Nezuko membuka mata, dia melihat Zenitsu sedang menatap balik padanya.
" Zenitsu-san? "
Kemudian dia menebarkan pandangan ke sekeliling, namun semuanya tampak gelap. Tidak ada satupun cahaya, tapi anehnya dia masih bisa melihat Zenitsu dengan sangat jelas. Lalu Nezuko memutuskan untuk mendekati Zenitsu.
Ketika Nezuko sudah berdiri di depannya, dia menyadari sorot mata tajam yang dipancarkan Zenitsu.
" Tanggung jawab " ujar Zenitsu, nadanya sangat dingin.
" E-eh? " Nezuko jelas bingung terlebih kenapa nada suara Zenitsu dingin? Tidak seperti biasanya.
" Karena kamu, aku mati, kamu menusukku " ujar Zenitsu.
DEG!!!
" A-apa yang kamu bicarakan? " ujar Nezuko, ia menusuknya? Tidak itu tidak mungkin.
" Kamu kerasukan " ujar Zenitsu.
" U-uso! A-aku tidak mungkin " Nezuko berteriak dengan satu nada lebih tinggi.
" Benar, kamu menusukku sampai mati " ujar Zenitsu.
" Tidak! Tidak!!! A-aku " Nezuko mengangkat kedua tangannya di depan mulut. Air mata mulai menggenangi matanya.
" Sekarang aku telah kehilangan nyawaku. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? " tanya Zenitsu, tatapanya sangat dingin, seperti bukan Zenitsu, dia sangat menakutkan.
Nezuko mundur selangkah ketika dirasanya wajah Zenitsu semakin mendekat.
Di mata Nezuko wajah Zenitsu tampak semakin menyeramkan.
" Apa kamu mau membayarnya dengan nyawamu? " tanya Zenitsu masih dengan nada dingin.
" A-aku " Nezuko merasa suaranya tak mau keluar.
Tiba-tiba kedua tangan Zenitsu terangkat.
Sekarang mengelilingi leher Nezuko.
" Bagaimana kalau kamu temani aku? " tanya Zenitsu.
" Z-zenitsu-san " Nezuko mulai menangis, kenapa? Kenapa Zenitsu begini? Apa dia benar-benar mati? Apa dia benar-benar membunuhnya?
" Nyawa dibayar dengan nyawa " ujar Zenitsu.
Kemudian Nezuko merasa nafasnya tercekat ketika merasakan lehernya tertekan. Matanya membelalak lebar karena syok dan rasa takut.
" hiks... Gomen gomen Z-zenitsu-san hiks " Nezuko mulai terisak.
" Nezuko-chan "
" A-aakhh!! " Nezuko samar-samar mendengar seseorang memanggilnya.
Dan...
Cekikan di lehernya semakin erat.
" A-aakhhhh !!!! " Nezuko merasa semakin sesak.
" Nezuko-chan "
Suara itu...
" Matilah " ujar Zenitsu didepannya.
" Aa-aakkhhhhh "
" Nezuko-chan! Nezuko-chan! "
Nezuko membuka matanya dengan tiba-tiba. Kemudian ia melihat wajah Zenitsu yang menatapnya khawatir.
" Daijobu? Kenapa kamu menangis? " tanya Zenitsu.
" E-eh " Nezuko masih bingung, apa itu tadi? Apa itu hanya mimpi?
" Nezuko-chan? " tanya Zenitsu lagi.
Suara lembut itu, tatapan mata emasnya yang lembut... Ah iya ini Zenitsu.
Nezuko tak berkata apapun ia hanya menyentuh kedua pipi Zenitsu, sontak saja muka Zenitsu memerah.
" N-nezuko-chan " tanya Zenitsu gugup
" Hangat... Y-yokatta hiks Zenitsu-san hiks " tiba-tiba Nezuko menangis sambil masih memegangi pipi Zenitsu.
" D-doushita? Apa ada yang sakit? Kakimu masih sakit? Nezuko-chan? " tanya Zenitsu kalang kabut, ia tak mengerti kenapa Nezuko tiba-tiba menangis, apa dia mimpi buruk?
