Midnight Sun Knight

Naruto X Boku No Hero Academia

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

BNHA: Kohei Horikoshi

Summary:

Tidak ada yang berani menyetuhnya, bahkan Raja dari dunia bawah sekalipun akan berpikir berkali-kali jika melawannya, meskipun dia sudah pensiun namun tetap ia adalah sosok berbahaya, apalagi jika sudah menganggu keluarga dari Midnight Sun Knight.

Chapter: 1

(The Midnight Sun Knight)

Crack!

Ssssh!

Terlihat seorang pria berambut pirang, tengah melakukan aktivitas memasak. Ia lalu mengambil sudip untuk membalikan telur dadar yang berada pada wajan.

"Pagi! Hoaaam~".

Suara seorang perempuan terdengar dari belakang, pria ini, sosok berkulit gelap dengan kedua bola mata merah dan ditambah sebuah kuping seperti kelinci.

"Ah, selamat pagi, Rumi-chan~"

Sosok yang dipanggil Rumi lalu menyeringai dan ia lalu mendekat pada sosok pria pirang yang tengah memasak itu.

"Ne, Naru~ apa sarapan kita hari ini?", tanya rumi.

"Telur dadar, dan selada serta katsu ayam, tetapi bisakah kau tidak terlalu dekat, sayang."

Rumi yang mendengar itu hanya menyeringai puas, pasal ia kini menempelkan aset miliknya pada punggung pria yang dipanggil Naru tersebut.

"Tidak sebelum kau memberikan ku, itu,~"

Mendengar itu, sosok pria ini lalu menghela napas namun kemudian sebuah senyuman lembut terlukis pada wajahnya.

Cup~

kecupan lembut dilakukan keduanya, membuat keduanya senyap dan menikmati ciuman pagi. Tanpa disadari terdapat sosok perempuan lain, dengan model rambut yang menutupi sebelah wajahnya dan berwarna pirang serta bola mata berwarna kuning.

"Eghm!"

sebuah deham membuat kedua sosok yang tengah menikmati momen romantis langsung tersadar, dan menatap pada sosok perempuan pirang tersebut.

"Ini masih pagi, dan kalian sudah melakukan hal seperti itu, hah~"

sosok perempuan dengan telinga kelinci lalu menatap dengan tatapan sedikit mencurigakan, tentu saja itu membuat sosok perempuan dengan poni yang menutupi sebelah wajahnya mengangkat sebelah alisnya.

"Bilang saja~ kau cemburu Ryuko," ujar Rumi dengan nada menggoda.

"Heh, cemburu mana mungkin, lagi pula alasanku menegur kalian karena anak-anak akan kemari sebentar lagi," jawab sosok Ryuko sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.

'Dasar Tsundere,' batin Rumi.

Pria berambut pirang kini tengah meletakan sebuah piring berisi telur dadar yang sangat mengundang selera makan, pada satu meja yang berada di situ.

"Hm, iya-iya dan juga terima kasih telah membangunkan anak-anak, karena itu akan ku beri hadiah spesial," ujar sosok yang dipanggil Naru.

Ryuko yang mendengarnya lalu menatap pada Naru yang kini berjalan mendekatinya lalu secara sengaja memberikan kecupan pada bibirnya, yang membuat sosok perempuan bermata kuning ini sedikit tersentak namun lama-kelamaan ia menikmatinya.

'Sudah ku duga, Hihihih,' pikir Rumi, yang menyaksikan itu.

"Mama!/Papa!".

Sebuah teriakan keras menyadarkan kedua sosok dewasa itu, langsung saja keduanya berhenti dan sang pria mundur beberapa langkah.

Tap!

Tap!

Tap!

Kini terlihat dua sosok anak kecil perempuan yang berlari ke ruangan ini, sosok pertama memiliki wajah yang mirip Rumi namun yang membedakan ada beberapa bagian pada rambutnya berwarna kuning selain itu bola matanya adalah biru, sementara sosok lainnya memiliki kemiripan dengan Ryuko, dengan model rambutnya yang juga hampir mirip cuman kebalikan jika Ryuko menutupi bagian kanan maka anak ini menutupi bagian kirinya.

