" Nezuko-chan, daijobu? " tanya Zenitsu, tatapannya agak berbeda, Zenitsu keliahatn tanpak lelah, apa dia capek?

Nezuko segera berdiri, gempa tadi sukses membuatnya kehilangan keseimbangan, iapun bangun dan melihat Zenitsu.

" Hmm, daijobu " ujar Nezuko sembari mengangguk.

" Yokatta " ujar Zenitsu pelan, tiba-tiba Zenitsu merasa pusing.

" Eh? " Nezuko mencium bau amis dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zenitsu.

Darah segar mengalir dikepalanya, tak lama Zenitsu hampir ambruk namun Nezuko segera menahannya.

" Zenitsu-san! D-daijobu? Kenapa kepalamu " ujar Nezuko panik.

" D-daijobu, ak-hhh.. " Zenitsu tak meneruskan ucapannya, tiba-tiba ia muntah darah, matanya membelalak.

" Z-zenitsu-san " suara Nezuko mulai bergetar menahan tangis.

Sesuatu, ya Nezuko bisa merasakan benda tajam di-

" A-aa " Nezuko tak sanggup berkata-kata, gunting tajam menembus dada Zenitsu.

" N-nezuko..chan.. " ujar Zenitsu suaranya sangat lemah.

" Hehehe " tiba-tiba mereka mendengar suara tawa dari belakang Zenitsu.

Nezuko langsung melihat dan betapa terkejutnya dia, seorang anak kecil berambut panjang dan pakaian berwarna merah.

" Mati " ujar anak itu sambil menarik gunting yang menancap di dada Zenitsu kemudian menusuk-nusuk lagi ke punggung Zenitsu dengan cepat, Nezuko yang shock relfek menarik Zenitsu namun Zenitsu menahannya, ia mengerahkan segenap sisa kekuatannya dan berteriak.

" Lari, Nezuko-chan! Cepat! " teriak Zenitsu kemudian dia mendorong Nezuko agar menjauhinya.

" Tidak! Aku tidak mau! " teriak Nezuko ia mulai menangis, darah semakin berceceran dimana-mana namun Zenitsu masih memiliki sisa tenaga.

" LARI!!!!! " teriak Zenitsu.

DEG!

" Hiks... Hiks... Hentikan " ujar Nezuko ia menutup kepalanya dan menunduk.

Brukk!

" Hah " Nezuko melihat Zenitsu ambruk, tubuhnya sudah terkoyak habis dan anak kecil tadi tidak ada.

" H-hhah hahh hah, Z-zenitsu-san " ujar Nezuko pelan, suaranya bergetar hebat, ia sangat takut.

Tidak ada laki-laki berambut kuning itu tak bergerak samasekali.

" Tidak " Nezuko dengan gontai mendekati Zenitsu dan memangkunya.

Tidak ada... Zenitsu tak bernafas.

" Doushite? "

Nezuko meneteskan airmatanya lagi,

" Doushite? "

" AAAAAAAAHHHHHHH!!!!!! "

Tiba-tiba Nezuko membuka kedua matanya dan berteriak.

" Aaaaahh!!!! "

Nezuko langsung terbangun dan dia tengah ada dilorong yang sepi dan gelap, apa itu tadi?

" M-mimpi? " gumam Nezuko, ia melihat ke kanan dan kirinya, tidak ada.

Tidak ada siapapun.

" Hiks... Hiks... Hanya mimpi... Hiks syukurlah " Nezuko langsung menangis sesenggukan, sejak terjebak disini kenapa dia terus menerus memimpikan hal yang mengerikan?

Tap

Tap

Tap

Nezuko mendengar suara langkah kaki, apa itu? Siapa? Nezuko takut kalau itu bukanlah salah satu temannya, lantas dia segera mencari tempat bersembunyi, diapun melihat ada ruangan lab dengan banyak meja berjejer, Nezuko langsung masuk dan bersembunyi dibawah meja disana, jantungnya berdebar debar, ia takut.

' Zenitsu-san... Aku takut... Hiks... Onniichan ' batin Nezuko sambil menahan suara nafasnya yang bisa saja didengar.

Grek!

DEG!

Nezuko menutup mulutnya, menahan mati-matian ketakutannya.

