LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Chanyeol sudah seperti orang gila. Seminggu lebih ia habiskan untuk merenung, segala cara sudah ia lakukan. Tak terhitung berapa kali pria itu coba menembus pagar kediaman keluarga Byun. Pertemuan terakhirnya berjalan kacau. Dan semakin kacau ketika kabar pertunagan Baekhyun ramai dibicarakan. Chanyeol benar-benar frustasi, ia tak mungkin hanya duduk diam menyaksikan semuanya. Ia akui dirinya memang sedikit tidak waras saat terang-terangan menantang Byun Jae In. Seharusnya ia berbicara baik-baik, menjelaskan semuanya dengan kepala dingin, dan sedikit menyanjung pria itu agar diberikan restu. Bukannya malah lancang mengatai dan menyombongkan diri.
"Argh! Sialan!" Besok pertunangan Baekhyun, dan Chanyeol masih duduk diam di sofa ruang tamu dengan rambut acak-acakan. Otaknya buntu, jika ia nekat datang tanpa persiapan sudah pasti ia berakhir ditendang sebelum sempat menginjakkan kakinya kesana. Semua mobil miliknya bahkan telah dikenali dan diawasi, membuat geraknya semakin terbatas.
Chanyeol meremat rambutnya sambil menyangga kepala yang terasa pening. Dengan kesal tangannya meraih ponsel disaku, benda itu sedari tadi tak berhenti bergetar membuat emosinya semakin memuncak. Tanpa repot melihat siapa yang menelpon akhirnya Chanyeol tekan tombol hijau disana.
"ADA APA!"
"Kenapa meneriaki ku sialan!"
Segera Chanyeol jauhkan benda persegi panjang itu dari telinga, mengernyit dalam sebelum menyadari suara siapa dari sebrang sana.
"K-kau?"
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Chanyeol terdiam. Mendengarkan dengan seksama apa saja yang pria itu tuturkan. Lalu segera melesat mengganti pakaian dan pergi dari rumahnya.
...
Seperti dugaan, keamanan di pesta pertunangan Byun Baekhyun sangatlah ketat. Seluruh tamu undangan tak luput mendapatkan pemeriksaan ekstra. Ini adalah filter ketiga sebelum Chanyeol benar-benar masuk kedalam sana, dimana pesta pertunangan sang kekasih tengah digelar.
Jujur ia sedikit gugup, meski penyamarannya nyaris sempurna tapi perawakan Chanyeol begitu khas. Untuk itu dalam hati Chanyeol terus merapalkan doa agar tak seorangpun bawahan ayah Baekhyun mengenalinya.
Si jangkung itu menghela nafas lega begitu berhasil melewati para pengawal. Mengekori Kris yang berjalan lebih dulu didepan. Ya, kali ini Chanyeol meminta bantuan temannya. Menyamar sebagai bodyguard sang rekan yang kebetulan diundang dalam pesta pertunangan.
"Tunggu"
Kaki jenjangnya baru akan melangkah masuk ke dalam gedung, tapi lebih dulu dihentikan oleh seseorang. Pria yang menghentikan langkahnya datang menghampiri, kemudian memandanginya dari atas sampai bawah.
Chanyeol mengumpat dalam hati, itu adalah pria yang beberapa hari lalu sempat menyeretnya pergi.
"Kau seorang pengawal?"
Chanyeol berdeham mengenyahkan gugup "Ya" jawabnya dengan suara yang dibuat-buat.
"Kau tidak bisa masuk, hanya para tamu undangan yang diizinkan"
"Maaf, tapi aku harus masuk bersamanya. Kau tau sendiri bahwa orang-orang seperti kami membutuhkan penjagaan ekstra" Kris yang berada didepannya langsung menyahut setelah mendapati tatapan dari sang rekan.
"Tenang saja tuan, kami telah memastikan didalam sana aman. Kau tidak bisa membawa pengawalmu masuk, mereka hanya diperbolehkah berjaga diluar"
"Tetap saja, aku merasa tidak nyaman dan was-was jika sendiri."