"Pagi, Mama!/Papa!"

"Pagi juga, Yumi, Ryuki"

"Papa sarapan pagi ini apa?," tanya sosok Yumi, pada pria berambut pirang.

"Telur, selada dan katsu ayam, tenang saja kalau kau mau jus wortel itu ada dalam kulkas."

Setelah mendengar bahwa, kedua bola mata Yumi bersinar ketika mendengar sesuatu yang berkaitan dengan sayuran berwarna jingga ini. Melihat kelakuan sosok putrinya, membuat Rumi hanya dapat menggelengkan kepala.

"Kau terlalu memanjakannya, Naru," ucap Rumi.

Sosok pria yang kini tengah menaruh celemek yang dikenakannya hanya tersenyum, ia lalu mendekati Rumi dan kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga kelinci. Tentu saja ini membuat wajah dari pada sosok perempuan berkulit gelap sedikit memerah.

"Bukankah kau juga, sangat manja saat di kasur~".

Mendengar itu langsung saja seluruh wajah dari pada Rumi memerah bahkan suhu tubuhnya juga ikut naik akibat kalimat yang dibisikkan oleh sosok Naru.

"B..Baka, jangan ungkit-ungkit itu!"

"Hahahah."

"Papa!"

Pria berambut pirang ini lalu menatap pada sosok putrinya yang lain, Ryuki.

"Apakah, mama sakit? Dari tadi ku perhatikan wajahnya merah," ucap Ryuki dengan nanda polos dan menunjuk pada Ryuko yang masih memalingkan wajahnya.

"Tidak, Mama mu tidak sakit, ia hanya terlalu senang karena dapat hadiah spesial,"

"Hadiah...apa?," tanya Ryuki dengan wajah mengemaskan.

"Hm...Rahasia, putriku."

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut sosok ayah mereka, sosok anak perempuan dengan poni menutupi sebelah wajahnya ini mengembungkan kedua pipinya akibat kesal dengan jawaban yang dia terima.

"Sudah...Sudah mari kita makan, bukankah sebentar lagi kalian harus berangkat kerja, Rumi-chan, Ryuko-chan."

Akhirnya seluruh anggota keluarga duduk dalam satu meja yang sama dan menikmati sarapan pagi buatan sosok ayah bagi putri-putrinya dan suami bagi dua istrinya.

"Itadakimasu!"

Midnight Sun Knight

"Baiklah kami berangkat, Naru," ucap Rumi.

"Yumi, Ryuki. Kalian sudah persiapkan semua pelengkapan sekolah bukan?," tanya Ryuko pada dua anak perempuan.

"Sudah, Mama Ryuko/Mama, tenang saja"

Mendengar jawaban itu Ryuko tersenyum, ia lalu bersiap untuk pergi ke tempat kerja mereka. Kedua kini berpakaian khusus yang mana pekerjaan mereka adalah Pahlawan, Rumi menggunakan triko putih tanpa lengan dengan hiasan ungu tua di sekitar bahu dan pinggangnya, desain bulan sabit kuning lebar di dadanya, dan satu pelat logam tebal melilit perutnya, sementara Ryuko memakai sesuatu tradisional berwarna merah tua qipao dengan garis sisik hijau pucat di sekitar bahunya, yang tampaknya hanya memiliki belahan di sisi kiri, dengan pola cakar kuning di bagian bawah dan cakar yang lebih kecil di lehernya. Dia memakai sepatu bot setinggi lutut dan tali di sekitar pahanya yang terbuka.

"Tunggu, apa kalian tidak melupakan sesuatu?," tanya pria berambut pirang.

Kedua perempuan ini langsung terdiam mereka mengingat-ingat sesuatu yang mereka lupa, namun mereka merasa tidak ada yang tertinggal.

