"Naruto-kun~"

Naruto langsung berhenti berjalan. Ia menoleh ke belakang untuk menemukan seorang perempuan menunduk malu. Memangnya ada apa dengan perempuan ini?

"Untuk Naruto-kun," Perempuan itu menyodorkan amplop pink dengan malu-malu.

Setelah Naruto mengambilnya, ia melesat secepat kilat pergi dari sana.

Naruto tersenyum seraya menggelengkan kepala kecil, yang berubah tawa ketika siswi tadi memekik senang dan lari-lari berusaha menyembunyikan diri. Naruto sering mendapatkan amplop bercap hati merah atau lipstik berbentuk bibir. Biasa cinta anak remaja. Namanya juga baru puber.

"Naruto!" kejut Kiba.

Naruto menoleh dengan mengelus dadanya, "Jangan mengejutkan ku seperti itu!"

pletak.

ugh. Kiba mengelus kepalanya yang habis dijitak Naruto, ia kemudian cengengesan.

"Aku ada berita bagus," ujar Kiba semangat. Matanya berbinar melihat Naruto, pokoknya teman karibnya harus tahu.

Alis Naruto terangkat, "Berita apa memangnya?"

Mereka berdua berbelok masuk ke dalam kelas, mengambil tempat duduk yang sudah mereka claim sebagai kursi milik mereka. Setelah duduk, Kiba langsung menunjukkan selebaran kertas ditangannya, "Kanna akan mengadakan konser. Haruskah kita datang?"

"Huh, kukira apa," Naruto mengeluarkan bukunya.

Kiba menerawang, membayangkan Kanna menyanyi dan menari menggunakan baju kawai—neko. Mata Kiba nampak berbinar-binar dengan senyuman senang.

"Kiba-kun?"

Kiba masih sibuk dalam dunia khayalannya.

Terdengar suara pukulan nyaring. Membuat seisi kelas menoleh pada objek yang sama, mereka menatap horror Sensei. Ya, Sensei berdiri di belakang Kiba.

"Ada apa sih, Nar!" kesal Kiba.

"Ehm, Kiba-kun...bisa duduk?" Kurenai sensei tersenyum angelic sampai matanya menyipit.

Alarm bahaya menyala di atas kepala Kiba, "Ha'i, Sensei..."

Naruto susah payah menahan tawa sampai perutnya sakit. Andai saja tidak ada Kurenai sensei, ia mungkin sudah terbahak-bahak. Kiba melototi Naruto. Sementara yang bersangkutan malah pura-pura fokus melihat arah Kurenai sensei yang memulai menjelaskan pelajaran di depan.

Siang, saat jam istirahat memang paling enak duduk santai di bawah pohon menikmati angin segar. Itulah yang dilakukan Naruto, begitu mendengar bel istirahat, ia pergi ke belakang gedung P.E dan tiduran di atas bangku taman di bawah pohon momiji menikmati sepoian angin. Naruto memejamkan mata, ia sangat suka menjauhi keramaian yang membuatnya lelah. Ia lebih suka di sini daripada berdesakan di Kantin. Toh, nanti temannya, Kiba, datang membawakannya makanan. Sungguh, teman yang baik 'kan?

"Nar, tangkap..." ujar Kiba.

Naruto reflek menangkap roti melon yang dilempar Kiba masih dengan posisi tiduran.

"Terima kasih," ujar Naruto seraya membuka bungkus roti.

"Kau terlihat seperti sedang banyak pikiran," ujar Kiba santai, mengamati seksama ekspresi Naruto. Mencari tahu apa yang tersembunyi di sana? Agaknya ia merasa ada aura hitam mengeliling Naruto.

Naruto menerawang, sementara mulutnya penuh mengunyah roti, "Hanya perasaanmu saja mungkin."

Kiba mengangguk saja menerima yang dikatakan Naruto, ia sangsi temannya mau sedikit terbuka—mengatakan masalah yang dihadapi. Mengingat sejak mereka berteman, Naruto selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa intervensi dari yang namanya teman.

"Kalau ada masalah, kau bisa cerita," ujar Kiba, pipinya menggembung mengunyah roti.

"Tentu," ujar Naruto mengangguk. Selintas, ingatan tempo hari terbayang. Tentang perjodohan. Satu kata mengerikan baginya yang mempunyai jiwa bebas menentukan dan memilih sendiri jalan hidupnya. Label perjodohan itu bisa membatasi kebebasan karena akan menikah nantinya.

