" Nezuko-chan! "

" Nezuko-chan! "

Nezuko membuka matanya dan tersentak kaget, ah benar dia sudah mulai terjebak disini.

Nezuko melihat wajah Zenitsu yang tanpak khawatir.

Nezuko segera beranjak bangun dan melihat sekitar, sama ini tempat yang sama dimana dia dan Zenitsu terjebak pertama kali.

" Nezuko-chan? Daijobu? " tanya Zenitsu tanpak khawatir.

" A-ah, daijobu ne Zenitsu-san ayo kita cari yang lain " ujar Nezuko.

" Baiklah, ayo naik kepunggungku " ujar Zenitsu sambil membungkuk.

" E-eh " Nezuko pun ingat, sama seperti awalnya dia terkena pecahan lampu dikelas.

Dia tak berhasil mencegahnya karena terlalu tegang.

" Hora, kakimu terluka nanti akan kubersihkan, kita cari UKS " ujar Zenitsu.

Nezuko ingat itu, seingatnya dia merasa pusing saat di UKS dan dia tak sadar setelahnya, apa dia ketiduran seperti yang Zenitsu bilang? Nezuko tidak yakin, tanpaknya sesuatu terjadi dan Zenitsu pasti menutupinya sama seperti kertasnya yang..

Ah, benar kertasnya!

Nezuko memeriksa roknya dan, ada.

" Y-yokatta " Nezuko memegang erat kertasnya, ternyata kertas itu masih ada, kemungkinan kertas itu hilang di UKS atau di lab tempat dia bersembunyi saat itu.

" Nezuko-chan? " tanya Zenitsu merasa Nezuko malah melamun.

" A-ah iya, g-gomen a-aku malah merepotkan Zenitsu-san " ujar Nezuko.

" Tidak repot samasekali, ayo naik " ujar Zenitsu sambil tersenyum hangat.

Hati Nezuko ikut menghangat iapun mengangguk dan naik kepunggung Zenitsu, mengalungkan tangannya dileher laki laki itu.

Zenitsu pun berdiri sambil menggendong Nezuko kemudian mulai keluar dari ruang kelas.

" Sebenarnya ini dimana " ujar Zenitsu memecah keheningan, dia benar benar bingung, di sisi lain Nezuko sudah tau dan dia tidak bisa menceritakannya.

" Kurasa kita terjebak ditempat lain, yang jelas bukan sekolah kita, tempatnya menakutkan " ujar Nezuko, dia memang takut, sangat takut.

Apalagi dia masih trauma dengan kejadian saat itu, saat dimana semua teman temannya merenggang nyawa.

Dan saat dimana Zenitsu tak kembali bersamanya.

Nezuko yakin saat itu Zenitsu ikut terbawa bersama cahaya yang muncul saat ritual itu dilakukan, tapi Zenitsu takada, hanya tangannya yang masih menggenggam tangannya erat.

Kemudian Nezuko ingat, Zenitsu memakai kertas lain dan katanya milik Inosuke dan jelas dia berbohong, Nezuko saat itu tak menyadarinya saking paniknya, kenapa Zenitsu begitu gegabah? Apakah kertas itu milik korban lain yang terlempar ke dimensi ini? Itu artinya saat itu Zenitsu terlempar ke sekolah korban yang memakai kertas itu.

Nezuko memeluk erat leher Zenitsu dengan perasaan takut, ia tidak mau kehilangannya.

" D-daijobu, jangan takut kan ada aku " ujar Zenitsu mencoba berani padahal dalam hati ia menjerit ketakutan.

" Ne, Zenitsu-san " ujar Nezuko.

" I-iya ? " tanya Zenitsu.

" Janji jangan tinggalkan aku, ya? " ujar Nezuko ia menelungkupkan wajahnya ke bahu Zenitsu, tangannya meremas seragam yang dipakai Zenitsu.

" T-tentu saja, mana mungkin aku meninggalkanmu " ujar Zenitsu gelagapan.

" Arigatou, Zenitsu-san " ujar Nezuko.

Zenitsu hanya tersenyum kemudian dia melihat plat ruangan UKS didepannya.

" Ah, UKS " ujar Zenitsu.

" B-benar " Nezuko menelan ludah kemudian merekapun masuk kedalam UKS.

" Nezuko-chan duduklah dulu disini ya " ujar Zenitsu.

" Dame! Aku a-aku " tiba tiba Nezuko melihat sebuah kotak yang tergeletak tak jauh darinya.