"Kurasa, tidak ada yang tertinggal Naru, semuanya sudah lengkap," jawab Ryuko.

"Ada dan itu sesuatu yang penting loh~"

"Sudahlah! Cepat beritahu saja, kami akan terlambat jika harus menjawab pertanyaan mu itu!"

Mendengar kekesalan dari sosok perempuan berambut putih terurai, membuat pria berambut pirang tersenyum. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari belakang badannya, dua buah kotak bekal dengan motif naga dan kelinci.

"Makan siang kalian~!"

Ryuko yang melihatnya hanya tersenyum, sementara untuk Rumi ia hanya memalingkan kepala ke arah lain.

Grab!

"Terima kasih, Naru"

Ryuko mengambil kotak bekalnya dengan motif naga sementara Rumi mendekati pria berambut pirang itu dan secara malu-malu ia mengambil kotak bekalnya bermotif kelinci tanpa menatap pada sosok suaminya.

"T...Terima kasih,"

"Baiklah kalau begitu kami, berangkat, Ayo Rumi."

"Baik-baik,"

Tap!

Tap!

Tap!

Cklek!

Sekarang di situ hanya terdapat tiga sosok yaitu pria berambut pirang bersama dengan kedua putrinya yang kini saling menatap.

"Baiklah, kalian bersiaplah, dalam lima menit kalian harus ada mobil, oke."

"Oke!"

Time Skip

Stop!

"Baiklah kita sudah sampai, Yumi, Ryuki apakah tidak ada barang tidak tertinggal?," tanya sosok ayah kepada dua sosok putrinya yang berada di kursi belakang mobil. Kedua anak perempuan ini kini sudah berpakaian sekolah taman anak-anak.

"Tidak ada yang tertinggal papa," ujar Ryuko.

"Semuanya sudah lengkap!," lanjut Yumi.

Pria berambut pirang itu lalu tersenyum ia, menekan tombol di sampingnya dan langsung saja pintu pada bagian belakangnya terbuka. Kedua sosok putrinya langsung keluar dari mobil dan menatap pada sang ayah.

"Papa jangan terlambat, jemput yah," ucap Yumi.

"Iya, papa akan datang tepat waktu."

Setelah mendengar itu Yumi lalu memegang tangan dari pada saudarinya yaitu Ryuko, keduanya pun langsung pergi menuju sekolah taman anak-anak. Sementara sosok Naru hanya dapat menatap kepergian mereka dari dalam mobil.

Sosok pria pirang ini lalu menyalakan mobil, lalu menginjak pedal gas.

'Stok bahan untuk makan malam kurang,' pikir Naru.

Pria pirang ini lalu kini berpikir untuk membeli beberapa bahan makanan, dan sepertinya Kiyashi Ward Shooping Mall, menjadi tujuannya.

Midnight Sun Knight

"Hah,"

Sebuah helaan napas keluar dari mulut Naru, ia sudah berada di kawasan Kiyashi hampir 2 jam, dan ia sudah hampir mendapatkan semua keperluannya namun masih ada satu barang, yaitu bubuk merica lada.

Awalnya ia mengira kalau barang itu akan ada di tempat biasa, ternyata mereka kehabisan stok dan menurut penuturan pegawai toko kalau barang itu baru akan ada lusa. Mendengar itu ia sedikit kecewa, sebenarnya dengan barang yang sudah ia pegang sekarang sudah dapat membuat makanan yang enak.

Namun pria berambut pirang ini adalah sosok yang sangat memperhatikan makanan baik dari kualitas dan rasa termasuk bahan yang digunakan, ia tidak suka bila ada satu bahan yang kurang pada makannya, itu membuatnya kadang kesal karena makannya sedikit tak sempurna.

Sepertinya ia harus mencari toko lain di sekitar sini, namun masalahnya ia tidak terlalu hafal pertokoan daerah Kiyashi ini kecuali tempat biasa dirinya memberi barang.

