Yaya terbangun dari tidurnya dengan napas memburu. Keringat mengalir deras di pelipisnya, ia baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang sangat membuat dirinya ketakutan, dan ingin menangis detik itu juga. Yaya mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ditatapnya jam dinding yang menunjukkan pukul dua malam. Terbesit pikiran untuk menghubungi Halilintar, namun Yaya dihampiri ragu karena takut akan mengganggu cowok itu.

"Apa yang harus kulakukan?" lirih Yaya sambil berusaha menahan tangis. Tangannya terulur untuk meraih ponselnya di nakas, lalu mencari kontak Halilintar dengan tergesa. Dilihatnya status Halilintar sedang online, sedikit membuatnya terkejut, tapi Yaya kembali mengingat kebiasaan cowok itu yang suka begadang.

Gadis itu menggigit bibirnya. Kepalanya mengingat lagi ketika Halilintar mengatakan untuk segera menghubungi cowok itu jika ia bermimpi buruk. Hanya saja ... Yaya tidak sanggup untuk kali ini.

Bunyi notifikasi ponselnya membuat Yaya terkejut. Sebuah balon chat baru muncul di roomchat ia dan Halilintar, membuat Yaya tak bisa menahan tangisnya lagi.

Halilintar

Kamu habis mimpi buruk?


Dream by Jimjiminie

Boboiboy adalah milik Animonsta Studios, saya hanya meminjamnya sebentar tanpa mengharapkan untung apa-apa

Don't like don't read

Happy reading...


Gelas berisi teh yang baru ia sesap diletakkan kembali di atas meja cafe. Kehangatan langsung menjalari tubuhnya yang lesu. Kedua mata Yaya menatap meja cafe di depannya, sementara pikirannya tak berhenti berkecamuk. Alunan lagu yang mengiringi suasana cafe terdengar pelan. Membuat ia semakin berkelana dengan pikirannya sendiri.

"Hei."

Suara lembut itu menyentak Yaya dan ia mengangkat kepalanya. Kedua tangan yang sedari tadi diletakkan di meja digenggam oleh tangan berukuran lebih besar, menyalurkan kehangatan untuk dirinya. Yaya membiarkan Halilintar mengelus tangannya, cowok itu menatapnya teduh, seolah memberikan ketenangan untuknya.

"Itu cuma mimpi, oke? Kamu nggak perlu overthinking." ujar Halilintar. Kekhawatiran terlihat jelas di kedua matanya sejak ia menelepon Yaya semalam dan mendengar tangis ketakutannya.

Kepala Yaya menggeleng. Matanya kembali terasa panas dan air matanya ingin menerobos keluar lagi. Meski sudah berusaha menyingkirkannya, namun bayang-bayang mimpi itu masih terus menghampiri tanpa henti.

"Aku takut, Hal ... Aku takut kalo kamu beneran ... " Ucapannya terpotong, digantikan dengan isak tangis. Yaya kembali menunduk. Genggaman tangan Halilintar semakin erat, namun Yaya tetap tidak bisa menenangkan dirinya.

Mimpi buruk memang hal biasa bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Yaya. Karena semua mimpinya akan menjadi kenyataan.

"Yaya, lihat aku ... " ucap Halilintar, yang mana membuat gadis di depannya kembali mengangkat wajah basahnya. "Kita bisa menghindarinya. Kamu pernah bilang 'kan, kalo mimpi kamu nggak selalu mirip sama kenyataannya,"

Yaya terdiam. Halilintar benar. Kejadian di mimpinya tidak selalu seratus persen sama, akan ada perubahan-perubahan, namun hanya sedikit.

"Kita bisa mencobanya, Yaya. Asal kamu ceritain lebih detail mimpi itu." lanjut Halilintar. Yaya melipat bibirnya. Menimbang solusi yang Halilintar berikan. Dan memang hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini. Berusaha membuat perubahan kecil untuk menimalisirnya. "Oke? Aku selalu di sini ... di samping kamu,"

Yaya mengangguk terpatah-patah. Akhirnya ia setuju dengan Halilintar. Halilintar kemudian memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Yaya, sementara Yaya berusaha menenangkan diri untuk menceritakan lebih detailnya pada sang kekasih.

