" ………ugh... "
Zenitsu mengerang lalu membuka matanya yang berat, ia mencoba melihat-lihat sekitar.
" Are?… ruangan ini... gelap sekali. Aku hampir tak bisa melihat sama sekali " gumamnya pelan.
Seolah mendengar gumaman Zenitsu, tiba-tiba lampu diruangan itu berkelap-kelip.
Kemudian ruangan menjadi agak remang. Namun cukup untuk melihat sekitar.
Zenitsu memegang kepalanya yang terasa pening akibat pencahayaan yang tiba-tiba menyapa matanya.
" A-apa… apa yang terjadi…? Ini bukan di ruangan kelas! Dimana ini?! " suaranya agak bergetar menandakan bahwa ia ketakutan.
Kemudian Zenitsu langsung teringat kejadian sebelum ia terbangun.
Beberapa jam yang lalu.
" Hari itu cuaca mendung. Hujan turun lebat sekali tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi, tepat seperti sekarang ini "
" Kalian semua sudah dengar ceritanya kan? Sebelum sekolah ini dibangun, katanya dulu ini sebenarnya merupakan bangunan sekolah lain. Nama sekolahnya Ufotable "
" Tapi saat itu terjadi serentetan kematian di sekolah itu yang menggemparkan masyarakat. Akibatnya kepala sekolah mengambil keputusan untuk menutup sekolah Ufotable selamanya. Kepala sekolah sendiri akhirnya menjadi gila dan kemudian di hari penutupan sekolah, dia meloncat dari atas atap dan meninggal dunia "
Tiba-tiba terdengar bunyi guntur diluar yang cukup dekat. Sampai menggetarkan jendela-jendela sekolah.
" Hiii " Zenitsu menunduk ketakutan.
" Banyak orang jadi berpikir sekolah itu dikutuk, karena itu akhirnya bangunannya dirubuhkan. Kemudian dibangunlah sekolah yang sekarang. Tapi sampai sekarang ini. Menurut beberapa saksi mata murid di sekolah kita, banyak yang masih melihat sosok seorang murid perempuan yang meninggal karena jatuh dari tangga. Murid itu terus berkeliaran di sekolah ini, tanpa menyadari bahwa dia sudah meninggal "
" Dan di hari hujan ini, katanya mereka melihat sosok murid itu berkeliaran di lorong yang gelap untuk memeriksa ruang kelas "
Karena suasana sangat sunyi, selain Shinobu yang berbicara. Suasana terasa sangat mencekam.
Seperti ada sosok makhluk lain di antara mereka. Makhluk yang tak kasat mata.
Kanao menggosok-gosok lengannya yang dingin. Sudah dapat membayangkan ini akan mengarah kemana.
" Sebenarnya sekarang ini hampir waktunya dia muncul. Saat waktu menunjukkan pukul 7. Kemunculannya ditandai dengan mati lampu yang tiba-tiba "
Shinobu sengaja memberi jeda agar efek rasa takut itu perlahan-lahan mulai menyelami para pendengarnya.
Zenitsu menelan ludah, dia melihat sekarang sudah tepat pukul 7.
Yang lain juga perasaannya mulai was-was. Di lain pihak, wajah Aoi sudah seputih kertas.
Kemudian Shinobu melanjutkan dengan suara bersarat misterius.
" Tok tok tok… terdengar suara pintu diketuk… lalu pintu kelas perlahan-lahan bergeser terbuka "
" Kemudian tampaklah wajah yang pucat dan suaranya yang lirih berkata, 'apakah masih ada orang disini?' "
BLLAARRRR!!!
Tiba tiba seluruh ruangan berubah menjadi gelap gulita.
" Gyaaaaaaaa!!!!!!!! " Zenitsu yang menjerit paling keras lalu langsung merangkul Tanjirou yang ada disebelahnya.
Sementara Aoi mulutnya berkomat-kamit ucapan yang tidak jelas.
Kanao berujar pelan
" Mati lampu? " wajahnya tak menunjukkan ketakutan samasekali.
Ctes!
Sebatang lilin dinyalakan oleh Shinobu yang entah ia dapat darimana dengan korek api.