" Itu, apa itu " ujar Nezuko kemudian, dia harus mencari petunjuk apapun disini dia tidak boleh lengah dan mengulangi kejadian yang sama, dia hanya memiliki kesempatan terakhir.

" Eh? Nani? " Zenitsu pun melihat apa yang ditunjuk Nezuko, sebuah kotak berwarna coklat.

Zenitsu pun mengambil kotak itu dan membukanya.

" Kalung? " ujar Zenitsu.

" N-ne, biar kulihat " ujar Nezuko.

Zenitsu pun mengangguk dan memberikan kalung itu pada Nezuko.

" Matte, aku akan mencari plester atau alkohol untuk membersihkan lukamu " ujar Zenitsu.

" I-iya, jangan jauh jauh ya " ujar Nezuko.

" Wakatta " ujar Zenitsu, iapun berbalik dan mencari apapun yang bisa ia pakai untuk luka Nezuko.

Sementara Nezuko, dia tidak boleh melamun atau apa ia kini fokus memperhatikan kalung yang ada dikotak tadi, kalung itu memiliki liontin yang bisa dibuka.

Nezuko pun membukanya dan..

Foto seorang gadis kecil dengan baju putih dan rambut panjang dan senyuman ceria disebelahnya tanpaknya ibu dari gadis kecil itu.

" I-inikan " ujar Nezuko.

Mirip dengan gadis kecil dengan pakaian merah waktu itu, apakah dia Sachiko?

" Sepertinya memang ini " ujar Nezuko, diapun memegang erat kalung itu kemudian Zenitsu menghampirinya.

" Nezuko-chan, aku menemukan plester, hora masih ditutupi plastik sepertinya bisa dipakai buat menutup sementara lukamu " ujar Zenitsu.

" A-ah benarkah? A-arigatou " ujar Nezuko

Zenitsu hanya tersenyum dan mulai membersihkan luka dikakinya dan memakaikan plester tadi.

Zenitsu begitu telaten melakukannya dia juga melakukan itu dengan hati hati agar Nezuko nyaman.

" Arigatou Zenitsu-san " ujar Nezuko sambil tersenyum manis.

" K-kawaii, e-eh maksudku " ujar Zenitsu gugup.

" Pfft, mukamu merah Zenitsu-san " ujar Nezuko dalam hati ia gemas sekali dengan wajah Zenitsu saat memerah begitu benar benar manis.

" E-eeh Nezuko-chan " Zenitsu tanpak malu bukan main.

" Hehe, gomen kalau gitu ayo kita pergi dari sini " ujar Nezuko, dia harus bergerak cepat.

" A-ah iya ayo " Zenitsu kembali membungkuk.

" E-eh Zenitsu-san " ujar Nezuko.

" Aku tidak mau kamu memaksakan diri berjalan, lukamu belum kering juga belum sembuh benar jadi pasti sakit saat berjalan, biar kugendong lagi " ujar Zenitsu.

Nezuko tersenyum hangat, padahal dia bisa saja memaksakan berjalan tapi Zenitsu tanpaknya takkan membiarkan dia merasa sakit walau sedikit saja.

" Arigatou " ujar Nezuko, iapun naik kepunggung Zenitsu dan memeluk lehernya.

" Apapun untukmu Nezuko-chan , pegangan ya " ujar Zenitsu.

Nezuko hanya mengangguk dengan senyum manis.

Sementara itu Kanao dan Tanjirou kini ada di toilet, tetap saja Kanao ingin buang air kecil namun ia tidak mau kejadian itu berulang.

" Kanao? Kenapa melamun? Apa kita cari toilet lain? " tanya Tanjirou melihat Kanao yang malah bengong.

" I-iya, lebih baik kita eh " Kanao kemudian melihat sebuah kotak didekat bilik toilet diapun mendekati kotak itu dan-

" K-korewa " Kanao tanpak mual.

" Doushita, Kanao? " tanya Tanjirou mendekati Kanao.

Tap

Tap

Kanao mendengar langkah kaki yang mendekat, dia segera menarik tangan Tanjirou untuk masuk ke bilik toilet bersamanya.

" K-ka-" Tanjirou hendak bertanya kenapa, namun Kanao menutup mulut Tanjirou dengan tangannya mengisyaratkan untuk jangan berisik.

Tanjirou hanya mengangguk.

