LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

"... Baek?"

"Ya?!" lamunan Baekhyun buyar ketika Chanyeol tiba-tiba menarik dagunya hingga wajah mungilnya tertunduk. Sepasang manik itu bertemu pandang dengan milik Chanyeol yang sedang berbaring di pangkuannya.

"Ada apa? Kau terlihat tak fokus, ada sesuatu yang terjadi?" tanya Chanyeol khawatir. Jam telah lewat tengah malam, dua orang itu sebenarnya tengah menghabiskan akhir pekan dengan menonton bersama seperti biasa. Namun kali ini hanya Chanyeol yang berakhir menikmati tayangan film itu sementara Baekhyun tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Baekhyun tak menjawab apapun, alih-alih membenarkan posisi duduknya. Chanyeol yang tak kunjung mendapatkan balasan tentu merasakan ada sesuatu yang janggal. "Jangan menyembunyikan apapun, kau bisa mengatakannya padaku,"

Baekhyun meremat ujung kaosnya dengan manik tak berani menatap kepingan hitam si tinggi "Tadi ayahmu datang kemari." jawab Baekhyun pada akhirnya.

Chanyeol dengan cepat bangkit dari posisi berbaringnya, ekspresi pria itu panik dan tubuhnya seketika menegang. "Ayahku datang? Dia melakukan sesuatu? Apa dia menyakitimu? Kau baik-baik saja kan?"

Baekhyun memberikan gelengan pada serentetan pertanyaan yang Chanyeol berikan "Dia tak melakukan apapun, dia hanya memintamu pulang." Mendengarnya wajah tegang Chanyeol langsung melunak diikuti napas panjang yang tanpa sadar ia hembuskan lega.

"Syukurlah dia tak melakukan apapun."

Setelah respon itu Baekhyun tak mendengar apa-apa lagi, oleh karena itu ia kembali mengucapkan kalimat terakhirnya memastikan agar Chanyeol mendengar dengan jelas. "Chanyeol kau harus pulang."

Chanyeol memandangi wajah Baekhyun dalam diam untuk beberapa saat "Kenapa?"

"Ayahmu meminta agar kau melanjutkan perusahaan." ucap Baekhyun sambil mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi Chanyeol.

"Kau mau ikut pulang bersamaku?"

Baekhyun termenung sesaat, lalu menundukkan kepalanya

"T-tidak, aku tidak akan kembali ke Korea. Kau kembalilah, aku akan tetap di sini-" jawab Baekhyun lirih.

"Kalau begitu aku takkan pulang." ujar Chanyeol tanpa beban sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.

"Tapi ayah bilang perusahaan sedang mengalami kesulitan.."

"Aku tidak peduli Baek, lagipula aku tidak suka berkutat dengan kertas-kertas itu. Biarkan saja, tidak perlu ditanggapi serius aku akan tetap disini bersamamu."

"Ayahmu bilang hanya kau yang bisa menyelamatkan perusahaan Chan, dan kau adalah putra satu-satunya jadi perusahaan akan menjadi tanggung jawabmu."

"Tidak perlu dipikirkan, biarkan ayahku mencari orang lain. Aku tidak tertarik mewarisinya."

Baekhyun semakin bingung harus mengatakan apalagi, menjadikan perusahaan sebagai alasan agar Chanyeol pulang sepertinya takkan berhasil. Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya? Tapi Park Sungjin melarangnya, pria itu bilang ia harus merahasiakannya dari Chanyeol.

"T-tidak hanya itu, kau harus pergi Chanyeol- emm.. kau harus pulang secepatnya, aku tak ingin kau menyesal." Chanyeol kali ini mengernyit, menurutnya perilaku Baekhyun sangat aneh. Kenapa si mungil itu begitu memaksa agar ia pulang?

"Sebenarnya apa yang ayahku katakan padamu?"

"Huh?" Baekhyun reflek menyahut dengan memiringkan kepala.

"Aku yakin ayah mengatakan hal lain, pasti ada sesuatu. Apa itu? apa yang sedang kau sembunyikan?" tatapan penuh curiga Chanyeol layangkan untuk Baekhyun, sementara yang ditatap langsung gusar.

"T-tidak."

"Katakan saja, aku tahu ada yang kau tutupi."

Baekhyun merutuki diri sendiri kenapa ia bodoh sekali menyembunyikan ekspresinya. Jika begini mau tak mau Baekhyun harus mengatakannya. Napas panjang menjadi pengawal tentang apa yang akan Baekhyun katakan. "S-sebenarnya ayahmu bilang jika ibu masuk rumah sakit." seketika Chanyeol langsung terdiam.

