Disclaimer
Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
.
.
Note: Mohon diperhatikan tag. Ini cerita Boyslove, yaoi, shounen-ai, sejenisnya lah. Jadi, jgn salah lapak karena ngelihat cover Naruto atau ada nama Naruto nya.
.
Sacrifice by Marurakun
.
Namanya Namikaze Naruto, biasa dipanggil akrab dengan sebutan Naruto. Anak kedua dari 2 bersaudara pasangan Namikaze--Uzumaki. Profesi ayahnya seorang CEO Nami corp—sebuah perusahaan arsitek dan furniture.
Ia terlahir dari keluarga kaya. Memang ada plus minus nya terlahir dikeluarga kelewatan dari kata cukup. Tapi, saat kejadian yang tidak pernah diharapkan menimpa perusahaan seperti mengalami pailit—ia jamin, bahwa siapapun pasti akan merasa jadi manusia paling beruntung hidup sebagai orang biasa yang masih memiliki kebebasan menentukan pilihan. Ya, karena saat itu terjadi, pengorbanan lah yang dibutuhkan untuk menambal kegagalan; seperti melakukan perjodohan dengan dalih kerjasama.
Naruto, baru saja pulang Sekolah. Namun, yang pertama dilihatnya di parkiran depan rumahnya adalah deretan mobil asing yang tidak dikenalinya. Dahinya mengerut bertanya-tanya siapa pemilik kendaraan mewah nan mahal ini?
Deg! jantung nya mendadak berdegup kencang saat sudah memasuki ruang depan.
Kakinya agak memberat ketika ia bawa melangkah ke ruangan utama. Dan rasa penasarannya terjawab. Ada tamu. Anehnya, suasana di dalam ruangan itu kaku, berat, dan tidak bersahabat.
"Bagaimana Mr. Uchiha Fugaku, apa anda setuju?" Tanya seorang pria paruh baya yang perawakan nya sama dengan Naruto.
Tuan Uchiha Fugaku selaku kepala keluarga Uchiha tersenyum senang. Ia melirik ke arah anak perempuan Namikaze itu yang nampak tertunduk malu, "Keputusan berada ditangan Sasuke."
Naruto terpaku mencerna dan mencoba memahami, apa yang sedang terjadi dihadapannya. Ia mengeratkan genggaman pada tas selempangnya, tidak tahu mau bereaksi seperti apa.
Kepala keluarga Namikaze sengaja membuat pertemuan hari ini, sebenarnya sebuah keputusan yang sulit untuk menjodohkan putrinya dengan anak dari keluarga Uchiha. Tapi, kenyataan hidup dalam dunia bisnis; anak menjadi nilai tukar barang paling berharga dalam kelangsungan bisnis. Tidak ada pilihan lain, saat tagihan serta perusahaan mereka terancam jatuh habis 'tak bersisa.
Sasuke anak kedua dari pasangan Uchiha itu mendengus. Ia tidak suka dijodoh-jodohkan. Ia suka kebebasan. Apalagi ia sudah memiliki kekasih, harusnya yang bisa ia nikahi itu kekasihnya. Bagaimana bisa kedua orang tuanya melakukan hal ini? Berikan ia kebebasan menentukan pilihannya sendiri, ia belum ada kepikiran untuk menikah muda. Ia sudah berkali-kali mengatakan ia memiliki kekasih. Tapi, orangtuanya mengabaikan dirinya. Apakah ini kesalahan dirinya? Tentu, bukan. Yang salah adalah kenapa perjodohan ini harus dilakukan.
Naruto berjalan hendak melewati pertemuan itu, menjauh dari pertemuan dua keluarga. Ia tersenyum canggung saat semua mata memandanginya. Ia merasa terancam dan terintimidasi oleh satu pandangan. Siapa lagi kalau bukan Sasuke Uchiha. Pria raven itu, nampak tersenyum miring.
"Kau sudah pulang..." celetuk Ayah Naruto.
Dengan canggung dan agak kurang nyaman Naruto mengangguk.
"Dia anak kedua mu, 'kan?" tanya Sasuke.
Pasangan Uchiha agak terkejut dengan respon anaknya. Terlebih Sasuke yang terlihat seperti tertarik.
Tuan Namikaze mengangguk dengan senyum bangga. Naruto tidak pernah mengecewakannya. Ia tidak menuntut banyak kepada anaknya hanya untuk sekedar memuaskan hatinya dengan kebanggaan yang menyakiti anaknya. Kebanggaannya sederhana, melihat anak anak-anaknya tumbuh sehat, menjadi anak baik, dan penurut saja dirinya sudah bangga.
Naruto tersenyum kikuk.
"Namanya Namikaze Naruto. Putra kami satu-satunya. Aku sangat berharap dia bisa menjadi pengganti ku nanti..." Ayah Naruto mengusap kepala anaknya sayang.
Naruto menoleh pada ayahnya meminta penjelasan. Ia sangat tidak nyaman merasakan tatapan sepasang mata kelam di seberang sana. Nyaris mencekiknya saking mengintimidasi.
Obrolan dilanjutkan kembali. Waktu berlalu cepat, percakapan antar keluarga itu sudah selesai. Sebelum para tamu pergi, Naruto langsung menundukkan kepala ngeri. Tatapan Sasuke yang tajam dan seringaian pria itu membuatnya takut.
Suasana ruang utama mendadak senyap. Tidak ada yang berani bersuara atau pun mengekspresikan diri mereka. Naruto paham dan sangat tahu kalau perusahaan Ayahnya sedang mengalami masalah. Hanya saja ia tidak menyangka Ayahnya yang terhormat akan melakukan perjodohan konyol untuk mendapatkan suntikan dana bagi perusahaan. Tentu Naruto merasa kecewa pada keputusan Ayahnya.
Ia pun beranjak pergi dari sana. Mengabaikan kedua orang tuanya yang mulai membahas masalah perjodohan putri mereka Naruko dengan Sasuke Uchiha, sementara Naruko menanggapi dengan senyum malu-malu. Naruto eneg medengarnya, lebih memilih beranjak dari sana masuk ke dalam kamarnya.
Tubuh Naruto terhempas di atas ranjang. Matanya terpejam. Terasa otot tubuhnya menengang, ia masih merinding mengingat Sasuke telah membuatnya tidak nyaman. Timbul pertanyaan, apakah Sasuke cukup baik dan pantas untuk menjadi pasangan Kakaknya? Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
.
.
.
.
.
Tbc
Pendek ya.
