LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Baekhyun berdiri kaku didepan pintu ruang kerja sang ayah. Dilema antara masuk atau mengurungkan niat. Ia ingin berbicara, mencoba sekali lagi untuk menolak secara baik-baik.
Tok Tok
Begitu mendengar balasan dari dalam pria berperawakan mungil itu memantapkan diri, kakinya ia bawa memasuki ruangan dibalik pintu. Matanya langsung menangkap sosok yang paling ia segani itu tengah bergelung dengan berkas-berkas dibalik meja kerja.
"Oh, Baekhyun ada apa?" tanya si pria baya dengan perhatian yang telah teralihkan penuh untuknya.
"A-ayah maaf menggangumu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan"
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyanya dengan intonasi tenang sekaligus datar.
"Em, tentang pertemuan itu— bisakah aku tak melakukannya?" cicit Baekhyun sedikit meragu.
"Kenapa? Temui saja dulu, dia gadis yang baik." bujuk sang ayah nampak acuh dengan mata kembali terfokus pada dokumen dimeja.
"Bukan itu maksudku, Ayah k-kau tahu orientasiku berbeda. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan seorang wanita—"
Wajah yang sebelumnya nampak acuh itu seketika mengeras, aura yang tadinya cukup dingin kini entah mengapa jadi menggelap. Pria itu menghembuskan nafas kasar, terlihat geram "Kau akan tetap menikahi wanita Baekhyun, aku tidak peduli dengan orientasi seksual atau apapun itu. Kau akan tetap menemuinya."
Baekhyun menggigit bibirnya sambil berusaha mengatur nafas. Rasanya sangat sesak, tenggorokannya semakin tercekat. Firasatnya memburuk, diam-diam otaknya memutar kembali kejadian itu.
"A-aku berjanji takkan membuat kekacauan, t-tapi kumohon jangan memaksaku untuk ini"
Byun Jae In tersenyum kecut, pria itu menatap tajam manik putranya. Sementara iris coklat Baekhyun yang ditatap bergetar samar. Pria dengan kacamata itu meletakkan penuh kertas di tangan, bersedekap dada dengan punggung ia sandarkan pada kursi.
"Lalu apa yang selama ini kau lakukan dengan Park Chanyeol?"
Kalimat itu meluncur mulus dan tajam. Jantung Baekhyun seketika jatuh ke lutut rasanya. Bulatnya melebar, bibirnya terbungkam telak, tak lagi mampu mendebat. Dalam hati merutuki betapa bodohnya ia mengira jika ayahnya itu tak tau apa-apa.
"Selama ini aku diam, tapi pria itu dengan lancangnya malah datang kemari. Dan kalian berdua berkeliaran ditempat umum seperti itu. Kau pikir jika media menangkapnya itu takkan menjadi kekacauan?"
Baekhyun masih terdiam dengan pandangan nanar. Tak tahu harus mengatakan apa lagi sebagai pembelaan. Apakah ia membuat kesalahan lagi kali ini?
"Rupanya beberapa tahun di London tidak cukup untuk menyadarkanmu Baekhyun. Kau hampir menjatuhkan reputasiku 10 tahun silam. Bahkan namaku belum sepenuhnya bersih dari masalah yang kau buat dulu. Ini tahun terakhir masa jabatanku, aku hanya ingin dikenang sebagai sosok yang bermartabat tanpa cacat."
"Kau hanya perlu bereskan kekacauanmu yang telah mencoreng nama baikku. Cukup diam dan turuti apa kataku!"
Mata sipitnya memburam, semakin bergetar membalas pandangan si pria baya. Tangan berjari lentik terkepal berusaha menahan sekuat tenaga agar liquid beningnya tak sampai jatuh. Ayahnya sama sekali belum menerima keadaannya.
"Jauhi Park Chanyeol, atau pria itu juga akan menerima imbasnya"
Kejadian ini sedikit banyak membuka memori luka lama dalam benak Baekhyun. Saat-saat dimana ayahnya begitu murka atas pengakuannya. Marah, berteriak, dan juga sebuah tamparan pun tak terelakan ia terima.
Saat itu usianya baru 15 tahun. Baekhyun muda masihlah seorang remaja labil yang baru tahu jatuh cinta. Perasaan asing yang begitu aneh menurutnya, tapi tak menampik jika rasanya juga menyenangkan. Sepuluh tahun lalu, untuk pertama kali jantungnya berdebar karena seseorang. Cinta pertamanya.