Pendar cahayanya tidak begitu terang, namun cukup untuk dapat melihat wajah semua temannya kembali.
" Semua masih disini kan? " tanya Shinobu.
" Yaaaaa… " suara Aoi seperti hampir menangis.
" Iya kami semua masih disini Shinobu-san " ujar Tanjirou.
Sedangkan Zenitsu bahkan tidak sanggup membuka mulutnya.
" Ceh kenapa mati lampu sih " gerutu Inosuke sebal.
" Padahal kita sudah sengaja nggak matiin lampu tapi malah mati lampu sungguhan " ujar Aoi.
" Ya, untung Neesan bawa lilin " ujar Kanao.
Tadinya sebenarnya mereka mau cerita horror dalam keadaan gelap dan menyalakan lilin untuk mendukung suasana.
Namun karena Zenitsu dan Aoi tidak sanggup makanya mereka bercerita sambil tetap menyalakan lampu.
" Apa ini… seharusnya ini gak terjadi " wajah Shinobu berubah serius.
" Lebih baik kita pulang saja " celetuk Giyuu yang baru bersuara.
" Hmm, benar juga lagian sudah larut juga ya " ujar Shinobu.
" Yokatta " Zenitsu menghela nafas lega.
" Cih tidak seru " ujar Inosuke.
" Kau benar benar ya " gumam Aoi sambil menatap malas kearah Inosuke
" Minna, dengar sesuatu barusan? " tiba tiba Zenitsu menaruh jari telunjuk di bibirnya. Ya, pendengarannya cukup tajam dan ia langsung merinding ketakutan.
Semuanya diam, memasang telinga baik-baik.
Tok tok
" U-uso " suara Aoi tanpak tidak percaya.
Tok tok
Suara itu terdengar sekali lagi. Dari arah pintu.
" Pertama mati lampu lalu suara ketokan di pintu " kata Aoi takut-takut.
" Usoo " erang Zenitsu sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Tok tok
Mereka semua menahan nafas.
" Apa masih ada orang disini…? "
Terdengar suara lirih milik seorang murid perempuan.
" Gyaaaaaaa!!! " jerit Zenitsu.
" Kyaaaaaa!!!! " Aoi langsung berlindung dipunggung Inosuke, Inosuke yang kaget hanya was was, siapa? Siapa yang ada didepan pintu kelas mereka?
Tiba-tiba pintu bergeser dan-
" Aaaaaaaaahhh!!! " teriakan mereka semua kecuali Kanao , Shinobu dan Giyuu.
Cteks!
Lampu kembali menyala. Dibalik pintu ada seorang gadis mungil yang sangat mereka kenal.
" Onniichan! "
" Nezuko!!! "
" Huaaaaa Nezuko-chaan " rengek Zenitsu.
Ternyata Nezuko, adik Tanjirou.
" Ara ara, kenapa kalian semua belum pulang? " Kemudian muncul seseorang disebelah Nezuko.
" Kanae... " ujar yang lain.
" Nanda, ternyata mereka berdua kukira hantu atau semacamnya " ujar Inosuke.
" Fyuhh, Nezuko-chan kau hampir membuatku jantungan " ujar Aoi.
" Hehe gomen " ujar Nezuko.
" Nezuko-chan kenapa masih disini? " tanya Kanao.
" Benar, kenapa Nezuko? " tanya Tanjirou.
" Ah, diluar hujan sebenarnya aku sudah pulang daritadi tapi aku kembali lagi buat jemput Onniichan, hora Onniichan gak bawa payung kan? " jelas Nezuko.
" Soukka, gomen Nezuko " ujar Tanjirou.
" Tidak apa-apa hehe lagian tadi dijalan aku ketemu Kanae-san jadi kita barengan " ujar Nezuko.
" Betul, aku kesini tentu saja mau menjemput Shinobu dan Kanao " ujar Kanae sembari memperlihatkan payung yang ia bawa.
" Soukka, gomenne neesan " ujar Shinobu.
" Arigatou neesan " ujar Kanao.
" Tidak apa, aku sempat khawatir kufikir terjadi sesuatu pada kalian ternyata kalian baik-baik saja " ujarnya dengan nada khawatir.
