" Dimana mereka? Padahal beberapa menit yang lalu kita semua masih bersama-sama. Sejak tadi kita sudah berkeliling beberapa kali tapi masih juga belum ketemu mereka.
Lagipula sebagian ruang kelas ada yang terlihat mirip. Masaka sedari tadi kita hanya berputar-putar di tempat yang sama? " ujar Tanjirou, wajahnya menyiratkan kebingungan yang sangat, kenapa ia bisa berakhir ditempat ini?
Lorong yang sepi, gelap dan banyak bau-bau amis yang ia cium sejak tadi mengingat penciuman Tanjirou yang tajam, tentu saja bau-bau amis itu sangat menyiksa.
" Apakah Nezuko baik-baik saja, aku benar-benar khawatir " ujar Tanjirou lagi.
Sejak tadi hanya Tanjirou yang bicara, gadis disebelahnya hanya diam saja, dia memang jarang bicara sih, tapi,
" doushite Kanao? Kalau ada sesuatu katakan saja, jangan disembunyikan " tanya Tanjirou, tanpaknya gadis itu sedang menahan sesuatu sejak tadi.
" G-gomen Tanjirou, sebenarnya a-aku mau ke toilet " ujar Kanao dengan sedikit rona merah, malu.
" Eeeh? Jangan-jangan dari tadi kamu terus menahannya ya? " tanya Tanjirou, bisa-bisanya gadis ini menahannya. Itukan bahaya.
" I-iya " Kanao mengangguk.
" Baiklah, kita ke toilet. Tapi seharusnya kamu mengatakannya dari tadi. Tidak baik untuk kesehatan ditahan-tahan begitu! " ujar Tanjirou.
" G-gomen, aku cuma tidak mau membuat repot. Lagipula sekarang kita berada di tempat seperti ini " ujar Kanao.
" Tidak samasekali. Kita hanya perlu mencari toilet saja kan? Ayo " ujar Tanjirou.
Tak lama, mereka berdua pun menemukan toilet disana. Dan sesampainya di depan toilet.
Di depan pintu yang bersimbol perempuan itu terdapat berpuluh-puluh jimat yang menutupi pintu toilet.
Membuat pintunya susah dibuka. Tanjirou sudah mencoba mendorong-dorong lalu ganti menarik, bahkan mendobrak pintu itu, akan tetapi tetap tidak mau terbuka.
" Kenapa ada jimat segel di toilet? Terlebih kenapa kuat sekali, aku tak bisa membukanya " Tanjirou sudah mengerahkan tenaganya namun sia-sia, pintu itu sangat kokoh walau tanpak tua tapi pintu itu sangat kuat dan tak bisa dibuka.
Kemudian Tanjirou dan Kanao beralih ke toilet laku-laki dan kali ini toiletnya terbuka.
" T-terbuka, demo ini " ujar Tanjirou sembari menatap Kanao.
Wajah Kanao mengisyaratkan kalau ia sudah tidak tahan lagi menahannya.
" Kanao, pakai toilet ini saja tak apa kah? Lagipula disaat genting begini tidak akan ada yang berfikir macam-macam, terlebih tak akan ada yang melihat kok " ujar Tanjirou.
Baka.. Justru Tanjirou tau itu membuat Kanao malu bukan main, tapi ia takbisa menahannya lebih lama, mau tidak mau ia harus memakai toilet laki-laki.
" B-baiklah, aku pakai ini saja " ujar Kanao.
" Kalau gitu hati-hati ya, kalo ada apa-apa teriak saja aku akan menunggu disini " ujar Tanjirou.
Kanao hanya mengangguk kemudian masuk ke bilik toilet. Sementara Tanjirou menunggu didepan bilik toilet.
Ruangan yang minim cahaya itu sempat membuat Kanao hampir menarik diri.
Apalagi itu toilet laki-laki namun ia beranikan diri karena ia tau, ia tidaklah sendirian, ada Tanjirou yang menunggunya.
Saat itu Tanjirou tidak sadar kalau ada seseorang yang menghampirinya dari belakang tanpa bersuara. Kedua tangannya memegang sebuah balok kayu, kemudian diangkat tinggi-tinggi.