" Hiks Zenitsu-san y-yokatta " Nezuko langsung memeluk erat Zenitsu, tentu saja Zenitsu hampir terjengkang kebelakang, untung saja posisinya sedang duduk dan memangku Nezuko.
Zenitsu tak tau apa yang terjadi tapi ia membalas pelukan Nezuko sambil mengelus punggungnya lembut.
" Sshh jangan menangis, tenanglah " ujar Zenitsu.
" Hiks... Kamu tak terluka kan? Aku tak melukaimu kan? Kamu hidup kan? Zenitsu-san hiks " Nezuko semakin meracau tidak jelas.
' Sepertinya dia mimpi buruk ' batin Zenitsu.
" Aku baik-baik saja, tenanglah " ujar Zenitsu. Sebenarnya tidak juga, tangannya masih agak perih karena tusukan tadi namun ia mencoba membersihkan dan menutupinya agar Nezuko tak melihatnya.
" Hiks... A-aku mimpi buruk, aku mimpi kalau k-kalau kamu meninggal dan katamu aku membunuhmu d-dan kamu mencekikku hiks " ujar Nezuko.
' Ternyata benar, dia mimpi buruk ' batin Zenitsu.
" Ssshh, itu hanya mimpi aku baik-baik saja lihat " ujar Zenitsu sambil tetap mengelus punggung Nezuko.
" Hiks... Y-yokatta, Zenitsu-san sangat menyeramkan di mimpiku tadi, a-aku takut " ujar Nezuko terbata-bata.
" Itu hanya bunga tidur, aku takkan mungkin menyakitimu apalagi membuatmu takut " ujar Zenitsu.
" I-iya aku tau, gomen " ujar Nezuko.
" Daijobu, tenanglah " ujar Zenitsu.
Beberapa saat kemudian Nezuko sudah lebih tenang, kini ia duduk bersebelahan dengan Zenitsu di lorong yang gelap dan sunyi.
" A-apa kamu menggendongku daritadi? Seingatku kita ada di UKS kan? " tanya Nezuko.
" Iya, saat itu kamu ketiduran dan aku menemukan plester lalu menutup lukamu sementara kemudian aku langsung menggendongmu keluar dari UKS aku tak ingin kita berlama-lama disana, entah kenapa firasatku buruk berada disana lama-lama " jelas Zenitsu dia tak menceritakan bagian dimana Nezuko yang kerasukan dan hampir saja mencelakainya.
" A-apa kamu melihat orang lain saat berjalan? Kenapa tidak membangunkanku? " tanya Nezuko.
" Tidak, sepanjang jalan tadi aku tak berpapasan dengan siapapun, tentu saja aku tak tega membangunkanmu " ujar Zenitsu.
Nezuko hanya tersenyum, seharusnya dia menyadarinya, kalau Zenitsu itu baik dia terlalu baik, jelas sekali kalau Zenitsu yang seram tadi hanyalah mimpi buruknya.
" Arigatou Zenitsu-san " ujar Nezuko.
" Hehe apapun untukmu Nezuko-chan " ujar Zenitsu.
" Eh " tiba-tiba Zenitsu terdiam, matanya membelalak.
" D-doushite Zenitsu-san? " tanya Nezuko melihat air muka Zenitsu berubah.
" Kamu dengar itu? S-suara teriakan " ujar Zenitsu.
" Teriakan? T-tidak, aku tak mendengar apapun " ujar Nezuko.
" Aku mendengar suar-" belum juga Zenitsu selesai berucap tiba-tiba suara melengking muncul yang membuat Nezuko kaget bukan main.
" AAAAAAAHHHHHH!!!! "
DEG!!!
" H-hora " Zenitsu memegang telinganya, suara itu berdengung ditelinga nya.
" K-kanao-chan, itu suara Kanao-chan " ujar Nezuko yang kali ini mendengarnya.
" Kenapa dia menjerit begitu? Apa terjadi sesuatu? " ujar Zenitsu mulai berfirasat buruk.