" Kami baik-baik saja kok " ujar Shinobu sementara Kanao hanya mengangguk.
" Yokatta " ujar Kanae.
" Demo, aneh tidak sih? Bukankah ini sudah jam 7 malam? Kenapa satpam tidak mengunci gerbang atau mengunci kelas ini ya? " ujar Aoi.
" Mungkin saja dia lupa " ujar Inosuke asal.
" Dia bukanlah dirimu, baka " celetuk Zenitsu.
" Mungkin karena persiapan festival untuk besok " ujar Tanjirou memberi alasan yang logis.
" Ah benar juga " ujar Aoi.
" Jja, Onniichan ayo pulang " ujar Nezuko sembari mendekati kakaknya.
" Baiklah, ayo minna " ujar Tanjirou.
" Ayo kita pulang bersama Nezuko-chan " ujar Zenitsu dengan nada khasnya.
Nezuko hanya tersenyum manis menanggapinya.
' Ah lagi lagi aku deg-degan, kenapa sih ' batin Nezuko.
Mereka semuapun berdiri dan mengambil tas masing-masing.
" Ah, matte, sebelum pergi, gimana kalau kita semua melakukan ritual Sachiko-san? " usul Shinobu.
Kemudian Shinobu mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan sebuah boneka kertas berbentuk manusia yang sederhana.
" Sachiko-san? " tanya Kanao bingung.
" Kayaknya aku pernah dengar deh " ujar Aoi.
" Apa itu? " tanya Nezuko.
" Siapa Sachiko-san? Dan kenapa pakai boneka kertas? " tanya Tanjirou.
" Boneka kertas? " ujar Inosuke.
" Kamu menggunting boneka kertas ini sendiri ya? " tanya Kanae.
" Iya " ujar Shinobu.
" Ah aku tahu, akhir-akhir ini ritual itu lagi populer di kalangan murid-murid SMP dan SMA " ujar Aoi baru ingat.
" Oh ritual itu, aku tau, katanya bisa mengabulkan satu permintaan kan? " ujar Kanae.
" Benar, jika kita melakukannya dengan benar, kita semua akan bisa bersahabat selamanya " jelas Shinobu.
" Apakah itu mitos? " tanya Giyuu yang agak kudet.
" Sembarangan, bukan kok " ujar Shinobu.
" Hee, seperti jimat begitu ya? " tanya Tanjirou.
" Benar " ujar Shinobu.
" Wah! Aku mau mencobanya! " ujar Nezuko.
" Kalau Nezuko-chan melakukannya aku juga mau " sahut Zenitsu.
" Aku juga, Kanao juga kan? " tanya Tanjirou.
Kanao hanya mengangguk dengan senyum, pipinya agak merona.
" Maksudnya seperti apa sih? " Inosuke masih tidak paham.
" Hmm, seperti pinky promise, janji yang harus ditepati selamanya " ujar Aoi mencoba menjelaskan.
" Yosh, aku juga mau " ujar Inosuke.
" Aku juga " ujar Aoi.
" Jja, aku juga " ujar Kanae.
" Tomioka-san? " Shinobu menatap Giyuu dengan senyuman penuh arti.
" Hahh, baiklah aku juga " ujarnya sembari menghela nafas.
" Baiklah, ayo semuanya berkumpul mengelilingi boneka kertas ini " ujar Shinobu.
Mereka semua berkumpul membentuk sebuah lingkaran.
" Di kepalamu, ulangi kalimat 'Sachiko-san, kami mohon kabulkan keinginan kami ' Ulang sebanyak sembilan kali. Kalian harus mengatakan satu untuk setiap orang yang hadir disini. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, atau kalau gak jimatnya gagal " jelas Shinobu.
" Ngg, apa yang terjadi kalau jimatnya gagal? " tanya Zenitsu takut-takut.
" Semua ini kedengarannya mencurigakan " kata Giyuu dengan sorot mata tajam.
" Pokoknya jangan sampai gagal! " ujar Shinobu.
Mereka semua pun mengangguk.
