Disclaimer Penyangkalan : BoBoiBoy milik Animonsta Studios dan Tik, Tik Bunyi Hujan milik Ibu Sud. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari tulisan ini.
Summary: Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting. Mungkin, mungkin airnya akan membawa pergi segalanya. [No pairings. Elemental siblings feat. Kaizo-Fang. Kumpulan drabbl..
.
.
.
- oneshot series -
- "Rintik" -
.
.
.
Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting
.
Air dari langit tercurah stagnan semenjak beberapa jam lalu, lebat dedaunan terangguk-angguk dijatuhi butir air es. Dua ekor burung pipit bertengger di bawah naungannya, menggigil. Taufan berhenti melangkah pada akhir jalan setapak berlumpur. Kakinya penuh noda tanah, di tangan kirinya ada beberapa ikat ubi sementara tangan kanannya menurunkan payung daun pisang. Tetes-tetes air serempak menghujani kaki yang memucat dingin.
Ia menyandarkan daun pisang tersebut di sudut gubuk kayu, membiarkan basahnya mengalir membentuk kolam. Tangan dinginnya mendorong pintu kayu di depan, ia merunduk untuk menaruh seikat hasil panen di relung kecil dekat palang.
"Assalamu'alaikum! Kak Hali, Gempa!"
Hening tak ada jawaban. Taufan mengerjapkan mata, ia terus melangkah masuk ke dalam rumah kecil itu hingga tiba-tiba pundaknya direnggut seseorang. Taufan hampir memekik kaget jika saja ia tak melihat siapa pelakunya.
"Taufan!" desis Halilintar, marah. "Sudah dikatakan jangan mengucap salam di depan pintu!"
Mata Taufan terbelalak, romannya pias pucat. Ia ingin menampar mulutnya sendiri.
"Kalau ada yang mendengar, bagaimana?" retorik kakak sulungnya, jemari kuatnya meremas erat pundak Taufan bak kawat besi. Matanya berkilat murka.
"Maaf Kak, aku ..."
"Simpan saja minta maafmu," sergah Halilintar, berang. "Sudah terlanjur!"
"Kak Hali!" tiba-tiba seseorang menarik pagutan keras jemari Halilintar pada Taufan. Mereka menoleh dan menyaksikan adik mereka, Gempa, dengan wajah cemas.
"Sudah hentikan, Kakak menyakiti Kak Taufan," tegur si bungsu.
"Biar saja," ujar Halilintar dengan nada meninggi. "Biar jadi pelajaran untuk tidak membahayakan kita semua karena kelalaiannya!"
"Tahan Kak Hali, sudah!" lerai Gempa, ia menarik lengan si sulung agar menjauh. "Tidak ada orang di sekitar sini, apalagi di tengah hujan lebat dan angin kencang. Takkan ada yang dengar salam Kak Taufan."
Gempa membelanya dengan argumen cukup logis. Tak ada bantahan, Halilintar hanya menatap Gempa dengan pancaran mata masygul. Si sulung akhirnya melepaskan lengannya dari Taufan dan langsung pergi meninggalkan kedua adiknya tanpa berkata apapun. Bahunya tampak bertaut kaku.
Taufan mengigit bibirnya yang membiru kedinginan akibat terlalu lama terguyur hujan. Ia pantas mendapatkan perlakuan kasar Halilintar bahkan lebih. Ia telah membahayakan nyawa mereka semua. Telah payah bertahun-tahun mereka bersembunyi dari intelijen yang hendak memberangus kaum santri seperti mereka. Mengerik habis segala patri spiritualis lalu mengukir lagi ide-ide yang mereka sukai. Halilintar, Taufan dan Gempa adalah sepersekian kecil dari yang berhasil lolos dan hidup terasing dalam keterbatasan.
Tapi kefakiran hanya harga ringan untuk jati diri, kala tanya-menanya mengenai penggerusan brutal identitas dan ideologi.
Pemangku kuasa saat itu menempeli mereka dengan label teroris, ekstremis, pembuat onar, radikal, pemberontak, ancaman keutuhan negara, tidak patriotik ... dan variasi kreatif lain dari 'biang onar'. Tidak cinta negara, tidak nasionalis, duri dalam daging, bibit-bibit cacat dan batu sandungan dari utopia Marxisme. Idealnya, semua orang harus sama tanpa perbedaan. Jika berontak, bersedia terus dipalu hingga submisif, kalah dan merata dengan sisa.