"Ibu masuk rumah sakit karena terkejut setelah mengetahui penyakit yang selama ini ayah sembunyikan." Chanyeol semakin bingung mendengar penjelasan Baekhyun. "Penyakit yang ayah sembunyikan?"

Baekhyun menganggukkan kepala, sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut "Ayah mengidap leukimia"

Yang lebih tinggi mematung, entahlah otaknya rasanya berhenti bekerja. Selama ini Chanyeol memang tak terlalu akur dengan sang ayah tapi mendapatkan berita macam ini.. Ia sendiri bingung harus bereaksi seperti apa.

"Kau harus pulang Chan.." tangan Baekhyun terangkat untuk menggenggam jari yang lebih besar untuk memberikan sedikit kekuatan.

"Dia akan sembuh" tanggapan Chanyeol lirih, terdengar datar tapi tak ada yang tahu apa yang pria itu rasakan sebenarnya.

Baekhyun menggeleng, wajahnya terlihat frustasi "Kurasa kali ini benar-benar memburuk Chanyeol. Aku bahkan tak mengerti bagaimana ia bisa datang kemari dengan kondisinya yang seperti itu. Kau harus pulang, aku tak ingin kau menyesal nanti. Setidaknya kembalilah untuk beberapa hari dan melihat keadaan ayah dan ibumu."

"Kalau begitu ikutlah denganku, aku tak bisa meninggalkanmu sendirian di sini!" Chanyeol yang kalut tanpa sadar meninggikan suaranya membuat Baekhyun mengerut dengan tubuhnya gemetar. Ini pertama kali Chanyeol membentaknya, tak bohong bahwa ia sangat ketakutan. Kepala Baekhyun menggeleng "Korea terlalu menakutkan untuk bisa kusinggahi lagi."

Sadar akan tindakannya Chanyeol segera menguasai diri dengan menarik napas dalam. Pria itu mengusap wajahnya kasar "Aku takkan pergi jika kau tak ikut bersamaku Baekhyun, aku sudah berjanji. Ini sudah menjadi pilihanku sejak awal dan aku takkan menyesali apapun meski aku akan berakhir menjadi anak durhaka." ujar Chanyeol dengan suara yang lebih lembut, ia sendiri bingung harus bagaimana. Semua ini membuatnya dilema.

Ruang hening tercipta setelah perdebatan sepasang kekasih itu, menjadikan suasana canggung. Dilain sisi Baekhyun menatap tangannya yang tergenggam dingin di bawah tubuhnya. Ia terdiam untuk sejenak merenung.

"B-beri aku waktu.." cicit Baekhyun dengan suaranya yang nyaris tak terdengar. Beruntung tak ada jarak yang memisahkan tubuh keduanya jadi Chanyeol bisa mendengar apa yang Baekhyun ucapkan.

"Beri waktu aku untuk memikirkannya."

Chanyeol kemudian menatap sendu pada Baekhyun sebelum merengkuh Baekhyun masuk dalam pelukannya. "Maafkan aku"

Satu minggu berlalu disinilah mereka sekarang, duduk di dalam pesawat dengan penerbangan menuju Seoul. Setelah pemikiran panjang dan banyak pertimbangan Baekhyun memutuskan ikut kembali ke Korea, ia tak ingin egois. Tahu benar betapa Chanyeol ingin pulang untuk melihat keadaan ayah dan ibunya. Baekhyun mengalah dengan menekan ketakutanya untuk beberapa hari ke depan. Ia hanya bisa berharap jika semuanya akan tetap baik-baik saja.

Sepanjang perjalanan Baekhyun hanya diam, jarinya tertaut resah dengan perasaan tak nyaman. Si tinggi tentu sadar akan kegelisahan sang kekasih. Tangan Chanyeol tergerak untuk menggenggam jarinya, melepaskan tautan si manis untuk ia jalin dengan miliknya.

"Jangan takut, aku akan selalu disamping mu." Baekhyun menoleh menatap dengan pandangan gugup, Chanyeol semakin mengeratkan genggaman memberikan usapan pada punggung tangannya, berusaha mengalihkan sedikit kekhawatiran Baekhyun.

