Nathan Wave—begitulah nama yang tertera pada tanda pengenal Clarksville, Tennessee sebuah negara bagian tengah Amerika. Seorang pemuda dengan mahkota pirang kuning yang mentereng bagai mentari, bermanik safir bak biru angkasa. Nathan yang telah mendapatkan gelar sarjana beberapa bulan lalu, dan kini tengah mengejar gelar magisternya di negeri sakura.

Namun dari segala identitas yang dimiliki, pemuda itu lebih senang dipanggil dengan Uzumaki Naruto—nama Jepangnya. Nama yang diberikan ibunya nan memang masih memiliki keturunan suku Ryukyu dari Okinawa. Sejak kecil Uzumaki muda itu telah berbicara dengan dua bahasa; bahasa Inggris dan Jepang (walau lebih sering dengan dialek Okinawa), bahkan Naruto yang berkebangsaan Amerika telah lulus dalam Japanese Language Proficiency Test tingkatan tersulit N1—sebagai syarat penerima beasiswa.

Sebenarnya ada banyak alasan mengapa Naruto memilih Jepang daripada kembali melanjutkan pendidikannya di Amerika, atau mungkin berkeliling Eropa—tetapi saat pemuda itu benar-benar melangkahkan kakinya tepat pada jalanan besar Tokyo. Naruto tahu bahwa keputusan ini akan berdampak besar pada keseluruhan hidupnya.

Pemuda Uzumaki itu diterima pada jurusan ekonomi di Universitas Tokyo—salah satu yang ternama. Kalau dikatakan pandai, tidak juga—mungkin karena kemujuran yang selalu menghampirinya.

Dan di sinilah Naruto akan tinggal selama dua tahun (semoga bisa lebih cepat) menimba ilmu; asrama resmi universitasnya.

"Mari kita lakukan!"


Surat dari Hantu (c) faihyuu

Naruto (c) Kishimoto Masashi

Rated T

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), beberapa bahasa tidak baku, dsb.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.


Gedung asrama ini lumayan besar dan dikelilingi banyak sarana transportasi umum, Naruto merasa kerasan—nyaman. Penghuninya pun rata-rata pelajar internasional, walau banyak juga pelajar lokal. Sudah agak lama pemuda itu tinggal; segala kebingungan berusaha memahami mata kuliah, titik-titik air mata karena mengerjakan tugas, dan seluruh tidur tak tepat waktu karena belajar keras. Ketika setitik rasa rindu yang membara tentang Amerika muncul, dengan segera pula dirinya yang menghubungi keluarga lewat video dan suara.

Tak ada yang aneh. Terkadang justru sang ibu yang malah menakutinya tentang hantu—tetapi Naruto sama sekali tak terlalu peduli karena memang tiada apa pun di asramanya.

Segalanya baik-baik saja, sampai detik ini. Hampir enam bulan lamanya telah tinggal di Jepang—seluruh libur panjang musim panas pertamanya tanpa orang tua, jalan-jalan bersama kawan-kawan mengelilingi Kanto, dan banyaknya aktivitas selain belajar yang telah Naruto lalui.

Naruto yang tengah menyikat gigi—bangun di pagi hari telah menjadi kebiasaan positif nan muncul sejak tinggal di Tokyo karena kelas pagi. Kelas pagi pertama setelah liburan panjang musim panas yang menyenangkan bagi sang Uzumaki. Membersihkan wajah agar lebih segar dan kemudian akan mengenakan pakaian rapi.

Akan tetapi, perlu diketahui pula, Naruto bukanlah seorang yang memedulikan sekitar dan agak bodoh memahami situasi—lebih-lebih perasaan. Sejak pertama kali tinggal di kamarnya ini, pemuda itu belum pernah melakukan cek rutin berkala seperti yang disarankan oleh penjaga asrama. Selama tidak ada masalah yang mendesak tentang listrik dan aliran air, Naruto tak pernah mempermasalahkan apa-apa.

Tak terdapat apa pun yang mengkhawatirkan—

—gelap.

Naruto tersedak air untuk berkumur, lampu remang di atas langit-langit ini merupakan satu-satunya penerangan sang pemuda. Namun kini semuanya sirna. Dengan jemari yang basah, Naruto terburu-buru berusaha untuk membuka pintu kecil kamar mandinya. Akan tetapi, bukannya terbuka, si Uzumaki muda itu malah ditimpa setitik kemalangan manusia.

Kunci itu malah terlepas. Naruto yang membodohi dirinya sendiri karena baru merasakan aksi mengunci pintu kamar mandi ini berlebihan dan merugikan. Kebiasaan pemuda saat tinggal di Clarksville masih kental, sang ibu selalu berkata pada anak-anaknya agar mengunci pintu kamar mandi ketika digunakan. "Sialan!"

Dengan menahan seluruh kekesalan akibat perbuatannya sendiri, Naruto berjongkok—meraba lantai yang dingin. Tepat ketika jemarinya merasakan suatu benda kecil berbahan logam, dengan tiba-tiba pula lampu remang kamar mandi kembali hidup. Lampu kecil yang kembali menerangi ruangan mungil tempat manusia membersihkan diri mereka itu.

Untuk pertama kalinya di Jepang, Naruto merasakan apes. Dirampasnya benda yang ternyata benar kunci dari lantai, berdiri tanpa memedulikan apa pun lagi. Namun—

"—aduh!" Lagi-lagi malang. Pemuda Uzumaki itu lupa bahwa kamar mandinya ini mungil, semungil hati kecil. Punggungnya menabrak wastafel dengan agak keras, menyebabkan kesakitan tersendiri. "Kurasa hari ini akan sial."

Dengan sakit berbaur dengan ketakutan akan kesialan, Naruto berusaha mengusap punggungnya—tetapi jelas sulit. Di tengah segala nestapanya pagi itu, pagi di mana aktivitas Naruto bahkan benar-benar belum dimulai—pemuda itu kemudian merasakan sesuatu jatuh ke kakinya dari bagian bawah wastafel.