" Kanao-chan bukanlah penakut dia juga jarang berekspresi, tapi tadi itu benar-benar teriakannya, j-jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi padanya " ujar Nezuko mulai takut.
" Nezuko-chan, kita harus segera pergi dari sini, mungkin Kanao tidak jauh darisini, kita harus mencarinya " ujar Zenitsu.
" Benar, mungkin dia bersama Onniichan, seingatku tadi posisinya yang paling dekat dengan Onniichan " ujar Nezuko.
" Semoga saja, ayo naik kepunggungku " ujar Zenitsu.
" E-eh, sudah aku tak perlu digendong lagi aku baik-baik saja kok " ujar Nezuko.
" Tidak, nanti lukamu terbuka lagi kalau kamu memaksakan diri berjalan, ayo naik saja tak apa " ujar Zenitsu.
DEG!
Nezuko semakin tersentuh, Zenitsu begitu menjaganya dengan baik, dia tak membiarkan Nezuko merasa repot atau sakit barang sedikit saja.
Nezuko pun naik ke punggung Zenitsu dan memeluk lehernya.
" Pegangan yang kuat ya " ujar Zenitsu.
Nezuko hanya mengangguk.
" Arigatou " ujarnya.
Zenitsu hanya tersenyum dan mulai berjalan agak cepat, semoga Kanao memang tak jauh dari mereka. Dan semoga Kanao memang bersama Tanjirou.
Nezuko meremas sedikit baju seragam Zenitsu, semoga kakak dan teman-temannya baik-baik saja.
Inosuke masih mencari-cari Aoi didalam kolam itu. Padahal harusnya kolam itu tidak dalam, tapi saat itu yang dirasakan Inosuke seolah tanpa dasar.
Nafasnya agak tercekat ketika Inosuke muncul ke permukaan untuk menarik nafas lagi. Dia tidak boleh banyak membuang waktu hanya untuk menarik nafas.
Bahkan ketika Inosuke membuka matanya dalam air, dia tidak bisa melihat jauh. Hanya sejauh setengah meter di depannya.
Inosuke menggerak-gerakkan tangannya dengan liar. Berharap dengan begitu dia bisa menemukan Aoi.
Dia berhasil memegang sesuatu yang dia kira adalah Aoi. Tapi ketika ditarik ternyata itu adalah mayat yang menjijikan.
' A-apa-apaan, kenapa ada mayat disini?! ' batin Inosuke.
Perasaannya semakin tidak enak.
Inosuke diserang rasa panik ketika sudah hampir setengah menit dia tidak menemukan Aoi. Karena mana mungkin dia bisa bernafas dalam air kan?
Rasa panik membuat jantungnya bekerja lebih keras. Dan membuatnya cepat kehabisan nafas.
' Aoi, dimana? Dimana kau?! ' batin Inosuke.
Seolah keberuntungan berpihak padanya iapun berhasil menemukannya.
Inosuke langsung menyeret Aoi keluar. Lalu menggendongnya kembali ke ruang locker dan membaringkannya di lantai kering.
" Aoi! Hey! Sadarlah! " teriak Inosuke panik.
Inosuke menepuk-nepuk pipinya, setelah itu Aoi terbatuk-batuk.
Inosuke menarik nafas lega saat melihat Aoi membuka matanya.
Aoi terbangun dan melihat dirinya basah kuyup.
" I-inosuke… apa yang terjadi padaku? " tanya Aoi bingung.
" K-kau… tidak ingat? " tanya Inosuke.
" Entahlah… yang kuingat samar-samar terakhir kali aku berjalan sampai ke tepi kolam karena kupikir aku bisa bertemu dengan seseorang, sudah itu aku tidak ingat apa-apa lagi… aku bahkan tidak ingat aku hendak bertemu siapa " jelas Aoi.
" Hah? Seseorang? Siapa maksudmu? " tanya Inosuke, jangan-jangan seorang pria.
" Dia orang yang sangat penting bagiku " ujar Aoi.
Entah kenapa Inosuke kesal mendengarnya.
