LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Baekhyun semakin gemetar begitu melihat figur pria tinggi menuruni tangga dari arah kamarnya dengan ditemani salah satu maid suruhan sang ayah.
Mata saling bertukar pandang dengan Baekhyun menatap resah sedangkan Chanyeol menenangkan si mungil itu dengan sorotnya.
"Oh, Siapa ini?" wanita baya disana pertama kali bersuara, mencoba mencairkan suasana karena ketegangan kental terasa setibanya Chanyeol dimeja makan.
Chanyeol membungkukkan badan, mulai memperkenalkan diri dengan sopan "Anyeonghaseyo, perkenalkan aku Park Chanyeol, putra bungsu dari Park Sungjin."
"Park Sungjin pemilik Leon Group?" sahut wanita itu cepat.
"Benar"
"Begitu rupanya, duduklah!" mempersilahkan si jangkung duduk disamping Baekhyun.
"Kau berteman dengan Baekhyun kami? Apakah semalam menginap disini?" Tanya ibu Baekhyun menyuarakan rasa penasaran pada si pemuda tampan nan tinggi tersebut.
"Y-ya, kami berteman. M-maaf, semalam saya datang cukup larut, baru mendengar jika Baekhyun sakit jadi saya kesini untuk berkunjung" Sedikit terbata, Chanyeol ragu memberikan jawabannya.
Wanita yang masih terlihat cantik itu mengangguk paham. Benar adanya jika putranya sempat sakit, tak begitu mempermasalahkan tentang kedatangan Chanyeol yang tanpa sepengetahuannya.
Lain dengan sang ayah yang memberikan pandangan remeh seakan mencemooh apapun yang barusaja Chanyeol katakan.
"Teman?" gumamnya diselingi sebuah dengusan mempertanyakan kata teman entah pada siapa. Mata tua itu beralih dari piring menuju wajah Chanyeol yang duduk disamping putranya.
"Makanlah, kita sarapan bersama"
Perasaan Chanyeol berubah tidak enak. Bahkan nada bicara pria itu begitu tenang, atau mungkin ayah Baekhyun telah merancanakan sesuatu? memcampurkan racun dalam makanan misalnya?
Chanyeol cepat-cepat menggeleng membuang jauh pemikiran konyol yang sempat melintas. Bagaimanapun Ayah Baekhyun tidak mungkin melakukan hal keji macam itu. Chanyeol tidak menolak, terlalu segan dan akhirnya ikut makan bersama.
Beberapa menit berlalu ayah Baekhyun telah selesai dengan sarapannya. Mengamati bagaimana kedua pemuda yang duduk bersisihan itu tengah dirundung gelisah, terlihat kaku, dan juga canggung.
Byun Jae In bangkit dari kursi kemudian berjalan menuju ruang kerjanya tanpa lupa akan undangan yang ia tujukan pada si pria jangkung. "Temui aku setelah menyelesaikan sarapanmu Park"
Ting
Suara dentingan nyaring besi yang bertemu dengan piring terdengar.
"Aku iku—"
"Hanya kau, aku tak ingin siapapun mengganggu apalagi kau Baekhyun"
Baekhyun hendak protes, tidak akan mengizinkan ayahnya itu bicara berdua dengan Chanyeol. Tapi apa dayajika si pria tua sudah bertitah?
...
Pintu kayu itu Chanyeol tutup pelan, menghadap Ayah Baekhyun yang kini tengah berdiri membelakanginya.
"Kunci pintunya"
Tanpa banyak tanya Chanyeol segera melaksanakan perintah pria baya itu. Jujur jantungnya berdebar kencang karena gugup dan takut yang bercampur jadi satu.
Beberapa menit diisi hening, yang lebih muda memilih menyapukan pandangan pada ruangan kerja ayah sang kekasih yang tak lain adalah seorang presiden negaranya. Mencoba mengalihkan rasa gugup yang semakin deras membanjiri. Mengamati dengan seksama detail apa saja yang ada di ruang ini.
"Katakan padaku Park, bagaimana Baekhyun dimatamu?" ujar sang presiden secara tiba-tiba. Akhirnya memecah hening yang sejak tadi melingkupi.
"Y..ya Tuan?"
"Apakah putraku begitu menarik? Menawan? Atau bagaimana?"
Chanyeol berdeham pelan mengenyahkan rasa gugup sebelum menjawab pertanyaan "Y-ya, Baekhyun begitu menarik dan sangat menawan"
Pria baya itu berbalik badan dengan tangan bersedekap, menatap manik yang lebih muda. "Jadi itu alasanmu menjalin hubungan dengan putraku? Apakah Baekhyunku memang semenarik itu, Sampai-sampai pria normal sepertimu ikut menjadi gay?"
