Giyuu dan Shinobu tiba-tiba berakhir ke pintu keluar sekolah itu, namun...

" Tomioka-san, a-apakah itu " ujar Shinobu sembari menunjuk beberapa orang yang mengelilingi sekolah ini dalam keadaan terbaring dan dilihat darimanapun orang itu tanpak seperti.

" Ya, mereka semua mayat " ujar Giyuu.

Shinobu memeras ujung roknya.

Mereka memang sudah menemukan jalan keluar tapi sekolah ini dikelilingi oleh tumpukan mayat, selain itu ada hutan juga yang sangat lebat mengelilingi tempat ini. Apakah jalan keluarnya kesana? Mereka tak yakin.

" Kalian "

DEG!

Tiba-tiba ada suara seorang gadis kecil, Shinobu relfek memegang tangan Giyuu iapun menatap Giyuu disampingnya.

" K-kau mendengarnya juga kan? " tanya Shinobu.

Giyuu hanya mengangguk dan langsung berbalik kebelakang, diikuti Shinobu, dan...

Seorang gadis kecil menatap mereka berdua, tatapan gadis kecil itu sendu. Manusia? Atau...

"K-kamu " ujar Shinobu.

" Maaf, aku mengagetkan kalian, belum lama ini aku bertemu salah satu teman kalian namanya Kanae " ujar gadis kecil itu.

DEG!

" N-neesan, d-dimana dia? Apa kamu " ujar Shinobu.

" Tenang saja aku tak menyakitinya, saat masih hidup pun aku tak menyakiti siapapun " ujar gadis kecil itu.

" Saat masih hidup? Jja kamu ini " ujar Shinobu.

" Ya, aku hantu tapi aku takkan melukai kalian dan teman-teman kalian " ujar gadis kecil itu.

" Siapa namamu? " tanya Shinobu.

" Namaku Makomo, aku berasal dari sekolah Demon Slayer " ujar Makomo.

" Demon Slayer? Itukan sekolah dekat dengan kita? " ujar Shinobu sambil menatap Giyuu.

" Ya, benar " ujar Giyuu.

" Kalau begitu kenapa kau bicara pada kami? Kau tadi mengatakan kalau kau bertemu Kocho, apa yang terjadi? " tanya Giyuu pada Makomo.

" Aku tadi melihat Kanae-san yang tanpak kebingungan juga ketakutan, aku hanya tak tega dan mendekatinya lalu memberinya peringatan " jelas Makomo.

" P-peringatan? Maksudmu? " tanya Shinobu.

" Aku bilang padanya untuk segera keluar dari tempat ini selagi dia masih waras dan belum kehilangan akalnya " ujar Makomo.

" K-kenapa? Apa yang terjadi? Sebenarnya ini dimana? " serius baik Shinobu maupun Giyuu mulai tak paham, maksudnya apa?

" Kalian dan teman-teman kalian memainkan ritual Sachiko-san, benar? " tanya Makomo.

Shinobu dan Giyuu hanya mengangguk.

" Seharusnya kalian jangan memainkannya karena itu menghubungkan kalian semua ke dimensi ini, dimensi dimana arwah Sachiko-san berkeliaran " jelas Makomo.

" B-bukan karena ritualnya gagal? " tanya Shinobu.

" Itu tidak berpengaruh, justru kalau gagal kalian takkan sampai kesini " ujar Makomo.

" Sejauh ini kalian belum bertemu roh lain kan? " tanya Makomo.

" Roh lain? " tanya Shinobu.

" Ya, disini ada beberapa roh teman-temanku juga, kami memainkan ritual ini dan berakhir disini, tak lama kami tercerai-berai dan beberapa dari temanku meninggal dengan cara yang kejam beberapa lagi ada yang berubah jadi psikopat, dia bahkan tersenyum saat membunuh temannya sendiri " ujar Makomo.

Shinobu merinding mendengarnya, jadi gadis kecil ini korban yang terjebak disini?

" Kenapa kamu bisa meninggal? " tanya Shinobu tanpak iba.

" Aku bertemu mahluk aneh, aku tidak ingat jelasnya namun sepertinya aku diserang mahluk aneh itu dan meninggal " jelas Makomo.

" Temanmu yang lain? Apakah masih ada yang hidup? " tanya Giyuu.

" Tidak ada, karena kejadiannya sudah setahun yang lalu, aku tak yakin mereka masih hidup atau tidak " ujar Makomo.

" N-ne, Makomo-san apa kamu tau cara agar kita semua kembali ke dunia kita? " tanya Shinobu.

