LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Hari ini harusnya menjadi hari yang paling ia nantikan, besok adalah natal. Putra tertua keluarga Byun itu telah merencanakan banyak hal dari jauh-jauh hari. Tapi pada akhirnya rencana hanya akan menjadi rencana. Kedua orang tuanya belum kembali dari kunjungan ke Jepang. Harusnya pagi ini mereka pulang, tapi batal dan baru bisa kembali besok. Sedangkan Sehun, pria itu sudah berjanji akan mengosongkan jadwal untuk hari ini dan besok. Tapi tetap saja berakhir pergi juga. Entah apa yang ia sibukkan, Baekhyun terlanjur kesal jadi tak sempat mendengar alasan adiknya tadi.
Besok natal, tapi hari-harinya bahkan tak jauh berbeda dari biasanya. Baekhyun pikir malam ini mereka bisa berkumpul bersama dan merayakan natal seperti dulu. Tapi ternyata tidak.
Kalau begini Baekhyun jadi rindu London, setidaknya disana ia bisa pergi dengan bebas, menghabiskan waktu sesuka hati. Atau pergi dengan teman-temannya dimalam natal nanti. Sedangkan disini? untuk sekedar membeli americano saja harus diikuti bodyguard.
Jam masih menunjukkan pukul 1 siang, dan Baekhyun seperti tak memilki semangat hidup. Dari pagi pria itu hanya menghabiskan waktu bergulung dengan selimut tebalnya, memeluk boneka beruang besar yang ia bawa dari London.
Ponselnya kembali berdering, dengan malas tangan Baekhyun terulur kearah nakas. Jika beberapa jam lalu dari Sehun, kali ini dari orang yang berbeda.
"Hm?" jawabnya tak minat begitu mengangkat panggilan.
"Moodmu sedang buruk ya?" Suara disebrang sana menebak cepat begitu mendengar gumaman Baekhyun.
"Tidak" si mata sabit berusaha mengelak, ia malas jika harus ditanyai macam-macam.
"Jangan membohongiku, ada apa? hari ini ditinggalkan sendiri lagi?" Sekali lagi pria itu menebak dengan tepat. Baekhyun juga tidak mengerti bagaimana orang disebrang sana bisa langsung tahu keadaan moodnya hanya dari sambungan telpon.
"Kau tak ingin bicara denganku?" Baekhyun terdiam, sebenarnya ia butuh teman mengobrol. Atau mungkin seseorang yang mau ia ajak pergi keluar dan menemaninya seharian ini. Tapi belum sempat mengatakan apa yang hendak ia ujarkan pria disebrang sana kembali bersuara.
"Ya sudah kalau begitu. Ku tutup."
Tut
Dan, panggilan benar-benar diakhiri sepihak. Baekhyun sontak menarik ponsel dari telinganya. Mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya bagaimana hari ini Chanyeol juga berlaku sama menyebalkannya dengan yang lain. Tidak, bahkan lebih menyebalkan dari apapun.
"Yah! Apa-apaan?! Kenapa tiba-tiba menutupnya?! Aku bahkan belum sempat mengatakan apapun, Dasar Park menyebalkan!" gerutunya meluap-luap mengeluarkan segala amarah yang tak mampu lagi ia tahan.
"Bukankah beberapa minggu lalu dia bilang ingin menjadi kekasihku? Tapi bagaimana bisa berperilaku begini? Aku bersumpah takkan menjawab pertanyaan bodohnya! Mati saja sana!!!" Baekhyun dengan kesal melempar ponsel tak berdosanya. Kemudian mengubur semakin dalam dirinya dibalik selimut.
..
Acara bermalas-malasannya terganggu begitu Baekhyun menangkap suara gaduh dari ponselnya lagi. Dengan setengah hati pria itu bangun dari berbaringnya. Mencari dimana benda persegi panjang yang tadi ia lemparkan.
Wajahnya kembali tertekuk melihat siapa yang menelpon. Dengan kasar ia tolak panggilan itu. Tak berapa lama ponselnya kembali berdering menampilkan nama yang sama.
"Tck! Untuk apa menelponku lagi?!" sambil setengah memekik akhirnya Baekhyun mengangkat panggilan.
"Keluarlah! Aku didepan rumahmu, para pengawalmu ini tak mengizinkanku masuk"
"APA?"