Seseorang masuk dan dia tanpak seperti sedang menyeret sesuatu, kemudian sesuatu yang diseret itu dijatuhkan tepat didepan Nezuko, posisi Nezuko saat ini adalah telungkup dibawah meja yang pendek, dia agak mundur sedikit agar tak terlihat namun,

Brukk!!!

Nezuko membelalakan kedua matanya, bukankah itu,

' S-shinobu-san ' batin Nezuko.

Ya, tubuh Shinobu yang tak sadarkan diri atau lebih tepatnya sudah tak bernyawa tepat didepan Nezuko, tubuhnya penuh dengan darah dan beberapa luka sobekan yang mengerikan.

Air mata Nezuko mengalir deras namun ia mati-matian menahan suaranya agar tak keluar, ia menangis pilu, kenapa? Apa yang terjadi pada Shinobu? Apakah ini mimpi? Kalau memang mimpi Nezuko ingin segera terbangun.

Tap

Tap

Orang yang tadi menyeret Shinobu mendekati tubuh Shinobu lagi kemudian tangannya memegang gunting dan tanpa Nezuko duga.

Srek!

Orang itu menggunting lidah Shinobu, Nezuko ingin berteriak dia juga mual melihatnya, dia mati-matian menahan suaranya.

' Hiks... Shinobu-san... Hiks ' batin Nezuko menangisi gadis yang sudah dia anggap kakak perempuan sendiri.

Setelah menggunting lidah Shinobu, orang itupun pergi sambil menyeret kembali tubuh Shinobu keluar dari sana.

Nezuko berusaha memperhatikan lebih orang itu, ah bukan, wujudnya memang seperti orang tapi tubuhnya sangat tinggi dan penuh darah terlebih.

Orang itu tak memiliki mata.

Nezuko menutup matanya, dia merasa tak berguna, dia bahkan membiarkan tubuh Shinobu dibawa pergi oleh orang ah bukan, tapi mahluk aneh itu.

Nezuko mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia masih diam diposisinya, diruangan lab ini sudah takada orang lain selain dirinya.

" Hiks... Zenitsu-san... Hiks " Nezuko menangis pilu, dia takut, kemana Zenitsu? Kenapa dia sendirian?

" Hiks... Hiks... " Nezuko terus menangis, apakah ia terpisah saat gempa itu terjadi?

Kemudian Nezuko menghapus airmatanya dan dia pun mulai keluar dari tempat persembunyiannya.

Dia tidak boleh begini.

' Aku harus kuat, aku harus mencari Zenitsu-san ' batin Nezuko.

Dan diapun melihat ke kanan dan kirinya, mencari benda apapun yang bisa ia jadikan senjata.

Nezuko yakin mahluk tadi tidaklah sendirian, pasti ada mahluk lain yang tak segan-segan menyerang atau membunuhnya disini.

Mungkin anak kecil yang dia mimpikan tadi memang ada? Nezuko harus waspada, dia harus menahan semua rasa takutnya dan,

" Eh "

Tiba-tiba Nezuko teringat saat ia pertama terbangun ditempat ini, saat itu ada Zenitsu bersamanya dan saat itu dia tak melihat Zenitsu menunjukkan ketakutan atau perasaan panik, semua orang tahu kalau Zenitsu itu penakutnya luar biasa dia bahkan sering bersikap pengecut, tapi kemana semua sifatnya itu?

Nezuko tidak melihat ketakutan atau kepanikan dari laki-laki itu.

Kemudian Nezuko menyadari, kalau Zenitsu menahan semuanya, dia menahan rasa takut dan paniknya sendirian, kalau dia menunjukannya Nezuko pasti akan ikut panik dan takut.

Nezuko tersenyum sedih, dia bahkan sampai melakukan hal seperti itu, menjaganya dan tak membiarkan Nezuko dalam kesusahan sedikitpun.

" Zenitsu-san " gumam Nezuko, dia ingin bertemu... Nezuko ingin menemuinya.

Diapun melihat kapak tak jauh ditempatnya berdiri, kapak itu penuh darah, Nezuko mengepalkan tangannya dan mengesampingkan rasa jijiknya juga rasa takutnya, dia mengambil kapak itu.

" Minna, kumohon bertahanlah, jangan sampai terluka " ujar Nezuko.

Nezuko mulai berjalan keluar ruangan lab itu sambil membawa kapak dengan segenap kekuatan yang ia paksakan.