Mereka berkata ini demi kemaslahatan bersama. Demi kebahagiaan abadi, manusia beradab harus melupakan unsur takhayul adanya Dzat Ketuhanan. Mengapa harus percaya mengenai Tuhan yang sejatinya hikayat zaman? Hanya karangan, buah khayalan dari keputusasaan manusia?
Propaganda, sorak anak-anak jahanam.
Sebagian menolak ide-ide invasif ini, sebab mengobrak-abrik tatanan kemanusiaan berkedok kepedulian tinggi pada nasib kaum buruh atau proletar. Tertulis jelas dalam manifesto mereka jika ada yang memilih alur berbeda atau menolak, bermakna memilih kepalanya dipancang atas tombak.
Halilintar, Taufan dan Gempa memilih lari, setelah terpencar dari adik-adik mereka. Entah ke mana takdir menghanyutkan mereka semua, bak perahu kertas di laut buas. Hari itu ialah noktah tebal yang lain dalam sejarah panjang kemanusiaan di mana tirai api membungkus, jeritan melolong-lolong, asap membumbung tinggi mengeruhkan langit lalu jutaan liter darah teraduk merata dalam parit-parit.
Semua, semuanya dibawa pergi bersama asap, arang dan jelaga. Hanya ada karat-karat kebencian dan manusia-manusia yang kalah tercaci. Sebagiannya mati. Sebagiannya ditangkap dan disiksa. Sebagian berhasil lari dan dalam daftar buruan, seperti tiga bersaudara tersebut.
Taufan murung sembari menutup mulutnya seakan berharap ia tak punya lidah. Gempa mengusap pundak sang kakak dalam gestur menenangkan.
"Tak apa Kak, tak ada siapapun di hutan begini," hibur Gempa. "Tak ada yang dengar salam Kakak barusan. Kak Hali hanya sedikit berlebihan, karena memang dia yang paling ... ah, Kakak tahu, bukan?"
Taufan mengangguk kecil. Hari itu Halilintar yang membawa lari mereka bertiga, setelah ayah dan ibu mereka disembelih hidup-hidup dan disula dalam kebinatangan manusia. Saat itu, kedua adik mereka tak mampu diselamatkan, genggaman tangan mereka terputus di jalan. Bertahun-tahun silam dan Halilintar paling menyesali dan marah.
"Ayo shalat sama-sama," bisik Gempa dengan senyum sendu. Taufan menatap mata adiknya yang seolah menua dua dekade.
"Ayo," gumam Taufan muram. Gempa menarik lengan kakaknya.
"Nanti biar aku yang mengupas ubinya. Kak Taufan sudah susah-payah memanen di tengah hujan begini."
Taufan mengangguk kecil.
Itu saja yang mereka punyai, tanpa ada banyak pilihan. Mereka kerap menjala ikan dan udang di sungai, menangkap belalang, menanam atau barter. Kalau beruntung, mereka mendapat menu lain. Sebuah desa kecil nan sunyi tak jauh berdiri dari rumah itu dan mereka selalu berdusta pada penduduk agar selamat. Dalam situasi darurat perang dan antara hidup-mati, kebohongan pun diperbolehkan bahkan diharuskan.
Tapi sampai berapa lama mereka terus berlari? Ada titik di mana manusia tak mampu terus bertarung, entah mereka akan kolaps atau mati mencoba.
Tetesan hujan merembesi dinding anyaman. Angin dingin menembusi lubang-lubang celah, melingkupi tiga anak manusia yang berdiri sembahyang. Suara lantunan Al-Fatihah lirih merambah. Baju-baju lusuh penuh jahitan menjadi atribut sakral untuk ritual keagamaan, beserta kain kecil alas sujud. Di sana mereka merunduk bertemu bumi, sebagaimana sepatutnya mereka lakoni. Ada hening syahdu ketika mereka meninggalkan segala carut-marut naskah dunia untuk berhenti sementara dan bernapas. Di sini mereka memaparkan segala kelemahan dan kekeliruan, mengurai pintal kusut benang sanubari dan berharap emanasi dari Dzat yang tak kunjung mengantuk.