Tapi, pertanyaannya apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Ayah? Ketidak berdayaannya dalam balutan seragam Sekolah membuatnya berat jika harus menerima keputusan Ayah begitu saja sekaligus tidak berguna.

Lagi, Naruto menghela napas berat. Sudah kesekian kali menghela napas, Naruto tidak menghitung berapa kali total keseluruhan ia melakukannya.

Kiba yang mendengarnya heran.

Meskipun ia tahu temannya mempunyai masalah, ia tidak berniat bertanya. Ia akan memberikan waktu sampai temannya mau sedikit lebih terbuka. Tapi, tidak dipungkiri jauh dari lubuk hatinya ia agak kecewa seolah Naruto tidak mempercayai dirinya. Harusnya dengan aatu kata teman mereka bisa berbagi beban. Nyatanya Naruto lebih suka menanggung bebannya sendiri.

Tiba-tiba Naruto mengeluarkan amplop berwarna pink, yang didapatnya pagi tadi. Merasa mempunyai topik lain untuk mengalihkan perhatian Kiba.

Kiba tersenyum, ia pun mulai menggoda Naruto, "Wah, Naruto sudah 3 kali dalam satu bulan ini kau mendapatkan surat cinta. Tidakkah salah satu dari mereka akan kau pilih menjadi pasanganmu?"

Naruto menggeleng, ia pikir untuk saat ini lebih baik fokus Sekolah daripada memikirkan masalah percintaan. Lagipula belum ada perempuan yang dapat menyentuh perasaannya sejauh ini. Kalau sekedar suka, ada, namanya Yamanaka Ino.

"Naruto!"

Nah, baru saja namanya disebut orangnya sudah datang saja. Perempuan berambut pirang pucat dikuncir ponytail itu, berlarian menuju tempat duduk teman-temannya.

"Ada apa? Sepertinya sedang senang..." ujar Naruto.

Kiba juga mengernyit heran. Tidak biasanya Ino tersenyum seperti itu, bagaimana ya bilangnya--wajah Ino nampak bersemu dengan senyum malu-malu.

"Sai-senpai..." Ino memainkan telunjuknya.

Sepertinya Naruto tahu, ia tersenyum lebar ikut senang, "Diterima?"

Pertanyaan Naruto tepat sasaran, melihat reaksi Ino yang makin bersemu. Gadis itu mengangguk cepat. Dan Kiba dibuat bingung dahinya berkerut dalam, sepertinya hanya drinya yang tidak tahu apapun di sini—belum mengerti arah pembicaraan kedua orang berstatus temannya.

"Ino berpacaran dengan Sai-senpai..." bisik Naruto yang tentunya didengar oleh Ino. Bertambah malulah si gadis.

Kiba menoleh pada Ino. Senyuman jahil terkembang lebar. Siang itu dihabiskan dengan mereka berdua menggoda Ino. Agaknya Kiba lupa dengan Naruto dan surat cinta. Jarang-jarang baginya bisa memojokkan Ino, biasanya ia sudah di jitak duluan. Sekarang adalah keburuntungan bagi Kiba membuat Ino terganggu habisnya Ino lagi kalem.

.

.

.

.

.

Sore hari yang sepi. Remaja bernama Naruto berjalan pelan memasuki kawasan rumah nya sembari menikmati senja.

Saat masuk ke dalam rumahnya. Ia keheranan mendapati beberapa pelayan hilir mudik sibuk menata ruangan. Mereka benar-benar fokus sampai tidak menyadari kedatangannya.

"Apa akan ada acara?" batin Naruto.

"Ne, Naruto-kun sudah pulang," Kushina menghampiri anak bungsu nya. Lalu, ia mengecup dahi anaknya.

Naruto tersenyum senang, ia tidak masalah jika Ibunya memperlakukannya seperti anak kecil dengan rutin mencium dahi kadang pipi, mengusak rambut, hal-hal yang membuatnya terkesan dimanja. Lagipula memang Ibunya. Jadi, wajar 'kan Ibu menunjukkan kasih sayang padanya ya walau agak berlebihan juga.

"Ehm, Bu...dalam rangka apa rumah kita ditata sedemikian rupa?" Tanyanya, ia masih dirundung penasaran. Belum tahu tentang ada acara apa nanti. Seingatnya ulang tahu dirinya masih lama dan tidak mungkin pula mengihias dengan terang-terangan begini. Sementara hari ulang tahu Kakaknya sudah terlewati. Lantas, kesibukkan apa ini?

"Nanti malam akan ada pertemuan makan malam bersama keluarga Uchiha," Kushina mengusap rambut Naruto lembut.

