Zenitsu ingat sekarang, saat itu kelas tiba-tiba berguncang dan...
DEG!!!
" N-nezuko-chan "
Buru-buru dia bangun dan ketika sudah berdiri sepenuhnya dia melihat seorang gadis terbaring tak jauh darinya dan tanpak tak sadarkan diri.
" N-nezuko-chan! " teriak Zenitsu panik.
Zenitsu segera berlari mendekatinya.
" Nezuko-chan! Nezuko-chan! " teriak Zenitsu.
Tapi Nezuko bahkan tidak bergeming oleh panggilannya.
Zenitsu segera menghambur mendekati Nezuko dan berlutut untuk memeriksa keadaannya.
Dia melihat pernafasan Nezuko yang masih stabil.
' Y-yokatta dia masih bernafas ' batin Zenitsu.
" Nnng... " Nezuko mengernyitkan dahi kemudian membuka matanya perlahan, melihat itu Zenitsu langsung berujar.
" Nezuko-chan? "
" Uh… Z-ze…nitsu...san? K-kokoa " tanya Nezuko.
" Hahh yokatta, daijobu Nezuko-chan? " tanya Zenitsu tanpak khawatir.
Nezuko bangun dan melihat situasi sekeliling.
" Eh? Dimana kita? Apa yang terjadi? " tanya Nezuko.
" Aku tidak tau, demo ini seperti sekolahan tapi bukan sekolah kita " ujar Zenitsu getir.
Dia sendiri tidak tahu jawaban pastinya.
Setelah gempa bumi besar, lantainya rubuh, dan sekarang dia menemukan dirinya berada di tempat ini.
Dan selain Nezuko dia belum melihat temannya yang lain.
Zenitsu mengeluarkan ponselnya.
" Jam sembilan. Kenapa tidak ada sinyal disini? " ujarnya, tapi setidaknya hp nya tidak rusak atau mati.
Lalu dia berjalan menuju jendela.
" Nggghhh! Akh! Gak mau kebuka! "
Dia sudah mencoba mendorong, menarik, menggeser, tapi jendela itu sama sekali tidak kebuka.
Jendela itu tanpak tua dan kumuh, namun sangat kokoh dan kuat, apa-apaan itu.
" Jendela-jendelanya tertutup rapat. Dan diluar gelap sekali. Aku hampir gak bisa melihat apa-apa "
Nezuko masih menatap tidak percaya.
" Apa yang terjadi… O-onniichan dimana Onniichan " ujar Nezuko khawatir akan kakaknya.
" Daijobu Nezuko-chan, Tanjirou dan yang lain pasti baik-baik saja, mungkin mereka ada diruangan lain " ujar Zenitsu mencoba menenangkan Nezuko, walau ia sendiri menahan mati matian rasa takutnya.
Nezuko hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya.
Di dalam ruangan ini terdapat sebuah papan tulis besar juga susunan meja dan kursi yang tampak familiar.
" Tenang saja ada aku disini " ujar Zenitsu.
" Arigatou Zenitsu-san " ujar Nezuko tulus.
Zenitsu hanya tersenyum lembut kemudian mulai melihat sekeliling ruangan.
Tiba-tiba Zenitsu tersentak kaget.
" Eh? Doushite Zenitsu-san? Kamu menemukan sesuatu? " tanya Nezuko yang ikut kaget.
Zenitsu menunjuk dengan jari gemetar.
" I-itu…! "
Sebuah selebaran yang terpasang di tembok.
Tertulis dengan hurus besar dan tebal dan warna pudar.
Pemberitahuan untuk seluruh murid Ufotable.
" I-itu nama sekolah yang sudah ditutup dan dirubuhkan " ujar Zenitsu.
Mendengar nama itu mendadak kengerian mulai merambat di hatinya.
" U-uso! Apa yang terjadi?! Dimana kita?! Dimana teman-teman yang lain?! " seru Nezuko dengan suara yang mulai tidak terkontrol.
" Tenang Nezuko-chan, jangan histeris begitu! " Zenitsu memegang lengannya.
Nezuko mengangkat wajahnya, dan matanya bertemu dengan mata emas Zenitsu yang bersorot cemas.
Tatapan lembut itu... Entahlah, Nezuko sangat menyukai mata emas Zenitsu, terutama tatapan lembutnya.
Nezuko pun menarik nafas dalam beberapa kali, akhirnya dia kembali tenang.
" G-gomen " ujar Nezuko.
" Daijobu, kamu tidak sendirian " ujar Zenitsu.
" H-hmm, A-arigatou Zenitsu-san " ujar Nezuko.
Zenitsu mengangguk dan berujar,
" Nezuko-chan, bagaimana kalau kita mulai mencari yang lain dan mencari jalan keluar bersama? "
" Jalan keluar? " tanya Nezuko, apa ada jalan keluarnya? Entah kenapa Nezuko memiliki firasat buruk soal ini.
