Shinobu, Giyuu dan Kanae berusaha tetap tenang. Ketika gempa yang tiba-tiba mengguncang bangunan itu.
Shinobu menahan rasa panik dan takutnya, tangannya tanpa sadar meremas ujung baju Giyuu.
Tak lama kemudian, gempa yang terasa mencekam itupun berhenti.
" Berhenti " ujar Shinobu memecah keheningan.
" Gempa nya tidak sebesar saat dikelas kita tadi, syukurlah " ujar Kanae.
" Lalu, sebenarnya ini dimana? " ujar Giyuu bingung.
Saat ini posisi mereka berada di depan kelas. Kalau melihat ke arah belakang, seperti ada deretan meja dan kursi yang tak teratur.
Seperti sudah lama tak terawat. Dan tentu saja ada beberapa lubang di lantai. Sarang laba-laba di setiap sudut.
" Kalau melihat papan tulis dan meja kursi yang lebih kecil, ini seperti kelas untuk anak SD " ujar Shinobu.
" SD? Bukannya kita di sekolah SMA kita? Sebelum kita jatuh akibat gempa itu " ujar Giyuu.
" Tidak tahu, aku juga bingung kenapa ini bisa terjadi " ujar Shinobu.
" Tunggu, jangan-jangan… ini semua terjadi karena " lanjut Shinobu tak meneruskan ucapannya.
" Karena apa, Shinobu? " tanya Kanae.
Namun sebelum Shinobu hendak menjawab.
Tiba-tiba Kanae membawa telunjuknya ke depan bibirnya.
" Sebentar! Kalian diam sebentar " ujar Kanae.
" Doushita? " tanya Giyuu.
" Neesan? " tanya Shinobu.
Kanae berusaha menajamkan pendengarannya.
" Kalian dengar itu? " tanya Kanae.
" Ada apa Kocho? " tanya Giyuu.
" Aku tidak mendengar apa-apa " ujar Shinobu.
" Aku seperti bisa mendengar teriakan Kanao. Mungkin dia berada tidak jauh dari sini " ujar Kanae, dari suaranya ia yakin adiknya itu tidak baik-baik saja, terdengar teriakan putus asa, Kanae mulai takut.
Tanpa berkata apapun Kanae berjalan menuju pintu ruangan.
" Eh? Neesan! Mau kemana?! " tanya Shinobu cemas ketika Kanae membuka pintu.
" Shinobu aku tadi mendengar teriakan Kanao dan teriakannya tanpak putus asa aku khawatir, aku tidak akan pergi jauh. Aku hanya akan mengecek keluar sebentar untuk memastikan apa itu benar suara Kanao lalu kembali. Kalian tunggulah disini dan jangan kemana-mana " ujar Kanae.
" H-hontou? Kanao, jangan-jangan dia sendirian " terka Shinobu.
" Itulah yang aku takutkan, terlebih dia jarang berekspresi dan ketika dia berteriak pasti hal buruk terjadi, Tomioka-san aku titip Shinobu sebentar, tolong jaga dia sebelum aku kembali " ujar Kanae.
" Baik, Kocho berhati-hatilah kita tidak tau apakah disini ada orang lain selain kita atau tidak " ujar Giyuu.
" Neesan, jangan gegabah kalau dirasa ada hal mencurigakan cepat-cepat kembali kesini " ujar Shinobu.
" Tenang saja, kamu tetaplah tenang jangan panik, ya? " ujar Kanae.
Shinobu hanya mengangguk.
" Baiklah, aku pergi sekarang ya " ujar Kanae.
Shinobu dan Giyuu hanya menganggukan kepala mereka.
" Hati-hati "
Setelah itu Kanae keluar dari ruangan itu. Sebenarnya bisa saja ia mengajak Shinobu dan Giyuu ikut bersamanya namun Kanae tidak mengajak mereka juga karena dia khawatir.
Kanae sudah mempunyai firasat sekarang mereka berada di tempat yang bukan sekolah mereka lagi.
Dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Kalau Kanae bukanlah yang tertua diantara mereka mungkin saja dia sudah takut dan minta ditemani mereka.
Tapi setelah melihat Shinobu yang panik dan perannya sebagai kakak tertua mendadak hasrat ingin melindungi keduanya muncul.
Setidaknya kalau dia tidak mengajak Shinobu dan Giyuu maka dia bisa meminimalisir bahaya.