" Disaat begini masih sempat sempatnya memikirkan pacar, cih " gerutu Inosuke.
" Eh? Pacar? Bukan! Orang yang kumaksud adalah ibuku... D-dia sangat penting bagiku, hanya dia yang kumiliki " ujar Aoi.
Dasar bodoh, Inosuke cemburu tidak jelas, tunggu dulu? Cemburu? Inosuke?
" Tenang saja setelah keluar dari sini kau akan bertemu dengan ibumu lagi " ujar Inosuke, ada perasaan lega dihatinya.
" Kuharap begitu " ujar Aoi.
Inosuke berpikir rasanya sangat tidak masuk akal soal penjelasan Aoi tadi.
Mungkinkah Aoi kerasukan? Tapi dia menahan diri untuk tidak mengatakannya karena tidak mau membuat gadis itu bertambah takut lagi.
" Gomen, semua ini terjadi karena kelalaianku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, aku akan terus berada di sisimu " ujar Inosuke dipenuhi rasa bersalah.
DEG!
Aoi merasakan panas menjalar diwajahnya.
" Arigatou, aku juga minta maaf sudah membuatmu repot " ujar Aoi.
" Yang penting kau baik-baik saja " ujar Inosuke.
Aoi tersenyum hangat kemudian berujar,
" Kalau gitu kita pergi dari sini sekarang "
" Baiklah " ujar Inosuke.
Merekapun berjalan menjauh darisana, berharap bisa segera menemukan teman-temannya yang lain.Tiba-tiba terjadi gempa lagi. Kanao reflek merunduk.
" G-gempa lagi " gumam Kanao.
Kanao memaksakan diri mencoba melangkah, tapi dia malah kehilangan keseimbangan.
" A-ah! "
Tapi Kanao tetap berusaha berjalan. Dia harus menyusul Tanjirou.
Tanpaknya Kanao harus bergeser ke dinding di kanan dan kiri untuk bisa bergerak maju.
' Tanjirou! Kamu dimana?! ' batin Kanao mulai takut.
Sambil berpegangan pada dinding Kanao terus berjalan melewati pijakan yang berguncang tidak stabil hingga sampai pada lorong yang ada tangga menuju ke bawah.
Tak lama kemudian gempa pun berhenti, untuk sesaat Kanao merasa lega.
Dia tak tau ada dimana, mungkin sudah agak jauh dari toilet tadi, tempat dimana ia berpisah dari Tanjirou.
Didepannya Kanao bisa melihat pintu lain, apakah itu ruang kelas? Atau,
" Eh? Toilet? Tapi ini bukan toilet yang tadi aku pakai, ini toilet yang berbe-" ucapannya terpotong saat sebuah suara mengagetkannya.
Klotak!Kanao mencoba menajamkan telinganya baik-baik.
"…………..ukh………… akh…………… " terdengar suara rintihan.
" A-apa itu " gumam Kanao.
' J-jangan-jangan ' batin Kanao.
" Tanjirou? " ujar Kanao agak keras.
Hening.
Tanpa ragu Kanao masuk ke toilet itu. Walau hanya suara rintihan ia yakin ia mengenali suara itu.
Kanao melangkah pelan-pelan, masuk ke dalam toilet itu. Jantungnya berdegup kencang karena semakin mendekati sumber suara tersebut.
Rintihan yang seolah sedang tercekik itu masih terdengar dari dalam.
"……aakkh-aaaaaakkh…. "
Suara itu kedengarannya berasal dari sebuah bilik.
Kanao sampai di depan bilik itu. Suara itu kini sudah tidak terdengar lagi.
Hanya pintu toilet nomor kedua dari depan yang tertutup.
Kanao meremas ujung roknya.
Dengan tangan gemetar, Kanao mendorong pintu toilet nomor kedua.
Tidak terkunci dan pintu itu langsung terbuka dengan suara derit yang memecah kesunyian.
DEG!
Kanao membelalak lebar menatap sosok didepannya. Kakinya terasa lemas.
Tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Tidak percaya apa yang ia lihat.
