Seminggu berlalu, Nezuko merasa hidupnya hampa bahkan ia merasa hidupnya kini sudah tak berarti apa apa.

Setiap hari ia hanya akan memandangi keluar jendela kamarnya dengan tatapan kosong.

Seolah jiwa raganya pergi entah kemana.

Besok ia sudah mulai harus sekolah lagi, Nezuko tak yakin bisa bersekolah dengan normal seperti biasanya.

" Nezuko... " Ibunya masuk kekamar membawa nampan makanan, melihat anak gadisnya yang semakin lama semakin kurus membuatnya sedih.

Nezuko sempat dibawa ke dokter psikiater namun percuma saja, dokter mengatakan bahwa shock yang dialami Nezuko benar benar parah, walau Ibunya sendiri tidak tau apa gerangan yang menimpa anak gadisnya itu.

" Nezuko, makan dulu ya? Ibu mohon " Ibunya mendekati Nezuko, ia mengelus lembut kepala Nezuko.

" Okaasan.. Tidak kangen Onniichan ya? " tanya Nezuko dengan suara datar.

" Nezuko, kamu sejak lahir tidak memiliki kakak, kenapa sejak malam itu kamu selalu mencari cari dan membahas hal ini? " tanya Ibu Nezuko bingung.

Ya, semua orang yang tak kembali terlupakan didunia mereka, bahkan keluarga kandung mereka, menganggap mereka tak pernah ada.

Dan itu membuat Nezuko depressi semakin berat.

Flashback

Nezuko tertegun, kenapa? Kenapa hanya tangan Zenitsu, kemana tubuhnya?

" N-nezuko-chan " Kanao dapat merasakan tubuh Nezuko yang bergetar menahan tangis.

Iapun menangis pilu, dia benci pada dirinya sendiri, dia menyesal...kenapa dia tega meninggalkan Tanjirou?

" Ne, Kanao-chan " ujar Nezuko tiba tiba

Kanao hanya menatap Nezuko.

" Mungkinkah mereka terlempar kerumah masing masing, h-hora Zenitsu-san dan yang lainnya pasti ada dirumah " ujar Nezuko dengan nada putus asa, namun ia berharap walau kemungkinannya kecil tapi ia ingin berharap.

" A-aku tidak tau " ujar Kanao, ia termasuk gadis yang selalu berfikiran logis, walau kejadian ini tidaklah logis tapi tetap saja, kalaupun yang lain memang kembali, mereka sudah kehilangan nyawa.

Percuma saja...

" Zenitsu-san... Dia pasti sudah dirumah "

Nezuko langsung berdiri dan berlari keluar kelas, Kanao langsung mengejarnya, takut Nezuko melakukan hal yang tidak diinginkan.

Diluar hujan masih lah deras namun Nezuko tak peduli, ia menerobos derasnya air hujan, dibelakangnya Kanao mengejar Nezuko, ia juga tak peduli akan guyuran hujan yang langsung membuatnya basah kuyup.

" Hah hah hah " Nezuko terus berlari, tak lama ia sampai dirumah Zenitsu, jantungnya berdebar keras, ia takut tapi ia tetap berjalan mendekat ke pintu masuk.

Kanao juga ikut dibelakang Nezuko, tubuh mereka basah kuyup, nafas mereka tersengal sengal, wajah mereka juga begitu pucat.

Tok

Tok

" Tunggu sebentar " terdengar suara pria paruh baya dibalik pintu. Ya, kakek Zenitsu yang menjawab.

Cklek!

" Eh? Nezuko? Ada apa, kenapa hujan hujanan? " tanya Jigoro, kakek Zenitsu.

" Z-zenitsu-san nya ada? " tanya Nezuko dengan jantung berdebar debar, ia meremas roknya kuat kuat.

" Zenitsu? Dare? " tanya Jigoro tanpak bingung.

DEG!!!

Nezuko merasa seperti dunianya hancur seketika.

" Zenitsu, cucu kakek " ujar Kanao, seharusnya dia tau tapi dia tetap menanyakannya.