Chanyeol menarik nafas dalam tak terlalu terkejut jika pria itu sudah tahu perihal hubungannya. Sesaat mengumpulkan nyalinya untuk memberikan jawaban "Jika kau bertanya alasanku menjalin hubungan dengannya, tentu saja karena aku sangat mencintai putramu. Tidak hanya menarik dan menawan, tapi semua yang ada padanya membuatku jatuh cinta. Dan mungkin kau benar, daya tarik Baekhyun begitu besar sampai mengubah pria normal sepertiku menjadi gay"
Byun Jae In mendengus "Cinta?" hampir meledakkan tawa merasa lucu dengan jawaban Chanyeol "Omong kosong apalagi ini? Kalian sudah cukup membuatku jijik dengan hubungan yang tidak wajar dan sekarang membicarakan tentang cinta? Sungguh menggelikan"
Chanyeol terdiam tak menanggapi cemoohan yang lebih tua padanya. Ia bahkan telah bertekad untuk memperjuangkan hubungannya, merasa begitu yakin pada sang pilihan hati. Byun Baekhyun.
"Aku tak mau dengar apapun tentang cinta atau hal-hal menjijikan lainnya. Aku hanya ingin kau menjauhi putraku."
"Tidak" Jawab Chanyeol lantang.
"Kau tahu hubungan semacam itu takkan diterima disini. Dan kau tahu benar siapa orang yang tengah kau kencani sekarang, dia putra sulungku yang jelas bukan dari kalangan biasa."
"Aku tidak peduli, yang jelas kami saling mencintai. Dan apapun yang terjadi aku tak akan melepaskan Baekhyun dengan mudah"
Di depan pintu kerja yang tertutup itu Baekhyun berdiri resah. Tangan saling bertautan didepan tubuh, jarinya sedikit gemetar cemas memikirkan apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Ini sudah hampir satu jam Baekhyun berdiri, sempat mendengar samar beberapa teriakan dan suara gaduh yang entah apa. Mata sabit itu berkaca-kaca memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada Chanyeol.
"Hyung.." panggilan itu menarik atensinya, menemukan Sehun lengkap dengan kemeja dan tas kerjanya. "Kenapa kau berdiri disana?"
Baekhyun segera menghambur memeluk adiknya. Sehun sedikit terkesiap tapi tak menolak pelukan itu, menepuk punggung sang kakak beberapa kali "Ada apa?"
"Chanyeol ada didalam berdua bersama ayah, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya" Suara si mungil itu bergetar menjelaskan sedangkan Sehun nampak terkejut sekaligus bingung mendengar bahwa Chanyeol ada disini.
BRAK
Pintu dibuka kasar membuat dua orang didepannya berjengit terkejut. Sang ayah keluar dengan wajah keras menahan emosi. "Pengawal!" berteriak keras menjadikan beberapa pria berbadan kekar itu berhamburan datang. "Singkirkan pria itu dan jangan biarkan dia menginjakkan kaki kotornya lagi kemari"
Baekhyun bisa melihat Chanyeol tengah bersimpuh didalam ruang kerja sang ayah sebelum pria itu benar-benar diseret pergi. Baekhyun berteriak mencoba menghentikan para pengawal itu dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Lepaskan dia Ayah! Apa yang kau lakukan?" Baekhyun meronta, meminta penjelasan dengan tubuh kecilnya yang hendak menyerobot para pengawal yang menyeret Chanyeol.
Pria baya disana memberikan gestur pada para bawahannya yang menjadikan tubuh Baekhyun ikut dicekal kuat.
"Chanyeol!" Pria manis itu berteriak memanggil nama kekasihnya sekali lagi. Mata mereka saling bertukar pandang tepat saat Chanyeol melewatinya. Baekhyun semakin histeris begitu melihat darah diujung bibir si jangkung dengan beberapa lebam diwajahnya. Sementara si tinggi itu tersenyum teduh dan menggeleng samar seakan memberitahu Baekhyun untuk berhenti menangis dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Dilain sisi Sehun mematung ditempatnya, otak dan tubuhnya seakan berhenti bekerja. Tak bisa mencerna tentang apa yang tengah terjadi saat ini. Ia bingung luar biasa memikirkan bagaimana Chanyeol bisa disini dan apa yang barusan terjadi.
"Lepas!" Baekhyun terus berontak ingin melepaskan diri dari para pengawal. Tapi tenaganya sama sekali bukan tandingan.
"Bawa Baekhyun masuk ke kamarnya!"
"Tidak! Ayah aku ingin bicara dengan Chanyeol!"