Dan kembali berhasil membuat terkejut sang Uzumaki. Punggung yang kini terantuk pintu kamar mandi.

Di tengah segala kesakitan yang hanya disuarakan dengan mengaduh sederhana, dilihatnya benda terkutuk nan ternyata berukuran mini. Kertas yang dilipat-lipat kecil dan rapi. Dengan warna ungu lembut, telah sedikit basah karena terkena cipratan air yang jatuh ke lantai.

Ternyata peristiwa mati lampu tadi—sebenarnya seluruh aliran listrik—dialami oleh seluruh penghuni lantai empat asrama. Naruto tak terlalu mengetahui penyebabnya. Namun yang terpenting, pemuda itu harus menghadiri kelas pagi sedikit terlambat—ditambah pula sakit di bagian punggung nan agak menyiksa.

Berusaha fokus pada profesor yang sedang mengajar di depan para mahasiswa, tetapi Naruto diam-diam malah merogoh saku celana.

Kertas ungu lembut—lila.

Dengan perlahan, pemuda itu membuka kertas itu, menemukan fakta bahwa berisi sebuah tulisan bak surat cinta. Tulisan yang rapi; terlihat feminin dan berbau manis—Naruto merasakan ada semerbak aroma bunga ketika membukanya. Mirip dengan aromaterapi lavendel yang dahulu sering digunakan ibu sang pemuda.

[ Halo, pagiku yang cerah dengan mentari terduduk di atas takhta angkasa. Kembali aku menulis di kertas lucu yang kudapatkan di Akihabara ini!

Hari ini aku kembali bergelut dengan segala sumber tangis, tetapi aku harus kuat 'kan? Kuliah dan drama-drama receh lagi.

Untuk yang terakhir, aku tak terlalu peduli. Karena aku bukan pemeran utama drama utama angkatan selama ini. Hanya saja aku harus membuktikan bak pemeran utama sesekali—bahwa aku benar bekerja keras masuk ke sini. Aku bisa lulus dengan baik, walau tidak terlalu pandai.

Aku masuk ke sini bukan karena rasa kasihan, aku rela mempertaruhkan segala hidup sebagai gadis remajaku demi ini.

Ayah telah memberikan segalanya, Neji nii-san mengalah, Hanabi yang berusaha keras—aku harus tahu diri. Lagi pula, hanya tinggal selangkah lagi.

Tinggal selangkah lagi. Sebelum akhirnya mencari pundi-pundi kehidupan dengan berkerja, bukan lagi sekadar menjadi pelayan paruh waktu. Membantu keluarga kecilku di Wakkanai, lalu kalau aku masih sanggup ingin sekali rasanya kembali merebut gelar. Bekerja keras lagi, kemudian barulah mau menikah; ingin sekali punya anak-anak yang lucu—aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja.

Pokoknya aku nanti mau istirahat, walau sebenarnya aku akan tetap bekerja tanpa henti seumur hidup.

Kayaknya mudah untuk dituliskan, tetapi mengingat kemajuan skripsiku saja rasanya mau menangis. Ironisnya.

Pokoknya hari ini harus tetap semangat seperti yang kemarin-kemarin!

Omong-omong, aku akan kembali selipkan kertas ini di bawah wastafel. Semoga petugas kamar tidak dapat menemukannya kali ini, supaya bisa bertahan sampai aku lulus nanti. Terus jadi bukti sejarah nyata bahwa aku pernah mencurahkan hati di kamar 437 ini!

H ]

Sebenarnya, daripada terlihat sebagai surat—lebih tepat disebut sebagai catatan hati harian. Naruto tak menyadari bahwa separuh waktunya di kelas pagi ini akan tersita oleh kertas yang tadi dianggapnya sial. Ditambah sebuah analisis bodoh yang ditemukan oleh batin pemuda bahwa surat itu ditulis oleh penghuni sebelum kamarnya karena nomor nan tertera. Dan ditulis oleh seorang gadis.

"Kau berhasil melakukannya, tak ada petugas yang menyadari kertasmu sampai aku datang." gumam Naruto amat pelan, hampir seperti sebuah bisikan. Sebuah monolog ringan.

Menghela napas panjang, Naruto berusaha menenangkan diri—sakit di punggungnya kembali menyerang. Namun sang pemuda berusaha abai, melipat kertas itu dan kembali memfokuskan diri terhadap materi-materi ekonomi tentang bisnis yang dicintai pun terkadang dibenci.

•••

Kertas yang ditemukan sang pemuda blasteran diletakkan begitu saja di atas meja belajar. Bergabung dengan kertas, buku-buku, dan alat tulis miliknya selama berminggu-minggu. Bulan September telah di depan mata, musim gugur dingin yang telah menunjukkan kekuasaannya. Naruto pun sudah merasa punggungnya makin membaik, dengan balsam atas saran salah satu teman. Uzumaki muda itu juga hampir melupakan keberadaan si kertas sial, jika saja malam itu rela tak terlelap demi menyelesaikan tugas. Tugas yang mampu menguras seluruh isi kepalanya. Saat Naruto memerlukan kertas teruntuk melanjutkan perhitungan dalam rumus-rumus dengan angka penuh perkiraan—lembaran lila yang sudah lecek itulah nan terambil.

Ada setitik rasa jahil, ingin menggunakannya sebagai coretan hitung. Namun ketika matanya tak sengaja menangkap kalimat-kalimat yang tertulis di ujungnya.

[ Omong-omong, aku akan kembali selipkan kertas ini di bawah wastafel. Semoga petugas kamar tidak dapat menemukannya kali ini, supaya bisa bertahan sampai aku lulus nanti. Terus jadi bukti sejarah nyata bahwa aku pernah mencurahkan hati di kamar 437 ini! ]

Niatnya urung, kembali mengambil kertas lain—Naruto dalam hati meniatkan diri untuk kembali membeli buku tersendiri untuk coretan. Buku khusus itu sebenarnya telah sang pemuda miliki, tetapi sudah habis seluruh lembar terpakai. Naruto belum membeli karena memang merasa tak memiliki waktu akhir-akhir ini karena lebih sering mengurung diri dalam kamar dan belajar setelah pulang kelas.