"Saat itu malam hari ..." Yaya terdiam sejenak. "Aku habis pulang dari kampus, dan kamu chat aku minta ketemu," Yaya mengambil napas, memejamkan matanya kala bayangan mimpi itu kian jelas terekam di otaknya. "Saat aku mau nyebrang dengan pejalan kaki lain, aku lihat kamu di seberang jalan." Tangan Yaya gemetar, Halilintar dengan cepat menggenggamnya. "Semuanya baik-baik aja, sampai ada seseorang dari arah samping kamu. Dia diam-diam nusuk kamu saat lewatin kamu ... "

"Seseorang?" Halilintar mengerutkan dahinya. Yaya mengangguk pelan.

"Dia memakai pakaian serba hitam, dan wajahnya nggak bisa aku lihat. Lalu kamu luka parah, aku langsung lari ke arah kamu dan kamu ... kamu ... " Yaya tidak sanggup melanjutkannya. Kepalanya kembali tertunduk seiring dengan air matanya yang menerobos keluar lagi.

Halilintar diam. Membiarkan Yaya menangis sementara dirinya memikirkan semua yang diucapkan gadis itu. Nyawanya tentu saja terancam. Halilintar berusaha menebak siapa yang menusuknya dalam mimpi Yaya, namun ia tidak kunjung menemukan jawaban. Menyingkirkan itu semua, Halilintar beringsut mendekat ke arah Yaya untuk menenangkan gadis itu. Yang terpenting sekarang adalah membuat Yaya tenang. Dan Halilintar akan memikirkan mimpi Yaya nanti.

"Aku takut, Hal ... Aku takut ..."

Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Halilintar mengusap kepala Yaya lembut, membisikkan kata-kata penenang agar isak tangis itu berhenti.

"Aku disini ..."


Setelah Yaya menceritakan semuanya, hari berikutnya dilalui dengan was-was oleh ia maupun Yaya. Gadis itu memberinya pesan setiap saat, dan selalu bertanya apa dirinya baik-baik saja. Yaya juga tak jarang mengajaknya bertemu, dan memastikan dirinya tidak memakai pakaian yang sama dalam mimpi itu.

Halilintar tentu menurutinya untuk menghindari kejadian buruk itu. Sembari ia mengusahakannya, Halilintar juga mencari tahu siapa pelaku yang menusuknya di dalam mimpi Yaya. Seingatnya, ia sedang tidak berurusan dengan siapapun yang dianggap musuh. Halilintar juga tidak membuat masalah apapun selama ini, sifatnya yang terkesan dingin dan cuek pada apapun masih melekat sejak remaja. Jadi ia benar-benar tidak tahu siapa orangnya. Apakah orang itu punya dendam padanya?

"Halilintar! Kau tidak apa-apa?"

Lamunan Halilintar terpecah ketika suara Taufan menyentaknya. Temannya itu sudah menatapnya intens, seperti takut dirinya kerasukan hantu cafe tempat mereka bekerja sekarang.

"Ah ... tidak apa-apa. Aku hanya melamun tadi," jawab Halilintar sekadarnya, ia kembali melanjutkan aktivitas menyapunya.

Taufan menopang dagunya di atas meja counter. Ditatapnya sang teman yang kini kembali sibuk, namun sesekali Taufan menangkap ada gurat kekhawatiran di wajah yang biasanya datar itu.

"Tidak biasanya kau seperti ini. Kau sedang bertengkar dengan ayangmu?" tanya Taufan penasaran dengan sedikit menekankan kata terakhir untuk menggoda Halilintar.

Mendengar nada jenaka itu, Halilintar memutar matanya. Entah bagaimana bisa Taufan tahu dirinya memiliki kekasih. Teman kerjanya itu benar-benar menyebalkan dan senang sekali menjahilinya.

"Aku dengan dia baik-baik saja, jadi kau bisa diam." ucap Halilintar jutek.

Taufan tergelak. Ia mengambil gelas di dekatnya, menuangkan bubuk kopi di sana sebelum memasukkan air panas ke dalam gelas itu. "Tapi aku masih tidak bisa percaya loh, Hal."

Halilintar yang sudah selesai menyapu seluruh penjuru cafe menghadapkan tubuhnya pada Taufan. "Apanya?" Cowok itu berjalan menghampiri meja counter tempat Taufan berada setelah menaruh alat kebersihan di pojok dekat pintu masuk.

"Ya itu ... Kau mempunyai kekasih." kata Taufan dengan senyum mengejek.