" Kita tidak bisa terus diam disini. Kita harus melakukan sesuatu " ujar Zenitsu, demi apapun ia berusaha mati matian menahan ketakutannya sendiri, jika ia bersikap seperti biasanya berteriak ketakutan dan bertingkah pengecut, bagaimana dengan Nezuko?
Ia harus menahannya, ia harus kuat, dan ia harus melindungi gadis bermarga Kamado ini apapun yang terjadi.
" B-baiklah kalau begitu ayo, siapa tahu kita juga bisa bertemu Onniichan dan yang lain " ujar Nezuko.
Zenitsu tersenyum hangat kemudian ia berjongkok dan membelakangi Nezuko.
Melihat itu Nezuko bingung, sedang apa Zenitsu?
" Naiklah kepunggungku Nezuko-chan " ujar Zenitsu.
Blush!
Wajah Nezuko memerah.
" E-eh k-kenapa? " tanya Nezuko gerogi.
" Kakimu masih terluka, nanti kita cari UKS dan mengobatinya, untuk sekarang biar kugendong dulu " ujar Zenitsu.
Ah, benar juga.. Kakinya terluka karena pecahan lampu dikelas tadi.
' Aku saja lupa kalau aku terluka ' batin Nezuko.
" D-demo, aku nantinya merep-" ucapan Nezuko dipotong cepat oleh Zenitsu.
" Ssshh, tidak repot samasekali, ayo " ujar Zenitsu.
Nezuko hanya tersenyum malu-malu kemudian mengangguk, iapun mulai bersandar pada punggung Zenitsu dan memeluk lehernya.
" G-gomen " ujar Nezuko.
" Tidak apa, harusnya aku yang maaf, seharusnya aku bisa melindungimu tapi aku malah membiarkanmu terluka " ujar Zenitsu.
" Z-zenitsu-san " ujar Nezuko.
" Kalau gitu kita berangkat sekarang, pegangan ya " ujar Zenitsu.
" Lain kali, aku takkan membiarkanmu terluka lagi, aku janji " lanjut pria berambut kuning itu dengan nada serius.
Nezuko hanya tersenyum lembut seraya berujar.
" Arigatou... "
Zenitsu pun sambil menggendong Nezuko dipunggungnya mulai melangkah keluar kelas.
Lorong yang panjang dengan penerangan yang minim terbentang di depan mata mereka.
Lantai bangunan ini terbuat dari kayu. Dan beberapa lubang menganga dimana-mana.
Zenitsu bersumpah, ini adalah hal paling mengerikan yang pernah ia lihat dan alami. Dia tidak boleh mengacau, dia harus tahan.
' Tahan... Demi Nezuko-chan ' batin Zenitsu.
" Z-zenitsu-san? " tanya Nezuko khawatir.
" Ah d-daijobu, aku baik-baik saja " ujar Zenitsu.
Nezuko mengangguk pelan.
Kemudian Zenitsu pun memberanikan diri melangkah maju. Lantai kayu menimbulkan bunyi derit yang menggema saat ia melangkah.
" Bangunan ini tua sekali ya, lantainya saja terbuat dari kayu " ujar Zenitsu.
" Benar, se tua apa bangunannya " ujar Nezuko.
Di sepanjang lorong terdapat deretan kelas dan papan-papan nama kelas di atasnya.
Bangunan ini benar-benar tidak terawat.
Di deretan paling ujung mereka menemukan ruang UKS.
Zenitsu menggeser pintunya dengan jantung berdebar-debar. Lalu Zenitsu memberanikan diri melangkah masuk.
Kosong.
Mereka tidak menemukan siapa-siapa disana.
Kemudian Zenitsu mendudukan Nezuko di ranjang UKS.
" Gomen kasurnya kotor demo tidak ada tempat bersih disini, tahan sebentar dan tunggu disini, aku akan mencari alkohol dan plester, semoga ada " ujar Zenitsu.
" Arigatou Zenitsu-san " ujar Nezuko sembari tersenyum manis.
Zenitsu membalas senyumannya dan mengelus pucuk kepala Nezuko lembut.
Kemudian Zenitsu pun berjalan menuju lemari kaca untuk mencari obat.
Nezuko mengernyit karena seprai kasur itu pun kotor, tapi ini bukan waktunya untuk mencari tempat yang nyaman, seperti yang dikatakan Zenitsu tadi, disini tidak ada tempat yang bersih, semuanya tanpak kusam, usang dan kotor.
Dan entah kenapa dia merasa pusing.
Barangkali lelah dengan semua kejadian hari ini.
Menjemput kakaknya karena hujan turun dan ia tau kalau kakaknya lupa membawa payung, lalu sekarang terdampar di tempat ini.
Kemudian mendadak pikirannya melayang begitu saja pada Keluarganya.
Zenitsu tanpa tahu menahu keadaan Nezuko masih berusaha mencari obat di antara sekumpulan obat.