Naruto mendadak badmood, mendengar nama keluarga itu disebut. Sebenarnya apakah Kakaknya mau dijodohkan dengan Uchiha itu?

Ia tidak suka dengan perjodohan semacam ini karena kedua orang akan terpaksa menjalin hubungan yang sakral. Ia tidak ingin Kakaknya bernasib malang seperti di drama-drama yang bertema perjodohan 'tak diinginkah. Ah, bagaimana perasaan Kakaknya?

"Apakah Kakak menerima perjodohannya?" tanya Naruto menatap Ibu serius.

Kushina tersenyum hangat, "Iya, Kakakmu menyukai Uchiha Sasuke. Anak itu sangat tampan..."

"Aku juga tampan tuh," sahut Naruto, merasa kesal Ibu memuji orang lain.

Kushina tertawa, Naruto juga ikut tertawa. Baiklah, Naruto sedikit tenang mengetahui Kakaknya menerima perjodohan tanpa merasa keberatan.

Dalam benaknya, satu yang mengusiknya apakah hubungannya akan bertahan lama? Seperti yang diketahui kedua orang akan menjalin hubungan dari kerjasama berlabel perjodohan. Mengingat hal itu, kecil kemungkinan kedua belah pihak akan senang. Salah satu mungkin hanya mengalami cinta sepihak, istilah lainnya bertepuk sebelah tangan.

"Naruto-kun, bersiap-siap ya.." Kushina mengusap kepala anaknya setelahnya pergi memeriksa persiapan kedatangan tamu."Aku memilih Naruto, Namikaze Naruto sebagai istriku," tegas Sasuke tanpa basa-basi lagi.

Semuanya terkejut sekaligus tidak percaya, suasana mendadak senyap. Dan Senyuman di wajah kepala keluarga Namikaze luntur, begitu pun istrinya. Mereka serasa menelan pil pahit saat ini mendengarnya. Apa mereka salah dengar? Bukankah yang mereka akan jodohkan putri mereka, yang cantik bisa dijadikan istri bukan putra mereka?Kenapa harus anak laki-laki mereka? Tidak, Minato tidak akan menerimanya.

"Apa kau tidak salah Sasuke? Bukankah kau itu normal?" Uchiha Fugaku bertanya pada anaknya. Ia terlihat tenang ketika mendengar pernyataan anaknya.

Sungguh, ia bukan orang yang konservatif dengan hubungan sesama jenis. Sebab jika pun ingin penerus—cucu ia sudah dapatkan dari Itachi, kalaupun si bungsu Uchiha ingin keturunan mereka bisa mencari Ibu pengganti. Semua masalah terpecahkan dengan mudah. Sayangnya, ada yang memberatkannya yakni pihak keluarga yang dipilih anaknya. Apakah mereka mau menerima dengan tangan terbuka?

Sasuke memasang wajah super ramah dengan senyum yang baik, "Iya..." ujarnya.

Minato mengepalkan tangannya dengan rahang terkatup rapat. Keputusan putra Uchiha tidak dapat diterimanya. Keluarga Namikaze sangat konservatif. Mereka juga idealis menganggap satu-satunya yang bisa dinikahi seorang dan memberikan keturunan dalam keluarga hanya manusia berjenis kelamin perempuan. Jelas, kepala keluarga Namikaze ingin putra nya itu meneruskan bisnis keluarga dan menikah dengan seorang perempuan. Bukan menjadi seorang yang ditempatkan sebagai 'Istri'.

Naruto menunduk, ia tidak mengerti jalan pikiran Sasuke. Pria itu sangat jumawa, nampak suka seenaknya. Diam-diam diam Naruto mengepalkan tangan di atas pahanya, menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan pada wajah datar itu. Ia marah pada keputusan sepihak Sasuke, lagipula perjodohan ini untuk Kakaknya. Kenapa pria itu menyebut namanya?

"Aku tidak mau, Tuan," ujarnya Naruto tegas. Ia mendapatkan keberanian karena amarahnya yang bergemuruh di dadanya. Ia juga melemparkan tatapan berani menantang Sasuke, "Anda bisa mendapatkan semua wanita yang sempurna untuk anda. Tapi, bukan aku yang berjenis kelamin sama anda Sasuke-san."

"Cih, memangnya siapa yang mau denganmu?" Batin Sasuke.

Sasuke sendiri memiliki alasan sendiri memilih Naruto bukan. Ia melakukannya karena tidak terima dengan perjodohan ini. Selain itu, ia juga mempunyai alasan yang lain. Namun, membantah Ayah nya percuma tidak akan membuahkan hasil.