Terkadang Baekhyun begitu iri, bagaimana orang-orang bisa saling mencintai tanpa khawatir mendapat gunjingan dan cacian. Kalau boleh memilih ia juga tak ingin dilahirkan seperti ini. Ia tak mau mencintai seseorang yang memiliki tubuh sama sepertinya. Tapi Baekhyun bisa apa? Ia tak diberi pilihan.
Dan untuk cinta pertama, itu adalah yang terburuk. Baekhyun jatuh terlampau dalam pada sosoknya. Pria yang tampan, hangat, dan penuh cinta. Pria yang begitu baik, memperlakukan Baekhyun layaknya berlian berharga yang harus dijaga. Mereka berdua bahkan sudah mengaku saling tertarik, tapi seminggu berselang semuanya berubah. Pria itu berkata lain. Menampik segala ucapannya, mengatai Baekhyun dengan sebutan gay menjijikkan, bahkan tanpa sungkan meludahinya. Baekhyun sakit hati, jelas. Hatinya hancur berkeping-keping, semua kepercayaan direnggut begitu saja.
Belum sembuh dari rasa kecewa, Ayahnya yang terhormat itu membuatnya semakin parah. Baekhyun ditarik paksa dalam sebuah perjamuan makan. Sebuah perjodohan berkedok makan malam keluarga. Sebenarnya ayahnya berniat baik, ingin menyadarkan putranya sebelum terjerumus semakin dalam. Tapi Baekhyun yang masih belum stabil semakin terguncang. Berakhir membuat keributan yang menjadikan alasan ia harus didepak ke London selama bertahun-tahun.
Baekhyun yang tak terima berteriak histeris, mengatakan dengan lantang jika ia tidak menyukai wanita. Mengaku memiliki orientasi menyimpang, dan takkan pernah sudi untuk menjalin hubungan apapun yang berbau romantis dengan lawan jenisnya. Makan malam yang benar-benar kacau. Keluarga gadis itu merasa terhina, dan entah bagaimana setelah perjamuan itu rumor dengan cepat menyebar. Berita-berita miring tentangnya dicetak di berbagai macam platform berita. Ayahnya adalah orang yang berpengaruh, tentu menjadikannya perbincangan hangat di masyarakat. Saat itu tepat satu bulan sebelum pemilihan, dan apa yang dilakukan Baekhyun mengancam begitu besar. Terbukti, Byun Jae In gagal menjabat sebagai Presiden karena ulahnya.
Dihari dimana Ayahnya menerima kekalahan itulah yang menjadi malam puncak terburuk dari segalanya. Pria itu menyalahkan Baekhyun atas seluruh kegagalan yang ia terima. Membabi buta memukuli anaknya yang sebelum ini begitu ia sayang dan manjakan. Menghajarnya hingga pria itu tak sadarkan diri dan hampir menjemput ajal.
...
Sabtu malam dan pertemuan itu benar terjadi. Baekhyun mau tak mau harus datang menemui gadis yang Ayahnya bilang. Sebuah ruang private salah satu restoran mewah di tengah kota Seoul. Disana telah duduk manis seorang gadis cantik dengan rambut panjang tergerai.
"Oh, kau datang" ujar si gadis begitu menangkap kedatangan Baekhyun. Ia mengambil duduk bersebrangan dengan wanita itu. Pikirannya bercabang, memikirkan bagaimana baiknya ia bersikap. Haruskah ia jujur pada wanita itu atau menuruti ayahnya dan berakting layaknya pria normal.
"Namaku Kang Seulgi" setelah keterdiaman cukup lama yang berambut panjang lebih dulu memulai.
"Aku Byun Baekhyun" balas Baekhyun seadanya.
Sebuah dengusan terdengar setelah perkenalan singkat. Itu dari belah bibir si rambut panjang. Baekhyun menatap bingung kearah Kang Seulgi. Tak mengerti tentang arti dengusan begitupula maksud seringainya.
"Bukankah nasibku begitu sial?"
Baekhyun semakin mengerut kebingungan. "Apa maksudmu?"
Seulgi mengerling bosan, terlihat begitu muak, entah apa masalahnya.
"Bagaimana mungkin mereka menjodohkanku denganmu? Lihatlah, wajahmu bahkan jauh lebih cantik, dan parahnya kau seorang gay— bukan begitu?"
Ekspresi bingung Baekhyun berganti datar. Tapi bagaimana Seulgi juga mengetahui orientasinya yang menyimpang, itu sedikit mengejutkan. Oh, atau mungkin ini sudah menjadi rahasia umum?
