LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Dikelilingi orang-orang Jepang begitupula bahasanya membuat Baekhyun merasa asing. Ini memang bukan pertama kali ia pergi ke Jepang, tapi entah mengapa Osaka terasa berbeda.
Tautan tangannya dengan Chanyeol semakin erat ia genggam, Baekhyun tidak ingin kehilangan dan berakhir tersesat di negri orang. Langkah kaki membawa mereka berdua memasuki salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa potong pakaian dan bahan makanan.
Baekhyun tengah fokus pada deretan baju yang tergantung rapi di rak-rak pakaian sedangkan Chanyeol sibuk memperhatikannya. Wajah cantik Baekhyun terlihat begitu serius memilih beberapa atasan dan Chanyeol tak bisa menahan tangannya untuk menyentuh pipi halus itu pelan.
"Kenapa serius sekali? Kau selalu bagus memakai apapun." Ujar Chanyeol karena ini sudah hampir setengah jam berlalu dan Baekhyun tak kunjung memilih satu potong pakaian pun.
"Aku harus lihat harga dan kualitasnya dulu, kita harus berhemat." usapan si tinggi terhenti, ada rasa bersalah yang perlahan memenuhi perasaannya setelah mendengar kalimat Baekhyun.
"Maafkan aku."
Nada bicara Chanyeol berubah sendu membuat Baekhyun meliriknya sekilas. Baekhyun tersenyum tipis mendapati wajah Chanyeol murung.
"Kau tidak melakukan kesalahan kenapa meminta maaf? Ini juga pilihanku, tak perlu merasa bersalah." Ucap Baekhyun mengambil kemeja panjang berwarna mint dan kaos putih untuk diletakkan dalam keranjang belanjaan.
"Andaikan saja aku memiliki persiapan yang cukup, mu-"
"Ssst, ada disini bersamamu sudah lebih dari cukup." Baekhyun meletakkan jari lentiknya menghentikan Chanyeol. Mata mereka saling bertukar pandang. Jari itu Chanyeol tangkap, beralih menggenggam tangan Baekhyun dan mengecupnya pelan "Terimakasih karena telah percaya padaku"
Baekhyun memberikan senyum manis sebagai balasan, kemudian melanjutkan acara belanjanya.
Selesai berkeliling dan mendapatkan seluruh keperluan yang mereka butuhkan keduanya bertolak untuk kembali ke flat, tapi sebelum itu Chanyeol memutuskan untuk mengajak Baekhyun mampir di sebuah kedai pinggir jalan. Salah satu kedai yang selalu ia kunjungi ketika pergi ke Osaka.
Kedainya cukup ramai, tak tahu kenapa itu membuat Baekhyun sedikit tidak nyaman.
Baekhyun reflek menahan tangan Chanyeol ketika pemuda itu tiba-tiba berdiri. "Aku hanya pergi ke toilet." jelas Chanyeol mengelus kepalanya sayang. "Hanya sebentar"
Seharian ini Chanyeol jelas menyadari jika kekasihnya terus-terusan menempel padanya, benar-benar tak ingin terpisahkan. Bukannya Chanyeol merasa risih, ia hanya heran karena tidak biasanya Baekhyun sangat clingy seperti ini.
"Cepat kembali" ujar si mungil melepaskan tangannya berat. Entahlah Baekhyun merasa resah, di dalam kepalanya itu tidak bisa berhenti membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.
Sebuah Coffe Latte dan camilan berbahan strawberry telah tersaji di meja, Baekhyun menatapnya kosong. Belum berselera untuk memakannya.
Jeda lama hingga ia memutuskan untuk mencicipi sedikit minuman dalam cangkir. Gerakan tangan yang hendak meraih minuman terhenti begitu seseorang tiba-tiba menginterupsi.
"B-byun Baekhyun?" Baekhyun mengangkat pandangan dan ia tak bisa berkata-kata lagi saat melihat siapa pria yang barusan memanggilnya.
"Aku tidak percaya bahwa ini benar-benar kau"
Shim Changmin, cinta pertama sekaligus sosok yang begitu melekat dihatinya. Kenangannya takkan pernah Baekhyun lupakan, begitupula dengan caci makiannya dulu. Terlalu dalam membekas di hati, hingga Baekhyun sendiri tak tahu bagaimana caranya lupa.
"Bagaimana kabarmu?" Dua kata terlontar dari mulut Changmin, tanpa dipersilahkan pria itu malah mendudukkan diri dihadapannya. Membekukan Baekhyun pada tempatnya dengan pandangan kosong.
"Ada urusan apa?" tanya Baekhyun setelah keterdiaman lama, tak ingin basa-basi sedang jarinya tergenggam resah di bawah meja. Ia hanya berharap Chanyeol segera kembali.
