Dua Surat
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gaje, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Akutagawa Ryuunosuke (01/03/2022)
Kume Masao tidak tahu-menahu, tetapi menulis surat untuk masa lalu tengah menjadi tren yang bergulir di perpustakaan. Hal tersebut mungkin baru heboh, ketika tanggal sudah menginjak pertengahan Februari. Awalnya Kume mendengar Dazai Osamu ribut sendiri, diikuti teman-teman Buraiha-nya yang jujur saja Kume abaikan. Toh, mau itu Sakaguchi Ango, Oda Sakunosuke, maupun Dan Kazuo apalagi si merah Dazai, perbuatan mereka selalu berisik. Buat apa dipikirkan lebih-lebih dipedulikan, karena ada yang lebih pantas untuk disorot yaitu misalnya Kume Masao.
Kume Masao, Masao Kume, siapa yang tidak mengenal dia? Singkatnya, Kume Masao adalah orang atau sastrawan yang tak satu kali pun, apalagi beberapa kali diketahui oleh masyarakat. Jadi, dia ini bisa disebut sebagai manusia yang paling tidak dikenal di dunia. Kira-kira begitulah sehingga Kume amat ingin disorot, hingga merajuk enggan makan malam.
Toh, seorang Kume Masao itu memang tidak lebih dari irisan jahe merah, ketika nyatanya Hori Tatsuo, Yamamoto, Kikuchi Kan sampai Matsuoka Yuzuru, mereka juga mengikuti tren abal-abal tersebut. Bahkan Natsume-sensei–guru menulis yang Kume banggakan–bertanya kepada Kume, "Apakah kamu sudah menulis surat?". Walaupun Natsume menawarkan bantuan, Kume boro-boro tertarik. Lagi pula apa faedahnya, sebab alkemis sekalipun mana bisa mengirimkannya ke masa lalu?
Bagaimana mungkin, bukan, jengkel tak mengusik Kume? Lalu tiba-tiba Neko–kucing ajaib yang bisa berbicara–sembarangan menghampiri kamar Kume tanpa permisi. Ikut-ikutan menanyakan perihal surat untuk masa lalu yang apakah Kume telah selesai menulis? Rebahannya terlihat resah soalnya.
"Aku tidak ada urusan dengan tren itu. Pergilah dari kamarku."
"Begini, lho, Kume. Sebenarnya itu bukan sekadar tren. Kanchou mengadakan event biar kalian semangat menulis, dan harus dikumpul tanggal 22 Februari. Mau dibukukan sama Kanchou nantinya."
"Kok begitu? Sekarang, kan, tanggal 22."
"Batas pengumpulannya pukul dua belas malam, kok. Akutagawa juga ikutan, omong-omong. Masa kamu mau mengalah dari dia?"
Jadilah sekarang ini Kume masih terjebak di kamarnya, gara-gara Neko terlalu telat memberitahukan hal tersebut. Dengar-dengar jika tak mengumpulkan, nanti Kanchou menangis yang selagi ia menitikkan air mata, pengeras suara bakal dipasang dalam volume maksimum. Karena Kume masih menyayangi pendengarannya, suka atau benci tentu ia harus berpartisipasi. Seluruh penghuni perpustakaan bahkan berinisiatif menyemangati Kume, dan Kume rasa, ya …tidak buruk juga.
Kapan lagi Kume diperhatikan oleh semua orang, dan gelar ratu drama digeser jauh-jauh dari namanya? Namun, di satu sisi dukungan mereka menciptakan beban yang berat. Sepertinya lebih baik Kume bergegas membeli penyumbat telinga, daripada berkutat di depan kertas kosong yang seolah-olah meolak diisi.
"Tuh, kan! Tulisanku memang jelek banget sampai-sampai kertas pun menolakku!" seru Kume frustrasi yang untuk ke sekian kalinya, ia merobek-robek lembaran putih tak bersalah itu. Sulit dipungkiri Kume benar-benar bingung. Ide, diksi, caranya mengalirkan gaya milik Masao Kume, ia sangat buntu. Disuruh berjalan-jalan mencari inspirasi pun sepertinya Kume memilih kabur.