" Cucuku hanya satu, Kaigaku. Mungkin kalian salah orang? " ujar Jigoro.

" Kenapa menyebut namaku kek " tiba-tiba Kaigaku muncul, kakak Zenitsu.

Nezuko lantas mendekati Kaigaku dan berkata dengan airmata yang berlinang.

" Ne, Zenitsu-san mana? Dimana dia? " tanya Nezuko penuh harap, seolah tak mau tau kenyataan yang sebenarnya.

" Hah? Zenitsu? Siapa dia? Aku tak mengenalnya " ujar Kaigaku.

" S-sonna " Kanao langsung paham, apa maksudnya, apakah orang-orang yang tak kembali kesini secara langsung terhapus dari dunia ini?

Brukk!!!

Nezuko ambruk, melihat itu Jigoro, Kaigaku juga Kanao jelas kaget.

" Nezuko! "

" Nezuko-chan! "

Saat Nezuko terbangun dia terus menanyai Zenitsu dan Kakaknya Tanjirou namun orang orang yang ditanyai hanya bingung, mereka tak tau siapa yang dimaksud Nezuko.

Kanao pun sama, saat ia pulang kedua orang tuanya samasekali tak mengenali bahkan mengingat kedua kakaknya, bagi mereka Kanao itu anak tunggal.

Flashback end.

Keesokan harinya Nezuko sudah memakai seragam sekolahnya, ia merasa hampa tapi ia ingin bertemu Kanao, sudah seminggu sejak malam itu ia melihat Kanao, terakhir bertemu saat ia dan Kanao ke rumah Zenitsu.

" Nezuko, ayo sarapan dulu " ujar Ibunya saat melihat Nezuko keluar kamarnya, wajahnya yang selalu bercahaya dan ceria sudah hilang entah kemana.

Nezuko yang sekarang sangat pucat, keceriaannya lenyap, badannya kurus, kantung mata hitam jelas tercetak karena setiap malam ia susah tidur, setiap tidurpun ia selalu mimpi buruk, mimpi yang berulang ulang seolah terus menerus menghantuinya.

Nezuko hanya menggeleng dan berlalu ke pintu keluar tanpa mengatakan apapun.

" Okaasan, kenapa Onneechan jadi dingin? " tanya Shigeru, adik laki laki Nezuko

Ibunya hanya mengelus rambut Shigeru dengan tatapan sedih.Sesampainya disekolah Nezuko melihat Kaigaku dilorong sekolah, ia segera menghampiri Kaigaku.

" Kaigaku-senpai! "

Kaigaku menoleh dan berhenti berjalan

" Doushita? Kamu sudah sembuh? " tanya Kaigaku, seingatnya terakhir melihat gadis itu ambruk dan dia hilang kabar begitu saja.

" Zenitsu-san mana? Tidak berangkat bareng? " tanya Nezuko, matanya mulai berkaca kaca, dia tanpak menyedihkan.

" Dakara, Zenitsu siapa? Aku tak mengenal orang bernama Zenitsu " ujar Kaigaku.

" Hiks... Bohong... Zenitsu-san.. Hiks... Dia adikmu " Nezuko tak bisa membendung lagi airmatanya, hatinya juga mentalnya kembali terguncang.

Tak jauh dari mereka Kanao melihat itu dan segera berlari mendekati Nezuko.

" Aku benar benar tak mengerti " ujar Kaigaku.

" Nezuko-chan! " Kanao mendekati Nezuko.

" Kanao-chan! Ohayou " seorang gadis berambut pink terang dengan ombre hijau terang mendekati mereka, disebalahnya ada pria berambut hitam dengan masker yang selalu ia pakai kemana mana.

" K-kanroji-san " ujar Kanao.

" Are? Nezuko-chan? Kenapa menangis? " tanya Mitsuri Kanroji, sahabat dekat Shinobu.

" Kaigaku, kau apakan dia? " tanya pria disebelah Mitsuri, Obanai Iguro.

" Aku tak melakukan apapun " ujar Kaigaku jelas kesal.