"Jika tak suka kenapa tidak menolaknya?" Baekhyun memberikan tatapan tak berminat, malas berdebat atau mendengar kalimat-kalimat cacian dari mulut si gadis. Padahal sebelum ini Baekhyun berniat beramah tamah, berakting menjadi seorang pria baik-baik.
Seulgi menggeleng ribut, tak lupa untuk menyempatkan menelan minuman di mulutnya "Sama sepertimu. Ayahku takkan senang mendengarnya."
Baekhyun tak memberi respon. Terlalu klise, kehidupan orang kaya dengan jabatan tinggi tentu saja harus menjunjung tinggi nama baik.
Hening sejenak, mata dengan mono eyelid itu sibuk memindai "Tapi tidak masalah, meski kau memiliki banyak kekurangan, setidaknya kau akan memberiku banyak uang— dan status sosial yang bagus"
Baekhyun hanya bisa mendengus kemudian tertawa remeh. Bagaimana mungkin gadis seperti ini yang Ayahnya pilih? Wanita baik-baik? Terpelajar? Omong kosong.
...
Malam yang biasa ia habiskan bersama tumpukan kertas berisi lirik lagu atau gitar kesayangannya sangat berbeda dengan hari ini. Chanyeol menghela nafas bosan. Mengecek arloji yang melingkar apik di pergelangan tangan. Benda itu menunjukkan pukul 8 lewat. Meski seminggu ini ia telah kembali ke perusahaan tapi berada di tengah pesta semi formal begini bukanlah gayanya. Kalau bukan karena mewakili ayahnya yang sedang diluar kota, Chanyeol takkan sudi datang.
Pria bermarga Park itu memutuskan minggir, melipir menjauhi kerumunan. Mengambil segelas wine sebagai teman sedang pikirannya kembali berkelana pada sosok yang beberapa hari terakhir hilang tanpa kabar. Seminggu lebih Baekhyun mengabaikan pesan dan panggilannya. Chanyeol tak mengerti kenapa, pertemuan terakhirnya berjalan sangat baik. Tak ada sesuatu pun yang salah menurutnya. Tapi pria itu bak ditelan bumi.
Si pria jangkung meneguk segelas wine ditangan, pandangan ia larikan kesana-kemari menyapu seluruh sudut ruang yang dipenuhi lautan manusia. Mencari sesuatu yang sekiranya menarik.
Matanya tiba-tiba berbinar, sebuah kebetulan, ia menangkap bayangan laki-laki dengan tubuh semampai. Berdiri angkuh dengan tangan terlipat diujung sana. Tanpa pikir dua kali Chanyeol segera melangkah menghampiri.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu lagi dengan mu, tuan muda Byun"
Pria dengan setelan jas mahal itu segera menolehkan kepala kearah Chanyeol. Pandangan keduanya bertemu, dan saat itu pula si pemuda memberikan decihan ringan "Mau apa kau?"
Chanyeol tersenyum mendapati respon ketus dan tak berminatnya. Tidak terkejut maupun sakit hati, sudah terlalu biasa.
"Tidak adakah sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Byun Sehun?"
Pria yang selalu menampilkan raut datar itu memutar bola mata malas "Apa yang kau inginkan? Kau tahu aku tidak suka basa-basi"
"Baiklah kalau begitu. Kau sialan!" maki Chanyeol enteng, sedangkan yang dimaki masih menampilkan raut tanpa emosinya "Kenapa kau membohongiku dan mengaku sebagai kekasih sekaligus tunangan Baekhyun?!"
Sehun menyakukan satu tangannya, menatap Chanyeol dengan pandangan bosan "Kau saja yang bodoh dan mudah dibohongi."
Chanyeol balas menghujani Sehun dengan tatapan kesal, entah mengapa pria ini selalu membuatnya jengkel kapanpun mereka bertemu. Membuat emosinya naik sampai ubun-ubun "Brengsek"
"Jangan lupa kalau aku masihlah adik kandung Byun Baekhyun. Kau butuh restu dariku"
Chanyeol mendengus geli, kemudian terkekeh tipis "Ah benar juga, kau calon adik iparku kalau begitu" ujar pria yang lebih tinggi sambil merangkulkan tangannya pada pundak Sehun. Menepuk beberapa kali pundak kokohnya, seakan mereka berdua adalah sepasang saudara yang tak terpisahkan. "Kalau begitu mulai sekarang aku akan bersikap baik padamu"
Sehun yang jengah menyingkirkan kasar lengan Chanyeol dari pundaknya. Meliriknya sinis sambil berucap "Percaya diri sekali kau akan menjadi kakak iparku"
Kedua manusia itu melanjutkan perbincangan tidak pentingnya sambil terus berdebat tidak jelas. Hingga yang lebih tinggi mengambil topik yang sedikit serius. Menanyakan sang pujaan hati, Byun Baekhyun.