Tanjirou masih tidak menyadari kehadirannya.
Buk!!
Brukk!
Tanjirou merasa pusing. Pandangannya sekejap menjadi berkunang-kunang.
Dare? Batin Tanjirou.
Kanao yang mendengar suara langsung berujar.
" T-tanjirou? Daijobu? "
Hening.
Firasatnya buruk, ia cepat-cepat keluar setelah dirasa sudah selesai.
Kanao keluar dari bilik toilet dan ia melihat ke kanan dan ke kiri.
Tidak ada.
Tanjirou tidak ada.
" Tanjirou! " teriak Kanao masih berharap bahwa pria ber anting Hanafuda itu tiba-tiba akan muncul di hadapannya.
Namun, tidak ada.
" Tanjirou! " teriak Kanao sekali lagi.
Lama-lama kecemasannya berubah menjadi rasa takut. Tanjirou benar-benar tidak ada disana.
Kanao yakin, tadi ia sempat mendengar suara terjatuh yang cukup keras dan itu tepat didepan bilik toilet, jangan-jangan terjadi sesuatu pada Tanjirou?
Masaka... Ada orang yang menyerang Tanjirou? Orang? Ditempat seperti ini, Kanao jadi bingung ia bahkan tidak tau sedang ada dimana dan kenapa ia bisa berakhir disini, jelas sekali ini bukanlah sekolahannya.
Kemudian dia melihat sesuatu berwarna merah di dekat kakinya.
Percikan darah yang belum kering.
" M-masaka " gumam Kanao mulai takut, ia semakin yakin kalau seseorang telah menyerang Tanjirou, mungkin ia dibawa pergi oleh si penyerang.
Tidak ini bukan saatnya Kanao takut ia harus menyelamatkan Tanjirou.
" Matte Tanjirou " Kanao segera berlari keluar kamar mandi dan ia kembali ke lorong yang sepi dan gelap tadi.
Kemana? Dia harus ke arah mana? Kalau saja Tanjirou ia pasti akan mencari dengan mencium aroma karena penciuman tajamnya tapi Kanao tidak memiliki penciuman tajam.
Kanao mengepalkan tangannya dan ia hanya berlari ke asal arah, semoga ia bisa menemukannya.
' Tanjirou, kumohon jangan sampai terluka ' batin Kanao." Kyaaa!!! "
Entah sudah berapa kali Aoi melihat obyek menyeramkan yang berada di depannya. Kali ini dia baru saja melihat sebuah ember yang isinya organ tubuh manusia yang jelas saja mengerikan juga bau amis yang menguar membuatnya mual.
" I-inosuke, kamu jangan jauh-jauh dari aku! " ujar Aoi dengan suara gemetaran menahan takut.
Grep!
" E-eh " Aoi langsung memerah.
Ya, Inosuke mengenggam tangannya.
" Aku tidak mau kau berjalan lambat terlebih berhentilah memperhatikan hal-hal menjijikan itu, kau hanya membuat dirimu semakin takut " ujar Inosuke.
" D-demo, seberapa kalipun aku menghindar benda menjijikan itu ada dimana-mana " gerutu Aoi kesal.
" Benda itu tidak akan tiba-tiba hidup dan menangkapmu juga, sudahlah kita harus cepat, jangan dilihat walau ada didepanmu " ujar Inosuke.
" Hahh " Aoi hanya menghela nafas, setidaknya ia tidak sendirian, ada Inosuke yang cukup berani kalau ia terjebak dengan Zenitsu mungkin saja ia akan semakin takut mengingat Zenitsu itu penakutnya bukan main.
" Kenapa kita bisa berada di tempat menyeramkan seperti ini " ujar Aoi, seingatnya ia memang berada disekolah tapi bukanlah sekolah menyeramkan seperti ini, ia jelas tau kalau ini bukanlah sekolahannya.
" Itulah yang ingin kutahu. Aku sendiri masih tidak percaya ini kenyataan. Tapi sekarang kita harus mencari Monitsu dan yang lain dulu " ujar Inosuke.
