Minato menghela napas berkali-kali berharap beban dipundak dan hatinya berkurang. Ia memejamkan mata seraya memijat pelipisnya yang berdenyut menyakitkan. Sudah 1 bulan terlewat, perusahaan belum kunjung membaik.
Semua bermula dari sebuah komplain pembeli yang membuat komentar di situs perusahannya beserta bukti video kerusakan, bahwa ada penurunan kualitas bahan furnitur yang mereka jual dimana furnitur mudah sekali rusak bahkan ada yang tiba-tiba patah saat diduduki.
Setelah ditelusuri ternyata bagian Divisi manajemen pembelian bahan mentah pembuatan furnitur melakukan korupsi dan menyembunyikan hasil uji coba kelayakan. Karena masalah ini, merambah ke yang lainnya hingga pembatalan pengiriman kepada pihak importir.
Mereka mengalami kerugian besar dan mencoreng nama baik kualitas perusahaan Namikaze. Corp. Bahwa pelaku malah menyembunyikan kebenaran, menghilangkan jejak komplain pelanggan. Akhirnya Minato mengambil langkah audit internal setelah terbukti Minato memecat penanggung jawab bahan mentah. Ditengah persaingan bisnis, perusahaan furnitur sudah lumayan menjamur ini terasa sulit. Untuk itu, Minato berusaha membangun kembali kepercayaan pelanggan meskipun dalam 2-5 tahun pelanggan akan terus mengecap buruk nama perusahaannya.
Selama, mengalami penurunan pemasukan dan kehilangan dana, Minato berusaha keras mengembalikan dana investor dan gaji karyawan yang sudah menunggak sejak buntut masalah penggelapan dana terkuak. Pihak investor mendesak Minato agar tranparansi dan memberikan kejelasan terkait dana mereka, tentu mereka tidak ingin rugi. Dan karena itu, Minato membutuhkan suntikan dana untuk mendapatkan modal agar bisa mengembalikan dan memberikan hak gaji karyawan. Jadi, ia tidak perlu lagi melihat demo karyawannya meminta gaji dilunaskan segera.
Lantas, apa yang bisa ia lakukan lagi?
Ia memandang foto keluarganya. Apakah ini akhir dari kejayaannya?
"Baiklah, Ayah akan berusaha lebih keras," Minato mengelus foto keluarganya itu.
Sayang itu hanya sebatas tekad, usaha pun tak mampu menarik minat para investor. Karena Investor membutuhkan hasil dan keuntungan. Bukan hanya sekedar tekat tanpa hasil yang jelas.Naruto, mondar mandir memikirkan solusi lain untuk membantu Ayahnya. Kepalanya penuh dengan macam rencana.
"Bagaimana jika aku mencoba bekerja paruh waktu?" gumam Naruto. "Tapi tidak, tidak bisa karena gajinya kecil. Ayah sudah dikejar untuk membayar gaji karyawan yang menunggak, belum hutang, menutupi kerugian, dan kesulitan menggaet investor karena pemberitaan buruk mengenai perusahaan Ayah."
Beginilah Naruto, ia bertanya sendiri dan menjawab sendiri.
"Lalu, bagaimana dengan menjadi Gigolo?" Naruto memijat pelipisnya, ia tertawa hambar merasa pemikirannya konyol. "Tidak, tidak, uangnya memang besar. Tapi, mana tega aku membuat Ayah dan Ibu kecewa. Terlebih resikonya."
Lantas, bekerja seperti apa yang bisa ia lakukan? Ia masih berbalut pakaian Sekolah. Jika pun bekerja di perusahaan, mereka akan lebih memilih pekerja berpengalaman tentu dengan riwayat pendidikan tinggi dan berkualitas. Sebab, perusahaan yang dikelola Ayahnya juga begitu.
Ia merasa kasihan melihat Ayahnya yang menghabiskan waktu berhari-hari di perusahaan, bekerja keras memulihkan perusahaan mereka. Dan ia paham perannya sebagai anak—harus berguna di saat seperti ini. Tidak boleh egois; mementingkan diri sendiri. Yang mana ini terasa berat baginya.
Sasuke?
Nama itu terlintas dalam pikirannya. Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel, "Dia bisa dimanfaatkan, 'kan? Mungkin bisa diajak bernego. Benar, aku harus membuat keputusan sekarang."
"Aish...tapi..." lanjutnya ragu. "Aish, baiklah...baiklah, aku akan mencoba peruntungan."
Pandangannya menatap lurus nomor telepon yang tertera di sebuah kartu nama. Setelah menekan beberapa angka, ia menekan tombol calling. Tidak butuh waktu lama sambungan terhubung. Apakah hanya ini jalan satu-satunya yang bisa ia ambil?
"Bisa aku berbicara dengan Tuan Sasuke Uchiha?" Naruto menggigit bibirnya kuat, suaranya agak tercekat saat mengucapkan nama Sasuke. Air mukanya agak kecewa ketika suara di seberang menjawab ketus permintaannya, yang berakhir sambung diputus sepihak.