Ia lalu menatap sekitar berharap ada seorang yang dapat ia tanya dan mengetahui di mana letak namun nampak semua orang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Tetapi sosok pria pirang ini menatap pada dua sosok yang tengah duduk.

Sosok pemuda berambut hijau dan sosok lainnya menggunakan tudung hitam, dirinya pun berjalan mendekati keduanya.

"Permisi?"

Sontak kedua sosok itu langsung mengalihkan perhatian ke arahku, namun sosok yang menggunakan tudung tangannya mencekik sosok berambut hijau. Sementara sosok berambut hijau terlihat seperti kesusahan untuk bernapas.

"Hei, apakah kalian tahu letak supermarket lain di sini selain yang ada di blok C ?,"

"Ah kalau itu aku tidak tahu," jawab sosok menggunakan tudung.

Naru lalu menatap pada sosok berambut hijau, dia seolah meminta tolong padaku. Terlihat air mata keluar dari matanya.

"Kalau ada masalah dengan teman mu, kau tidak perlu berlebihan."

"Ah, tidak-tidak ini sudah biasa, sekarang bisakah kau pergi karena kami ada pembicaraan serius," ujar sosok bertudung ini lagi sambil sedikit memperlihatkan tatapan tak suka pada pria berambut pirang.

"Tidak, sebelum kau melepaskan temanmu itu," ucap Naru.

Kini sosok memakai tudung hitam itu benar-benar menjadi kesal, dirinya lalu memperlihatkan tatapan tajam pada pria berambut pirang, tanpa banyak alasan tiba-tiba tangannya satunya langsung mencengkam lengan kanan dari pada sosok pria berambut pirang.

Grab!

Sementara sosok pemuda berambut hijau, nampak semakin panik ketika dia melihat pria di hadapannya dicengkam, sementara Naru hanya terkejut sedikit, ia lalu melihat kepada tangannya di cengkam.

Sreet!

Tiba-tiba lengan pakaian kemeja yang ia kenakan hancur, dan memperlihatkan sebuah tato pada punggung tangan yaitu matahari dengan simbol seorang kesatria di tengah matahari itu.

Namun itu membuat kedua sosok yang melihatnya terkejut tak percaya, karena ini berkaitan dengan kemampuan dari pada sosok bertudung yang mana pembusukan, namun tangan pria di depan mereka tidak berpengaruh pada pembusukan.

"B..Bagaimana bisa?!"

Sosok bertudung nampak marah dan kesal, namun tiba-tiba sebuah tatapan tajam dari pria itu membuatnya harus menelan ludahnya. Tidak hanya itu udara di sekitar mereka kini sedikit berat entah bagaimana caranya namun, sekarang tidak ada lagi nyali kuat untuk menatap pria pirang itu.

Doom!

"Kau tahu, kemeja ini adalah hadiah dari istriku dan kau merusaknya..."

'A...Apa-apaan orang ini!'

'I...Intimidasi ini'

Entah bagaimana tiba-tiba sosok bertudung ini seperti merasakan sesuatu yang menghantam wajahnya, sesuatu yang sangat kuat. Di saat seperti ini sosok yang diketahui memiliki rambut biru muda, masih dapat melihat kepada sosok pria berambut pirang.

Apakah sosok itu yang melancarkan serangan ini, tetapi tidak ada gerakan yang diperlihatkannya.

Duush!

Tiupan angin kencang melewati sosok pemuda berambut hijau yang kini terdiam bagaikan patung, tak berapa lama kemudian dia menengok ke samping dan kedau bola matanya melebar, sekarang sosok yang bernama Shigaraki Tomura telah hilang. Benar-benar hilang.

"Cih, bisa-bisa aku dimarahi Ryuko-chan."

Pemuda berambut hijau yang memiliki nama Midoriya Izuku, kini kembali menatap pada pria berambut hijau yang kini tengah mencoba melipat bagian tangan kemeja miliknya. Keringat dingin kini bercucuran dan tubuhnya bergetar.