Taufan menepuk pundak Halilintar saat mereka rampung beribadah dan duduk tenang, sang kakak yang tengah melipat kain kusamnya lantas menoleh.
"Maafkan kecerobohanku tadi, Kak," bibir Taufan gemetar. Halilintar menaruh kain itu di pangkuannya, matanya melirik pada Gempa yang mengikat benang terurai pada kainnya. Gempa hanya tersenyum simpul.
"Tak apa, jangan ulangi lagi," gumam si sulung. Nadanya final, tanpa usaha untuk mengoles sesal Taufan.
"Oke," sahut Taufan agak lega. Ia mengerling kepada Gempa yang masih diam dengan senyum terkulum.
"Ah ya, aku mendapat kabar kurang baik sewaktu aku turun," ungkap Taufan dengan roman serius. "Mereka memberikan uang bagi siapapun yang memberikan informasi buronan ekstremis. Sekolah-sekolah juga diberikan buku-buku teks berisi ciri-ciri gembong terorisme, salah satunya memakai identitas keagamaan dan mengkritik pemerintah."
Gempa dan Halilintar terdiam. Lantas bagaimana para penguasa lalim itu mendefinisikan 'terorisme, ekstremis' jika batasnya menabrak hak asasi manusia dalam menjalankan ibadah? Semua orang dipaksa memenuhi standar yang mengacak-acak cara hidup mereka. Bagi mereka, ritus ketaatan agama itu ekuivalen dengan durhaka pada ideologi. Bagi mereka, taat beragama berarti anti patriotisme, anti nasionalis yang mana harus ditumpas berdarah-darah. Walau menjadi bajingan berkedok martir.
"Ayo berdoa agar selamat," sahut Gempa, nadanya pahit. "Di samping itu, kita juga harus lebih waspada."
"Jangan terlalu banyak bercerita," imbuh Halilintar. "Jangan juga menyebut kalimat zikir di tempat umum atau berbicara soal ini. Kita tak tahu siapa pengkhianat dan yang akan melaporkan."
Taufan dan Gempa mengangguk kecil.
"Penduduk desa cukup ingin tahu dan suka bertanya-tanya," gerutu Gempa. "Yang jelas akan cukup sulit walau kita tinggal mengasingkan diri. Mereka bisa tanpa sengaja memberikan informasi keberadaan kita."
Tiba-tiba, pintu rumah mereka digedor keras.
.
.
.
Airnya turun tidak terkira
.
Kaizo melambaikan tangannya, tepuk tangan bergemuruh seakan menggetarkan stadium tersebut. Semua cahaya lampu sorot mengarah padanya, menjadikan figur setinggi 187 cm tersebut pusat mata memandang. Jas biru cobalt-nya tampak elegan, potongannya rapi dan memeluk tiap lekuk tubuh dengan sempurna.
Ia mencuri panggung tanpa berupaya keras.
Pria tersebut mengisahkan peluncuran komersil ISP yang masif dan progresif. Berbeda dengan yang lain, proyek ini begitu ambisius hingga menjangkau desa terpencil. Dengan peluncuran armada satelit bernama Cloudlink, koneksi internet lamban hanyalah mimpi zaman dahulu, menjadikan teknologi 5G bisa diakses oleh siapapun bahkan orang-orang di tempat terpencil. Semua orang akan terhubung tanpa diskriminasi.
Sebagai pewaris perusahaan teknologi tersebut, yang juga bergerak di bidang pesawat luar angkasa (spacecraft) dan otomotif, Kaizo memaparkannya visi masa depannya dengan menawan. Kata-katanya sangat persuasif dan memesona. Tak hanya itu, dengan agresif Kaizo melakukan ekspansi besar-besaran pada negara-negara menjanjikan dan meluaskan industrinya, termasuk mobil listrik tanpa setir dan membangun beberapa kota bebas polusi serta berdikari (self-sustained city). Walhasil saham perusahaannya menduduki puncak teratas di Asia, melejitkan namanya sebagai direktur yang lebih baik daripada mendiang ayahnya.
Kaizo melambaikan tangannya sekali lagi dan melangkah keluar dari panggung. Tepuk tangan masih membahana saat ia memasuki ruang belakang, ia disambut oleh sekelompok asisten dan manajernya.