Kedua mata Halilintar memutar malas. "Memangnya orang sepertiku tidak boleh punya pacar, hah?" katanya kesal.

Taufan terbahak. Ia berbalik, berniat menambahkan gula untuk kopinya. "Ya boleh saja. Aku hanya sedikit kagum ada yang ingin menjadi pacarmu dengan sifatmu itu,"

"Sialan kau."

Halilintar kemudian melangkah ke dalam meja counter. Waktu bekerjanya telah usai, dan ia ingin pergi dari sini sebelum Taufan kembali membuat kepalanya panas. Namun pada saat ia melewati Taufan, cowok itu tiba-tiba berbalik, dan menabraknya tanpa aba-aba.

Halilintar memekik kaget kala merasakan kopi panas Taufan mengenai lengannya. Taufan pun terkejut, ia buru-buru menaruh gelasnya yang kini sudah kosong dan membantu Halilintar.

"Eh, maaf Hal! Aku tidak tahu kau disitu!" seru Taufan panik.

Lengan baju Halilintar kini sudah dipenuhi cairan kopi Taufan. Meski warna bajunya hitam, namun bau kopinya sangat menyengat dan itu sungguh tidak nyaman. Beruntung Halilintar memakai lengan panjang, jika tidak mungkin lengannya sudah melepuh sekarang.

Halilintar mendesah pasrah. Rasanya ingin memarahi Taufan, namun Halilintar tahu cowok itu tidak sengaja. "Kau ada baju ganti?" tanyanya kemudian. Sangat tidak memungkinkan jika ia pergi dengan baju dengan noda kopi.

Taufan yang tengah menyingkirkan noda kopi di baju Halilintar terdiam sebentar. "Hm ... ada! Sebentar kuambilkan!" Dengan tergesa, Taufan melangkah menuju dapur untuk mengambilkan baju ganti untuk Halilintar.

Setelah sosok Taufan lenyap di balik pintu, Halilintar merasakan getaran di sakunya. Ia segera merogoh ponselnya di sana dan menemukan sederet pesan dari Yaya.

Yaya

Kau baik-baik saja?

Tanpa sadar Halilintar tersenyum.

Halilintar

Iya, tenang saja

Yaya

Syukurlah. Kalau sudah selesai bekerja, aku ingin bertemu. Di tempat biasa ya!

Halilintar

Oke

"Hmm, senyam-senyum sendiri. Pasti dari ayang!"

Taufan tiba-tiba muncul dengan tangan bersidekap, dan hoodie berwarna putih di genggaman tangannya. Halilintar mendelik, mengambil hoodie di tangan Taufan dengan kesal.

"Eeyy, tidak usah malu-malu begitu dong, Hali~"

Tanpa memedulikan ucapan setan itu, Halilintar melepas baju hitamnya dan menggantinya dengan hoodie putih Taufan. Ia kemudian melempar baju hitamnya ke kepala Taufan sebagai balasannya.

"Anjir!"

"Kau yang cuci ya, aku duluan."

Tanpa memedulikan ocehan Taufan, Halilintar meninggalkan cafe.


"Sampai jumpa, Yaya!"

Yaya melambaikan tangan pada Ying yang sudah menaiki angkutan umum. Gadis itu kemudian meneruskan langkahnya di trotoar, menuju tempat ia dan Halilintar akan bertemu nanti.

Kini mereka menjadi lebih sering bertemu di sela-sela kesibukan mereka. Meski sudah sebulan lalu mimpi itu datang, Yaya tetap berwaspada. Karena terkadang mimpinya akan menjadi kenyataan dalam waktu lama. Dan Yaya harus selalu siap untuk itu.

Cuaca sore itu terlihat cerah. Yaya berniat ingin mengajak Halilintar ke taman bermain yang baru buka seminggu lalu. Walaupun Halilintar lebih menyukai tempat sepi dan jauh dari keramaian orang, Yaya tetap akan memaksa Halilintar ke sana. Tidak peduli cowok itu akan protes terus menerus, namun ia yakin Halilintar akan menyerah pada akhirnya.

Kaki Yaya terhenti ketika mendapati lampu merah untuk pejalan kaki. Yaya menatap ke depan, mendapati mobil maupun motor melaju di jalan dengan cepat. Suasana sangat ramai, Yaya mewajarinya karena memang sudah waktunya pulang kerja. Di tengah kerumunan, mata Yaya tak sengaja menemukan Halilintar di seberang sana, yang juga menyadari keberadaannya.