" Zenitsu-san, kumohon jangan sampai terluka "

Nezuko pun berjalan menyusuri lorong sepi itu dengan menahan semua rasa takutnya.

" Nezuko-chan! "

" Nezuko-chan! "

Zenitsu menghela nafas panjang, sudah berapa lama ia berjalan? Entahlah, ia tak menemukan gadis itu dimanapun, dia bahkan tidak tau sedang ada dimana.

Ya, Zenitsu tengah berjalan sambil memanggil manggil Nezuko, saat terbangun tadi ia sudah sendirian, dia terpisah dari Nezuko, Tanjirou dan Kanao.

Saat gempa itu terjadi ia tak ingat apa apa.

" Ne, Tanjirou! " Zenitsu memanggil sahabatnya itu namun takada, takada sahutan atau apapun.

Apa mereka terpisah lagi? Jelas saja, namun apakah mereka terpisah sejauh itu sampai suara teriakan Zenitsu pun mereka tak dapat mendengarnya.

Tap

Tap

Tap

" Eh? " Zenitsu mendengar suara langkah kaki, tepat dibelakangnya.

' Masaka, Nezuko-chan? ' batin Zenitsu.

Kemudian Zenitsu segera berbalik dan berteriak.

" Nezuko-chan? "

Hening.

Tap

Tap

Suara langkah kaki itu semakin mendekat.

Tidak, itu bukanlah Nezuko.

Zenitsu pun segera mundur dan tak lama sosok mahluk tinggi dengan tubuh besar muncul, ia tengah menyeret kapak dengan banyak darah menempel disana.

Sontak saja Zenitsu kaget bukan main. Ia langsung lari dari sana.

" A-apa itu tadi " Zenitsu mempercepat larinya, nafasnya tersengal-sengal namun ia tetap memaksakan lari.

Kemudian Zenitsu melihat ada dua lorong, tanpa banyak membuang waktu Zenitsu mengambil lorong sebelah kanan, ia takada waktu untuk berfikir, mahluk tadi, pasti dia hendak menyerangnya.

" Hah hah hah "

Nafasnya hampir habis, namun Zenitsu tak menghentikan larinya.

Tak lama Zenitsu melihat jalan buntu, jantungnya seperti berhenti berdetak.

Tap

Tap

Zenitsu berbalik, mahluk tadi mengejarnya kan? Jelas sekali mahluk tadi pasti sempat melihatnya, bagaimana? Bagaimana?

Zenitsu mengepalkan tangannya erat-erat, dia takut, tapi dia harus bertahan, kemudian Zenitsu mengedarkan pandangannya mencari benda apapun yang bisa dijadikan senjata.

Tidak ada, bagaimana ini?

Tap

Tap

Suara langkah kaki itu semakin mendekat, Zenitsu semakin mengepalkan tangannya saat sesuatu menariknya darisana.

" E-eh "

Srek!

Zenitsu merasa tangannya ditarik dan,

" I-inosu-" ucapannya tak selesai saat mulutnya ditutup oleh tangan Inosuke.

Ya, Inosuke menarik Zenitsu ke ruangan tepat disebelahnya, saking paniknya Zenitsu bahkan tak menyadari ada ruangan disebelahnya.

" Sshh, diam " bisik Inosuke.

Ruangan itu sangat sempit, mungkin itu gudang sekolah? Dan Inosuke menarik Zenitsu untuk memasuki lemari disudut ruangan, didalam sana sudah ada Aoi yang terduduk.

Inosuke mengisyaratkan agar Zenitsu diam, jangan berisik dan bersembunyi dulu dilemari itu.

Zenitsu hanya mengangguk dan menuruti Inosuke, syukurlah ternyata Inosuke dan Aoi baik-baik saja, setidaknya Zenitsu agak lega ketika bertemu mereka lagi.

Tap

Tap

Mahluk tadi tanpaknya sudah sampai didepan ruangan sempit itu.

Zenitsu dan Inosuke hanya diam, berusaha untuk tidak bersuara.

" Tanjirou! "

DEG!

' Itukan suara Kanao ' batin Zenitsu dan Inosuke.

Tiba-tiba mahluk itu berlari menjauhi ruang gudang dimana Zenitsu, Inosuke juga Aoi berada.

Zenitsu dan Inosuke saling memandang dan mengangguk, mereka pun keluar darisana,

Inosuke sambil menggendong Aoi dipunggungnya berlari dan mereka dapat mendengar teriakan lain.

