku"
"Oh, maafkan aku."
"Kalau begitu aku akan memanggil, B-bibi?" Ujar Baekhyun sedikit ragu.
"Sebenarnya akan lebih baik jika memanggilku Ibu, tapi bibi juga tak masalah"
"Ibu, aku mau membawanya keatas" Chanyeol menyela.
"Baiklah, kalau begitu ibu akan siapkan makan siang untuk kalian"
"Tidak perlu repot bibi"
"Tidak perlu sungkan Baekhyun. kalian naik saja, nanti akan kupanggil jika makanan siap"
...
Sebuah ruang cukup besar yang biasa di sebut kamar tidur. Itu milik Chanyeol, ruangan yang didominasi warna abu-abu dan putih dengan beberapa poster band kesukaan pria itu. Beberapa rak didinding memajang berbagai koleksi album Chanyeol. Baekhyun mengamatinya dengan seksama. Di sudut ruangan juga terdapat gitar yang biasa ia bawa kemana-mana.
Setelah puas mengamati, kini mata Baekhyun tertuju pada sebuah pintu kayu yang berada disisi ujung sebelah kanan "Ruang apa itu?"
"Mau melihatnya?" tanpa pikir panjang Baekhyun segera mengiyakan tawaran Chanyeol.
Begitu pintu kayu itu terbuka, nampaklah sebuah ruang besar dengan berbagai macam mesin permainan didalamnya. Itu lebih terlihat seperti game center, tapi dengan fasilitas yang lebih nyaman. Mata sipit Baekhyun berbinar, mulut tipis sewarna peachnya sedikit terbuka "Woah"
Ini adalah surganya bagi pecinta game sepertinya, moodnya langsung naik seketika "Ini benar-benar luar biasa"
"Kau suka?" Baekhyun mengangguk antusias. Melihat bagaimana mata Baekhyun berbinar Chanyeol ikut tersenyum bahagia.
"Mau bermain bersamaku?"
"Tentu" Tanpa menunggu Chanyeol, Baekhyun langsung melangkahkan kakinya semangat menuju mesin permainan yang ingin ia coba.
..
.
Setelah lelah dengan semua permainan yang ada disana, mereka memutuskan beristirahat di sofa panjang yang mengahadap kearah TV besar. Layar datar itu tengah menayangkan acara entah apa, tak terlalu menarik. Baekhyun hanya menyandarkan punggungnya sambil sesekali terpejam karena kelelahan bermain. Chanyeol duduk disampingnya, dengan keadaan yang tak jauh berbeda. Tak ada suara apapun selain tv didepan sana.
"Baek?" akhirnya yang lebih tinggi bersuara.
"Hm?"
"Kenapa kau tiba-tiba kabur malam itu?"
Sipitnya seketika terbuka mengetahui kemana arah pembicaraan yang akan Chanyeol ujarkan. Baekhyun kembali menegakkan tubuhnya.
"Menurutmu?" jawabnya sedikit sinis.
"Kau marah karena aku menciummu?"
"Tentu saja, memangnya siapa yang tidak marah?! kau benar-benar lancang Park Chanyeol!"
Chanyeol menggaruk tengkuknya "Maafkan aku. Maaf jika aku lancang, maaf karena aku benar-benar tak bisa menahan diri." Baekhyun mendengus sedangkan si telinga peri menundukkan kepala seolah benar menyesali perbuatannya.
"Tapi itu bahkan bukan pertama kali aku menciummu" Irisnya kembali ia pertemukan dengan manik coklat milik Baekhyun.
Baekhyun mengernyit, menatap Chanyeol dengan pandangan tidak mengerti "Maksudmu?"
"Sepulang dari Bandara saat mengantar Sehun, sebenarnya aku sempat menciummu ketika kau tertidur di taxi" Mendengar itu mata Baekhyun langsung membulat sempurna. Rasanya darah dikepalanya mendidih mendengar apa yang Chanyeol ucapkan.