" AAAAAAAHHHHHH!!!! "
Kanao menjerit putus asa.
Kenapa? Kenapa ini semua terjadi?
Tepat didepannya.
Tubuh Tanjirou tergantung dengan tali menjerat lehernya. Tubuhnya tak bergerak, seakan nyawanya telah meninggalkan raganya.
" Ke-kenapa…? " suara Kanao bergetar menahan tangis.
" T-tidak, TIDAK!!!! " teriak Kanao frustasi sambil merosot jatuh dan menunduk.
" …………..uhh………..K-ka…….nao……. "
DEG!!!
Kanao cepat-cepat mengangkat wajahnya.
" aakhh….. K-ka……….nao……… " Tanjirou berusaha mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya.
Otot-otot di wajahnya tegang, keringat bercucuran di pipinya. Dia kelihatan sangat tersiksa.
' Tanjirou?! Dia masih hidup?! ' batin Kanao.
Ada perasaan lega untuk sesaat.
Tanpa fikir panjang Kanao segera bangun dan berlari ke tubuhnya yang tergantung.
Kanao melihat kedua tangan Tanjirou terikat di belakang tubuhnya jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melepaskan diri.
Kanao tak tau harus bagaimana, namun ia harus melakukan sesuatu, ya dia harus membuatnya bisa bernafas dulu.
" Bertahanlah Tanjirou " ujar Kanao menahan suaranya yang bergetar ketakutan.
Kanao segera membungkuk di bawah kedua kaki Tanjirou kemudian dengan segenap tenaga, Kanao menegakkan tubuhnya.
Kini Tanjirou duduk di atas pundaknya.
Kanao mencoba menahannya sekuat mungkin.
" Ukh… ohok! Ohok!! " Tanjirou terbatuk-batuk, setidaknya dia bisa sedikit bernafas karena Kanao menyangga tubuhnya dengan benar.
" Tanjirou, kumohon bertahanlah! " ujar Kanao, peluh keringat mulai bercucuran.
" U-ukhh... G-gomen K-kanao " ujar Tanjirou terbata-bata.
" Sssh, bukan salahmu jangan bicara dulu " ujar Kanao.
Kanao ingat tadi dia melihat tali yang melilit leher Tanjirou.
Kemudian Kanao mencoba meraba-raba ke atas dan menyentuh tali di lehernya.
Dengan indera perasanya Kanao berusaha melepas simpul tali itu.
Setelah bermenit-menit berusaha melepaskan simpul tali itu tanpa bisa benar-benar melihat.
' Celaka! Simpul talinya menjerat terlalu kencang! ' batin Kanao.
' Doushite? ' Kanao mulai takut.
Terlebih dia sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini. Kedua pundaknya berat menahan beban tubuh Tanjirou.
Hingga lututnya sampai gemetar.
' Tidak, aku harus tetap bertahan demi menyelamatkan Tanjirou ' batin Kanao menahan mati-matian rasa berat dan sakitnya.
Pelan-pelan saja…
Tenang Kanao tenang…
Setelah mencoba terus dan mengerahkan kekuatannya Kanao berhasil menyelamatkan Tanjirou sebelum terlambat.
Kemudian Kanao menurunkan tubuhnya.
Melepas ikatan di kedua tangannya. Dan memapahnya keluar dari toilet.
Kanao membaringkan Tanjirou di atas lantai sambil menggenggam tangannya.
" Tanjirou? " Kanao menahan suaranya agar tidak menangis ketika melihat wajah Tanjirou.
Hampir saja dia kehilangan dirinya.
Tanjirou kemudian membuka mulutnya.
" K-kan... Nao... " ujar Tanjirou masih kesusahan berbicara.
" T-tanjirou, kumohon bertahanlah " ujar Kanao lirih.
Tanjirou memaksakan seulas senyum, ia mencoba mengontrol nafasnya.
Sementara Kanao ia memegang tangan Tanjirou erat dan matanya mengawasi sekitar, takut tiba tiba ada sesuatu yang menyerangnya.
To be continued.