" Baiklah, ayo kita mulai. Kalian semua tahu mantranya kan? 'Sachiko-san, kami mohon kabulkan keinginan kami' Ulangi sebanyak sembilan kali dalam hati "
Shinobu memperhatikan wajah semua temannya.
Beberapa ada yang mengangguk dan ada yang menarik nafas dalam.
" Siap? Mulai! "
Hening panjang.
Zenitsu " ………………………………. "
Nezuko " ………………………………. "
Tanjirou " ………………………………. "
Kanao " ………………………………. "
Inosuke " ………………………………. "
Aoi " ………………………………. "
Giyuu " ………………………………. "
Shinobu " ………………………………. "
Kanae " ………………………………. "
" Semuanya sudah mengatakan sembilan kali? " ujar Shinobu memecah keheningan.
" Ya " ujar mereka semua.
" Cepat!! Kalau kita tidak cepat selesaikan, takutnya aku akan mengatakannya sekali lagi di kepalaku! " ujar Inosuke.
" Baiklah, kalau begitu semuanya pegang ujung kertasnya, di bagian mana saja " ujar Shinobu.
" Seperti ini? " tanya Aoi.
" Betul, sekarang pegang dengan kencang, jangan dilepaskan. Pada hitungan ketiga kita akan menariknya bersamaan sampai sobek oke? " ujar Shinobu.
Shinobu mulai memberi aba-aba.
" Ichi, ni, san! "
Srek!
Boneka kertas itu telah robek menjadi 9 bagian.
" Nah sudah selesai! Pastikan kalian simpan baik-baik potongan kertas itu. Masukkan ke dompet atau dimana saja, tapi jangan dihilangkan " jelas Shinobu.
" Hmm… jadi kertas boneka ini punya semacam arti? " tanya Tanjirou sambil mengamat-amati potongan kertas miliknya.
" Benar, selama kita memilikinya kita bersembilan akan selalu saling terhubung selamanya. Itulah tujuan dari jimat ini " ujar Shinobu.
" Soukka, seperti pinky promise kan Wayoi? " tanya Inosuke.
" Hah, aku Aoi! Ya seperti itu " ujar Aoi.
Inosuke hanya tersenyum simpul, melihat itu Aoi memalingkan wajahnya yang memerah, Nezuko tersenyum memperhatikannya.
' Apakah Aoi juga begitu ya? Hmm akan kutanyakan nanti ' batin Nezuko.
" Wah keren, benar kan Kanao? " ujar Tanjirou tanpak bersemangat.
" I-iya, k-keren " ujar Kanao agak gugup.
Nezuko semakin yakin kalau Aoi dan Kanao tengah mengalami hal yang mungkin serupa (?) dengannya.
" Nezuko-chan, dengan begini kita akan bersama selamanya " ujar Zenitsu dengan nada bahagia.
" Hehe, sou ne " ujar Nezuko.
" Akan kusimpan baik-baik " ujar Kanae.
" Hehe aku juga " ujar Shinobu.
" Baiklah, kita harus pulang sekarang " ujar Giyuu mengingatkan.
" Hai " ucap mereka semua.
Namun...
Tiba-tiba ruangan terasa berguncang.
" Kyaaaa !!! " Aoi menutup Kepalanya kaget, Inosuke langsung mendekapnya reflek.
" Gyaaaaaa!! Nani nani " Zenitsu langsung menunduk.
" Gempa bumi?! " Tanjirou berusaha menyeimbangkan dirinya, tapi makin lama guncangannya bukannya makin mereda.
" Kyaaaa!! " Nezuko mulai takut, guncangannya terlalu kuat.
" Nezuko, berpegangan ! " ujar Tanjirou.
" G-guncangannya keras sekali! " ujar Kanao mulai merasa aneh.
" Minna, tenanglah " ujar Kanae berusaha menenangkan mereka.
" T-terlalu kuat " ujar Shinobu.
Prang!
Sebuah lampu jatuh. Pecahannya menggores kaki Nezuko.
" Aaaa!!! " teriak Nezuko berbaur antara rasa panik, ngeri, dan rasa sakit.
" Nezuko!! " Tanjirou yang hendak mendekati adiknya terjatuh karena guncangannya terlalu kuat.