"Ayah!"
Teriakannya sama sekali tak di indahkan, tubuh mungilnya terus ditarik paksa menuju kamar tidurnya dilantai dua.
...
Heningnya malam begitu sunyi dan sepi seperti hatinya. Baekhyun mengusap air mata yang diam-diam menetes. Ia sudah berusaha untuk menghentikan tangis, tapi rasa sesak bercampur khawatir serta pemikiran-pemikiran negatif terus menghantuinya. Empat hari berselang setelah kejadian itu, dan selama itu pula Baekhyun terkurung dikamarnya tanpa ada akses apapun keluar. Bahkan ponsel miliknya telah disingkirkan dan keamanan semakin diperketat dengan pengawal yang berada dimana-mana. Ia merasa menjadi layaknya tahanan sekarang.
Tubuh itu ia tidurkan miring, menghadap tembok dengan selimut tebal melingkupinya. Kamar besarnya dalam keadaan gelap, akan lebih baik jika ia tidur untuk mengistirahatkan tubuh serta pikiran. Tapi tak bisa.
Seseorang membuka pintu kamarnya, suara derap langkah ringan terdengar semakin mendekat.
Hingga tiba saat orang itu duduk disamping ranjang, tak lama kemudian Baekhyun rasakan sebuah usapan lembut mendarat di kepalanya. Perlahan mata sabitnya ia buka, membalikkan tubuh penasaran akan siapa sosok yang duduk dibelakangnya.
"Kau belum tidur sayang?" Suara lembut menyapanya kemudian
Baekhyun menggeleng memberikan jawaban. Bangkit dari meringkuknya setelah tahu jika ibunya yang datang. Memeluk wanita itu erat menyalurkan segala resah dihati dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Sssst jangan menangis" Kepalanya semakin ia tenggelamkan pada pundak sang ibu menahan isakan yang hendak keluar.
Beberapa saat hanya dengan suara isakan tertahan dan usapan lembut yang Baekhyun dapatkan.
"Ibu..? Aku tidak bisa melakukan ini" Baekhyun mengangkat kepalanya. Tanpa banyak penjelasan lagi wanita itu mengerti apa maksud putranya.
"A-apakah aku memang tidak berhak bahagia? Apakah menjadi menyimpang brarti tak boleh mendapatkan bahagia?"
"Tidak sayang.." ujar sang ibu lembut
"Kenapa Ayah melakukan ini padaku?"
Ibunya masih setia menepuk pelan punggung Baekhyun yang bergetar, mendengarkan dengan seksama apa yang pemuda itu keluhkan.
"Ibu, aku mencintainya. Park Chanyeol. Apakah sesulit itu untuk kami bersama?"
Sang ibu hanya bisa diam dan menahan air mata, karena bagaimanapun juga ia tak bisa mengubah apapun. Wanita itu sudah mencoba, bahkan sejak 10 tahun lalu. Ia telah berbicara dengan suaminya itu, memberi pengertian sebaik mungkin tapi bagaimanapun batu tetaplah batu. Tak bisa berubah menjadi kapas dalam satu malam.
Malam itu berakhir dengan Baekhyun menumpahkan segalanya pada sang ibu. Berharap setidaknya orang yang telah melahirkannya itu mengerti apa yang selama ini ia rasakan. Meski ia tahu jika seluruh kuasa tetap berada di tangan ayahnya.
...
Pagi ini tak berbeda dengan hari biasanya. Makanan di nampan sama sekali tak tersentuh, para pelayan keluar menyingkirkan makanan yang telah mendingan dan mengganti dengan yang baru. Yang Sehun yakin makanan itu akan bernasib sama dengan yang lainnya.
Pria itu berdiri bersedekap menyandarkan punggung ditembok depan kamar sang kakak, tak berani masuk bahkan untuk sekedar memberi sapaan pada si manis itu. Bukannya apa-apa Sehun hanya merasa tak tega, hyungnya itu sudah pasti sangat kacau mengingat besok adalah hari pertunangannya. Tubuh mungil itu ia pastikan telah kehilangan banyak berat dan pipi gembilnya sudah pasti menghilang. Sehun tak ingin menemuinya, pria itutakut malah ikut menangis begitu melihat kakaknya secara langsung.
Menghela nafas panjang si tampan melangkahkan kaki ringan mengambil kunci mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.
...
Tuxedo hitam terbalut sempurna di tubuh Baekhyun. Ayahnya tak lepas menatapnya bangga, penuh senyum ketika mengusap wajah mungilnya. Sedang Baekhyun membalasnya murung. Hatinya semakin kosong melihat sang ibu hanya menatap jauh, begitupula dengan Sehun yang berdiri diambang pintu, kemudian memilih pergi.