Irisnya melebar, tanpa pikir panjang Baekhyun segera turun dengan panik. Mengabaikan rasa kesalnya pada si pelaku penelponan.
"Seperti yang diharapkan, pengamanan disini benar-benar luar biasa rupanya" alih-alih merasa bersalah karena hampir membuat keributan, pria Park itu dengan santainya malah tersenyum lebar.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" cerca Baekhyun tak menanggapi perkataan Chanyeol. Jantungnya masih berdebar cepat, untungnya ia bisa datang disaat yang tepat. Jika tidak sudah dipastikan pengawalnya akan langsung melaporkan kedatangan Chanyeol pada ayahnya.
Bukannya tersinggung, Chanyeol malah menatap Baekhyun antusias "Ayo pergi!"
Yang lebih pendek mengernyitkan dahinya bingung "Apa?"
"Aku tahu mood mu sedang buruk. Untuk itu aku datang mengajakmu pergi kesuatu tempat."
"Kemana?" Baekhyun memicingkan manik sabitnya "Kau tidak merencanakan sesuatu yang aneh kan?" ujarnya sambil menelisik lebih jauh, menatap Chanyeol dengan pandangan curiga. Sedikit banyak Baekhyun merasa trauma dengan ajakan pria jangkung itu.
Chanyeol mencibir "Tentu tidak. Kita akan pergi ke Gangwon"
"Untuk apa pergi ke Gangwon?" tanyanya sejali lagi
"Bersenang-senang dengan bermain ski? Aku janji kau pasti suka tempatnya"
..
Mereka tiba pukul 5 sore, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam. Baekhyun menyetujui ajakan itu. Pergi bersama Chanyeol adalah satu-satunya pilihan terbaik. Ya setidaknya pergi bermain ski akan jauh lebih menyenangkan daripada berbaring seharian di kasur. Daemyung Vivaldi Park, sebuah ski resort yang cukup terkenal di Korea Selatan.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun. Pergi untuk membeli tiket masuk dan menyewa alat-alat ski serta perlengkapan lain untuk mereka gunakan. Sedangkan kedua bodyguardnya mengekor dengan patuh dibelakang. Baekhyun bersyukur karena dua orang itu setuju untuk meninggalkan stelan jasnya dan menggantinya dengan pakaian yang ia berikan. Jadi ia takkan menjadi pusat perhatian kali ini.
"Chanyeol, aku tidak bisa melakukan ini" ujarnya dengan tangan yang memegang erat pria jangkung didepannya. Baekhyun nampak ketakutan karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya diatas papan. Pria itu juga terlihat menggemaskan dengan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, hanya menyisakan manik sipitnya yang tak tertutup apapun.
"Kau harus tenang, oke? Aku akan mengajarimu"
Chanyeol perlahan melepas genggaman lentik Baekhyun pada jaketnya. Menuntun pemuda itu agar bisa berdiri dengan seimbang. Kemudian mulai mengajari dasar-dasar gerakan ski.
Minho dan Lucas dibelakang memperhatikan keduanya. Dengan penampilan yang tak jauh berbeda, papan ski dan poles ditangan.
"Hyung, apa kau berpikir sesuatu yang sama denganku?" yang lebih muda memecah keheningan.
"Apa?" Minho menjawab dengan pandangan yang tak terputus mengarah pada sang tuan muda.
"Sepertinya tuan muda Baekhyun memiliki hubungan khusus dengan pria itu. Ah, kalau tidak salah namanya Park Chanyeol kan? pewaris utama Leon grup?"
Akhirnya pria yang berkulit sedikit kecoklatan itu menoleh. "Hubungan seperti apa yang kau maksud?"
"Yah kau taulah, bukankah tuan muda diasingkan karena orientasi seksualnya yang memyimpang? Sepertinya dia belum sembuh. Dan kurasa pria itu lebih dari sekedar temannya."
Minho tak lagi memberi tanggapan atas komentar Lucas tentang tuannya. Karena itu bukan urusan mereka, begitulah pikirnya.
"Tapi bukankah Park Chanyeol itu straight? Kudengar beberapa bulan lalu ia sempat dijodohkan dengan putri dari salah seorang pengusaha besar juga, tapi batal karena pria itu melarikan diri"
"Darimana kau tau semua itu?"