" Sebenarnya sampai akhir aku meninggal pun aku tak tau jalan keluarnya tapi aku memiliki teori dan aku tak tau apakah teoriku benar atau tidak " ujar Makomo.

" Teori? Katakan, mungkin berhasil " ujar Shinobu.

" Aku sempat berfikir bagaimana jika jalan keluarnya adalah dengan melakukan lagi ritual Sachiko-san bersama dan menyatukan lagi sobekan boneka kertasnya " jelas Makomo.

Benar juga, kenapa itu tak terfikirkan oleh mereka ya?

" Kamu tak sempat mencobanya? Kamu terpisah dari teman-temanmu kan? Apakah ada cara agar bisa bertemu teman-temanmu saat itu? " tanya Shinobu.

" Tentu saja ada, setiap gempa terjadi ruang dan dimensi akan berganti, misalnya saat kalian habis dari pintu barat sana ketika gempa terjadi isi pintu itu bukanlah jalanan atau ruangan yang kalian lewati atau datangi tadi " ujar Makomo menjelaskan.

" S-soukka, pantas saja neesan tak kembali lagi " ujar Shinobu.

" Masuk akal, jadi teriakan yang didengar memang saat itu posisi kita tak jauh dari Kanao " ujar Giyuu.

" Sepertinya begitu " ujar Shinobu.

" N-ne, apakah kamu tau dimana-teman kami yang lain? Tolong bantu kami " ujar Shinobu ia mendekati Makomo dan memegang tangannya, aneh memang namun ia bisa menyentuh gadis kecil itu.

Giyuu tak menyangka kalau Shinobu mendekati gadis kecil itu, iapun beranjak mendekati Shinobu.

" Aku memang berniat membantu kalian tapi kekuatanku hanya sedikit karena wujud ini, aku akan berusaha mencari keberadaan teman-teman kalian " setelah mengatakan itu Makomo menutup kedua matanya, ia tanpak serius.

Shinobu dan Giyuu hanya diam.

Tak lama Makomo membuka lagi kedua matanya dan ia menatap cemas kearah Shinobu dan Giyuu.

" Doushita? " tanya Shinobu.

" Aku tau dimana mereka " ujar Makomo.

" Dimana? " tanya Shinobu.

" Kanae-san ada dikolam dekat ruangan locker, lalu laki-laki bermata hijau emerald juga gadis berkuncir dua ada diruang kelas tak jauh dari ruangan locker, soshite gadis berkuncir satu tengah memapah laki-laki beranting Hanafuda tanpaknya laki-laki itu terluka, posisi mereka didekat toilet lantai dua dan terakhir gadis yang rambutnya digerai digendong oleh laki-laki berambut kuning posisi mereka tak jauh dengan posisi gadis berkuncir satu juga laki-laki beranting Hanafuda itu " jelas Makomo panjang lebar.

" T-tanjirou-kun, dia terluka? Apakah ini maksud teriakan Kanao " ujar Shinobu.

" Bagaimana cara kita ke lokasi Tanjirou? Kau tau rutenya? " tanya Giyuu.

" Tentu itu tak jauh dari lokasi kita " ujar Makomo.

" Tomioka-san, bisakah kita berpencar? " tanya Shinobu.

" Berpencar? Ditempat seperti ini? Kau yakin? " tanya Giyuu.

" Sebelum terjadi gempa lagi dan semakin sulit kita menemukan mereka lebih baik kita berpencar, lokasi Kanae-neesan berdekatan dengan Inosuke-kun juga Aoi sedangkan lokasi Kanao dan Tanjirou-kun berdekatan dengan lokasi Zenitsu-kun juga Nezuko-san berada " jelas Shinobu.

" Maksudmu kita berpencar untuk menemukan mereka semua sekaligus? " tanya Giyuu.

" Benar, Tomioka-san kamu ke lokasi dimana Kanao dan yang lain berada setelah bertemu mereka kembalilah kesini sedangkan aku akan ketempat Neesan juga menemui Inosuke-kun dan Aoi " ujar Shinobu.

" Kau yakin? " tanya Giyuu.

" Aku yakin, biar lebih cepat, titik temu kita pokoknya disini " ujar Shinobu.

" Baiklah, tapi berhati-hati jangan gegabah kita cukup beruntung bertemu Makomo, dia anak yang baik tapi aku tak tau bagaimana dengan roh lainnya " ujar Giyuu.

" Aku tau, aku akan berhati-hati " ujar Shinobu.

" Kaupun, berhati-hatilah " ujar Shinobu lagi.