" N-ne, Mitsuri-senpai! S-shinobu-san d-dia dia " ujar Nezuko mendekati Mitsuri

Mitsuri kebingungan.

" Shinobu? Dare? " tanya Mitsuri

Kanao langsung menarik Nezuko dan memeluknya erat, dia mengelus lembut punggung Nezuko.

" Hiks... Doushite?... Hiks " Nezuko terisak, hatinya seperti di iris, sakit sekali.

" Sebenarnya dia kenapa? " tanya Kaigaku, dia benar benar tak mengerti sebenarnya ada apa.

" Nezuko-chan, daijobu? " Mitsuri jelas khawatir, kenapa Nezuko begini?

" Kanao, bisa kau jelaskan? " tanya Iguro

" Kenapa tidak ada yang mengingat mereka? Hiks... Zenitsu-san... Onniichan... Minna... Hiks " Nezuko mengeratkan pelukannya, ia menangis pilu.

" Tolong jangan berfikiran macam macam, kami hanya mengalami hal yang mengerikan " ujar Kanao.

" Aku bahkan sempat mencoba untuk mengakhiri hidupku saja, demo " Kanao tak meneruskan ucapannya, ia ingat saat Tanjirou mengatakan bahwa dia masih memiliki Tanjirou disisinya, setiap kali ia hendak mengakhiri hidupnya sekelebat kejadian saat Tanjirou mengatakan hal itu selalu muncul.

Seolah, Tanjirou tak membiarkan Kanao mengakhiri hidupnya.

" Bisa kau ceritakan kejadiannya? " tanya Mitsuri hati hati, dia tau tidak mungkin mereka mau mengingatnya tapi dia ingin menolong, dia tak tega melihat Nezuko dan Kanao seperti mayat hidup begini.

Kanao hanya diam, walau sudah seminggu berlalu kejadian itu sukses membuatnya trauma dan depressi berat. Dia hanya diam tak merespon apapun.

Kanao pun menggandeng tangan Nezuko ke kelas mereka, untungnya kelas masihlah sepi mengingat masih sangat pagi.

Kanao menghela nafas panjang kemudian duduk dibangkunya, sedangkan Nezuko, gadis itu kembali ke kebiasaan barunya, menatap kosong keluar jendela.

" Nezuko-chan, sebenarnya seminggu ini aku terus terusan mengurung diri dikamar, demo " ujar Kanao memecah keheningan.

" ... " Nezuko hanya diam

" Aku merasa mungkin saja ada jalan agar bisa menyelamatkan mereka semua " ujar Kanao.

" Menyelamatkan mereka? " Nezuko baru bersuara dan mendekati Kanao.

" Ya, lihat " Kanao mengambil sesuatu dari saku roknya dan memperlihatkan kotak kecil yang isinya tulang.

" A-apa ini " ujar Nezuko bingung.

" Tulang Sachiko-san " ujar Kanao.

" A-apa " Nezuko menutup mulutnya kaget.

" Aku menemukan ini dimeja kerja Ayahku, dia selama ini mencari tau kasus soal Sachiko-san " ujar Kanao.

" A-apa kita bisa menyelamatkan yang lain dengan ini? " tanya Nezuko.

Kanao mengangguk.

Nezuko merasa ada secercah harapan.

" Kita harus kembali kesana, dengan cara memutar antara ruang dan waktu " ujar Kanao.

" B-bagaimana " tanya Nezuko.

" Kita kembali ke saat dimana sebelum kamu datang menjemput Tanjirou, saat aku dan yang lain masih dikelas bercerita horror " jelas Kanao.

" Kemudian mencegah ritual itu? " tanya Nezuko.

" Tidak, syaratnya agar kita bisa kembali ke ruang dan waktu, kita harus tetap menjalani ritual itu dan kita harus membebaskan roh Sachiko yang masih berkeliaran, kita harus membuat orang yang membunuh Sachiko mengakui kesalahannya " jelas Kanao.