"Apakah dia sudah membaca ini?" Naruto suka bermonolog, memang dari awal sebenarnya pemuda itu agak cerewet kepada siapa pun. Tenang dan tanpa suara bukanlah Uzumaki Naruto.

Membaca tulisan bagaimana gigih penulis menyembunyikan kertas ini—Naruto merasa bahwa benda yang digenggamnya berharga. Diletakkannya kembali kertas itu, ingin kembali berkutat dengan tugas. Namun telepon kabel dalam kamar yang terpasang berbunyi.

"Halo?"

"Nathan," Sebuah suara berat dan terkesan dingin memanggil namanya. Naruto mengangkat alis, nama baratnya itu hanya diucapkan oleh salah satu teman baru di sini.

"Ada apa Shino?"

Aburame Shino, temannya dari kelas internasional. Penghuni asrama lantai tiga, punya kemampuan berbahasa asing yang baik. Naruto sering kali berdiskusi dengannya.

"Sabtu nanti aku pergi ke Jinbocho mencari referensi tugas akhir, kau mau ikut?"

Kebetulan. Naruto tersenyum, walau jelas Shino tak dapat melihatnya. Tak sadar malah menarik kabel telepon hingga sampai batasnya, menyenderkan diri ke kursi. Sabtu waktu yang tepat—tak ada jadwal kelas, akhir pekan tak terlalu membebani Naruto. Sekitar tiga hari lagi, tugas awal minggu ini pun dirasanya dapat diselesaikan terlebih dahulu. "Mau! Ingin bertemu di mana dan jam berapa?"

"Di lobi saja, pukul sepuluh pagi. Bagaimana?"

"Bisa, bisa—eh?"

Reaksi Naruto yang agak berlebihan dengan memundurkan kursi beroda khas kantor—membuat telepon kabelnya terseret dari tempat asal. Barulah pemuda itu agak terkejut. Dari bagian bawah telepon itu pula, Naruto menemukan sebuah kertas yang terlipat rapi lagi. Mirip seperti kertas nan ditemukannya di kamar mandi, hanya saja berbeda warna.

Kali ini, jingga.

"Ada masalah?"

"Oh," Naruto berdeham. "Tidak, kok. Aku baik-baik saja. Sampai jumpa Sabtu nanti, Shino."

Percakapan mereka yang berakhir, sang pemuda Uzumaki mengembalikan telepon ke posisi semula. Dan kini memusatkan atensi kepada lipatan kecil jingga. Tanpa tedeng aling-aling pula, dibukanya lipatan kertas dan kembali membaca sesuatu yang tertulis di sana.

[ Selamat malam cerah nila yang berbintang.

Aku baru pulang dari Sendai selama dua hari. Bukan untuk bersenang-senang, aku malah stres. Segalanya untuk penelitian—mana uang tabunganku sisa setengah. Ditambah sekarang aku merasa sakit kepala dan mual. Sepertinya aku dalam kondisi yang tidak baik, tetapi tanggung.

Aku lagi-lagi melewati batasku. Entah bakal baik atau buruk ke depannya, aku tak terlalu peduli. Kuliah, penelitian, skripsi—tinggal selangkah lagi. Iya, 'kan?

Sedikit lagi ini.

Besok tentunya aku tetap menjalani seluruh aktivitas seperti biasa. Pasti bisa.

Kalau tidak, aku kalah—kalah pada dunia.

H ]

Siapa pun penulisnya, pasti orang itu benar-benar seorang pekerja keras. Naruto merasakan segala kegigihan dan tekad di sana, bercampur pula setitik rasa khawatir—apakah si penulis ini baik-baik saja ke depannya?

Naruto sama sekali tidak berkenaan pada bidang forensik atau yang mendekati, hanya saja dari tulisan tangan di atas kertas jingga ini—pemuda itu tahu bahwa penulisnya sedang lelah atau dapat dikatakan tengah tak baik-baik saja. Tulisan nan tak serapi pertama, tak konsisten pula bentuk hurufnya. Namun, sang pemuda sangat yakin memang orang yang sama nan menulisnya.

"Siapa pun kau—semoga apa yang kau inginkan dapat tercapai. Segalanya yang telah kaujalani takkan sia-sia." Sebuah monolog doa malam, saat mengatakannya angin malam dari jendela yang sengaja Naruto buka sedikit untuk menghemat penggunaan listrik oleh pendingin ruangan—diharapkan si Uzumaki muda sebagai tanda bahwa harapan kecilnya mungkin dapat tercapai.

Membaca curahan hati ini juga, entah mengapa membuat Naruto makin termotivasi untuk berusaha lebih giat lagi. Kembali sang pemuda mengerjakan seluruh tugasnya dengan semangat—walau kini memiliki tujuan agar cepat-cepat menghampiri pulau kapuk sarana transportasi dari mimpi.

Naruto yang sudah agak mengantuk.

•••

Sabtu, setengah jam sebelum janji temu Naruto dan Shino—sang pemuda Uzumaki baru saja terbangun dari mimpi fana. Alarm dari jam weker biasanya akan berbunyi sejak pukul enam, tetapi semalam Naruto lupa menghidupkan karena merasa akhir minggu tanpa kelas durjana.

"Sial, sial!"

Naruto tak peduli apa pun lagi, menyibak selimut dan memasuki kamar mandi. Membersihkan diri sejenak untuk kembali mempersiapkan segala yang dibutuhkannya untuk pergi.

Berkaca sejenak, Naruto telah merasa tampan walau tak surgawi. Sebuah kata pujian yang pemuda itu selalu diucapkan dalam hati sejak kecil agar tidak rendah diri. Rambut nan mulai memanjang setidaknya tak menutupi pandangan mata biru, mengenakan pakaian kasual—kaus, jaket, dan celana jin yang santai.