"Tuan Kaizo, Anda memiliki jadwal temu dengan Tuan Tan dua jam lagi."
"Mengenai nikel untuk baterai listrik," komentar Kaizo.
"Benar. Tuan Tan telah mengadakan reservasi dan mengirimkan jet beliau."
"Katakan pada Tan kalau itu tak perlu."
"Baik, Tuan Kaizo."
Sebuah nada dering menyela ketergesaan mereka, manajer Kaizo segera merogoh tas jinjingnya dan menatap layar sentuh ponsel modifikasi tersebut.
"Tuan Kaizo, ada panggilan dari Tuan Fang."
Kaizo berhenti melangkah dan menerima uluran ponselnya tersebut. Nama 'Fang' tertera pada huruf menarik atensi. Kaizo mengetuk ibu jarinya.
"Fang?"
"Abang," panggil Fang, suaranya agak kecil. Kaizo menaikkan sebelah alisnya, gestur yang tanpa sadar ia lakukan. Terang saja, biasanya adiknya selalu bernada riang ketika menyapanya di telepon.
"Ada apa Fang?"
Terdengar helaan napas berat dari seberang.
"Abang kapan pulang?"
"Mungkin tiga hari lagi aku tiba setelah jamuan, " jawabnya. "Kau di mana sekarang? Kau tahu California itu jauh sekali dari sini."
"Aku tahu ... tapi bi-bisakah Abang datang?" cicit Fang, suaranya terdengar samar. "A-ada tamu di sini yang mencari Abang ..."
Kaizo menghela napas kecil. Sejak lulus SMA, Fang tinggal di Amerika untuk melanjutkan ke sekolah musik di UCLA. Ia jarang sekali bertemu adiknya itu walau kerap bercakap via telepon. Kaizo tahu Fang selalu mengeluh soal jadwalnya yang padat, tetapi hari ini tingkahnya cukup aneh.
"Aku tidak bisa, Fang. Ke mana William? Harusnya dia katakan kalau membuat janji jauh-jauh hari," omel Kaizo. Langkahnya cepat menyusuri koridor tersebut, asisten dan penjaganya berjalan di belakang serta di depannya.
"Tapi Abang ..."
"Katakan saja aku pergi," sela Kaizo, ia langsung mematikan panggilan adiknya. Seorang asistennya menekan tombol lift menuju lantai kamar penthouse. Pintu lift bergeser terbuka, memperlihatkan dua orang berperawakan tinggi dan besar berdiri di sudut. Kaizo tidak menghiraukan mereka dan segera memasuki lift tersebut, diiringi para asistennya.
Hati kecilnya berbisik jika ini adalah area steril, tak sepatutnya ada orang lain. Namun Kaizo segera tepis dan beralasan mereka pasti pengawal yang dikirim oleh pihak penyelenggara, bagian dari protokol keamanan.
Pintu lift tertutup lamban saat Kaizo tengah mengetik pesan pada adiknya. Belum sempat jemarinya mengetuk ikon kirim, Kaizo dikejutkan dengan tusukan kecil di leher. Ia memalingkan wajah dan melihat salah seorang asistennya tengah menancapkan injeksi kecil padanya. Refleks, Kaizo menghantam area telinga asistennya itu dengan keras, lelaki itu terpelanting dan pingsan seketika. Menyaksikan perlawanan Kaizo, sesegeranya dua pria besar penumpang lift tersebut meringkusnya, memiting kedua lengannya dan langsung menghantamkan kepala sang direktur utama ke dinding kaca mengkilap.
Kaca itu retak dan ada percikan pekat, bak cat marun. Tubuh Kaizo merosot jatuh, noda darah mengotori jernihnya kaca lift.
Entah berapa lama Kaizo menyelam dalam kehampaan alam bawah sadar hingga berangsur-angsur otaknya membangunkan fungsi indranya. Pertama, Kaizo mendapatkan kembali indra pendengarannya, lalu saraf motoriknya terbangun dan matanya terbuka.
Ia mengenali di mana ia berbaring. Ini adalah kamar pribadinya dalam mansion di Bel Air. Kaizo tak pernah menyukai jauhnya Bel Air, namun Fang berkata ingin tinggal dekat alam dan Bel Air adalah area elite di dekat Pegunungan Santa Monica, California. Ia jarang pulang ke sini kecuali saat musim libur, Fang pun biasanya tinggal di kamar dekat kampusnya. Mengapa ia ada di sini?