"Memang baiknya aku kabur. Terlalu berat buatku."
Minum-minum di Bar Lupin pasti enak. Harusnya dari tadi saja Kume menyentuh kenop pintu, tetapi Kan malah muncul menyebabkan jantung Kume lompat. Nampan yang diisi semangkuk nasi, ikan bakar, serta sup miso adalah apa yang Kan bawa. Langsung ia letakkan di atas meja belajar supaya Kume bisa menikmatnya, lalu kembali berkonsentrasi pada caranya memecahkan bingung.
"Omong-omong bagaimana? Lancar enggak?" Wajah Kume terlihat kusut habisnya, dan kertas yang ia buang tidak lagi bisa dimakan oleh tong sampah. Mendengar kekhawatiran itu Kume menggeleng lemah. Kan akhirnya memutuskan duduk di tepi ranjang, sedangkan Kume terpaksa balik ke meja.
"Pusing, Kan. Kanchou ada-ada saja, nih. Apa banget kita semua wajib mengumpulkan, atau dia bakal menangis."
"Kamu juga tahu, kan, alasan sebenarnya bukanlah itu? Toh, menurutku Kume menikmatinya. Buktinya meskipun kesulitan, kamu enggak asal-asalan."
Pujian tidak berdasar itu Kume tanggapi dengan mendengkus. Tanpa perlu diminta oleh perintah ataupun rengekan, ide di kepala Kan serta-merta menawarkan bantuan. Kume tentu berterima kasih yang apabila tulisannya ditemani Kan, suratnya pasti selesai sebelum pukul dua belas malam.
Namun, tatkala jam mulai menunjukkan sepuluh dengan langit yang hanya memperjelas malam, kepercayaan diri Kume mulai berlubang di sana-sini. Ide-ide dari Kan ternyata tidak banyak membantu. Baru menulis dua sampai tiga paragraf saja, Kume bisa diam lima belas menit. Ujung-ujungnya pula di tengah kebuntuan yang sayup itu Kume lagi-lagi membuang kertas. Mendadak kurang sreg dengan kata-katanya sendiri.
Pemandangan yang terus berulang itu menyebabkan Kan menghela napas. Memang bukan salah Kume jika ia buntu sana-sini, atau meragukan tulisannya sendiri, tetapi masalahnya waktu terus berlalu. Mungkin selain memutar otak untuk tema surat, Kan harus menyiapkan alasan agar Kanchou tidak kecewa-kecewa amat. Minimal Kanchou paham Kume pun berusaha, tetapi ini bukan waktunya Kume bersinar.
"Bagaimana ini, Kan? Kepalaku mau pecah jadinya."
Kacamata bundarnya Kume lepas untuk memijat pangkal hidung. Kali ini kertas yang baru belumlah diisi apa-apa, selain kekosongan yang lambat laun Kume benci.
"Ah. Begini saja. Bagaimana kalau kamu menulis surat untuk masa lalu seseorang? Misalnya Matsuoka atau Yamamoto? Hori mungkin?"
"Terus apaan?"
"Katakan sesuatu pada masa lalu mereka. Kayak ..." Rencananya yaitu Kan ingin menggunakan Matsuoka sebagai contoh. Jadilah seperti Kume mengatakan ia menyesal atas novel Shipwreck, soalnya gara-gara itu Matsuoka diserang habis-habisan oleh para pembaca. Namun, Kan juga enggan menyinggung hati Kume yang sensitif. Lebih memusingkan, bukan, jika Kume sibuk menggumam menyalahkan diri sendiri?
"Duh jangan lama-lama, dong."
"Hmm, ya ... misalnya Kume mengomentari novel Hori?" Kaze Tachinu merupakan contoh yang bagus, apalagi itu menggambarkan kehidupan Hori secara keseluruhan. Namun, mendengar sarannya malah membuat Kume mengernyit. Ini serius, atau Kan melatih candaan? Tujuannya terkesan aneh habisnya.
"Itu, mah, bikin resensi juga bisa."
"Perasaanmu untuk masa lalu Hori?"
