Hak Cipta Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto. Fanfiksi ini dibuat untuk event bulanan Fanfiction Addict yang bertemakan Platonic Love. Sekuel dari "Residu", disarankan baca itu dulu untuk efek maksimal. Bukan untuk kepentingan komersil.
.
.
.
The hardest part of losing someone isn't having to say goodbye, but learning how to live without them.
Sunyi
ix
.
Meski kecerdasan emosionalnya lebih tinggi daripada kecerdasan intelektual, Kiba bukan anak yang peka. Bukan hanya sekali dia salah bicara atau melawak salah suasana.
Ibu bilang, Kiba tetap teman yang baik. Biar tidak peka dan tidak bisa menjadi pendengar keresahan hidup, Kiba berbakat menjadi distraksi dan penghibur. Walau tidak bisa memberi saran bijak, Kiba bisa membuatmu tertawa di tengah problematika.
Selama ini Kiba bangga dan puas dengan dirinya, apa adanya. Tetapi, pagi itu dia merasa tidak berguna.
Seandainya saja Kiba bisa melakukan hal lain, sesuatu yang lebih bermakna, mungkin dia tak akan menemukan Naruko tergeletak tak bernyawa di kamar asrama.
Segalanya membeku. Membisu. Tenggelam dalam sunyi.
Bahkan hingga mayat diangkut ambulans dan polisi selesai mencatat laporan, hanya satu yang terpetak mutlak di pikiran Kiba: Naruko tersenyum.
Naruko tersenyum.
Kiba berang tak terkira. Hal itu pula yang mendorongnya menghajar Sasuke sekuat tenaga. Satu bogem penuh amarah telak di pipi. Disusul lemparan kertas—pesan terakhir berhias air mata dan darah—tepat ke muka.
"Bulol anjing! Makan tuh bahagia!" geram Kiba.
Setelah itu, Kiba berbalik dengan langkah penuh amarah.
(Tawa lepas Naruko menggema dalam ingatan.
"Thanks, Kib. Gua gak apa-apa.")
Tak cukup.
Satu tonjok tak cukup—
("Lu temen yang baik, Kib. Gua bersyukur masih punya elu walau si Sasumpret ngilang.")
Teman baik macam apa yang membiarkan temannya berakhir bahagia mengakhiri hidupnya sendiri?
Tak berguna—
.
viii
.
Di hari pemakaman, Kiba mengurung diri.
Batinnya beralasan, Naruko anak yang aktif di kampus mereka. Terkenal supel dan suka menolong orang. Dosen, teman, kenalan, bahkan tukang jualan; semua merasa kehilangan dan tentunya akan mengantar gadis itu ke peraduan terakhirnya.
Naruko tidak butuh diantar Kiba.
Dia tidak butuh teman tak berguna—
Berjam-jam Kiba habiskan duduk di kamar asrama, menatap keluar jendela.
(Kiba ingat jelas posisi jendela kamar Naruko. Bagaimana gadis itu tak segan berteriak memanggilnya dari sana.)
Selama itu pula, layar ponselnya menyala. Menunjukkan balon pesan terakhir yang dikirim oleh akun Naruko.
Thanks for everything, man. Love u.
Naruko sudah biasa mengirim pesan semacam itu setiap mereka selesai nongki dan hang-out bersama. Tapi, malam itu seharusnya Kiba menjawab.
(Kiba tak bisa menghilangkan pikiran bahwa Naruko pergi tanpa tahu sepenting apa gadis itu baginya.)
.
vii
.
Dua minggu setelah pemakaman, laptop Naruko sampai di tangannya. Polisi yang mengantarkan berpesan agar Kiba tak membukanya sendirian. Kiba termasuk spesies remaja tanggung yang berpikir larangan ada untuk dilanggar. Tentu saja saran beliau tidak didengar.
(Kiba tak rela orang lain melihatnya. Naruko meninggalkan laptop ini untuknya. Untuknya.)
Hal pertama yang menyapa Kiba adalah latar belakang layar. Bukan gambar ramen nikmat yang terpasang, melainkan foto Naruko selfie bersama dirinya yang sedang tertidur. Kiba di foto itu terlihat konyol dengan kumis dan coretan spidol hitam.
"Sialan lu, Nar. Katanya udah dihapus?" Kiba tertawa.
Hampa.
Selanjutnya, Kiba mengecek program-program yang ada. Seperti yang tertulis di pesan terakhir—dicengkram tangan berlumuran darah, tak bergerak; tak ada tawa dan hinaan canda yang menyambut Kiba; hening, hening, hening—Naruko, aplikasi-aplikasi yang Kiba butuhkan sudah terpasang.