" Dan kali ini kita tidak boleh membiarkan siapapun mati " ujar Kanao lagi

Nezuko mengepalkan tangannya, dan menatap lekat kearah Kanao.

" Apapun akan kulakukan untuk menyelamatkan mereka " ujar Nezuko.

Kanao mengangguk, kemudian berujar

" Kali ini kita harus memiliki strategi dan jangan sampai gagal " ujar Kanao.

Nezuko mengangguk.

" Baiklah, kita mulai sekarang " Kanao berdiri dan mengeluarkan tulang Sachiko dari kotak kecil itu.

Nezuko mengangguk dan berdiri didepan Kanao.

Kanao menjulurkan satu tangannya, dan Nezuko dengan yakin memegang tangan Kanao erat.

" Siap? " tanya Kanao.

Nezuko hanya mengangguk mantap.

Kemudian Kanao menggigit tulang itu dan cahaya pun mulai menyeruak, Nezuko menutup matanya tanpa melepas pegangan tangannya pada Kanao.

" Nezuko "

" Nezuko "

" Hah " Nezuko tersentak, ia membuka matanya, dia sedang terduduk dikamarnya, iapun melihat keluar jendela, hujan..

" Nezuko, katanya mau antar payung ini ke kakakmu, ayo sebelum kemalaman " ujar Ibu Nezuko sembari memasuki kamarnya.

Nezuko segera beranjak berdiri tanpa mengatakan apapun, dia bahkan tak membawa payung yang Ibunya bawa.

" Nezuko! Payungnya! " teriak Ibunya, Nezuko segera mengambil payungnya dan berujar.

" Aku pergi! "

Ibunya hanya menggeleng geleng kepala.

" Hah hah hah " Nezuko berlari secepat mungkin, ia ingin bertemu.. Ia ingin bertemu mereka.

' Zenitsu-san... Onniichan... Minna ' batin Nezuko

...

Kanao membuka kedua matanya dan..

" Kanao? Daijobu? Kita mau mulai nih cerita nya " ujar Tanjirou.

Kanao melihat jelas Tanjirou dan teman temannya yang lain.

Grep!

Kanao memeluk erat Tanjirou, melihat itu yang lain tentu saja terkejut terutama Tanjirou, wajahnya memerah karena gugup.

" E-eh " Tanjirou gelagapan.

Brakk!!!

Tiba-tiba pintu kelas dibuka secara kasar, semua orang yang ada dikelas jelas saja terkejut.

" Gyaaaaaaa!!! Nani nani e-eh " Zenitsu jelas berteriak kaget, namun kekagetannya berubah dengan kebingungan.

" Nezuko-chan? " tanya Zenitsu.

" Hah hah hah " Nezuko mencoba mengontrol nafasnya yang memburu, disana... Mereka disana.. Mereka hidup.

" Nezuko? " tanya Tanjirou bingung, kenapa adiknya kesini?

Nezuko berlari cepat kearah Zenitsu dan memeluknya erat.

Zenitsu hampir saja terjengkang kebelakang, dia jelas saja kaget.

Blush!

" E-eeh Nezuko-chan? " wajahnya langsung memerah bak tomat.

Yang lainnya hanya menatap bingung adegan aneh (?) yang terjadi.

" Hiks... Zenitsu-san... Hiks... Y-yokatta... Hiks... " Nezuko menangis pilu, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Zenitsu, takut tiba-tiba dia akan hilang begitu saja.

" D-doushita? N-nezuko-chan? " Serius, Zenitsu tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.

" Hiks... Hu hu... " Nezuko tak menjawab dia hanya menangis sesenggukan.

Zenitsu tak mendapat jawaban apapun lagi, dia hanya memeluk balik Nezuko dan mengelus lembut punggungnya.

" Sshh, daijobu Nezuko-chan " ujar Zenitsu mencoba menenangkan, walau ia sendiri tidak tau apa gerangan yang menimpa gadis dipelukannya itu.

" Kanao, d-daijobu? " tanya Shinobu melihat Kanao juga menangis.

" Eh, Kanao? Doushita? " tanya Tanjirou panik.