Kaizo mengurut dahinya yang pedih karena luka, otaknya terasa agak berkabut dan rasa tak nyaman akibat lengketnya darah mengering di dahi dan rambut. Ia mendudukkan dirinya di ranjang dan matanya langsung menangkap sosok adiknya yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Abang," panggilnya pelan. Fang tengah memegangi tangannya dengan erat, wajahnya berkeringat. Cairan merah merembes dari sela-sela jarinya, menetes dan membentuk noda besar pada kain sutra. Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi kulitnya, ia meringis menahan sakit luar biasa.
"Fang? Ada apa?" tanya Kaizo penuh urgensi, ia segera mendekati adiknya dan menarik kepalan tangan Fang. Namun adiknya malah menghindar sambil berdesis nyeri.
"Fang, jawab aku," tuntut Kaizo, mulai merasa tak tenang.
Fang tak menjawab. Ia hanya menggeleng kecil sambil merintih samar, lantas ia membuka kepalan tangannya dan memperlihatkannya pada Kaizo. Mata sang kakak tampak membola dalam keterkejutan saat melihat beberapa jari di tangan Fang hilang, terpotong kasar seolah digerus oleh benda tumpul. Fang mengigit bibirnya dengan keras saat Kaizo memegang pergelangan tangannya untuk melihat lebih jelas.
Kaizo menatap penuh horor pemandangan berdarah itu, rasanya seakan-akan ditampar keras. Kini, seluruh helai sarafnya menjerit tanda bahaya, bak predator yang bersiap menerkam.
"Ada apa ini Fang? Di sini ada dokter, kenapa kau tidak ke sana? Kenapa diam saja?"
"Abang, kita tak boleh keluar dari sini," isak Fang. "Mereka datang, Abang, dan memotong jariku dengan gergaji. Mereka berpesan kalau Abang masih mengalirkan dana pada pemberontak komunis, mereka akan menyembelih aku di depan Abang."
Tangis Fang pecah sedang Kaizo terhenyak, masih memroses ujaran yang menggelegar itu di telinganya. Refleks, ia membawa Fang dalam rangkulannya dan adiknya langsung membenamkan wajahnya pada pundak Kaizo.
"Aku takut, Abang. Aku takut ..."
Kaizo tak bersua, seiring adiknya menangis tersedu-sedu. Suaranya seakan memecah sesuatu dalam diri Kaizo.
.
.
.
Cobalah tengok dahan dan ranting
.
"Mengapa Tuhan adalah produk imajinasi dari kaum menengah ke bawah? Ada yang mampu menjawab?"
Seorang wanita tua dengan eskpresi keras mengetuk papan putih dengan mistarnya. Ia memakai jas dan rok hitam selutut, rambut hitamnya tergelung rapi. Sepatunya berbentur riuh pada lantai marmer, bergema pada ruangan kelas tanpa dekorasi tersebut.
45 peserta didiknya, dari usia 16 tahun hingga 64 tahun tampak diam di kursi masing-masing. Hening. Wajah-wajah muda, wajah-wajah tua, semuanya penuh ketegangan dan rasa takut. Mereka memakai seragam abu-abu kumal dengan logo bintang merah di dada kanan, kedua tangan terlipat rapi di atas meja sesuai instruksi.
"Baru kemarin kita menyebut ini dalam sesi Pendidikan Nasionalisme dan Patriotisme. Seorang rakyat harus berpendidikan dan mampu berguna bagi negaranya."
Lagi-lagi sunyi. 45 pasang mata memancarkan milyaran emosi namun lidah mereka tetap melekat di antara gigi mereka. Terpalu, terpaku.
Wanita itu, yang seorang guru umum, hanya mendecih dan kemudian berseru lantang.
"Solar! Jawab pertanyaan saya!"
Seorang remaja terlonjak dari kursinya, tak ayal 45 pasang mata menyorotnya penuh ekspektasi termasuk sang pendidik. Remaja itu berdiri dengan malas-malasan dari kursinya, bunyi mendecit bergema pada ruangan tersebut. Ia menegakkan posturnya walau agak kesulitan akibat kakinya dirantai. Semua peserta didik bernasib sama.