Selain itu Kanae juga tidak bisa membiarkannya andai itu benar-benar suara Kanao.
Mana bisa dia membiarkan adiknya sendirian? Ketika ia jelas-jelas mendengar teriakannya, setidaknya Shinobu dijaga oleh Giyuu.
Kanae tentu saja tau, pria dingin itu sangat menyukai adiknya Shinobu, dan dia percaya kalau Shinobu akan aman bersamanya.
Setelah pintu ditutup, kesunyian kembali melanda ruangan itu.
Jantung Shinobu mendadak berdebar-debar sampai dia rasa dia bisa mendengar suara debarannya sendiri.
" Semoga neesan cepat kembali " kata Shinobu mulai takut.
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari saku rok.
" Tenanglah, dia hanya mengecek dan kembali lagi " ujar Giyuu, tapi ia agak ragu, tempat ini terlalu mencurigakan.
" Sekarang jam sembilan malam dan tidak ada sinyal " ujar Shinobu lagi.
Giyuu juga mengeluarkan ponselnya untuk mengecek sinyal sekaligus waktu.
Tidak ada, setidaknya ponselnya tidak rusak.
Tiba-tiba ruangan terasa berguncang lagi.
" Gempa lagi?! " ujar Shinobu kaget.
" Tenang " ujar Giyuu.
" I-iya " ujar Shinobu.
' Neesan, tolong berhati hatilah, soshite Kanao jangan sampai terluka ' batin Shinobu sambil menuturkan doa untuk kakak dan adiknya.
Detik-detik pun berlalu.
Shinobu memeriksa ponselnya sekali lagi. Sudah lima menit berlalu.
" Neesan, cepatlah kembali… kenapa lama sekali? Katanya cuma sebentar, lalu Kanao, apa benar dia berteriak " ucap Shinobu merasa semakin kalut.
Tangannya menggenggam ponselnya lebih erat sampai ujung-ujung jarinya memutih.
" Kalian tidak mungkin meninggalkan aku kan " ujar Shinobu mulai berkata yang tidak-tidak.
" Hey, berhenti berfikiran buruk, kakak dan adikmu baik-baik saja, percayalah pada mereka " ujar Giyuu, tidak seperti biasanya, yappari situasi ini memang terlalu membingungkan dan tiba-tiba.
" Ini salahku " ujar Shinobu tak menghiraukan ucapan Giyuu.
" Apa? " tanya Giyuu.
Shinobu memejamkan matanya dan meremas baju Giyuu.
" Kalau saja tadi aku tidak mengusulkan untuk melakukan ritual Sachiko-san, ataupun mencegah kalian pulang… mungkin semua ini tidak akan terjadi " ujar Shinobu.
Ah, apa mungkin ini semua terjadi karena ritual itu? Kalau benar, Shinobu benar-benar semakin frustasi.
" Apa yang kau bicarakan? " tanya Giyuu.
" Tidakkah kau paham? Ini semua tanggung jawabku. Aku sama sekali tak menduga akan terjadi hal seperti ini , sekarang neesan, Kanao dan teman-temanku yang lain bahkan kau, aku melibatkan kalian sampai terjebak di tempat ini " ujar Shinobu, suaranya yang biasanya tenang kini lenyap, suaranya sangat panik dan wajahnya menegang.
" Tunggu, tunggu sebentar. Maksudmu kalau ini terjadi karena kita melakukan ritual Sachiko-san? Kau yakin? " tanya Giyuu, ya dia memang tak begitu percaya dengan hal-hal tahayul.
" Memang apa lagi kalau bukan?! " ujar Shinobu.
Giyuu sampai terenyak kaget mendengar intonasi Shinobu yang berbeda dari biasanya.
" Tenanglah, Setelah kita melakukan ritual Sachiko-san lalu kita berada di tempat ini, bukannya itu semua terlalu kebetulan? " ujar Giyuu, masih mencoba berfikir rasional.
" Tapi masa bisa terjadi hal semacam ini? Kan aneh " ujar Shinobu.
" Dengar, hal ini mungkin saja berhubungan dengan hal mistis. Aku barus sadar kalau ritual Sachiko-san mungkin… memang bukan sekedar main-main, tapi mungkin memang hal mistis. Kalau ini terjadi karena kita salah melakukannya " lanjut Shinobu.
" Maksudmu salah menyebut petunjuknya? Aku benar-benar hanya menyebutkan sembilan kali kok " ujar Giyuu.