" Baiklah, Makomo bisa kau jelaskan rutenya? " tanya Giyuu kemudian.

Makomo hanya mengangguk dan mulai menjelaskan rute terdekat atau rute tercepat agar mereka sampai ditempat yang mereka maksud.

" Kanao.. Arigatou " ujar Tanjirou, suaranya sudah kembali normal namun ia masih lemas.

" Kinishinaide, jangan banyak bicara dulu Tanjirou lehermu pasti masih sesak " ujar Kanao.

" Tidak kok, aku sudah mendingan " ujar Tanjirou.

Kanao berhenti berjalan.

" G-gomen a-aku " Kanao menunduk menahan air matanya.

" Tidak Kanao, yang salah itu aku, aku lengah dan malah meninggalkanmu sendirian di toilet itu, maafkan aku " ujar Tanjirou ia mencoba berdiri sendiri dan iapun memegang kedua pundak Kanao.

" A-aku takut, aku takut kalau kamu sampai hiks " Kanao tak bisa membendungnya lagi, tangisnya pecah begitu saja.

Tanjirou langsung mendekap Kanao.

Grep!

" Hey kau sudah menyelamatkanku, aku berhutang nyawa padamu, arigatou Kanao " ujar Tanjirou.

Kanao hanya mengangguk dan merasa lega, untung dia memberanikan diri mencari Tanjirou, untung dia masih sempat dan untung Tanjirou bisa selamat.

" Kita harus segera mencari yang lain, aku khawatir mereka diserang juga " ujar Tanjirou.

" Benar, Tanjirou siapa yang menyerangmu? Kau ingat? " tanya Kanao.

" Aku samar-samar melihatnya tapi sepertinya yang menyerangku bukanlah manusia " ujar Tanjirou.

" B-bukan manusia? Lantas apa? " tanya Kanao.

" Aku tidak tau, tapi sosok itu agak aneh aku tak pernah melihat sosok seperti itu sebelumnya " ujar Tanjirou.

" Tanpaknya kita memang dalam bahaya, kita harus cepat " ujar Kanao.

" Benar, ay-" ucapan Tanjirou terpotong saat sebuah suara yang mereka kenali menggema dilorong itu.

" Tanjirouuuu! "

" Onniichan! "

DEG!!!

Tanjirou dan Kanao langsung melihat kebelakang mereka, untuk sesaat mereka bernafas lega. Itu Zenitsu dan Nezuko.

" Zenitsu! Nezuko! " teriak Tanjirou yang langsung menarik tangan Kanao agar berlari mendekati mereka.

" Y-yokatta, kalian baik-baik saja kan? " tanya Tanjirou.

" Eh Nezuko kenapa kamu " Tanjirou baru sadar kalau Nezuko tengah digendong Zenitsu.

" A-aku " Nezuko yang malu tak tau harus berkata apa.

" Kakinya masih terluka, hora dia tergores pecahan lampu saat dikelas " jelas Zenitsu.

" Ah benar, Nezuko kau tak apa kan? Selain kaki apa kau terluka? " tanya Tanjirou.

" Daijobu, Zenitsu-san menjagaku dengan baik " ujar Nezuko dengan rona merah dipipinya.

Zenitsu ikut memerah, hampir saja ia berteriak kesenangan.

" Yokatta, Zenitsu arigatou " ujar Tanjirou.

Zenitsu hanya tersenyum.

" Kanao-chan, kami tadi mendengar teriakanmu, daijobu? " tanya Nezuko.

" Ah benar, Tanjirou kau sejak terbangun bersama Kanao terus kan? " tanya Zenitsu.

" K-kalian mendengar teriakanku? " tanya Kanao, ia bahkan lupa saking paniknya apa teriakannya sekencang itu?

" Iya teriakanmu keras sekali, terlebih Zenitsu-san kan pendengarannya tajam " ujar Nezuko

" Ah benar juga, sebenarnya tadi " ujar Tanjirou mulai menjelaskan karena ia tau Kanao masih shock dengan kejadian tadi.

" Begitulah " ujar Tanjirou menjelaskan secara singkat namun jelas.

" S-sonna, Onniichan apa masih sakit? Hiks... " Nezuko menangis lagi ia tak menyangka kalau Tanjirou mengalami hal mengerikan begitu, bagaimana kalau sampai ia kehilangan kakaknya itu?

" Daijobu, tenanglah aku baik-baik saja, semuanya berkat Kanao kalau saja dia tak menemukanku juga menolongku aku mungkin sudah " ujar Tanjirou.

