Dark Side of Ravendra

PART I. ORIENTASI

Matahari bersinar dengan cerah, memancarkan cahaya yang menyilaukan sehingga dapat diperkirakan hari ini sangat terik dan panas. Hiruk pikuk kendaraan di jalanan juga terdengar. Sudah menjadi hal yang wajar pada hari kerja terjadi kemacetan di jalanan umum. Seperti biasa, semua orang beraktivitas dengan pekerjaan dan kegiatannya masing – masing.

Aku sendiri sudah biasa dengan padatnya ibu kota, bersahabat dengan keramaian dan kebisingan di sekitarku. Bisa dikatakan aku nyaman dengan kota besar ini dan aku dapat memanggilnya rumah kedua karena ku akui aku sudah terbiasa hidup di sini.

Jakarta, ialah nama kota dimana aku tinggal. Kota dimana aku menimba ilmu dan mencari jati diriku yang sebenarnya. Kota yang indah sekaligus kejam untuk ku. Banyak hal yang ku alami di kota ini, menarik untuk diceritakan namun sedih dan pahit untuk dirasakan.

Aku sendiri tidak pernah menyangka akan menghabiskan masa dewasa ku di ibu kota ini. Adalah suatu hal yang tidak pernah terpikirkan dan terbayangkan karena tidak pernah ku rencanakan.

Aku pindah ke Jakarta tepat setelah ayah dan ibu tiri ku memutuskan untuk menetap di Osaka, sebuah kota di wilayah Kansai, Jepang. Mereka mengembangkan bisnis dan relasi di kota metropolitan tersebut. Namun, aku tidak terlalu tertarik untuk ikut menetap bersama mereka.

Namaku Ravendra Athena Séanne, sering dipanggil Thena dan aku adalah anak tunggal perempuan. Ibu kandung ku ialah Margareth Elleora, meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan tunggal akibat sopir yang mengemudi mobil keluarga kami sedang mengantuk dan tidak sengaja menghantam pembatas jalan. Kemudian, sebulan yang lalu ayahku Jason Christopher Séanne, menikahi seorang janda muda bernama Alleta Lexa Perez. Lexa memiliki satu anak laki-laki yang usianya lebih tua dua tahun dariku, bernama Valerio Miguel Perez. Sejauh yang aku tau, ibu tiriku adalah janda dari salah satu pembisnis yang kaya namun merupakan bajingan, kemudian bercerai sejak lama sekali dan memilih hidup berdua bersama Vale. Ia merupakan wanita penyayang dan baik. Dia tidak membedakanku ataupun Vale dalam pola asuh di rumah. Aku cukup menyukainya, namun butuh waktu untuk beradaptasi menerima kehadiran Mami Lexa dan Vale. Ya, Papa memintaku untuk memanggilnya 'Mami Lexa', ku ikuti saja kemauannya.

Aku memutuskan untuk menimba ilmu di Indonesia, kuliah di salah satu universitas swasta yang cukup terkenal dan ternama. Keputusan ini cukup berat bagi kedua orang tua ku karena aku akan berpisah lama dan akan jarang bertemu dengan keluarga. Namun, tekat ku sudah bulat. Pada akhirnya aku tetap menjalani pilihan ku, rasa penasaran dan kegigihan untuk mandiri sangat membara pada hatiku. Vale bertahan di rumah bersama orang tua kami untuk menjalani bisnis yang diserahkan Mami Lexa kepadanya, yang memang adalah hak dia sebagai pewaris sah bisnis tersebut hasil dari perjanjian gono gini Mami Lexa dan mantan suaminya.

Saat itu usia ku 18 tahun, dimana aku pergi sendiri ke Jakarta dan tinggal di kota ini untuk menjalani kehidupanku. Orang tua ku memberi fasilitas yang cukup mewah bagiku agar kehidupanku disini tidak terlalu sulit dan menderita ketika jauh dari mereka. Aku tidak merasakan kesulitan yang begitu berarti pada awalnya. Kuliah ku berjalan lancar dan aku salah satu mahasiswa yang berprestasi dengan IPK tertinggi di kampus. Namun.. mengenai asmara, sungguh berantakan dan tragis. Aku tidak menyangka dapat mengalami hal – hal rumit pada romansa percintaan..

to be continued...