" Aku juga sembilan kali. Tapi bagaimana dengan teman kita yang lain? Apa kamu bisa positif seratus persen kalau mereka hanya menyebutkan sembilan kali? Bisa saja keceplosan seperti yang Inosuke katakan waktu kita melakukannya kan? " ujar Shinobu.
Benar, kalau memang ritual ini berhubungan dengan hal mistis dan mereka gagal melakukannya, itu masuk akal kenapa mereka terjebak.
Sementara Giyuu, dia kehabisan kata-kata.
" Aku tak begitu percaya dan mengerti akan hal mistis, tapi kalau memang itu yang terjadi, kita harus segera mencari yang lain dan jalan keluar dari sini " ujar Giyuu.
" Bagaimana? " tanya Shinobu.
" Bagaimana apanya? " tanya Giyuu.
" Bagaimana cara kita kembali? Aku tidak tau.. Terlebih, aku punya firasat kalau disini ada mahluk lain selain kita " ujar Shinobu.
" Mahluk lain? Maksudmu hantu? " tanya Giyuu.
" Y-ya, entahlah firasatku tidak enak " ujar Shinobu.
" Sudahlah jangan terlalu difikirkan, tenanglah " ujar Giyuu.
Shinobu hanya mengangguk dengan wajah menunduk.
" Dengar, ini sudah lebih dari 5 menit sejak Kocho pergi, tanpaknya kita harus mencarinya juga mencari teman kita yang lain, kita tak mungkin berdiam diri disini " ujar Giyuu.
" B-benar, aku takut kalau salah satu diantara kita ada yang dalam bahaya " ujar Shinobu.
" Kuharap tidak " ujar Giyuu.
Mereka harap para gadis seperti Nezuko, Kanao dan Aoi tidaklah sendirian. Shinobu saja yang biasanya tenang dan berkepala dingin saja bisa sepanik dan setakut ini, apalagi mereka?
Shinobu dan Giyuu pun saling mengangguk dan keduanya menuju pintu kelas.
Srekk!
Pintunya terasa agak berat ketika digeser. Keduanya menatap ke arah lorong yang kosong.
" A-ayo " ujar Shinobu.
" Ya, jangan jauh-jauh dariku " ujar Giyuu.
Shinobu hanya mengangguk, mereka berduapun mulai berjalan.
Berada di situasi seperti ini membuat Shinobu agak takut. Tapi dia justru lebih khawatir memikirkan nasib kakak, adik dan teman-temannya yang lain.
Apakah mereka sendirian?
Dimana mereka?
Terlebih...
Benaknya terus bertanya-tanya apakah mereka semua baik-baik saja?
Terutama Nezuko dan Aoi.
Mereka berdua kan yang paling tidak tahan dengan hal seperti ini. Apa mereka semua sedang saling mencari-cari seperti dirinya dan Giyuu sekarang ini?
Dan ketika ia mengingat kalau Kanae mendengar suara teriakan Kanao, apa terjadi sesuatu pada adiknya? Dia memang pemberani makanya di awal dia tak terlalu khawatir tapi kalau Kanae memang mendengarnya dan itu memanglah suara Kanao.
Sesuatu memang terjadi pada adiknya itu.
Di sisi lain Giyuu juga agak takut, dia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya, dia khawatir pada adik kelasnya, apakah mereka semua aman?
Tapi di depan Shinobu dia berusaha tetap tampil tenang. Supaya Shinobu tidak bertambah panik dan supaya Shinobu dapat mengandalkan dirinya.
Dia juga baru pertama kali melihat sisi panik dan ketakutan Shinobu, biasanya gadis ini selalu bersikap tenang dan berkepala dingin. Tapi disituasi seperti ini siapapun takkan bisa bersikap tenang.
" Lebih baik kita periksa setiap kelas yang kita lewati, siapa tahu ada petunjuk " ujar Giyuu memecah keheningan, ia tau pasti sedari tadi Shinobu berperang dengan fikiran negatif, dia taksuka.
" Ya, kamu benar. Kita coba di ruang kelas ini " ujar Shinobu.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang kelas bertuliskan 1-1. Keduanya mencari petunjuk keberadaan teman-teman yang lain sekaligus petunjuk untuk keluar dari tempat ini.
Beberapa menit kemudian.
Setelah memeriksa lemari dan meja.
" Tidak ada apa-apa " ujar Shinobu tanpak kecewa.