Kanao hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.

Semenit berlalu sejak Nezuko datang dan menangis sambil memeluk Zenitsu, mereka semua bingung, kenapa Nezuko menangis? Kenapa dia memeluk Zenitsu?

Tak lama setelah itu Kanae datang dan berujar.

" Ah, Nezuko-chan kenapa tadi kamu berlarian? Bahkan lampu merah pun kamu terobos, kan bahaya " jelas Kanae tanpak khawatir.

" Eeh? Nezuko kenapa kau menerobos lampu merah? Bahaya " ujar Tanjirou jelas protes.

Tidak biasanya adiknya bertingkah sembrono, pasti ada sesuatu.

" Nezuko-chan, kalau kamu kenapa kenapa bagaimana? Aku harus bagaimana? " ujar Zenitsu, memang kedengaran berlebihan tapi dia akan sangat frustasi kalau hal buruk menimpa gadis yang sangat ia sukai itu.

Bukan hal aneh, Zenitsu jelas sangat menyukai Nezuko sejak dulu ia mengenal gadis itu.

Nezuko hanya menatap Zenitsu lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca iapun kembali memeluk Zenitsu dan menangis.

" Hiks... Aku yang harus bagaimana... Hiks.. Kamu jahat.. Zenitsu-san jahat " Nezuko meremas seragam Zenitsu tanpa melonggarkan pelukannya.

" ... " mereka semua sekarang menatap Zenitsu penuh curiga.

" Hey Monitsu! Kau apakan Monoko! " teriak Inosuke.

" Yah, salah nama " protes Aoi.

" Zenitsu-kun, kamu menggoda gadis lain selain Nezuko-san kan? " ujar Shinobu.

" Jja, Nezuko-chan cemburu? Masaka Nezuko-chan suka sama Zenitsu-kun " ujar Kanae.

" Eeeh, benarkah? Zenitsu kamu berbuat apa? " tanya Tanjirou kelabakan.

Kanao hanya tersenyum melihat semuanya tanpak baik baik saja, hatinya menghangat.

" Eeeh a-aku tidak melakukan apa-apa, serius a-aku eeh " ujar Zenitsu kalang kabut.

" Zenitsu-san.. " ujar Nezuko, ia sudah berhenti menangis, tapi masih memeluk Zenitsu.

" I-iya? " ujar Zenitsu gugup.

Yang lain juga tanpak penasaran, ah indahnya asmara anak remaja begitulah fikir mereka sekilas

" Jangan tinggalkan aku " ujar Nezuko.

" Eh? D-dous- " ucapan Zenitsu dipotong cepat saat Nezuko melepas pelukannya dan berujar dengan tatapan yang dalam.

" Kumohon... Jangan tinggalkan aku, a-aku tidak bisa " ujar Nezuko, ia kembali menangis.

" Zenitsu " semua orang mengeluarkan aura aura membunuh.

Zenitsu merinding, hidupnya akan berakhir jika ia salah menjawab.

Grep!

Zenitsu memeluk Nezuko dan mengelus punggungnya lembut.

" Tidak akan pernah " ujarnya dengan yakin dan tegas.

" Uwaaaa kawaii " Kanae tanpak gemas.

" Ara ara " Shinobu pun sama.

" Boleh juga kau bocah " celetuk Giyuu.

" Ceh, tidak seru " ujar Inosuke.

" Waaa kalian lucuuu " ujar Aoi bersemangat.

" Adikku sudah besar " ujar Tanjirou.

" Hmm " Kanao hanya tersenyum senang

Kemudian, Nezuko tanpak lebih tenang dia masih tak percaya kalau ia masih bisa bertemu kembali dengan mereka semua.

Terutama kakaknya dan Zenitsu, benar benar seperti mimpi.

" Nezuko, sebenarnya kamu menangis karena Zenitsu selingkuh kan? " tanya Aoi kepo.

" Memang mereka sudah jadian? " tanya Inosuke.

" Indahnya cinta anak remaja " ujar Kanae.