" Kanao-chan! "

DEG!

Zenitsu merasa dunianya berhenti berputar, dia mempercepat larinya.

' Nezuko-chan! ' batin Zenitsu ketakutan.

Beberapa saat sebelumnya.

Tanjirou yang saat itu terbangun dan tak menemukan siapapun langsung mencari Kanao, adik serta sahabatnya.

Padahal belum lama mereka bertemu, tapi gempa tadi sukses memisahkan mereka semua.

" Minna! Doko da! " teriak Tanjirou.

Tap

Tap

" Eh? Suara langkah kaki? " gumam Tanjirou.

Dan betapa terkejutnya sekaligus lega saat Tanjirou melihat seorang pria yang sangat ia kenali mendekatinya.

" Giyuu-san! " seru Tanjirou tanpak senang.

" Tanjirou, kau sendirian? " tanya Giyuu.

Ya, dia baru saja tiba dilokasi yang sudah di arahkan Makomo.

Itu artinya yang masih diposisi awal hanyalah Tanjirou.

" Iya, ah tidak juga tadinya aku bersama Kanao dan tak lama Zenitsu juga Nezuko datang, demo " ujar Tanjirou tanpak lesu.

" Gempa tadi kan? Tanjirou, dengar setiap gempa yang terjadi disini mengubah posisi ruangan dan dimensi " ujar Giyuu.

" Eh? Maksudnya? " tanya Tanjirou.

" Jadi setiap gempa itu terjadi, ruang dan dimensi akan berpindah pindah, misalnya kau memasuki ruangan kelas disebelahmu saat gempa terjadi ketika kau keluar dari kelas itu bukan lorong ini yang kau temui melainkan tempat lain " jelas Giyuu.

" S-soukka, demo sebenarnya ini tempat apa dan kenapa Giyuu-san tau banyak? " tanya Tanjirou.

" Ini adalah dimensi lain dan jelas ini bukanlah sekolahan kita, aku tau dari salah satu roh disini " jelas Giyuu.

Kemudian dia menjelaskan pertemuannya dengan Makomo, dan semua penjelasan dari roh gadis kecil itu, Tanjirou sangat terkejut awalnya ia mengira kalau disini takada semacam roh.

" Maka dari itu " ujar Giyuu tak selesai saat mereka mendengar suara langkah kaki dari belakang Tanjirou.

Tap

Tap

" Kanao? " ujar Tanjirou, berharap langkah kaki itu milik Kanao.

Tap

Tap

Dan, seorang pria bertubuh tinggi tanpa mata, tanpak berjalan sembari menyeret tubuh seseorang yang sukses membuat Tanjirou terutama Giyuu membelalak kaget.

" S-shinobu-san " ujar Tanjirou terbata-bata, air mukanya begitu kaget.

" ... " Giyuu merasa kosong.

Pria tanpa mata itu tanpak menyadari kehadiran Tanjirou dan Giyuu, diapun melepas pegangannya pada Shinobu dan berlari mendekati Tanjirou juga Giyuu.

Dan dilihat dari manapun, tubuh Shinobu sudah penuh dengan darah dan gadis itu tak bergerak samasekali.

" Tanjirou " ujar Giyuu.

" A-aa Sh-shinobu-san " Tanjirou mulai menangis, kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang terjadi pada Shinobu?

" Lari dari sini, lurus terus ke arah dimana aku datang dan cari yang lain, kemudian lakukanlah lagi ritual Sachiko-san bersama, itulah jalan keluarnya " jelas Giyuu, kemudian tanpa mendengar respon Tanjirou, Giyuu langsung mendorong Tanjirou kebelakangnya.

" G-giyuu-" ucapan Tanjirou tak selesai saat Giyuu berteriak penuh penekanan.

" CEPAT!!! "

DEG!

Tanjirou mengepalkan tangannya dan berlari menjauh dengan airmata yang sudah tak bisa ia bendung.

" Aaaaahhhh!!!! " Tanjirou berteriak putus asa." Tanjirou! " Kanao sudah berkeliling dilorong yang sama sejak terbangun tadi, dan jelas dia terpisah dari Tanjirou, Nezuko juga Zenitsu.

' Bagaimana ini, apa karena gempa tadi? ' batin Kanao.

Saat Kanao berbelok kekiri ia tanpak seperti melihat Tanjirou yang tengah berlari.