Tap

Tap

Kemudian Tanjirou pun mendengar suara langkah kaki itu.

' D-dare ' batin Tanjirou.

Deg deg deg

Kanao masih memegang kotak tadi. Ya, kotak tadi berisikan lidah manusia dan ada 4 lidah disana juga bercampur dengan darah.

Apakah ini lidah korban? Mungkinkah lidah Sachiko? Tapi ada 4 lidah disini, jangan jangan korbannya bukan hanya Sachiko tapi ada anak lain yang menjadi korban juga.

" Kanao, suaranya sudah menjauh " ujar Tanjirou.

" A-ah iya ayo " ujar Kanao.

Merekapun keluar dari bilik toilet dan Kanao bernafas lega, ia berhasil menghindari kejadian dimana Tanjirou diserang dan digantung, benar benar mengerikan.

" Tanjirou, kita harus cepat, ayo " ujar Kanao.

" Eh? Bukannya kamu mau buang air kecil? " tanya Tanjirou.

" Tidak, lupakan itu ayo " Kanao harus bisa menahannya dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.

" Eh, jangan ditahan nanti kamu sakit " ujar Tanjirou khawatir.

" Sudah hilang kok, mungkin karena kaget soal langkah kaki tadi " ujar Kanao berbohong, sebenarnya dia masih ingin buang air kecil tapi dia tidak mau meninggalkan Tanjirou walau sedetik saja.

" Hmm, kalau muncul lagi bilang saja ya jangan ditahan tahan " ujar Tanjirou

Kanao hanya mengangguk dengan senyuman.

Merekapun keluar dari bilik toilet itu dan Kanao mengepalkan tangannya, misinya adalah mencari kedua kakaknya juga Giyuu karena mereka akan bertemu dengan salah satu roh disini.

" Tanjirou, boleh aku minta tolong? " tanya Kanao.

" Tentu, kenapa? " tanya Tanjirou.

" Bisa kamu cium bau kedua kakakku atau bau Tomioka-san? Kita harus secepatnya menemukan mereka " ujar Kanao.

" E-eh? Baik akan kucoba " Tanjirou memang memiliki penciuman yang tajam diapun mulai fokus dan mencari bau bau yang dia kenal. Walau dia agak terganggu dengan bau amis yang begitu menyengat.

" Kesana, ayo " ujar Tanjirou.

Kanao mengangguk dan mulai berlari sambil menarik tangan Tanjirou.

" Eh? " Tanjirou.

" Kita harus cepat, kamu arahkan jalannya ayo " ujar Kanao.

" Wakatta " ujar Tanjirou.

Merekapun berlari ke arah yang Tanjirou arahkan.

' Nezuko-chan, kuserahkan yang lain padamu ' batin Kanao" Zenitsu-san, kamu yakin kesini arahnya? " tanya Nezuko.

" Iya, aku tadi mendengar suara teriakan Aoi suara seperti ketakutan " ujar Zenitsu.

" Baiklah, ayo Zenitsu-san " ujar Nezuko

Zenitsu mengangguk paham dan mulai berlari mendekati sumber suara yang ia dengar.

Nezuko dan Kanao beruntung terjebak dengan Zenitsu juga Tanjirou, mereka bisa diandalkan untuk menemukan teman yang lain dengan cepat.

Tak lama Nezuko dan Zenitsu berakhir disebuah ruang locker dan mereka melihat Aoi disana.

" Aoi-chan! " teriak Nezuko.

Aoi yang baru saja menutup pintu keluar melihat Nezuko dan Zenitsu, dia lantas berlari mendekati mereka.

" Yokatta! Nezuko-chan! Zenitsu! " ujar Aoi

" Kamu tidak terluka kan? " tanya Nezuko.

" Aku baik baik saja, kamu sendiri gimana? " ujar Aoi.

" Daijobu, ne dimana Inosuke? " tanya Nezuko.

" Inosuke? Dia tadi keluar dulu mau mengecek kolam diluar sana " jelas Aoi.

" Eh? " ujar Nezuko.

" Nezuko-chan? " tanya Aoi bingung.

Grek!

Mereka mendengar pintu terbuka dan.

" Inosuke! Jangan mengagetkan kami! " gerutu Zenitsu yang tersentak kaget, suara kecil pun akan sangat mengagetkan di situasi begini.

" Kalian " Inosuke segera mendekati mereka.

" Yokatta " Nezuko berhasil mencegah Aoi yang kerasukan dan menceburkan diri kekolam.