"Eiy, itu sudah menjadi rahasia umum. Tapi tidak heran juga jika pria itu menjadi gay karena tuan muda. Lihatlah tuan muda begitu cantik, menawan, dan tubuhnya benar-benar bagus. Aku juga takkan keberatan menjadi gay kalau dengannya"
Tak
Minho memukul kepala Lucas dengan poles ditangannya. "Sadarlah! dia adalah majikanmu, jadi singkirkan segala pemikiran anehmu itu! Lagipula mana mau tuan muda Baekhyun dengan pria sepertimu?" ujarnya diakhiri dengan sebuah decihan remeh.
Lucas meringis menahan sakit, tangannya mengusap dimana Minho memukulnya. Tapi mulutnya itu belum bisa berhenti bersuara.
"Menurutmu bagaimana reaksi tuan besar jika tau tentang ini?"
Yang lebih tua menghela nafas kasar "Diamlah, dan lakukan saja tugasmu dengan benar!" ujar Minho yang mulai geram dengan segala ocehan pria disampingnya.
Sementara dua orang pria itu sibuk bergosip dan berdebat, Chanyeol dan Baekhyun telah berpindah ke tempat yang lebih tinggi.
Setelah mengajari dasar-dasar bermain ski pada Baekhyun, kini si manis itu sedikit banyak mengerti cara bermainnya. Chanyeol juga mengajarkan beberapa trik dan cara meluncur yang baik dan benar.
Baekhyun tak henti berdecak kagum melihat bagaimana permainan ski Chanyeol yang begitu menakjubkan. Pria itu meluncur dengan sangat keren, seperti seorang profesional.
"Wah! Kau keren!" puji Baekhyun begitu Chanyeol telah kembali berdiri disampingnya.
"Sekarang kau cobalah "
Binar dimatanya seketika meredup, kemudian mencicit lirih "Tidak bisakah aku melihatmu saja? Lihatlah, bukankah itu terlalu curam? Bagaimana jika aku terus meluncur dan tak bisa berhenti?" tanpa sadar Baekhyun mengeluarkan rengekannya dan itu cukup untuk membuat Chanyeol tertegun selama beberapa saat. Apalagi si cantik itu memberikan tatapan seperti anak anjing, membuat Chanyeol tak tega sekaligus gemas.
"Baiklah kalau begitu kita meluncur bersama"
Baekhyun menggeleng, sebenarnya ingin mencoba tapi rasa takutnya jauh lebih besar. "Ada aku disampingmu" Ujar yang lebih tinggi mengulurkan tangannya, menawarkan untuk sebuah genggaman. "Percaya padaku, hm?"
Dan kalimat Chanyeol bagaikan sihir, Baekhyun meraih tangan pria itu, menggenggamnya dengan erat kemudian. Mencoba mempercayakan diri pada apa yang Chanyeol ucapkan.
Mereka berhasil meluncur dengan baik, Baekhyun tak bisa berhenti tersenyum. Itu benar-benar luar biasa, rasanya seperti diterbangkan, sangat menyenangkan. Membuatnya ingin merasakan lagi dan lagi.
Pria mungil itu akhirnya memberanikan diri melakukannya sendiri. Kini tengah bersiap dengan papan skinya.
"Kau pasti bisa melakukannya, ingat apa yang telah kuajarkan. Aku akan mengawasi dari sini tenang saja!" Chanyeol berteriak meyakinkan Baekhyun agar ia tak merasa takut. Berdiri agak jauh dengan ponsel yang ia arahkan untuk merekam si mungil yang menjadi pujaan hatinya.
Baekhyun memang berhasil meluncur dengan baik, tapi ia mendarat dengan tak elit. Dan itu membuat Chanyeol tak bisa berhenti menertawainya. Tubuh mungilnya dipenuhi salju, dan itu membuatnya terlihat berkali-kali lebih lucu. Baekhyun yang kesal tak lagi ragu melempar pria yang menurutnya kelebihan kalsium itu dengan bulatan salju besar yang ia buat. "Berhenti menertawaiku!"
Baekhyun mengambil salju lagi, membentuknya jadi seperti bola, kemudian melemparkan pada Chanyeol. Kali ini salju itu tepat mengenai wajahnya. "Ups, hahahaha! Rasakan itu"
Mendapati serangan bertubi-tubi, Chanyeol tak ingin kalah. Pria itu balas melempar salju pada Baekhyun. Dan mereka berdua berakhir saling kejar-kejaran, berlarian diatas salju yang semakin menebal. Dengan suara tawa sebagai pengiring.
