"Red Velvet" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU, BoYa, romance, comfort, fluff, typo, gaje, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.

"Jangan minum banyak-banyak, Yaya. Nanti kamu kebelet lho," ucap Boboiboy ketika melihat sang kekasih memesan minuman favoritnya untuk ketiga kali.

Yaya menyengir lebar hingga matanya hilang. "Enak banget tau. Terus aku haus banget, Boboiboy. Tadi pas nonton kan kita nggak makan sama minum sama sekali," jelas Yaya panjang lebar. Boboiboy hanya menghela napas pelan, menyerah dengan tingkah gadis kesayangannya itu.

"Yaudah. Terserah deh yang penting kamu seneng," ujarnya pasrah.

Yaya tergelak dan tangannya terjulur untuk mengusap rambut Boboiboy. "Makasiii!" Yang mana langsung membuat cowok itu salah tingkah.

Mereka baru saja menonton film yang sedang trend di kalangan anak muda. Sepanjang menonton tadi, Yaya menangis karena film itu sangat sedih. Boboiboy sampai kewalahan menenangkannya, dan Yaya baru berhenti menangis ketika Boboiboy menariknya ke salah satu tempat makan di dalam mall yang mereka kunjungi. Semua makanan dan minuman Boboiboy yang pesankan, karena Yaya tidak menjawab saat ditanya ingin apa.

Namun, entah Boboiboy harus lega atau menyesal, karena Yaya malah ketagihan dengan minuman yang ia pesan. Ia benar-benar tidak menyangka Yaya akan sesuka itu pada minuman yang bernama Red Velvet. Minuman yang sangat manis–bagi Boboiboy, dan sepertinya hanya cocok diminum oleh orang yang manis juga.

Seperti Yaya.

Gelas Red Velvet ketiga yang Yaya pesan tiba. Setelah berterima kasih pada waitress, Yaya langsung menyerbu minuman itu. Ekspresi wajahnya benar-benar senang, seperti mendapat hadiah uang milyaran. Sesekali kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri, membuat Boboiboy gemas ingin mencubit pipinya.

"Enak banget ya?" tanya Boboiboy tersenyum geli. Yaya menganggukkan kepalanya semangat seraya mengacungkan dua jempolnya. "Berapa rate-nya?" tanya Boboiboy lagi.

Yaya berhenti menyedot Red Velvetnya dan tampak berpikir sebentar. "Hmmm, sepuluh per sepuluh!"

"Kalo aku berapa?" goda Boboiboy sambil tersenyum miring.

Yaya seketika diam. Ia menatap Boboiboy dengan wajah malu. Kemudian Yaya mendekatkan kepalanya pada Boboiboy, melupakan sebentar Red Velvetnya. "Sebelas per sepuluh." bisiknya.

Boboiboy menahan dirinya untuk tidak memeluk Yaya. Ia membuang muka, berusaha menutupi semburat merah di pipinya. Seharusnya ia tidak bertanya itu pada Yaya. Sekarang lihat 'kan, malah dirinya sendiri yang salah tingkah. Dasar bodoh kau, Boboiboy.

"Kamu lucu banget kalo lagi salting," ucap Yaya terkikik geli.

"Udah, udah. Sekarang lanjut makan." kata Boboiboy berusaha mengganti topik. Yaya tertawa lalu menuruti Boboiboy.

"Harus diabisin."

"Kalo nggak abis gimana?"

"Aku tinggal."

"Ih jahat!"

Boboiboy tergelak. Ia menyuapkan nasinya lagi ke dalam mulut, sementara kedua netranya memandangi Yaya yang tengah sibuk menghabiskan makanannya.

Yaya termasuk ke dalam golongan orang yang makan jarang sekali habis. Bisa dihitung jari gadis itu menghabiskan makanannya. Dan Boboiboy akan menggantikannya meski perutnya sudah kenyang. Mau bagaimana lagi, kalau dibuang jadi mubazir.