"YA! BERANI SEKALI KAU!" Tanpa menunggu lama sebuah bantal melayang tepat dikepala yang lebih tinggi. Baekhyun mengambil bantal lain disampingnya memukuli kepala pria itu tanpa belas kasih.
"Park Chanyeol bodoh!" Si manis Byun masih melancarkan aksinya memukuli Chanyeol. Sedangkan yang menjadi sasaran hanya bisa menangkis sebisa mungkin serangan yang dilayangkan padanya.
"Ampun, baek! Akhh! sudah cukup!"
Tak peduli dengan ringisan itu, Baekhyun masih terus menyalurkan rasa kesalnya.
"Akh! Sakit! Hentikan!"
Merasa mulai kesakitan dengan pukulan-pukulan yang dilayangkan padanya Chanyeol perlahan melawan. Ia menangkap tangan Baekhyun, mencengkramnya dengan erat. Mengunci pergerakannya dan membalik keadaan dengan mengukung pria manis itu.
Nafas Baekhyun masih memburu dengan rasa kesal yang tertinggal. Menatap tajam Chanyeol yang berada diatasnya dengan tangannya tertahan di kedua sisi kepala. "Kau sialan!" dua kata itu meluncur mulus dari belah tipisnya.
"Maafkan aku, oke?" Chanyeol mengambil nafas dalam "Aku memciummu karena berpikir hanya itu satu-satunya kesempatan yang aku miliki. Saat itu aku mengira kau benar-benar bertunangan dengan Sehun, jadi aku berniat menciummu untuk pertama dan terakhir kalinya"
Baekhyun merotasikan bola mata, apapun alasannya tetap saja Chanyeol bertindak lancang. "Tck terserah, sekarang lepaskan aku!"
"Tidak, kau akan kembali memukulku nanti"
"Lepaskan!"
"Sebenarnya kau kesal karena aku menciummu atau karena aku melakukannya tanpa seizinmu?"
"Semuanya!"
"Tapi kau bahkan tak menolaknya malam itu"
Kalimat itu membungkamnya telak
"i-itu k-karena aku terlalu terkejut tahu!" wajahnya yang manis tiba-tiba memerah.
"Benarkah?" Chanyeol mengangkat satu alisanya "Wah, lihat wajahmu memerah" Baekhyun berusaha menundukkan kepalanya. "Apa kau sedang malu?"
"Lepaskan aku Park Chanyeol!" Baekhyun kembali memberontak. Melarikan matanya kesembarang arah, kemanapun asal tidak pada wajah Chanyeol.
"Angkat wajahmu dulu, aku ingin melihatnya" tak ingin merisaukan apa yang Baekhyun eluhkan, Chanyeol dengan tak tau diri malah mendekat ingin melihat wajah itu lebih jelas.
Baekhyun semakin dalam menyembunyikan rona merahnya. Jantungnya juga semakin berdebar cepat, apalagi wajah Chanyeol yang terus mendekat dan posisi mereka yang sedikit, ehm, ambigu?.
BRAK
Keduanya berjengit, serentak menoleh kearah pintu yang tiba-tiba terbuka kasar.
"Ups, Maaf"
BLAM
Baekhyun refleks bangkit dari posisi berbaringnya, cengkraman pada tangannya sedikit mengendur karena Chanyeol yang masih terfokus pada pintu. Dengan sekuat tenaga Baekhyun mendorong tubuh besar itu, tapi karena gerakannya yang begitu terburu-buru kepalanya terbentur cukup keras dengan milik pria diatasnya.
"Akkhhh!" Baekhyun mengaduh memegang kepalanya dengan tubuh yang telah terduduk sempurna di sofa. Sementara Chanyeol sempat terguling kebelakang. Namun secepat kilat telah berdiri didepan Baekhyun yang kesakitan.
"Kau tak apa?"