Dua jam mengudara akhirnya mereka mendarat di Seoul tepat pukul 11 malam. Si mungil tak lepas menempel dari si tinggi, begitupun Chanyeol yang terus menggenggam tangannya. Wajah keduanya tertutup masker dan topi, tak ingin ambil resiko ada yang mengenali dan berakhir membuat keributan.

Dua orang pria dengan setelan hitam tiba-tiba datang menghampiri membuat Baekhyun mengerut ketakutan. Ia bergerak gelisah bersembunyi di balik tubuh tinggi Chanyeol.

"Jangan takut, aku mengenal mereka."

Chanyeol tidak asing dengan wajah itu. Kedua pria langsung membungkuk hormat pada Chanyeol, ia yakin itu orang suruhan ayahnya. Tapi Chanyeol bingung bagaimana mereka tahu jika ia pulang hari ini. Apa selama ini ayahnya diam-diam mengawasi?

Tanpa banyak membuang waktu Chanyeol mengikuti kedua bodyguard yang ayahnya kirim tak ingin berlama-lama di bandara dan menjadi pusat perhatian apalagi sampai dikenali.

Baekhyun terpaku begitu sampai di depan mansion besar itu. Ini terasa aneh, ia kembali ke Korea tapi bukan pulang ke rumahnya.

"Ayo masuk" tarik Chanyeol lembut di pergelangan tangannya. Baekhyun hanya bisa mengikuti dengan pasrah, jujur perasaannya tak enak.

Begitu memasuki mansion keluarga Park suasananya tak sama seperti terakhir kali Baekhyun berkunjung. Atmosfernya menjadi dingin, nyaris sama seperti di kediaman Baekhyun. Chanyeol juga sama, ia merasa asing dengan rumahnya sendiri. "Dimana semua orang?" tanya Chanyeol.

Salah seorang maid yang membawakan barang-barang miliknya dan Baekhyun menjawab "Tuan besar ada di rumah sakit bersama nyonya besar. Sedangkan nona Yoora sedang di luar kota, besok baru pulang."

Chanyeol mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Apa tuan muda ingin menyusul ke rumah sakit?"

"Tidak, besok saja. Aku akan beristirahat dulu untuk malam ini." Chanyeol tak tega melihat Baekhyun. Merasa buruk melihat bagaimana kekasihnya itu terlihat begitu ketakutan, jadi Chanyeol rasa cukup untuk hari ini.

"Baik tuan."

Para maid telah menyiapkan kamar khusus untuk Baekhyun, letaknya tepat di depan kamar Chanyeol. Kedua pria berbeda tinggi itu langsung masuk dalam kamar masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri untuk esok hari.

Pagi hari ketika membuka mata, Baekhyun menemukan dirinya terbaring sendiri di kamar yang menurutnya asing dan kemudian tersadar jika ia sedang berada di rumah Chanyeol. Ketukan daun pintu membuat urung matanya yang hendak tertutup lagi, segera turun dari atas ranjang dan membukakan pintu.

"Selamat pagi" Senyum tampan Chanyeol langsung menyambut lengkap dengan sapaan hangatnya. Pria itu sudah terlihat rapi dan segar dengan setelannya. "Apa tidurmu nyenyak?" tanya Chanyeol yang dibalas anggukan oleh Baekhyun.

"Kita akan pergi ke rumah sakit sebentar lagi, bersiaplah aku akan menunggu di meja makan." Baekhyun kembali menganggukkan kepalanya, dan Chanyeol tak bisa menahan bibirnya untuk tidak mencuri satu kecupan disana. Pemandangan bangun tidur Baekhyun adalah favoritnya.

Chanyeol dan Baekhyun hampir masuk ke dalam mobil sebelum seorang pengawal tiba-tiba menghentikan dengan panik. "T-tuan, Anda tidak bisa pergi sekarang. Puluhan reporter sedang menunggu anda di depan gerbang, mereka memaksa masuk." Chanyeol spontan membolakan matanya terkejut, pintu mobil yang baru sempat ia buka langsung ia tutup kembali.

Sementara Baekhyun telah berkeringat dingin dengan jantung yang berdebar keras. Perasaan takut berangsur-angsur memenuhi menjadikan peganganya pada ujung baju Chanyeol mengerat. "C-chanyeol ada apa ini?"

Ratusan artikel rupanya telah ditulis diseluruh platform berita dengan nama Chanyeol dan Baekhyun menduduki trending pencarian utama. Semua beritanya berisi tentang kepulangan si sulung Byun malam kemarin dengan sosok pria. Beberapa artikel bahkan menyebutkan identitas Chanyeol dengan gamblang. Tak sampai disana, rumor enam bulan lalu tentang kacaunya acara pertunangan Baekhyun pun turut kembali diperbincangkan.