" Zenitsu bukan Monitsu, hah kau ini selalu saja salah menyebut nama " ujar Aoi tak habis fikir.
" Gah urusai na " ujar Inosuke sebal.
Aoi hanya menghela nafas panjang.
Setelah berjalan tanpa tujuan, keduanya melihat cahaya samar dan sebuah bayangan besar dari sudut lorong.
Bayangan itu tampak seperti monster yang siap menerkam mereka.
" A-apa itu " Aoi berdiri merapat dan meremas lengan seragam sekolahnya.
Inosuke menyipitkan mata dan memperhatikan dengan lebih seksama.
Bayangan itu tampak menari-nari.
Inosuke dan Aoi pun memberanikan diri untuk mendekat. Sambil tetap berpegangan tangan mereka berjalan perlahan-lahan dan berbelok di sudut lorong itu.
Dan...
" Eh? Lilin? " ujar Aoi.
Ternyata benar, bayangan yang menari-nari itu akibat dari cahaya lilin yang tertiup angin.
Dan tidak jauh dari sana ada sebuah kursi tergeletak begitu saja. Karena itu timbul bayangan yang mengerikan.
" Nanda… cuman lilin " ujar Inosuke.
" Chotto matte, lilin ini… bukannya ini lilin yang dibawa Shinobu-san? " tanya Aoi memastikan.
" Ah iya, aku rasa aku melihat lilin ini tadi saat dia bercerita horror " ujar Inosuke.
" Kalau begitu Shinobu-san tadi di dekat sini " ujar Aoi tanpak senang.
" Mungkin saja dia masih di dekat sini " ujar Inosuke.
Aoi dan Inosuke saling berpandangan kemudian mengangguk. Mereka berjalan cepat dan melirik kesana kemari.
Mencari sosok Shinobu di sekitar situ.
" Shinobu-san! " teriak Aoi.
" Doko da! " teriak Inosuke.
Tapi sia-sia saja mereka memanggil. Tidak ada tanda-tanda Shinobu selain lilin yang ditinggalkan disana.
" Sepertinya waktu kita tidak tepat " ujar Aoi.
" Jadi? Bagaimana sekarang? " tanya Inosuke.
" Lebih baik kita periksa ruang-ruang kelas yang kita lewati, siapa tahu ada petunjuk " ujar Aoi.
Keduanya sepakat untuk memeriksa sebuah kelas yang tidak terkunci.
" Kelas ini lebih mirip seperti kuburan yang tak terawat. Lubang menganga dimana-mana. Meja dan kursi yang hancur.
Apalagi suasananya sangat sunyi, sehingga mendengar suara benda bergerak saja bisa membuat kaget " ujar Aoi.
Sementara Inosuke, ia menemukan sebuah buku yang tergeletak begitu saja, karena penasaran dia membuka-buka halamannya.
" Ngg? Buku apa ini? Seorang pria tertuduh atas pembunuhan terhadap 4 anak kecil " ia membacanya dengan suara agar Aoi bisa mendengarnya juga.
" Pada tanggal xx bulan xx, polisi mendapat sejumlah laporan bahwa beberapa keluarga melaporkan anak mereka yang masih duduk di bangku SD tidak pulang ke rumah seusai sekolah. Kemudian keesokan harinya tubuh anak-anak tersebut ditemukan tak bernyawa di sekolah Ufotable "
" Hii, seram… I-inosuke! Jangan bacakan artikel macam itu! Baca dalam hati saja! " ujar Aoi, dasar cowok bar bar.
" Iya iya " ujar Inosuke malas.
Pelakunya adalah seorang pemuda yang tak mengenal korban-korbannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan rumah sakit, diketahui pemuda tersebut mengalami gangguan jiwa yang kemungkinan menjadi penyebab atas tindakannya tersebut.
Dua anak yang meninggal berumur 8 tahun, sedangkan dua anak yang lain umur 7 dan 9 tahun.
Kemudian tertulis nama-nama korban yang meninggal.
Tersangka menyiksa korban dengan cara yang amat kejam, seperti menusuk-nusuk perutnya, menusuk matanya, memotong lidah, dan memotong setengah kepalanya.