"Hentikan!" Baekhyun yang mulai lelah berlarian sambil tertawa itu memutuskan menyudahi. Membaringkan tubuh diatas salju, menarik kain yang menutup bagian hidung dan mulutnya. Mengatur kembali nafas dan meredakan tawanya.
Chanyeol menurut, membuang bola salju yang ada digenggaman kemudian ikut berbaring disamping Baekhyun. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam, menikmati melihat langit yang telah menggelap dengan beberapa bintang menghiasi.
"Chanyeol"
Yang merasa dipanggil menoleh, melihat Baekhyun masih memandang langit dengan senyuman cerah. Melihat itu membuat Chanyeol ikut merasa senang.
"Terima kasih"
Si jangkung memiringkan tubuh, menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. "Untuk apa?" mata bulat itu menatap lamat bagaimana wajah rupawan Baekhyun yang sedikit memerah karena dingin.
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol "Untuk semuanya" menjeda kalimatnya sejenak "Terimakasih telah menyelamatkan malam natalku kali ini"
Chanyeol tersenyum simpul, "Kalau begitu aku juga berterima kasih karena kau telah menjadikan hari ini sebagai malam natal terbaikku"
Pria dengan telinga peri itu bangkit, duduk dengan kedua kakinya yang tertekuk. Memandangi orang-orang yang sibuk berlalu lalang didepan sana. Chanyeol masih tak percaya, tanpa sadar sebuah senyum sekali lagi muncul dari belah bibirnya. Ia tak membual jika ini adalah malam natal terbaik selama ia hidup.
"Baek" Si tampan memecah keheningan.
"Hm?" gumaman Baekhyun masih dengan posisi berbaringnya.
"Kau belum memiliki jawaban atas pertanyaanku?"
Baekhyun mengerjap beberapa kali. Perlahan duduk setelah pertanyaan Chanyeol padanya. Jauh didalam sana Baekhyun tahu pasti jawaban atas pertanyaan Chanyeol. Ia tahu jelas perasaan macam apa yang selama ini hadir saat bersama dengan si tinggi itu. "Ehm, s-soal itu—"
Chanyeol kembali menyelami paras seseorang yang telah berhasil menggetarkan hatinya. Menunggu kalimat apa yang akan Baekhyun ujarkan.
Beberapa menit berlalu tapi yang lebih mungil tak juga melanjutkan. "Kau masih ragu ya?"
Tangan Chanyeol menangkup sebelah pipinya. Baekhyun balas menatap manik sehitam jelaga milik Chanyeol. Ia harusnya bisa dengan mudah mengatakan Ya, tapi entah mengapa suaranya mendadak hilang entah kemana.
Chanyeol memberi usapan lembut pada pipi Baekhyun yang memerah. Entah karena suhu yang semakin dingin atau hal lain. "Tidak masalah, aku akan menunggu. Satu hal yang harus kau ingat, bahwa aku benar-benar mencintaimu Byun Baekhyun. Terlepas dari siapa dirimu sebenarnya, dan keluargamu. Aku tulus mencintaimu"
Baekhyun tak membalas apapun, Chanyeol menarik kembali tangannya. Tapi diluar dugaan Baekhyun justru menahan tangan pria itu. Menggenggam jari pria yang jauh lebih besar dari miliknya. Chanyeol menatap dengan pandangan bertanya, tak begitu lama sampai ekspresinya berubah dengan matanya yang melebar.
Kedua belah bibir itu saling menyatu. Chanyeol terkejut tentu saja. Ia tak menyangka Baekhyun akan menciumnya, saat ini, disini, di tempat umum.
Beberapa detik bibir mereka saling menempel, tanpa pergerakan apapun. Chanyeol yang telah kembali dari rasa terkejutnya mulai bergerak. Jarinya kembali ia arahkan untuk membelai pipi sebelah kiri Baekhyun, bibirnya menyesap perlahan bagian bawah lunak itu. Melumatnya dengan penuh kehati-hatian.