"Sakit Bodoh! Kepalamu itu keras sekali seperti batu"
Tanpa aba-aba si tinggi segera merengkuh kepala Baekhyun, menenggelamkan dalam perutnya. Tangan besarnya mengelus surai hitam itu mencoba menghilangkan rasa sakit yang mendera "Maaf"
BRAK
Pintu kembali terbuka kasar menampilkan orang yang sama dengan yang sebelumnya.
"Ah, aku lupa mengatakan jika makanan sudah siap" wanita itu menggelengkan kepala karena pemandangan lain yang ditangkap netranya. "Bisakah kalian berhenti bermesraan dan cepat turun kebawah?!"
Baekhyun sekuat tenaga kembali mendorong Chanyeol, tubuh Chanyeol yang tidak siap langsung terhuyung kebelakang beberapa langkah. Baekhyun segera berdiri menghadap sang wanita yang memiliki wajah serupa dengan Chanyeol. "Maaf, t-tapi kau salah paham. Ini tidak seperti yang kau lihat, k-kami tidak sedang bermesraan" ujarnya terbata-bata persis seseorang yang tertangkap basah telah berbuat mesum.
"Apapun itu cepat turun, Ibu sudah menunggu" Tanpa banyak bicara lagi si wanita pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tck! Apa-apaan kau ini!" Baekhyun beralih menatap nyalang Chanyeol yang berdiri kaku ditempatnya. Sedang yang ditatap merasa bingung "Apalagi salahku?"
Dengan canggung Baekhyun mulai memakan makanannya. Chanyeol duduk disebelahnya. Sedangkan didepannya duduk wanita yang tadi sempat memergokinya, bersebelahan dengan Ibu Chanyeol.
"Bagaimana Baek, kau suka?" Suara lembut yang begitu keibuan menginterupsi.
Baekhyun segera mengangkat wajah kemudian tersenyum manis "Masakan bibi sangat enak, aku menyukainya"
"Syukurlah jika kau suka. Makan yang banyak ya, tidak perlu sungkan"
"Iya bibi"
Sesekali Chanyeol akan mengambilkan lauk untuk Baekhyun. Dan dalam beberapa menit mereka makan dengan khidmat. Tapi entah mengapa sedari tadi Baekhyun merasa diawasi. Dengan ragu matanya melirik kedepan, dan saat itu pandangannya bertemu dengan manik bulat wanita didepannya. Si manis Byun segera menunduk, tatapan wanita itu membuatnya ciut seketika.
"Jadi kau dan Chanyeol berpacaran?"
"Uhukk uhukk uhukkk" Pertanyaan tak terduga itu langsung membuatnya tersedak. Baekhyun dengan tidak elitnya terbatuk-batuk sambil menepuk dadanya.
Chanyeol yang berada tepat di sampingnya dengan cekatan mengambilkan minum "Pelan-pelan Baek"
Baekhyun segera meraihnya dan menenggak rakus.
"Noona, jangan mengajaknya bicara saat makan!"
"Aku hanya bertanya"
Setelah meminum air yang Chanyeol sodorkan dan berhasil mengatasi batuknya, Baekhyun segera menatap sungkan kearah Ibu dan wanita yang sepertinya adalah kakak Chanyeol.
"Tidak, k-kami hanya teman."
"Hanya teman?" Si wanita dengan rambut sebahu itu mengernyitkan dahi.
"Kami belum berpacaran, aku sudah menyatakan perasaanku tapi dia belum menerimanya" Ujaran Chanyeol membuat bola mata Baekhyun hampir menggelinding lepas, ibunya menatap bingung. Sedangkan kakaknya, Park Yoora hanya mengangguk-anggukan kepala mengerti.
"Kukira kau membual jika orientasimu tiba-tiba menyimpang. Tapi setelah melihat-nya aku jadi mengerti alasannya"
"Tunggu, ada apa ini? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Nyonya Park yang tidak lain adalah ibu Chanyeol itu menatap tak mengerti kearah putra putrinya.