" Tanjirou! " teriak Kanao.

Berhenti, orang yang Kanao lihat melihat kearahnya dan berlari mendekat, ternyata benar! Itu Tanjirou, syukurlah.. Namun Kanao terlalu fokus pada Tanjirou saat ia tak menyadari mahluk mengerikan yang hendak menikamnya dari belakang.

" Kanao-chan! " teriak Nezuko yang melihat mahluk itu hendak menikam Kanao, dengan cepat ia berlari sambil menarik sekuat mungkin kapak yang dia bawa dan,

Jleb!

Tangan mahluk itu putus, Nezuko berhasil memutuskan lengannya, walau niatnya sebenarnya memenggal kepala mahluk itu namun setidaknya mahluk itu tidak sempat menikam Kanao.

" E-eh, Nezuko-chan?! " Kanao jelas saja kaget, diapun melihat mahluk itu tepat dibelakangnya.

Nezuko menghalangi Kanao, ia menatap takut pada mahluk aneh itu dengan tubuh gemetar.

Mahluk itu tanpak marah diapun hendak menusuk Nezuko dengan tangan satunya lagi, Nezuko hanya memejamkan matanya rapat-rapat, kapaknya terjerembab kebawah dia tak sempat mengambilnya.

" Nezuko-chan! " teriak Kanao.

Jleb!

" NEZUKO! KANAO! " teriak Tanjirou.

Nezuko tak merasakan apapun mengenainya, diapun membuka matanya sedikit dan alangkah terkejutnya dia,

" Z-zenitsu-san "

Ya, Zenitsu melindunginya, dia terkena tusukan telak dipunggungnya, ia pun muntah darah.

" U-ukhh " Zenitsu, ia menahan mati matian sakit dipunggungnya.

" T-tidak! Tidak! " Nezuko langsung memeluk Zenitsu, ia menangis tersedu sedu.

" Jangan begini hiks... Hiks... " Nezuko terus meraung menangis.

" U-uukhh... N-nezuko...chan " Zenitsu merasa tenggorokannya terkecat, ia kembali memuntahkan darah.

Kanao pun melihat mahluk itu hendak menyerang lagi namun.

Brakk!!!

Inosuke muncul dan memukul keras kepala mahluk itu sampai putus, disisi lain Tanjirou sudah ada disana diapun mendorong tubuh mahluk itu agar menjauhi adik dan sahabatnya.

" Hah hah hah " Tanjirou merasa nafasnya memburu, ia memastikan agar mahluk itu benar-benar lumpuh.

" Arggh! " teriak Inosuke kesal.

" Tanjirou " ujar Kanao, ia menahan airmatanya, syukurlah dia baik-baik saja, namun Zenitsu,

" O-onniichan... Hiks... Zenitsu-san.. Terluka karena aku hiks " Nezuko masih memeluk erat Zenitsu, sedangkan Zenitsu merasa pandangannya buram, ia menahan terus agar tetap tersadar.

" Sshh, j-jangan bilang begitu " ujar Zenitsu.

" Zenitsu! Daijobu? Kumohon bertahanlah " ujar Tanjirou.

" Zenitsu, jangan pingsan dulu bodoh! " teriak Inosuke, iapun menarik tangan Aoi yang tanpaknya sudah baikan.

" Aku masih lemas tapi tanpaknya aku baikan sekarang " ujar Aoi.

" Ah kau kugendong lagi saja, cepat naik " Inosuke membungkuk di depannya.

" T-tidak usah " ujar Aoi.

" Cepat " Inosuke tanpak tak peduli.

Aoi hanya menghela nafas pasrah dan menurut.

" Zenitsu bagaimana " ujar Aoi.

" Biar kugendong " ujar Tanjirou.

" T-tidak usah, aku bisa berjalan sendiri " ujar Zenitsu berusaha berdiri.

" Kau yakin? " tanya Tanjirou.

" I-iya, cepat kita harus pergi darisini " ujar Zenitsu.

" B-baiklah, kita harus keluar, jalannya lurus saja kesana, ikuti aku " ujar Tanjirou.

Mereka semua mengangguk dan mulai berlari, Zenitsu dibantu oleh Nezuko, gadis itu tak akan melepaskan tangannya apapun yang terjadi.

