LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Suara ketukan pada pintu membuyarkan konsentrasi Chanyeol pada serentetan dokumen yang sedang ia baca. Dengan helaan napas pria itu melepas kacamatanya, memijit pangkal hidungnya pelan sambil mempersilahkan masuk.
Pintu kayu itu terbuka memunculkan sosok wanita cantik dengan setelan coklat dan sepatu berhak tingginya.
"Selamat malam sajangnim, saya ingin menyerahkan beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani." wanita itu meletakkan berkas-berkas yang ia bawa di ujung meja kerja Chanyeol.
"Apa ini yang terakhir?" tanya Chanyeol sesaat ketika menyadari jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Benar, ini berkas-berkas terakhir untuk hari ini."
"Baiklah kau bisa pulang kalau begitu."
Irene reflek membulatkan mata, "Tapi ini belum jam pulang saya sajangnim." ucap Irene dengan wajah bingung.
"Aku tahu. Bukankah ini akhir pekan? aku hanya ingin memberimu hadiah kecil karena sudah bekerja keras seminggu ini." balas Chanyeol santai.
Mendengar itu seutas senyum tanpa sadar muncul di bibir Irene. Tak ingin menyia-nyiakan kebaikan sang atasan wanita itu segera membungkuk untuk berterimakasih "Terimakasih Sajangnim, kalau begitu saya pamit lebih dulu."
Keadaan kembali hening seperginya Irene dari ruangan Chanyeol, pria yang dikaruniai wajah tampan itu memandang kosong tumpukan pekerjaan yang masih menunggunya. Kemudian beralih pada sebuah frame foto yang terpasang di atas meja. Chanyeol mengambil frame berwarna hitam itu kemudian mengelus perlahan kaca yang menampilkan foto di baliknya. Sebuah potret dirinya bersama sosok pria mungil yang sedang duduk berdua di atas komidi putar. Si mungil itu tersenyum lebar menghadap kamera dengan Chanyeol yang mencium pipinya. Senyum kecut tersemat begitu otaknya secara otomatis memutar kembali apa yang sebenarnya terjadi di balik foto itu dua tahun lalu, Chanyeol kembali merindu.
Hari ini genap setahun Chanyeol kehilangan sang pujaan hati, masih terjerat dalam jurang penyesalan sambil meratapi apa yang telah terlewati. Sampai sekarang pun Chanyeol sendiri bingung di mana tepatnya kekacauan itu bermula.
Masih segar diingatannya hari itu, hari dimana ia terus menunggu di depan kediaman keluarga Byun. Berdiri tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya ia tunggu. Satu minggu Chanyeol merasa hancur, sebulan terasa amat sangat kesepian dan setahun lamanya menunggu kemunculan Baekhyun seperti mengharap sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan. Hatinya pun agaknya sudah mulai mati rasa sekarang.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Chanyeol bangkit dari kursi dengan satu helaan napas berat.
Tatapan nanar ia arahkan keluar jendela mobil untuk mengamati deretan pertokoan dan beberapa rumah makan yang mulai tutup. Hampir dua bulan pindah ke London nyatanya Chanyeol belum punya waktu untuk sekedar berjalan-jalan.
Si jangkung itu tersenyum tipis begitu melihat cafe yang sudah lama tak pernah ia kunjungi masih buka.
"Kita mampir ke Cafe itu sebentar." ujarnya pada pria di balik kemudi yang langsung dituruti begitu saja.
London tak banyak berubah, masih sama seperti dulu. Kota paling cantik yang menjadi satu-satunya tempat ia menyimpan segala kenangan indahnya bersama Baekhyun.
"Richard!" Chanyeol spontan menoleh begitu mendengar panggilan yang sudah lama tak ia dengar.
"Jadi benar ini kau?" tanpa aba-aba tubuhnya di peluk oleh orang yang barusan memanggil, Chanyeol tak menolak alih-alih menyambutnya.
"Lama tak bertemu"
"Ya, lama sekali." balas Chanyeol turut memberikan tepukan di punggung pemuda berkulit tan itu.
"Apa yang dilakukan orang sepertimu di sini?"
"Entahlah, menemui teman lama mungkin?"
"Masih menganggapku teman rupanya?"
"Emm, kurasa aku harus menarik kalimatku" Jawab Chanyeol dengan wajah seriusnya, Kai tahu pria itu hanya bercanda dan mereka berdua berakhir tertawa bersama. "Jadi bagaimana kabarmu?"
"Yah beginilah, tak jauh berbeda dengan yang dulu. Kau sendiri?"
"Tidak terlalu baik... Kurasa?" jawab Chanyeol meragu diakhir.
"Eii... Tentu saja kau jauh lebih baik, seorang CEO heh?"
Bukan rahasia lagi jika akhir-akhir ini Chanyeol menjadi sangat terkenal, pria tinggi itu berhasil menarik perhatian publik karena karir dan juga parasnya yang luar biasa tampan. Tak terhitung berapa kali wajahnya menghiasi cover majalah bisnis.
Chanyeol mengambil duduk di kursi ujung samping jendela besar, tempat yang menurutnya paling istemewa karena menjadi favorit seseorang.