"Lagi enggak kepikiran apa-apa soal Hori-kun."
"Yamamoto bagaimana?"
"Marah-marah aku yang ada. Tadi dia memarahiku gara-gara malas-malasan. Padahal yang lain sudah selesai membuat surat. Suaranya menyebalkan banget. Jadi terngiang-ngiang habis Kan sebut."
Kan minta maaf soal itu. Hening pun kembali memimpin yang Kume isi dengan mengacak-acak rambut, sementara diam-diam Kan membendung bingung. Sebenarnya selain Yamamoto, Matsuoka, dan Hori, ada satu nama lagi yang belum Kan sebut. Akan tetapi menyinggungnya mungkin lebih tabu, dibandingkan Kan mengungkit perihal patah hatinya Kume mengakibatkan kehidupan Matsuoka kacau.
Bahkan sesungguhnya yang lagi-lagi masih Kan rahasiakan, ia sudah memiliki ide lain untuk Kume kembangkan. Namun, hal tersebut menyangkut nama yang paling Kume benci. Meski di satu sisi Kan turut mempertanyakan dirinya yang kenapa ragu-ragu? Toh, mereka sesama anggota Shinshichou pada akhirnya. Rekan seperjuangan yang telah berbagi suka-duka melalui karya demi karya.
"Memikirkan apa, deh? Wajahmu jadi kusut." Sebegitu kentaranya, kah? Tetapi jika ini tentang mereka, memang mustahil Kan tak menyimpan kerisauan yang besar. Kira-kira bagaimana cara Kan membicarakannya dengan Kume?
"Kume sadar, kan, aku belum menyebut satu nama lagi?"
Ekspresi Kume mendadak berubah, tetapi entah kenapa sulit ditentukan. Rasa-rasanya ia tidak marah, walaupun terdapat kilat tak mengenakkan yang menghias netranya dengan campur aduk. Ketika pencetus bikushou itu mengangkat pena, lanjut menulis tanpa memedulikan Kan, firasatnya pun berada di tengah-tengah. Kira-kira juga apa yang Kume tulis hingga sangat lancar?
"Berkatmu aku kepikiran sesuatu. Bisa-bisanya kagak kepikiran soal dia." Mata yang kiri melihat bingung, sedangkan yang kanan lega menyaksikan Kume memasukkan kertasnya ke dalam amplop. Artinya Kume sudah selesai, bukan? Mereka tinggal menyerahkannya ke Neko, lalu Kan maupun Kume bisa tidur nyenyak.
"Tentang apa? Tapi sebelum itu ayo bertemu Neko. Waktunya tinggal satu jam lagi."
Neko yang masih berjaga tentunya senang mendapati Kume menyerahkan surat. Dengan begini sudah lengkap, dan Kanchou takkan mempertahankan alasan se-konyol menangis jika tak dituruti. Toh, seperti kata Kan sebelumnya Kanchou memiliki alasan yang kuat. Sebulan penuh ini, para sastrawan yang ditugaskan membasmi shinshokusha tiba-tiba saja terus memimpikan masa lalu mereka. Kebanyakan begitu buruk menyebabkan suasana toshokan menurun, sehingga Kanchou meminta tema surat untuk masa lalu.
Kan, begitu pun Kume, mereka juga mengalami mimpi buruk tentang masa lalu. Pada kasus Kan, ia menyesali dirinya yang tidak meladeni Akutagawa Ryuunosuke. Padahal Akutagawa ingin bertemu, sampai-sampai ia mendatangi Hyotei demi menemui Kam seorang. Sebenarnya kenapa Kan terlalu sibuk untuk sekadar menjumpai sahabatnya? Andaikata Kan mengesampingkan pekerjaannya, Akutagawa mungkin–
Akutagawa pasti takkan bunuh diri. Mereka masih bisa bersama sebagai Shinshichou, dan siapa tahu Kume mulai membuka pintu hatinya untuk berdamai dengan Akutagawa.