Baekhyun kembali mengukir sesal, menyesali mengapa ia kembali dengan segudang harapan. Ayahnya bahkan tak pernah mengerti jika ia selalu merasa sesak dan tertekan. Dalam hati Baekhyun mempertanyakan kembali masa lalunya, apakah bahkan selama ini ia pernah bahagia?
Baekhyun menatap ayahnya ragu "Apakah ayah bahagia?"
Sebuah senyum mengembang lebar dari wajah tuanya, terlihat begitu puas dengan penampilan sang putra "Tentu saja"
Baekhyun tergugu karena Ayahnya bahkan tak repot peduli pada bahagianya. Dan ia sendiri tahu bagaimana sang ayah tak ingin dibantah, begitu kaku dan menjunjung tinggi nama baiknya.
Tangan yang dihiasi beberapa kerutan itu mencoba merapikan kerah kemeja yang demi tuhan telah sempurna. "Mana mungkin ayah tidak bahagia melihat putra sulung ayah akan segera bertunangan"
Tanpa diduga sang ayah meraihnya, Memberi sebuah pelukan erat pada tubuh ringkihnya. "Ayah selalu menyayangimu Baekhyun"
Tok Tok
"Acara sudah siap dimulai tuan" nekat salah seorang maid yang tiba-tiba masuk untuk menginterupsi.
Sang ayah mengangguk mengerti, menepuk pundak putranya sebelum berlalu pergi.
"Ayo" ajak ibunya menarik lengannya.
Baekhyun tak mau bergerak, kaki dan tubuhnya seakan terpaku pada lantai. Ibunya mengiba, tahu benar seberapa besar sakit yang dirasakan sang putra.
"Ibu tolong aku" mohonnya kemudian. Mungkin ini hanya sebuah tunangan, tapi Baekhyun takkan bisa lepas lagi karena kurang dari satu bulan pernikahannya akan dilangsungkan. Sang ibu turut sedih, mata yang telah dihiasi beberapa kerut itu diselimuti bening air yang siap jatuh kapanpun.
"Maafkan ibu" Mengusap pipinya lembut dengan tatapan sendu hampir menangis, merasa gagal menjadi orang tua yang baik. Gagal memberi bahagia untuk sang putra.
Baekhyun berjalan memasuki ruangan yang diisi dengan lautan manusia. Acara ini terlalu besar mengingat hanya sebatas tunangan yang akan dilangsungkan. Ruangan yang dihiasi bunga di tiap sudut harusnya terlihat cantik, tapi tidak demikian dimata Baekhyun.
Rangkaian acara demi acara telah terlewati begitu saja sampai pada inti yang semua orang nanti. Tukar cincin.
Kang Seulgi tersenyum indah, gaun berwarna peachnya menjuntai melingkupi tubuh ramping miliknya.
Baekhyun sendiri tidak paham bagaimana wanita itu bisa terlihat begitu santai dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Sementara dirinya terlihat menyedihkan.
Baekhyun tak merasakan hatinya berdebar, tidak pula merasa gugup. Adapun hanya sesak yang membunuhnya perlahan.
Bahkan ketika sebuah cincin telah tersemat dijari manisnya ia masih begitu hampa.
Acara hampir selesai dan Baekhyun sudah tidak sabar ingin segera pergi dari sekumpulan orang ini. Tapi tepat saat acara hendak diakhiri seorang pengawal datang menemui sang ayah dan membisikkan sesuatu padanya. Wajah pria itu berubah keras, dan tak lama setelahnya suara gaduh mulai bermunculan.
Baekhyun melihat jauh keluar, beberapa pengawal terlihat panik dan berlarian kearah pagar depan. Sayup-sayup Baekhyun juga mendengar sebuah teriakan. Menit berlalu dan kekacauan semakin tak terkendali.
"BAEKHYUN!"
Teriakan itu akhirnya tertangkap pendengarannya dengan jelas. Sang Ayah berubah murka dan berjalan keluar dengan beberapa pengawal disisi dan belakang tubuh. Melangkah lebar dengan sorot tajam dan kepalan tangan.
Otaknya berhasil mencerna keributan yang terjadi. "C-chanyeol?" Baekhyun hampir berlari kencang keluar, sebelum sebuah tangan membekap mulutnya dan menariknya pergi.
...
..
.
TBC
Heloo aku kembali, gk kerasa ini cerita udah mau tamat aja. Mungkin 2-3 chapter lagi ff ini beneran end.
Yeee! Tepuk tangan gais
See you next time!
Oh iya Minal aidzin wal faidzin, maaf kalau aku ada salah sama kalian ya