"Apa kau akan menetap di London?" pertanyaan Kai datang bersama nampan pesanan Chanyeol, menyentak si tinggi yang sibuk memandangi suasana luar dari balik jendela.
"Sepertinya begitu."
"Bagus! Jadi sekarang kau tinggal dimana? kenapa tak pernah memberiku kabar?" Tanya Kai menggebu-gebu.
Chanyeol tersenyum simpul sebelum kembali menjelaskan dan sepanjang malam itu mereka berdua habiskan dengan bernostalgia. Chanyeol menceritakan segalanya termasuk masalah yang selama dua tahun terakhir ini selalu ia pendam sendiri.
*
Matahari belum sepenuhnya memancarkan sinar, hanya sedikit berkas-berkas cahayanya yang berhasil menembus jendela kaca ke ruang apartemen sederhana itu.
Byun Baekhyun menemukan dirinya terbangun lebih pagi dari hari biasanya. Si mungil itu telah siap dengan kemeja warna biru langit lengkap dengan celana jeansnya.
Baekhyun menyempatkan untuk memandang refleksi dirinya sendiri di depan cermin sekali lagi, memastikan tak ada yang kurang dari penampilannya. Merasa cukup pria itu beralih mengambil jaket dan tas ransel yang selalu ia bawa, berjalan se pelan mungkin tak ingin membuat keributan dan mengganggu tidur seseorang.
"Mau pergi ke mana pagi-pagi begini?"
Baekhyun berjengit, tangannya hampir meraih kenop pintu sebelum suara itu menginterupsi. Ia menghentikan langkahnya untuk menoleh dan mendapati Sehun tengah berdiri sambil bersedekap dada.
"Selamat pagi" alih-alih menjawab, Baekhyun malah menyambut pria itu dengan senyuman cerah.
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Aku memiliki janji dengan seseorang."
"Sepagi ini?"
Baekhyun menganggukkan kepala.
"Siapa?"
"Vernon."
"Kenapa pagi sekali?"
"Emm.. Hari ini galerinya akan diresmikan jadi kami perlu mempersiapkan banyak hal."
"Setidaknya sarapanlah dulu."
"Aku akan sarapan di luar"
"Tidak, sudah berapa kali aku bilang makanan di luar itu tidak sehat."
"Sehun..." tiba-tiba ponsel Baekhyun bergetar menandakan adanya sebuah pesan yang masuk. Dengan segera si mungil itu mengecek benda elektronik yang ada di balik saku kemejanya.
"Aku harus pergi sekarang, mereka semua menunggu. Vernon sudah ada di bawah untuk menjemputku"
Sehun hendak memprotes tapi Baekhyun lebih dulu menyela "Aku berjanji akan sarapan tepat waktu dan memastikan makanan yang kumakan adalah makanan sehat."
Si tinggi berkulit pucat itu menghela napas pasrah "Baiklah, jangan lupa untuk mengirimkan buktinya kalau begitu, dan ingat untuk selalu mengaktifkan lokasi di ponselmu."
Jika sedang tidak buru-buru Baekhyun mungkin akan memprotes lagi karena permintaan Sehun yang berlebihan, tapi sayang waktunya terbatas.
Baekhyun keluar dari apartemen tergesa dengan Sehun yang meninggalkan berbagai pesan padanya mengenai banyak hal.
"... jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, dan jangan pernah pergi atau berinteraksi dengan orang asing apalagi jika mereka berpenampilan mencurigan."
"Iya aku tahu, kau sudah ratusan kali mengatakannya, berhentilah mengkhawatirkan kakakmu ini. Sekarang masuklah cerewet, aku tidak ingin terlambat."
Sebenarnya sedikit berat bagi Sehun tiap kali membiarkan Baekhyun pergi sendiri tanpa dirinya. Sehun masih khawatir akan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi pada sang kakak, apalagi belum genap sebulan Baekhyun dinyatakan sembuh.
Lonceng kecil itu berbunyi nyaring begitu Baekhyun membuka pintu. Ia memutuskan singgah di sebuah Cafe untuk mendapatkan beberapa potong roti dan kopi sementara Vernon membeli beberapa perlengkapan di toko sebelah.
"Aku ingin memesan satu exspresso, dua latte, satu americano dan empat croffle coklat" ujar Baekhyun menyebutkan pesanan sembari melihat daftar menu.
Baekhyun mengernyit ketika pelayan di depannya tak kunjung menanggapi, alisnya terangkat sambil menatap aneh pria tinggi yang seingatnya bernama Kai itu. Baekhyun jadi bingung ketika pria itu hanya diam sambil menatapnya horor seperti baru saja melihat hantu.
"Permisi? Kau mendengar ku?" Tanya Baekhyun coba menyadarkannya.
"I-iya? M-maaf, B-bisa tolong ulangi pesananmu?" jawab Kai terbata-bata tak menyangka akan bertemu dengan putra mantan presiden Korea Selatan itu lagi.
Setelah mengulang pesanan dan membayar, Baekhyun mengambil duduk di kursi ujung sambil menunggu pesanannya.