Chanyeol yang melihat berita itu langsung kelabakan, pasalnya ia telah berusaha sebaik mungkin untuk merahasiakan kepulangannya dengan Baekhyun. Chanyeol segera membawa Baekhyun kembali masuk ke dalam rumah. Situasi benar kacau di depan sana. Chanyeol tak habis pikir bagaimana orang-orang itu bisa mengenalinya dan Baekhyun. Chanyeol pikir ia aman semalam, tapi rupanya tidak sama sekali.

Sebuah panggilan masuk dan tak menunggu lama Chanyeol segera mengangkatnya.

"Kau gila?!" sebuah makian langsung menyambut begitu panggilan terhubung. "Kau di mana sekarang?!"

Itu dari Sehun, Chanyeol tak merasa sakit hati, ia tahu benar bahwa orang di sebrang sana hanya terlalu khawatir. "Di rumah"

"Jangan pergi kemanapun karena keadaan diluar akan sangat kacau sekarang. Jangan biarkan siapapun masuk ke rumahmu, lindungi Baekhyun hyung. Aku akan mencari cara agar ayah tak sampai menangkap kalian."

"Baiklah." panggilan dengan cepat diakhiri. Chanyeol merutuki dirinya sendiri, merasa begitu bodoh karena tak mengantisipasi hal ini sebelumnya. Ia bahkan tak menghubungi Sehun, dan tentu saja pria itu marah sekarang. Sebenarnya bukan tanpa alasan, Chanyeol memang tak ingin membuat keributan karena ia pikir mereka berdua hanya akan menetap selama 2-3 hari.

Pandangannya beralih pada Baekhyun yang gemetaran di sampingnya. Tangan pria itu berkeringat dingin dalam genggaman Chanyeol. "Semua akan baik-baik saja." ujarnya ingin memberi sedikit rasa tenang. Baekhyun meliriknya sekilas sebelum kembali menunduk. Chanyeol sendiri tak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di tempat lain Sehun sama kacaunya, kakak semata wayangnya tak berkabar apapun padanya. Ini akan sangat gawat jika sang ayah tahu. Selama ini Sehun sudah berusaha mati-matian menyembunyikan tempat bernaung sang kakak. Bahkan nekat menyusupkan mata-mata sebagai bawahan ayahnya. Tapi apa-apaan dengan berita hari ini?

Ia harus cepat memutar otak agar ayahnya tak kembali berulah, tapi kemana lagi ia harus membawa Baekhyun lari?

"Argh! Sialan!"

Hingga malam hari gerombolan pencari berita itu rupanya masih sangat betah berdiam di depan rumah Chanyeol. Beruntung pagar mansion keluarga Park itu sangat kokoh dengan penjagaan yang ketat sehingga mereka tak bisa menembus masuk. Tapi tentu saja Chanyeol tak bisa hanya berdiam seperti ini, masih ada ancaman lain. Byun Jae In, pria itu cepat atau lambat pasti akan segera bertindak.

Ponsel Chanyeol berdering menampilkan nama Sehun di sana.

"Halo?"

"Baekhyun tak bisa lebih lama lagi berada di tempat mu, ayah sudah mulai bergerak. Tengah malam nanti aku akan menjemputnya."

"Kau akan membawanya kemana?"

"Aku memiliki satu tempat persembunyian yang aman, aku akan membawanya kesana."

"Kau yakin di sana benar-benar aman? Kau butuh bantuanku? Aku akan mengutus beberapa pengawal untuk mengikuti kalian jika perlu."

"Tidak, itu akan terlihat mencolok. Aku bisa melakukannya sendiri kau tenang saja. "

"Baiklah" panggilan diakhiri. Tapi Chanyeol tak merasakan kelegaan apapun, perasaannya terus kalut memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Chanyeol tak siap jika harus berpisah dengan Baekhyun lagi, tapi semoga Sehun bisa mengatasinya dengan baik.

Tengah malam itu sesuai rencana, Sehun akan membawa sang kakak keluar dari kediaman Park tanpa menimbulkan kecurigaan. Baekhyun sudah berpakaian lengkap, turtleneck dan hoodie hitam milik Chanyeol telah melekat apik membungkus tubuhnya. Ia juga sengaja menggunakan sneakers untuk berjaga-jaga jika diharuskan berlari nanti.