Namun kini ada satu permasalahan; pemuda itu kelaparan. Melirik ke arah jam tangan yang dikenakannya, Naruto masih memiliki waktu kurang dari lima belas menit untuk menikmati sesuatu. Senyum pemuda itu mengembang mengingat mungkin saja dalam lemari es terdapat beberapa kue dan susu.

Dengan cepat Naruto membukanya, tetapi justru malah dikecewakan.

Tak ada satu pun makanan layak—beberapa roti berjamur, kotak-kotak susu tanpa isi, daging yang telah berbau, dan sayur nan rusak. Hanya itu. Belum lagi ketika Naruto mengecek persediaan ramen instan di atas lemari pendingin, seluruhnya hilang bak ditelan bumi.

Segala kekacauan yang mampu membuat pemuda itu berkeringat dingin.

Andai ibunya melihat semua ini, Naruto mungkin akan mendapatkan ocehan tak berhenti hingga malam. Sang Uzumaki muda tak memiliki pilihan lain—membereskan segala kekacauan itu dengan cepat berpacu pada waktu untuk dibuangnya. Pun dalam hati meniatkan diri untuk membeli kebutuhan-kebutuhan lain sumber kehidupan selain membeli buku dan alat tulis baru.

Tujuh menit lagi, Naruto mengalah. Dibiarkan rasa lapar untuk menang. Pemuda itu membawa satu kantong besar berisi sampah dari seluruh bekas dan sisa-sisa isi dalam lemari es nan tak lagi dapat dikonsumsi untuk dibuang pada pembuangan sampai di lantai satu, tetapi saat Naruto berusaha mengenakan sepatu kanvas yang sedang tren sebagai alas kaki di genkan

—mata birunya menangkap sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi salah satu benda nan familier baginya. Benda itu kecil, seperti menempel pada rak sepatu yang telah disediakan per kamar asrama. Tepat di bawah letak sepatu kanvasnya.

Lipatan kertas. Lagi. Kini berwana merah muda agak gelap—hampir merah. Seperti menyatu dengan warna rak yang memang memiliki ornamen merah gelap dan putih jika dilihat tak teliti. Manalagi memang terdapat di bagian rak paling bawah, sehingga tak dapat disadari orang-orang. Naruto terkejut karena selama ini baru menyadari eksistensi benda itu.

Diambilnya lipatan kertas tadi, diletakkannya ke dalam salah satu saku jaket. Dan Naruto mulai keluar dari kamar asramanya ketika melirik jam kembali. Enam menit lagi janji temunya dengan Shino—Naruto tak ingin terlambat.

Dari dua orang pemuda yang menjelajahi Jinbocho hari itu, Naruto lah nan paling membawa banyak barang-barang belanja. Dari buku, alat tulis—hingga segala macam jenis pangan dan kebutuhan hidup untuknya di asrama. Pemuda itu bahkan perlu bantuan Shino untuk membawa semuanya.

Pukul setengah tiga—keduanya menikmati makan siang yang amat terlambat di sebuah kedai ramen kecil. Bagi Naruto, pada saat inilah segala rasa laparnya harus dipuaskan. Memesan tiga mangkuk ramen berukuran besar, dengan gyoza, dan ditemani oleh ocha dingin. Shino hanya menggeleng ketika mendengar pesanan sang Uzumaki.

"Aku lapar, Shino. Tadi pagi aku belum sarapan." Pernyataan yang bernada pembelaan diri.

"Ya, ya, terserah kau."

Mereka duduk di ujung kedai. Menunggu pesanan mereka. Naruto duduk bersender pada kursi, memasukkan kedua telapak tangannya pada saku jaket—barulah pemuda itu kembali menyadari eksistensi lipatan kertas yang ditemukan tadi pagi. "Oh!"

"Oi, Shino," Dikeluarkannya benda itu untuk ditunjukkannya pada sang kawan. "Masa aku menemukan ini di kamarku, dan bukan yang pertama kali."

Shino mengangkat alis, menerima benda kecil itu dengan wajah yang diliputi keheranan. "Apa ini?"

"Tampilannya seperti surat, tetapi isinya curhat." Naruto tersenyum tipis. "Aku belum baca yang baru ini, tetapi kemarin isinya rata-rata tentang curhatan lelah kuliah. Terus yang menulis kayaknya seorang gadis. Terus anehnya, selalu kutemukan saat aku lagi sial dan kesusahan di tempat yang tak terduga."

Pemuda bermarga Aburame itu membuka lipatan kertas, tak sampai tujuh detik—Shino melepaskan genggamannya pada kertas itu. Menanyakan hal yang paling aneh dalam hidup Naruto. "Kamarmu bukan bekas bunuh diri, 'kan?"

"Hah?" Shino berdecak, tanpa kata lagi sang Uzumaki meraih kertas merah muda gelap itu.

[ Selamat sore,

Sepatu warna lavendelku yang cantik baru kudapatkan minggu lalu. Namun aku tak dapat menggunakannya lebih lama lagi karena tak sopan jika masih mengenakan alas kaki.

Aku tak tahu masih berlanjut atau sudah berakhir. Tak tahu bagaimana selanjutnya aku, entah menjadi higanbana atau tetap menangis.

H ]

"Apa maksudnya?" Naruto mengerutkan kening, Shino berdeham.

"Kau tahu—bunuh diri," Suara pemuda Aburame itu memelan. "Banyak yang melakukan hal tersebut dengan meninggalkan pesan. Dan karena kau blasteran, mungkin kau tidak terlalu tahu menahu bahwa kami tidak dapat menggunakan sepatu ketika masuk ke dalam rumah seseorang."

"A-aku tahu tentang itu. Tapi apa hubungannya dengan—bunuh diri?" Naruto melipat kembali kertas yang bertuliskan hal-hal nan tak dimengertinya itu. Mengembalikannya ke dalam saku jaket lagi.

"Singkatnya, banyak remaja Jepang yang bunuh diri dengan sebelumnya melepas sepatu mereka." Shino menjelaskannya hampir dengan berbisik, manik biru Naruto membulat mendengarnya.