"Maaf tuan, tapi begitulah ketentuannya. Ini perintah dari Tuan Besar, kami tidak bisa mengizinkan pengawalmu masuk"
Tak terhitung berapa kali umpatan yang Chanyeol ujarkan dalam hati. Ia datang kemari untuk menemui Baekhyun, bukannya berdiri kaku seperti prajurit Inggris begini.
Mata bulat miliknya ia edarkan untuk mengamati keadaan. Diam-diam mengambil ponsel di saku jas, lalu mendial nomor seseorang yang ia harap bisa membantu.
"Aku tidak bisa masuk ke dalam, penjagaannya terlalu ketat" ujar Chanyeol segera setelah panggilan terhubung.
"Kalau begitu kacaukan saja pestanya"
"yang benar saja?!"
"Lakukan saja, sisanya biar aku yang bereskan"
"Kau serius?"
"Tentu"
Chanyeol mengambil nafas dalam "Baiklah, kalau begitu pastikan kau berhasil."
Acara sudah hampir selesai dan itu artinya waktu yang ia punya semakin menipis.
Beberapa pria kekar berjas hitam mulai berdatangan di pagar depan. Membuat para pengawal keluarga Byun terlihat bingung dan segera menghadang. Melihat itu Chanyeol segera memberi kode pada pengawal Kris yang tadi sudah berhasil masuk ke halaman bersamanya.
Suasana mendadak kacau setelah itu. Para pengawal Byun berlarian menuju pagar depan. Chanyeol tak menyia-nyiakan kesempatan, ikut membuat keributan saat itu juga.
"Sial!" umpatnya begitu melihat masih banyak pengawal lagi berbondong-bondong keluar. Jika sudah seperti ini jelas perkelahian tak dapat dihindari. Dan mau tak mau Chanyeol harus turun tangan. Kemampuan beladirinya sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi melihat berapa jumlah orang yang harus ia hadapi membuatnya sedikit ciut. Pria itu terus melawan sebisanya dengan dibantu para bodyguard yang ia bawa. Tapi mereka jelas kalah jumlah, Chanyeol hampir diseret keluar. Namun ia tak ingin menyerah, terus melawan sambil meneriakkan nama sang kekasih keras-keras. Kekacauan semakin tak terkendali hingga pintu besar itu terbuka lebar, menampilkan raut keras tuan Byun dan beberapa bodyguard dibelakngnya.
"Hentikan!"
Sontak seluruh pengawal disana mengalihkan atensi dan menghentikan apa yang tengah mereka lakukan. Si jangkung ikut menoleh dengan terengah-engah. Berusaha mengatur nafas dengan wajah lebam dimana-mana.
"Berani sekali kau datang mengacau?!" Pria itu dengan cepat mengenali Chanyeol. Menghembuskan nafas kasar, kentara mati-matian menahan emosinya. Tentu ia tak boleh lepas kendali, masih banyak tamu undangan penting dan beberapa media di dalam sana.
"Sepertinya kau memang benar-benar tidak waras Park Chanyeol. Dan kau telah salah memilih lawan kali ini. Aku takkan membiarkan Baekhyun jatuh kedalam lingkaran setan bersamamu, akan kupastikan Baekhyun tetap berada pada kodratnya menikahi wanita selagi aku masih hidup"
Pria itu berdesis lirih namun tetap tajam hingga suaranya masih dapat didengar dengan baik oleh si tinggi. Kemudian mendengus keras sebelum mengenyahkan diri dan memberikan kalimat terakhirnya. "Singkirkan bajingan itu, atau habisi saja sekalian"
...
Pesta pertunangan sang putra yang berakhir ricuh membuat pria yang tengah menjabat sebagai kepala negara itu geram bukan main.