" Kalau begitu kita ke kelas berikutnya " ujar Giyuu.
" Baiklah " ujar Shinobu.
Mereka pun mulai berjalan lagi, sepanjang jalan, mereka memeriksa pintu kelas yang dilewati.
Ada juga ruang kelas yang terkunci. Tapi belum terlihat seorang pun ataupun petunjuk.
Mereka sudah berkeliling sekitar 15 menit. Dan sudah tiga menit mereka lalui dalam kebisuan.
Tiba-tiba Shinobu menghentikan langkahnya ketika sampai di lorong yang terbagi dua. Satunya menuju ke arah utara dan satunya menuju ke arah barat.
" K-kemana " ujar Shinobu.
" Mana saja, coba ke arah barat " ujar Giyuu asal.
" B-baiklah " ujar Shinobu.
Mereka pun mengambil arah barat. Setelah melewati dua kelas, langkah mereka terhenti karena di tengah lorong ada lubang besar.
" Bagaimana kita bisa lewat? " Shinobu melihat di dekat mereka berdiri ada papan yang cukup panjang.
" Kita lewat pakai ini saja " ujar Giyuu sambil mengambil sesuatu didekatnya.
" Tidak, jangan gegabah! Kelihatannya rapuh! Mending kita memutar ke lorong yang tadi " ujar Shinobu.
" Memang terlalu beresiko tapi aku akan tetap mencobanya, kau tunggulah dulu " ujar Giyuu sembari memutar badannya.
" M-matte " Shinobu tak sempat menarik kaos Giyuu, ia keburu pergi.
Bruk
Sekarang papan itu menjadi jembatan bagi lubang itu.
" H-hey! " teriak Shinobu.
Dilihatnya Giyuu sudah berusaha menyeberang dengan menginjaki papan itu. Giyuu menapak selangkah demi selangkah dengan hati-hati sambil menyeimbangkan diri dengan tangan.
" Tomioka-san! " teriak Shinobu.
" Tenanglah, papan ini cukup kuat " ujar Giyuu.
Shinobu hanya menghela nafas panjang dan akhirnya hanya memperhatikan Giyuu menyeberang dengan cemas.
Padahal jaraknya hanya empat meter, tapi terasa lama sekali.
Tak lama kemudian...
Akhirnya Giyuu sudah sampai di seberang.
" Sudah kuduga papannya memang kuat, kau menyeberanglah, papannya kuat kok " ujar Giyuu.
Shinobu memandang Giyuu yang berdiri di seberang lalu melihat ke bawah lubang.
Gelap sekali.
Seolah dirinya sedang melihat ke jurang tak berdasar.
Shinobu menarik nafas dalam dan akhirnya memberanikan diri menginjak papan itu. Tahan, jangan takut tahan jangan takut, ia terus melafalkan kalimat itu difikirannya.
Dia berjalan satu langkah.
Tahan... Jangan takut.
Rasanya lubang di bawahnya seperti hendak menghisapnya. Atau tiba-tiba akan muncul hantu yang akan menariknya.
Kakinya jadi gemetar. Gemetarnya begitu terasa sampai papan itu ikut bergetar.
" Hey, tenanglah, jangan berfikir yang tidak-tidak, dan jangan melihat kebawah " ujar Giyuu mulai khawatir.
" Y-ya " ujar Shinobu menahan suaranya yang bergetar.
" Pegang tanganku " ujar Giyuu kemudian sambil mengulurkan tangannya.
Shinobu tanpak tertegun kemudian mengerahkan segenap keberaniannya untuk melangkah beberapa langkah lagi sebelum tangannya bisa menggapai tangan Giyuu.
Ketika kakinya sudah bisa menapak lantai lagi dia langsung melompat dan.
" H-hhah hah hah " selamat, ia selamat..
" Kau baik-baik saja? " tanya Giyuu.
" Y-ya, daijobu " ujar Shinobu.
Tiba-tiba lantai yang mereka tapaki terasa berguncang lagi.
" Gempa lagi?! " ujar Shinobu kaget.
Giyuu segera menarik Shinobu kedekatnya, ia terlalu dekat dengan lubang itu.
Tak lama, guncangannya hanya beberapa detik. Tapi akibat gempa tersebut, papan yang mereka letakkan bergeser kemudian terjatuh ke dalam lubang itu.
Walau sudah ditunggu beberapa detik tidak kedengaran suara jatuhnya.