Pria itu tersenyum kecut mendapati reaksi dingin yang Baekhyun berikan. Lagipula Changmin juga tak berharap lebih.
"Sepertinya kau membenciku ya?"
Baekhyun tak memberikan balasan, membuat Changmin mendesahkan napas berat.
"Selamat atas pertunanganmu." lanjutnya, ia telah mendengar berita tentang pertunangan Baekhyun. Bukannya Changmin sengaja mencari tahu, tapi semua media memang secara besar-besaran telah memberitakannya.
Baekhyun masih setia tertunduk, entah apa yang begitu menarik hingga tak ingin menatap Changmin sedikitpun.
"Karena kita kebetulan bertemu disini, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu"
Changmin mengulum bibirnya sejenak, memberanikan diri mengatakan sesuatu yang bertahun-tahun ia pendam "Aku ingin meminta maaf."
"Aku meminta maaf untuk apa yang telah kulakukan. Mungkin kau tak ingin peduli lagi. Tapi aku ingin menjelaskan semuanya meski terlambat." menarik napas sejenak Changmin melanjutkan "Aku tak pernah berbohong soal mencintaimu, dan untuk segala caci makian itu- aku terpaksa."
Baekhyun perlahan mengangkat wajah, Changmin yang sedari tadi mengamati merasa sedikit lega ketika ucapannya berhasil menarik perhatian si mungil.
"Jujur aku tak memiliki pilihan. Ayahmu tiba-tiba datang padaku dengan berbagai ancaman. Saat itu aku masih terlalu pengecut, tak memiliki keberanian selain menuruti apa katanya. Aku benar-benar menyesal telah menyakitimu begitu dalam."
Baekhyun bungkam, lebih tepatnya tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia sendiri bingung, semuanya terlalu mendadak baginya. Lagi-lagi sang ayah.
Bayangan sepuluh tahun silam kembali terputar dalam otaknya. Saat dimana pria yang dulu ia cintai setengah mati mengolok dan mengatakan kalimat menyakitkan itu. Tapi tidak bohong ada sedikit kelegaan dalam hati, juga rasa marah. Baekhyun tidak tahu ia marah pada siapa, pada Changmin atau ayahnya? Baekhyun sakit hati, ia merasa begitu kesal, hingga cairan pada matanya mulai keluar memburamkan pandangan.
"Kau siapa?" Suara husky seseorang menginterupsi, Chanyeol kembali setelah urusannya di kamar mandi.
Ia menatap penasaran pria asing didepannya, mengamati penampilan pria itu dari atas sampai bawah. Kemudian beralih pada sang kekasih, Chanyeol mengernyit begitu menyadari ada yang tak beres dengan Baekhyun. Mata sabit kesukaannya terlihat sedikit memerah dan basah.
"Kau menangis?" tanya Chanyeol khawatir.
Tatapan bingung Changmin yang sebelumnya mengarah pada Chanyeol langsung berubah menoleh pada Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan pada kekasihku?" Tanya Chanyeol meraih kerah baju Changmin, memberikan tatapan nyalang padanya. Sementara Changmin masih dalam mode terkejut, ia tak menyangka Baekhyun menangis dan ia semakin bingung saat kata kekasih dan tindakan Chanyeol yang tiba-tiba.
"Chanyeol hentikan" Baekhyun menahan lengan Chanyeol, berusaha melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja Changmin. Manik Baekhyun beralih pada Changmin "Maaf sepertinya aku harus pergi sekarang." Tak ingin membuat keributan Baekhyun segera menarik Chanyeol pergi dari kedai. Meninggalkan Pria tinggi disana dengan rasa bingungnya.
Begitu keluar dari kedai Chanyeol menarik lengannya dari genggaman Baekhyun, menghentikan langkah pria manisnya untuk meminta penjelasan. "Apa yang terjadi?"
"Bukan apa-apa"
"Lalu kenapa kau menangis?"
Baekhyun bergeming tak memberi tanggapan. Kepalanya tertunduk, takut hanya untuk menatap iris kelam yang lebih tinggi.
"Jangan menyembunyikan sesuatu dariku"
"Tidak" Chanyeol menggeram menahan emosi, menarik dagu Baekhyun agar mata mereka saling bertatapan.
"Siapa pria itu?" Tanya Chanyeol dingin.
"B-bukan siapa-siap-"
"Baek"
Panggilan itu seolah meremukkan tulang-tulangnya, ini pertama kali Baekhyun merasa takut selain pada ayahnya.