"Cepat jawab!" desak si wanita tua. Solar menggeretakkan giginya.
"Tuhan merupakan produk imajinasi masyarakat proletar atau buruh kasar garis bawah karena Tuhan hanya pelarian dari kesakitan kehidupan mereka yang serba kekurangan. Tuhan dan agama sendiri merupakan dalih kaum borjuis (bourgeoisie) agar kaum buruh tidak mencari keadilan atas nasib mereka, agar mereka terus memanfaatkan tenaga mereka, agar tidak menuntut hak kesetaraan kepemilikan properti industri. Komunisme adalah paham sosialisme yang meratakan strata atau status, dengan begitu konsep agama dan ketuhanan yang seyogyanya hanya pelarian saja bisa dihapuskan agar masyarakat bisa meraih kebahagiaan sesungguhnya tanpa hidup dalam dongeng zaman dahulu."
Solar menelan didihan bencinya yang hampir tumpah, untungnya ia berhasil menuturkan kalimatnya dengan nada datar. Bagaimana mungkin Allah hanya produk imajinasi sementara jagad raya di luar sana tercipta? Apa matahari dan bintang-bintang juga imajinasi semata? Bagaimana mereka bisa yakin akan keberadaan di luar dimensi dan langsung mendeklarasikan Tuhan itu tak ada? Melakukan perjalanan lintas bintang saja tak mampu, bagaimana mereka yakin sekali dengan pengetahuan ketiadaan Tuhan?
Si wanita tua itu tampak tak sadar dengan debat sengit di benak Solar. Ia cukup puas mendengar jawaban si remaja itu dan tersenyum kecil.
"Bagus. Hebat. Kecerdasanmu akan menjadi aset utama republik ini, apa kau cinta negara?"
"Ya," jawab Solar kaku.
"Menjunjung dan memperjuangkan nasib kaum tertindas kapitalisme?"
"Ya."
"Tidak membiarkan ajaran apapun menjadi batu sandungan kemaslahatan bersama?"
"Ya," jawab Solar lagi. Rantai di kakinya terasa jauh lebih berat sekarang, rusuknya seolah mengimpit jantungnya. Wanita itu tak membaca dilema internalnya dan hanya menunjukkan ekspresi puas.
"Kau peserta didik paling menjanjikan. Semua orang harus belajar darimu, Solar."
44 pasang mata peserta didik lain memandang Solar dengan serba-serbi rasa. Solar seakan dibongkar di meja operasi, semua organ tubuhnya dipajang seksama dan dicermati dalam mikroskop. Ia tak tahu bagaimana menjawab dan menjelaskan dirinya, ia bukan pengkhianat dan bukan pula orang yang terlalu siap berkubang dalam paham sinting ini.
Sesi pendidikan tersebut berakhir dan 45 peserta didik segera meninggalkan kelas dengan berbaris teratur. Bahu-bahu mereka tampak membungkuk, kepala merunduk, tangan terlipat ke depan dan kedua kaki dirantai. Mereka berjalan beriringan pada lorong, beberapa penjaga berseragam serba hitam dengan emblem bintang merah tampak memegang baton listrik, tiap-tiap pinggang mereka terpasang pistol.
Solar mengikuti barisan menuju kelas ketrampilan umum dan berbahasa. Setelah itu, ia harus ikut bekerja kasar tanpa upah sama sekali hingga pukul 9 malam. Segala-galanya di kamp konsentrasi ini begitu ketat, teratur dan terjadwal. Tiap gerak-gerik mereka diawasi oleh ratusan kamera dan ribuan personel yang kasar-kasar, yang takkan segan menganiaya fisik dan mental.
Solar dan sebanyak 2132 tahanan lain merupakan orang-orang yang ditangkap pada hari pembersihan massal kaum santri. Mereka yang mengangkat senjata atau yang berhubungan pada teroris radikal, ekstremis dan terbukti membangkang ide komunisme akan mengalami nasib yang buruk. Kebanyakan dari mereka disembelih, dibakar, ditembak atau digantung, selebihnya dijebloskan ke kamp konsentrasi untuk didoktrin ulang. Solar melihat begitu banyak kejahatan di sini, hingga rasanya jiwanya layu. Kekerasan tekadnya seolah terbasuh kian detik, bak bukit kapur yang berumah di pinggir sungai. Ia tak tahu seberapa lama ia akan di sini, mempertahankan identitas dirinya sebelum ia menjadi gila. Dayanya seakan menangkup api lilin ketika tornado menggedor sendi-sendi rumahnya.