" Hehehe " tiba tiba ada suara anak kecil.

DEG!

" A-apa itu " Aoi mulai menarik lengan Inosuke karena takut.

" Itu ! " ujar Inosuke menunjuk kearah pintu masuk ruang locker.

Seorang anak perempuan berambut panjang dengan pakaian merah dan anak kecil itu tanpak membawa gunting, tidak salah lagi.

Sachiko!

Nezuko segera turun dari gendongan Zenitsu, tentu saja Zenitsu kaget.

" Nezuko-chan! Kenapa? Kita harus lari " ujar Zenitsu panik.

" Daijobu, a-aku akan mengatasinya kalian mundur " ujar Nezuko memberanikan diri.

" Tidak " Zenitsu tepat disamping Nezuko dia memegang tangan Nezuko.

" Z-zenitsu-san, ini bahaya biar aku sa-" ucapan Nezuko ditepis cepat.

" Justru karena ini berbahaya, biarkan aku melindungimu " ujar Zenitsu dengan tatapan serius.

' Zenitsu-san.. ' Nezuko pun membalas genggaman tangan Zenitsu dan mengangguk.

" Hehehe , mati! " roh jahat Sachiko mulai mendekat dan Nezuko dengan cepat mengacungkan kalung yang dia bawa tadi.

" Yamette! Sachiko-chan! " teriak Nezuko

Zenitsu menutupi Nezuko agar tak diserang mengingat anak kecil itu membawa gunting.

" Nezuko-chan! " teriak Aoi.

" Tch! Tidak adakah yang bisa kita lakukan " ujar Inosuke frustasi.

Roh jahat Sachiko berhenti tepat didepan Zenitsu dan Nezuko.

" Onegai, ibumu tidak mau kamu melakukan ini terus menerus, ne? " ujar Nezuko sambil membuka liontin kalung itu.

Sachiko hanya terdiam, kemudian tak lama tiba tiba muncul roh lain, roh yang sama seperti Sachiko tapi pakaiannya putih, dan wajahnya tanpak bersih dan tak menakutkan samasekali.

" O-okaasan? " ujar roh Sachiko berpakaian putih itu.

Tap

Tap

Tap

" A-aku minta maaf, aku tak bermaksud membunuh ibu dan anak itu, a-aku menyesal " tiba tiba muncul suara berat.

" Kanao-chan! " seru Aoi saat melihat Kanao yang mengacungkan boneka yang tanpak usang.

" Tanjirou! " teriak Inosuke.

Ya, Kanao, Tanjirou, Shinobu, Giyuu juga Kanae ada disana. Saat bertemu Shinobu, Giyuu dan Kanae. Kanao dan Tanjirou menemukan boneka itu, boneka yang bisa berbicara, tidak lain adalah pelaku dari pembunuhan Sachiko dan ibunya.

Mereka juga sudah membebaskan anak anak yang menjadi korban pembunuhan itu, lidah yang Kanao temukan sudah ia berikan pada anak anak itu, mereka akan terbebas ketika lidah mereka dikembalikan.

Dan sekarang, tinggal membebaskan Sachiko.

Roh Sachiko yang memakai pakaian merah menjatuhkan guntingnya dan ia pun bersatu dengan roh Sachiko yang memakai pakaian putih.

Cahaya putih menyeruak dan roh Sachiko pun menghilang begitu saja.

" S-selesai " ujar Nezuko.

" Belum, kita harus keluar dari sini " ujar Kanao mengingatkan.

" Bagaimana caranya? " tanya Tanjirou

Ruangan mereka berpijak mulai bergetar, gempa lagi!

" O-oi oi oi " ujar Inosuke mulai taksuka.

" B-bagaimana ini " ujar Aoi takut.

" Tenanglah, kita keluar dulu darisini " ujar Shinobu.

" Disana ada kolam kan? Kita keluar, jangan didalam sini lama lama " ujar Giyuu.

" Ayo, minna " ujar Kanae.

Mereka semua mengangguk dan berlari keluar ruangan locker.

" Minna, kita lakukan lagi ritual Sachiko-san " ujar Kanao.

" A-apakah itu " tanya Aoi.

" Jalan keluarnya? " tanya Kanae memastikan.

Kanao hanya mengangguk, mereka sebenarnya masih bingung kenapa Kanao dan Nezuko tanpak tau sesuatu daripada mereka tapi mereka kesampingkan dulu semua itu karena keadaan semakin genting.