"Berjanjilah k-kau takkan marah"
Chanyeol memberi dehaman sebagai persetujuan. Sebenarnya Baekhyun takut memberi tahu Chanyeol, Ia takut Chanyeol akan marah dan hilang kendali. Chanyeol jelas tahu siapa pria itu karena Baekhyun telah menceritakan semuanya.
"D-dia Shim Changmin m-mantan kekasihku."
Emosi Chanyeol seketika berada di ubun-ubun "Si brengsek itu!" segera kakinya ia langkahkan kembali menuju kedai. Baekhyun langsung kelabakan, reflek mengikuti Chanyeol untuk menghentikan segala sesuatu yang akan pria itu lakukan.
Namun semuanya sudah terlambat, Changmin lebih dulu jatuh tersungkur setelah mendapatkan bogem mentah dari Chanyeol.
Flat kecil itu nampak sepi meski penghuninya sudah lama pulang. Chanyeol sedang sibuk memasak, sedangkan Baekhyun tengah menyiapkan piring dan alat makan di meja makan. Beres melakukan pekerjaannya kini Baekhyun duduk diam sambil mengamati dari meja makan bagaimana gerak-gerik si tinggi.
Sedari tadi tak ada sepatah katapun terlontar dari mulut keduanya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tak ada yang ingin memulai pembicaraan.
Tak lama kemudian Chanyeol telah menyelesaikan masakan, menyajikan hidangan buatannya di atas meja.
Sekali lagi keduanya makan dalam diam, masih betah mempertahankan egonya masing-masing.
Dalam hati Chanyeol bertanya-tanya, harusnya dia yang marah pada Baekhyun, tapi kenapa malah Baekhyun yang mendiaminya sekarang?
Mata bulat itu sesekali mencuri pandang pada si mungil yang sedang menikmati masakannya dengan wajah datar.
"Kau masih menyukai pria itu?" tanya Chanyeol tak tahan lagi, ia harus meluruskan semuanya.
Baekhyun meliriknya sekilas kemudian membuang napas panjang. Alih-alih memberi tanggapan pria itu kembali melanjutkan makannya dan hal itu sukses membuat Chanyeol semakin kesal.
Pria jangkung disana menyelesaikan makannya pertama, segera bangkit dan meletakkan piring kotor dengan kasar di wastafel untuk dicuci.
Baekhyun menyusul beberapa menit kemudian. "Biar aku yang cuci"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri" sahut Chanyeol dingin, melanjutkan acara mencuci piringnya.
Yang lebih pendek membuang napas lelah sebelum memulai kalimatnya. Baekhyun tahu pria itu kini benar-benar marah padanya.
"Pertanyaanmu sangat konyol"
Chanyeol mengernyit tapi tetap melanjutkan kesibukan tanpa ingin repot melirik Baekhyun di sampingnya. "Aku hanya kesal karena kau tak mendengarkan apa yang kukatakan. Dia hanya meminta maaf, Bagaimana bisa kau menghajarnya sampai seperti itu?"
"Karena dia telah membuatmu menangis"
"Chanyeol-"
"Lihat, kau membelanya lagi" Chanyeol meletakkan piring yang telah ia cuci kemudian mengelap tangannya. "Kau masih menyukainya kan?"
"Astaga, aku hanya tidak ingin kau mendapatkan masalah. Kau menghajarnya begitu membabi buta, bagaimana jika terjadi sesuatu? Dan lagi, kita ada di negara orang."
"Jadi kau tak menyukainya?"
"Demi Tuhan ini sudah sepuluh tahun berlalu, dan bagaimana bisa kau berpikir jika aku masih menyukainya setelah semua yang pria itu lakukan?"
"Kau bahkan masih menyukai lagu yang pria itu nyanyikan untukmu."
Baekhyun mengangkat alisnya tak mengerti. "Lagu?"
"Lagu jepang yang kunyanyikan dipertemukan pertama kita."
"Ya tuhan.." Baekhyun memejamkan matanya sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya "Itu tak berarti apa-apa."
"Kalau begitu siapa yang kau sukai?" Baekhyun merotasikan bola mata sambil membuang napas lelah. Bagaimana bisa Chanyeol mempertanyakan sesuatu yang lebih konyol sekarang.
"Kau tahu apa jawabannya Chanyeol"
"Kau tak menjawabnya dengan jelas, kau bahkan tak pernah mengungkapkan perasaanmu padaku" ucap Chanyeol dengan bibirnya yang sedikit dimajukan. Baekhyun tidak tahu kenapa Chanyeol berubah jadi kekanakan seperti ini, ya Baekhyun memang pernah melihat sisi ini sebelumnya. Tapi ia masih tak habis pikir jika Chanyeol sangat-sangat kekanakan.