Baekhyun memejamkan mata, terlalu malu untuk menatap Chanyeol. Sebenarnya ia juga tak mengerti darimana ia mendapat keberanian mencium pria ini. Jari lentiknya mencengkram erat jaket yang Chanyeol gunakan, menyalurkan rasa gugupnya. Baekhyun mencoba membalas ciuman pria itu dengan kaku. Sebisa mungkin mengimbanginya.
Dirasa nafasnya mulai habis Baekhyun mendorong dada Chanyeol pelan. Tautan keduanya terputus, menyisakan jarak untuk bernafas. Wajahnya begitu dekat hingga nafas hangat Chanyeol masih ia rasakan menerpa wajahnya, membuat Baekhyun semakin dilanda gugup luar biasa.
"K-kita harus kembali, mereka pasti mencariku" cicit Baekhyun menundukkan kepala dalam, menyembunyikan wajahnya yang terasa begitu panas. Ini memalukan bagaimana ia bisa berlaku begitu agresif pada Chanyeol.
...
Chanyeol melangkahkan kakinya dengan semangat, suasana hatinya menjadi sangat bagus hari ini. Ia bahkan bersenandung lirih saking bahagianya.
"Darimana kau?" sebuah pertanyaan langsung menyapa begitu melewati ruang tengah. Chanyeol melirik sekilas, moodnya sedang bagus dan ia tak ingin seseorang merusaknya.
"Bukan urusanmu" jawabnya santai sambil terus berjalan menuju kamarnya.
"Kau pergi dengan pria itu?"
Chanyeol seketika menghentikan langkahnya. Berbalik melayangkan tatapan tak suka pada sang ayah "Jangan mengusiknya"
Pria yang telah dihiasi kerutan diwajah itu tersenyum miring "Tidak, mana mungkin aku berani mengusik putra dari seorang Byun Jae In"
Chanyeol menatap ayahnya penuh selidik, dahinya sedikit mengkerut memikirkan apa yang ayahnya inginkan.
"Aku hanya ingin membuat kesepakatan. Kembalilah ke perusahaan dan dapatkan kembali asetmu, aku takkan ikut campur soal hubunganmu. Aku juga akan bersenang hati merestui kalian berdua"
Alis Chanyeol berkerut semakin dalam. Ada apa dengan ayahnya? Kenapa pria itu tiba-tiba menjadi baik? Ayahnya bahkan tidak menentang sedikit pun akan orientasinya yang tiba-tiba menyimpang. Tawaran yang ayahnya berikan juga sangat menguntungkan pihaknya, tentu saja Chanyeol curiga.
"Apa yang kau rencanakan?"
Sang ayah terkekeh, entah sedang menertawakan apa. Karena menurut Chanyeol tak ada sesuatu yang lucu sama sekali.
"Astaga, kau begitu membenciku rupanya. Tak ada yang kurencanakan, aku hanya ingin melihat putraku bahagia"
Chanyeol nampak berpikir, mencoba menimang jawaban apa yang baiknya ia berikan. "Baiklah" si jangkung menyetujui, tentu saja ia tak serta merta mempercayai Ayahnya. Chanyeol hanya mencoba mengikuti permainan macam apa yang coba dilakukan pria itu.
...
Sehun berdiri bersedekap dada, menatap kakak satu-satunya yang barusan pulang.
"Darimana?" Baekhyun mengangkat kepalanya, tapi langsung menunduk lagi begitu mendapati tatapan tajam Sehun padanya. Ini belum terlalu larut sebenarnya, ia sampai dirumah tepat pukul 9 malam.
"Kenapa tak memberi tahuku? Kudengar seorang pria datang kemari dan menjemputmu, siapa dia?"
Baekhyun semakin ciut, ia tahu Sehun adalah adiknya. Tapi entah mengapa Baekhyun merasa begitu takut, selama ini ia tak pernah menyembunyikan apapun dari Sehun. Beberapa kali ia ingin bercerita, tapi ia urungkan menanti waktu yang tepat.
" Em.. I-itu" Baekhyun menelan ludahnya kasar "Aku p-pergi bersama Chanyeol"
Sehun menukikkan alis, wajahnya nampak tidak suka.
"Kami pergi ke Vivaldi Park, Chanyeol mengajakku kesana untuk bermain ski. Aku mengikutinya karena bosan dirumah, tadinya ingin memberitahumu tapi kupikir kau sedang sibuk" Baekhyun menjelaskan panjang lebar. Sedangkan Sehun menghela nafas berat.