Maka, ia akan membuat Naruto menderita, serta mempermalukan keluarga Namikaze yang konservatif dengan membuat status Naruto sebagai seorang istri—tepatnya memiliki pasangan yang berjenis kelamin sama. Baginya Naruto harus menanggung dosa orang tua mereka yang mengadakan perjodohan.

Sasuke tersenyum miring mengamati anak laki-laki keluarga Namikaze dari atas hingga bawah dengan berbagai rencana busuk di dalam pikirannya.

Sedangkan kepala keluarga Namikaze berusaha bersikap tenang menjaga wibawanya. Meskipun hatinya meradang—tidak terima anak laki-lakinya menikah dengan sesama jenis.

"Hem...Sasuke, ada anak perempuan ku Naruko.." ujarnya tersirat dengan senyuman sarat penegasan untuk tidak melampaui batasan.

Sasuke bersikap apatis, malah beranjak mendekati Naruto yang duduk di single sofa, tidak mengindahkan ucapan sang kepala keluarga Namikaze.

Cup

Tanpa diduga dan masuk dalam perkiraan, Sasuke mencium Naruto tepat dibibir, tidak tahu malu ia juga melumat bibir Naruto sehingga menimbulkan kecapan khas dari ciuman dalam itu.

Naruto syok--tubuhnya membeku mendapatkan serangan kejutan yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia mematung. Saking terkejutnya ia mematung tidak sadar kalau bibirnya dijamah oleh Sasuke.

Setelah dirasa cukup lama serta membuat Namikaze kesal, Sasuke melepaskan tautan bibirnya, menatap intens mata Naruto, "Kau harus menanggung dosa ini. Bayarlah..." ujarnya berbisik tepat di telinga Naruto.

Naruto melotot, reflek mendorong kasar Sasuke dan memberikan tatapan penuh amarah. Ia merasa terlecehkan dan direndahkan di sini.

Kepala keluarga Namikaze pun menahan amarahnya, "Lancang!!" Kutuknya dalam hati.

"Naruto, masuk ke kamar mu..." ujar kepala keluarga Namikaze dengan suara rendah. "Mr. Uchiha Fugaku...sepertinya anakmu harus merenung terlebih dahulu untuk pilihannya sampai ia benar-benar yakin."

"Sasuke?" Fugaku juga agak geram melihat tindakan anaknya. Sangat tidak sopan. Meski, ia tidak masalah jika Sasuke memilih Naruto sebagai pasangan. Tapi, ini sungguh perbuatan yang mempermalukan Uchiha yang menjunjung tinggi nilai kesopanan.

"Kita pulang," lanjut Fugaku tegas.

Sepeninggal keluarga Uchiha. Kepala keluarga Namikaze meluapkan kedongkolannya. Ia mendengus kasar dengan suara yang begitu nyaring. Sang istri mengelus punggung suaminya berusaha menenenangkan.

"Sudah Ayah. Kita juga tidak bisa berbuat banyak," bujuk Kushina.

"Tapi Bu...anak itu terlalu lancang!" ujar Minato masih dongkol.

Naruto dapat melihat Kakaknya memadang kecewa dirinya. Ah, ia ingat percakapannya dengan Ibu kalau Kakaknya menaruh hati pada Sasuke. Tapi, pria itu malah memilihnya, entah apa yang sebenarnya pria itu rencanakan. Demi Tuhan, ia tidak pernah menginkan hal seperti ini terjadi selain karena ia memang bukan penyuka sesama jenis juga tidak ingin melukai perasaan Kakaknya.

"Aku membencimu," ujar Naruko pada Naruto.

Naruto menunduk dalam. Tangannya terkepal erat. Rasanya ingin memukul apapun saat ini untuk mengeluarkan emosinya.

Minato dan istrinya seolah tersadar masih ada keberadaan anak-anak di dekat mereka.

"Bukan salahmu," celetuk Kushina seraya tersenyum hangat pada anaknya. Minato pun mengangguk menyetujui istrinya.

Mulai hari ini Minato bertekad akan mencoba cari cara lain untuk membangun kembali usahanya. Ia menyayangkan tindakan Sasuke. Padahal selain menjodohkan anak-anak mereka, ia berubah pikirian ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga Uchiha dan memperoleh keturunan dari pernikahan putrinya dengan Uchiha Sasuke. Tapi, sepertinya itu hanya akan menjadi rencana saja, sebab ia tidak akan membuat anak lelakinya menjadi pasangan dari keturunan Uchiha kecuali anak perempuannya.

.

.

.

.

Tbc