"Nak?!," ucap Naru.

Izuku yang dipanggil meneguk ludah, ia ketakutan namun tak bisa berteriak.

"Sekarang, apakah kau tahu di mana supermarket lain di sini?," tanya pria berambut pirang.

"D..Di b..blok 3c," jawab pemuda berambut hijau dengan terbata-bata.

"Oh, terima kasih, lain kali kau harus memilih teman yang lebih baik,"

Setelah mengatakan itu sosok pria pirang ini lalu, berjalan pergi meninggalkan Izuku yang hanya dapat menatapnya, dan akan terus disimpan dalam ingatannya yaitu tato matahari dengan lambang kesatria di tengahnya pada punggung tangannya.

"Deku-kun!"

"Urakaka"

To Kamino

Di sebuah bar, terlihat empat sosok yang mana salah satunya adalah seorang pemudi dengan rambut di ikat dua dan berwarna pirang dengan tingkah seperti seorang psikopat, lalu ada seorang laku-laki yang seperti sudah tua dengan berpenampilan agak nyentrik dengan menggunakan kacamata berbentuk bulat dan tengah merokok.

Selain itu pemuda berambut hitam dengan beberapa jahitan di tubuhnya kini tengah menunggu bosan, serta seorang sosok dengan berpenampilan seperti seorang pelayan, wajahnya tak terlihat karena ditutupi oleh kabut hanya sorot mata berwarna kuning yang dapat dilihat oleh orang lain.

Blam!

"Akhirnya kau kembali Tom! Apa yang terjadi dengamu?!," tanya sosok berpenampilan pelayan yang melihat kondisi sosok pemuda dengan tudung yang mana ada luka yang tidak terlalu serius terlukis pada bagian pipi kanannya.

"ARGH! SIALAN! BAJINGAN PIRANG ITU!"

Sosok Shigaraki Tomura, kini berjalan duduk dengan wajah dipenuhi oleh amarah dan rasa benci serta keinginan untuk membunuh sosok pria tadi yang sudah membuatnya begini.

"Apa yang terjadi sebenarnya Tomura?!"

"KUROGIRI! SEORANG PRIA ENTAH BAGAIMANA CARANYA IA DAPAT MEMBUAT KU TERPENTAL SANGAT JAUH! BAHKAN DENGAN LUKA INI!"

"Ya, ampun benar-benar tidak di duga ya," ujar sosok pemuda berambut hitam dengan nada mengejek pada Tomura.

Sementara Tomura yang mendengarnya kesal dan marah, pada sosok yang memperkenalkan diri sebagai Dabi.

"Apa yang terjadi, Tomura."

Tiba-tiba suara berat keluar dari arah Televisi yang hanya mengeluarkan suara tanpa menampilkan gambar sosok yang berbicara, Tomura langsung menatap pada benda elektronik itu dengan mata tajam.

"Sensei! Seorang pria datang dan mengganggu waktu berbicaraku! Entah bagaimana caranya dia dapat membuatku terpental jauh, aku ingin sekali membunuhnya!"

"Hm, Menarik bisa kau jelaskan bagaimana ciri sosok itu Tomura?"

"Pria itu berambut pirang dengan bola mata berwarna biru tidak ada yang spesial dari penampilannya kecuali, pada punggung tangannya terdapat tato yang bergambar matahari dengan di tengahnya terdapat simbol kesatria!"

Drop!

Brap!

Tiba-tiba suara benda jatuh, dari sosok pria berkacamata membuat semua orang di tempat itu terkecuali sosok yang bersuara dari televisi terkejut, entah kenapa sosok yang memiliki panggilan Giran, bergetar dan mulai mengeluarkan keringat.

"T..Tomura katakan sekali lagi tentang bentuk tato pria itu," ucap Giran pada Tomura.

"Hah, memang kenapa?!"

"Katakan saja!"