Dari balik meja kasir pandangan Kai tak lepas mengamati Baekhyun yang sedang duduk sendiri di meja paling ujung. Tangannya tak berhenti bergerak diatas layar ponsel miliknya, berusaha menghubungi Chanyeol dengan menelepon dan mengiriminya puluhan pesan. Pria berkulit eksotis itu berubah kesal ketika panggilannya terus dialihkan. "Di mana si idiot ini?!" gerutu Kai dalam hati.
Sementara di tempat lain Chanyeol baru bangun dari tidurnya, jarum pendek jam dinding mengarah pada angka 8 yang artinya ia harus bangun sekarang. Hari minggu pagi dengan langit cerah membuat pagi ini terasa sempurna untuk menghabiskan waktu di luar.
Chanyeol bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Selanjutnya pria itu melangkah ke arah dapur mencoba menemukan sesuatu yang sekiranya bisa dimakan, namun sayang si tinggi itu berakhir mendesah pasrah karena tak mendapati apapun di dalam kulkasnya. Kalau sudah begini mau tak mau ia harus pergi berbelanja.
Chanyeol mengecek ponselnya sebelum pergi membeli beberapa bahan makanan, pria tinggi itu mengernyit begitu menemukan ada banyak panggilan tak terjawab dari Kai. Tanpa pikir panjang Chanyeol pun menelepon balik, panggilan tersambung tepat didetik ketiga.
"Cepatlah kemari!" seru Kai sesaat panggilan terhubung.
"Ada apa?"
"Datang saja, cepat!"
*
Chanyeol menuruti permintaan Kai, berakhir memarkirkan mobilnya di depan cafe yang semalam ia kunjungi. Chanyeol segera melompat keluar dari mobil begitu sampai, tapi entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar cepat tanpa alasan. Dengan gugup Chanyeol meraba dada kirinya dan mendorong pintu kaca itu pelan.
"Richard!" pekik Kai begitu Chanyeol masuk.
"Selamat pagi" sapaan hangat Chanyeol beserta senyumnya tak bersambut membuat ekspresi pria itu berubah "Ada apa?" Chanyeol mengeritingkan alisnya begitu melihat Kai yang terlihat panik.
"I-ini tentang si pria mungil itu, aku melihatnya—" ucapan mendadak Kai membuat Chanyeol bingung. Hening menjadi satu-satunya tanggapan atas informasi yang diberikan si pria tan, Chanyeol butuh memproses segala sesuatu yang temannya utarakan.
"M-maksudmu?"
"Kekasihmu. Si sulung putra mantan presiden itu baru saja pergi, "
"Kekasihku? B-baekhyun?" ujar Chanyeol mati-matian, tenggorokannya tercekat membuat ia kesulitan berbicara.
Kai menganggukkan kepalanya cepat, saking cepatnya hingga membuat tatanan rambut klimisnya berantakan.
"Kau serius?!"
"Aku berani bersumpah"
"Di mana dia sekarang?" sahut Chanyeol berubah panik, meletakkan kedua tangannya pada pundak Kai dan sedikit mencengkramnya hanya untuk sekedar bertatap wajah.
"Dia pergi sekitar lima belas menit lalu. Aku hanya sempat mendengarnya membicarakan salah satu tempat dekat big ben.. "
Tak menunggu detik Chanyeol segera menghempaskan cengkramannya pada pundak Kai, mendorong keras pintu cafe dan lari keluar dengan tergesa.
Si jangkung itu berjalan tanpa tentu arah, menyusuri tempat-tempat yang sekiranya Baekhyun kunjungi. Detik demi detik ia lewati dengan keringat dingin, dalam hati pun terus berdoa agar tuhan mau berbaik hati kali ini.
Suara genta yang berdentang membawa langkah Chanyeol terhenti pada Big ben. Pria dengan tubuh tinggi itu terbaur dengan puluhan orang lain, memandang putus asa jam besar yang sedang membunyikan loncengnya. Tapi manik Chanyeol tak ingin menyerah untuk mengamati satu persatu manusia yang ada hingga irisnya tertarik pada seseorang berperawakan mungil dengan jaketnya yang tak asing di depan sana.
Chanyeol tahu jaket itu, tentu ia hapal diluar kepala. Jaket hitam dengan motif biru dan merah di bagian lengannya itu sama dengan miliknya yang Baekhyun pakai terakhir kali.
Jantung Chanyeol tiba-tiba berdebar cepat, tak ingin berharap banyak tapi ia tak menolak ketika kakinya bergerak tanpa diperintah.
Pria berjaket hitam di sana terus melangkah pergi, begitu cepat nyaris menghilang di antara lautan manusia. Si tinggi tak memiliki pilihan lain selain berlari, lantas menyeberangi jalan raya dengan setumpuk pejalan kaki lain untuk mengejar bayangan yang semakin memudar itu dengan gila. Tak ambil peduli dengan teriakan orang yang tanpa sengaja ia dorong kasar karena menghalangi jalannya, hingga tubuh besarnya bertabrakan cukup keras membuat ponselnya terjatuh.
"Oh, maafkan aku"
Chanyeol menggeram kesal karena langkahnya harus terhenti, sedangkan pria yang ia kejar semakin jauh menghilang. "Sialan!"
