LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

Dingin semakin menyusup pada tubuh yang tanpa selimut, membangunkan sosok Baekhyun dari tidur singkatnya. Pening pertama mendera begitu membuka mata dan beranjak duduk. Hening, gelap, dan hampa, kamar besarnya semakin membuatnya kecil. Merasa tenggelam sekaligus terkurung. Tidur selalu tak nyenyak dengan segala tingkat stress yang semakin menjadi.

Baekhyun menemukan ponsel yang beberapa hari terakhir ia abaikan teronggok menyedihkan kehabisan baterai. Jika tak ingat ada seseorang yang menunggu kabar darinya, mungkin ia tak akan mau mengisi daya benda itu.

Lama hanyut dalam keheningan, telinganya menangkap sebuah suara yang sedari tadi mengusik. Baekhyun menoleh, dahinya mengerut. Terdengar seperti lemparan benda keras yang mengenai kaca, dari arah balkon. Tak tahan dengan penasaran Baekhyun akhirnya menyingkir dari ranjang, melihat gerangan apa yang ada disana.

Tanpa keraguan tangannya bergerak menggeser pintu menuju balkon. Kosong, hanya ada sedikit cahaya membuat penglihatannya terbatas. Hazel coklat mengerling menyisir tiap sudut memastikan tak ada yang terlewat. Tetap nihil, pemuda itu hampir masuk kembali. Tapi urung ketika sebuah batu kecil terbungkus kertas mendarat tepat disamping kakinya.

Alis Baekhyun terangkat membaca tulisan yang tertera di sana. Mengikuti isi dalam kertas, tubuhnya ia bawa mendekati pagar pembatas. Menjatuhkan pandangan kearah halaman belakang. Dan kontan mata sipit itu membeliak terkejut.

Siapa yang menyangka Chanyeol bernyali besar datang menemuinya. Berdiri menjulang dengan tangan melambai dan senyum manis tersemat disana.

Baekhyun yang belum kembali dari terkejut kelabakan ketika pemuda itu tiba-tiba menghilang dari pandangan. Ia bawa tubuhnya semakin merapat kearah pagar balkon. Melihat lebih jauh apa yang coba pria itu lakukan.

Mata tak henti melirik kesana kemari memastikan tak ada orang lain selain mereka berdua. Baekhyun buru-buru menyembunyikan pria tinggi itu. Menariknya masuk kedalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu dan menyembunyikan tangga yang digunakan si jangkung untuk memanjat.

"Kau pasti sudah benar-benar gila!" Baekhyun mengutuk, organ jantungnya hampir jatuh ke lantai. Ia tak mengerti apa yang dipikirkan Chanyeol hingga nekat datang.

"Aku merindukanmu"

Dua kata singkat dan Baekhyun tercenung. Memandang Chanyeol lamat sedang sosok itu tersenyum teduh.

Yang sipit memutus kontak, nafasnya ia buang kasar, wajah kusutnya diusap asal "Bagaimana jika Ayahku menangkap basahmu?"

"Maka aku akan menyapanya dengan sopan"

"Chanyeol!" Baekhyun berubah semakin kesal tapi tak bohong ia juga merasa senang pemuda itu datang. Chanyeol begitu ceroboh dan terlalu bernyali, bukankah seharusnya ia tahu bagaimana resikonya.

"Kau tidak merindukanku?" tanya Chanyeol menariknya dalam sebuah pelukan.

Sepersekian detik tubuhnya kaku, terkejut dengan perlakuan si tinggi yang tiba-tiba. Dadanya kembali berdesir. Merasakan hangat dan nyaman yang teramat dalam. Hingga terhanyut dalam luapan rindu pada dekap itu.

Mendadak otaknya memberikan alarm peringatan, perasaan takut berangsur-angsur melingkupinya. Semakin gila saat Chanyeol semakin erat mendekapnya yang berusaha berontak.

"Jangan seperti ini, bagaimana jika ada yang melihat"

Yang jangkung membalas sebuah gelengan, kembali menyamankan diri. Menyerukkan kepala semakin dalam pada leher si mungil. "Kau sudah mengunci pintu, lagipula ini tengah malam. Semua orang sudah tidur"

Baekhyun brakhir pasrah, menikmati degupan jantung yang seirama dengan milik pria yang berhasil mengambil hatinya. Tangannya balas merengkuh pinggang Chanyeol. Menghirup aroma tubuh yang entah selalu membuatnya lebih tenang. Ikut menyalurkan rindu yang beberapa hari tak tersampaikan.

"Sesuatu terjadi?"

Tak ada jawaban menyisakan kosong ditengah dua adam yang masih nyaman dalam posisinya.

"Baek?"

Rengkuhan Chanyeol lepas, mengusap pipi Baekhyun lembut. Mencari perhatian manik itu agar mau balas menatapnya. Gelengan samar Chanyeol terima setelahnya. Ia mengernyit, tentu bukan itu jawaban yang Chanyeol inginkan.

"Ceritakan semua padaku, aku hanya mendengar sedikit dari Sehun"

...

Dibalik sebuah kursi kebesaran salah satu ruangan mewah gedung pencakar langit. Sosok lelaki paruh baya yang telah banyak dihiasi kriput itu menggeram tertahan. Mata tua tak lepas memandangi belasan foto yang berserakan diatas meja.