Naruto melempar kesal kartu nama tersebut. Ia mengusap kasar wajahnya. Kalau tidak bisa dengan cara meneleponnya, maka ia akan menemui Sasuke langsung dan mendatangi Kantor pria mengerikan itu.
Segera Naruto memakai jaketnya. Ia harus memastikan bahwa pria itu mau bekerjasama.
Kushina mengernyit melihat Naruto turun terburu-buru, "Ada apa Naruto-kun?"
"Bu, aku pergi sebentar..." Ia menghilang cepat.
Kushina menggeleng kecil, merasa tidak biasanya anak lelakinya keluar di jam sore. Ia pun menghela napas pelan, berharpa bukan sesuatu yang buruk. Lagipula anaknya sudah besar, bukan lagi anak kecil. Dan Kushina kembali membaca bukunya.
.
.
.
.
.
.
Naruto menatap gedung tinggi di hadapannya. Ia berdecak kagum kala melihat bagaimana megahnya bangunan tersebut. Terlihat sekali Uchiha sangat sukses membangun kerajaan bisnisnya.
"Bisa saya bertemu Tuan Uchiha Sasuke?" Ia bertanya pada pegawai loby.
"Maaf, Tuan apakah anda sudah membuat janji?"
Naruto menggeleng, "Belum."
"Jika begitu, tidak bisa. Sekarang Sasuke-sama sedang sibuk. Anda bisa datang kembali ke sini setelah membuat janji."
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak ingin mengulur waktu lebih lama. Ia menoleh ke kirinya mendapati dua penjaga berdiri pintu. Ia kemudian tersenyum cerah. Dengan ide kenekatan ia berencana menerobos keamanan.
"Tolong lepaskan aku Oji-san...aku harus bertemu Uchiha-sama."
Belum apa-apa, Naruto sudah tertangkap. Ingatkan dirinya, bertapa bodohnya ia tidak menyadari sensor alarm perijinan masuk. Naruto meronta saat penjaga mencegatnya saat tinggal sedikit lagi dirinya masuk ke dalam elevator. Ia terus meronta membuat perlawanan.
"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa sembarangan masuk," ujar penjaga itu menyeret Naruto keluar gedung. Tapi, belum sempat terjadi mereka terhenti setelah mendengar suara mendeham berat yang penjaga sangat kenali. Dan karena itu, acara tarik-berontak Naruto terhenti seketika.
Penjaga dan pegawai di lobby kompak ojigi seraya berharap mereka tidak mendapatkan masalah.
Sementara Naruto tersenyum lebar.
"Kenapa?" tanya Sasuke tidak ramah. Disebelahnya ada seorang wanita bergelayut manja di lengan Sasuke. Yang Naruto kenali sebagai model internasional bernama Hyuuga Hinata.
"Maaf, tapi bisakah aku berbicara denganmu?" tanya Naruto sangsi. Jantungnya berdegup kencang cemas jika nanti Sasuke menolak tawarannya.
"Untuk apa?" Sasuke melirik Kekasihnya. Dibalas Hinata dengan senyuman hangat.
"Membicarakan per...ah, masalah waktu itu," ujar Naruto hati-hati.
"Ikut ke ruanganku." Sasuke membawa Hinata berjalan mendahului Naruto.Naruto meremat dengkulnya. Bagaimana ia bisa membuka obrolan sensitif ini, jika ada Hinata yang Naruto yakini pasti adalah Kekasih Sasuke terlihat bagaimana dari kontak fisik keduanya. Apalagi mereka nampak cukup mesra?
"Ano, Uchiha-san..." Naruto menunduk dalam, "Aku ingin membicarakan masalah tempo hari."
Sasuke tersenyum miring yang luput dari penglihatan Naruto dan Hinata. Ini yang ia tunggu, Namikaze merendahkan harga dirinya. Kedua orang tuanya terlanjur percaya dengan ucapannya memilih Naruto, karena hal itu pula orang tuanya masih mendesaknya untuk tetap dijodohkan. Sebenarnya ia heran, kenapa orang tuanya masih menginginkan ia menikah dengan Naruto, padahal tempo hari sudah jelas Namikaze menolak keras pernyataannya. Bukannya bebas, ia malah termakan ucapannya sendiri. Dan keberuntungan nampak berpihak padanya. Lihat keturunan Namikaze mendatanginya, dengan begini ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat kesepakatan.
Hinata berdecak setelah melihat ponselnya, "Suke-kun...aku masih ada jadwal photoshoot lagi sampai jam 9 malam ini."
Gagal sudah rencana mereka makan malam bersama, "Sepertinya tamu Suke-kun sedang memiliki kepentingan...jadi aku pergi dulu."
Sasuke mengangguk, ia dapat melihat punggung Kekasihnya yang sudah menghilang dari balik pintu. Sedikit kesal juga rencana mereka terganggu. Tapi, ia tidak mungkin juga menyiakan kesempatan untuk berbicara langsung dengan Naruto tanpa dibuntuti kedua orang tuanya.