Sementara Kume sendiri ... entahlah pemuda serba ungu itu memimpikan apa. Mungkin Kume dihantui keirian terhadap Akutagawa, karena bakat dan pelita sastra lebih memihak Akutagawa. Ataukah tentang Natsume Souseki yang mengomentari karya Hana sebagai luar biasa, sedangkan tulisan Kume sekadar dinilai cukup?
"Jadi apa yang Kume tulis di surat?" Topik yang sudah dikerumuni rasa penasaran kembali diangkat. Namun, Kume memilih diam yang dibandingkan menjawab jua, ia malah meminta Kan menemaninya lagi. Ayo begadang sambil mengobrol menjadi ajakan yang Kume maksud.
"Tentang rasa benciku sama Akutagawa-kun sebagai aku di masa lalu. Jadi, ya, aku membicarakan soal Akutagawa-kun yang bisa-bisanya merasa redup, padahal banyak yang mau mengejar dia. Sampai sekarang, sih, sebenarnya."
"Terus sekarang ini Kume menulis cerita, kah?"
"Bukan. Ini juga surat."
"Rajin banget mau kirim dua."
"Satunya buat diriku sendiri, sih. Kayaknya bakal ganjal banget kalau aku enggak memedulikan ide ini."
Sela-selanya mereka isi dengan membicarakan apa pun. Ide sinting Kan yang semula sempat menguasainya kini kembali mampir, membuat Kan tiba-tiba berhenti untuk mempersiapkan diri. Ia sampai berdeham agar omongannya lancar. Kume pun menaikkan sebelah alis melihat Kan lebih serius.
"Apa topik surat yang sekarang soal kamu yang enggan berteman sama Akutagawa?" Agak kacau sebenarnya, di mana mula-mula Kan merencanakan basa-basi. Bukankah terlalu gila jika ia langsung ke poinnya? Jadilah sebagai imbasnya, kini bbaik Kan maupun Kume sama-sama berekspresi canggung
"Kok pikiranmu begitu banget? Sejahat itukah aku di matamu? Mata kalian?" Nadanya drama sekali. Maksud Kan bukan begitu padahal, dan sebenarnya idenya masuk akal. Kebencian sekaligus keirian Kume terhadap Akutagawa sangat besar, sih.
"Ryuu menulis soal menyesali bakatnya, karena gara-gara itu Kume menjaga jarak darinya, dan Ryuu merasa menyia-nyiakannya gara-gara berujung bunuh diri. Jelas aku was-was. Bagaimana kalau surat yang sebenarnya yang kamu tulis malah tentang memutus pertemanan?"
"Iya, iya, aku bukan orang baik memang. Tapi entah Kan percaya atau enggak, aku tidak menulis hal kayak begitu buat diriku sendiri. Inti suratku sekarang adalah aku tidak menyesal telah berteman dengan Akutagawa-kun, dan di kehidupan mana pun itu ... aku berharap persahabatan kami tetap ada."
Benarkah jawaban sehangat matahari itu inginnya keluar dari mulut Kume Masao? Akan tetapi apakah Kan bisa, dan berani mempertanyakan apalagi meragukan setiap kata-kata Kume? Tiap-tiap hurufnya yang masih mencerminkan rasa sebal, walau di satu sisi ia percaya, di balik semua ini terdapat keinginan untuk menjadi ada demi Akutagawa.
Tentu saja tidak, membuat Kan menyulap keterkejutan menjadi senyuman. Kekagetan menjelma beberapa tepukan di kepala Kume menyebabkannya malu, tetapi Kan semakin melanjutkan sekaligus berharap, Akutagawa pun bisa melihat Kume yang se-manis ini.
"Kume lucu banget."
"A-apaan, sih, Kan? Aku bukan anak-anak, ih." Tangan Kan ditepis pelan. Sifatnya yang kebapak-bapakan sekadar membuat Kan tertawa, sebelum ia kembali menyusun kata-kata.
"Aku bisa membayangkannya, Kume."
"Membayangkan apa?"
"Lanjutan dari kau yang berkata, 'Aku ingin menyelamatkan Akutagawa-kun'. Itu, lho, pas kita delving dan malah melawan Buraiha."