" Zenitsu-san bisakah aku turun sebentar " ujar Nezuko.

Zenitsu hanya mengangguk dan menurunkan Nezuko pelan-pelan.

Nezuko segera menghambur memeluk Kanao sembari menangis sesenggukan.

" Hiks... Kanao-chan, arigatou hontou ni arigatou hiks... " Nezuko bersyukur untung saja Tanjirou masih selamat.

Kanao membalas pelukannya dan berujar.

" Aku juga bersyukur masih sempat, aku sangat takut kalau aku sampai gagal menolongnya " ujar Kanao, ia masih takut karena taruhannya adalah nyawa.

" Yokatta, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka Kanao-chan? " tanya Nezuko sambil melepas pelukannya.

" Daijobu, aku tak apa-apa " ujar Kanao.

" Syukurlah " ujar Nezuko lega.

Tiba-tiba, gempa itu muncul lagi dan kali ini cukup kuat seperti saat dikelas mereka.

" G-gempa lagi " ujar Zenitsu.

" Doushite? " ujar Tanjirou bingung.

Nezuko langsung menunduk ia menutup kepalanya.

Zenitsu hendak menenangkan Nezuko namun...

Brakk!!!

Gempa itu semakin tak beraturan, bahkan memiringkan posisi mereka semua.

" Aaah!!! "

Setelah itu mereka semua merasa pandangan mereka menghitam.

" H-hentikan, k-kepalaku aarrrgghh!!! " Aoi memegangi kepalanya, peluh keringat bercucuran, ia tanpak menahan rasa sakit.

" Kenapa? Sebenarnya kau ini kenapa hey! " Inosuke sejak tadi terus mengguncang guncang bahu Aoi, ia kalang kabut tiba-tiba saja gadis itu berteriak kesakitan.

" Hehehe " tiba-tiba terdengar suara tawa anak kecil dibelakang mereka.

Inosuke segera berbalik dan..

" Nanda omae! " teriak Inosuke.

Anak kecil yang pucat pasi dan salah satu matanya hilang, mengerikan.

" Inosuke! Jangan menatap mata anak itu Akkhh!!! " teriak Aoi.

" K-kenapa? " Inosuke hanya menurut dan memalingkan wajahnya namun tiba-tiba anak itu sudah ada didepan wajahnya.

" Inosuke!!! " teriak Aoi.

" Onniichan atau Onneechan , yang mana diantara kalian yang mau mati duluan? " ujar anak kecil itu sambil mengacungkan gunting ditangannya.

" Menjauh darinya! " teriak Inosuke, anak itu terlalu dekat dengan Aoi.

" Hee, apa aku harus mulai darimu dulu Onneechan " ujar anak kecil itu sambil menatap lekat-lekat kearah Aoi.

" Hentikan! Menjauh darinya!!! " teriak Inosuke.

" Jja, kalau gitu aku akan membunuhmu terlebih dahulu " ujar anak kecil itu dan,

Sring!

Tiba-tiba anak kecil itu menghilang.

Brukk!!

" Aoi! " Inosuke langsung mengangkat Aoi, gadis itu ambruk tubuhnya lemas tapi ia tak pingsan.

" I-inosuke " ujar Aoi dengan suara lemas wajahnya agak sendu dan tanpak lelah.

" Bertahanlah, Aoi " Inosuke segera menggendong Aoi dan hendak berlari namun ia mendengar suara teriakan melengking dari arah ruangan locker.

" KYAAAAA!!!! "

DEG!

Inosuke mengenali suara itu, itu suara Kanae, kakak Shinobu juga Kanao.

" Kuso! " Inosuke segera berlari kembali ke ruangan locker sembari menggendong Aoi yang masih sadar namun tubuhnya terasa mati rasa, nafasnya tersengal-sengal.

" I-inosuke " gumamnya berusaha bersuara.

" Jangan bicara dulu, tenanglah aku tadi mendengar suara Kanae " ujar Inosuke.

Aoi hanya mengangguk menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.

Inosuke mempercepat larinya diapun sampai diruang locker. Dan,

" Aakkhhhh!!!! "

" A-apa " Inosuke merasakan tubuhnya gemetaran, ia tak mempercayai apa yang ia lihat, kemudian ia segera mendudukan Aoi dipintu masuk ruangan locker.

" Aoi, jangan melihat kedalam, tunggu disini " ujar Inosuke.

" I-iya " ujar Aoi.

Inosuke pun segera masuk dan mengambil benda keras didekatnya, seperti pipa air.