Baekhyun merasa sangat gugup, entah mengapa ini jauh lebih mendebarkan dibanding pelariannya terakhir kali. Baekhyun juga mengenakan bannie milik Chanyeol, ia bilang itu adalah bannie keberuntungannya. "Aku akan baik-baik saja Chan." ujar Baekhyun karena Chanyeol belum juga mau melepaskan pelukannya, ia merasa tak rela.

"Aku akan menunggu dan berdoa dari sini. Telpon aku jika terjadi sesuatu, kita hanya akan berpisah sementara waktu kan?"

Baekhyun memberikan anggukan, ia sudah bosan menjawab karena ini sudah kelima kalinya Chanyeol mengatakan hal yang sama. Wajah mungil itu Baekhyun usakkan pada dada bidang Chanyeol hingga akhirnya si jangkung melepaskan pelukannya. "Berjanjilah untuk kembali padaku secepatnya" Chanyeol menangkup wajah cantik Baekhyun dan memberikan kecupan terakhir.

"Iya, aku akan kembali"

Sebuah lambaian mengantar mobil Sehun yang melesat meninggalkan mansion besar milik keluarganya. Chanyeol berdiri hampa sambil menyaksikan bayangan mobil itu tertelan jarak meninggalkan hatinya terasa kosong.

Sehun membawa sang kakak ke tempat yang telah ia siapkan dengan mobil Audi hitamnya melaju dengan kecepatan penuh.

"Sehun, apakah aku mengacau lagi?" di tengah keheningan malam itu Baekhyun bersuara mengalihkan atensi Sehun yang sibuk mengawasi jalanan. Sehun menoleh, menemukan wajah kakaknya yang nampak murung. Pria berkulit pucat itu tersenyum teduh, mengusap pipi gembil yang terasa dingin itu sayang.

"Tidak, ini bukan masalah besar. Tenang saja takkan terjadi apapun."

Tepat setelah kalimat Sehun usai mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak. Kedua tubuh berbeda ukuran itu langsung terdorong kedepan dengan keras. "Ada apa?" tanya Sehun pada supirnya.

"Ada mobil yang menghadang jalan kita." Sehun berdecak kasar, kenapa ada saja hambatan disaat seperti ini. "Sialan! Siapa orang gila itu!" Tak berapa lama wajah kesalnya berubah, mata elangnya hanya bisa membola ketika menyadari mobil siapa di depan sana. "A-ayah?"

...

PLAK

"Ayah!"

Tamparan keras langsung menyambut si bungsu Byun, meninggalkan Baekhyun yang spontan berteriak melihat keadaan sang adik. Tubuh mungilnya berada dalam rengkuhan sang ibu dan keduanya sama-sama menangisi keadaan si bungsu.

"Jadi selama ini kau dalangnya? Kau yang membantu kakakmu kabur?!" teriak Byun Jae In marah. Matanya memerah karena emosi.

"Ya, aku yang melakukannya, aku juga yang selalu menutupi dimana Baekhyun hyung tinggal. Aku ingin melindunginya dari pria egois yang dibutakan jabatan sialannya seperti mu!"

"Sehun!" pekik satu-satunya wanita disana memperingati, ia tak ingin Sehun semakin mendapatkan masalah karena ucapannya. Satu tamparan lagi mendarat di pipi Sehun, begitu keras hingga ujung bibirnya berdarah. Pria baya itu terlihat benar-benar marah sekarang.

"Kurang ajar!" teriak pria itu lantang. Jae In berjalan menuju laci yang ada di samping pintu ruang kerjanya mengambil benda yang terlihat tak asing menurut Baekhyun. Manik sipit itu langsung melebar ketika tahu apa yang pria itu bawa.

"Ayah! Tidak, hentikan! Kumohon"

Baekhyun menatap sang adik dengan pandangan buram, air matanya sudah jatuh dengan sangat deras. Tubuh gontainya ia bawa berlutut didepan ayahnya mengabaikan teriakan sang ibu yang berusaha menahannya "Ayah hentikan, ini semua salahku. Sehun tak bersalah, kau bisa memukuliku sepuasmu tapi hentikan semua ini."

Jae In menarik kasar kakinya, "Tentu aku akan senang hati memghajarmu juga. Tapi untuk sekarang Sehun yang akan menerima hukumannya dulu. Kalian berdua benar-benar putra yang tak tahu malu!"