Beberapa media yang sempat meliput dan artikel yang beredar itu tak sampai satu jam lenyap setelah rilis. Tentu saja Byun Jae In ambil tindakan, Bisa-bisa reputasinya rusak jika ia tak bergerak cepat. Pria baya itu kembali merutuk, amarahnya sudah sampai ubun-ubun dan semakin memuncak begitu tak mendapati keberadaan sang putra sulung.
Seluruh camera cctv di dalam gedung tiba-tiba mati tepat sebelum kekacauan terjadi. Membuatnya semakin kesulitan melacak keberadaan Baekhyun, bahkan para pengawal luput mengawasi si sulung Byun.
Byun Jae In telah mengerahkan seluruh pengawal untuk mencari sang putra. Tentu saja orang pertama yang ia curigai adalah Park Chanyeol. Ia yakin jika pria itulah dalang dari menghilangnya Baekhyun.
Sudah 3 hari mereka mencari sang tuan muda. Tapi tetap tak menemukan apapun. Byun Jae In masih bersikeras, berulang kali para pengawal itu menyambangi kediaman keluarga Park, tapi tetap nihil. Bahkan tak ada sedikitpun bukti yang dapat memberatkan Chanyeol.
...
Malam semakin larut dan udara semakin dingin menembus kulit sampai ke tulang. Seminggu berlalu begitu saja, tapi Baekhyun masih tersesat dalam pikirannya sendiri. Dilanda bimbang yang mencekik. Sebelum ini ia begitu ingin lari dan bebas, kabur kemanapun asal ia bisa mendapatkan bahagianya. Tapi disisi lain ia juga merasa takut, takut salah melangkah.
"Ada apa?"
Baekhyun menggeleng.
"Apa yang kau pikirkan?"
Baekhyun bergeming.
Pria tinggi itu mengerut kemudian. "Kau ingin kembali?"
Dengan cepat Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin kembali kesana, sudah cukup hidupnya tertekan selama ini menuruti seluruh kemauan sang ayah.
"Kau yakin dengan pilihanmu? Kau yakin dia yang terbaik?"
Mata sayu itu mengerjap beberapa kali. Ada sedih, sesal, namun tak terpancar sedikit pun keraguan.
"Aku tidak tahu dia yang terbaik atau bukan. Tapi aku yakin dia yang kubutuhkan."
"Kalau begitu berjanjilah kau takkan menyesali ini dimasa depan, dengan begitu aku bisa hidup dengan tenang"
"Aku berjanji"
Dengan itu mobil hitamnya melaju membelah jalanan. Menuju tempat tujuan yang telah dijanjikan. Baekhyun meremas tangannya dingin, Jujur ia sebenarnya juga tidak yakin ini pilihan yang benar atau salah.
Sementara ditempat lain Chanyeol berdiri resah, satu jam sudah ia menunggu. Pria itu tak henti-hentinya mengecek jam yang melingkar apik dipergelangan tangan. Sebuah tas ransel menggantung di pundaknya, hanya berbekal ponsel dan dompet yang isinya tak seberapa.
Begitu suara mesin terdengar telinga cepat-cepat Chanyeol alihkan perhatian. Menemukan sebuah mobil hitam bergerak kearahnya. Jantungnya berdebar keras, sangat keras sampai ia bisa mendengar detaknya.
Mobil berhenti dan tak lama kemudian nampaklah seseorang dengan padding tebal membungkus tubuhnya. Chanyeol tersenyum senang luar biasa, seluruh cemasnya hilang begitu saja. Tanpa aba-aba tubuh tinggi itu berlari mendekat meninggalkan ransel nya yang terjatuh menyedihkan. Menghambur dalam rengkuhan yang ia ciptakan. Mendekap sosok yang begitu dirindukan.
"Ekhm" dehaman keras itu menginterupsi, membuat Chanyeol tersadar jika masih ada orang lain selain mereka berdua. Perlahan melepaskan rengkuhan dengan tidak rela.