"Kau gila?"

"Aku juga tidak tahu," Pemuda Aburame menggeleng pelan. "Tapi, kau tahu apa yang menyeramkan? Aku terfokus pada inisial yang ditinggalkan si penulis—H, tiba-tiba aku mengingat salah satu kata dalam bahasa Indonesia. Hantu."

"Hantu?"

"Yuurei. Ghost." Tepat ketika Shino mengatakannya, seorang pelayan kedai membawakan pesanan mereka. Naruto yang lapar memilih untuk tak peduli, walau dalam hati sedikit dihantui rasa resah tak terkira saat mendengarnya.

"Saranku, panggil pendeta atau apa pun yang kau percaya kalau benar-benar kasus bunuh diri."

•••

Naruto tadinya tak begitu percaya pada hal-hal gaib, sejak dahulu sama sekali tidak tertarik menonton hal-hal horor dan supranatural.

"Shino sialan!" Enam bulan setelah penemuan lipatan kertas yang terakhir—setahun lebih telah tinggal di dalam kamar asrama 437 ini—Naruto yang memilih untuk tak memedulikannya. Atau lebih tepatnya pura-pura. Namun, sering kali lontaran kata-kata gila dari Shino tentang si penulis dan pemilik kamar sebelumnya selalu terasa menari-nari bak baru saja diucapkan kemarin dalam kepala.

Sebenarnya, Naruto tak sekeren itu—pemuda itu takut. Ya, sudah menjadi rahasia milik semesta jika Uzumaki Naruto sebenarnya seorang penakut.

Akibat perkataan kurang waras dari Shino, pemuda Uzumaki itu menjadi jarang menikmati kesendiriannya di dalam kamar asrama. Memilih belajar di perpustakaan atau di kafe pinggiran kampus setiap harinya sampai malam tiba, mengerjakan tugas di kamar para kawan, pun kembali ke kamarnya sendiri saat telah dikuasai rasa lelah dan mengantuk saja.

Naruto jelas tak memberitahukannya pada ibu dan ayahnya di Clarksville, selain menghindari kekhawatiran yang berlebih—pemuda itu memiliki rasa malu juga gengsi nan dijaganya. Lagi pula, kamar asrama ini merupakan fasilitas tempat tinggal paling murah dari beasiswa yang diikutinya. Pindah ke kamar lain merupakan hal yang sulit dilakukan karena asrama universitas sering kali penuh, belum lagi Naruto tak memiliki alasan yang kuat dan terdengar logisnya. Mencari apartemen baru pun tak semudah itu karena tingginya biaya.

Dan mengemas barang-barang untuk pindahan itu pastinya sulit dan repot!

Naruto menarik selimut—berusaha menenangkan diri dan mulai menghitung domba. Namun agaknya gagal.

Saat ini awal musim semi, tetapi bukannya menikmati keindahan alam, pemuda itu malah ditimpa kemalangan.

Kafunshō, akhirnya Naruto tahu rasa dari yang orang-orang katakan sebagai alergi musim semi. Pemuda itu merasakan demam dan hidung meler terparah dari seluruh yang pernah dideritanya selama ini. Tentunya Naruto telah mendatangai dokter, sudah diberi beberapa obat pula—tetapi sang pemuda tetap harus beristirahat penuh, tak dapat mengikuti kelas selama beberapa hari.

Ibunya khawatir, sementara sang ayah terdengar santai—menganggap sakit Naruto itu sebagai salah satu ujian untuk jauh lebih mandiri. Pun pemuda itu dikelilingi orang-orang baik, beberapa kawannya telah membantu sang pemuda dengan mengirimkan makan pagi hingga malam tadi.

"Argh!"

Tepat pada saat ini, di malam pertamanya menikmati suatu penyakit musiman—Naruto sendiri dalam kamar asrama dan tak dapat tidur entah karena apa. Obat yang digadang-gadang selain menyembuhkan akan menimbulkan rasa kantuk jua nyatanya hanya mitos saja.

Malam makin mencekam. Terasa makin dingin, padahal Naruto telah mengatur pendingin ruangan agar menjadi tak terlalu dingin. Pemuda itu juga telah mengenakan pakaian tebal dan selimut dua lapis. Namun rasanya dingin malam itu berbeda, membuat bulu kuduk Naruto meremang.

"Tidak, aku tidak boleh takut." Monolog pelan sang pemuda hampir berbisik. Serak dan terdengar aneh karena hidungnya yang tersumbat. Naruto meraih inhaler di atas nakas kecil di sebelah kanan, tetapi sialnya malah terjatuh dan menggelinding ke kolong ranjang berkaki rendah.

Mendengkus sebal, pemuda itu menyingkap selimutnya—turun dengan lemas dari ranjang dan mengarahkan tangan ke kolong sana.

Inhaler itu berhasil didapat, tetapi entah mengapa Naruto merasakan sesuatu mengenai punggung tangannya. Bukan kayu pun bahan perakit tempat tidur, terasa seperti—kertas?

Dengan cepat sang pemuda mengambil inhaler, seketika jantungnya berdetak kencang sekali hingga rasanya hampir meledak.

Naruto membeku di tempatnya saat ini, tampak tengah diselimuti rasa takut—pun ada setitik rasa penasaran yang membunuh dalam hati.

"Tidak, tidak," Pemuda itu berusaha berdiri, tetapi rasanya sulit. Ditambah setitik rasa penasaran itu rasanya membesar dan makin membesar.

Pada akhirnya, rasa penasaran itu membunuh Naruto. Sang pemuda kembali memasukkan tangannya ke dalam kolong—kini meraba langit-langit ranjang. Rasanya seketika tangannya penuh debu. Akan tetapi terasa suatu benda asing menempel di sana, dengan berhati-hati Naruto berusaha menariknya.

Dan benar saja, sebuah benda asing berukuran agak kecil yang terdapat dari bawah sana.

Lipatan kertas. Yang keempat kalinya. Warna kuning dengan penuh debu.