Akutagawa Ryuunosuke itu memang mengesalkan. Seorang penulis handal sepertinya, bagaimana bisa merasa dijatuhkan oleh karya-karyanya? Menganggapnya sampah ketika Kume menginginkan semua diksi, penggambaran, dan pemikiran Akutagawa Ryuunosuke?
Rasa jengkel ini selalu tinggal lebih lama dengan Kume dibandingkan siapa pun. Dia adalah yang paling mengerti bagaimana rasanya dijatuhkan, dibuat tak berdaya, marah, dan benci oleh Akutagawa. Bagaimana rasanya dibuat mengutuk diri sendiri, tidak menyayangi sekitar, sehingga Kume boleh disebut sebagai manusia yang paling memahami asam garam buatan Akutagawa Ryuunosuke.
Meskipun tak mengenakkan, dan Kume hanya melulu memperoleh bagian-bagian tidak sedap, tentu bukan berarti pertemanan mereka harus terputus; lebih baik tak pernah berhubungan. Begitu-begitu Akutagawa pernah memberikan warna laut, jalanan di hari Kamis, dan surat buatan pena untuk kehidupan Masao Kume seorang.
Namun, kemudian Akutagawa bunuh diri padahal Kume pernah memotret Akutagawa. Bagaimana bisa Kume tidak menyadarinya? Padahal ia senantiasa merasai duka dari Akutagawa. Apakah karena Kume melewatinya sendiri, dan bukan bersama Akutagawa, sehingga Kume takkan sekalipun menyadari Akutagawa?
Semenjak menerima surat wasiat dari kehidupan lalu, Kume memang selalu memikirkannya. Mungkin karena ia manusia yang memiliki hati nurani, jadilah Kume mau bersimpati terhadap bunuh dirinya Akutagawa. Berkeinginan menyelamatkan Akutagawa agar ia seperti manusia lainnya yang hidup lalu mati, dan bukan sembarangan mengakhiri apalagi neraka memang nyata. Sebab mereka pernah meninggal sebelumnya.
Sekalipun kepedulian Kume terhadap Akutagawa terkesan remeh–karena Kume juga manusia yang memiliki hati–ia sungguh-sungguh tak mempermasalahkannya. Toh, tanpa Kume menjelaskannya pun Akutagawa mau memercayai Kume yang baik, dan Kume berarti besar tanpa kalimat seolah-olah. Padahal Kume ini kecil, payah, mudah digantikan, tetapi Akutagawa membuat Kume menerima dirinya apa adanya di kehidupan yang sekarang.
Jika Kume tidak menerima apa adanya, ia takkan menuliskan kebenciannya di atas sepucuk surat sekadar untuk berkata, "Kamu tetaplah temanku, sedongkol apa pun aku terhadapmu yang terlalu menginginkan kesempurnaan". Jadi, semoga Akutagawa juga merasai Kume yang selalu melihat segala-galanya agar Akutagawa paham, ia hanya kurang memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang menjadi indah berkat Akutagawa.
"Menulis tentang Akutagawa-kun memang mudah lagian. Enggak ada yang spesial."
"Hahaha ... malah makin lucu kalau tsundere begini."
Keesokan harinya surat kedua dari Kume segera Kan berikan untuk Akutagawa. Jadilah para penghuni perpustakaan bisa melihat Akutagawa yang memeluk Kume, di mana tentunya ini merupakan pemandangan langka.
Tamat.
A/N: HBD buat aktgw. Harusnya selesai dari kemarin-kemarin, tapi mager+tanganku bengkak. Untungnya hari ini udah baikan dan bisa diselesaikan. Buat ide, sebenarnya ga kepikiran yang gimana-gimana banget. Cuma kayak Kan berpikir, "semisal kume nulis surat buat masa lalu, apa mungkin soal kume yang enggan temenan dengan ryuu?". Harusnya ini drabble, tapi malah jadi 2k. Terus juga ada beberapa yang terinspirasi dari percakapan sama reav, kek di bagian kume melihat segalanya sementara akutagawa terlalu enggan mendengarkan sekitarnya.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu lagi di fanfic lainnya.