Seperti suara benturan papan itu ke lantai. Seolah menghilang ke dunia lain.
Apa yang terjadi kalau mereka sampai jatuh tadi?
Shinobu tidak mau membayangkannya.
" Kalau gitu kita lanjut jalan " ujar Giyuu.
" Ya, ayo " ujar Shinobu.
Mereka terus melanjutkan berjalan melewati lorong.
Sepuluh menit kemudian.
" Matte, Tomioka-san " ujar Shinobu tiba-tiba berhenti berjalan.
" Doushita? " tanya Giyuu.
" Aku ingat, tadi masih ada sisa lilin yang belum kupakai, aku akan menyalakannya disini " ujar Shinobu.
" Untuk apa? " tanya Giyuu.
" Untuk memberi sinyal atau tanda kalau kita ada disekitar sini, kau ingat kan? Teman-teman yang lain tau kalau aku membawa lilin " ujar Shinobu.
Ah, benar juga saat bercerita horror tadi, Shinobu menyalakan lilin.
" Baiklah, mungkin salah satu dari mereka menemukan lilin ini " ujar Giyuu.
" Ya, karena berteriak pun percuma karena mungkin saja mereka terpisah sangat jauh dari kita, sampai-sampai tidak bisa mendengar.
Atau mungkin… ada sesuatu yang lebih pada tempat ini, yang tidak kita ketahui " ujar Shinobu.
" Benar juga, di tempat ini juga tidak ada sinyal ponsel " ujar Giyuu.
" Ya… kita seperti terisolasi dari dunia luar. Dan dari tadi rasanya kita seperti sedang berputar-putar saja " ujar Shinobu.
" Kau yakin? " tanya Giyuu.
Shinobu mengangguk.
" Memang semua kelas terlihat sama, tapi kan " ujar Giyuu.
" Entahlah, mungkin ini perasaanku saja " ujar Shinobu.
" Sudah kukatakan berhenti berfikiran yang tidak-tidak, percayalah mereka tidak selemah itu kok " ujar Giyuu.
Ya, walau ia tetaplah khawatir namun ia ingin percaya kalau mereka semua kuat dan baik-baik saja.
" Baiklah " ujar Shinobu, semoga memang mereka baik-baik saja, ia takut tapi ia juga tak mau memikirkan hal negatif lainnya.
Mereka berdua pun mulai berjalan lagi.
Tak lama...
Tiba-tiba Shinobu berhenti melangkah.
" Doushita? " tanya Giyuu.
" Sepertinya memang kita hanya berputar-putar saja dari tadi " ujar Shinobu.
" Sudah kukatakan berhenti berfikiran yang tidak-tidak " ujar Giyuu.
" Aku serius! Lihat saja tulisan di papan kelas ini! " ujar Shinobu.
Giyuu tanpak bingung kemudian dia menengadah ke atas dan betapa terkejutnya ia ketika melihat tulisan 1-1 di papan kayu itu.
" Lihat? Kita hanya berputar-putar saja " ujar Shinobu.
" Tapi bukankah kita sudah melewati lubang besar tadi? " tanya Giyuu.
" Masaka, kalau kita lewat sini- "
Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Shinobu segera berjalan pergi.
" Hey, tunggu " Giyuu langsung mengejarnya.
Shinobu berjalan hingga lorong terbagi dua arah. Dia memilih lewat lorong yang berada di posisi barat sekali lagi. Dan terus berjalan sampai tiba di lubang besar.
Giyuu berdiri di sisi Shinobu. Melihat ke dalam lubang yang menganga di lorong itu.
Rasanya barusan dia sudah melihat lubang ini.
" Sudah kuduga, kita memang hanya berjalan memutar " ujar Shinobu.
" Kenapa bisa? Kalau begitu kita lewat lorong yang satunya saja " ujar Giyuu kemudian.
" Ja-jangan kesana! Firasatku sungguh-sungguh nggak enak! " ujar Shinobu, entah kenapa ia tak memiliki firasat bagus dengan arah satunya lagi.
" Terus bagaimana? Lewat sini kita hanya berputar-putar saja terlebih kita tak bisa lewat lagi, papannya jatuh " ujar Giyuu.
Shinobu benci mengakuinya, tapi Giyuu benar.
" B-baiklah " ujar Shinobu, tak ada pilihan lain. Semoga memang ini semua hanya perasaannya saja.