" Nezuko-chan!!! " Zenitsu langsung mendekati Nezuko dengan gerakan cepat, ia sempat terjatuh karena guncangan semakin kuat namun ia tak peduli , merangkak pun ia lakukan demi menggapai Nezuko.
" Tanjirou, awas " Kanao mendorong sedikit tubuh Tanjirou, saat salah satu atap hendak mengenainya.
" A-arigatou Kanao " ujar Tanjirou.
Zenitsu berhasil mendekati Nezuko dan saat ia hampir sampai, tiba-tiba lantai yang dipijak Nezuko retak dan,
Brakk!!!
" Aaaaa!!! " Nezuko langsung menjerit karena ia langsung terjatuh, namun,
Grep!
Zenitsu langsung memegang tangannya.
" Nezuko!! " teriak Tanjirou panik.
" Z-zenitsu-san " ujar Nezuko ketakutan.
" Daijobu, aku akan melindungimu " Zenitsu pun menarik Nezuko sekuat tenaganya.
" Hhahh hah hah " Nezuko berusaha naik keatas.
" Sedikit lagi, Nezuko-chan " ujar Zenitsu.
Brukk
Nezuko berhasil naik kembali ke atas, ia langsung memeluk Zenitsu dengan tubuh yang gemetaran.
" Hiks aku takut Zenitsu-san hiks " Nezuko benar benar takut, hampir saja ia celaka.
" Tenanglah, jangan takut " Zenitsu yang biasanya ketakutan mengesampingkannya dulu, mana mau ia melihat gadis yang berada dipelukannya ketakutan apalagi tubuhnya sampai gemetaran.
" Hhaaah arigatou Zenitsu " ujar Tanjirou lega.
Yang lain pun langsung menghela nafas lega, untung saja Zenitsu sempat kalau tidak bisa celaka.
" Semuanya, tetap tenang! Bersembunyilah dibawah meja! Cepat! " ujar Giyuu kemudian dia menarik Shinobu agar bersembunyi dibawah meja.
" B-baik! "
Yang lain pun mulai menunduk dan bersembunyi dibawah meja.
Lampu-lampu kelas pun mulai berjatuhan.
Prang!
Prang!
Prang!
" Aaaaahhhhhhhhh!! " Mereka semua berteriak dan menjerit. Panik menyesaki dada mereka.
Tapi teror ini tidak berakhir sampai disini.
DEG!!!
" A-apa…?! " Zenitsu.
" L-lantainya! " Tanjirou.
" Kau bercanda kan! " Inosuke.
Lantai kelas mulai retak.
Retakannya makin melebar.
Mulai menjalar dari ujung ke ujung.
" Tidak! " Nezuko semakin memeluk erat Zenitsu ketakutan.
" K-kenapa " Kanao memegang ujung seragam Tanjirou.
" S-sonna " Aoi semakin ketakutan.
" Gak mungkin! Gempa bumi sebesar apa?! " ujar Shinobu.
" Sebenarnya, ini a-apa " Kanae yakin kalau ini bukanlah gempa bumi.
Seharusnya mereka segera lari. Tapi pijakan yang terus berguncang membuat tubuh mereka bahkan tidak bisa berpijak dengan benar.
Situasi tidak memungkinkan untuk lari.
Tiba-tiba lantai tempat Tanjirou dan Kanao berpijak rubuh.
" Waaaaaaaa! " Tanjirou.
" Aaaaaa! " Kanao.
Tanjirou sempat berpegangan pada tepi. Dan tangannya yang satu lagi memegang Kanao.
" Akkhhhh…!! " Tanjirou berusaha bertahan dengan segenap tenaga.
Tangannya gemetar dengan hebat harus menahan berat dua orang sekaligus.
" Onniichan! Kanao-chan! " Nezuko hendak menolong mereka diikuti Zenitsu, namun,
Tiba-tiba seluruh lantai kelas runtuh.
" E-eh? "" !!! "
" AAAAAAAAHHHHHHHHHHH!!!!!! "
Mereka semua jatuh ke dalam lubang gelap yang mengantar mereka menuju dimensi yang berbeda.
To be continued.