Naruto makin gugup, ditinggal hanya berdua saja. Pun merasa ngeri melihat tatapan mengintimidasi Sasuke.
"A-no...Uchiha-san," Naruto menguatkan hatinya, "A-ku akan menerima perjodohannya."
Naruto memberanikan diri menatap langsung kedua mata Sasuke--mencoba mengabaikan seringai dan ucapan Sasuke waktu itu.
"Kau harus menanggung dosa ini. Bayarlah..." ujarnya berbisik tepat di telinga Naruto.
Sejak duduk di sini, ia telah mengesampingkan perasaannya demi membantu Ayahnya. Ia sudah memikirkan berbagai kemungkinan bantuan yang bisa ia berikan untuk Ayah seperti membayangkan bekerja paruh waktu, menjadi gigolo, dan apapun yang bisa dilakukannya. Tapi, berbagai kemungkinan itu memiliki resiko dan tidak bisa menjamin kebaikan.
Baiklah, ia akui fengan menerima perjodohan—menikahi keturunan Uchiha di hadapannya ini, ia bisa meminimalisir masalah kedepannya
Dan sejak menginjakkan kaki di perusahaan Uchiha, ia telah membuang jauh harga dirinya.
Sasuke tersenyum mengejek. Ia menatap Naruto tajam dari atas ke bawah, "Kau yakin?"
Naruto mengangguk mantap. Ia sudah berpikir matang, namun tidak dapat dipungkiri hatinya juga sangsi semua rencana nya akan berjalan dengan baik.
...Meski aku mengajukan persyaratan?"
Naruto mengernyit. "Jika kau tidak yakin dan siap. Maka, kembali lah ke pelukan orang tuamu." Sasuke hendak beranjak. Ia tidak mau berurusan dengan remaja cengeng, yang nantinya merengek dan membuatnya makin berada dalam masalah besar.
"Tu-tunggu dulu Uchiha-san," Naruto menahan tangan Sasuke, "Biarkan aku mendengarkan terlebih dahulu persyaratannya...setelah itu akan aku pikirkan.."
"Lepas!" sentak Sasuke.
Tangan Naruto terlepas. Ia agak malu.
Sasuke kembali duduk, "Dengar baik-baik, karena aku benci mengulangi ucapanku."
Naruto mengangguk patuh, ia telah menyiapkan diri untuk menyimak.
"Aku juga akan menerima perjodohan itu. Tapi, dengan syarat...
Sasuke menilisik kedalam mata Naruto. Di sana ia menemukan kesungguhan anak remaja itu, "Setelah setahun pernikahan kita bercerai. Selama terikat dalam hubungan pernikahan, jangan pernah ikut campur urusanku. Termasuk aku tetap menjalin hubungan dengan Hinata. Apa kau sanggup?"
Naruto nampak berpikir keras. Ia agak kurang suka dengan permainan dalam pernikahan yang dianggapnya suci. Tapi mau bagaimana lagi hanya ini cara untuk membantu Ayahnya. Dengan mengorbankan dirinya mengikuti keinginan pria ini.
"Lagipula kalian hanya membutuhkan dana. Jadi, jangan berharap banyak," ujar Sasuke tajam. "Kau bahkan tidak layak untuk dijadikan pasangan."
Nyut. Naruto kesal mendengar dirinya tidak layak. Lagi-lagi posisinya menekannya untuk menundukkan kepala, menerima penghinaan di wajahnya. Ia tidak memiliki wewenang apapun untuk berucap kasar. Ia harus menjaga ucapannya agar kesepakatan tidak dibatalkan, ia membutuhkan pria ini.
"Ba-baiklah..." ujar Naruto pelan.
"Kuharap kau dapat bekerjasama dengan baik. Seperti yang kalian butuhkan hanya sekedar hubungan bisnis."
Dan Naruto mengerti.
.
.
.
.
.
Naruto menatap langit-langit kamarnya. Sejak pulang ia uring-uringan di dalam kamar. Agak menyesal dengan keputusannya menemui serta menerima persyaratan yang diajukan Sasuke.
"Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri. Ia bahkan mengabaikan ketukan pintu kamarnya. Ia sibuk menggigit bantal dan meninjunya seakan itu adalah Sasuke.
"Naruto-kun..." suara Ibu membuat Naruto menghentikan cepat kegiatan brutalnya, "Makan malam."
Naruto nyengir. Ia segera menyusul Ibu nya. Di sana ia bisa melihat Ayah dan Kakaknya sudah duduk di meja makan. Tapi Kakaknya masih menatap sinis dirinya.
"Apa ini pilihan yang benar?" batinnya.
"Benar atau salah, harusnya tidak menjadi hambatan 'kan? Karena kami sudah membuat kesepakatan yang sama-sama menguntungkan..." gumamnya.
...
Tbc