Pria asing yang tak sengaja ia tabrak itu membungkuk sopan merasa tak enak padahal jelas Chanyeol lah yang salah di sini.
"Aku tidak sengaja, maaf" Dengan baik hati pria itu memungut ponsel milik Chanyeol. "Ini milikmu.."
Chanyeol mendengus keras-keras sebelum manik sehitam jelaganya bertemu pandang dengan kristal itu. Chanyeol bungkam, untuk beberapa saat mereka berdua membeku satu sama lain.
Kelopaknya tak berkedip, agaknya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Jantungnya pun berdebar tak kalah gila, tubuh besarnya kaku dengan kedua netra yang benar-benar terpaku pada sosok itu. Bahkan tangannya tak mau repot mengambil ponsel yang menggantung di depan dadanya. Waktu seakan berhenti berputar dan seluruh indra Chanyeol kehilangan fungsi.
Keheningan total.
Tak ada yang berani berbicara seakan seluruh kalimat tertahan di udara.
Chanyeol menjadi orang yang pertama menyerah, ia tak bisa lagi menahan diri kakinya semakin melemas seolah berubah menjadi jelly. Memutuskan menumpu badan besarnya pada pria di depan dengan memeluknya, air mata meluap bersamaan dengan perasaan bahagianya.
Chanyeol mendesakkan kepalanya pada pundak pria itu, sementara kedua lengan di sekitar pinggang merengkuh tubuh yang lebih kecil sangat erat.
"Aku.. menemukanmu.. "
Gumaman lirih Chanyeol akhirnya keluar menggema dengan suara baritonnya yang khas.
Kepala Baekhyun yang membentur pundak Chanyeol tanpa sengaja mengundang aroma parfum familiar pria itu untuk merasuki penciumannya. Aroma khas yang membuat pikirannya terasa kosong, membuat Baekhyun pasrah ketika tubuhnya direngkuh sedemikian rupa. Manik sabitnya tanpa sadar terpejam akan rasa nyaman yang pria itu berikan, larut dalam suara debaran jantung yang lebih tinggi.
Namun seakan menyadari sesuatu Baekhyun tiba-tiba membuka mata dan mendorong tubuh Chanyeol hingga pelukan itu terlepas, dengan gusar kepalanya menoleh kesana kemari. Chanyeol membuka mulut hendak bicara, dahinya sedikit berkerut ekspresi pria itu bingung, namun Baekhyun cepat-cepat memotong "Kurasa-" ia melihat dengan awas kesekitar seakan mencari-cari seseorang yang sedang mengamati mereka berdua, Baekhyun lantas berubah ketakutan saat beberapa pasang mata melihat kearahnya.
Chanyeol yang menyadari tingkah anehnya menarik pergelangan tangan Baekhyun agar pria itu tak semakin menjauh. "Ada apa?"
Bola mata sipit itu ia larikan asal-asalan memandang tak fokus kesana-kemari, Baekhyun menggigiti bibir resah. "Aku-" ia menatap Chanyeol sekilas dan langsung mengalihkan wajah ketika tahu pria itu sedang mengamatinya dengan intens. Baekhyun kembali melangkah mundur memberikan jarak di antara mereka berdua, kedua tangannya bergetar hebat "A-aku harus pergi.." tak berbasa-basi lagi Baekhyun langsung memutar tubuh menjauhkan diri dari Chanyeol, mempercepat langkahnya tanpa memiliki keberanian untuk menoleh ke belakang.
Suara langkah kaki menyusulnya, Baekhyun tahu itu adalah Chanyeol tapi rasa takutnya yang semakin besar membuatnya tetap menatap kedepan, pura-pura tak mendengar dan terus mempercepat langkahnya.
"Baekhyun, tunggu-"
Sebuah tangan menarik pergelangan tangan Baekhyun memaksa agar tubuh mungil itu memutar balik ke belakang.
"Lepas!" Baekhyun menarik tangannya kasar mengambil langkah lebar menghindari Chanyeol.
"Ada apa?" Chanyeol hendak meraih tubuh itu lagi namun Baekhyun lebih dulu menghempaskan tangan yang lebih besar, Chanyeol terkejut dengan penolakan itu begitupula dengan Baekhyun yang tak menyangka akan perbuatannya sendiri.
Baekhyun mengerjapkan mata berkali-kali, sekujur tubuhnya bergetar dan lemas, tangannya pun turut mendingin karenanya. Dengan setengah terhuyung Baekhyun mengambil dua langkah ke belakang, "Jangan mengikutiku!" ujarnya sedikit menjerit, tak ingin ambil peduli dengan raut bingung Chanyeol ia kembali melangkah tergesa menjauh dari yang lebih tinggi, galeri tidak lagi menjadi tujuan, Baekhyun ingin pulang sekarang juga.
*
Sehun sedang mempersiapkan beberapa dokumen ketika pintu apartemen terbuka kasar dan tak lama memunculkan hyungnya dengan wajah pucat. Pria itu datang dan terburu-buru menuju kamarnya.
"Hyung sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Sehun heran.