"Kenyang,"

Kan, benar.

Boboiboy hanya menghela napas kala piring berisi nasi goreng itu didorong ke arahnya. Ia menatap datar sang kekasih, yang dibalas dengan dua jari olehnya. Yaya beralih ke minuman Red Velvetnya. Dan Boboiboy dengan terpaksa memakan nasi goreng Yaya.

"Tambah gendut deh aku," canda Boboiboy. Karena kenyataannya, ia memiliki tubuh ideal karena kegemarannya berolahraga tiap hari libur.

"Gapapa, aku suka cowok gendut." balas Yaya.

Boboiboy mengangkat sebelah alisnya penasaran. "Kenapa suka?" tanya Boboiboy sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

"Suka aja. Enak diuyel-uyel." jawab Yaya.

Boboiboy hanya memutar mata mendengarnya. Ia kemudian sibuk melahap makanan Yaya sampai habis. Yaya yang melihatnya tersenyum, sama sekali tidak merasa bersalah karena tidak menghabiskan makanannya. Bagaimana lagi, perutnya sudah berteriak kenyang. Meskipun dipaksa, Yaya tetap tidak bisa.

"Pulang yuk. Udah mendung tuh,"

Yaya mengikuti arah yang ditunjuk Boboiboy, tepatnya pemandangan langit di sebelah mereka yang terhalang kaca jendela. Boboiboy benar, langit sudah gelap dan seperti akan hujan deras.

Menyetujui sang pacar, Yaya meminum habis Red Velvetnya. Ia bersama Boboiboy kemudian meninggalkan restoran, melangkahkan kaki mereka menuju basement.

Boboiboy mengamit tangannya agar mereka tidak terpisah. Karena pernah satu waktu, saat mereka kencan pertama kali di taman bermain, Boboiboy sempat kehilangan Yaya karena gadis itu tertinggal di belakang dan tenggelam dalam kerumunan orang-orang. Saat ditemukan Yaya menggembungkan pipi kesal karena langkah Boboiboy yang sangat lebar, berbanding terbalik dengan dirinya. Sejak saat itu, Boboiboy selalu menggandeng tangan Yaya agar tidak hilang dan selalu berada di dekatnya.

Setelah berjalan selama sepuluh menit, mereka tiba di tempat mobil Boboiboy terparkir. Cowok itu menyalakan mesin mobilnya, memasang seatbelt, lalu bersiap menginjak gas namun terhenti kala menyadari sang kekasih sibuk dengan hijabnya.

"Pakai seatbelt dulu, Yaya." kata Boboiboy, membiarkan mobilnya menderu di parkiran basement itu.

"Iya, sebentar. Kerudung aku berantakan, Boboiboy." balas Yaya.

Karena tidak percaya Yaya akan sebentar mengurusi kerudungnya, Boboiboy memilih untuk memasangkan seatbelt pada gadis itu. Bisa dirasakannya Yaya tampak terkejut karena jarak mereka yang hanya beberapa senti, namun Boboiboy tetap memastikan sabuk pengaman itu sudah terpasang sempurna di tubuh Yaya.

Yaya menghembuskan napasnya kala Boboiboy kembali pada kursi kemudinya. Ia menatap sinis pelaku yang membuat jantungnya hampir copot tadi. Padahal bisa izin dulu, kenapa Boboiboy selalu melakukannya secara dadakan sih?

"Bikin kaget aja," gerutu Yaya.

"Kelamaan. Bisa sampe seabad nungguin kamu benerin kerudung dulu mah," balas Boboiboy tanpa mengalihkan tatapannya ke depan. Bukan hanya Yaya yang berdebar kencang tadi, Boboiboy pun mengalaminya. Ia bahkan hampir kehilangan tadi, dan beruntung akal sehatnya menyadarkannya dengan cepat. Kalau tidak, mungkin Boboiboy sudah dibabat habis oleh Yaya.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, dan jalanan dipadati oleh kendaraan beroda dua maupun empat. Boboiboy mendesah panjang kala mendapati kemacetan di depannya. Ia seharusnya ingat kalau mereka berada di ibukota, yang pasti tidak terlepas dari situasi kemacetan, terlebih lagi di jam pulang kerja.