Beberapa saat kemudian Kiba habiskan dengan menyalin data-data penting miliknya ke laptop itu.
("Susun yang rapi, biar lu gak pusing nyarinya kalo butuh Kib. Kalo perlu nama failnya pake capslock."
"Bawel lu! Kita beda jurusan."
"Gak ada hubungan! Kita sama-sama mahasiswa, gobl—oi, itu fail presentasinya masukin ke data matkul lah! Ngapa lu simpen di tugas!?")
Selesai, perhatiannya terfokus pada fail berjudul: JANGAN DIHAPUS. Isinya satu fail berisi ratusan foto meme dan sebuah dokumen Word.
Noh, mim yg gua kumpulin dari lu selama ini. Mana tau gua dah gaada terus lu butuh hiburan. Biasanya mempan ngehibur gua, sih.
Kiba mendengkus. "Itu mim dari gua semua, lu pikir gua ga punya failnya?"
Btw.
Gak ada gua bukan berarti pdkt lu berhenti. Gua dah capek2 bikin rencana perfekto buat lu, awas aja kalo ga dilanjutin. Gua udah siapin timed letter. Hinata bakal nerima pengakuan gua kalo lu suka sama dia dalam tiga bulan. Jaga-jaga kalo lu terlalu pengecut buat maju awkwkwkwk.
Traktirannya kasih aja Shino ama yg lain. Awas aja lu kalo sampe kaya si Sasu, gua gentayangin sampe mampus!
Tak akan. Kiba berjanji.
Lu boleh nangisin gua. Tapi jangan lama-lama, oke?
Gua udah bahagia. Gua juga sayang sama lu. Gua mau lu bahagia juga.
Jangan lupain gua, Kib. Itu doang yang gua minta.
Mustahil Kiba bisa melupakan Naruko.
Maaf gua egois pergi. Padahal lu udah ngelakuin segalanya.
.
Segalanya masih belum cukup. Seharusnya Kiba bisa melakukan lebih.
Seharusnya Naruko ada di sampingnya, mengatainya cengeng dan enggak laki banget.
Tapi, kenyataannya, Naruko tidak ada.
Kiba lanjut menangis tanpa suara.
Maaf gua gak guna—
.
vi
.
Selama beberapa waktu, Kiba terlambat masuk kelas pagi.
(Tak ada Naruko yang siap sedia menggedor kamarnya setiap Kiba ada kelas pagi.)
Dosen hanya memberi senyum simpatik dan mempersilakan Kiba masuk. Jika Kiba malah tertidur di kursi, tak ada yang sampai hati membangunkan. Kantung mata dan wajah pucat menjawab segalanya.
Tak ada yang tahu harus berkata apa. Akhirnya, mereka membiarkan Kiba.
Tak berkomentar saat dia menginjak-injak bungkus rokok terakhirnya.
(Tak ada Naruko yang melakukannya jika konsumsi Kiba hari itu sudah melewati batas.)
Tak tersinggung jika Kiba sedang ingin makan sendiri di kantin asrama. Menolak ditemani.
Tak memaksa jika pemuda itu sedang menjaga jarak. Sibuk menatap bayangan tak nyata.
Pelan-pelan menghiburnya. Memastikannya tak lupa makan. Tak lupa kegiatan.
Hingga akhirnya kantung mata itu memudar dan tawanya kembali.
(Tak seheboh biasa, tetapi mulai aktif memancing canda tawa.)
Masih butuh waktu hingga matanya berhenti mencari. Tetapi, senyum di wajahnya setiap menatap laptop mulai menghangat.
.
v
.
Lain dengan Kiba, cibiran mengiringi langkah Sasuke.
Berbeda dengan Kiba yang seolah lupa berpijak, Sasuke menapak lebih tegas. Semakin serius dengan prestasi. Terbang melesat, penuh oleh tekad.
Bagaimanapun, tiap orang punya cara berkabung yang berbeda.
Mereka tak lagi bertukar kata, tapi Kiba menerima. Tiap langkah tegap Sasuke dipayungi oleh penyesalan. Kiba bisa melihatnya. Dia mau memikul bagiannya.
Maka, saat orang-orang lanjut menghakimi Sasuke ... Kiba murka.
"Lu semua punya hak apa ngehakimin Sasuke? Naruko minta lu semua? Kagak! Jangan bertingkah sok peduli! Emangnya lu semua udah ngapain buat Naruko selama ini? Selama dia hidup ke mana aja lu semua, hah!?"
Ya, Sasuke memang melakukan kesalahan. Dia mungkin menjadi alasan yang akhirnya membuat Naruko mengambil keputusan. Tetapi, orang-orang yang cuma tahu topeng bahagia Naruko ini tak berhak mengetuk palu hukuman.