Insouke langsung menutup buku itu merasa muak dengan isinya, apa-apaan itu.
" Dasar psikopat " gerutu Inosuke.
" Apanya? " tanya Aoi.
" Tidak, bukan apa-apa " ujar Inosuke, ia tau kalau Aoi pasti takkan sanggup mendengarnya.
" Baiklah, oh ya Inosuke ngomong-ngomong, aku capek, bisakah kita istirahat sebentar ya, kumohon " ujar Aoi memelas.
" Baiklah, kita duduk disini sebentar " ujar Inosuke.
Mereka berdua duduk di lantai kayu itu.
Aoi mengeluarkan ponselnya sekali lagi. Cahaya redup pada layar ponselnya langsung menerangi wajahnya ketika dinyalakan.
Matanya memeriksa batang sinyal yang terpampang di tepi ponsel. Tapi percuma, tetap tak ada sinyal.
Aoi menghela nafas, mematikan ponselnya, dan memasukkan kembali ke sakunya. Dia juga sudah tidak tahan dengan tempat ini dan ingin segera pulang.
Dilihatnya Inosuke sedari tadi terus terdiam. Aneh Inosuke bisa setenang itu.
" Ne, Inosuke " ujar Aoi memecah keheningan.
" Nani? " tanya Inosuke.
" Apakah kita semua akan kembali pulang? " tanya Aoi.
" Hah? Apa-apaan maksudmu? Tentu saja kita akan pulang " ujar Inosuke yakin.
" D-demo, apa kau tak merasa aneh? Tiba-tiba kita terjebak disini dan kita hanya berdua saja disini, apa teman teman kita yang lain terjebak juga disini? Atau mungkin hanya kita saja yang terjebak disini? " ujar Aoi.
" Kurasa yang lain juga terjebak disini, kau ingat kan? Lantai kelas kita rubuh dan kita semua masuk kedalam, mungkin kita terjebak karena itu " ujar Inosuke agak bingung juga.
" Benar juga, kita semua terjatuh dan berakhir disini, apakah mereka semua baik-baik saja? A-aku takut " ujar Aoi.
" Kau ini terlalu berfikir banyak, sudahlah kita hanya perlu mencari mereka dan mencari jalan keluar dari sini " ujar Inosuke
Aoi hanya mengangguk.
" Kau tidak usah takut, kau tidaklah sendirian, kau lupa? Ada aku disini " ujar Inosuke.
Aoi langsung menatap Inosuke yang menatapnya tajam.
Ah, tatapan tajam itu selalu membuat Aoi salah tingkah.
" Aku akan menjagamu jadi jangan takut, kalau ada hantu atau monster sekalipun akan kulawan " ujar Inosuke.
Dasar cowok bar bar.
" Pfft, benar juga baiklah kurasa kita sudah cukup istirahat , soshite Arigatou na Inosuke " ujar Aoi dengan senyuman manis.
Blush!
Inosuke merasakan panas menjalar diwajahnya.
" Y-ya, kalo begitu ayo pergi dari sini " ujarnya.
Kemudian Inosuke dan Aoi beranjak dari ruang kelas itu. Menelusuri area yang belum mereka telusuri hingga mereka sampai di area yang seperti ruang locker.
" N-ne Inosuke kamu mendengar suara hujan kan? " tanya Aoi takut-takut.
" Ya, kurasa itu memang hujan " Inosuke berjalan menuju pintu yang arahnya berseberangan dari pintu mereka masuki.
Ketika dibuka ternyata dugaannya benar, diluar hujan deras. Dan ada sebuah kolam renang yang luas di luar sana.
" Sekarang gimana? " tanya Aoi setelah melihat keadaan diluar.
" Kau tetap tunggu disini saja, aku akan pergi memeriksa kolam renang sebentar " ujar Inosuke kemudian.
" Eh? " Inosuke membaca perasaan enggan yang tersorot di mata Aoi.
" Kau lihat? Diluar sana hujan dan kau tidak boleh hujan-hujanan, aku tak mau kau sakit dan basah kuyup " ujar Inosuke.
Seketika wajah Aoi memerah.