"A-aku tiba-tiba merasa tak enak badan." ujar Baekhyun segera masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat. Sehun saling bertukar pandang dengan sang ibu merasa ada yang tidak beres dengan Baekhyun.
Baekhyun baru pergi sekitar satu jam lalu, dan tidak mungkin peresmian galerinya akan berakhir secepat itu.
"Hyung? Terjadi sesuatu?" Sehun mengetuk pintu kamar Baekhyun dari luar.
"Tidak. Hanya tiba-tiba merasa pusing, jangan khawatir aku hanya butuh istirahat." Sahut Baekhyun dari dalam.
"Kau yakin?"
"Ya, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu jangan pedulikan aku."
Sehun ingin sekali menerobos masuk dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi namun ia harus segera berangkat bekerja sekarang, sedari tadi ponselnya telah meraung-raung dengan beberapa panggilan yang sudah pasti menginginkannya agar segera datang ke klinik.
" Ada apa dengan kakakmu? " tanya sang ibu datang menghampiri
" Entahlah, sepertinya terjadi sesuatu tapi ia tak mau bicara apapun."
Wajah wanita yang tak lagi muda itu nampak khawatir.
"Ibu jangan khawatir, dia akan baik-baik saja mungkin memang benar jika Baekhyun hyung hanya tak enak badan. Aku akan mengeceknya dan membawakan beberapa obat nanti, sekarang biarkan dia istirahat."
Sehun keluar dari apartemen meninggalkan Baekhyun berdua dengan sang ibu, Sehun berjengit saat menemukan figur tinggi yang berdiri di depan pintu apartemennya. Pria itu berbalik dan Sehun semakin terkejut saat tahu jika sosok itu adalah Park Chanyeol.
"Sehun-"
"Kau bertemu dengannya?" Potong Sehun lebih dulu. Chanyeol mengangguk mengiyakan.
Kini Sehun paham situasinya, sepertinya sang kakak kembali mengingat hal itu.
"Kau punya waktu? Kita perlu bicara." Sehun terlihat sangat tenang berbanding seratus delapan puluh derajat dengan ekspresi Chanyeol yang nampak gusar.
"Baekhyun mengalami gangguan stress pasca trauma" Kalimat itu membuat jantung Chanyeol seperti berhenti berdetak, apa yang Sehun ucapkan sekali lagi membuat Chanyeol menjadi orang paling bodoh dan dungu sedunia, pria idiot yang tak tahu apa-apa tentang kekasihnya sendiri.
"Sebenarnya kondisinya telah membaik, tapi kurasa PTSD nya kambuh begitu melihatmu."
Jujur Chanyeol ingin lari menemui Baekhyun sekarang juga, memberinya pelukan hangat dan bersumpah takkan melepaskan pria itu apapun yang terjadi. Tapi ia tak bisa, ia tak boleh gegabah dan membuat kondisi Baekhyun semakin parah.
"Aku takkan melarangmu menemui kakakku, hanya beri dia waktu. Untuk sekarang tahan dirimu agar tak menemuinya"
"Aku akan bicara pada Baekhyun hyung lebih dulu."
Sehun tahu jika kondisi sang kakak memang baru membaik dan Sehun paham benar jika kemunculan Chanyeol akan memicu trauma itu muncul lagi. Tapi ia juga tak ingin menutup mata jika sang kakak sebenarnya masih sangat membutuhkan Chanyeol, Sehun tahu bagaimana Baekhyun selalu menangis tiap malam, bagaimana sang kakak ketakutan akan bahagianya sendiri, dan Sehun mengerti bagaimana pria itu tenggelam dalam kebimbangan. Satu-satunya cara yang bisa membuat kakaknya sembuh total adalah dengan membuatnya berdamai dengan masa lalunya.
*
"Aku akan merindukan kalian.. " ujar Baekhyun menatap tak rela pada Sehun dan juga sang ibu, mereka berdua harus pergi ke Korea untuk mengurus beberapa berkas dan meninggalkannya sendiri di London.
"Kami hanya pergi tiga hari, tidak perlu berlebihan"
"Aku tahu" balas Baekhyun setengah mencibir adiknya. "Tapi tetap saja tiga hari itu lama"
Sang ibu memberikan usapan lembut pada kepala Baekhyun "Kami akan segera kembali jaga dirimu dengan baik selama ibu pergi."
Baekhyun memberikan anggukan sebagai jawaban "Ibu juga jaga diri baik-baik!"
"Kami pergi sekarang."
Baekhyun menatap sendu adik dan juga ibunya, pria mungil itu kembali masuk ke dalam apartemen begitu bayangan kedua orang tersayangnya menghilang di balik pintu besi yang tertutup.
Baekhyun mendudukan diri sepi di sofa depan televisi, kembali termenung memikirkan pertemuannya dengan Chanyeol seminggu lalu.
Terlalu larut dalam lamunannya ia tersentak ketika mendengar pintu apartemennya di ketuk dari luar. Baekhyun mengernyit, ini belum sepuluh menit sejak ibu dan adiknya pergi. Baekhyun sempat bertanya-tanya sebelum akhirnya mendengus, pasti itu adalah sang adik yang kembali untuk mengambil barangnya -entah apalagi kali ini yang tertinggal.