"Ibu, sebenarnya maksudku mengajak Baekhyun kemari adalah untuk mengenalkannya padamu. Aku menyukainya, meski kami belum resmi berpacaran tapi aku yakin jika ia yang akan menjadi menantumu nanti"
"Akh!" Chanyeol menolehkan kepala kesamping, dan dihadiahi sebuah tatapan tajam membunuh oleh si empunya. "Kenapa menendangku?"
"Apa yang sedang kau bicarakan?!" Baekhyun berbisik pelan, berusaha sebaik mungkin menahan pekikan kesalnya.
"M-maaf tapi kumohon jangan dengarkan dia, sepertinya Chanyeol sedang mabuk" Dengan canggung Baekhyun tersenyum kearah ibu dan kakak Chanyeol. Senyum kaku yang sangat dipaksakan.
"Kau menyukai pria?"
Tanpa ragu Chanyeol menjawab "Kurasa aku hanya menyukainya" memandang wajah Baekhyun yang memerah dengan penuh damba.
"Akh!"
"Kenapa menendangku lagi?!"
Tak ingin mengatakan apapun si pria manis itu hanya memberi tatapan frustasi dengan mata berkaca-kaca seakan hampir menangis.
"Jadi karena itu kau kabur? Kau tidak tertarik dengan wanita?"
Chanyeol mengedikkan bahu acuh "Yah, kurasa aku memang tak pernah benar-benar tertarik dengan wanita"
Wajah wanita baya yang sebentar lagi genap setengah abad itu seketika nampak begitu datar.
"Kau seharusnya mengatakannya! Dengan begitu aku tak perlu repot-repot mencarikanmu pasangan! Astaga, kau bahkan membuat malu keluarga dengan tiba-tiba kabur begitu saja."
"Ibu tidak keberatan dengan orientasi seksual ku?" Chanyeol tahu jika ibunya itu memang sangat baik dan penyayang. Tapi ia tak mengira jika akan begitu saja menerima penyimpangannya.
"Sebenarnya Ibu sangat menyayangkan ini, tapi mau bagaimana lagi." Sang ibu menghela nafas panjang, "Jika orientasi mu memang menyimpang maka ibu tak bisa menyalahkan siapapun sekarang. Lagipula beberapa anak dari rekan ibumu ini juga ada yang memiliki orientasi menyimpang. Jadi, tak begitu mengejutkan lagi untuk ibu"
Wanita itu beralih tersenyum menatap Baekhyun disebelah Chanyeol. "Dan sepertinya aku tak keberatan jika kau memilihnya sebagai pendamping hidup."
Asal kalian tahu tubuh Baekhyun rasanya membeku. Wajahnya benar-benar pucat, saking merasa terkejut. Ia bahkan belum menjawab pernyataan Chanyeol, dan sekarang Ibunya sudah memberi restu untuk Chanyeol menikahinya? Ia tak pernah membayangkan akan mendapatkan respon macam ini. Sungguh, Baekhyun kira ibunya Chanyeol akan meneriaki atau mengusirnya segera setelah pengakuan sang putra.
Tapi ternyata tidak, tidak sama sekali. Bahkan wanita itu menerimanya dengan baik.
...
..
.
TBC
Halo semuanya, masih adakah yang menanti? Aku minta maaf buat yang nungguin kelanjutan cerita ini, maaf kalo updatenya lama. Aku lagi sibuk ngerjain proposal gaiss, bentar lagi TA doain lancar ya. Jadi kemungkinan besar bakal slow update, tapi tetep diusahain update minimal sebulan sekali.
Terimakasih banyak buat yang setia baca cerita ini, apalagi yang mau meninggalkan jejak apalagi komen
Special thanks to
Nitha Gaemgyu, ChanBaek09, channieraa, Huang and Wu
See you next time!