"Jadi benar cintaku bertepuk se-"
Tak tahan lagi dengan apa yang hendak Chanyeol ujarkan, Baekhyun memberikan sebuah ciuman pada bibir plumnya. Menghentikan segala omong kosong yang hendak pria itu utarakan.
Mata Chanyeol melebar. Tapi ia tidak bergerak. Membiarkan Baekhyun melanjutkan apa yang hendak ia lakukan. Beberapa detik kedua lunak itu hanya saling menempel sampai pada bibir yang lebih tipis mulai memberikan lumatan dan sesekali menyesap pelan, berusaha menyampaikan ungkapan cintanya. Sedangkan Chanyeol hanya diam menikmati bagaimana ciuman Baekhyun pada bibirnya.
Baekhyun memundurkan wajahnya, membuka mata sabitnya memandangi Chanyeol yang masih terdiam menatap kearahnya. "A-apa ini cukup?" Matanya melirik kearah lain, kepala menunduk dengan kedua pipinya yang dihiasi semburat merah.
"Apa?" tanya Chanyeol seolah tak mengerti apa maksud pertanyaan si mungil itu.
"Kau tahu apa maksud ku Chanyeol.."
Kini giliran mata Baekhyun yang melebar terkejut. Belum selesai kata yang hendak Baekhyun ucapkan Chanyeol lebih dulu meraih bibirnya. Jantungnya kembali berdebar cepat, saat Chanyeol melumat bibirnya dengan sensual dan begitu lembut. Ia pun ikut memejamkan mata, mengangkat tangannya menggapai bahu Chanyeol sebagai pegangan.
Tubuhnya sedikit bergetar begitu merasakan tangan Chanyeol merambat pada pinggangnya, sementara tangan lain menekan tengkuknya lembut. Baekhyun tak bisa menghitung berapa kali kepala Chanyeol merubah posisi untuk menikmati bibirnya, memperdalam ciuman mereka, mengecup, melumat, dan menghisap bibirnya.
Baekhyun yang merasakan dadanya sesak segera menepuk pundak Chanyeol pelan, memberi isyarat agar pria itu memberinya ruang untuk bernafas. Chanyeol menghentikan aksinya, memundurkan sedikit kepalanya memberi kesempatan pada Baekhyun untuk meraup oksigen. Bibirnya terasa basah, sebuah benang saliva terbentuk begitu kedua bibir itu melepas tautan. Baekhyun sedikit tersentak ketika jemari Chanyeol mengusap saliva entah milik siapa diujung bibirnya yang sedikit terbuka, mata Baekhyun melirik ke atas menatap tepat pada manik hitam Chanyeol yang masih begitu dekat.
"Kau tak bisa jika mengungkapkan hanya dengan tindakan, kau juga harus mengucapkannya agar seseorang tak salah paham." bisik Chanyeol sekilas mencium sudut bibirnya yang sukses membuat dada Baekhyun kembali berdesir hebat.
"Aku mencintaimu Chanyeol"
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu, ini adalah bulan keenam mereka tinggal di Jepang. Semuanya berjalan lebih baik, Chanyeol telah mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah rumah makan, hampir sama seperti pekerjaannya di London dulu. Tapi ia juga semakin aktif mengembangkan bakat bermusiknya, disini Chanyeol memiliki sebuah band sendiri. Mereka rutin melakukan pementasan di akhir pekan, bukan pentas besar karena mereka masih terbilang musisi jalanan. Tapi jika sedang beruntung akan ada beberapa orang yang mengundangnya dalam suatu acara, dan bayarannya lumayan.
Sedangkan Baekhyun lebih banyak mengisi waktu di flat kecil mereka. Chanyeol tak mengizinkannya melakukan pekerjaan berat, jadilah ia hanya menghabiskan waktu dengan kuas dan kanvasnya. Kemudian menjual hasil lukisan-lukisan itu.
Suara ketukan pada pintu mengusik acara melukisnya, tumben sekali Chanyeol tidak langsung masuk pikir Baekhyun. Tanpa repot memastikan siapa yang datang segera Baekhyun buka pintunya.
Pria itu mengernyit begitu mendapati pria baya yang nampak asing. "Anda siapa?" tanya Baekhyun penasaran.
Pria itu memberikan senyum tipis sebelum menjawab "Aku Park Sungjin"
Mata Baekhyun seketika melebar mendengar nama itu. Tak menyangka jika ayah Chanyeol datang menemuinya.
"Boleh aku masuk?" tanya Sungjin membuyarkan sisa keterkejutan Baekhyun.
"T-tentu" Baekhyun tak tahu harus menjawab apa selain mengiyakan, jantungnya tiba-tiba berdebar keras memikirkan apa yang akan ayah Chanyeol lakukan.
...
..
.
TBC
Kayaknya batal tamat di chapter selanjutnya