" D-demo kamu sendiri " ujar Aoi.
" Heh, jangan meremehkanku, fisikku ini kuat. Terkena hujan deras tidak pernah membuatku jatuh sakit " ujar Inosuke.
" Haahh, baiklah… cepat kembali ya? " ujar Aoi.
" Ya "
Kemudian Inosuke membuka pintu dan berjalan keluar. Air hujan langsung membasahi kepala dan sekujur tubuhnya, tapi dia tetap melangkah pergi.
Setelah pintu kembali ditutup, derasnya suara hujan agak teredam.
Aoi berpikir apa yang sebaiknya dilakukan sambil menunggu Inosuke.
Aoi tahu seharusnya dia tidak usah melakukan hal-hal yang tidak perlu untuk menjaga rasa takutnya agar tetap berada di titik yang masih dapat ditoleransi.
Tapi dia malah melihat-lihat sekeliling ruangan yang sama sekali tak terawat lagi.
Tempat bilas yang dipenuhi begitu banyak rambut yang tak jelas asal usulnya. Dan locker yang bernoda darah.
Aoi menggigit ibu jarinya dengan gugup dan matanya tidak sengaja melihat locker setengah terbuka yang kosong.
Aoi sadar dia seharusnya berhenti melihat-lihat sesuatu yang bisa mengagetkannya sewaktu-waktu, tapi dia malah berjalan kesana seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata dan membuka locker setengah terbuka itu.
Tidak ada apa-apa di dalamnya.
Tapi setelah melihat locker kosong itu perasaan Aoi jadi aneh. Perasaan seolah di hipnotis atau tubuhnya diambil alih. Pikirannya seperti tersugesti.
Senyum misterius tersungging di bibir Aoi.
Sementara di ruang kontrol kolam renang, Inosuke tidak menemukan apa-apa.
Di kolam renang tadi juga tidak ada apa-apa. Terlebih kolam renang itu dibatasi pagar pembatas yang cukup tinggi.
Tidak mungkin bisa dipanjat. Kemudian dibalik pagar pembatas yang tersisa sejauh mata memandang hanya pepohonan seperti hutan. Seolah mereka benar-benar terisolasi disana.
Di dalam ruang kontrol ada sebuah tuas yang bila ditarik akan mengeringkan isi kolam renang.
Tapi meski Inosuke sudah berusaha menarik, tuas itu terlalu karatan untuk bisa digerakkan.
" Cih, tidak ada yang bisa dilakukan disini. Lebih baik aku segera kembali "
Inosuke keluar dari ruang kontrol, melewati kolam renang, kemudian masuk ke ruang locker.
Sambil menyibakkan rambutnya yang basah kuyup, Inosuke memanggil Aoi.
" Wayoi, aku sudah kembali " ujar Inosuke.
Hening.
Baik di sebelah sisi barat maupun timur yang terhalangi oleh locker tidak ada sosok siapa-siapa disana.
Kemana dia?
Apa dia pergi dari sini?
Inosuke sudah hampir meninggalkan ruang locker itu menuju ruang kelas. Tapi firasat buruk menghentikan langkahnya. Dia kembali teringat.
Air kolam renang yang penuh dan warnanya keruh.
Dasarnya pun tidak kelihatan.
DEG!
Mendadak dia menyesal telah meninggalkan Aoi seorang diri.
Dengan perasaan panik Inosuke segera menghambur menuju ke kolam renang lagi.
Di tengah derasnya hujan, Inosuke meneriakan namanya.
" Aoi !!! "
Masa sih dia tercebur di kolam?!
Inosuke sama sekali tidak melihat tanda-tanda Aoi di permukaan kolam.
Harus bagaimana dia mencarinya di kolam renang keruh yang cukup lebar ini?
Tapi bahkan ketika dia melewati kolam ini tadi dia juga tidak melihatnya.
Kalau memang Aoi tercebur itu artinya Aoi sudah cukup lama berada di dalam kolam.
DEG!
Inosuke tanpa berfikir panjang langsung melompat ke kolam.
Inosuke menarik nafas panjang dan menyelam.
Dimana?!
Aoi?!!!
To be continued.