Bisa Chanyeol lihat wajah manis itu sedikit memerah, sangat menggemaskan sampai Chanyeol ingin membubuhkan ciuman pada setiap titik.
"Kau mendapatkannya"
Wajah tampannya ia tolehkan pada yang berbicara.
"Terimakasih sudah menepati janjimu"
"Jaga dia dengan baik, jika kau berani menyakiti atau membuatnya menangis maka aku sendiri yang akan datang dan menghabisimu"
"Tentu, kau bisa memegang janjiku."
Kini mata elang itu beralih pada yang lebih pendek. Menatapnya sendu, ia sebenarnya tak rela melepas kakak satu-satunya pergi. Tapi ia juga tak bisa melihat pria itu setiap hari menangis.
Melihat bagaimana manik bulan sabit menatapnya, Sehun mati-matian menahan cairan beningnya agar tak jatuh. Akan sangat memalukan jika Chanyeol melihatnya menangis.
"Jangan menangis atau aku ikut menangis"
Baekhyun berjalan mendekati sang adik, kemudian Sehun mendekap erat, menepuk punggung itu pelan.
"Hiduplah dengan baik, jangan menangis lagi! Kau harus bahagia" Sehun menjauhkan tubuhnya, mengusak rambut hitam sang kakak kemudian memakaikan syal yang berada di lehernya pada yang lebih mungil.
"Maaf, sebentar lagi kapalnya berangkat" Suara asing seorang pria datang menginterupsi.
Chanyeol memberikan sebuah anggukan, kemudian pria tadi undur kembali ketempat asalnya.
"Aku akan selalu disini, hubungi aku kapanpun kau membutuhkan. Ini bukan akhir tapi awal" satu usapan terakhir sebelum Sehun menyerahkan tas jinjingnya. Tatapannya berpindah.
"Kau berhutang banyak padaku Park"
Chanyeol balas menatap, kemudian mengangguk "Tentu"
Sebuah genggaman hangat Baekhyun rasakan kemudian. Perlahan menarik langkahnya pergi menuju dermaga. Mengikuti langkah pria asing yang sebelumnya, meninggalkan Sehun jauh dibelakang dengan lambaian.
Kapal-kapal besar mulai berangkat, berayun diatas ombak menjejak jalanan biru diatas air.
Malam semakin gelap menyisakan cahaya bulan sebagai penerang, sedangkan matahari sudah lama pulang. Kapal besar itu mulai berlayar perlahan, angkat kaki dari tanah kelahiran. Meninggalkan apa yang selama ini mereka miliki jauh dibelakang. Keduanya masih saling menggenggam terlihat tak ingin dipisahkan satu sama lain. Perjalanan masih lama, terombang ambing diatas laut selama 19 jam kedepan. Menyerahkan pada sang nahkoda kemana ia akan membawa nasibnya.
...
Kamar yang mereka tempati berada pada deck tiga. Dengan sebuah jendela yang mungkin akan menampilkan pemandangan elok untuk esok hari. Hanya ada satu ranjang besar, set sofa, dan almari untuk menyimpan barang.
"Kurasa ini cukup baik" Chanyeol dengan penuh semangat masuk kedalam kamar, mengecek segala perabotan disana. Meletakkan tas miliknya dan Baekhyun diujung ranjang.
Baekhyun mengekor ikut mengamati ruangan yang akan ia tinggali beberapa jam kedepan.
Puas berkeliling, mereka berdua memutuskan untuk berbaring disisi ranjang masing-masing.
"Tidurlah, kau pasti belum mendapat tidur" pinta si jangkung masih bergeming, menatap Baekhyun dari sisi kiri.