Pertama kalinya sosok pria ini mengeluarkan suara membentak pada sosok yang dikatakan sebagai penerus dari raja dunia bawah.

"Cih! Matahari dengan simbol kesatria berada di tengah."

Setelah mengatakan itu Giran dengan bergetar mengambil satu rokok dari saku, lalu menyalakan rokok tersebut namun ia seolah tak tenang dan semakin grogi.

"T..Tomura, entah apa dan bagaimana, namun mulai sekarang kau harus mulai bersyukur!"

sosok pemuda berambut biru muda ini, menatap aneh pada sosok pria tua itu, tidak hanya dia bahkan Kurogiri sosok yang wajahnya tertutup oleh asap hitam juga memberikan respons hampir serupa.

Sementara Dabi serta sosok perempuan berambut pirang yang memiliki nama Himiko Toga, hanya menatap aneh pada sosok yang berada di belakang mereka.

"Apa yang kau bicarakan!"

"Kau masih bisa bernapas, dan hanya luka di pipi mu yang dia berikan itu artinya pria yang kau bicarakan itu masih memberi kesempatan kedua! Kau benar-benar beruntung karena hamp- tidak bahkan seluruh sosok yang bertemu dengannya akan hilang bagaikan di telan bumi."

Setelah mengatakan itu kini seluruh sosok di tempat itu semakin tak paham, bahkan muncul pertanyaan di kepala mereka, apa pria berkacamata ini mengenal sosok yang dibicarakan oleh Tomura.

"Tomura, lupakan saja niat membunuh pria itu dan jangan pernah kau menyentuhnya."

Pemuda berambut biru muda terkejut mendengarnya karena tidak biasanya sosok yang dianggap gurunya melarang dirinya untuk membunuh seseorang bila ia tengah kesal dan marah, bahkan ini semakin memperkuat pertanyaan apakah sosok yang berbicara dari televisi itu mengenal pria ini.

"Memangnya kenapa! Apakah ia juga penjahat dan bawahan mu, Sensei!"

"Shigaraki Tomura!"

Nada keras dengan menyebut nama lengkap dari sosok yang memiliki kemampuan untuk membusukkan sesuatu, membuat sosok ini tersentak karena sepertinya sosok gurunya menjadi kesal akibat perkataan dirinya.

"Mungkin kalian, kecuali Giran tidak mengetahui siapa dia namun akan ku beritahukan siapa sosok ini."

Back to Naru

Kini Naru tengah berada di depan sekolah putri-putrinya untuk menunggu mereka pulang, namun tatapannya kini berbeda dan malah sedikit tajam.

Back to Kamino

"Dia adalah sosok yang sangat cepat, kuat bahkan cerdas"

Back to Naru

Pria berambut pirang ini lalu mengambil telepon pintarnya dan lalu membuka sebuah arsip dari pada foto.

Back to Kamino

"Ia benar-benar menjadi aset berharga di dunia bawah, dan banyak sosok menggunakan jasanya."

Back to Naru

Kini sosok pria, menatap pada satu foto yang mana itu adalah dirinya sendiri namun bedanya ia menggunakan setelan formal.

Back to Kamino

"Segala misi dan perintah dari mudah hingga mustahil ia jalankan bahkan ia pernah membantai sebuah pangkalan militer besar hanya dengan bermodal sebuah kunci, hanya dengan Kunci pintu!"

Back to Naru

"Papa!"

Sebuah teriakan ceria membuat, pria berambut pirang ini tersadar dari acara lamunannya, ia lalu keluar dari mobil dan memeluk langsung memeluk kedua putrinya.

Back to Kamino

"Dan dia memiliki julukan yaitu Midnight Sun Knight, sebuah julukan yang didapat setelah menghabisi di pertemuan pahlawan saat itu pada eropa utara,"

Back to Naru

'Dunia bawah, jika kalian berani menyentuh kedamaian keluarga ku maka tidak ada kesempatan kedua,' batin Naru.

Bersambung !