"Solar," sapa seseorang. Remaja tersebut merasa bahunya terantuk oleh bahu lain. Ia tahu siapa dia, ia hanya diam tak bersuara.
"Apa mereka akan membawamu, Solar?" tanyanya. Solar menoleh dan menatap adiknya, Duri, dengan lelah.
"Aku tidak tahu."
Duri menunduk. Gemerincing rantai kaki pada puluhan tahanan terasa begitu rutin di telinga mereka, mengisi sesela percakapan bisu.
"Jangan pergi, Solar," bisik Duri. Tangannya meremas erat tangan Solar, namun ia justru merasa paru-parunya yang diremas kencang. Ia tak memiliki tenaga tersisa untuk menawarkan kata-kata penghibur sementara hatinya telah terbang pergi hidup pada masa lampau ketika mereka semua masih bersama. Halilintar, Gempa, Taufan ... mungkin mereka semua telah kembali pada perut bumi, asyik bercengkrama dengan ayah, ibu serta kaum mereka di taman-taman surgawi.
Solar balas menggenggam jemari adiknya. Untuk masa kini, ia hanya memiliki Duri dan rasa takut suatu waktu nanti ia akan menonton penjagalan lamban saudaranya.
Solar mengigit bibirnya hingga darah membasahi giginya. Sampai kapan ini akan berlarut? Ia sama saja seperti mencuri pandang ke dalam air gelap laut Pasifik. Haru, biru, hitam. Menyibak airnya hanya membuat gelombang baru, riaknya kian mengaburkan pandangan. Tuhannya tempatnya mengeluh, walau hanya dalam bisikan saja.
Solar mengerling pada Duri yang terlihat lelah luar biasa, jelas baginya huru-hara ini berhasil membuang habis kenaifannya. Mereka takkan pernah sama lagi.
"Duri ..." panggil Solar lirih.
"Hmm?"
Rombongan mereka hampir tiba pada tujuan, satu menit sebelum Solar berpisah pada Duri dan dibatasi beberapa dinding tebal berkawat listrik. Siapa yang tahu hari esok membawa apa, siapa yang tahu langit di hari esok. Ia tak mau menyia-nyiakan pertemuan ini.
"Aku takkan berubah, semoga Allah meneguhkan kita," ujarnya seraya meneguk ludah. "Aku akan berusaha pergi dari sini dan aku akan membawamu."
Duri menatap Solar dengan seulas senyum tipis, ia tampak pahit. Binar matanya yang dahulu cerah telah redup terhalang mendung, ia tak mengutarakan apapun namun Solar paham jika Duri tak percaya itu akan terjadi.
"Solar, jangan bahayakan dirimu," pinta Duri.
Belum sempat Solar menjawab, sekelompok personel bersenjata berderap ke arah mereka dan membagi kerumunan tahanan menjadi dua barisan. Di sinilah mereka berpisah. Duri memandang Solar dengan ekspresi seolah hendak menangis, namun ia tahan dan berjalan di koridor lain. Solar menatap Duri yang ditelan kerumunan tahanan berbaju kelabu, tubuh kurusnya tenggelam dalam barisan manusia yang lebih tinggi. Ia ingin berteriak rasanya. Solar tahu manajemen kamp ini sengaja memisahkan teman dan anggota keluarga demi intimidasi psikologis. Ia tahu permainan busuk mereka, ia hafal taktik-taktik mereka, bukan berarti ia mau beradaptasi dengan skema anak-anak iblis tersebut.
Solar terus berjalan berdesakan dalam barisan. Tangannya masih terasa hangat dari genggaman jemari adiknya.
Ia menatap ke depan, koridor itu terbuka menuju lapangan kamp dan memperlihatkan langit biru di musim berkabung. Rintik-rintik hujan turun membasahi segalanya. Solar berangan andai saja airnya mampu membasuh habis semua ini dan membawa segalanya pergi menuju lautan.
.
.
.
Pohon dan kebun basah semua
.
.
Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting ...
.
.
Fin.
.