" Jadi begitu " Tanjirou usai menjelaskan semuanya, dia dapat merasakan tangan Kanao yang tengah ia genggam bergetar.

" N-neesan ga " ujar Kanao, airmata mulai mengalir deras.

" Andai aku datang lebih cepat " Inosuke pun usai menjelaskan semuanya yang ia alami bersama Aoi.

Kanao sebenarnya tak ingin keluar dari dimensi ini, ia tak mau meninggalkan kedua kakaknya, namun genggaman tangan Tanjirou seolah mengatakan lain.

Dia tau dia harus menerimanya dan tetap bertahan hidup, tapi tetap saja itu terlalu kejam.

" Kamu masih punya aku " ujar Tanjirou.

DEG!

" Jangan berfikiran macam-macam, kamu masih punya aku, Kanao " ujar Tanjirou.

" Hiks... A-arigatou.. " Kanao hanya memaksakan seulas senyum.

Tak lama, merekapun sampai ditempat janjian Giyuu juga Shinobu beberapa waktu yang lalu, sayangnya mereka tak dapat memenuhi janji untuk bertemu kembali disini.

" Sebenarnya aku ingin mengecek lagi Giyuu-san, demo " ujar Tanjirou.

" Kau fikir bagaimana denganku? Shinobu, dia " Inosuke mengepalkan tangannya kuat-kuat.

" Zenitsu-san, kumohon...hiks... Jangan tinggalkan aku " Nezuko melihat air muka Zenitsu yang semakin pucat pasi.

" D-daijobu.. Aku.. Baik-baik saja " ujar Zenitsu.

" Jangan bohong...hiks..kamu tidak baik-baik saja Zenitsu-san " Nezuko tidak tega melihat Zenitsu yang terlihat semakin kesakitan.

" J-jangan..menangis.. N-nezuko...-chan " Zenitsu menggapai pipi Nezuko dan mengusap airmata yang terus keluar dari mata indahnya.

" Baiklah kalau gitu " ujar Tanjirou.

" Hehehe "

Tiba-tiba ada suara anak kecil.

DEG!

Nezuko ingat mimpinya iapun melihat asal suara dan benar saja, anak kecil berambut panjang dengan pakaian merah tanpak tersenyum jahat sembari memegang gunting.

" A-apa " ujar Aoi tanpak takut.

" Mati! " anak kecil itu langsung melesat dengan cepat dan.

Jleb!

Aoi tanpak terkejut, gunting itu mengenai dadanya.

" A-apa yang " ujar Inosuke ikut terkejut.

" Hehehe, mati! " Anak itu mencabik-cabik tubuh Aoi dengan cepat, Inosuke yang emosi langsung menerjang anak kecil itu.

Jleb!

" A-akkhh " Inosuke merintih kesakitan.

Anak kecil itu tak bisa diserang, dan dia terlalu cepat, dia berhasil melumpuhkan Inosuke. Dia mencabik-cabik tubuh Inosuke seperti Aoi tadi.

" Hentikan!!!!! " Tanjirou ikut menerjang anak kecil itu.

" Onniichan!!!! " teriak Nezuko histeris.

Saat Tanjirou juga ikut diserang oleh anak kecil itu.

" A-akkhh!!! " Tanjirou dapat merasa darah segar mengalir deras diperutnya.

" Tanjirou!!!!! " Kanao menjerit putus asa.

" A-aa.. N-nigero " suara Aoi tanpak lemah, tak lama iapun menutup matanya.

Kemudian Inosuke menatap Zenitsu yang semakin pucat pasi.

" L-lari... C-cepat " ujar Inosuke terbata-bata.

" NEZUKO! BAWA KANAO DAN ZENITSU PERGI, CEPAT! " teriak Tanjirou.

" T-tidak mau! Onniichan jangan begitu!!! " teriak Nezuko.

" Tidak! " teriak Kanao.

" Kumohon, pergi , jangan sia-sia kan pengorbanan kami, cepat!!!!! " ujar Tanjirou mulai menangis.

" U-ukkhhh... " Zenitsu merasa tak berdaya, ia ingin menolong kedua sahabatnya tapi badannya seolah menolak keras.

Zenitsu hanya bisa menangis, melihat Inosuke dan Tanjirou juga fakta bahwa teman-temannya yang lain telah kehilangan nyawa.

" Hiks... Hentikan... Kumohon " Nezuko tanpak putus asa begitupun Kanao ia tak mau kehilangan mereka , dia menangis pilu.