Lantas Baekhyun balas menatap pria itu. Membingkai bagaimana wajah tampan yang masih terhias lebam karena perbuatan ayahnya. Menjejakkan jari-jari lentik miliknya pada kulit yang berubah ungu kehitaman. "Pasti sakit sekali"
Chanyeol menangkap tangan itu dan menggenggamnya erat kemudian. "Semua sakitnya hilang saat aku melihatmu"
Baekhyun balas tersenyum "Terimakasih"
Chanyeol berubah bingung, tidak mengerti akan ucapan terimakasih yang si cantik itu ujarkan. "Untuk?"
"Karena telah menyelamatkanku, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kau tidak datang"
Chanyeol menggeleng, ia lantas menarik Baekhyun dalam pelukannya. Memberikan ketenangan yang ia harap membuatnya lebih baik. "Aku yang harusnya berterimakasih karena kau telah mempercayai dan bersedia lari bersamaku"
Baekhyun tak memberi tanggapan lagi, hanya ikut memeluk si jangkung itu erat. Menyalurkan sisa kekalutan yang memenuhi alam pikirnya.
Angin berhembus dingin menemani Chanyeol yang terdiam di balik jendela, memandangi sang surya yang sayup-sayup mulai menampakkan diri. Pria itu terbangun dari tidur. Berdiri diam untuk memikirkan rencana jangka panjang yang harus ia persiapkan mulai sekarang.
Tubuhnya berjengit saat pelukan hangat menjemput punggungnya.
"Kau harus menutup jendelanya, aku kedinginan"
Chanyeol meraih lengan ramping itu lalu menariknya pelan. Merubah posisi, menyembunyikan tubuh mungil Baekhyun dibalik mantel miliknya. Kemudian memberikan pelukan dari belakang. "Lihatlah, matahari sebentar lagi terbit"
Baekhyun menyamankan diri, menikmati bagaimana aroma Chanyeol memenuhi indranya. Sedang mata tak lepas melihat keindahan didepan sana. Sinar matahari menyambut hangat menapak pagi yang cerah dari balik hamparan biru lautan. Si mungil berdecak kagum, ini pertama kali ia melihat matahari terbit. Dan ia pun lebih dari bahagia karena Chanyeol berada disisinya.
Mereka berdua terjebak hening yang nyaman, diterpa hangatnya mentari pagi yang membuat semakin terlena.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?" pertanyaan tiba-tiba Baekhyun terdengar begitu jelas menyapa telinga peri Chanyeol.
Detik berjalan dan si tinggi itu masih bergeming, meninggalkan pertanyaan Baekhyun menggantung tanpa jawaban. Sukses mengundang kekesalannya hingga Baekhyun melirik kebelakang.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Karena aku penasaran" Bibir tipis itu tanpa sadar mengerucut. Kepalanya ia tolehkan penuh kebelakang dengan mata yang memicing kesal.
Namun si pria cantik itu menyesali perbuatannya kemudian, sebuah kecupan malah Chanyeol hadiahkan pada bibir tipisnya.
Chanyeol terkekeh, tersenyum bangga melihat bagaimana ulahnya berhasil membuat wajah Baekhyun memerah padam. Lagipula pertanyaan Baekhyun sangat aneh, hampir seperti lelucon yang tak berdasar.
Surai gelapnya Chanyeol usap, kemudian berbisik lirih "Semuanya, segala sesuatu yang ada padamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta"
Jawaban itu sama sekali tak membantu, yang ada malah semakin memperparah rona dipipinya. Tubuhnya mengerut, Baekhyun ingin segera menyembunyikan wajah kepiting rebusnya. Menelusupkan kepala pada dada bidang yang lebih tinggi.
"Kau menyebalkan!" ujarnya sembari memberikan tinjauan ringan disana.
Sembilan belas jam terlewati tanpa terasa. Kini kedua pasang kaki itu telah menapak daratan Jepang. Osaka, menjadi pelabuhan akhir tujuan.
...
..
.
TBC
Halo lama gk update, ㅠㅠ maafkan aku sodara ini aku sempetin update disela waktu luang. Semoga mengobati rindu, kalau ada yg rindu si tapi
Udah ya byee~ see you next chap!