Tanpa menunggu lama Baekhyun segera membuka pintu "Apa lagi yang kau ti-" Seluruh kalimat Baekhyun tertelan kembali begitu sadar jika pria yang berdiri di depannya bukanlah Sehun.
"Baekhyun—"
Baekhyun bergerak spontan menutup pintu tapi Chanyeol bergerak lebih cepat dengan menahannya "Tunggu! Aku ingin bicara padamu—"
Pegangan Baekhyun pada daun pintu tak begitu kuat dan Chanyeol tak ingin membuang kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam apartemen tanpa seizin si pemilik.
"A-apa yang kau lakukan disini?!" tanya Baekhyun dengan suara yang bergetar.
"Kita perlu bicara"
"Tidak, tidak, tidak bisa!" Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat pria itu berubah panik "Kau harus pulang! Jangan dekat-dekat denganku. Kau harus pulang Chanyeol!" Dengan asal Baekhyun mendorongnya pergi menuju pintu. "Kau tak boleh menemuiku!"
"Ssstt! Sssh tenang, Baek." Chanyeol menangkap tangan ramping Baekhyun "Kau harus tenang, lihat kita aman, kita berada di tempat yang aman, takkan ada yang menyakitimu hm?"
"Tidak Chanyeol-"
"Sst.. Kita akan baik-baik saja, orang-orang itu takkan bisa menyakiti kita lagi Baekhyun. Sekarang tarik napas, tenangkan dirimu, lihatlah tak ada siapapun di sini."
Baekhyun melihat kesekitar, pria itu mulai sedikit tenang meski napasnya masih memburu.
"Jangan takut, tidak ada siapa-siapa selain kita berdua." Chanyeol mengambil satu langkah mendekat, mencoba menarik tangan Baekhyun agar tubuh mungil itu tak terlalu jauh darinya. Sangat pelan, setenang mungkin agar Baekhyun tak kembali panik dan merasa terancam.
Merasa emosi Baekhyun telah sepenuhnya stabil Chanyeol perlahan membawa tubuh yang lebih mungil itu ke dalam pelukannya. Hati Chanyeol terasa sakit, sakit sekali melihat orang yang paling ia sayang mengalami hal mengerikan macam itu, hingga membuatnya trauma. "Maafkan aku."
"Aku akan membawamu kembali padaku."
Baekhyun menggeleng, melepas rengkuhan Chanyeol dari tubuhnya kemudian mendongak untuk menatap wajah yang lebih tinggi.
"K-kita tak bisa bersama lagi Chanyeol"
"Kenapa?"
"Dia akan marah, pria itu akan marah dan menyakiti kalian, aku tidak mau itu terjadi."
"Pria itu sudah di penjara. Dia telah mendapatkan hukumannya, ayahmu takkan bisa menyakiti siapapun lagi sekarang."
"Kita harus berpisah. Lagipula mereka selalu bilang jika hubungan kita salah."
"Salah? Apanya yang salah? Kesalahan apa yang kita lakukan sampai kita tak boleh bersama?" sorot Chanyeol meredup, tatapan mata yang agak berkaca-kaca itu menyayat hati Baekhyun.
"Kurasa akan lebih baik seperti ini—"
"Apa kau bahagia?" Baekhyun berhenti bicara lantas melirik wajah rupawan itu lagi.
"Iya, aku hidup dengan bahagia-"
"Aku tidak." Chanyeol lagi-lagi memotong dengan kalimat penuh penekanan. "Lihatlah bagaimana pria menyedihkan ini hidup tanpamu Baekhyun." Chanyeol tahu apa yang Baekhyun katakan hanya bualan, pria itu jelas sedang membohongi dirinya sendiri.
"Setidaknya berikan satu alasan kuat kenapa kita harus berpisah!"
Napas Baekhyun tercekat di tenggorokan, selama beberapa detik ia hanya berdiri memandangi bisu lantai yang sebentar lagi mungkin akan menelannya. Baekhyun bergeming meski tahu jika Chanyeol menunggu respon darinya.
"Aku hanya ingin hidup sesuai dengan yang aku inginkan, aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai. Tapi kenapa sulit sekali rasanya?"
Baekhyun benci melihat bagaimana Chanyeol menampakkan kerapuhannya, Chanyeol yang ia kenal adalah pemuda yang selalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi tak takut pada apapun, bukan pria lemah yang terlihat menyedihkan seperti ini.
"Kau bilang tak ingin menyakiti siapapun lagi benar? Kau tak ingin membiarkan orang lain sakit karenamu, lalu bagaimana bisa kau sendiri yang menyakitiku?" suaranya melirih, mata Chanyeol menyorot kristal bening yang lebih sipit dengan sinar putus asa. "Kau mungkin akan membunuhku jika benar-benar meninggalkanku."
Baekhyun meremat tangannya kuat-kuat di samping tubuh, apa yang Chanyeol sampaikan dan apa yang selalu Sehun katakan kembali membuatnya berpikir. Ia benci melihat tatapan yang pemuda tinggi itu berikan padanya. Ia ingin menghapusnya. Menghapus sinar menyedihkan itu sekarang juga.