Naruto yang benar-benar memilih jalan yang berbahaya—bagi dirinya—malam itu. Berusaha melupakan seluruh perkataan Shino, pemuda Uzumaki itu membersihkan lipatan kertas tadi dari debu yang menempel. Mulai membuka pula lipatan dari kertas kuning.

[ Selamat malam, dunia. Aku yang kini berada di atas ranjang sembari menikmati kesendirian.

Aku masih memilih untuk melanjutkan tangis. Sore tadi sebelum aku memutuskan tempat untuk melakukan hal terbodoh sepanjang hidupku, aku bertemu dengan seorang anak kecil yang memberiku permen karena melihatku menangis di taman kota. Gadis kecil yang sangat manis. Jujur aku malu karena terlihat cengeng dan lemah, tetapi aku tak dapat menolak tawarannya.

Dia ikut menikmatinya bersamaku, dia banyak berbicara. Sampai aku lupa apa saja yang telah kami bicarakan, hingga senja tiba dengan mentari nan turun takhta—seorang wanita cantik mendatangi kami. Ibu dari anak itu.

Namanya Mirai, nama yang sesuai dengan anak optimis itu. Anak yang belum tahu seluk-beluk dan pahit- asam dunia, tetapi dengan setia memperlihatkan senyum manis bak permen. Belum lagi saat melihat interaksinya dengan sang ibu. Saling berbagi afeksi penuh euforia mereka, walau dunia tak begitu indah dan realitas menusuk. Aku jadi ingat ibuku.

Ibuku yang telah pergi ke surga terlebih dahulu.

Kalau aku mati sekarang, aku tak sanggup bertemu ibuku. Walaupun kami takkan bertemu karena aku akan masuk neraka, tetapi aku tak sanggup merasakan kecewanya beliau. Belum lagi wajah sedih ayah, Neji nii-san, dan Hanabi.

Terima kasih, Mirai-chan. Kakak yang cengeng ini memilih untuk melanjutkan mirainya.

H ]

Naruto tertegun. Apa yang Shino katakan, hampir saja menjadi kenyataan.

Siapa pun penulis dan pemilik kamar asrama ini sebelumya, Naruto melantunkan rasa syukur yang sama karena masih memilih untuk berjuang. Senyum sang pemuda mengembang, ada rasa lega menyebar di dalam diri.

Malam itu, Naruto akhirnya berhasil tidur dengan nyenyak.

•••

Setelah segala usaha yang menghasilkan keringat, air mata, dan rasa lelah lahir pun batin—akhirnya tiba juga hari ini. Sidang tesis sang pemuda Uzumaki. Penghujung perjuangannya di negeri orang yang kini mulai dicintai.

Bisa dikatakan, ini pertama kalinya Naruto akan melewati proses ini. Karena untuk mendapatkan gelar sarjana ekonominya di Amerika tanpa melewati skripsi, dahulu pemuda itu memilih untuk mengerjakan professional project membuat sebuah jurnal ilmiah sebagai tugas inti. Tesis yang telah diperjuangkannya ini benar-benar menguras seluruh jiwa-raga, hampir-hampir Naruto disarankan untuk menambah semester—tetapi jelas ditolak mentah-mentah oleh sang Uzumaki.

"Aku pasti bisa, aku pasti bisa!" Bagai sebuah mantra. Kalimat itu yang terus menerus diucapkan oleh Naruto dari semalam.

Kini pemuda itu tengah berdiri menghadap kaca di dalam kamar mandi. Pakaian yang dipakainya formal jelas rapi, tak luput menggunakan wewangian lembut bagi pria, dan menyisir kembali rambutnya nan telah terpotong lebih pendek dari sebelumnya. Kemarin, setelah mendapatkan tanggal sidang, Naruto pergi ke tukang pangkas rambut yang terdekat di kawasan asrama untuk memotong rambutnya pun berjalan-jalan mencari pakaian dan sepatu baru.

Ayah dan ibu berjanji akan datang di acara wisudanya nanti, dan Naruto berusaha menyakinkan diri bahwa tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan itu semua.

Saat Naruto keluar dari kamar mandi, tak sengaja pemuda itu menatap ventilasi kecil dari kaca di atas pintu—tak ada yang aneh di sana. Hanya saja tiba-tiba pandangan Naruto agak terpaku pada salah satu sisi yang terlihat berbeda warnanya.

"Mungkinkah?" Dengan agak berjinjit Naruto berusaha menggapai ventilasi, entah berapa tinggi pemilik sebelumnya, hingga mampu mencapai ini. Pemuda Uzumaki itu bukanlah pemuda yang pendek, termasuk tinggi di antara kawan-kawannya walau sedikit kalah dari Shino.

Ada benda asing yang berhasil digenggamnya, tetapi bukan kertas lipat seperti biasa. Sebuah bungkusan berwarna putih terang yang telah dilipat menjadi sangat kecil—hampir tak terlihat jika tak teliti. Lagi-lagi Naruto hanya bisa berdecak kagum melihat bagaimana cara pemilik kamar sebelum dirinya menyembunyikan itu semua dari petugas kebersihan.

Dibukanya bungkusan kecil itu saat keluar dari kamar mandi, Naruto terduduk di kursi belajarnya. Isinya setangkai bunga lavendel yang dikeringkan dan sebuah lipatan kertas berwarna hijau. Aroma menenangkan dari lavendel itu menguar, membuat sang pemuda merasa pula ketenangan.

Meletakkan bunga kering itu dengan hati-hati, kini atensi sang Uzumaki tertuju pada lipatan kertas—dibukanya juga lipatan itu, membaca seluruh yang tertulis di dalam sana dengan perlahan-lahan.

[ Selamat siang, dariku yang kini telah menjadi sarjana!

Oke, terbaca sangat sombong. Akan tetapi begitulah yang terjadi. Aku baru saja menyelesaikan sidangku, dapat jadwal pertama saat pagi. Dapat dikatakan pula sebagai kelinci percobaan, tapi aku berhasil!