Beberapa menit lalu, orang suruhannya mengirimkan lembaran-lembaran foto yang ia kenal benar siapa objeknya. Giginya bergemelatuk, amarahnya seketika tersulut.

Byun Jae In membuang nafas kasar dengan tangan terkepal erat. Putranya cukup untuk ia kendalikan, tapi si bungsu dari keluarga Park itu rupanya masih begitu nekat.

'Sepertinya Park Chanyeol itu memang membutuhkan sedikit pelajaran'

Tangan tuanya ia gerakan cepat, mengambil ponsel yang ia letakkan dalam saku.

"Beritahu Duta Besar China jika aku tidak bisa menghadiri perjamuan besok. Katakan karena alasan kesehatan. Aku akan kembali ke Korea malam ini"

...

"Tuan Muda.." sayup sayup telinganya mendengar panggilan dari luar. Mata sabit itu perlahan terbuka, berusaha membiasakan cahaya yang mencoba masuk. Dalam beberapa hari terakhir sepertinya ini adalah tidur paling nyenyak yang Baekhyun rasakan.

Begitu mata itu terbuka, saat itulah kantuknya hilang seketika. Bagaimana tidak, jika yang ia temukan adalah Park Chanyeol yang masih terlelap dengan tangan melingkar nyaman dipinggangnya.

TOK

TOK

"Tuan muda, sarapan sudah siap"

"Tuan besar menunggu anda dibawah"

Otaknya berhenti bekerja sekarang, ia sudah cukup stress mendapati Chanyeol tidur disebelahnya dan sekarang ayahnya tiba-tiba pulang.

TOK

TOK

"Tuan muda..?"

"Y-ya! Aku akan turun sebentar lagi"

Baekhyun merutuki dirinya sendiri, bagaimana ia bisa berakhir tertidur semalam? Chanyeol meminta menceritakan semuanya, tapi ia malah menangis semalaman. Baekhyun ingat Chanyeol terus mengatakan untuk berhenti menangis, mengusap punggungnya dan menariknya dalam pelukan hangat. Setelah itu ia tak ingat apapun.

"Chanyeol!" masih dalam posisi berbaring, tangannya ia arahkan untuk menepuk pipi pemuda itu.

Chanyeol terusik, tapi hazel hitam itu belum juga nampak dari balik kelopaknya.

"Chanyeol!" kali ini Baekhyun menepuk pipinya lebih keras sambil menggoyangkan bahu yang lebih tinggi. Satu erangan dan akhirnya manik itu terbuka.

Sebuah senyum Baekhyun dapatkan pertama kali. "Sepertinya aku masih bermimpi" ujar Chanyeol terkekeh kemudian kembali menutup mata dan melesakan kepalanya pada leher yang lebih mungil.

Baekhyun dengan cepat mendorong kepala itu. "Bangun! Ini sudah pagi dan demi tuhan kau tidak bermimpi!"

Chanyeol membolakan mata dan segera merubah posisinya menjadi duduk. "Ah Sial! Semalam aku juga ketiduran"

"Asal kau tahu ayahku tiba-tiba pulang hari ini!"

"Kalau begitu aku akan pergi" Dengan nyawa yang setengah terbang Chanyeol bangkit dari ranjang. Membuka pintu balkon kamar Baekhyun gaduh. Hendak mengambil tangga yang semalam ia letakkan disana. Belum sempat menurunkan tangganya, Chanyeol kembali mengumpat. Beberapa pengawal berdiri dibawah sana.

Dengan segera ia kembali masuk kedalam kamar Baekhyun. Menemukan pemuda itu berdiri ditengah ruangan sambil bersedekap menatap datar kearahnya.

"Ada banyak pengawal" ujar keduanya bersamaan.

...

Baekhyun duduk dengan gelisah. Merasa tak nyaman dengan pikiran terbang pada Chanyeol yang masih ada didalam kamarnya.

"Ada apa?"

Baekhyun terkesiap, menatap kearah ayahnya yang tengah mengamati. Sang Ibu ikut mengalihkan pandangan. "Kau tidak suka lauknya?" ujarnya menimpali.

"T-tidak—" Baekhyun segera menyuapkan nasi pada mulut. Mencoba bersikap senormal mungkin. Meski pikiran setia berkecamuk, memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi jika Chanyeol tertangkap datang.

"Kau tidak mengajak temanmu sekalian makan bersama?"

Si mungil spontan tersedak ketika pertanyaan ayahnya menyapa pendengaran. Terbatuk berkali-kali hingga membuatnya kesulitan bernafas. Sang ibu segera menyodorkan air padanya. "Pelan-pelan"

"Aku yang akan meminta temanmu turun kalau begitu" Dengan raut tanpa emosi Byun Je In kembali berujar. Mengabaikan keterkejutan putranya disana.

"Siapa yang kalian bicarakan?" satu-satunya wanita itu mengernyit bingung.

"Tanyakan pada putramu, siapa temannya!"

"A-ayah—" Baekhyun berusaha mengujarkan kalimatnya disela batuk yang tak kunjung reda.

"Pelayan, panggil Park Chanyeol kemari!"

...

..

.

TBC