" Ayo, seperti awal kita katakan ritualnya sesuai jumlah kita " ujar Kanao.

Mereka mengangguk dan mulai melingkar, dan mulai mengatakannya bersama.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Kanae.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Shinobu.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Giyuu.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Aoi.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Inosuke.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Kanao.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Tanjirou.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Nezuko.

" Sachiko-san, kami mohon kambulkan keinginan kami " Zenitsu.

Dan cahaya putih mulai menyeruak, mereka semua menutup mata dan...

Pyashhh!

Ruang kelas yang masih sepi dan hawa hawa pagi hari masih terasa. Nezuko dan Kanao tanpak telungkup dilantai kelas, tak lama Kanao mulai membuka matanya, cahaya menusuk indera penglihatannya.

" ... " Kanao kemudian terduduk dan memperhatikan sekitar, kelasnya...

Bukankah ini suasana yang sama saat ia dan Nezuko hendak menyelamatkan yang lain? Tunggu, apakah ia gagal? Lalu semua tadi? Apakah hanya mimpi?

" ...ukh... " Nezuko merasakan sakit dikepalanya, diapun terbangun dan melihat Kanao disampingnya.

" K-kanao-chan... K-kokoa " Nezuko melihat sekitarnya, bukankah ini kelasnya?

" A-apakah ki-" ucapan Nezuko tak selesai saat pintu kelas dibuka.

Grek!

" Uwaaaa Nezuko-chaaan " Zenitsu.

" Nezuko! " Tanjirou.

" Ah! Kalian berangkat bersama ya? " Aoi.

" Tumben kau meninggalkan Gonpachiro " Inosuke.

Nezuko dan Kanao hanya bengong, apakah ini ilusi? Apakah mereka memang berhasil?

Tanjirou dan yang lain saling menatap bingung kemudian mendekati Nezuko dan Kanao.

" Nezuko, kenapa berangkat duluan? " ujar Tanjirou.

" Wajahmu pucat, daijobu Nezuko-chan? " tanya Zenitsu tanpak khawatir.

Mereka berdua berjongkok karena Nezuko dan Kanao masih terduduk.

' H-hari apa ini? ' batin Kanao

Pertanyaan bodoh untuk seorang Kanao, tapi ia ingin tau dan memastikan, kemudian dia merogoh saku roknya dan melihat ponselnya.

Nezuko pun menatap Kanao.

" Hari yang sama saat kita pergi " ujar Kanao seolah menjawab tatapan Nezuko padanya.

Yang lain tanpak bingung.

Tes

" E-eh! " Zenitsu tersentak kaget saat Nezuko menangis.

" Hiks... Kita.. Berhasil? " ujar Nezuko tak bisa menahan airmatanya.

" Hmm, kita berhasil " Kanao pun ikut menangis.

" N-nezuko-chan! Hey? Kamu kenapa? " Zenitsu kalang kabut.

" Nezuko apa kamu sakit? Kanao juga kenapa menangis? " tanya Tanjirou.

" Aku tidak paham " ujar Inosuke yang otaknya hampir mengepul.

" Aku juga " ujar Aoi.

Nezuko pun menarik tangan Zenitsu dan memeluknya erat.

" Arigatou... Hiks... Y-yokatta... " Nezuko sangat lega, dia berhasil... Dia berhasil menyelamatkan mereka semua.

" Eeeeeh, Nezuko-chaaan " Zenitsu langsung gelagapan, wajahnya memanas.

" Tanjirou... Arigatou ne " ujar Kanao sambil tersenyum manis.

Blush!

" E-eh, apa maksudmu Kanao? Aku tak melakukan apapun " ujar Tanjirou.

Kanao hanya tersenyum menanggapinya.

Sementara Inosuke dan Aoi, mereka hanya saling menatap dan menggeleng karena tak paham.

Nezuko mengeratkan pelukannya dan tersenyum lega.

" Arigatou, Zenitsu-san " ujarnya.

Blush!

" N-nezuko-chan " ujar Zenitsu gugup bukan main.

Nezuko hanya tersenyum, syukurlah semuanya kembali, dia dan Kanao berhasil, Nezuko sangat bersyukur, tanpa melepaskan pelukannya Nezuko hanya menikmati moment ini dengan senyuman merekah diwajahnya.

Cahaya diwajahnya kembali, dia berhasil... Semuanya selesai.

Owari!