Kali ini mereka melalui jalan yang tidak mereka pilih sebelumnya.
Setelah berjalan beberapa meter, hidung mereka menangkap sebuah bau di udara.
" Bau apa ini? " ujar Shinobu merasa agak mual.
" Entahlah, kita coba cek saja " ujar Giyuu.
" B-baiklah " ujar Shinobu.
Setiap mereka melangkah maju, bau yang pekat itu semakin mengusik indera penciuman mereka.
Bau busuk.
Ketika mereka berbelok di sudut, mereka pun menemukan sumber bau yang sangat tidak menyenangkan itu.
Sebuah mayat teronggok di pinggir lorong. Dengan belatung-belatung mengerubunginya.
Mata Shinobu membelalak kaget begitupun dengan Giyuu.
" A-apa itu, h-hhah hah " Shinobu merasa badannya gemetaran dan ia merasa lemas.
" Jangan dilihat " Giyuu segera menarik Shinobu kearah dadanya, Shinobu hanya pasrah ia merasa badannya sudah sangat lemas.
" M-masaka i-itu " ujar Shinobu dengan suara bergetar.
" Itu bukan mereka, seragam yang dipakai mayat itu jelas bukan baju mereka " ujar Giyuu.
Sebenarnya Giyuu ingin mengatakan kalimat yang lebih baik. Namun dirinya yang sedang sama-sama terguncang tidak bisa menemukan kalimat yang dapat lebih menghibur.
Shinobu menenggelamkan kepalanya ke dada Giyuu dan dia mulai terisak.
" Doushite? Kenapa jadi begini? Kenapa ada yang seperti itu disini? Sebenarnya kita terjebak di tempat macam apa "
Giyuu dapat merasakan badan Shinobu sedikit berguncang. Semua ini masih misteri bagi mereka.
" H-hey, tenanglah semuanya akan baik-baik saja, kau tidak sendirian " ujar Giyuu.
Shinobu hanya mengangguk dengan isakan kecil.Sementara itu Kanae, setelah dia menutup pintu kelas, dia menebarkan pandangannya ke sekeliling.
Dan yang ada didepannya hanya sebuah lorong panjang dengan penerangan yang minim.
Kanae mempertajam pendengarannya.
Samar-samar dia memang bisa mendengarteriakan Kanao, tapi apa itu cuma perasaannya saja?
Kalau saja Zenitsu ada dia pasti bisa mendengarnya lebih jelas, mengingat pendengarannya yang tajam.
Saat dia jatuh di ruang kelas itu dia memang mendengarteriakan Kanao juga teman-temannya yang lain.
Apa yang ia dengar hanya ingatannya saja?
Kanae menarik nafas dalam untuk meyakinkan bahwa itu bukan hanya sekedar ingatannya belaka. Ia yakin kalau tadi memang ada suara teriakan, dan dia yakin kalau itu suara adiknya, Kanao.
Kanae memang hanya akan mengecek sebentar saja, tapi ia juga tak yakin akan mengecek sebentar, mengingat adiknya jika memang sendirian ditempat ini, ia tak mungkin membiarkannya kan? Setidaknya Shinobu dijaga oleh Giyuu jadi Kanae tak begitu khawatir.
Sementara Kanao, ia tak tau apakah gadis itu sendirian atau ada seseorang bersamanya, seingatnya sebelum jatuh tadi, Kanao berada paling dekat dengan Tanjirou.
Semoga Tanjirou memang bersamanya.
" Kanao " Kanae mencoba memanggilnya hati-hati.
Hening.
Kanae berjalan beberapa meter. Lorong itu seperti lorong sekolah pada umumnya. Berupa jalan setapak.
Di sepanjang jalan terdapat ruang-ruang kelas dan kemudian di tengah-tengah bangunan ada tangga untuk naik ke lantai atas atau ke lantai bawah.
Kanae mengeluarkan ponselnya untuk penerangan tambahan. Sekaligus mengecek batang sinyal.
" Tidak ada sinyal. Andai ada sinyal kan aku bisa menelpon Kanao atau yang lain atau orang rumah " ujar Kanae.
Kemudian Kanae berjalan lagi dan saat ia mengintip ke bawah lantai, jantungnya hampir copot.
Kanae langsung menutup mulut untuk mencegah suara yang keluar dari mulutnya.
Dia merasa melihat ada cahaya bergerak di bawah sana.
A-apa itu barusan?
Jangan-jangan hantu?!