"Kau memiliki hubungan dengannya?"
Baekhyun terkesiap, kepalanya reflek terangkat mematut Sehun didepannya. Baekhyun kehilangan kata, ingin mengelak tapi memang begitu adanya. Ingin langsung membenarkan juga tak sampai hati.
"Ah, jadi tebakanku benar?"
Dan malam itu Baekhyun berakhir menceritakan semuanya. Semua yang terjadi padanya dan Chanyeol, menceritakan bagaimana perasaanya pada pria tinggi itu. Baekhyun tak bisa lagi menyembunyikan hal ini dari adik semata wayangnya. Lagipula ia juga membutuhkan seseorang disisinya, sosok keluarga yang bisa ia gunakan sebagai sandaran dan berkeluh kesah.
...
Pagi ini suasana meja makan keluarga Byun terlihat lebih ramai, mereka sarapan dengan formasi lengkap. Meski sedikit terlambat, tapi Baekhyun tetap memakan sarapannya dengan bahagia. Ayah dan ibunya baru pulang setengah jam lalu. Baekhyun terus tersenyum memikirkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya nanti, ia berencana memberikan kado istimewa natalnya setelah sarapan.
Makan bersama selalu begitu hening, keluarga Baekhyun benar-benar menjunjung tinggi etika dan kesopanan, jadi tak ada yang diperbolehkan bicara saat makan. Karena itulah Baekhyun benci orang yg berisik atau selalu mengajaknya bicara saat makan.
Anak tertua Byun itu baru menyelesaikan makannya, beralih mengambil air putih ketika ayahnya tiba-tiba berucap "Baekhyun apa kau memiliki kekasih?"
Gelas berisi air putihnya belum sempat menyentuh mulut. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Pria berparas cantik itu gemetar, meletakkan kembali gelas ditangan. Berusaha setenang mungkin menjawab pertanyaan ayahnya.
"Aku terlalu sibuk kuliah di London, mana sempat untuk memiliki kekasih."
Ayahnya mengangguk, rautnya nampak begitu tenang "Cobalah untuk berkencan dengan seseorang, kau sudah berusia 25 kan? Kurasa sudah saatnya untuk menikah"
Jantungnya berdebar cepat, perasaannya jadi tidak enak secara mendadak. Baekhyun tak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba membahas masalah pernikahan.
"A-aku masih belum siap untuk menikah, lagipula aku masih harus menyelesaikan S-2 ku"
"Umur 25 masih begitu muda, tidak perlu buru-buru" satu-satunya wanita disana menginterupsi, berusaha memberikan pembelaan untuk putranya.
"Setidaknya cobalah untuk berkencan dengan seseorang. Ayah memiliki kenalan, putri Perdana menteri Kang. Dia gadis yang cantik, cerdas dan terpelajar, kurasa akan cocok denganmu."
P-putri?
Baekhyun bergeming, otaknya menjadi blank, tubuhnya mendadak kaku. Ini seperti de javu. Benar-benar sama persis, mengingatkannya kejadian 10 tahun lalu.
Tak kunjung mendapati jawaban, sang ayah melanjutkan" Kau bisa menemuinya Sabtu depan"
Ia bisa merasakan Sehun tengah menatap kearahnya, sebelum telinganya mendengar suara dingin pria itu "Ayah, biarkan Baekhyun hyung mencari pasangannya sendiri. Lagipula jaman sudah berkembang, perjodohan itu terlalu kolot."
"Ayah tidak akan memaksa, lagipula ini hanya akan menjadi pertemuan biasa"
Tidak, itu tidak akan menjadi pertemuan biasa. Baekhyun tahu benar apa artinya, ia tak diberi kesempatan menolak. Sungguh, ia pikir ayahnya sudah menerima keadaan dirinya, tapi ternyata semua masih sama. Rupanya 10 tahun tidak merubah apapun pria yang ia warisi marganya itu sama sekali belum menerima kekurangannya.
Baekhyun menarik nafas dalam mengumpulkan keberaniannya. Mencoba menolak, menjelaskan dengan mengingatkan kembali keadaanya "T-tapi ayah kau tahu jika orien-"
"Semoga kali ini kau tak mempermalukanku Baekhyun"
...
..
.
TBC
Hello aku kembali wkwkwk
Terimakasih yg masih setia baca dan meninggalkan jejak
See you next time ~