Ya, masih ada revisi dan segala yang menunggu. Namun, setidaknya sebentar lagi aku akan bebas!

Aku saat ini sedang senang sekali, aku berdoa supaya para kawan-kawan seperjuanganku juga mendapatkan impian mereka.

H ]

"Siapa pun kau, selamat!"

Ucapan selamat nan terlambat, dan Naruto yang ditularinya keberhasilan pula hari itu.

•••

Awal April, saat pohon-pohon sakura tengah mekar sempurna, Naruto mendapatkan jadwal wisudanya. Ayah, ibu, bahkan adiknya—Menma—dapat datang seluruhnya. Menjadikan salah satu hari paling bahagia yang pemuda itu miliki di dunia.

Pagi, pukul sembilan, seluruh rangkaian acara dimulai. Keseluruhan yang hadir hari itu terlihat bergembira; mulai dari lulusan yang mendapatkan gelar sarjana, leganya penerima magister—termasuk sang pemuda, hingga para doktor nan lahir juga hari ini.

"Oi, Naruto, bisa bicara sebentar?"

Setelah keseluruhan nama dari fakultas ekonomi penerima gelar magister dipanggil, Naruto dan kawan-kawannya memilih untuk berkumpul bersama. Saling berfoto, mempererat relasi, dan berbincang tentang masa depan mereka.

Keluarga Uzumaki kecil atau mungkin lebih tepat disebut Wave berdasarkan nama marga sang ayah—telah pergi terlebih dahulu, kembali ke hotel. Mereka semua rencananya akan berwisata mengelilingi regional Kanto dan Kansai (kalau dapat pula mengunjungi Okinawa) selama dua minggu ke depan—wisata dadakan yang sang ayah utarakan begitu saja nan mendapatkan pelototan ibu dan teriakan kecil kesenangan Menma.

Dan kini, pemuda itu terpaku kepada eksistensi dua orang gadis di hadapannya. Yang satu, Naruto mengenalinya sebagai kawan sekelasnya ketika semester empat keturunan Tionghoa—namanya Tenten. Namun seorang gadis lainnya, sang Uzumaki muda itu sama sekali tak mengenali.

Gadis asing itu harus Naruto akui, agak manis. Rambutnya nila panjang bak malam cerah, manik nan unik tanpa pupil perak bercampur lavendel—mirip kecubung pucat, ditambah lagi dengan pipinya yang tampak memerah entah karena apa.

"Yo, Tenten. Kenapa? Mau foto denganku, ya?"

Tenten tertawa, sementara gadis asing di sebelahnya menunduk. "Boleh, boleh. Tapi sebelumnya, temanku ingin berbicara dahulu. Kau penghuni kamar asrama 437, 'kan?"

"Yap, memangnya ada apa?"

"Tuh, Hinata," Kawannya itu menyikut pelan si gadis asing, yang dari ujaran santai Tenten tadi bernama Hinata. Naruto hanya dapat menampilkan wajah nan terlalu jelas menampilkan tanya. "Karena yang mau bicara temanku, aku izin berlalu sebentar. Mau foto sama yang lain. Nitip temanku ini, ya, Naruto!"

Tenten agak mendorong gadis bermahkota nila itu agar mendekat ke arah sang Uzumaki, setelahnya pergi ke arah kerumunan kawan-kawan seangkatan yang masih tersisa.

"S-sebelumnya selamat atas wisudanya, Wave-san," Hinata, dalam hati Naruto memanggilnya begitu—mulai berbicara dengan pelan. Pemuda dapat pula menangkap kegugupan di sana; dari suara dan tingkah laku Hinata yang kini tengah meremas tali tasnya sendiri.

"Terima kasih, uhm—" Selain manis, mungkin agak jahat—tetapi rasanya aneh melihat gadis ini tampak gemetar menghadapinya. Naruto bahkan bertanya-tanya dalam hati, apakah wajahnya memang terlihat menyeramkan atau apa. Namun, sang Uzumaki tetap ingin bersikap ramah pada gadis di hadapannya.

"—H-Hyuuga Hinata, salam kenal." Gadis itu sedikit membungkuk, Naruto membalasnya juga.

Satu kata: canggung.

"Hi—Hyuuga-san," Naruto berusaha tersenyum ramah. Hampir saja pemuda itu mengatakan nama sang gadis, tetapi menyadari di mana Naruto tinggal sekarang memang lebih baik mengikuti budaya yang ada. Pun sang Uzumaki ingin sedikit mencairkan suasana di antara mereka juga. "Ada apa ingin berbicara dengan saya? Omong-omong, Anda dapat memanggil saya Naruto. Uzumaki Naruto, nama Jepang saya dari Ibu. Yah, walau tadi tetap dipanggil Nathan, sih. Hehehe."

"Y-ya, uhm, begini Uzumaki-san..." Kini Hinata mulai menampakkan pula senyumnya, walau canggung. "K-kebetulan saya penghuni kamar 437 sebelum Anda dua tahun yang lalu. S-saya merasa masih terdapat benda-benda saya yang tertinggal, bendanya sangat kecil dan terselip-selip. Karena p-pergi dari asrama dengan agak mendadak, jadi lupa terbawa. S-sepertinya telah dibersihkan oleh para petugas. Akan tetapi, bolehkah saya mengeceknya—"

"—kertas warna-warni itu, 'kan?"

Belum selesai Hinata menyelesaikan kata, Naruto menyela.

Uzumaki Naruto tahu bahwa menyela bukanlah sesuatu yang terpuji, tetapi entah mengapa ketika mendengar pernyataan nan keluar dari tubir gadis manis dan agak aneh di hadapannya ini—sebuah tabir kecil dari dua tahun lamanya sang pemuda tinggal di asrama 437 itu terasa terbuka.

Pipi sang gadis yang makin memerah, matanya nan berbinar, pun bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu. Naruto secara tak sadar menggenggam kedua tangan Hinata, dengan safir tak kalah cerah.