" AARRRGGGHHH!!! " teriak Inosuke sambil mengayunkan pipa itu sekuat tenaga pada seseorang yang tengah menyiksa Kanae.

Ya, Kanae tengah disiksa, kedua tangan dan kakinya diikat, orang yang menyiksanya memiliki tubuh yang aneh, setengah tubuhnya tanpak normal namun setengahnya lagi tanpak mengerikan.

Orang itu tak menyadari kehadiran Inosuke karena sibuk menusuk-nusuk perut dan dada Kanae, gadis itu bahkan sudah tidak sanggup berteriak lagi, darah bercucuran dari tubuhnya.

Bruakk!!!

Inosuke memukul orang itu tepat dikepala dan kepalanya langsung terpotong, iapun jatuh begitu saja.

" H-hhah hah hah " Inosuke menahan nafasnya, tubuh Kanae sudah berlumuran darah, dia tak yakin kalau Kanae bisa bertahan.

" Kanae! Hey! Bertahanlah " teriak Inosuke.

" A-aa... Aakhh... " ia sudah tak sanggup mengeluarkan suara, ia menahan mati matian rasa sakit yang semakin mendera tubuhnya.

" NEESAN!!!! " jerit Shinobu.

Ya, dia baru saja sampai dan ia merasa dunianya berhenti berputar saat melihat Kanae yang berlumuran darah.

" Shinobu! " teriak Inosuke.

Shinobu segera berlari dan mendekati Kanae juga Inosuke.

" A-aapa yang " ujar Shinobu.

" Aku juga tidak tau, orang ini dia yang, Argh! " Inosuke mengepalkan tangan menahan amarahnya.

Shinobu mengepalkan tangannya kuat kuat, kenapa? Kenapa kakaknya harus berakhir begini? Andai saja dia datang lebih cepat.

Tap

Tap

Tap

DEG!

Seseorang dari luar, dimana ada kolam tepatnya, mereka mendengar langkah kaki seseorang.

" Inosuke-kun, bawa Aoi dari sini dan larilah, lari lurus terus dari sini " ujar Shinobu.

" Kau juga ikut bersama kami " ujar Inosuke.

" Tidak, kau dengar langkah kaki itu kan? Mungkin dia salah satu mahluk yang sama dengan yang menyerang neesan, aku akan menahannya dan a-aku akan melawannya, kau larilah sejauh mungkin bersama Aoi " jelas Shinobu.

" A-apa, tidak aku tidak mau " ujar Inosuke.

" Onegai, Inosuke-kun " ujar Shinobu dengan nada memohon.

Iapun menatap lekat Inosuke.

" Tolong selamatkan Kanao dan yang lain, keluarlah dari tempat ini, saat kalian sudah berkumpul lakukanlah lagi ritual Sachiko-san itu, itu jalan keluarnya " ujar Shinobu.

" N-nani " ujar Inosuke.

" Cepat, lari " ujar Shinobu.

Brakk!!!

Benar saja seorang pria dengan tubuh besar dan tinggi masuk, tatapannya sangat dingin, jelas sekali ada nafsu membunuh dari tatapannya.

" INOSUKE! " teriak Shinobu.

Inosuke tersentak kaget.

" LARI!!!! " teriak Shinobu seraya ia berlari mendekati mahluk itu.

Inosuke mengepalkan tangannya kemudian berbalik dan menggendong Aoi dan lari darisana, airmata mulai mengalir deras dipelupuk matanya.

Inosuke dapat mendengar teriakan Shinobu.

" AAARRRGGGHHHHH!!!!! "

Inosuke semakin menangis, kenapa?

Kenapa semua ini terjadi?

Aoi ikut menangis, dia melihat kejadian tadi semuanya, itu benar-benar menyakitkan, bagaimana dia berhadapan dengan Kanao nanti?

" hiks... Hiks... " Aoi membenamkan kepalanya di dada Inosuke.

Inosuke semakin mengeratkan gendongannya dan berlari lebih cepat.Shinobu berhasil membunuh mahluk itu walau nyawa taruhannya, ia segera merangkak mendekati tubuh kakaknya yang sudah kaku.

" N-neesan... " ujarnya terbata-bata.

Shinobu mengenggam tangan kakaknya, dia menangis pilu. Darah yang terus mengalir dari tubuhnya tak ia hiraukan, ia tak peduli.

" Hiks... Gomen.. Gomen neesan... " Shinobu mengeratkan genggamannya ditangan Kanae.

" Kanao... Gomen... " setelah mengatakan itu Shinobu menutup matanya.

To be continued.