Meminggul penyesalan kekal sudah merupakan hukuman yang cukup bagi Sasuke. Biarlah dia hidup terbayang-bayang kenyataan bahwa dia membunuh keluarganya sendiri.
(Naruko sudah tak bisa membela Sasuke. Kiba yakin gadis itu ingin dia menggantikannya.)
.
iv
.
"Yo, Kib."
"Yo. Ke mana lu?"
"Ada janji ama doswal. Duluan ya."
"Ya."
.
"Kenapa lu, Sas? Muka ampe kusut gitu."
"Ada urusan BEM. Tapi gak tau gimana ngehubungin orangnya. Lu kenal gak?"
"Oh, ini. Biar gua yang samperin dah."
"Trims."
"He'eh."
.
"Lu ngurusan. Makan yang bener, Sas."
"Ngaca, Kib."
"Gua makan bener. Tidur yang kurang."
"Aku anter ke psikiaterku, mau?"
" ... boleh, deh."
.
"Makan sepuasmu, Kib. Kutraktir."
Kiba mengernyit. "Tumben. Ada apa Sas? Menang kompetisi apa lagi lu?"
Sasuke mendengkus. "Aku putus sama Kanjeng Ratu."
"Nah, gitu kek dari dulu, tong! Telat lu!" Kiba tergelak.
"Goblok emang. Coba dari dulu, mungkin aku bisa merasakan kebebasan ini lebih cepat."
(Dan, mungkin dengan begitu Naruko tak akan pernah meninggalkan mereka.)
.
"Lu dicariin Hinata, Kib."
"Fuck. Dah tiga bulan? Gua belum siap, anjir! Bedebah lu, Naru!"
" ... "
"Singkat kata, gua dicomblangin sama si Naru dan ... mukanya biasa aja anying! Er, Sas? Lu mau ngapain—JANGAN TARIK GUA! LEPASIN! GAK! GUA BELUM SIAP TEMU HINATA!"
.
iii
.
"Maaf, Kib."
Satu tahun. Satu tahun setelah Kiba melihat Naruko terbaring di lantai, wajah tersenyum, darah—
"Lu ngapain ke sini?"
Satu tahun.
"Aku bawa makanan nih buatmu."
Satu tahun.
"Gua benci elu."
"Aku tahu. Ayo makan. Yang lain nanti nyusul ke sini abis bimbingan."
"Lu bajingan."
"Iya, iya. Yok makan. Hinata bisa mencincangku kalau kau telat sarapan."
.
ii
.
"Kau sudah dapat jadwal sidang? What the fuck, Kib!?"
Kiba tergelak.
"Bubay, mahasiswa unggulan. Gua lulus duluan!"
"I prefer the old you. Kau ngapa jadi ngambis gini dah sejak skripsian!?"
"Satu kata: Naruko."
" ... tu anak ngapain lagi?"
"Lu tahu Naru deket ama Bu Rektor, 'kan? Nah, Bu Tsunade datengin gua. Bilang diminta gantiin Naru nyemangatin gua skripsian."
" ... serem."
"Emang."
.
"Gua kangen dia, Sas."
"Sama."
.
i
.
Lima tahun. Akhirnya mimpi buruk itu berhenti menghantui tidur Kiba. Dia bisa menghadap nisan dengan senyum lebar.
"Besok gua nikah sama Hinata, Nar. Doain yak."
Selesai berkabung? Tidak juga. Selalu ada hari di mana Kiba merasa bersalah, putus asa. Merasa marah pada Sasuke, pada takdir dunia.
Tetapi, rasa sakitnya sudah tak mencekik lagi. Lubang itu tetap ada, tapi Kiba sudah terbiasa.
Meskipun Naruko telah tiada, rasa sayangnya tak akan pernah pudar. Terjaga dalam kenangan persahabatan mereka. Terkunci hanya untuknya, tak peduli berapa banyak persahabatan baru yang Kiba jalin.
Dan mungkin, suatu saat nanti, Kiba bisa mengenangnya tanpa mata berkaca-kaca.
.
I cried endlessly when you died.
But I promise, I wont let the tears mar the smiles that you've given me when you were alive.
I love you, forever and always.
A/N
For my deceased aunt and mother figure. Thank you.
Thank you for being my friend, my confidant.
I love you so much. Sorry I didn't tell you enough when you were alive.
Sorry I still have many bad days which I wish I could follow you to the afterlife.
But I promise I'll survive. If not for me, for those who loves me. So they wont have to feel this hole I felt by losing you.