"Kau hampir membuatku jantungan hampir selama setahun, temanku mengira bahkan kertas-kertas itu surat dari hantu! Namun, terima kasih dan selamat karena telah memilih berjuang hingga detik ini di kertas lila hingga kuning, dan selamat juga segalanya sudah terbayarkan di kertas hijau!" Pemuda itu tak peduli meski beberapa orang kini tengah menatapnya, memberikan siulan pun pandangan menggoda. Begitu pula dengan Hinata yang makin merah merona bak permen apel nan manis seperti si nila. "Aku juga menyimpan setangkai lavendel keringnya, sungguh cantik dan harum seperti dirimu!"

.

.

Selesai, tetapi bukan akhir.

.

.

Kafunshō: alergi serbuk bunga di Jepang yang biasanya terjadi saat musim semi atau gugur.

.

.

"Papa!"

Sebuah benda berat terasa menimpa si atas dadanya. Pun kini ditampar-tampar pelan pula pipinya. Naruto berusaha membuka mata.

Dengan pandangan yang masih memburam, tetapi dua titik biru dan helai-helai pirang mulai terlihat—dan semakin jelas ketika maniknya benar-benar terbuka.

"Yeay!"

Senyum dengan gigi-gigi kecil nan lucu terlihat, barulah Naruto benar-benar dapat dengan jelas menangkap seluruh visualisasi dari si empunya.

"Boruto, kasihan Papa kalau kamu duduk di atas dadanya begitu. Boruto 'kan sudah besar, makin berat." Kini terdengar pula suara lembut yang menenangkan.

Naruto tersenyum. Kini seluruh pandangan telah menjelas, walau masih dibubuhi sedikit rasa kantuk.

"Oh, ternyata Boruto yang membangunkan Papa. Kok tumben bangunnya pagi begini?" Pria itu berusaha bangkit dengan memeluk sang putra dalam dekapan, menyandarkan diri ke sandaran kasur. Sesekali pula diciuminya mahkota sang anak, berbau lavendel seperti sang ibu.

"Iya, dong! Kan janjina Papa sama Mama mau jalan-jalan hali ini!" Anak itu laki-laki, masih berusia dua tahun dan banyak orang yang mengatakan bahwa merupakan salinan terbaik dirinya. Sampai-sampai sang istri pernah berkata bahwa Naruto terlalu serakah menurunkan rupa. Namun, menurut pria itu Boruto memiliki beberapa fitur-fitur halus dari ibunya.

Ya, putranya dengan sang istri. Dipeluk dan digelitiki batita itu, menimbulkan tawa yang sangat menghangatkan suasana.

Naruto melirik ke samping, sesosok wanita berambut nila yang kini terpotong lebih pendek—terduduk di sisi kasur sembari mengelus perutnya nan terasa makin membesar dari hari berganti dengan hari. Manik safirnya bertemu dengan manik kecubung pucat, tubir yang masing-masing menyunggingkan senyum.

Hinata dan calon anak keduanya.

Hinata, wanita yang sama di akhir mimpinya tadi. Mimpi nan mengandung beberapa potongan-potongan memori pentingnya.

"Baiklah, baiklah. Papa mau bersiap-siap dahulu, ya. Boruto bantu Mama sama Adik, oke?" Kini Naruto kecup kedua pipi bulat bak mochi milik Boruto.

"Oke!" jawab anak itu sangat ceria.

"Yuk, biarkan Papa bersiap dahulu. Boruto janji mau membantu Mama untuk menyiapkan bekal untuk piknik kita nanti 'kan?" Hinata mulai beranjak, begitu pula Naruto yang masih turut membawa serta putra pertama mereka. Namun Boruto memberi isyarat untuk diturunkan, dan ketika ayahnya menuruti permintaan itu—sang batita berlarian ke luar sembari berteriak senang.

"Boluto mau bawa cucu picang yang kemalin!"

Tingkah aktif anak itu lagi-lagi menimbulkan senyum bagi kedua orang tuanya. Hinata menggeleng pelan dan Naruto yang tertawa-tawa.

Hinata Wave—Uzumaki Hinata, istrinya itu akan mengikuti pula jejak langkah putra mereka. Namun, dengan tiba-tiba Naruto menahan salah satu pergelangan tangan sang istri dan mengecup ujung bibir Hinata cepat. "Selamat pagi."

Naruto selalu mencintai segala hal yang ada pada diri istrinya, terutama semburat-semburat merah merona pada pipi nan tak kalah gembil dari milik Boruto. "I-ih, kaget tahu."

Lagi-lagi pria itu terkikik, sebelum melepaskan sang istri—Naruto masih sempat-sempatnya memainkan salah satu helai mahkota nila milik Hinata untuk diciumi kembali. "Maaf, maaf. Ini aku langsung siap-siap."

Dengan rona merah muda yang masih membekas pada pipi, istrinya itu keluar dari kamar—menyusul putra mereka. Naruto pun kini melangkahkan kaki ke arah kamar mandi yang terdapat di dalam kamar milik keduanya.

Namun langkah pria itu terhenti melihat sesuatu menempel pada gagang pintu kamar mandi—sebuah benda kecil berwarna lila bercampur jingga.

Sebuah lipatan kertas.

Senyum mengembang, diraihnya benda kecil itu.

[ Selamat pagi, Tuan Nathan Wave atau Uzumaki Naruto.

Pagi ini kita jadi piknik bersama Boruto dan adiknya, 'kan? Bisakah kita berkunjung ke supermarket terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah nantinya? Ada diskon besar-besaran untuk sayur, buah, dan daging mulai hari ini sampai besok—sungguh waktu yang tepat untuk belanja bulanan.

Minyak tinggal sedikit, daging dan sayur di kulkas sudah habis, bumbu dapur habis juga, Boruto minta buah-buahan...

Banyak pokoknya.

Namun, aku tak dapat belanja sendiri. Jadi, mohon bantuannya, suamiku.

—your beloved wife, H. ]

Sungguh Minggu pagi yang indah.