Kanae hampir menggerakkan kakinya untuk berlari ketika tiba-tiba ia merasakan gempa lagi.
" E-eh "
Kanae merunduk dan melindungi kepalanya.
Memejamkan matanya rapat-rapat.
Setelah sekitar satu menit menunggu dengan jantung berdebar-debar, getaran di lantai terhenti.
Kanae menarik nafas lega.
Dia pun berdiri dan memutar tubuh untuk kembali demo...
" Eh? "
' Apa ini lorong yang aku lewati tadi? Kenapa rasanya beda? Tadi aku tidak melihat ada lubang di sudut itu ' batin Kanae.
Dia bahkan tidak menemukan kelas yang ada Shinobu juga Giyuu di dalamnya.
Walau dia lalai karena tidak memperhatikan nama ruang kelas saat dia keluar, Kanae yakin kalau dia tidak melewatkannya karena dia cuma melewati dua ruang kelas.
' Tak mungkin kan gempa bumi tadi mengubah letak ruangan? ' batin Kanae berfirasat buruk.
Ternyata firasatnya bukan hanya sekadar firasat. Tempat ini benar-benar aneh. Dan sekarang dia jadi terjebak disini.
" Kamu "
Tiba-tiba Kanae mendengar sebuah suara dari belakangnya.
Eh?
U-uso
Ja-jangan-jangan.
Dengan takut-takut Kanae menoleh ke belakang. Dia pun melihat sesuatu yang menyerupai cahaya yang tadi dia lihat di tangga.
Tak lama cahaya itu semakin menyilaukan dan lama-kelamaan cahaya itu membentuk sebuah wujud.
M-manusia? A-atau,
Kanae tak mengalihkan pandangannya, dan tak lama wujud itupun tak bercahaya lagi kali ini menampakan wujud jelas.
Manusia... Ya, wujudnya memang manusia, tapi apa dia benar-benar manusia?
" Kamu juga tersesat disini? " tanya orang itu, wujud seorang gadis kecil dengan seragam sekolah yang berbeda dengan seragam sekolah Kanae ataupun teman-temannya.
Dare?
Kanae menelah ludah dan mundur selangkah. Sudah bersiap-siap akan kabur andai dia tiba-tiba diserang.
Untungnya dia tidak mendekat selangkah pun.
" K-kamu, hantu? A-atau " ujar Kanae menahan rasa takutnya.
Orang itu tersenyum pilu kemudian menjawab.
" ………kurang lebih begitu. Aku sadar aku sudah meninggalkan ragaku. Entah sudah berapa lama aku berkeliaran dengan wujud seperti ini. Dan entah sudah berapa lama aku tidak berbicara dengan manusia hidup lagi " ujarnya.
" E-eh? Apa yang terjadi? Apa kau tau dimana ini? " tanya Kanae.
" Tidak, aku hanya akan memberimu peringatan. Segera tinggalkan tempat terkutuk ini selagi pikiranmu masih waras. Walau memiliki ikatan sekuat apapun, disini adalah neraka hidup yang bisa membuat pikiranmu kacau semakin lama kamu berada di tempat ini. Bahkan bisa merusak ikatan persahabatan. Seperti yang terjadi padaku dan teman-temanku " ujar gadis kecil itu.
" M-maksudmu " tanya Kanae bingung.
" Aku dan teman-temanku terjebak disini saat memainkan ritual Sachiko-san. Kemudian kami tercerai berai. Aku sudah menyaksikan beberapa kematian temanku. Ada yang mati dengan tersiksa. Ada yang berubah menjadi psikopat. Bahkan ada juga yang menjadi gila. Sehingga aku menjauhkan diri dari kelompok. Dan pada akhirnya aku juga meninggal tanpa menemukan jawaban untuk keluar dari sini. Sekarang aku hanya bisa berkeliaran entah sampai kapan " ujar gadis kecil itu dengan sorot mata penuh kesedihan.
Ritual Sachiko-san? Masa ritual seperti itu penyebabnya? Bukannya itu hanya sekedar iseng? Bahkan di internet pun tersebar cara melakukannya.
" Salah satu temanku namanya Sabito, kalau kamu sampai bertemu dengannya berhati-hatilah padanya. Segera Lari secepat mungkin. Walau dari luar wajahnya tampak baik dan ramah, dalamnya dia telah berubah menjadi seorang psikopat. Aku sudah menyaksikannya membunuh salah satu temanku yang lain sambil tersenyum " jelasnya.