...
Sehun tak mengerti harus berbuat apa lagi. Melihat kakak semata wayangnya yang seperti mayat hidup itu membuatnya tak tega. Ia menyesal tak bisa banyak membantu. Beberapa kali ia membela sang kakak, berbagai cara pula ia lakukan untuk membujuk sang ayah, tapi tetap nihil. Perintah pria itu tetap mutlak.
Tak ada yang berjalan baik, melenceng jauh dari dugaan. Semua yang ia pikir telah kembali seperti semula ternyata masih sama. Ayahnya yang begitu teguh pendirian, tak semudah itu menerima. Yang ada hanya memaksakan kehendak demi ambisinya sendiri.
Persis seperti yang Baekhyun kira, sabtu itu tak berhenti sampai disana. Makan malam keluarga, pembicaraan-pembicaraan yang menjurus ke pernikahan pun tak terelakan. Baekhyun tak diizinkan berpendapat, menolak, maupun berkomentar.
Tidak ada lagi kehidupan bebas, yang ada hanya hunian sangkar emas dan segala aturan memuakkan. Pengawalan pun semakin diperketat, Baekhyun tak lagi diberi izin untuk sekedar mengunjungi cafe atau mencari udara segar tanpa izin ayahnya langsung.
"Hyung.." Baekhyun yang tengah tenggelam dalam lamunan di balkon kamar masih bergeming. Pundak ringkih itu Sehun tepuk pelan, otomatis membuat tubuh si empunya berbalik.
Mata bulan sabitnya yang cantik entah pergi kemana. Tinggallah sipit itu begitu buruk, sedikit sembab dengan kantung mata yang begitu kentara. Wajahnya begitu datar dengan tatapan kosong, kehilangan semangat hidup.
"Apa yang kau lakukan disini? Sudah malam, tidurlah"
Baekhyun menggeleng "Aku masih ingin menghirup udara segar"
"Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu"
Kalimat Sehun dibiarkan menggantung begitu saja tanpa tanggapan. Baekhyun kembali menatap ke awang, menerbangkan pikirannya jauh kesana.
"Apakah begitu buruk menjadi seseorang yang menyimpang?"
Sehun melangkah mendekat, berdiri tepat disamping orang yang ia panggil kakak. Menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas, mematut wajah Baekhyun yang hanya disinari cahaya bulan.
"Apakah pria sepertiku tidak boleh bahagia juga? Aku tidak meminta banyak, sungguh. Aku hanya butuh kebebasan untuk bahagia yang sederhana, itu sudah lebih dari cukup. Apakah itu juga terlalu berlebihan?"
"Tidak, kau berhak bahagia Hyung. Menjadi menyimpang bukanlah sebuah kejahatan, kau pantas bahagia"
"Lalu kenapa hidupku begini? Kenapa pria itu memanggil ku pulang? membuatku berharap jika aku telah diterima lagi. Tapi nyatanya masih sama, tidak ada yang lebih penting daripada nama baiknya."
Pria mungil itu menunduk, meremat kain celananya. Suaranya bergetar menahan segala perasaan yang begitu campur aduk.
"Aku sangat menyesal tentang tindakan bodohku dulu. Aku tau itu kesalahan fatal, tapi tak adakah cara lain untuk memperbaikinya? Aku tak bisa jika harus menikah dengan wanita itu, Sehun."
Baekhyun mendongak, menatap manik Sehun yang berakhir tak mampu lagi menahan air matanya. Bening itu luruh begitu saja. Hanya mengalir tanpa ada isakan.
"Ada seseorang yang menungguku, aku tak bisa meninggalkannya."
Tanpa perlu bertanya Sehun tahu bagaimana Baekhyun mencintai prianya. Tapi dalam hati yang lebih muda masih meragu, bertanya benarkah pria itu memang yang terbaik untuk saudaranya. Sehun tak ingin sesuatu yang buruk terulang kembali. Sehun menatap sendu, seakan ikut merasakan bagaimana kesedihan Baekhyun.Dalam hati ia mengumpati diri sendiri, menyesal bagaimana ia melanggar janji yang telah ia buat.
"Kau yakin pria itu yang terbaik? Kau bisa pastikan Chanyeol akan membuatmu bahagia?"
...
..
.
TBC
Hello!
Gimana udah siap ditinggal Bapak negara wamil belom? Siapin hati ya.. Bentar lagi Baekhyun nyusul juga soalnya