"TIDAK! Kau bisa menghukumku atas kesalahan putra-putraku, Kumohon jangan mengulang kejadian sepuluh tahun lalu! "

"Diam! Ini semua salahmu yang terlalu memanjakan mereka! Kau benar-benar istri yang tidak becus! Jadi diam saja biarkan aku mengajari anak-anakku!"

Tubuh Mirae tak mampu lagi berjalan mendekat, para pengawal itu menahan tubuhnya.

Baekhyun yang telah berhasil meraih ayahnya tak menyerah, pria itu masih bersikukuh bersujud di kaki sang ayah. Baekhyun begitu enggan melepaskan pegangannya meski tubuhnya terseret ketika pria itu berjalan. "Kau bisa memukuliku atau membunuhku sekalian. Tapi jangan menyakiti Sehun!"

Pria Byun itu sama sekali tak menghiraukan perkataan putra maupun istrinya, ia menyuruh beberapa pengawal untuk menahan tubuh putra sulungnya juga dan membawa Sehun masuk ke dalam ruang kerjanya. Baekhyun menangis se jadi-jadinya ia tak ingin apa yang pernah ia alami dulu dialami juga oleh adiknya. Itu sangat menyakitkan, tidak Sehun tak boleh merasakanya juga.

...

Seminggu berlalu, para reporter yang beberapa hari terakhir menginap di depan rumah Chanyeol telah pergi. Jujur itu membuatnya sedikit lega, tapi sekarang Chanyeol bingung karena Sehun dan Baekhyun tak bisa dihubungi. Seminggu ini Chanyeol cukup sibuk mengurus perusahaan, karena ia benar-benar harus mengambil alih semuanya jadi tak sempat mencari tahu keberadaan kekasihnya. Chanyeol mempercayakan semua pada Sehun. Tapi sekarang ponsel Sehun bahkan tak bisa dihubungi, ini membuatnya khawatir. Haruskah Chanyeol mencari ke kediaman Byun?

Seminggu berlalu menjadi satu bulan, Chanyeol benar-benar gila mencari keberadaan Baekhyun. Ia sudah nekat mengunjungi kediaman sang presiden tapi tak menemukan titik terang di sana. Chanyeol frustasi, Sehun dan Baekhyun bak di telan bumi menghilang begitu saja. Hingga di suatu pagi Chanyeol mendapatkan sebuah surat yang dibungkus rapi dalam amplop kecil berwarna coklat. Itu pagi yang cukup sibuk, seperti biasa televisi dibiarkan menyala dengan Chanyeol yang terburu-buru menyelesaikan segala urusannya. Pria itu terdiam begitu membuka kertas dengan tulisan tangan yang ia hafal di luar kepala. Dengan jantung berdebar Chanyeol baca tiap kata demi kata yang tertulis di sana.

Chanyeol bagaimana kabarmu?

Maaf karena tak sempat memberi kabar apapun setelah malam itu.

Jangan khawatir, aku baik-baik saja.

Aku ingin meminta maaf karena aku tak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu, aku harus pergi.

Jangan mencariku, karena aku tidak lari darimu aku hanya butuh waktu untuk semuanya. Kita akan bertemu lagi jika memang berjodoh. Aku tak pernah menyesal bertemu dan mengenal pria sepertimu Chanyeol. Terima kasih.

Sampai jumpa lagi, aku mencintaimu.

Belum usai otaknya mencerna segala kalimat yang tertulis dalam surat di tangan Chanyeol semakin membeku begitu telinga perinya mendengar berita penangkapan sang Presiden dari televisi yang menyala didepannya. Presiden Korea Selatan yang tak lain adalah ayah dari kekasihnya, Byun Jae In ditangkap atas tuduhan kekerasan dan penganiayaan. Yang menjadi korbannya adalah putra dan istrinya. Chanyeol seketika membatu, pikirannya tak sampai untuk memahami semuanya. Tak menunggu detik berganti tungkai panjangnya segera terayun untuk mengambil kunci mobil dan pergi menuju kediaman sang kekasih.

Begitu sampai, situasi di sana benar-benar kacau, puluhan reporter dan wartawan berbondong-bondong memenuhi rumah megah itu. Chanyeol berusaha menerobos masuk namun polisi mencegahnya. Ia berteriak, mendorong, melakukan apapun agar bisa masuk ke dalam sana untuk bertemu Baekhyunnya. Tapi seluruh usahanya sia-sia, karena yang sebenarnya kekasihnya itu sudah lama pergi.

...

..

.

TBC