" Sabito? Apa dia laki-laki? Apa dia masih hidup? " tanya Kanae.
" Ya, dia laki-laki aku tidak tau kenapa dia bisa berubah seperti itu, tapi sepertinya dia kerasukan karena aslinya dia anak yang baik. Dan aku tidak tau kalau dia masih hidup atau tidak " ujar gadis kecil itu.
" Siapa namamu? Darimana asal sekolahmu? Dan kenapa kamu meninggal? " tanya Kanae.
" Namaku Makomo… Dari sekolah Demon slayer. Seingatku, terakhir bertemu mahluk aneh, aku tidak tau mahluk apa itu. Mungkin aku diserang mahluk aneh itu dan meninggal " ujar Makomo.
Demon slayer? Itukan sekolah yang lokasinya tidak jauh dari sekolahnya Kimetsu no Yaiba?
Terlebih katanya salah seorang temannya berbahaya, Kanae harus hati-hati apabila berpapasan.
" Makomo-chan, bolehkah aku bertanya satu hal lagi? " tanya Kanae.
" Doushite? " tanya Makomo.
" Sebenarnya ada apa dengan gempa yang kerap kali terjadi disini? Aku rasa itu bukan gempa biasa? " ujar Kanae.
" Ah, itu aku juga tidak tahu kemungkinan ini adalah dimensi yang berbeda dengan dunia kita " ujar Makomo.
" Di-dimensi yang berbeda? Apa maksudnya? " tanya Kanae.
Tapi entah kenapa Kanae tidak bisa menepis kemungkinan itu. Karena baru beberapa menit di sekolah ini dia sudah merasa seperti berada di dimensi yang berbeda.
Nyatanya ponselnya saja tidak bisa dipakai untuk menghubungi siapa pun.
" Bisa jadi tempat ini berupa suatu wadah yang memiliki banyak dimensi. Kamu berada di dimensi ini, tapi temanmu terpisah di dimensi yang lain. Walau kalian berdiri di tempat yang sama, kalian tidak bisa saling bertemu. Itu yang kurasakan ketika aku masih hidup, aku mendengar suara temanku, tapi aku tidak bisa melihat sosoknya " jelas Makomo.
DEG!
Kanae juga mendengar suara Kanao tapi dia tidak melihatnya.
Ma-masa sih ada hal semacam ini?
Tapi andai itu benar maka semua terasa pas.
" Juga mungkin dugaanmu benar. Usai terjadi gempa itu tiap kali aku berkeliling, posisi bangunan ini pasti berubah. Mungkin dengan suatu kebetulan gempa itu bisa membuat dimensi tempatmu berada terhubung dengan dimensi tempat temanmu berada " lanjut Makomo menjelaskan apa yang dia tau.
Begitu ya? Jadi itu menjelaskan kenapa Kanae tidak bisa menemukan Shinobu dan Giyuu walau seharusnya mereka tidak terpisah jauh.
Setelah gempa itu terjadi posisi ruangan berubah! Masuk akal juga.
" Baiklah, aku akan berhati-hati, terima kasih untuk informasi dan peringatannya " ujar Kanae.
" Aku tidak bisa berkata pasti, karena semua itu hanya teoriku ketika aku masih manusia hidup " ujar Makomo.
Kanae hanya mengangguk dan berujar,
" Meski begitu terima kasih " ujar Kanae sambil tersenyum tulus.
" Kuharap kamu bisa menemukan teman-temanmu dan pergi dari sini " ujar Makomo.
" Kamu anak yang sangat baik, terimakasih... Kuharap kamu bisa beristirahat dengan tenang " ujar Kanae tanpak iba.
" Terimakasih " ujar Makomo dengan senyuman tulus.
Kemudian Kanae mulai pergi dari sana, Makomo hanya diam dan berharap semoga Kanae dan temannya bisa selamat dari tempat ini.
Kanae hanya bisa menggigit bibir dan berharap Makomo dapat beristirahat dengan tenang. Jangan sampai apa yang terjadi pada kelompoknya terjadi juga padanya dan teman-temannya.
Kanae meremas lengannya sendiri.
Kalau sampai terjadi apa-apa dengan mereka, dia tidak yakin akan kuat, apalagi kalau sampai terjadi hal buruk pada kedua adiknya.
' Kumohon, kalian bertahanlah ' batin Kanae.
To be continued.