" B-bukan, sebenarnya a-" ucapan Nezuko disela cepat oleh Kanao.

" Nezuko-chan " ujar Kanao cepat.

Nezuko lantas menatap Kanao, dia melihat Kanao menggeleng, isyarat bahwa ia tak boleh menceritakan semuanya pada mereka, apakah itu syarat lain?

Nezuko yang paham langsung mengangguk mengerti.

" Doushita, Kanao? " tanya Tanjirou bingung.

" Hmm, tidak apa apa " ujar Kanao.

" Nezuko-chan? " tanya Zenitsu, dia juga ingin tau kenapa Nezuko menangis dan sampai memeluknya segala, apakah dia mimpi? Ini terlalu indah bagi Zenitsu sebagai mimpi.

" A-aku " ujar Nezuko, ia tak bisa menceritakan semuanya dan ia juga tak pandai berbohong, lantas ia hanya mengatakan alasan yang memang benar adanya kenapa ia menangis.

" A-aku tidak mau kehilangan Zenitsu-san " setelah mengatakan itu Nezuko memalingkan wajahnya dengan rona merah, imut sekali.

Brukk!!!

Zenitsu ambruk dengan perasaan fuwa fuwa

" Waaa " mereka semua lantas terkejut, apakah ini yang disebut perasaan yang akhirnya terbalaskan?

" Nezuko! Jadi kamu sekarang pacaran? " tanya Tanjirou, kenapa dia tidak bilang-bilang.

" Uwaaa kamu mendahuluiku dan Kanao-chan " ujar Aoi.

" Ara ara, ternyata anak muda lebih peka ya " ujar Shinobu dengan nada sindiran.

Giyuu hanya memutar bola mata malas.

" Lucu sekali mereka, gemasnya " ujar Kanae.

" A-aku belum pacaran kok " ujar Nezuko, apa dia baru saja menyatakan perasaannya pada Zenitsu? Wah muka Nezuko semakin memerah.

" Aaaa sudah ah " Nezuko menutup mukanya malu.

" Kawaiiii " Tak lama, mereka melanjutkan rencana awal, yaitu bercerita horror.

Nezuko dan Kanao tetap mengikuti alur cerita awal, mereka tidak boleh mengubahnya kecuali saat mereka ke dimensi lain, mereka baru harus mengubah semuanya.

Dan saat cerita selesai tiba tiba mati lampu, Kanao sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tak lama, lampu kembali menyala dan mereka hendak pulang, dan sesuai alur awal, Shinobu mencegah mereka untuk melakukan ritual itu.

" Ah, matte, sebelum pergi, gimana kalau kita semua melakukan ritual Sachiko-san? " usul Shinobu.

Kemudian Shinobu mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan sebuah boneka kertas berbentuk manusia yang sederhana.

Nezuko menelan ludah, ia harus bisa, dia tidak boleh mengacau.

Nezuko lantas menggenggam tangan Zenitsu.

Zenitsu jelas kaget dengan wajah memerah.

Diapun melihat air muka Nezuko yang tegang, Zenitsu pun menggenggam balik tangan Nezuko.

" Matte, neesan " ujar Kanao.

" Doushita Kanao? " tanya Shinobu.

" Ne, Kanae-neesan apapun yang terjadi jangan coba-coba pergi sendirian " ujar Kanao.

Kanao juga jelas harus mencegah kejadian saat Tanjirou diserang dan akibatnya dia berteriak yang didengar oleh semua orang disana.

" Apa maksudmu? " tanya Kanae bingung.

" Pokoknya jangan lakukan " ujar Kanao.

" Hmm, baiklah " ujar Kanae.

Ritual Sachiko-san pun dimulai, Nezuko mengeratkan genggamannya ditangan Zenitsu.

" Kanao-chan " ujar Nezuko.

Kanao mengangguk dan ritual pun dimulai...

Seperti yang terjadi sebelumnya, tak lama mereka melakukan ritual itu tiba tiba gempa muncul, lantai kelas rubuh dan mereka terjatuh kebawah, terlempar ke dimensi lain.

To be continued.