"Chanyeol.."
"Hilangkan semua keraguan itu, berhentilah memikirkan orang lain dan mengorbankan kebahagianmu." Baekhyun tersentak begitu sebuah tangan menyentuh rahangnya.
"Aku mencintaimu Baek, hanya percaya padaku, jangan pikirkan esok, lusa, atau masa yang akan mendatang karena aku akan selalu berdiri di sampingmu apapun yang terjadi."
Wajah Chanyeol mendekat seiring dengan matanya yang tertutup, memotong jarak bibirnya dengan yang lebih tipis agar saling bertemu.
Sekujur tubuh Baekhyun berubah kaku dan lemas, ia tak melakukan apapun ketika Chanyeol semakin menariknya mendekat guna memperdalam tautan bibir yang pemuda itu awali. Tangan Chanyeol telah bertengger nyaman pada pinggangnya sementara yang lain meraba-raba pipinya. Hidung mereka bergesekan, bulu mata mereka menggelitik satu sama lain, napas Chanyeol membelai kulitnya membuat Baekhyun terbuai hingga sabitnya turut memejam.
Baekhyun mengabaikan seluruh bisikan yang berlarian berisik di dalam kepalanya, menutup mata erat untuk ragu-ragu membalas kecupan pada bibir Chanyeol. Apa yang Baekhyun lakukan sekarang mungkin akan ia sesali suatu saat nanti, namun entah kenapa ketakutan dan kekhawatiran yang selama ini menghantuinya tiba-tiba menghilang.
Baekhyun tidak bisa menahan perasaannya, kehangatan yang selama ini ia rindukan lambat laun merangkak merasuki tubuhnya.
Chanyeol tak hanya mengecup, tapi juga melumat bibir Baekhyun dengan sangat hati-hati dan semakin menuntut. Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun posesif dan menekan punggungnya agar tubuh kecil itu tak lepas darinya. Ada kerinduan besar yang Chanyeol coba sampaikan, ada pula putus asa serta frustasi dalam ciuman itu.
Tubuh Baekhyun bergetar, kedua tangan lentiknya meremas pundak tegap Chanyeol dan untuk berbagai alasan matanya memanas hingga cairan itu pada akhirnya keluar begitu saja.
Chanyeol berhenti, merasakan air mata hangat yang mengaliri pipinya. Menatap sabit kesukaannya tengah basah dengan linangan air mata, membiarkan bibir Baekhyun lepas untuk sesaat.
"Maafkan aku.." perkataan itu mengantarkan rasa penuh penyesalan.
Tatapan Chanyeol melembut, kesunyian mendera mereka untuk beberapa detik, memaksa keduanya untuk saling berpandangan satu sama lain dalam diam. "Tidak.. Jangan meminta maaf, kau tak melakukan kesalahan apapun."
"Aku menyakitimu"
Jari tangan Chanyeol tergerak untuk menyeka bekas air mata di sekitaran pipi Baekhyun. "Kau hanya menginginkan yang terbaik untukku, aku mengerti. Sekarang sudah tidak apa-apa, hanya tetap bersamaku Baekhyun. Aku mencintaimu."
Chanyeol kembali mendekat dan meraup bibir cherry itu lebih lembut lagi, seolah mengatakan jika ia akan baik-baik saja selama Baekhyun kembali padanya.
*
Musim telah berganti, dinginnya salju telah tergantikan oleh sinar hangat matahari di musim semi. Hari-hari kelam itu telah lama terlewati, kini semua telah baik-baik saja. Hubungan mereka bahkan telah kembali seperti dulu, atau mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun semakin membuka diri, tak lagi takut dan semakin terang-terangan menunjukkan jika mereka adalah sepasang kekasih.
Pagi ini Chanyeol bangun lebih awal hanya untuk menghabiskan waktu selama berjam-jam melihat penampilannya —yang demi tuhan sudah terlihat amat sangat sempurna— di depan cermin. Ia harus menjemput sang pujaan hati sebentar lagi. Rasa gugup tiba-tiba menyerang membuatnya merasa cemas mendadak.
Tarikan napas dalam menjadi pengawal langkahnya pagi ini, Chanyeol tersenyum tampan begitu melihat sang kekasih telah duduk manis menunggunya. Hari ini mereka berencana mengulang kencan pertama mereka dulu. Tak ada mobil mewah, Chanyeol sengaja menggunakan transportasi umum untuk kencannya bersama Baekhyun. Berjalan berdua sambil bergandengan tangan di tengah kerumunan orang adalah favoritnya.
Mereka mengunjungi semua tempat bersejarah —yang menjadi kenangan indah bagi Chanyeol dan Baekhyun— itu lagi.
Sepanjang hari ini mereka habiskan dengan penuh canda tawa dan sekali lagi Chanyeol merasa jadi orang yang paling bahagia di London.
Katedral St. Paul's adalah destinasi akhir.
Baekhyun menunggu Chanyeol yang masih setia menundukkan kepalanya. Hari sudah semakin gelap, dan sepertinya waktu kunjungan pada Katedral akan segera tutup sebentar lagi.