" CEPAT!!!!! " bentak Tanjirou.

Kanao mengepalkan tangannya kemudian menarik tangan Nezuko.

Kanao menatap Nezuko dengan tatapan putus asa akan harapan, Nezuko pun menunduk dan memposisikan Zenitsu dipunggungnya, dia memaksakan diri untuk menggendong Zenitsu dan Kanao langsung berlari sambil menarik tangan Nezuko yang ikut berlari dengannya.

" Hiks... Hiks... Onniichan... Hiks " Nezuko.

" Hiks... Doushite... " Kanao.

Zenitsu hanya menangis dalam diam, ia mengepalkan tangannya penuh emosi.

" Arigatou " Tanjirou tersenyum sebelum ia benar-benar tumbang.

Nezuko, Zenitsu dan Kanao sudah agak jauh dari tempat tadi dan segera melakukan ritual itu, namun...

" K-kertasku hilang " ujar Nezuko tanpak tak percaya, kemana? Kenapa bisa hilang?

" S-sonna " ujar Kanao.

" P-pakai punyaku, Nezuko-chan " ujar Zenitsu sambil mengambil potongan kertas miliknya.

" Tidak mau! Kamu bagaimana? " tanya Nezuko.

" A-aku punya, hora " Zenitsu memperlihatkan kertas lain.

" I-itu " ujar Nezuko.

" Inosuke menitipkannya padaku tadi, dia bilang takut hilang " ujar Zenitsu, sebenarnya dia berbohong, kertas itu ia temukan disalah satu mayat yang ia temukan saat berpisah dengan Nezuko tadi, tanpaknya mereka bukanlah korban pertama dari ritual Sachiko-san.

" Y-yokatta, baiklah " ujar Nezuko.

Merekapun mengangguk dan mulai melakukan ritualnya.

Zenitsu sendiri tak tau, apa yang akan terjadi kalau ia memakai kertas yang berbeda dengan kelompok teman temannya, yang jelas ia tak mau Nezuko dalam bahaya, lebih baik ia saja yang terkena dampak resikonya walau ia sendiri tidak tau apa gerangan yang akan terjadi padanya.

Yang jelas, ia mau Nezuko selamat ke dunia mereka yang asli.

" Sachiko-san kumohon kabulkan keinginan kami! " Kanao.

" Sachiko-san kumohon kabulkan keinginan kami! " Nezuko.

" Sachiko-san kumohon kabulkan keinginan kami! " Zenitsu.

Nezuko mengenggam erat tangan Zenitsu saat sebuah cahaya menyeruak diantara mereka bertiga sedangkan Kanao memegang tangan Nezuko sebelahnya lagi.

Pyashhh!!!

Cahaya itu semakin besar dan mereka semua menghilang dari tempat itu.

Ruang kelas yang berantakan akibat gempa tadi, namun anehnya lantai yang sempat retak dan rubuh tadi kembali utuh.

Nezuko masih menutup matanya, dan iapun membuka matanya perlahan saat dirasa atmosfer diruangan ia berpijak berbeda, posisi Nezuko tanpak sedang terduduk.

" N-nezuko-chan " ujar Kanao tepat disebelahnya.

Suaranya tanpak bergetar.

Nezuko melihat kearah Kanao dan menatap sendu Kanao, ia mulai menangis.

" Onniichan... Soshite... Minna... " ujar Nezuko.

Tapi setidaknya Kanao dan Zenitsu ada bersamanya, Nezuko masih merasakan genggamannya mengenggam tangan Kanao juga Zenitsu, namun...

" N-nezuko-chan " Kanao menatap kearah Nezuko dengan sedih bercampur bingung.

" D-doushita Kanao-chan? " tanya Nezuko bingung.

" Z-zenitsu " ujar Kanao.

" Zenitsu-san? Ah ya Zenit-" Nezuko beralih kesebelahnya hendak memastikan kondisinya apakah baik-baik saja atau tidak, namun...

Tidak ada..

Nezuko pun melihat ke tangannya yang masih mengenggam tangan Zenitsu.

Tangannya memang masih mengenggam tangan Zenitsu, akan tetapi hanya tangannya saja...

Tangannya yang terpotong.

Nezuko hanya terdiam menatap kosong kearah tangan Zenitsu.

To be continued.