" Are, disini ada obat demam, obat sakit kepala, kompresan, balsem dan vitamin " gumam Zenitsu.
Zenitsu menemukan sebotol obat merah di antara berbagai macam obat.
" Apa obat merah ini masih bisa dipakai? Jangan-jangan sudah kadaluarsa " Zenitsu membalik-balikkan botol itu untuk mengecek tanggal kadaluarsa.
Tapi dia tidak menemukannya. Mungkin sudah terlalu pudar untuk bisa dibaca.
Zenitsu tidak menyadari kehadiran seseorang yang semakin dekat di belakangnya, dengan sebuah obyek tajam di tangannya.
" Lebih baik jangan kalau begitu. Bangunan ini sudah tua, siapa tahu sudah lewat bertahun-tahun tanggal kadaluarsanya "
Zenitsu meletakkan kembali botol itu di tempatnya dan matanya menemukan sebuah plester.
Zenitsu memeriksanya, kelihatannya masih bersih karena plesternya masih terbungkus oleh plastik.
" Nah ini dia " Ketika Zenitsu setengah berbalik, mendadak lengannya sakit.
Sesuatu yang tajam menusuk lengannya.
Tsk!
Zenitsu meringis dan memegangi lengannya, kemudian melihat siapa penusuknya.
Nezuko berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri… dengan pisau yang berwarna merah di tangannya.
" E-eh? N-nezuko... Chan? Kenapa kamu- " Zenitsu jelas saja shock.
Darah mengalir dari lengan Zenitsu yang tertusuk. Hingga mengaliri lengan bawahnya dan menetes ke lantai.
" N-nezuko-chan, doushite! D-daijobu? " Mendadak Zenitsu tersadar ketika melihat ke dalam mata Nezuko.
Sorotan itu bukan milik Nezuko yang lembut, tapi dingin dan seperti ada nafsu membunuh.
Kalau saja Zenitsu tidak berbalik tadi mungkin yang tertusuk bukan lengannya.
" K-kerasukan? " gumam Zenitsu.
Tanpa memberinya waktu untuk berpikir lebih lama lagi, Nezuko menerjang sambil mengarahkan pisau itu ke arahnya.
" Arrgggh!!! "
( bayangin scene Nezuko pas jadi oni )
Zenitsu spontan menjatuhkan plesternya dan tepat pada waktunya berhasil menangkap tangan Nezuko yang menodongkan pisau padanya.
Ujung pisaunya hanya berjarak sedikit dari tenggorokannya, sedikit lengah ia bisa tamat.
Zenitsu terdesak ke belakang. Setengah bagian atas tubuh Zenitsu tergencet ke belakang.
" Uggh! "
Kedua tangan Zenitsu yang memegang tangan Nezuko gemetar.
Seperti menghadapi kekuatan orang lain.
' Ku-kuat! Dia seperti bukan Nezuko-chan! " batin Zenitsu.
" Nezuko-chan! Ganbatte! Jangan mau tubuhmu dikendalikan! "
" Ggrrr " Nezuko masih terus mendesak Zenitsu.
" Nezuko-chan! Kamu pasti bisa! Lawan! " ujar Zenitsu.
Tes!
Zenitsu melebarkan matanya.
Nezuko berlinang air mata saat ia mendengar suaranya tadi. Sorot matanya masih tetap sedingin tadi namun ia menangis.
" A-aa.. " ia berusaha berbicara namun yang ada hanya suara tertahan.
" Nezuko-chan... " ujar Zenitsu dengan nada lembut.
Brukk
" N-nezuko-chan "
Nezuko ambruk, ia pingsan tepat di atas Zenitsu dan pisau nya terlempar kebawah. Untuk sesaat Zenitsu bernafas lega.
Zenitsu mengedarkan pandangannya ke tiap sudut ruangan. Terutama melihat ke setiap daerah yang kurang penerangan.
Matanya bersorot tajam seakan waspada dan bersiap-siap kalau nanti akan ada makhluk halus yang mencoba mengganggu mereka lagi.
Lalu Zenitsu melihat pisau yang tergeletak di lantai tadi. Zenitsu segera meraihnya dan melemparnya jauh-jauh.
Kemudian Zenitsu segera mengobati luka di kaki Nezuko, untung saja tadi ia menemukan plester, pertama ia membersihkan dulu lukanya kemudian menempelkan plesternya.
Setelah itu ia mengecek suhu tubuh gadis itu, normal. Syukurlah ia hanya pingsan saja, tanpa membuang banyak waktu ia segera menggendong Nezuko dan keluar dari ruangan itu. Khawatir kalau ada mahluk yang hendak menganggu mereka lagi.
' Aku harus segera mencari yang lain '
Zenitsu menahan terus ketakutannya, ia kembali ke lorong yang gelap dan mengerikan itu, iapun memberanikan diri untuk berjalan maju.
To be continued.