"Kita pergi sekarang?" tanya Baekhyun beberapa detik setelah Chanyeol mengangkat kepalanya.
Chanyeol menangkap pergelangan tangan Baekhyun sebelum pria itu sempat beranjak dari tempatnya.
"Ada apa?" tanya pria mungil itu bingung, entah hanya perasaan Baekhyun atau pria tinggi itu memang nampak tidak seperti biasanya hari ini.
"Kau pernah bilang katedral ini adalah katedral paling bersejarah di London, Untuk itu aku ingin membuat katedral ini bersejarah juga untuk kita.."
Chanyeol lantas memegang kedua tangan Baekhyun memposisikan agar tubuh mereka saling berhadapan. Chanyeol membasahi bibirnya yang entah mengapa mendadak kering.
"Beberapa tahun bersama kurasa sudah lebih dari cukup aku mengenalmu, aku mencintaimu dengan segenap hati yang kumiliki Baek."
Baekhyun terkejut ketika Chanyeol tiba-tiba bersimpuh di depannya.
"Byun Baekhyun, di hari dan tempat istimewa ini aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." Chanyeol lagi menjeda kalimatnya untuk merogoh saku celana —mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan balutan beludru warna biru. Chanyeol mengambil napas dalam mengenyahkan rasa gugup dalam hatinya sebelum kembali melanjutkan.
"Maukah kau membuatku menjadi pria paling bahagia dengan memberiku kehormatan untuk menua bersamamu? Baekhyun, menikahlah denganku."
Baekhyun tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang, terkejut, bahagia, terharu semuanya melebur jadi satu. lidahnya bahkan terasa kaku untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.
Menunggu Baekhyun memberikan jawaban tentu membuat jantung Chanyeol berdebar keras, terlalu berisik sampai ia bisa mendengar bagaimana organ itu berdetak saking kerasnya.
"Jawabanku— adalah.. ya. Mari kita menua bersama Chanyeol."
Chanyeol ingin berteriak kencang mengekspresikan perasaannya tapi ia masih cukup waras untuk tidak berteriak di gereja, sebagai ganti Chanyeol segera menghambur membawa Baekhyun dalam pelukan. Menggendong tubuh mungil itu dan memutarnya sekali sebelum menempelkan mulutnya pada mulut Baekhyun. Semua kesepian, kesakitan, dan peejuangannya tak ada yang sia-sia. Dan satu lagi, di Katedral St. Paul's —sumpah yang ia ucapkan tiga tahun lalu berhasil ia wujudkan.
Love Live London
...
..
.
END
[SEQUEL]
Suara gesekan besi terdengar nyaring memenuhi lapas yang sepi, tak lama pintu sel tahanan yang dingin itu terbuka dari luar memunculkan salah satu sipir —memanggil salah seorang tahanan di sana. Byun Jae In mengernyit begitu namanya yang di sebut, bertanya-tanya siapa orang yang mengunjunginya. Pria baya yang dulu selalu di elu-elukan seluruh masyarakat Korea itu kini nampak memprihatinkan dengan baju tahanan lusuh yang membalut tubuhnya.
Begitu tubuhnya masuk dalam ruangan khusus yang di lengkapi kaca besar dengan beberapa lubang kecil itu bayangan Park Sungjin segera tertangkap indranya.
Dahinya mengerut, mengambil langkah mendekat ia duduk di kursi yang menghadap kaca besar dengan sosok Sungjin dihadapannya.
"Bagaimana kabarmu?"
Jae In mendengus bosan "Tidak perlu basa-basi, apa yang kau inginkan?"
Sungjin tersenyum maklum, tahu benar bagaimana tabiat pria di depannya itu. "Kau tak banyak berubah."
"Aku hanya ingin mengatakan agar kau menyerah. Restui mereka, kau tahu benar bagaimana rasanya. Berhentilah menjadi egois seperti kedua orang tua mu dulu, biarkan anakmu bahagia dan jangan biarkan rasa benci serta dendam masa lalumu menghancurkan hidupnya juga."
"Siapa kau berani memerintahku? Sampai aku mati pun takkan kubiarkan putraku menerima penghinaan yang pernah kualami dulu."
Sungjin menghela napas "Mereka berdua berbeda, cinta mereka jauh lebih besar dan tulus Byun. Dua bocah itu jauh lebih kuat dari yang kita pikir, biarkan mereka hidup bahagia."
"Jangan biarkan kisah mereka berakhir tragis seperti kita."
"Kisah kita sudah lama berakhir, biarkan Chanyeol dan Baekhyun mengukir kisah cinta mereka sendiri dengan akhir yang berbeda, akhir yang jauh lebih indah."
...
...
..
.
Akhirnya sampe juga pada penghujung cerita. Pertama-tama aku mau ucapin terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pembaca yang udah menyempatkan baca karya abal-abalku ini. Aku sadar dalam cerita ini masih banyaak sekali yang harus diperbaiki, banyak kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Untuk itu makasih banyak yg sudah ngingkutin dan baca sampai sejauh ini, terimakasih atas apresiasinya dan mohon di maafkan kalo aku ada salah ya..
See you on my next story
