one-sided pining, slice of life, full narration.
tiga puluh menit sebelum melepas status lajangnya, do kyungsoo menulis sebuah surat.
surat itu bukanlah surat mewah; bukan pula surat puitis berisi rangkaian prosa indah. berbekal kertas coret dan sebuah pensil kayu rapuh yang disediakan dari hotel, kyungsoo menumpahkan segala kalimat yang ingin ia ucapkan;
halo, kim jongin.
aku harap kau bahagia dimanapun kau berada sekarang.
kau mungkin sudah tidak ingat aku ini siapa. maka biarkanlah aku perkenalkan diriku terlebih dulu.
hai, aku do kyungsoo. si lelaki kacamata yang punya imej sebagai kutu buku (padahal aku ini bodoh sekali dalam pelajaran berhitung). kita pernah satu kelas dulu pada saat kelas sembilan dan kelas sepuluh.
di kelas sembilan, kita duduk saling berjauhan; kau duduk di bangku belakang paling kiri, sementara aku duduk di bangku belakang paling kanan. saat di kelas sepuluh, aku duduk di baris kedua dari kanan dan kau duduk serong kanan di depan kursiku.
terkadang, aku suka memperhatikanmu saat pelajaran bahasa inggris; karena biasanya kau selalu berusaha untuk tetap terbangun meskipun kedua matamu sudah ingin tertutup. atau bagaimana saat pelajaran literatur, kau selalu aktif menanyakan hal-hal yang menarik perhatianmu sementara aku yang terlalu fokus melihat ekspresimu sampai tak mengerti materi yang diajarkan guru.
dua tahun itu adalah memori terindah untukku.
ketukan pintu di kamar hotel membuyarkan perhatiannya. kyungsoo membalikkan badan dan melihat kakaknya tengah berdiri di ujung kamar, "waktunya dua puluh menit lagi."
kau mungkin bertanya-tanya, sudah hampir lima belas tahun berlalu sejak kelulusan sma; kenapa aku tiba-tiba memberikanmu sebuah surat begini?
jawabannya: aku ingin melepas semua perasaan ini dan meluapkan semua yang aku pendam selama bertahun-tahun.
liking you all these years have been fun. saat aku pertama kali melihatmu di umur dua belas dulu, aku sama sekali tidak menyangka akan tetap menyukaimu ketika aku berusia delapan belasㅡ apalagi sampai sekarang, di usia hampir tiga puluh tiga tahun.
aku telah melihat bagaimana kau tumbuh; dari bocah lelaki paling pendek di antara anak kelas lain waktu smp hingga menjadi pria tertinggi saat kelulusan sma. senyummu masih sama, senyum ramah yang naik sampai ke mata. masih terasa manis seperti menyantap semangka di siang hari.
senyum yang selalu berhasil membuatku jatuh. lagi dan lagi.
jam di dinding kamarnya berbunyi menandakan waktu sudah berada di pukul 11:50 pagi. waktu kyungsoo tinggal sepuluh menit lagi.
maka dari itu, tangan kyungsoo ia paksa untuk menulis lebih cepat.
terkadang aku suka berpikir, apa yang terjadi jika kau menyukaiku juga? apa yang terjadi jika kita bisa bersama? apakah kita bisa seperti pasangan di luar sana, menghabiskan akhir pekan bersama dengan menonton film terbaru di teater, atau aku datang ke acara tarimu setiap kau memiliki jadwal pertunjukkan, atau kau selalu ada di sampingku saat aku terlalu gugup untuk naik ke panggung?
jawabannyaㅡ aku tidak tahu.
karena sayangnya, kita tak pernah berinteraksi terlalu sering sampai aku bisa tau apa makanan favoritmu atau hal apa yang membuatmu termotivasi untuk terus hidup di setiap hari.
aku, do kyungsoo, terlalu pengecut untuk menyukaimu dari dekat.
terkadang aku suka memimpikanmu. klise, memang. aku sering sekali memimpikanmu meskipun sekarang aku sudah tidak tahu parasmu seperti apa. aku bermimpi kita merupakan sepasang kekasih. pasangan yang bahagia. walau aku tahu hal itu tidak akan pernah terjadi di realita.
mungkin, itu adalah cara semesta untuk berkompromi saat melihat seberapa besar aku mendambamu.
but i wish i don't. i wish i never have to dream of you. sehingga saat aku terbangun, aku tidak perlu menangisi kejamnya takdir dan membayangkan betapa indahnya dunia alternatif di mana seorang kim jongin adalah milik do kyungsoo. aku benci harus menangis karena mengejar bayangan belaka. aku benci karena setiap kali aku mencoba menghapus perasaan ini, kim jongin dalam mimpi datang lagi dan lagi untuk mengingatkan bahwa aku tidak akan pernah bisa menghapusnya; kau maupun perasaan ini.
bodoh, bukan? bagaimana kau menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupku padahal kau tidak pernah menyadarinya (atau bahkan telah melupakan eksistensiku).
lembar pertama kertas telah penuh. kyungsoo membalik lembaran tersebut kemudian lanjut menulis pada bagian belakang yang masih kosong.
jongin, aku akan menikah dalam sepuluh menit lagi. amazing, isn't it? siapa sangka hari ini akan datang ketika aku begitu menyukaimu (terobsesi padamu?)ㅡ the one that got away, or more like the one i never had even in the first place?
he's a good guy. he makes me feel like i'm the most special person in the world. terkadang perasaannya membuatku takut karena aku tidak bisa mencintai dia sebesar rasa cintanya kepadaku. sebesar rasa cintaku kepadamu?*\
dia tau tentangmu, seberapa signifikan kau dalam hidupku. dan dia memaklumi semuanya. sometimes i get so caught up about my wishful thinking (you) that i end up almost ignoring what is right in front of me.
so this is where i thought, i need to let you go.
kim jongin, terima kasih karena telah hidup sampai saat ini. terima kasih karena telah menjadi salah satu alasan aku hidup. sekarang, aku akan memulai lembar baru dalam hidupku dan aku harap dimanapun kau berada, kau dapat selalu diliputi oleh perasaan bahagia, dikelilingi oleh orang yang betul-betul menyayangimu. sebagaimana kau telah membuatku bahagia selama belasan tahun ini.
with love,
do kyungsoo
tepat saat kyungsoo menaruh pensilnya, ia mendengar suara pintu kamar hotelnya terbuka. kedua orang tuanya berdiri dengan senyum haru dan mata berkaca-kaca, "kau sudah siap?"
mata kyungsoo juga berkaca; entah karena surat atau karena haru akan membuka lembar hidup baru. ia menganggukkan kepalanya,
"aku siap."
melangkah maju dan meninggalkan surat yang mungkin sampai akhir tidak akan pernah sampai kepada pemiliknya.
.
.
.
god why do i love projecting myself on my fic so much?
anw hmu on twitter goldenskinboy :)