"Macet banget, ya?" tanya Yaya, menyadari mobil Boboiboy tidak bergerak sama sekali.

Boboiboy menanggapi pertanyaan Yaya dengan anggukan kecil. Ia memeluk stir dengan kedua tangannya, sementara dagunya ia letakkan di atas stir mobil. Perilakunya itu ditangkap oleh Yaya. Yaya terkekeh tanpa suara dan segera memotret Boboiboy dengan ponselnya tanpa disadari cowok itu.

"Kayaknya bakal lama, kamu gapapa pulang agak telat?" Boboiboy bersandar pada jok mobil. Kedua netranya menatap Yaya yang melakukan hal sama dengannya.

Bukannya apa, Boboiboy harus menghormati orang tua Yaya yang pasti tidak menginginkan anak gadisnya pulang malam. Meski sudah kenal sejak mereka masih balita, Boboiboy tetap tidak mau memulangkan Yaya sampai malam. Kecuali jika ada hambatan dan orang tua Yaya mengizinkannya.

"Nggak papa, Ayah juga lagi di luar kota kok," jawab Yaya santai. Boboiboy menatapnya teduh, membuat Yaya nyaman dan mengganti posisinya menjadi menyamping, sehingga berhadapan dengan cowok itu. "Cuma ada Ibu di rumah. Kita pulang malem aja, yuk?"

Mendengar itu membuat mata Boboiboy membola dan menyentil dahi Yaya.

"Aw."

"Gaboleh. Anak cewek gaboleh pulang malem," ujar Boboiboy seperti ayah yang menasehati anak perempuannya.

Yaya cemberut. "Aku 'kan masih mau lama-lama sama kamu, emangnya kamu nggak mau?"

Ditanya begitu membuat Boboiboy berdeham pelan. Tentu ia sangat mau. Tapi tetap saja, mereka cuma berstatus pacaran. Dan Boboiboy tidak mempunyai hak mengajak Yaya keluar rumah sampai malam. Kecuali jika mereka sudah mengucapkan janji suci...

"Nggak." Boboiboy tanpa sadar mengucapkan itu. "Eh maksudnya iya mau!" ralatnya buru-buru saat melihat ekspresi Yaya mulai berubah. "Tapi 'kan nanti Ibu kamu nyariin. Aku nggak enak sama beliau." lanjut Boboiboy. Suara klakson mengagetinya, dan cowok itu segera menginjak pedal gas sedikit agar mobilnya maju di tempat mobil depannya berada tadi.

Yaya terdiam. Ia tidak menyalahkan Boboiboy, karena cowok itu memang sangat menghormati orang tuanya. Walaupun ibu dan ayahnya sudah percaya kepadanya, Boboiboy tetap pada pendirian untuk memulangkannya sebelum malam tiba.

"Tapi 'kan macet." Yaya mencari alasan lain. Ia menaik-turunkan alisnya, berusaha membujuk Boboiboy. Terlihat cowok itu menghela napas, seperti mencoba sabar menghadapinya. "Kita bisa pake alesan itu. Kan kita nggak bohong juga,"

Pipi Yaya dicubit pelan. "Nggak ya, sayang." ucap Boboiboy final.

Yaya cemberut. Ia menyilangkan tangannya di depan dada, lalu menghadap ke depan. Pura-pura ngambek.

Boboiboy tersenyum geli. Diusapnya kepala Yaya dengan lembut, sebelum kembali meletakkan tangannya di stir mobil.

"Kapan-kapan, ya~"

Sambil mendengus, Yaya berharap kemacetan yang menjebak mereka memakan waktu yang panjang.

Agar ia bisa berlama-lama dengan sang kekasih.

.

.

.

finizh