Yaya tersenyum lebar. Namun senyumannya luntur ketika mengingat sesuatu.

Hoodie putih ...

Jantung Yaya seketika berdegup cepat. Ia memandangi sekitarnya, yang mana sama persis dengan mimpi itu. Kecuali waktunya. Kedua matanya kembali menatap Halilintar di sana, dan penampilan cowok itu juga sama persis dengan mimpinya. Ketakutan menghampiri Yaya. Gadis itu ingin menyebrang sebelum hal buruk terjadi, namun kendaraan melaju dengan cepat sehingga Yaya tidak bisa berbuat apa-apa.

"Hali! Pergi dari sini!" seru Yaya. Namun suaranya teredam oleh kebisingan kota.

Di sana Halilintar mengerutkan dahi karena mendapati wajahnya yang terlihat panik.

Tak lama setelah itu, sebuah mobil berhenti tepat di depan Halilintar. Yaya mengernyit, merasakan keganjalan di sana. Tetapi Halilintar masih terus menatapnya, tidak memedulikan pengendara mobil itu. Dan ketika suara tembakan terdengar memekakkan telinga, Yaya membelalakkan matanya.

"Tidak, Hali!"

Mobil itu kemudian melaju. Terlihat Halilintar di sana yang sudah memegangi perutnya, dan darah merembes keluar dari sana. Pekikan orang-orang mulai terdengar karena panik. Tanpa memedulikan sekitarnya, Yaya berlari ke arah Halilintar yang telah ambruk di seberang sana.

"HALI!"

Halilintar mencari-cari asal suara itu dengan pandangannya yang mengabur. Rasa sakit yang tak tertahankan di perutnya membuat kesadarannya seperti direbut paksa. Halilintar mengerang. Ia menekan lukanya, namun seperti sia-sia karena darahnya malah semakin banyak.

"Halilintar!"

Yaya berlutut, memeluk Halilintar erat dengan tangan menahan luka cowok itu. Darah Halilintar melumuri tangannya, namun Yaya tidak peduli dan berusaha mempertahankan Halilintar agar tidak memejamkan mata.

"Hali ... Hali, lihat aku ... Hali, kumohon... " ucap Yaya terbata-bata sambil terisak.

Halilintar menatapnya sayu. Ia ingin membalas ucapan Yaya, namun rasa sakit di perutnya menahannya. Pelukan Yaya semakin mengerat, sayup-sayup Halilintar mendengar orang-orang berteriak panik dan memanggil bantuan. Ia menatap lukanya yang terus mengeluarkan darah dan juga tangan Yaya yang berusaha menahan pendarahan di sana. Gadis itu mengguncang tubuhnya terus menerus, namun seluruh tubuh Halilintar seolah lumpuh dan ia tidak dapat melakukan apapun.

Yaya semakin menangis karena tidak mendapat respons apapun dari Halilintar. Ia menggelengkan kepalanya, berharap semua ini tidak nyata. Ini pasti masih mimpinya. Yaya hanya harus membuka mata dan mengadu pada Halilintar bahwa ia kembali bermimpi buruk. Seperti yang biasa ia lakukan.

Namun waktu seperti berjalan lambat, dan Yaya menyadari bahwa ini semua adalah nyata. Mimpinya menjadi kenyataan lagi, dan korbannya adalah kekasihnya sendiri.

"Halilintar ... "

Kedua mata Halilintar terpejam dengan pelan, diiringi napasnya yang putus-putus. Ia sudah tidak kuat lagi, dan membiarkan kesadarannya menghilang perlahan. Pelukan Yaya terasa hangat. Namun Halilintar tidak dapat merasakannya lagi, karena kegelapan sudah sepenuhnya menyambutnya.

Dan sore itu, Yaya kehilangan orang yang ia sayangi.

.

.

.

.

.

.

END


A/N :

YA ALLAH INI GUE NULIS APA!

Maafkan gue ya gaes, sumpil tadinya tuh mau nulis yg fluff ajaa karena kangen banged sama otp ini. tapi malah... /digoreng

Kalo ada yg ngeh, ini sebenernya dari salah satu adegan drakor. Yep, while you were sleeping.

Udah itu aja sih.

DADAAAAHHH